Tanggapan terhadap Artikel Rubrik Kajian

Koran Jawa Pos, 27 Juli 2003, hal 4

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


“Generalisasi berlebihan berarti gagap agama”

Dalam Koran Jawa Pos, tanggal 27 Juli 2003, hal 4, ada suatu artikel berjudul “Generalisasi berlebihan berarti gagap agama”, yang merupakan suatu wawancara / tanya jawab antara seorang Islam (Ulil Abshar-Abdalia) dengan Pdt. Kuntadi, ketua Sinode GKI Jabar. Pendeta ini diwawancarai berkenaan dengan artikel dalam majalah Time tanggal 30 Juni 2003, dengan topik ‘Should Christians Convert Muslims?’, yang mengatakan bahwa saat ini di Amerika, orang-orang kristen yang mau memberitakan Injil ke negara-negara Islam, khususnya di Timur Tengah, meningkat dengan tajam.

Di bawah ini saya memberikan seluruh artikel tersebut, yang saya potong-potong dan saya letakkan tersendiri, dan saya juga memberikan tanggapan saya terhadap tulisan tersebut.

Jawa Pos:

Agenda agama-agama propagandis-misionaris sering ditentukan oleh seberapa besar kesuksesan mereka yang dicatat dalam mengkonversi agama orang lain. Paradigma yang diusung tak pernah beranjak dari konsepsi lama bahwa ‘tak ada keselamatan di luar Kristus’. Doktrin kuno yang sudah ditanggalkan banyak kalangan Kristen mainstream itu justru dipakai kaum evangelis untuk menjustifikasi penyuapan rohani (spiritual bribery).

Tanggapan:

1)   Kata-kata ‘konsepsi lama’, ‘doktrin kuno’ , dan ‘sudah ditanggalkan’, menunjukkan bahwa ajaran Kitab Suci bisa berubah-ubah. Yang lama menjadi ketinggalan jaman dan harus dibuang, lalu muncul yang baru, dan sebagainya. Ini jelas bodoh, karena menunjukkan bahwa Firman Tuhan menjadi suatu kebenaran yang relatif. Juga bertentangan dengan:

2)   Tak ada keselamatan di luar Kristus merupakan ajaran yang sangat jelas dalam Kitab Suci. Ini terlihat dari ayat-ayat seperti:

Bisa juga ditambahkan ayat-ayat ini:

¨      Yoh 3:18 - “Barangsiapa percaya kepadaNya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”.

¨      Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

¨      Yoh 5:24 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”.

¨      Yoh 8:24 - “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu.’”.

¨      2Tes 1:6-10 - “(6) Sebab memang adil bagi Allah untuk membalaskan penindasan kepada mereka yang menindas kamu (7) dan untuk memberikan kelegaan kepada kamu yang ditindas, dan juga kepada kami, pada waktu Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diriNya bersama-sama dengan malaikat-malaikatNya, dalam kuasaNya, di dalam api yang bernyala-nyala, (8) dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah dan tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita. (9) Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya, (10) apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan di antara orang-orang kudusNya dan untuk dikagumi oleh semua orang yang percaya, sebab kesaksian yang kami bawa kepadamu telah kamu percayai”.

¨      Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

3)   Memang ada ayat-ayat Kitab Suci yang harus dikontextualisasikan seperti Maz 150:3-5, yang memerintahkan untuk memuji Tuhan dengan alat-alat musik pada jaman itu. Tetapi suatu doktrin, seperti ajaran bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga, tidak boleh dikontextualisasikan.

4)   Orang yang membuang ajaran ‘di luar Kristus tidak ada keselamatan’, harus memikirkan alternatifnya. Lalu bagaimana cara orang mendapatkan keselamatan? Tidak bisa tidak, ia harus menerima ajaran sesat ‘keselamatan karena perbuatan baik’, yang begitu banyak ditentang oleh Kitab Suci (Gal 2:16  Ro 3:27-28  Ef 2:8-9  Fil 3:8-9  Kis 15:1-dst).

5)   Topik dari artikel ini adalah ‘generalisasi berlebihan’, tetapi lucunya di sini ia sendiri melakukan hal itu, dengan mengatakan bahwa ‘kaum evangelis mejustifikasi penyuapan rohani’. Lebih lagi, ia memfitnah kalau mengatakan bahwa doktrin ‘tak ada keselamatan di luar Kristus’ digunakan untuk membenarkan penyuapan rohani ini.

Jawa Pos:

Berikut petikan wawancara Ulil Abshar-Abdalia dengan Pdt Kuntadi Sumadikarya MTh, ketua Sinode Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jawa Barat pada 24 Juli 2003.

Ulil Abshar-Abdalia:

Pak Kuntadi, Anda tentu sudah membaca laporan majalah Time tentang maraknya gerakan evangelisasi Amerika di beberapa negara muslim. Apa komentar Anda tentang laporan tersebut?

Pdt. Kuntadi:

Gerakan Kristen kanan yang mempunyai paradigma seperti pada abad-abad lampau itu memang ada. Tapi, tidak semua orang Kristen adalah evangelis dan kanan. Sebab, penganut tiap-tiap agama, termasuk Kristen, sudah terdiferensiasi sedemikian rupa sehingga tidak bisa lagi dilihat sebagai entitas tunggal. Dalam Kristen, juga banyak golongan atau aliran. Secara pokok, itu bisa dikelompokkan dalam tiga kategori.

Pertama, golongan konservatif atau fundamentalis. Kedua, golongan moderat atau mainstream (golongan mayoritas). Dan ketiga, kelompok liberal yang dalam konteks Kristen berbau kekiri-kirian. Diferensiasi tersebut harus dibedakan. Kalau tidak, tindakan kelompok yang tidak disetujui kubu lain akan berimbas, setidaknya secara opini, pada kubu lain.

Tanggapan:

1)   Ia mengatakan ‘tidak semua orang Kristen adalah evangelis dan kanan’. Saya mengatakan bahwa yang tidak mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, bukan orang Kristen.

2)   Ia secara kurang ajar meletakkan dirinya sendiri di kelompok tengah, yang ia sebut sebagai mainstream (golongan mayoritas), sedangkan 2 kelompok lainnya adalah extrim kiri dan extrim kanan. Tiga kelompok itu seharusnya adalah (1) Kelompok liberal, (2) kelompok injili / konservatif, (3) kelompok pentakosta / kharismatik.

3)   Ia membedakan dirinya sendiri dengan kelompok extrim kiri, yang ia sebut liberal, padahal ialah yang liberal. Ini seperti ‘maling teriak maling’.

Ulil Abshar-Abdalia:

Gerakan kaum konservatif itu tak bisa menggambarkan pandangan semua orang Kristen?

Pdt. Kuntadi:

Sama sekali tidak! Gereja-gereja Kristen yang mainstream berkumpul di Persatuan Gereja Indonesia (PGI). Tapi, dalam rangka merangkul yang lain, PGI juga melibatkan beberapa gereja yang non-mainstream. PGI tetap mewakili pandangan-pandangan moderat.

Tanggapan:

Ia main pukul rata terhadap semua gereja yang tergabung dalam PGI, tetapi saya tidak tahu gereja-gereja apa saja yang tergabung dalam PGI.

Ulil Abshar-Abdalia:

Bisakah Anda menyebutkan contoh gereja dari ketiga kelompok tersebut?

Pdt. Kuntadi:

Kelompok liberal mungkin belum sampai pada bentuk gereja, tapi masih berupa pandangan individu-individu. Kalau gereja yang konservatif, maaf, saya tidak bisa menyebutkan nama gerejanya langsung. Katakanlah itu berada dalam denominasi Kristen yang juga seperti denominasi Pantekosta dan Kharismatik. Mereka itu berasal dari Amerika, sebagian dari Korea, dan sudah beroperasi di Indonesia.

Umumnya, mereka bergerak di kota-kota besar. Sebab, di kota-kota kecil, meski sudah ada, hal tersebut tetap tidak terlalu menjadi perhatian. Mungkin hal itu juga disebabkan massa mereka berkumpul di kota besar. Atau, bisa juga disebabkan kota lebih bebas karena adanya kemajemukan ketimbang kota kecil.

Tanggapan:

1)   Lagi-lagi merupakan kata-kata yang kurang ajar, karena menyatakan bahwa kelompok liberal hanya merupakan individu-individu dan belum merupakan gereja. Banyak dari gereja-gereja seperti GKI, GKJW, GPIB, HKBP merupakan gereja-gereja liberal. Kalau kita menganggap gereja liberal itu tidak ada, maka justru kita lebih mudah tertipu olehnya.

2)   Ia menganggap bahwa kelompok yang konservatif itu adalah Pentakosta dan Kharismatik. Ini lagi-lagi ngawur. Kelompok yang konservatif menurut saya adalah Protestan yang injili / Alkitabiah.

Ulil Abshar-Abdalia:

Bisakah Anda menyebutkan ciri-ciri mereka yang paling menonjol?

Pdt. Kuntadi:

Yang paling mendasar, mereka masih menganut pemikiran-pemikiran para orientalis zaman dulu yang melihat agama lain sebagai agama yang lebih rendah derajatnya dan kurang berharga. Pandangan seperti itulah yang dalam sejarah Kristianitas disebut sebagai Triumphalistik, selalu merasa lebih dan unggul dari pada yang lain.

Nah, pandangan itu tentu akan sangat mempengaruhi ‘metodologi’ pekabaran Injil mereka. Misalnya, ketika melakukan pelayanan atau penyiaran, paradigma seperti itu akan menimbulkan anggapan bahwa kebenaran dan keselamatan hanya milik mereka (truth claim). Sementara itu, yang di luar mereka dianggap salah dan tidak mengerti apa-apa.

Tanggapan:

1)   Perhatikan kata-kata ‘pemikiran-pemikiran para orientalis zaman dulu’. Ini omong kosong dan dusta, karena ajaran tentang ‘Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga’, atau ajaran bahwa ‘di luar Kristus tidak ada keselamatan’, bukan hanya ada di timur, tetapi juga di barat! Ajaran ini dipercayai oleh para tokoh Reformasi, yang adalah orang-orang Barat!

2)   Harus saya akui bahwa saya mempunyai pandangan bahwa agama Kristen adalah yang terbaik yang yang paling benar, dan satu-satunya yang bisa menyelamatkan. Kalau saya tidak menganggap agama saya paling benar, mengapa gerangan saya menganutnya?

3)   Saya tidak menganggap bahwa kebenaran itu terdapat hanya dalam Kristen. Dalam agama lain ada kebenaran, misalnya kalau mereka mengajar bahwa dusta, zinah dsb, merupakan dosa, maka itu adalah kebenaran. Tetapi memang dalam agama-agama lain tidak ada keselamatan, karena mereka menolak Kristus, yang adalah satu-satunya jalan keselamatan.

4)   Kalau saya merasa agama Kristen sebagai yang paling benar dan satu-satunya yang memang mempunyai keselamatan, maka itu merupakan iman / keyakinan, bukan suatu kesombongan. Tetapi orang brengsek dan sesat ini secara memfitnah menggambarkan hal itu sedemikian rupa sehingga terlihat sebagai suatu kesombongan, bukan sebagai suatu iman / keyakinan.

Ulil Abshar-Abdalia:

Dalam ulasan majalah Time, mereka lebih banyak bergerak pada golongan menengah ke atas. Apakah betul demikian?

Pdt. Kuntadi:

Sebagian benar. Itu lebih cocok untuk gambaran golongan Kharismatik. Denominasi yang Kharismatik memang mempunyai target orang-orang menengah ke atas. Tapi, bukan berarti bahwa segmen masyarakat menengah ke bawah dilepaskan. Tetap saja ada program dan sasaran ke situ. Hal tersebut menunjukkan bahwa di antara denominasi-denominasi yang satu kubu sekalipun juga terdapat perbedaan-perbedaan yang signifikan antara satu dengan lainnya.

Tanggapan:

1)   Lagi-lagi ia menganggap / menyatakan bahwa kelompok yang mempercayai ‘tidak ada keselamatan di luar Kristus’ adalah kelompok Kharismatik. Yang mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, bukan hanya kelompok Pentakosta / Kharismatik, tetapi juga Protestan yang injili / Alkitabiah, dan yang terakhir ini jelas tidak hanya bergerak di kelompok menengah ke atas, tetapi bergerak di semua kalangan.

2)   Saya merasakan sebagai sesuatu yang aneh bahwa Pdt. Kuntadi ini menyatakan bahwa kelompok yang mempercayai ‘tidak ada keselamatan di luar Kristus’ adalah kelompok Kharismatik, padahal dia pasti tahu bahwa ada kelompok Protestan yang injili yang juga berpandangan seperti itu. Mengapa ia menekankan Kharismatiknya saja? Mungkinkah karena Kharismatik yang dianggap paling banyak ‘mencuri domba’ dari GKI, dan karena itu ia ingin memojokkannya?

Ulil Abshar-Abdalia:

Bagaimana proses sejarah masuknya gerakan evangelisme itu di Indonesia?

Pdt. Kuntadi:

Kalau kita melakukan kilas balik sejarah, akan ditemukan bahwa pada abad ke-18 dan ke-19, semangat penyiaran agama Kristen dari Barat ke Timur sangat tinggi. Pada abad ke-20, memang terjadi revitalisasi, mungkin sejak 1960-an atau 1970-an. Yang dulu bersemangat tapi luntur, kemudian dibangkitkan lagi dalam semangat dan kekuatan baru. Intinya sebetulnya sama dengan apa yang terjadinya pada abad ke-18 dan ke-19. Yakni, mereka bersemangat menyiarkan agama Kristen sebegitu rupa agar orang-orang menjadi tertarik.

Hanya, mereka yang hidup pada abad ke-18 dan ke-19 memang tidak berpikir tentang kemajemukan agama dan lain-lain seperti yang kita pikirkan pada abad ke-20 dan ke-21.

Tanggapan:

1)   Perhatikan kata-kata ‘mereka bersemangat menyiarkan agama Kristen sebegitu rupa agar orang-orang menjadi tertarik’. Ini lagi-lagi merupakan kalimat yang kurang ajar. Kita memberitakan Injil supaya orang-orang diselamatkan, dan Allah dipermuliakan, bukan supaya orang-orang tertarik.

2)   Adalah omong kosong bahwa orang-orang abad manapun tidak berpikir tentang kemajemukan agama. Sejak abad pertama, sudah ada agama-agama kafir Yunani dan Romawi, Yudaisme, dan sebagainya. Tetapi toh di tengah-tengah kemajemukan agama tersebut, orang-orang kristen tetap memberitakan Injil! Orang-orang kristen yang injili pada jaman kapanpun menghadapi hal yang sama dengan mereka (kelompok dari Pdt. Kuntadi), tetapi mereka bersikap secara berbeda.

Cus D’Amato (pelatih petinju Mike Tyson) berkata: “Heroes and cowards feel exactly the same fear. Heroes just react to fear differently” (= Pahlawan dan pengecut merasakan rasa takut yang persis sama. Pahlawan hanya bereaksi secara berbeda terhadap rasa takut).

Ulil Abshar-Abdalia:

Bagaimana sikap kalangan Kristen mainstream terhadap gerakan evangelisme?

Pdt. Kuntadi:

Hal tersebut tidak selalu bisa diungkapkan secara gamblang. Kebanyakan, Kristen mainstream tidak setuju terhadap cara-cara, paradigma, dan konsep yang dipakai oleh gerakan-gerakan pengabaran atau penyiaran Injil ini. Sikap itu tidak berarti bahwa kita meninggalkan apa yang diembankan dalam agama Kristen sebagai misi penyiaran. Hanya, kita merasa perlu memperbaiki metodologi, paradigma, dan pendekatan kita, sehingga aktivitas tersebut tidak menjadi sumber konflik baru pada abad ke-21 ini. Dengan demikian, hal itu menjadi ajang sharing spiritual antar umat beragama.

Tanggapan:

1)   Ini merupakan omong kosong yang berulangkali diucapkan oleh orang-orang Liberal. Mereka tak percaya Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, tetapi itu, kata mereka, tak berarti bahwa mereka meninggalkan apa yang perlu diembankan dalam agama Kristen, yaitu pemberitaan Injil. Orang yang tidak mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, tidak mungkin memberitakan Injil. Untuk apa / apa tujuannya memberitakan Injil?

2)   Ia mengatakan bahwa metode, paradigma, dan pendekatan perlu diperbaiki supaya tidak menimbulkan konflik. Dengan kata lain, ia menyalahkan:

Bandingkan juga dengan ayat-ayat di bawah ini:

¨      Mat 10:14-15 - “(14) Dan apabila seorang tidak menerima kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debunya dari kakimu. (15) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.’”.

¨      Mat 10:34-36 - “(34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya”.

¨      Mark 8:35 - “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

¨      Yoh 15:18-20 - “(18) ‘Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. (19) Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. (20) Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firmanKu, mereka juga akan menuruti perkataanmu”.

¨      Mat 5:10-12 - “(10) Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. (11) Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. (12) Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.’”.

¨      Luk 6:22,23,26 - “(22) Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (23) Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. ... (26) Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.

¨      2Tim 1:8 - “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah”.

3)   Perhatikan juga kata-kata ‘Dengan demikian, hal itu menjadi ajang sharing spiritual antar umat beragama’. Kita tidak pernah dipanggil untuk saling sharing. Kita dipanggil untuk memberitakan Injil! Memang bukan berarti kita tidak boleh mendengar mereka. Kalau kita sama sekali tak mau mendengar mereka, mereka juga tidak akan mau mendengar kita. Tetapi ‘mendengar mereka’ hanya merupakan suatu taktik / strategi, bukan tujuan kita.

Ulil Abshar-Abdalia:

Apa saran Anda pada umat beragama lain dalam menyikapi persoalan ini?

Pdt. Kuntadi:

Menurut saya, harus ada pembedaan yang jelas dulu. Aksi sebuah denominasi, gereja, atau individu yang mempunyai ciri-ciri demikian tidak otomatis mewakili seluruh kekristenan. Kesalahpahaman untuk memukul rata semua orang Kristen itu cukup banyak terjadi. Memang, hal tersebut bersifat timbal balik; orang Kristen juga sering menunggalkan umat Islam.

Generalisasi berlebihan antara satu sama lain itu bisa kita sebut dengan istilah gagap agama. Kalau ada tindakan extrem yang mengganggu masyarakat, teguran-teguran untuk dialog tentu sangat diperlukan. Dialog menjadi perlu, tidak hanya pada mereka yang menjadi sasaran, tapi juga bagi mereka yang mau melakukan penyiaran.

Mereka perlu menyadari bahwa dialog-dialog diperlukan untuk melakukan penyiaran agama tanpa menimbulkan konsekuensi kesalahpahaman dan konflik. Sikap itu tentu saja perlu dilengkapi dengan paradigma serta konsep yang inklusif ketimbang yang eksklusif.

Tanggapan:

Perhatikan kata-kata ‘dialog-dialog diperlukan untuk melakukan penyiaran agama tanpa menimbulkan konsekuensi kesalahpahaman dan konflik’. Ini omong kosong. Biarpun kita memberitakan Injil melalui dialog, kalau itu betul-betul memberitakan Injil, maka konflik pasti akan ada. Tetapi kesalahpahaman merupakan sesuatu yang berbeda. Pemberitaan Injil yang kita lakukan tidak harus menimbulkan kesalahpahaman. Tetapi orang sesat ini mengatakan seakan-akan hanya dengan dialog maka kesalahpahaman bisa terhindar.

Ulil Abshar-Abdalia:

Ada kritik bagi kaum moderat Islam agar mereka bersuara lebih lantang, sehingga pesan-pesannya lebih terdengar, Bagaimana dengan lingkungan Kristen sendiri?

Pdt. Kuntadi:

Saya sangat setuju. Kalangan Kristen moderat bukan hanya lebih menyaringkan suara, tetapi juga harus lebih populis, sehingga mudah dimengerti orang banyak. Memang, PGI sendiri selama ini belum pernah mengeluarkan statemen-statemen untuk menanggapi persoalan seperti itu. Ada beberapa kesulitan yang dialami PGI seperti yang juga saya rasakan. Kita ingin adanya saling pengertian. Tapi, masalahnya, yang dipraktikkan kaum Kristen kanan ternyata tidak terkoordinasi. PGI mau berbicara kepada siapa? Terlalu banyak kasus yang melibatkan mereka dan terlalu banyak pihak yang terlibat.

Tanggapan:

Apa yang ia maksudkan dengan ‘yang dipraktikkan kaum Kristen kanan ternyata tidak terkoordinasi’? Rasanya ia menyatakan bahwa kelompok injili serba kacau dalam melakukan gerakannya. Kalau memang ini maksudnya, ini lagi-lagi suatu fitnahan. Kalau ada satu atau dua kelompok yang seperti itu, bukankah tak boleh dilakukan ‘generalisasi berlebihan’, yang ia sendiri sebut sebagai ‘gagap agama’?

Ulil Abshar-Abdalia:

Di luar PGI, apakah ada yang pernah berinisiatif membuat pernyataan?

Pdt. Kuntadi:

Saya kira, pernyataan tidak begitu mempan. Tapi, upaya-upaya untuk memberikan alternatif konseptual dalam bentuk pemikiran tetap dilakukan, meski tidak dalam bentuk wacana yang tertulis.

Ulil Abshar-Abdalia:

Lantas, apa yang selama ini dilakukan? Apakah mereka hanya dianggap sebagai gerakan kecil?

Pdt. Kuntadi:

Tidak begitu juga. Yang saya maksud adalah kebanyakan Kristen mainstream tidak begitu mengikuti perkembangan dalam kelompoknya sendiri. Akibatnya, mereka turut membenarkan tindakan tersebut. Mereka tidak melihat bahwa di lapangan, tindakan kaum evangelis itu menimbulkan konflik di atas konflik yang belum selesai. Gereja-gereja atau para pemuka di Kristen tidak henti-henti berbicara untuk menyadarkan mengenai hal itu. Tetapi, gereget penyadaran tersebut tidak begitu bergema selama ini. Jadi, memang perlu ada upaya yang lebih keras. Hanya, saya mau menekankan bahwa membuat statemen saja tidak cukup menyelesaikan masalah ini.

Tanggapan:

1)   Dari kata-kata ini kelihatannya ia tahu bahwa dalam kelompok mainstream itu ada golongan yang injili, tetapi ia mengatakan bahwa mereka ini ‘tidak begitu mengikuti perkembangan dalam kelompoknya sendiri’, dan karena itu ‘mereka turut membenarkan tindakan tersebut’. Sebetulnya kata-katanya adalah sebagai berikut: dalam kelompok mainstream ada orang-orang yang tidak mau turut disesatkan, sehingga tetap punya hati yang injili di tengah-tengah mayoritas yang bejat / sesat.

2)   Perhatikan kata-kata ‘tindakan kaum evangelis itu menimbulkan konflik di atas konflik yang belum selesai’. Kata-kata yang mengecam orang-orang yang injili ini juga mengecam orang seperti Paulus.

Kis 24:5 - “Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani”.

NIV: ‘We have found this man to be a troublemaker, stirring up riots among the Jews all over the world. He is a ringleader of the Nazarene sect’ (= Kami mendapati orang ini sebagai seorang pembuat kekacauan, menimbulkan huru hara di antara orang-orang Yahudi di seluruh dunia. Ia adalah seorang tokoh dari sekte Nasrani).

Kemanapun Paulus pergi, selalu timbul huru-hara sehingga ia disebut ‘trouble maker’ (= pembuat keributan / pengacau) dalam Kis 24:5! Tetapi apakah terjadinya huru hara ini merupakan kesalahan Paulus? Tentu saja tidak! Yesus sendiri sudah berkata bahwa Ia datang bukan membawa damai tetapi membawa pedang (Mat 10:34), dan karena itu dimanapun Injil diberitakan, bisa saja terjadi kekacauan. Tetapi ini adalah kesalahan dari orang-orang yang menolak Injil itu, bukan kesalahan pemberita Injilnya!

Ulil Abshar-Abdalia:

Dalam sejarah, gerakan evangelis datang dan pergi. Sebagian orang melihat ia digerakkan oleh roh Allah, sehingga tak mungkin dibendung. Bagaimana tanggapan Anda?

Pdt. Kuntadi:

Memang, gerakan seperti itu sering muncul, meski sering juga hilang. Kalau ia dipahami dari persepsi tentang roh Allah, saya anggap itu sebagai sebuah keyakinan. Tapi, kita harus melihat konteks: apakah penyiaran Injil yang kalau diterjemahkan berarti kabar baik akan betul-betul bisa tersalur sebagai kabar baik atau justru menjadi kabar buruk ketika menjadi konflik? Potensi konflik tersebut akan lebih besar lagi, apalagi bila ditarik dalam skala yang luas.

Gereja mainstream sangat kritis terhadap hal itu, tanpa menghilangkan tugas setiap agama - termasuk Kristen - untuk selalu melakukan penyiaran. Hanya, waktunya juga mesti dibimbing roh Tuhan. Mestinya, semakin lama kita berbuat, kita semakin arif.

Tanggapan:

1)   Apa yang dikatakan oleh Pdt. Kuntadi ini merupakan penghujatan. Yesus sendiri datang untuk memberitakan Injil (Mark 1:38), dan Ia sendiri sering mengalami konflik. Jadi Ia memberitakan kabar buruk?

2)   Ini juga merupakan penghinaan terhadap rasul-rasul dan orang-orang kristen sepanjang jaman, yang dalam memberitakan Injil pasti akan mengalami konflik. Apakah semua orang-orang ini adalah pemberita kabar buruk?

3)   Kata-katanya menunjukkan bahwa apakah itu merupakan kabar baik atau kabar buruk, tergantung dari tanggapan para pendengarnya. Jadi itu sesuatu yang subyektif.

Mari kita membandingkan dengan beberapa ayat di bawah ini:

Ayat ini bicara tentang orang yang kehilangan nyawanya karena Yesus dan karena Injil. Berarti pada waktu ia memberitakan Injil terjadi konflik, dan ia dibunuh. Tetapi ayat ini tetap menyebut ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’ bukan ‘kabar buruk’.

Baru terjadi konflik dimana Petrus dan Yohanes ditangkap, lalu dalam ay 40 mereka disesah dan dilarang mengajar dalam nama Yesus, tetapi dalam ay 42 dikatakan bahwa mereka ‘memberitakan Injil’. Mengapa tetap disebut ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’ dan bukan ‘kabar buruk’? Hal yang sama terjadi dengan text di bawah ini.

Ayat ini jelas menunjukkan suatu konflik. Paulus dipenjara dan dibelenggu karena memberitakan Injil, tetapi ia tetap menyebutnya sebagai ‘Injil’, yaitu ‘kabar baik’, bukan ‘kabar buruk’.

·        2Kor 2:14-16a - “(14) Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana. (15) Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang (sedang) binasa. (16) Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan”.

Text ini menunjukkan bahwa bagi orang-orang yang sedang binasa / sedang menuju kebinasaan, Paulus dan pemberitaannya adalah bau kematian yang mematikan (ay 16a), dan ini yang menyebabkan mereka menimbulkan konflik. Tetapi bagi Allah Paulus dan pemberitaannya selalu adalah bau harum (ay 15).

Calvin: “they have the name of odour, not as if they emitted any fragrance of themselves, but because the doctrine which they bring is odoriferous, so that it can imbue the whole world with its delectable fragrance. ... this commendation is applicable to all the ministers of the gospel, because wherever there is a pure and unvarnished proclamation of the gospel, there will be found there the influence of that odour, of which Paul here speaks. ... faithful and upright ministers of the gospel have a sweet odour before God, not merely when they quicken souls by a wholesome savour, but also, when they bring destruction to unbelievers. Hence the gospel ought not to be less esteemed on that account. ‘Both odours,’ says he, ‘are grateful to God - that by which the elect are refreshed unto salvation, and that from which the wicked receive a deadly shock.’ Here we have a remarkable passage, by which we are taught, that, whatever may be the issue of our preaching, it is, notwithstanding, well-pleasing to God, if the Gospel is preached, and our service will be acceptable to him; and also, that it does not detract in any degree from the dignity of the Gospel, that it does not do good to all; for God is glorified even in this, that the Gospel becomes an occasion of ruin to the wicked, nay, it must turn out so” (= mereka mendapat nama ‘bau (harum)’, bukan seakan-akan mereka memancarkan bau wangi dari diri mereka sendiri, tetapi karena doktrin / ajaran yang mereka bawa berbau harum, sehingga itu bisa memenuhi seluruh dunia dengan bau harumnya yang enak. ... pujian ini dapat diterapkan kepada semua pelayan-pelayan dari injil, karena dimanapun ada proklamasi injil yang murni dan sebenarnya, akan ditemukan di sana pengaruh dari bau tersebut, tentang mana Paulus di sini berbicara. ... pelayan-pelayan injil yang setia dan tulus / jujur mempunyai bau harum di hadapan Allah, bukan hanya pada waktu mereka menghidupkan jiwa-jiwa oleh bau yang sehat, tetapi juga, pada waktu mereka membawa kehancuran kepada orang-orang yang tidak percaya. Karena itu injil tidak boleh dinilai lebih rendah karena hal itu. ‘Kedua bau’, katanya, ‘menyenangkan bagi Allah - bau dengan mana orang-orang pilihan disegarkan kepada keselamatan, dan bau dari mana orang-orang jahat menerima suatu kejutan yang mematikan’. Di sini kita mempunyai suatu text yang hebat / luar biasa, oleh mana kita diajar bahwa bagaimanapun hasil dari pemberitaan kita, itu tetap menyenangkan bagi Allah, jika Injil diberitakan, dan pelayanan kita akan berkenan kepadaNya; dan juga, bahwa itu sama sekali tidak mengurangi kewibawaan dari Injil, bahwa itu tidak membawa kebaikan bagi semua; karena Allah dimuliakan bahkan dalam hal ini, dimana Injil menjadi penyebab dari kehancuran bagi orang-orang jahat, tidak, itu harus berakhir demikian) - hal 159-160.

4)   Ia mengatakan bahwa ‘waktunya juga mesti dibimbing roh Tuhan’. Roh Kudus tidak mungkin membimbing bertentangan dengan Firman Tuhan. Dan Firman Tuhan dalam 2Tim 4:2 berbunyi: Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran”.

Ulil Abshar-Abdalia:

Konkretnya, bagaimana pandangan gereja-gereja mainstream terhadap gerakan pengabaran Injil dalam konteks keragaman agama yang sudah tak bisa ditolak itu?

Pdt. Kuntadi:

Kalau dalam GKI, kami sering berkata begini: ‘Pekabaran Injil itu tidak sama dengan mengkristenkan orang.’ Tugas kita hanya menyiarkan, bukan melakukan proselitisme (konversi agama). Kalau sudah melakukan proselitisme, kita perlu kembali melihat kenyataan sejarah bahwa setiap kegiatan proselitisme selalu berhadapan dengan konsekuensi yang tidak bisa kita tanggung nantinya.

Itulah perbedaan antara proselitisme dan pengabaran Injil. Penyiaran atau pengabaran tersebut bermakna menyiarkan kabar baik, tapi tidak memaksa dan menyudutkan orang untuk masuk ke agama kita. Sedangkan proselitisme adalah usaha untuk memindahkan orang ke agama kita. Gereja-gereja mainstream mestinya memakai istilah dialog untuk melakukan pengabaran Injil. Sebagai ketua Sinode GKI Jabar, saya mengatakan, ‘Kalau kita mempunyai kabar baik dan mau didengarkan oleh orang lain, ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengarkan orang lain.’ Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar.

Ketika saya ingin menyiarkan Injil kepada seorang muslim, saya juga mesti bersedia mendengarkan muslim itu melakukan dakwah kepada saya. Ada mutualisme yang merupakan inti dialog. Niat saya bukan mengkristenkan orang muslim. Sebaliknya, kaum muslim mestinya juga tidak mengislamkan orang Kristen. Ada pertukaran kabar baik. Dan masing-masing bisa belajar tentang sisi-sisi positif dari pengabaran atau dakwah.

Kalau akhirnya terjadi perpindahan agama, biarlah itu menjadi hak asasi orang. Kalau orang pindah agama bukan dengan pikiran penuh, tapi karena manipulasi, itu hanya menurunkan kualitas agama Artinya, sekalipun kuantitasnya banyak, kualitasnya sangat menurun.

Tanggapan:

1)   Saya berpendapat bahwa penginjilan, kalau itu diterima oleh orang yang diinjili, harus dilanjutkan dengan mengkristenkan orang tersebut. Apa dasarnya?

a)   Amanat Agung Yesus, memerintahkan kita untuk memberitakan Injil / menjadikan semua bangsa muridNya. Sebetulnya perintah ini jelas mencakup kristenisasi, karena menjadikan seseorang sebagai murid Kristus jelas sama dengan mengkristenkan dia.

Perlu diketahui bahwa istilah ‘Kristen’ relatif sangat jarang digunakan dalam Kitab Suci. Istilah ‘Kristen’ hanya muncul 3 x dalam seluruh Kitab Suci, yaitu dalam:

·        Kis 11:26b - “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.

NIV: ‘Christians’ (= orang-orang Kristen).

·        Kis 26:28 - “Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’”.

·        1Pet 4:16 - “Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”.

Dalam Kitab Suci Indonesia istilah ‘Kristen’ itu muncul dalam beberapa ayat lain, tetapi sebetulnya terjemahannya salah. Ayat-ayat itu adalah:

¨      Ro 16:7 - “Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.

NIV: ‘and they were in Christ before I was’ (= mereka sudah ada dalam Kristus sebelum aku).

¨      1Kor 9:5 - “Tidakkah kami mempunyai hak untuk membawa seorang isteri Kristen, dalam perjalanan kami, seperti yang dilakukan rasul-rasul lain dan saudara-saudara Tuhan dan Kefas?”.

NIV: ‘a believing wife’ (= seorang istri yang percaya).

Lit: ‘a sister, a wife’ (= seorang istri yang adalah seorang saudari).

¨      2Kor 12:2 - “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau - entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya - orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga”.

NIV: ‘a man in Christ’ (= seorang laki-laki dalam Kristus).

Sekarang mari kita soroti Kis 11:26b itu sekali lagi.

Kis 11:26b - “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen”.

NIV: ‘The disciples were called Christians first at Antioch’ (= Murid-murid disebut orang-orang Kristen pertama-kalinya di Antiokhia).

Barnes’ Notes: “The name was evidently given because they were the followers of Christ. But by whom, or with what views it was given, is not certainly known” (= Nama itu jelas diberikan karena mereka adalah pengikut-pengikut Kristus. Tetapi oleh siapa, atau dengan pandangan apa nama itu diberikan, tidak diketahui dengan pasti).

Dari Kis 11:26b ini kita bisa tahu bahwa:

*        istilah ‘Kristen’ baru dipakai setelah Yesus naik ke surga. Dan karena itu jelas tidak mungkin Yesus memberikan perintah ‘jadikanlah semua bangsa orang Kristen’.

*        ‘murid-murid’ disebut ‘orang-orang Kristen’.

Calvin: “and what it is else to be a disciple of Christ but to be a Christian?” (= menjadi seorang murid dari Kristus bukan lain dari pada menjadi seorang Kristen) - hal 472.

Jadi kata-kata Yesus ‘jadikanlah semua bangsa muridKu’, tidak berbeda dengan ‘jadikanlah semua bangsa kristen / orang Kristen’.

Dengan demikian, Kristus sendiri memerintahkan kita untuk menjadikan semua bangsa orang Kristen, atau dengan kata lain, Kristus sendiri memerintahkan untuk melakukan kristenisasi!

b)   Dalam Amanat Agung Yesus tersebut, perintah untuk menjadikan murid itu disusul dengan perintah untuk membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Mat 28:19-20). Karena itu, pada waktu rasul-rasul memberitakan Injil, dan orang-orang yang diinjili bertobat, maka mereka membaptiskan / mengkristenkan orang-orang tersebut, seperti dalam kasus 3000 orang yang bertobat dan dibaptiskan dalam Kisah 2.

c)   Paulus sendiri jelas melakukan kristenisasi.

Kis 26:28-29 - “(28) Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ (29) Kata Paulus: ‘Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.’”.

Kata-kata Agripa dalam ay 28 itu menunjukkan bahwa ia beranggapan bahwa Paulus bertujuan untuk menjadikan dia orang Kristen. Dengan kata lain, Paulus melakukan kristenisasi.

Matthew Henry: “it is an acknowledgement that Paul spoke very much to the purpose” (= itu merupakan suatu pengakuan bahwa Paulus berbicara untuk tujuan itu).

Dan hal yang perlu diperhatikan adalah: jawaban Paulus dalam Kis 26:29 sama sekali tidak menyangkal hal itu, tetapi bahkan membenarkannya dan lebih menekankannya lagi, karena ia mengatakan bahwa ia berdoa supaya bukan hanya Agripa, tetapi semua orang yang hadir saat itu, menjadi orang Kristen.

Wycliffe Bible Commentary: “Paul took Agrippa’s light comment seriously and replied solemnly, whether in short or at length ... he wished that all men who heard him might become Christians as he was-with the exception of the chains he was wearing because he was a Christian” [= Paulus menganggap serius komentar ringan Agripa dan menjawab dengan khidmat, apakah segera atau lama kelamaan ... ia berharap bahwa semua orang yang mendengarnya bisa menjadi orang-orang kristen seperti dia, dengan perkecualian tentang belenggu yang ia pakai karena ia adalah seorang Kristen].

2)   Ia mengatakan ‘Gereja-gereja mainstream mestinya memakai istilah dialog untuk melakukan pengabaran Injil’. Mengapa Yesus menyuruh kita untuk memberitakan Injil, dan bukan menyuruh melakukan dialog? Bukannya saya menganggap bahwa dialog merupakan sesuatu yang salah, tetapi dialog itu diadakan dengan tujuan memberitakan Injil. Jadi tujuannya adalah memberitakan Injil, bukan dialog itu sendiri.

3)   Ia mengatakan “‘Sebagai ketua Sinode GKI Jabar, saya mengatakan, ‘Kalau kita mempunyai kabar baik dan mau didengarkan oleh orang lain, ingatlah pesan Yesus supaya kita juga mau mendengarkan orang lain.’ Jangan cuma mau didengar, tapi tidak mau mendengar”.

Ada beberapa hal yang ingin saya tekankan sehubungan dengan hal ini:

a)   Saya tidak tahu ada ayat dalam Kitab Suci kita yang berbunyi demikian. Orang sesat ini berkhayal yang bukan-bukan.

b)   Ayat-ayat di bawah ini bertentangan dengan kata-kata bodoh di atas:

·        Yoh 10:5,8 - “(5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.’ ... (8) Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka.

·        Ul 13:3,8 - “(3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. ... (8) maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya”.

·        1Yoh 4:1-6 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia. (4) Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. (5) Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. (6) Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan”.

Calvin: “he therefore forbids them to hear those who denied that the Son of God appeared in the flesh” (= karena itu ia melarang mereka untuk mendengar mereka yang menyangkal bahwa Anak Allah muncul / tampil dalam daging) - hal 228.

4)   Lagi-lagi saya bukan anti dialog, tetapi tujuan dialog adalah memberitakan Injil, bukan untuk saling belajar dengan orang-orang agama lain. Apakah pendeta sesat ini menganggap Kitab Suci kita kurang lengkap sehingga perlu ditambahi dengan ajaran dari agama lain / Kitab Suci agama lain? Kelihatannya demikian, karena ia menganggap dialog itu sebagai ‘pertukaran kabar baik’. Ia perlu memperhatikan kata-kata Firman Tuhan dalam Wah 22:18 - “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini”.

Ulil Abshar-Abdalia:

Bagaimana Anda menjawab tuduhan melakukan kristenisasi melalui sembako?

Pdt. Kuntadi:

Itu sangat bergantung pada paradigma atau konsep di belakangnya tersebut. Kalau konsepnya memang ingin melakukan kristenisasi atau mengagamakan orang lain, sembako tersebut akan menjadi alat untuk mengagamakan. Kristenisasi model itu sama sekali tidak tepat. Dalam istilah kita, hal itu disebut spiritual bribery, penyuapan rohani.

Apa gunanya orang berpindah agama hanya karena makanan, pakaian, dan obat-obatan? Inti keberagamaan tidak terletak di situ, bukan?

Tanggapan:

Kalau motivasinya memang melakukan penyuapan rohani, maka tentu saja praktek itu salah. Tetapi bagaimana ia bisa tahu motivasi seseorang? Kalau orang Kristen itu, karena kasih kepada orang yang beragama lain, lalu menolong secara jasmani dengan memberi bantuan sembako, pakaian, obat-obatan, dsb, dan juga menolongnya secara rohani dengan memberitakan Injil kepada orang itu, maka hal itu tentu saja benar dan sesuai dengan ajaran Kitab Suci.

-o0o-

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com