Pro & Kontra Perayaan Natal

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 

Pro & kontra perayaan Natal

Akhir-akhir ini makin banyak orang-orang kristen yang menentang perayaan Natal, dan mereka menentang dengan cara yang sangat fanatik dan keras, dan menyerang orang-orang kristen yang merayakan Natal. Kalau ini dibiarkan, maka Natal bisa berkurang kesemarakannya, dan menurut saya itu akan sangat merugikan kekristenan. Karena itu mari kita membahas persoalan ini, supaya bisa memberi jawaban kepada orang-orang yang anti Natal.

Macam-macam alasan untuk menentang perayaan Natal dan jawabannya:

1)   Orang kristen dilarang merayakan hari ulang tahun, dan dengan demikian merayakan hari ulang tahun Yesus tentu juga salah.

Internet: “Dan, lebih jauh, kita menemukan kebenaran ini diakui: … di dalam firman Allah, hanya orang-orang berdosa saja, bukan orang-orang percaya, yang merayakan hari kelahiran mereka.

Internet: “the only birthday celebrations recorded in the whole Bible are those of Pharaoh (Gen. 40:20) and King Herod (Matt. 14:6; Mk. 6:21). Both birthday parties ended in murder, Herod’s in the murder of John the Baptist” [= perayaan ulang tahun yang dicatat dalam seluruh Alkitab hanyalah perayaan ulang tahun dari Firaun (Kej 40:20) dan raja Herodes (Mat 14:6; Mark 6:21). Kedua pesta ulang tahun itu berakhir dengan pembunuhan, pesta ulang tahun Herodes berakhir dengan pembunuhan Yohanes Pembaptis].

Tentang larangan merayakan hari ulang tahun, Pdt. Jusuf B. S. juga mengajarkan kebodohan dan keextriman yang sama. Dalam bukunya yang berjudul ‘Tradisi & Kebiasaan’, hal 24-25, ia juga mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama hanya Firaun yang merayakan HUT (Kej 40:20), sedangkan dalam Perjanjian Baru hanya Herodes (Mat 14:6). Juga ia menambahkan bahwa Ayub dan Yeremia justru mengutuki hari kelahirannya (Ayub 3:3  Yer 20:14).

Tanggapan saya:

a)   Ini merupakan pandangan bodoh dan extrim.

Kebodohan dan keextriman kedua penulis di internet dan Pdt. Jusuf B. S. ini terlihat dengan jelas pada waktu mereka secara implicit melarang seseorang merayakan hari ulang tahun (bukan hari ulang tahun Yesus saja, tetapi seadanya hari ulang tahun), dengan alasan bahwa dalam Kitab Suci hanya orang jahat yang merayakan hari ulang tahun. Ini merupakan metode penafsiran yang luar biasa bodohnya.

b)   Ini sama dengan pandangan Saksi-Saksi Yehuwa.

Hebatnya, ini adalah kebodohan dan keextriman yang persis sama dengan yang dilakukan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (buku ‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 145-147). Ajarannya persis, dan juga ayat-ayat yang digunakan tentang Firaun dan Herodes juga persis.

c)   Kalau merayakan hari ulang tahun dilarang karena dalam Kitab Suci hanya orang-orang jahat yang merayakan hari ulang tahun, maka dengan cara yang sama kita bisa mengatakan bahwa:

·        orang kristen dilarang untuk mencalak mata / alis, yang dalam Kitab Suci hanya dilakukan oleh Izebel (2Raja 9:30 bdk Yeh 23:40 - ini juga orang jahat).

·        orang kristen dilarang untuk menjadi bendahara gereja, yang dalam Kitab Suci hanya dilakukan oleh Yudas Iskariot (Yoh 12:6). Dalam Kitab Suci banyak orang menjadi ‘bendahara negara’ tetapi tidak ada bendahara gereja, kecuali Yudas Iskariot.

·        orang kristen dilarang untuk disunat pada usia 13 tahun, karena dalam Kitab Suci hanya Ismael yang mengalami hal itu (Kej 17:25).

·        seorang laki-laki dilarang memasakkan makanan untuk ayahnya, karena dalam Kitab Suci hanya Esau yang melakukan hal itu (Kej 27).

·        orang kristen tidak boleh mencucuk daging dengan garpu bergigi 3, karena dalam Kitab Suci hanya bujang dari Hofni dan Pinehas yang melakukannya (1Sam 2:13).

·        seorang raja / presiden tidak boleh berpidato di hadapan pendukung / rakyatnya, karena dalam Kitab Suci hanya Herodes yang melakukan hal itu (Kis 12:20-23).

·        orang kristen tidak boleh mandi di sungai karena dalam Kitab Suci hanya puteri Firaun yang melakukannya (Kel 2:5). Naaman bukan mandi, tetapi hanya membenamkan diri di sungai untuk mentahirkan kustanya sesuai dengan perintah Elisa.

d)   Bahwa orang kafir melakukan sesuatu, tidak berarti bahwa orang kristen tidak boleh melakukan hal itu. Hanya kalau orang kafir melakukan sesuatu yang dilarang oleh Tuhan, barulah orang kristen dilarang untuk meniru mereka. Tetapi menyalahkan untuk meniru orang kafir pada saat ia melakukan hal-hal, yang dalam dirinya sendiri tidak bisa dikatakan sebagai dosa, seperti mandi, makan, belajar, dan juga merayakan hari ulang tahun / pernikahan dsb, merupakan suatu fanatisme picik dan extrim!

e)   Baik Ayub maupun Yeremia mengutuki hari kelahirannya, karena penderitaan yang mereka alami. Jadi, saking menderitanya, mereka berharap mereka tidak pernah dilahirkan, dan itu mereka nyatakan dengan mengutuki hari kelahiran mereka. Jadi kalau ayat-ayat seperti ini dipakai sebagai dasar untuk menentang perayaan hari ulang tahun, itu betul-betul suatu pengutipan ayat yang ‘out of context’, dan lagi-lagi merupakan suatu metode penafsiran yang sangat bodoh.

2)   Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember; tanggal kelahiranNya tidak diketahui.

Karena Allah tidak memberitahu kita tanggal kelahiran Kristus, atau karena Allah menyejmbunyikan tanggal kelahiran Kristus, itu merupakan bukti bahwa Ia tidak menghhendaki kita untuk merayakannya.

Disamping itu, karena tanggal 25 Desember bukan tanggal kelahiran Kristus, maka kita berdusta kalau kita merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember.

Internet:

Jawaban saya:

a)   Kalau Allah tidak memberi tahu kita kapan Kristus dilahirkan, apakah itu merupakan suatu bukti bahwa Allah tidak menghendaki kita untuk merayakan / memperingatinya? Menurut saya: tidak!

Kita memang tidak tahu kapan Yesus dilahirkan. Ada penafsir yang mengatakan bahwa untuk setiap bulan dalam sepanjang tahun, ada satu kelompok kristen yang mempercayainya sebagai bulan kelahiran Yesus. Ini memang menunjukkan bahwa tidak ada orang yang tahu tanggal dan bulan kelahiran Kristus, dan mungkin bahkan tahun kelahiranNya. Tetapi itu belum bisa dijadikan suatu bukti bahwa Ia tidak menghendaki kita merayakan / memperingati kelahiran Kristus tersebut. Memang kadang-kadang Allah mengatur sesuatu supaya tidak diketahui oleh manusia, dan Ia melakukan ini karena Ia tidak menghendaki manusia untuk berurusan dengan hal itu. Misalnya dalam persoalan kubur dari Musa. Ini sengaja disembunyikan, karena mungkin Allah tahu bahwa seandainya bangsa Israel tahu tempat itu, mereka mungkin akan melakukan penyembahan terhadapnya.

Tetapi tidak selalu seperti itu. Dalam Perjanjian Lama Allah memperkenalkan namaNya kepada Musa (Kel 3:14-15), dan ini jelas menunjukkan bahwa pada saat itu Allah menghendaki orang-orang Israel untuk menggunakan nama itu asal tidak dengan sembarangan. Tetapi Allah mengatur sehingga jaman sekarang tidak ada orang yang tahu bagaimana mengucapkan nama Allah tersebut. Akibatnya, jaman sekarang orang kristen menyebutNya sebagai TUHAN, LORD, YEHOVAH, YAHWEH, dsb, yang merupakan sebutan-sebutan yang salah / belum tentu benar.

b)   Sebetulnya, tanpa dijelaskanpun, ‘fakta sudah berbicara sendiri’ bahwa Natal memang tidak terjadi pada tanggal 25 Desember.

Fakta jaman sekarang dimana banyak orang sudah merayakan Natal pada awal Desember, dan ada orang-orang yang masih merayakan Natal pada bulan Januari dan bahkan Februari, sudah menunjukkan kepada siapapun yang tidak membutakan dirinya, bahwa Kristus tidak dilahirkan pada tanggal 25 Desember, dan bahwa kita tidak mengetahui tanggal kelahiranNya.

Tetapi kalau itu dirasa kurang cukup, maka dalam merayakannya, kita bisa menjelaskan hal itu kepada jemaat dan khususnya anak-anak Sekolah Minggu, bahwa itu sebetulnya bukan tanggal kelahiran yang sebenarnya, dan dengan demikian kita bukan mendustai orang.

Kita mungkin sering mendengar tentang orang kuno yang tidak mengetahui tanggal kelahirannya sendiri, dan karena itu keluarganya menciptakan tanggal kelahiran baginya, dan merayakannya setiap tahun pada tanggal tersebut. Apakah ini merupakan dusta? Mengapa keluarga tersebut tetap merayakan hari ulang tahun dari orang itu padahal mereka tidak mengetahui tanggal sebenarnya? Saya kira, karena kecintaan mereka terhadap orang itu, sehingga mereka ingin menunjukkan kasih yang khusus terhadap orang itu sedikitnya satu kali setahun. Hal ini tidak terlalu berbeda dengan Natal! Yang penting bukan saat kelahiran Kristus, tetapi fakta bahwa Ia sudah lahir untuk kita. Kita ingin membalas kasihNya sedikitnya sekali setahun, dengan merayakan hari kelahiranNya, pada hari yang kita sendiri tentukan.

c)   Perhatikan dusta / fitnahan dari orang-orang yang anti Natal ini (perhatikan bagian yang saya garis bawahi).

·        Mereka mengatakan bahwa Natal merupakan suatu kebohongan yang sama dengan Sinterklaas. Selama point b) di atas kita lakukan, kita sudah bebas dari tuduhan kebohongan. Dan jelas bahwa tidak semua orang kristen / gereja menggabungkan Natal dengan Sinterklaas; saya sendiri jelas menentang hal itu.

·        Mereka mengatakan ‘Apakah mengherankan jika banyak dari mereka, setelah mereka tumbuh dewasa, mulai mempercayai Allah hanya sebagai sebuah dongeng?’.

Saya pikir tuduhan-tuduhan ini, khususnya yang kedua, merupakan pemikiran dari orang-orang yang tidak punya otak, yang asal menuduh. Tuduhan itu jelas merupakan suatu exaggeration (tindakan melebih-lebihkan), dan sama sekali bukan merupakan suatu fakta / kebenaran. Siapa, yang karena dari kecil merayakan Natal, akhirnya tumbuh sebagai orang yang mempercayai bahwa Allah itu hanya sekedar dongeng? Dan kalau ada orang-orang seperti itu bagaimana mereka bisa membuktikan bahwa orang-orang itu mempercayai Allah sebagai dongeng karena mereka pada waktu kecilnya diajar merayakan Natal?

Orang-orang yang anti Natal ini menuduh kita yang merayakan Natal sebagai berdusta, sementara mereka sendiri melakukan fitnahan seperti ini. Mungkin mereka sebaiknya memperhatikan kata-kata Yesus dalam Mat 7:1-5 - “(1) ‘Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. (2) Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.’”.

3)   Merayakan Natal berarti menilai Kristus menurut daging (2Kor 5:16).

Internet: “Ada satu ALASAN YANG SANGAT PENTING mengenai hal ini. Paulus mengatakan kepada kita di 2Kor. 5:16, Jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian. Ayat ini di dalam Alkitab versi Amplified dikatakan sbb: Tidak, sekalipun kami pernah menilai Kristus dari sisi pandang manusia dan sebagai manusia, akan tetapi kami sekarang telah memiliki pengetahuan tentang Dia sedemikian sehingga kami tidak lagi mengenal Dia secara daging atau jasmani; Yang Paulus maksudkan adalah bahwa kita harus MENGENAL KRISTUS SECARA ROHANI, di dalam dan oleh ROH, dan bukan MENURUT DAGING, bukan sebagai seorang manusia, bukan menurut huruf-huruf, bukan sebagai seorang bayi … karena hal-hal tersebut TIDAK ADA ARTINYA bagi kita yang memiliki HIDUP ROHANI!”.

Jawaban saya:

a)   Orang bodoh ini menuduh dengan menggunakan ayat tanpa mengerti arti ayat itu.

Ada 2 penafsiran yang memungkinkan tentang ayat ini:

·        Menilai Kristus menurut daging, artinya menilainya sesuai dengan pengertian agama Yahudi pada jaman itu, dimana Mesias dianggap sebagai raja duniawi yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Sebaliknya menilai Kristus secara rohani, berarti menerima / mempercayai Dia sebagai Raja dan Juruselamat secara rohani.

·        Menilai Kristus menurut daging artinya menganggap Dia hanya sebagai manusia saja. Sedangkan menilai Kristus secara rohani artinya menilaiNya sesuai dengan ajaran Kitab Suci, yang menyatakan Kristus bukan hanya sebagai manusia tetapi juga sebagai Allah, Juruselamat, Mesias, dsb.

b)   Perhatikan bagian-bagian yang saya garis-bawahi.

Rupanya orang bodoh dan sesat ini hanya mau mempedulikan Yesus sebagai Allah tetapi tidak Yesus sebagai manusia. Ini bodoh dan sesat. Keilahian maupun kemanusiaan Yesus sama pentingnya bagi kita. Tanpa kemanusiaanNya, Ia tidak bisa menderita dan mati untuk menebus dosa-dosa kita. Orang yang salah dalam persoalan kemanusiaan Kristus sama sesatnya dengan orang yang salah dalam persoalan keilahian Kristus! Paulus sendiri dalam banyak bagian lain, menekankan kemanusiaan Yesus, seperti dalam 1Tim 2:5  Fil 2:7 dsb.

Kalau Amplified Bible memang menterjemahkan seperti itu, itu berarti terjemahannya salah / sesat!

4)   Orang yang hidup dalam Roh tidak membutuhkan peringatan.

Internet: “oleh karena kita hidup di dalam ROH dan hadirat Allah, kita TIDAK MEMBUTUHKAN HARI atau PESTA-PESTA atau PERAYAAN atau PERINGATAN agar supaya kita MENGINGAT DIA atau membawa pikiran dan kasih kita kepada-Nya”.

Tanggapan saya:

Ini omongan dari orang bodoh dan sok suci, seakan-akan dia bisa selalu mengingat kasih Tuhan tanpa pengingat apapun. Lalu mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk melakukan Perjamuan Kudus? Bukankah itu untuk memperingati dan sekaligus memberitakan kematian Kristus? (1Kor 11:23-26).

Perlu diingat bahwa Allah sendiri memberi banyak hal untuk mengingatkan, dan menyuruh umatNya untuk melakukan banyak peringatan. Mengapa? Karena Ia tahu bahwa kita mudah sekali melupakan apa yang seharusnya tidak boleh kita lupakan.

Contoh:

Kel 12:14 - “Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya”.

Kel 13:3,8 - “(3) Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: ‘Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tanganNya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatupun yang beragi. ... (8) Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir.

Yos 4:7 - “maka haruslah kamu katakan kepada mereka: Bahwa air sungai Yordan terputus di depan tabut perjanjian TUHAN; ketika tabut itu menyeberangi sungai Yordan, air sungai Yordan itu terputus. Sebab itu batu-batu ini akan menjadi tanda peringatan bagi orang Israel untuk selama-lamanya.’”.

Luk 22:19 - “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya: ‘Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.’”.

1Kor 11:24-25 - “(24) dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ (25) Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darahKu; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’”.

5)   Natal berasal dari kekafiran.

Internet:

1.   “Catatan-catatan sejarah di dalam Ensiklopedia, yang bisa kita dapatkan di perpustakaan-perpustakaan, dan yang dapat dipercaya, memberikan fakta-fakta ini: bahwa Natal berasal dari bangsa kafir. Jika ditelusuri, Natal merupakan kepanjangan dari penyembah-penyembah matahari di antara bangsa-bangsa kafir. Banyak hari kelahiran dari para pemimpin kafir dirayakan oleh bangsa Babilonia. Semua perayaan penyembahan berhala ini berasal dari bangsa kafir. Kata Christmas (Natal) berarti Misa Kristus. Kata ini kemudian disingkat menjadi Christ-Mass; dan akhirnya menjadi Christmas. Kita kenal misa ini sebagai Misa Roma Katolik. Tetapi dari mana mereka mendapatkannya? Oleh karena kita mengenalnya lewat Gereja Roma Katolik, dan tidak ada wewenang selain Gereja Roma Katolik, marilah kita selidiki Ensiklopedia Katolik, yang diterbitkan oleh denominasi ini. Di bawah judul Christmas (Natal) engkau akan menemukan kata-kata ini: Natal tidak terdapat pada perayaan-perayaan Gereja jaman dahulu … Bukti awal dari perayaan ini adalah dari Mesir. Adat kebiasaan dari para penyembah berhala yang berlangsung sekitar bulan Januari ini kemudian dijadikan Natal. ... ENSIKLOPEDIA AMERICANA, edisi 1969, berkata: Natal, nama ini berasal dari bahasa Inggris kuno Chrites Maesse dan ejaan sekarang ini nampaknya mulai digunakan pada sekitar abad ke 16. Semua gereja Kristen kecuali gereja Armenia merayakan hari kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember. Tanggal ini tidak dikenal di negeri Barat sampai kira-kira pertengahan abad ke 4 dan di Timur sampai kira-kira seabad kemudian”.

2.   “Mengikuti CARA-CARA ORANG KAFIR bukanlah persoalan mengenai mana yang harus kita lakukan atau mana yang tidak boleh kita lakukan menurut pemikiran kita sendiri. Di dalam 1 Raja-raja 11:4-11 Allah menghukum raja Salomo untuk hal yang satu ini. Allah merobek Kerajaannya darinya”.

Penyamaan dengan Salomo, yang memang mendukung penyembahan berhala ini merupakan kegilaan yang tidak perlu ditanggapi.

3.   “Tradisi ini mungkin berasal dari perayaan Saturnalia, di mana para budak menjadi sejajar dengan tuannya. Membakar kayu Natal dimasukkan menjadi adat orang Inggris yang asalnya dari adat orang Skandinavia tatkala mereka menghormati titik balik matahari pada musim dingin”.

4.   “Asal mula Natal. Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas, tetapi seperti yang dipercayai tanggal ini dipilih untuk menyesuaikan dengan perayaan penyembahan berhala yang berlangsung pada musim dingin waktu terjadi titik balik matahari, yaitu ketika siang hari mulai panjang, untuk merayakan lahirnya kembali sang matahari. Suku-suku bangsa Eropa Utara merayakan Natal mereka pada musim dingin waktu titik balik matahari untuk merayakan kelahiran kembali sang matahari (dewa) sebagai yang memberikan terang dan kehangatan. Saturnalia Romawi (perayaan yang dipersembahkan kepada Saturnus, dewa pertanian) juga berlangsung pada waktu tersebut, dan beberapa adat Natal diperkirakan berakar pada perayaan penyembahan berhala ini. Perayaan ini diadakan oleh beberapa orang terpelajar bahwa kelahiran Kristus sebagai Terang Dunia dianalogikan dengan kelahiran kembali sang matahari agar supaya kekristenan menjadi lebih berarti bagi para petobat baru yang dulunya menyembah matahari”.

Jawaban saya:

a)   Penulis di internet bodoh ini berbicara dengan lidah bercabang. Dalam kutipan pertama dia mengatakan bahwa hal itu (bahwa Natal berasal dari kekafiran) ‘dapat dipercaya’. Tetapi dalam kutipan ketiga ia mengatakan ‘mungkin’, dan dalam kutipan keempat ia mengatakan ‘Alasan mengapa menetapkan tanggal 25 Desember sebagai Natal adalah tidak jelas’ dan pada bagian akhir ia menggunakan kata ‘diperkirakan’.

b)   Asal usul dari kekafiran bukanlah merupakan sesuatu yang pasti.

Di sini saya memberikan informasi dari Encyclopedia Britannica tentang sejarah Natal, kata ‘Christmas’, dan asal usul tanggal 25 Desember dan perayaannya.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas’:

“from Old English Cristes maesse, ‘Christ’s mass’), Christian festival celebrated on December 25, commemorating the birth of Jesus Christ. It is also a popular secular holiday. According to a Roman almanac, the Christian festival of Christmas was celebrated in Rome by AD 336. In the eastern part of the Roman Empire, however, a festival on January 6 commemorated the manifestation of God in both the birth and the baptism of Jesus, except in Jerusalem, where only the birth was celebrated. During the 4th century the celebration of Christ’s birth on December 25 was gradually adopted by most Eastern churches. In Jerusalem, opposition to Christmas lasted longer, but it was subsequently accepted. In the Armenian Church, a Christmas on December 25 was never accepted; Christ’s birth is celebrated on January 6. After Christmas was established in the East, the baptism of Jesus was celebrated on Epiphany, January 6. In the West, however, Epiphany was the day on which the visit of the Magi to the infant Jesus was celebrated. The reason why Christmas came to be celebrated on December 25 remains uncertain, but most probably the reason is that early Christians wished the date to coincide with the pagan Roman festival marking the ‘birthday of the unconquered sun’ (natalis solis invicti); this festival celebrated the winter solstice, when the days again begin to lengthen and the sun begins to climb higher in the sky. The traditional customs connected with Christmas have accordingly developed from several sources as a result of the coincidence of the celebration of the birth of Christ with the pagan agricultural and solar observances at midwinter. In the Roman world the Saturnalia (December 17) was a time of merrymaking and exchange of gifts. December 25 was also regarded as the birth date of the Iranian mystery god Mithra, the Sun of Righteousness. On the Roman New Year (January 1), houses were decorated with greenery and lights, and gifts were given to children and the poor. To these observances were added the German and Celtic Yule rites when the Teutonic tribes penetrated into Gaul, Britain, and central Europe. Food and good fellowship, the Yule log and Yule cakes, greenery and fir trees, and gifts and greetings all commemorated different aspects of this festive season. Fires and lights, symbols of warmth and lasting life, have always been associated with the winter festival, both pagan and Christian. Since the European Middle Ages, evergreens, as symbols of survival, have been associated with Christmas. Christmas is traditionally regarded as the festival of the family and of children, under the name of whose patron, Saint Nicholas, or Santa Claus, presents are exchanged in many countries”.

Saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi:

“Alasan mengapa Natal sampai dirayakan pada tanggal 25 Desember tetap tidak pasti, tetapi paling mungkin alasannya adalah bahwa orang-orang kristen mula-mula ingin tanggal itu bertepatan dengan hari raya kafir Romawi yang menandai ‘hari lahir dari matahari yang tak terkalahkan’ ...; hari raya ini merayakan titik balik matahari pada musim dingin, dimana siang hari kembali memanjang dan matahari mulai naik lebih tinggi di langit. Jadi, kebiasaan yang bersifat tradisionil yang berhubungan dengan Natal telah berkembang dari beberapa sumber sebagai suatu akibat dari bertepatannya perayaan kelahiran Kristus dengan perayaan kafir yang berhubungan dengan pertanian dan matahari pada pertengahan musim dingin. ... Tanggal 25 Desember juga dianggap sebagai hari kelahiran dari dewa misterius bangsa Iran, yang bernama Mithra, sang Surya Kebenaran”.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’:

“The word Christmas is derived from the Old English Cristes maesse, ‘Christ’s Mass.’ There is no certain tradition of the date of Christ’s birth. Christian chronographers of the 3rd century believed that the creation of the world took place at the spring equinox, then reckoned as March 25; hence the new creation in the incarnation (i.e., the conception) and death of Christ must therefore have occurred on the same day, with his birth following nine months later at the winter solstice, December 25. The oldest extant notice of a feast of Christ’s Nativity occurs in a Roman almanac (the Chronographer of 354, or Philocalian Calendar), which indicates that the festival was observed by the church in Rome by the year 336. Many have posited the theory that the feast of Christ’s Nativity, the birthday of ‘the sun of righteousness’ (Malachi 4:2), was instituted in Rome, or possibly North Africa, as a Christian rival to the pagan festival of the Unconquered Sun at the winter solstice. This syncretistic cult that leaned toward monotheism had been given official recognition by the emperor Aurelian in 274. It was popular in the armies of the Illyrian (Balkan) emperors of the late 3rd century, including Constantine’s father. Constantine himself was an adherent before his conversion to Christianity in 312. There is, however, no evidence of any intervention by him to promote the Christian festival. The exact circumstances of the beginning of Christmas Day remain obscure. From Rome the feast spread to other churches of the West and East, the last to adopt it being the Church of Jerusalem in the time of Bishop Juvenal (reigned 424-458). Coordinated with Epiphany, a feast of Eastern origin commemorating the manifestation of Christ to the world, the celebration of the incarnation of Christ as Redeemer and Light of the world was favoured by the intense concern of the church of the 4th and 5th centuries in formulating creeds and dogmatic definitions relating to Christ’s divine and human natures. Christmas is the most popular of all festivals among Christians and many non-Christians alike, and its observance combines many strands of tradition. From the ancient Roman pagan festivals of Saturnalia (December 17) and New Year’s come the merrymaking and exchange of presents. Old Germanic midwinter customs have contributed the lighting of the Yule log and decorations with evergreens. The Christmas tree comes from medieval German mystery plays centred in representations of the Tree of Paradise (Genesis 2:9). Francis of Assisi popularized the Christmas crib, or crèche, in his celebration at Greccio, Italy, in 1223. Another popular medieval feast was that of St. Nicholas of Myra (c. 340) on December 6, when the saint was believed to visit children with admonitions and gifts, in preparation for the gift of the Christ child at Christmas. Through the Dutch the tradition of St. Nicholas (Sinterklaas, hence ‘Santa Claus’) was brought to America in their colony of New Amsterdam, now New York. The sending of greeting cards at Christmas began in Britain in the 1840s and was introduced to the United States in the 1870s”.

Saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi:

Tidak ada tradisi tertentu yang pasti tentang tanggal kelahiran Kristus. Para penghitung waktu Kristen dari abad ketiga percaya bahwa penciptaan dunia / alam semesta terjadi pada musim semi di saat siang dan malam sama lamanya, yang pada saat itu dianggap sebagai tanggal 25 Maret; karena itu penciptaan baru dalam inkarnasi (yaitu ‘pembuahan’ / mulai adanya janin Kristus) dan kematian Kristus harus terjadi pada hari yang sama, dengan kelahiranNya 9 bulan berikutnya pada titik balik matahari pada musim dingin, 25 Desember. ... Banyak orang memberikan teori bahwa hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari Surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari. ... Keadaan yang tepat tentang permulaan / asal usul hari Natal tetap kabur.

Perhatikan 2 hal:

·        kata-kata ‘tetap tidak pasti’, ‘tidak ada tradisi tertentu yang pasti’, dan ‘keadaan yang tepat tentang permulaan / asal usul hari Natal tetap kabur’, yang saya cetak dengan huruf besar itu.

·        sedikitnya ada 4 asal usul tanggal 25 Desember, yaitu:

*        hari raya Romawi yang memperingati titik balik matahari.

*        hari lahir dari dewa bangsa Iran.

*        itu ditentukan oleh para penghitung waktu Kristen (sekalipun dengan cara yang sangat tidak masuk akal).

*        Alfred Edersheim memberikan asal usul tanggal 25 Desember yang berbeda.

Alfred Edersheim: “the date of the Feast of the Dedication - the 25th of Chislev - seems to have been adopted by the ancient Church as that of the birth of our blessed Lord - Christmas - the Dedication of the true Temple, which was the body of Jesus” [= tanggal dari hari raya Pentahbisan Bait Allah - bulan Kislew tanggal 25 - kelihatannya telah diadopsi oleh Gereja kuno sebagai tanggal kelahiran dari Tuhan kita yang terpuji - Natal - Pentahbisan dari Bait Allah yang sejati, yang adalah tubuh dari Yesus (bdk. Yoh 2:19-22)] - ‘The Temple’, hal 334.

Perhatikan bahwa point ke 3 dan ke 4 tidak menunjukkan asal usul kafir!

Semua ini jelas menunjukkan bahwa asal usul tanggal 25 Desember sebagai hari Natal masing simpang siur dan tidak ada kepastiannya. Tetapi orang-orang bodoh yang anti Natal itu dengan beraninya (atau dengan cerobohnya / lancangnya) telah menuduh tidak karu-karuan. Menuduh tanpa fakta yang pasti sama dengan memfitnah!

c)   Sekarang andaikata tanggal 25 Desember itu memang diadopsi dari hari raya kafir, kita masih harus memperhitungkan apa motivasi orang-orang kristen pada saat itu untuk melakukan hal tersebut.

Encyclopedia Britannica 2000 mengatakan bahwa ada teori yang mengatakan bahwa orang-orang kristen mengadopsi tanggal itu supaya perayaan Natal menyaingi perayaan kafir tersebut. Untuk jelasnya saya mengutip ulang bagian itu.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘from church year Christmas’:

“The word Christmas is derived from the Old English Cristes maesse, ‘Christ’s Mass.’ There is no certain tradition of the date of Christ’s birth. Christian chronographers of the 3rd century believed that the creation of the world took place at the spring equinox, then reckoned as March 25; hence the new creation in the incarnation (i.e., the conception) and death of Christ must therefore have occurred on the same day, with his birth following nine months later at the winter solstice, December 25. The oldest extant notice of a feast of Christ’s Nativity occurs in a Roman almanac (the Chronographer of 354, or Philocalian Calendar), which indicates that the festival was observed by the church in Rome by the year 336. Many have posited the theory that the feast of Christ’s Nativity, the birthday of ‘the sun of righteousness’ (Malachi 4:2), was instituted in Rome, or possibly North Africa, as a Christian rival to the pagan festival of the Unconquered Sun at the winter solstice. This syncretistic cult that leaned toward monotheism had been given official recognition by the emperor Aurelian in 274. It was popular in the armies of the Illyrian (Balkan) emperors of the late 3rd century, including Constantine’s father. Constantine himself was an adherent before his conversion to Christianity in 312. There is, however, no evidence of any intervention by him to promote the Christian festival. The exact circumstances of the beginning of Christmas Day remain obscure. From Rome the feast spread to other churches of the West and East, the last to adopt it being the Church of Jerusalem in the time of Bishop Juvenal (reigned 424-458). Coordinated with Epiphany, a feast of Eastern origin commemorating the manifestation of Christ to the world, the celebration of the incarnation of Christ as Redeemer and Light of the world was favoured by the intense concern of the church of the 4th and 5th centuries in formulating creeds and dogmatic definitions relating to Christ’s divine and human natures. Christmas is the most popular of all festivals among Christians and many non-Christians alike, and its observance combines many strands of tradition. From the ancient Roman pagan festivals of Saturnalia (December 17) and New Year’s come the merrymaking and exchange of presents. Old Germanic midwinter customs have contributed the lighting of the Yule log and decorations with evergreens. The Christmas tree comes from medieval German mystery plays centred in representations of the Tree of Paradise (Genesis 2:9). Francis of Assisi popularized the Christmas crib, or crèche, in his celebration at Greccio, Italy, in 1223. Another popular medieval feast was that of St. Nicholas of Myra (c. 340) on December 6, when the saint was believed to visit children with admonitions and gifts, in preparation for the gift of the Christ child at Christmas. Through the Dutch the tradition of St. Nicholas (Sinterklaas, hence ‘Santa Claus’) was brought to America in their colony of New Amsterdam, now New York. The sending of greeting cards at Christmas began in Britain in the 1840s and was introduced to the United States in the 1870s”.

Saya hanya menterjemahkan bagian yang saya garis bawahi:

“Banyak orang memberikan teori bahwa hari raya tentang kelahiran Kristus, hari lahir dari ‘surya kebenaran’ (Mal 4:2) ditetapkan di Roma, atau mungkin di Afrika Utara, sebagai suatu saingan Kristen terhadap hari raya kafir dari Surya yang tak terkalahkan pada titik balik matahari.

Hal yang mirip dengan itu adalah baik Nebukadnezar dan Artahsasta disebut dengan istilah ‘raja di atas segala raja’ (Dan 2:37  Ezra 7:12). Tetapi gelar dari raja kafir itu lalu diberikan kepada Yesus / Allah (1Tim 6:15  Wah 17:14  Wah 19:16). Mengapa bisa demikian?

The International Standard Bible Encyclopedia, vol II: “The title ‘King of kings,’ denoting absolute authority rather than divinity per se, is used of God and Christ in the NT (always with ‘Lord of lords’: 1Tim. 6:15; Rev. 17:14; 19:16). Its use was a response by both Jews and Christians to the practice of deifying earthly political rulers [= Gelar ‘Raja segala raja’ lebih menunjukkan otoritas mutlak dari pada keilahian sendiri, digunakan terhadap Allah dan Kristus dalam PB (selalu dengan ‘Tuhan segala Tuhan’: 1Tim 6:15; Wah 17:14; 19:16). Penggunaannya merupakan suatu tanggapan baik oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen terhadap praktek pendewaan penguasa-penguasa politik duniawi] - hal 508.

Jadi rupanya pada jaman itu banyak raja duniawi disebut dengan istilah ‘raja di atas segala raja’. Orang-orang kristen merasakan itu sebagai tidak tepat, dan mereka menganggap hanya Yesus / Allah yang pantas memakai gelar itu, dan mereka lalu memberikan gelar itu kepada Allah / Yesus, dan bahkan setiap kali gelar itu mereka berikan kepada Allah / Yesus, maka mereka menambahi dengan kata-kata ‘Tuhan atas segala Tuhan’. Jadi mereka menampilkan Yesus / Allah sebagai saingan terhadap raja-raja kafir yang didewakan oleh rakyat kafir mereka. Apakah ini juga mau kita anggap berasal dari kafir? Kalau mau dikatakan berasal dari kafir, memang jelas berasal dari kafir. Tetapi apakah kita mau menyalahkan motivasi mereka, yang sebetulnya bisa dikatakan sebagai ‘mulia’? Demikian juga, andaikata Natal memang diambil dari kafir, tetapi motivasinya adalah untuk menyaingi hari-hari raya kafir, itu adalah sesuatu yang ‘mulia’, dan bertujuan untuk memuliakan Tuhan.

Apa maksudnya orang-orang kristen itu menyaingi hari-hari raya kafir itu? Mungkin orang-orang kristen tertentu sering menghadiri hari raya kafir, dan pada saat-saat seperti itu biasanya mereka jatuh ke dalam dosa-dosa tertentu, seperti penyembahan berhala, perzinahan, makan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, dan sebagainya. Karena itu gereja lalu menepatkan Natal dengan tanggal tersebut, supaya orang-orang kristen itu merayakan Natal di gereja, dan tidak pergi ke perayaan-perayaan kafir. Ini sama seperti kalau gereja mengadakan acara pada malam tahun baru (tanggal 31 Desember). Dari pada jemaatnya pergi ke tempat-tempat hiburan yang tidak karuan, lebih baik mereka diarahkan untuk pergi ke gereja. Hanya orang bodoh dan tidak rohani yang akan menyalahkan hal seperti ini!

d)   Dalam kristen maupun dalam kehidupan kita sehari-hari ada banyak hal yang berasal dari kekafiran, tetapi tetap dipertahankan, setelah dibuang kekafirannya. Saya akan memberikan beberapa contoh:

1.   Gelar ‘raja di atas segala raja’ yang sudah kita bahas di atas.

2.   Kata ‘Behold’ / ‘Lihatlah’ dalam Yes 7:14 diambil dari kekafiran dan diterapkan pada kelahiran Kristus.

Yes 7:14 - “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”.

KJV: ‘Therefore the Lord himself shall give you a sign; Behold, a virgin shall conceive, and bear a son, and shall call his name Immanuel’ (= Karena itu, Tuhan sendiri akan memberimu suatu tanda; Lihatlah, seorang perawan akan mengandung, dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan menamaiNya Immanuel).

E. J. Young: “‘Behold!’ ... It has also appeared in the texts from Ugarit. ... In Ugarit it had been used to announce the birth of gods, nonexistent beings who were a part of that web of superstition which covered the ancient pagan world. On Isaiah’s lips, however, this formula is lifted from its ancient pagan context and made to introduce the announcement of the birth of the only One who truly is God and King” (= ‘Lihatlah!’ ... Kata itu juga muncul dalam text-text dari Ugarit. ... Di Ugarit kata itu telah digunakan untuk mengumumkan kelahiran allah-allah / dewa-dewa, makhluk-makhluk yang tidak mempunyai keberadaan yang merupakan sebagian dari jaringan takhyul yang meliputi dunia kafir kuno. Tetapi di bibir Yesaya, formula ini diangkat dari kontex kafir kunonya dan digunakan untuk mengajukan pengumuman tentang kelahiran dari satu-satunya ‘Makhluk’ yang sungguh-sungguh adalah Allah dan Raja) - ‘The Book of Isaiah’, vol I, hal  284-285.

Kalau Yesaya boleh menggunakan kata yang berasal dari orang kafir dalam urusan berhala mereka, dan menggunakannya untuk menubuatkan kelahiran Kristus, mengapa orang Kristen jaman sekarang menolak Natal dengan alasan itu berasal dari orang kafir / penyembah berhala?

3.   kata Yunani THEOS (= Allah) mungkin juga berhubungan dengan kekafiran, seperti yang dikatakan oleh Bavinck di bawah ini.

Bavinck: “Formerly the Greek word THEOS was held to be derived from TITHENAI, THEEIN, THEASTHAI. At present some philologists connect it with Zeus, Dios, Jupiter, Deus, Diana, Juno, Dio, Dieu. So interpreted it would be identical with the Sanskrit ‘deva,’ the shinning heaven, from ‘divorce’ to shine. Others, however, deny all etymological connection between the Greek word THEOS and the Latin Deus and connect the former with the root THES in THESSASTHAI to desire, to invoke. In many languages the words ‘heaven’ and ‘God’ are used synonymously; the oldest Grecian deity Uranus was probably identical with the Sanskrit Varuna; the Tartar and Turkish word ‘Taengri’ and the Chinese word ‘Thian’ mean both heaven and God; and also in Scripture the words heaven and God are sometimes used interchangeably; e.g., in the expression ‘kingdom of heaven’ or ‘kingdom of God.’” (= Dahulu dipercaya bahwa kata Yunani THEOS diturunkan dari TITHENAI, THEEIN, THEASTHAI. Pada saat ini beberapa ahli bahasa menghubungkannya dengan Zeus, Dios, Jupiter, Deus, Diana, Juno, Dio, Dieu. Ditafsirkan demikian, maka kata itu menjadi identik dengan kata Sansekerta ‘deva’, ‘langit / surga yang berkilau / bersinar’, dan berasal dari kata ‘div’ yang berarti ‘berkilau / bersinar’. Tetapi para ahli bahasa yang lain menyangkal semua hubungan asal usul kata antara kata Yunani THEOS dan kata Latin DEUS dan menghubungkan kata THEOS itu dengan akar kata THES dalam THESSASTHAI, yang berarti ‘menginginkan’, ‘meminta / memohon’) - ‘The Doctrine of God’, hal 98-99.

Juga kata Elohim, Theos, dsb dipakai dalam Kitab Suci untuk menunjuk kepada Allah yang benar, maupun kepada dewa-dewa / berhala-berhala kafir. Apakah kita harus membuang penggunaan istilah itu?

4.   Istilah dalam Wah 1:4 yang digunakan untuk Allah juga mempunyai banyak kemiripan dengan istilah-istilah yang digunakan terhadap dewa kafir.

Wah 1:4 - “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhtaNya”.

Barnes’ Notes (tentang Wah 1:4): “It is remarkable that there are some passages in pagan inscriptions and writings which bear a very strong resemblance to the language used here by John respecting God. Thus, Plutarch (De Isa. et Osir., p. 354.), speaking of a temple of Isis, at Sais, in Egypt, says, ‘It bore this inscription -- ‘I am all that was, and is, and shall be, and my vail no mortal can remove’’ -- ... . So Orpheus (in Auctor. Lib. de Mundo), ‘Jupiter is the head, Jupiter is the middle, and all things are made by Jupiter.’ So in Pausanias (Phocic. 12), ‘Jupiter was; Jupiter is; Jupiter shall be.’ [= Merupakan sesuatu yang luar biasa bahwa ada beberapa text dalam prasasti-prasasti dan tulisan-tulisan kafir yang mengandung suatu kemiripan yang sangat kuat dengan bahasa / ungkapan yang digunakan oleh Yohanes di sini berkenaan dengan Allah. Sesuai dengan itu, Plutarch (De Isa. et Osir., p 354.), berbicara tentang kuil dari Isis, di Sais, di Mesir, berkata: ‘Itu mengandung tulisan ini - ‘Aku adalah semua yang dahulu ada, dan sekarang ada, dan yang akan datang, dan tidak seorangpun bisa menyingkirkan cadar(?)ku’’ - ... Demikian juga Orpheus (in Auctor. Lib. de Mundo), ‘Yupiter adalah kepala, Yupiter adalah tengah-tengah, dan segala sesuatu dibuat oleh Yupiter’. Demikian juga dalam Pausanias (Phocic. 12), ‘Yupiter ada dahulu; Yupiter ada sekarang; Yupiter akan ada’.] - hal 1543.

5.   Orang kristen berbakti pada hari yang dalam bahasa Inggris disebut ‘Sunday’, yang berasal dari nama dewa. Apakah kita tidak boleh berbakti pada hari itu, karena hari itu menggunakan nama dewa, atau apakah kita sebagai orang-orang kristen harus mengubah nama hari itu? Semua nama hari dalam bahasa Inggris dan juga nama-nama bulan seperti Januari, dan sebagainya, juga berasal dari nama-nama dewa atau dari nama-nama kaisar Romawi yang didewakan. Apakah kita sebagai orang-orang kristen tidak boleh memakai nama-nama bulan itu?

6.   Kebiasaan melakukan ‘toast’ dalam perayaan pernikahan juga berasal dari tradisi kafir dalam penyembahan berhala. Tetapi boleh dikatakan semua orang kristen melakukan ‘toast’ tersebut.

Dalam tafsirannya tentang 1Kor 10:21 Albert Barnes mengatakan:

“The custom of drinking toast at feasts and celebrations arose from this practice of pouring out wine, or drinking in honour of the heathen gods; and is a practice that partakes still of the nature of heathenism. It was one of the abominations of heathenism to suppose that their gods would be pleased with the intoxicating draught. Such a pouring out of a libation was usually accompanied with a prayer to the idol god, that he would accept the offering; that he would be propitious; and that he would grant the desire of the worshipper. From that custom the habit of expressing a sentiment or proposing a toast, uttered in drinking wine, has been derived. The toast or sentiment which now usually accompanies the drinking of a glass in this manner, if it mean anything, is now also a prayer: but to whom? to the god of wine? to a heathen deity? Can it be supposed that it is a prayer offered to the true God - the God of purity? Has Jehovah directed that prayer should be offered to him in such a manner? Can it be acceptable to him? Either the sentiment is unmeaning, or it is a prayer offered to a heathen god, or it is a mock­ing of Jehovah; and in either case it is improper and wicked” (= ).

Memang Albert Barnes menganggap bahwa ‘toast’ itu harus dibuang, tetapi saya tidak yakin akan hal itu. Kalau sekarang kita melakukan ‘toast’, itu sudah tidak lagi berhubungan dengan kekafiran atau dengan dewa-dewa kafir. Itu cuma tinggal tradisi belaka.

7.   Seluruh Kanaan dulunya adalah negeri kafir yang dipenuhi dengan penyembahan berhala. Tetapi Tuhan mengambilnya dan memberikannya kepada bangsa pilihanNya, dan Kanaan lalu menjadi Holy Land, dan Bait Allah dibangun di sana.

8.   Bahasa Yunani juga merupakan bahasa bangsa kafir, tetapi lalu diambil dan digunakan sebagai bahasa asli dari Kitab Suci.

Kesimpulan: karena dunia ini dulunya seluruhnya kafir, adalah mustahil bagi kita untuk menghindari hal-hal yang berasal dari kekafiran. Jadi selama kekafiran itu bisa disaring / dibersihkan, tidak jadi soal dengan hal-hal yang asal usulnya kafir itu.

6)   Adanya hal-hal yang dianggap salah yang menyertai Natal.

a)   Kata ‘Christmas’ itu sendiri.

Kata itu dikatakan berasal dari kata ‘Christ’s Mass’ (= Misa Kristus), dan karena itu orang-orang Protestan yang anti Natal mengatakan bahwa asal usul Natal adalah gabungan dari kekafiran / penyembahan berhala dan Katolik.

Tanggapan saya:

Kalau yang berasal usul dari kafir saja boleh digunakan selama kekafirannya disaring, apalagi yang berasal usul dari Katolik.

Juga kalau hanya persoalan nama, bagi kita yang tinggal di Indonesia gampang saja. Kita pakai saja istilah ‘Natal’, bukan ‘Christmas’. ‘Natal’ berasal dari bahasa Portugis (Encyclopedia Britannica 2000) dan artinya ‘dilahirkan’ atau ‘berkenaan dengan kelahiran’ [Webster’s New World Dictionary (College Edition)].

b)   Pohon Natal.

“Ide untuk menggunakan pohon Natal juga masuk ke Inggris dari kepercayaan orang-orang Eropa sebelum mereka menjadi Kristen. Suku bangsa Celtic dan Teutonic menghormati pohon-pohon ini pada perayaan musim dingin sebagai simbol kehidupan kekal. Pohon ini disembah sebagai janji akan kembalinya sang matahari … Beberapa orang terpelajar mengangkat pohon ini, yang merupakan lambang kehidupan bagi para penyembah berhala, menjadi lambang Juru Selamat dan dengan demikian menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan perayaan hari kelahiranNya”.

Tetapi dari kutipan dari Encyclopedia Britannica 2000 di atas dikatakan:

“The Christmas tree comes from medieval German mystery plays centred in representations of the Tree of Paradise (Genesis 2:9)”.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Christmas tree’:

“an evergreen, usually a balsam or douglas fir, decorated with lights and ornaments as a part of Christmas festivities. The use of evergreen trees, wreaths, and garlands as a symbol of eternal life was an ancient custom of the Egyptians, Chinese, and Hebrews. Tree worship, common among the pagan Europeans, survived after their conversion to Christianity in the Scandinavian customs of decorating the house and barn with evergreens at the New Year to scare away the devil and of setting up a tree for the birds during Christmastime; it survived further in the custom, also observed in Germany, of placing a Yule tree at an entrance or inside the house in the midwinter holidays. The modern Christmas tree, though, originated in western Germany. The main prop of a popular medieval play about Adam and Eve was a fir tree hung with apples (paradise tree) representing the Garden of Eden. The Germans set up a paradise tree in their homes on December 24, the religious feast day of Adam and Eve. They hung wafers on it (symbolizing the host, the Christian sign of redemption); in a later tradition, the wafers were replaced by cookies of various shapes. Candles, too, were often added as the symbol of Christ. In the same room, during the Christmas season, was the Christmas pyramid, a triangular construction of wood, with shelves to hold Christmas figurines, decorated with evergreens, candles, and a star. By the 16th century, the Christmas pyramid and paradise tree had merged, becoming the Christmas tree. The custom was widespread among the German Lutherans by the 18th century, but it was not until the following century that the Christmas tree became a deep-rooted German tradition. Introduced into England in the early 19th century, the Christmas tree was popularized in the mid-19th century by the German Prince Albert, husband of Queen Victoria. The Victorian tree was decorated with candles, candies, and fancy cakes hung from the branches by ribbon and by paper chains. Brought to North America by German settlers as early as the 17th century, Christmas trees were the height of fashion by the 19th century. They were also popular in Austria, Switzerland, Poland, and The Netherlands. In China and Japan, Christmas trees, introduced by western missionaries in the 19th and 20th centuries, were decorated with intricate paper designs”.

Internet: “Tetapi jika Alkitab diam mengenai perayaan Natal, sesungguhnya Alkitab TIDAK DIAM mengenai adat kebiasaan bangsa kafir dalam mendirikan sebuah pohon – adat kebiasaan yang sama YANG TELAH MENJADI POHON NATAL! Hal ini akan mengejutkan banyak orang. Tetapi ini dia: Dengarlah firman yang disampaikan TUHAN kepadamu, hai kaum Israel! Beginilah firman TUHAN: ‘Janganlah biasakan dirimu dengan tingkah langkah bangsa-bangsa, janganlah gentar terhadap tanda-tanda di langit, sekalipun bangsa-bangsa gentar terhadapnya. Sebab yang disegani bangsa-bangsa adalah kesia-siaan. Bukankah berhala itu pohon kayu yang ditebang orang di hutan, yang dikerjakan dengan pahat oleh tangan tukang kayu? Orang memperindahnya dengan emas dan perak; orang memperkuatnya dengan paku dan palu, supaya jangan goyang. Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya …’ (Yer. 10:1-5)”.

“Kita MENGIRA bahwa pohon Natal melambangkan hidup kekal dari Kristus”.

Tanggapan saya:

1.   Penggunaan ayat yang menunjuk kepada berhala dan lalu diarahkan kepada pohon Natal, jelas merupakan suatu pengawuran. Kata-kata ‘adat kebiasaan yang sama’ yang saya garis bawahi, merupakan suatu tuduhan konyol dan bodoh! Disamping itu, siapa yang ‘mengira bahwa pohon Natal melambangkan hidup kekal dari Kristus’? Tuduhan seperti ini bukan hanya bodoh, tetapi juga berbau fitnahan.

2.   Memang ada kemungkinan bahwa asal usul pohon Natal berbau kekafiran. Tetapi Encyclopedia Britannica membedakan pohon Natal kuno dan yang modern. Pohon Natal modern dikatakannya berasal dari Jerman Barat, dan tidak berurusan dengan penyembahan berhala atau kekafiran, tetapi berhubungan dengan pohon di Taman Eden, dan digunakan pada tanggal 24 Desember, yang merupakan hari raya untuk memperingati Adam dan Hawa. Penggunaan pohon yang terus menerus hijau  / tidak terpengaruh oleh musim dingin, seperti cemara, dimaksudkan sebagai simbol dari kehidupan yang kekal. Kalau ini benar, maka pohon Natal modern tidak bersumber pada kekafiran / penyembahan berhala.

3.   Tetapi tetap ada hal-hal yang negatif tentang pohon Natal, yaitu:

·        hiasan Santa Claus. Ini menurut saya harus dibuang.

·        hiasan yang tidak sesuai dengan fakta. Dengan memberikan salju-saljuan, maka itu menunjukkan bahwa seolah-olah Natal terjadi pada musim dingin. Padahal boleh dikatakan tidak mungkin bahwa Natal terjadi pada musim dingin, mengingat bahwa para gembala berada di luar / di padang pada malam hari, pada saat mereka mendapat berita Natal dari malaikat-malaikat. Jadi mungkin hiasan salju-saljuan itu harus dibuang, untuk lebih menyesuaikan dengan fakta. Juga lagu seperti ‘White Christmas’.

·        penekanan yang saya anggap berlebihan terhadap pohon Natal. Mengapa saya katakan berlebihan? Karena bagi banyak orang, pohon Natal menjadi sesuatu yang mutlak harus ada. Kalau tidak ada pohon Natal maka seolah-olah itu bukan Natal. Dengan demikian bagi banyak orang kristen, pohon Natal menjadi hakekat dari Natal, padahal sebetulnya, kalau mau berbicara secara strict, maka Natal sama sekali tidak berurusan dengan pohon Natal.

Apa bahayanya kalau pohon Natal itu menjadi terlalu penting? Semua hal dalam kekristenan yang menjadi terlalu penting, bisa menggeser apa yang seharusnya merupakan hal terpenting dalam Natal, yaitu Yesus Kristus sendiri.

Earl Riney: “The Christmas tree has taken the place of the altar in too much of our modern Christmas observance” (= Pohon Natal telah mengambil tempat di altar dalam terlalu banyak dari perayaan Natal modern kita) - ‘The Encyclopedia of Religious Quotations’, hal 113-114.

Illustrasi: round girl (gadis yang membawa papan penunjuk ronde dalam pertandingan tinju) yang terlalu cantik dan sexy menyebabkan penonton tidak memperhatikan papan bertuliskan ronde ke berapa yang sedang ia bawakan.

Saya tidak mengharuskan untuk membuang pohon Natal secara total; itu rasanya tidak mungkin. Tetapi setidaknya kita harus mengurangi penekanan yang berlebihan pada pohon Natal ini, supaya jangan pohon Natal, yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan Natal, mengaburkan / menggeser fokus yang sebenarnya dari Natal.

c)   Sinterklaas / Santa Claus.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Santa Claus’:

“legendary figure who is the traditional patron of Christmas in the United States and other countries. His popular image is based on traditions associated with a 4th-century Christian saint. See Nicholas, Saint.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Nicholas, Saint’:

Nicholas’ existence is not attested by any historical document, so nothing certain is known of his life except that he was probably bishop of Myra in the 4th century. According to tradition, he was born in the ancient Lycian seaport city of Patara, and, when young, he traveled to Palestine and Egypt. He became bishop of Myra soon after returning to Lycia. He was imprisoned during the Roman emperor Diocletian’s persecution of Christians but was released under the rule of Emperor Constantine the Great and attended the first Council (325) of Nicaea. After his death he was buried in his church at Myra, and by the 6th century his shrine there had become well known. In 1087 Italian sailors or merchants stole his alleged remains from Myra and took them to Bari, Italy; this removal greatly increased the saint’s popularity in Europe, and Bari became one of the most crowded of all pilgrimage centres. Nicholas’ relics remain enshrined in the 11th-century basilica of San Nicola, Bari. Nicholas’ reputation for generosity and kindness gave rise to legends of miracles he performed for the poor and unhappy. He was reputed to have given marriage dowries of gold to three girls whom poverty would otherwise have forced into lives of prostitution, and he restored to life three children who had been chopped up by a butcher and put in a brine tub. In the Middle Ages, devotion to Nicholas extended to all parts of Europe. He became the patron saint of Russia and Greece; of charitable fraternities and guilds; of children, sailors, unmarried girls, merchants, and pawnbrokers; and of such cities as Fribourg, Switz., and Moscow. Thousands of European churches were dedicated to him, one as early as the 6th century, built by the Roman emperor Justinian I, at Constantinople (now Istanbul). Nicholas’ miracles were a favourite subject for medieval artists and liturgical plays, and his traditional feast day was the occasion for the ceremonies of the Boy Bishop, a widespread European custom in which a boy was elected bishop and reigned until Holy Innocents’ Day (December 28). After the Reformation, Nicholas’ cult disappeared in all the Protestant countries of Europe except Holland, where his legend persisted as Sinterklaas (a Dutch variant of the name Saint Nicholas). Dutch colonists took this tradition with them to New Amsterdam (now New York City) in the American colonies in the 17th century. Sinterklaas was adopted by the country’s English-speaking majority under the name Santa Claus, and his legend of a kindly old man was united with old Nordic folktales of a magician who punished naughty children and rewarded good children with presents. The resulting image of Santa Claus in the United States crystallized in the 19th century, and he has ever since remained the patron of the gift-giving festival of Christmas. Under various guises Saint Nicholas was transformed into a similar benevolent, gift-giving figure in The Netherlands, Belgium, and other northern European countries. In the United Kingdom Santa Claus is known as Father Christmas.

Dari kata-kata Encyclopedia Britannica 2000 ini bisa didapatkan bahwa Santa Claus berasal dari St. Nicholas, yang keberadaannya tidak dibuktikan oleh dokumen sejarah manapun. Jadi tidak ada yang pasti yang diketahui tentang hidupnya. Yang diketahui tentang dia berasal dari tradisi. Mungkin ia menjadi uskup di kota Myra pada abad ke 4. Ia dipenjara pada masa pemerintahan kaisar Diocletian, tetapi lalu dibebaskan pada masa pemerintahan kaisar Konstantine yang Agung, dan menghadiri Sidang Gereja Nicea (tahun 325 M.). Setelah kematiannya ia dikuburkan di Myra, dan pada tahun 1087 seseorang mencuri jenazahnya dan membawanya ke Bari, Italia. Ini menjadikan dia populer di Eropah dan Bari menjadi tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang berziarah. Reputasi Nicholas berkenaan dengan kedermawanan dan kebaikannya menyebabkan munculnya dongeng-dongeng berkenaan dengan mujijat-mujijat yang dilakukannya terhadap orang-orang yang miskin / tidak bahagia, bahkan mujijat kebangkitan orang mati. Di Belanda, variasi dari Santa Claus ini adalah Sinterklaas.

Dari semua ini kita bisa melihat bahwa ini jelas-jelas merupakan sesuatu yang salah, karena bukan hanya tidak ada urusannya sama sekali dengan Natal, tetapi bahkan bersifat dusta / takhyul. Karena itu Santa Claus / Sinterklaas, baik gambarnya, patungnya, beserta lagu-lagunya, harus disingkirkan.

d)   Pesta pora dan tukar hadiah.

Internet: “engkau berkata, bukankah saling tukar hadiah itu Alkitabiah? Jawabnya adalah TIDAK! Dari Biblioteca Sacra, edisi 12, hal 153-155, kita baca, Saling tukar hadiah di antara kawan-kawan menjadi karakteristik yang sama antara perayaan Natal dan Saturnalia, dan diadopsi oleh orang-orang Kristen dari penyembahan berhala, sebagaimana yang ditunjukkan dengan jelas oleh Tertullian. Faktanya adalah bahwa saling tukar hadiah dengan kawan-kawan dan tetangga dan famili pada hari Natal adalah tidak ada nilai Kekristenannya sama sekali! Perbuatan ini TIDAK berhubungan dengan kelahiran Kristus ataupun menghormati Dia. Sikap pilih kasih yang sering dilakukan dalam memberi menjadi tanda lainnya yang menunjukkan bahwa saling tukar hadiah tidak sejalan dengan firman Allah. Kami tidak anti terhadap semangat memberi, tetapi mengapa harus menunggu sampai dengan bulan Desember, jika waktu-waktu lainnya dalam tahun itu akan lebih berguna? Juga cara dalam hal memberi sering menunjukkan ketidaktulusan. Banyak dari mereka yang memberi berharap untuk mendapatkan balasan. Ini sama sekali terpisah dari Roh Allah dan mereka telah mendapat upahnya! Coba perhatikan ini: miliaran dollar harus dikeluarkan untuk hadiah-hadiah setiap tahunnya hanya oleh SATU DOKTRIN YANG SALAH. Pengajaran yang salah ini adalah: Oleh karena orang majus membawa persembahan kepada Yesus, oleh sebab itu kita juga harus memberi. Tetapi apakah pemberian kita kepada Yesus? Kepada pekerjaan-Nya? Tidak. TIDAK. Kita memberi hadiah yang bernilai miliaran dollar kepada satu sama lain. KEBENARANNYA adalah ini: Orang-orang majus membawa persembahannya langsung kepada Yesus, bukan kepada satu sama lain. Dan pemberian mereka bukanlah pemberian sebagai hadiah kelahiran-Nya. Mereka datang kepada-Nya setelah berbulan-bulan kemudian ketika Yesus bukan lagi bayi yang baru lahir di dalam sebuah rumah (bukan kandang) (Matius 2:9,11) di Nazaret, bukan Betlehem, Lukas 2:39. Jika seseorang ingin mengunjungi seorang raja, maka ia harus membawa hadiah. Itulah kebiasaan yang umum di negeri Timur jauh. Orang-orang majus ini tidak memberikan HADIAH KELAHIRAN kepada Yesus! Mereka merindukan datangnya RAJA YAHUDI dan mereka membawa persembahan kepada-Nya oleh karena Ia dulu, sekarang dan besok tetap RAJA! Beberapa orang mengatakan bahwa Semangat Natal dan pemberian hadiah merupakan suatu hal yang baik. Tetapi sesungguhnya itu merupakan ADAT KEBIASAAN YANG KEJI. Setiap tahun orang-orang Kristen menghabiskan tabungan mereka untuk hadiah-hadiah Natal yang tidak bermanfaat. Banyak dari mereka yang jatuh dalam hutang dan menjalani hidup tahun berikutnya dengan membayar hutang untuk hadiah yang telah mereka beli sebagai balasan dari hadiah yang mereka terima. Saling tukar hadiah satu sama lain sama sekali tidak merayakan hari kelahiran-Nya ataupun menghormati-Nya. Sebaliknya, Natal adalah KEJIJIKAN bagi Tuhan Yesus. Natal adalah kejijikan bagi pekerjaan Tuhan dan umat Tuhan. Miliaran dollar digunakan untuk pernik-pernik dan barang-barang yang tidak penting. Sejumlah uang milik Tuhan digunakan untuk hal-hal yang bodoh, pesta pora dengan makanan-makanan yang lezat, memenuhi nafsu serakahnya. Sebagai akibatnya mereka menderita berbagai macam penyakit oleh karena kerakusannya. Semua ini merupakan kekejian bagi Tuhan dan sama sekali TIDAK BERHUBUNGAN dengan kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus. Natal merupakan saat yang penuh dengan kedagingan pada tingkat yang tinggi, sementara nilai kerohaniannya rendah. Kita tahu bahwa orang-orang yang BELUM DISELAMATKAN tidak menyembah Yesus. Tetapi mereka SUNGGUH-SUNGGUH MENIKMATI NATAL! Mengapa? Oleh karena perhiasan-perhiasannya, pesta-pestanya, hadiah-hadiahnya, dsb. semua yang berkaitan dengan dagingnya. INILAH ROH NATAL yang telah mencengkeram seluruh dunia. Apakah itu Roh Tuhan? Bukan! INILAH SAATNYA bagi mereka yang hendak menjadi ANAK-ANAK ALLAH untuk meninggalkan semua sampah semacam itu.”.

Tanggapan saya:

1.   Ini kata-kata dari orang yang memang sudah antipati / berprasangka, dan selalu menyoroti sudut negatifnya, dan mempunyai pikiran cupet / tidak berpikiran panjang. Memang bisa ada ketidak-tulusan, berharap mendapat balasan, dan sebagainya. Tetapi apakah semua seperti itu? Kalau hanya sebagian, bahkan hanya sebagian kecil yang seperti itu, haruskah semuanya dibuang? Dalam memberi persembahan kepada Tuhan, bukankah juga banyak orang yang tidak tulus, yang mengharapkan balasan berlipat ganda dsb? Jadi, apakah acara persembahan dalam gereja harus dihapuskan? Dalam segala hal yang dilakukan terhadap Tuhan, seperti berbakti, berdoa, melayani, dsb, selalu bisa ada motivasi yang salah. Ini tidak menyebabkan semua itu harus dibuang.

2.   Tentang adanya orang kristen yang dikatakan menghabiskan uang tabungannya, sampai berhutang dsb, menurut saya ini suatu penggambaran berlebihan (exaggeration), yang berbau fitnahan. Itu mungkin terjadi pada orang-orang Islam yang merayakan Idul Fitri, tetapi tidak pada diri orang kristen yang merayakan Natal  atau memberi hadiah pada Natal. Dan kalau memang ada orang kristen seperti itu, dia sendiri yang bodoh. Haruskah karena kebodohan satu atau dua orang dalam merayakan Natal kita membuang seluruh Natal?

3.   Tukar hadiah, sekalipun memang tidak boleh dijadikan suatu keharusan, bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mengakrabkan.

4.   Tentang asal usul tukar hadiah, penulis di internet di atas bertentangan dengan dirinya sendiri. Mula-mula ia mengatakan itu berasal dari perayaan Saturnalia, lalu ia mengatakan bahwa itu berasal dari pemberian orang-orang Majus kepada Kristus. Yang mana yang benar? Jelas bahwa orang bodoh ini tidak mengerti apa yang ia sendiri katakan. Dan jelas bahwa asal usul dari tukar menukar hadiah itu, tidak bisa dipastikan.

Di bawah akan kita lihat bahwa Edersheim mengatakan bahwa orang-orang Yahudi juga melakukan tukar hadiah pada perayaan Purim. Apakah tidak mungkin bahwa ini asal usulnya?

5.   Pesta dan makan tidak salah selama tidak berlebihan dan tidak disertai hal-hal yang amoral / bertentangan dengan Kitab Suci. Yesus sendiri datang ke pesta pernikahan (Yoh 2:1-11).

e)   Kesibukan, tenaga dan uang yang dikeluarkan.

Internet: “Menimbang banyaknya kesibukan yang harus dilakukan, dan waktu, tenaga dan uang yang harus dikeluarkan, hanya untuk menikmati perayaan ini, maka adalah PEMIKIRAN YANG BIJAKSANA jika kita mau berpegang pada firman Allah”.

Jawaban saya:

Orang bodoh ini menganggap Natal tidak berguna, sehingga lalu menganggap semua kesibukan, tenaga, uang, pikiran yang dikeluarkan untuk Natal sebagai sia-sia. Tetapi kalau ia mau membuka matanya yang buta itu sedikit saja, maka ia bisa melihat bahwa pada Natal kita bisa memberitakan Injil, mengembalikan kasih yang semula, mengaingat kembali cinta Tuhan bagi kita, mempererat persekutuan dengan sesama saudara seiman, dan seharusnya ia bisa melihat bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang sia-sia.

f)    Kartu Natal.

Dalam persoalan mengirim kartu Natal, ini juga bisa menjadi suatu pemborosan uang. Saya sering ‘memarahi’ jemaat saya yang melakukan pemborosan uang dengan mengirim kartu Natal kepada saya, padahal mereka bertemu dengan saya dalam kebaktian. Mengapa tidak memberi selamat Natal dengan tangan saja, yang biayanya gratis? Tetapi pada saat yang sama saya tidak anti secara mutlak terhadap pengiriman kartu Natal, karena pengiriman kartu Natal itu bisa menjadi sarana penginjilan kalau kita memilih kartu yang kata-katanya bersifat penginjilan, atau kalau kita menuliskan ayat-ayat yang injili pada kartu Natal tersebut.

Juga sekarang, dengan adanya handphone dan SMS, maka ucapan selamat Natal bisa dilakukan melalui SMS dengan lebih cepat dan lebih murah.

g)   Mistletoe.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Mistletoe’:

“any of many species of semiparasitic green plants of the families Loranthaceae and Viscaceae, especially those of the genera Viscum, Phoradendron, and Arceuthobium, all members of the Viscaceae. Viscum album, the traditional mistletoe of literature and Christmas celebrations, is distributed throughout Eurasia from Great Britain to northern Asia. Its North American counterpart is Phoradendron serotinum. Species of the genus Arceuthobium, parasitic primarily on coniferous trees, are known by the name dwarf mistletoe. The legendary mistletoe was known for centuries before the Christian era. It forms a drooping yellowish evergreen bush, 0.6 to 0.9 m (about 2 to 3 feet) long, on the branch of a host tree. It has thickly crowded, forking branches with oval to lance-shaped, leathery leaves about 5 cm (2 inches) long, arranged in pairs, each opposite the other on the branch. The flowers, in compact spikes, are bisexual, unisexual, or regular. They are yellower than the leaves and appear in the late winter and soon give rise to one-seeded, white berries, which when ripe are filled with a sticky, semitransparent pulp. These berries, and those of other mistletoes, contain toxic compounds poisonous to animals and to humans. Most tropical mistletoes are pollinated by birds, most temperate species by flies and wind. Fruit-eating birds distribute the seeds in their droppings or by wiping their beaks, to which the seeds often adhere, against the bark of a tree. After germination a modified root (haustorium) penetrates the bark of the host tree and forms a connection through which water and nutrients pass from host to parasite. Mistletoes contain chlorophyll and can make some of their own food. Most mistletoes parasitize a variety of hosts, and some species even parasitize other mistletoes, which, in turn, are parasitic on a host. The Eurasian Viscum album is most abundant on apple trees, poplars, willows, lindens, and hawthorns. Species of Phoradendron in America also parasitize many deciduous trees, including oaks. In some parts of Europe the midsummer gathering of mistletoe is still associated with the burning of bonfires, a remnant of sacrificial ceremonies performed by ancient priests, or druids. Mistletoe was once believed to have magic powers as well as medicinal properties. Later, the custom developed in England (and, still later, the United States) of kissing under the mistletoe, an action that once was believed to lead inevitably to marriage. Mistletoes are slow-growing but persistent; their natural death is determined by the death of the hosts. They are pests of many ornamental, timber, and crop trees and are the cause of abnormal growths called ‘witches’ brooms’ that deform the branches and decrease the reproductive ability of the host. The only effective control measure is complete removal of the parasite from the host”.

Bagian yang saya garis bawahi itu menyatakan bahwa tanaman mistletoe itu dulu dipercaya mempunyai kekuatan magic, dan bisa berfungsi sebagai obat. Belakangan berkembang suatu tradisi di Inggris, yang lalu diikuti di Amerika, berkenaan dengan tanaman mistletoe ini, yaitu: dalam suatu perayaan Natal, tanaman mistletoe ini dijadikan hiasan yang biasanya diletakkan di langit-langit rumah. Kalau ada orang yang berdiri di bawah tanaman itu, maka siapapun boleh mencium orang itu.

Tradisi ini boleh dikatakan tidak ada di Indonesia, dan juga tidak terlalu penting.

Jelas bahwa perayaan Natal memang sering dicampur aduk dengan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Natal, dan bahkan dengan hal-hal yang bertentangan dengan Kitab Suci, seperti pesta pora, mabuk-mabukan, dan khususnya Sinterklaas / Santa Claus dan lagu-lagu tentangnya, yang paling saya benci, karena merupakan suatu dusta. Hal-hal ini memang harus dibuang dari perayaan Natal. Tetapi bahwa ada orang-orang tertentu yang merayakan Natal dengan menggunakan hal-hal ini, tidak berarti bahwa kita harus membuang seluruh Natal. Sama saja kalau ada orang menggunakan mobil untuk merampok, itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh menggunakan mobil. Juga kalau ada sebagian orang kristen berbakti dengan cara yang salah, itu tidak berarti bahwa semua kebaktian harus dibuang.

Jadi, saya berpendapat perayaan Natal bukannya harus dibuang tetapi harus dimurnikan / dibersihkan. Saudara mungkin berkata bahwa tidak mungkin kita bisa memurnikan Natal. Maka saya jawab bahwa gereja juga banyak mengandung kebobrokan, dan harus dimurnikan. Apakah mungkin memurnikan gereja? Jelas tidak mungkin, tetapi kita toh tidak ragu-ragu untuk mempertahankan keberadaan gereja.

7)   Tidak ada perintah untuk merayakan hari kelahiran Kristus.

Rasul-rasul dan orang-orang kristen abad pertama tidak merayakan Natal; tidak ada Natal pada waktu itu.

Internet: “TIDAK ADA SATUPUN FIRMAN ALLAH ATAUPUN DENGAN PENYATAAN DI MANA ALLAH MEMERINTAHKAN KEPADA KITA UNTUK MEMPERINGATI KELAHIRAN TUHAN KITA. Tidak ada satu katapun di seluruh Perjanjian Baru, maupun di seluruh Alkitab, yang mengatakan agar supaya kita merayakan Natal. Orang-orang Kristen pada abad pertama, di bawah pengajaran Petrus, Paulus dan rasul-rasul lain, tidak pernah merayakan Natal. Paulus tidak pernah merayakan Natal. Petrus tidak pernah merayakan Natal. Yohanes tidak pernah merayakan Natal. Sesungguhnya – TIDAK ADA NATAL – pada waktu itu! Tidak ada OTORITAS untuk merayakannya”.

Tambahan serangan: dengan menggunakan Mat 15:8-9 - “(8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.

Internet: “Yesus berbicara tentang praktek-praktek kedagingan ini ketika Ia berkata, Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang diajarkan ialah perintah manusia.

Inilah sebuah kebenaran yang sederhana: apapun yang engkau lakukan guna MENGAGUNGKAN ALLAH – di mana Allah TIDAK PERNAH MEMERINTAHKANNYA atau BERADA DI DALAMNYA – maka penyembahanmu itu terhadap Allah adalah SIA-SIA! Semuanya TIDAK BERARTI!”.

"Then came to Jesus scribes and Pharisees, which were of Jerusalem, saying, Why do thy disciples transgress the tradition of the elders? for they wash not their hands when they eat bread. But he answered and said unto them, Why do ye also transgress the commandment of God by your tradition?" (Matt. 15:1-3).

The Pharisees were the respected religious leaders of the Jewish people. They believed that they had the liberty to add to the commandments of God. The law of God did contain various ceremonial washings to signify the unclean becoming clean. The Pharisees simply added other washings to emphasize and "perfect" the law of Moses. There is no express commandment forbidding these ceremonial additions, except the regulative principle (e.g., Deut. 4:2; 12:31). These additions have no warrant from the Word of God.

Jesus Christ is the champion of the regulative principle. He strongly rebuked the scribes and Pharisees for adding to God's law. What happens when sinful men add rules and regulations to God's law? Eventually man-made tradition replaces or sets aside God's law. "Thus have ye made the commandment of God of none effect by your tradition" (Matt. 15:6). The ancient Christian church added its own rules and ceremonies to the worship of God and degenerated into the pagan and idolatrous Roman Catholic Church. If we do not draw the line regarding worship where God draws the line, then, as history proves, the church will eventually degenerate into little better than a bizarre pagan cult. Christ's rebuke to the scribes and Pharisees applies today to practically every (so called) branch of the Christian church. "This people draweth nigh unto me with their mouth, and honoureth me with their lips; but their heart is far from me. But in vain they do worship me, teaching for doctrines the commandments of men" (Matt. 15:8-9).

Tambahan serangan lagi: dengan menggunakan Im 10:1-2 - “(1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. (2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN”.

"And Nadab and Abihu, the sons of Aaron, took either of them his censer, and put fire therein, and put incense thereon, and offered strange fire before the LORD, which he commanded them not. And there went out fire from the LORD, and devoured them, and they died before the Lord" (Lev. 10:1,2).

"What was their sin? Their sin was offering of strange fire, so the text saith that they offered strange fire, which God commanded them not. . . . But had God ever forbidden it? Where do we find that ever God had forbidden them to offer strange fire, or appointed that they should offer only one kind of fire? There is no text of Scripture that you can find from the beginning of Genesis to this place, where God hath said in terminus, in so many words expressly, You shall offer no fire but one kind of fire. And yet here they are consumed by fire from God, for offering 'strange fire.' " 7

Those who reject God's regulative principle of worship have a real problem explaining this text. Some argue that Nadab and Abihu were condemned because they offered strange incense, for offering strange incense is expressly condemned in Exodus 30:9. But the text does not say "strange incense", it says "strange fire". Others argue that they must have been insincere or drunk. But what does the Holy Spirit give us as the reason for their judgment? They offered strange fire "which he commanded them not." When it comes to worshipping God, there must be a warrant out of God's Word. "All things in God's worship must have a warrant out of God's word, [and] must be commanded. It's not enough that it is not forbidden. . . . Now when man shall put a Religious respect upon a thing, by vertue [sic] of his own Institution when he hath not a warrant from God; Here's superstition! we must all be willing worshipers, but not Wil-worshipers [sic]."8

Jawaban saya:

a)   Memang Kitab Suci tidak pernah memerintahkan untuk merayakan Natal, tetapi jangan lupa bahwa Kitab Suci juga tidak pernah melarang untuk merayakan Natal. Orang kristen merayakan Natal memang merupakan tradisi, dan saya berpendapat bahwa tradisi tidak salah:

1.   Selama tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

2.   Tradisi itu tidak kita paksakan / haruskan kepada orang-orang lain.

Dalam gereja ada banyak hal-hal yang tidak diperintahkan, dan hanya bersifat tradisi, misalnya:

·        penggunaan 12 Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami dalam banyak gereja-gereja Protestan.

·        pendeta memakai toga, paduan suara juga demikian.

·        adanya salib di gereja. Siapa yang menyuruh memasang tanda salib itu? Memang ada orang-orang yang melarang adanya salib di gereja, tetapi mereka juga tidak mempunyai dasar untuk melarang, selama salib itu tidak disembah.

·        adanya pengedaran kantong kolekte; siapa yang memerintahkan praktek ini? Dalam Bait Allah, tidak ada hal seperti itu, karena mereka menggunakan peti persembahan, dan orang yang mau mempersembahkan, mempersembahkan ke dalam peti tersebut (Luk 21:2).

·        doa dengan tutup mata, tunduk kepala dan sebagainya.

·        sakramen dan pemberkatan pernikahan hanya boleh dilayani oleh pendeta.

·        upacara pemberkatan nikah di gereja.

·        adanya kebaktian tutup peti, penghiburan, dan penguburan.

Semua ini tidak pernah diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang, dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Saya berpendapat perayaan Natal, dan hari-hari raya Kristen yang lain juga demikian.

b)   Rasul-rasul juga tidak mempunyai gedung gereja, dan kita juga tidak pernah diperintahkan untuk membangun gedung gereja. Jadi, apakah adanya gedung gereja merupakan sesuatu yang salah?

c)   Ini bisa diextrimkan, misalnya dengan mengatakan: Tuhan juga tidak pernah menyuruh kita mandi, dan karena itu orang kristen tidak boleh mandi! Atau ‘makan menggunakan sendok garpu / sumpit’, ‘pakai sepatu’ ke gereja, menggunakan piano / organ / band di gereja, dan sebagainya.

d)   Pembahasan tentang Mat 15:8-9.

Ini juga penafsiran yang out of context. Akan berbeda artinya kalau dibaca seluruhnya yaitu Mat 15:1-20. Yesus menyerang orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu karena:

1.   Mereka menjadikan tradisi sebagai suatu keharusan.

Mat 15:1-2 - “(1) Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2) ‘Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat (NIV: ‘tradition’) nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’”.

Pertama-tama perlu saudara ketahui bahwa apa yang dipersoalkan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini sama sekali tidak berurusan dengan kesehatan, tetapi semata-mata merupakan persoalan yang bersifat upacara. Cuci tangannyapun tidak sembarangan, tetapi harus dengan cara tertentu. Ini tidak pernah diperintahkan dalam Kitab Suci, tetapi hanya merupakan tradisi mereka, tetapi hal yang hanya merupakan tradisi ini lalu dijadikan suatu keharusan.

William Barclay: “to the orthodox Jew all this ritual ceremony was religion; this is what they believed, God demanded. To do these things was to please God, and to be a good man. To put it in another way, all this business of ritual washing was regarded as just as important and just as binding as the Ten Commandments themselves” (= bagi orang-orang Yahudi yang orthodox semua upacara ini adalah agama; ini adalah apa yang mereka percaya sebagai tuntutan Allah. Melakukan hal-hal ini berarti menyenangkan Allah, dan menjadi seorang yang baik. Dengan kata lain, semua urusan pembasuhan yang bersifat upacara ini dianggap sama penting dan sama mengikatnya seperti sepuluh Hukum Tuhan sendiri) - hal 115.

Kalau apa yang sebetulnya bukan merupakan keharusan lalu dijadikan sebagai keharusan, itu sama dengan menambahi Firman Tuhan. Dan itulah yang dilakukan oleh orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu. Firman Tuhan tidak pernah menyuruh orang yang mau makan untuk membasuh tangan lebih dulu. Jadi semua itu hanya tradisi, tetapi pada waktu para murid Yesus tidak melakukan hal itu, mereka menuduh para murid sebagai telah berdosa.

2.   Mereka menggunakan tradisi yang bertentangan dengan Firman Tuhan.

Ini secara implicit terlihat dari kata-kata Yesus dalam ay 11,17-20 - “(11) ‘Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.’ ... (17) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? (18) Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. (19) Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. (20) Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.’”.

Dari kata-kata yang saya garis bawahi itu terlihat bahwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengajarkan bahwa makan dengan tangan yang tidak dibasuh itu menajiskan seseorang, dan Yesus mengcounter ajaran tersebut, dan mengatakan sebaliknya.

3.   Mereka mengutamakan tradisi sedemikian rupa sehingga menggeser Firman Tuhan.

Mat 15:3-6 - “(3) Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? (4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.

Karena itulah maka Yesus lalu menegur mereka dengan keras, dan mengucapkan Mat 15:7-9 - “(7) Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: (8) Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. (9) Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.’”.

Sekarang, cocokkah kalau text seperti ini diterapkan kepada orang-orang kristen yang merayakan Natal? Selama kita tidak menjadikan perayaan Natal itu sebagai suatu keharusan, maka saya berpendapat bahwa text ini tidak bisa dipakai untuk menyerang kita.

e)   Pembahasan tentang Nadab dan Abihu dengan ‘api asing’ mereka.

Penulis di internet itu mengatakan bahwa Nadab dan Abihu dihukum mati karena mereka memberikan api asing, dan dengan demikian mereka melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan. Memang dalam Im 10:1b ada kata-kata ‘yang tidak diperintahkanNya’. Tetapi mari kita membahas kontext itu beserta dengan kontext-kontext lain yang berhubungan, untuk melihat apakah Nadab dan Abihu sekedar melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan, atau mereka melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan!

Im 10:1-7 - “(1) Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka. (2) Maka keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan TUHAN. (3) Berkatalah Musa kepada Harun: ‘Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepadaKu Kunyatakan kekudusanKu, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaanKu.’ Dan Harun berdiam diri. (4) Kemudian Musa memanggil Misael dan Elsafan, anak-anak Uziel, paman Harun, lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘Datang ke mari, angkatlah saudara-saudaramu ini dari depan tempat kudus ke luar perkemahan.’ (5) Mereka datang, dan mengangkat mayat keduanya, masih berpakaian kemeja, ke luar perkemahan, seperti yang dikatakan Musa. (6) Kemudian berkatalah Musa kepada Harun dan kepada Eleazar dan Itamar, anak-anak Harun: ‘Janganlah kamu berkabung dan janganlah kamu berdukacita, supaya jangan kamu mati dan jangan TUHAN memurkai segenap umat ini, tetapi saudara-saudaramu, yaitu seluruh bangsa Israel, merekalah yang harus menangis karena api yang dinyalakan TUHAN itu. (7) Janganlah kamu pergi dari depan pintu Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati, karena minyak urapan TUHAN ada di atasmu.’ Mereka melakukan sesuai dengan perkataan Musa”.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa dosa Nadab dan Abihu dalam menggunakan api asing ini, dilakukan persis setelah ayat terakhir dalam Im 9, yaitu Im 9:24 yang menunjukkan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan api yang harus digunakan.

Im 9:24 - “Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak di atas mezbah. Tatkala seluruh bangsa itu melihatnya, bersorak-sorailah mereka, lalu sujud menyembah”.

Dan Tuhan memerintahkan supaya api yang telah Ia berikan itu dijaga supaya jangan sampai mati.

Im 6:9-13 - “(9) ‘Perintahkanlah kepada Harun dan anak-anaknya: Inilah hukum tentang korban bakaran. Korban bakaran itu haruslah tinggal di atas perapian di atas mezbah semalam-malaman sampai pagi, dan api mezbah haruslah dipelihara menyala di atasnya. (10) Imam haruslah mengenakan pakaian lenannya, dan mengenakan celana lenan untuk menutup auratnya. Lalu ia harus mengangkat abu yang ada di atas mezbah sesudah korban bakaran habis dimakan api, dan haruslah ia membuangnya di samping mezbah. (11) Kemudian haruslah ia menanggalkan pakaiannya dan mengenakan pakaian lain, lalu membawa abu itu ke luar perkemahan ke suatu tempat yang tahir. (12) Api yang di atas mezbah itu harus dijaga supaya terus menyala, jangan dibiarkan padam. Tiap-tiap pagi imam harus menaruh kayu di atas mezbah, mengatur korban bakaran di atasnya dan membakar segala lemak korban keselamatan di sana. (13) Harus dijaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, janganlah dibiarkan padam.’”.

Adam Clarke tentang Im 9:24: “This celestial fire was carefully preserved among the Israelites till the time of Solomon, when it was renewed, and continued among them till the Babylonish captivity” (= Api dari surga itu harus dipelihara dengan seksama di antara bangsa Israel sampai jaman Salomo, dimana itu diperbaharui, dan dilanjutkan di antara mereka sampai pembuangan Babilonia) - hal 536.

Pulpit Commentary tentang Im 6: “The altar fire was never to go out, because the daily sacrifices constantly burning on the altar symbolized the unceasing worship of God by Israel, and the gracious acceptance of Israel by God” (= Api mezbah tidak pernah padam, karena korban-korban harian secara terus menerus menyala pada mezbah menyimbolkan ibadah yang tak henti-hentinya kepada Allah oleh Israel, dan penerimaan yang murah hati terhadap Israel oleh Allah) - hal 90.

Calvin tentang Im 6: The intent of this perpetuity was, that the offerings should be burnt with heavenly fire; for on the day that Aaron was consecrated, the sacrifice was reduced to ashes not by human means but miraculously, in token of approbation. True that God did not choose daily to exert this power; but He interposed the hand and labour of men in such a manner that the origin of the sacred fire should still be from heaven (= Tujuan dari keabadian ini adalah supaya persembahan / korban dibakar dari api surgawi; karena pada hari Harun ditahbiskan, korban dibakar menjadi abu bukan dengan cara manusiawi tetapi secara mujijat, sebagai tanda penerimaan. Memang benar bahwa Allah tidak memilih untuk menggunakan kuasa ini setiap hari; tetapi Ia meletakkan di tengah-tengahnya tangan dan pekerjaan dari orang-orang dengan cara sedemikian rupa sehingga asal usul dari api yang keramat itu tetap dari surga) - hal 364.

Calvin tentang Im 6: in order to prevent any adulterations, He chose to have the fire continually burning on the altar day and night, nor was it allowable to take it from elsewhere (= untuk mencegah percampuran apapun, Ia memilih untuk memerintahkan supaya api itu secara terus menerus menyala di mezbah siang dan malam, juga tidak diijinkan untuk mengambilnya dari tempat lain) - hal 364.

Calvin tentang Im 6: “the purpose of God in rejecting strange fire was to retain the people in His own genuine ordinance prescribed by the Law, lest any inventions of men should insinuate themselves; for the prohibition of strange fire was tantamount to forbidding men to introduce anything of their own, or to add to the pure doctrine of the Law, or to decline from its rule” (= tujuan dari Allah dalam menolak api asing adalah untuk mempertahankan umatNya dalam peraturan / upacaraNya sendiri yang murni yang ditentukan oleh hukum Taurat, supaya jangan penemuan manusia memasukkan dirinya sendiri; karena larangan api asing sama dengan melarang orang untuk memperkenalkan apapun dari diri mereka sendiri, atau untuk menambahkan kepada ajaran hukum Taurat yang murni, atau untuk mundur dari peraturannya) - hal 365.

Jadi, pada waktu Nadab dan Abihu tidak menggunakan api yang Tuhan berikan itu, tetapi menggunakan api asing / api dari sumber lain, apakah mereka sekedar melakukan apa yang tidak diperintahkan oleh Tuhan? Perhatikan komentar dari para penafsir di bawah ini:

Adam Clarke tentang Im 10: “In the preceding chapter we have seen how ... he sent his own fire ... Here we find Aaron’s sons neglecting the Divine ordinance, and offering incense with strange, that is, common fire, - fire not of a celestial origin” (= Dalam pasal sebelumnya kita telah melihat bagaimana ... Ia mengirim apiNya sendiri ... Di sini kita mendapati bahwa anak-anak Harun mengabaikan peraturan Ilahi, dan mempersembahkan ukupan / kemenyan dengan api asing, yaitu api biasa, - api yang bukan berasal dari surga) - hal 537.

Pulpit Commentary tentang Im 10: “They had acted presumptuously. ... they had irreverently broken the custom, which rested upon a Divine command, of taking the fire for the altar of incense from the altar of burnt sacrifice alone. ... this offence was the transgression of a positive rather than of a moral precept, ... They ... had, with whatever good intentions, done what God had not commended, and in doing it had done what he had forbidden (= Mereka telah bertindak dengan lancang. ... dengan cara yang tidak hormat mereka merusak kebiasaan, yang didasarkan pada perintah Ilahi, tentang pengambilan api untuk mezbah ukupan dari mezbah korban bakaran saja. ... pelanggaran ini lebih merupakan pelanggaran terhadap suatu peraturan / perintah yang positif dari pada moral, ... Mereka ... dengan maksud baik apapun, telah melakukan apa yang Allah tidak perintahkan, dan dengan melakukannya mereka telah melakukan apa yang Ia larang) - hal 149.

Calvin tentang Im 10: “The ‘strange fire’ is distinguished from the sacred fire which was always burning upon the altar: not miraculously, as some pretend, but by the constant watchfulness of the priests. Now, God had forbidden any other fire to be used in the ordinances, in order to exclude all extraneous rites, and to shew His detestation of whatever might be derived from elsewhere. Let us learn, therefore, so to attend to God’s command as not to corrupt His worship by any strange inventions” (= ‘Api asing’ itu dibedakan dari api yang keramat yang selalu menyala di mezbah: bukan secara mujijat, seperti yang dikira oleh sebagian orang, tetapi oleh suatu penjagaan terus menerus dari para imam. Jadi, Allah telah melarang api yang lain untuk digunakan dalam upacara, supaya membuang semua upacara asing, dan untuk menunjukkan kebencianNya terhadap apapun yang bisa didapatkan dari tempat lain. Karena itu, marilah kita belajar untuk memperhatikan perintah Allah sedemikian rupa sehingga tidak merusak ibadahNya dengan penemuan-penemuan asing) - hal 431-432.

Dari semua pembahasan ini bisa disimpulkan bahwa pada waktu Nadab dan Abihu memberikan ‘api asing’, itu bukan berarti bahwa mereka sekedar melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Tuhan. Tuhan memberikan api secara mujijat, dan mengharuskan memelihara api itu. Secara implicit, Tuhan melarang penggunaan ‘api asing’. Karena itu sekalipun Im 10:1 mengatakan ‘mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkanNya kepada mereka’ tetapi kalau kita membandingkannya dengan text-text lain yang sudah kita lihat di atas, jelas bahwa Nadab dan Abihu tidak bisa dikatakan hanya sebagai ‘melakukan apa yang tidak diperintahkan’ oleh Tuhan, tetapi harus juga dikatakan sebagai ‘melakukan apa yang dilarang’ oleh Tuhan.

Jadi, menggunakan text tentang Nadab dan Abihu untuk menentang perayaan Natal, adalah sangat tidak cocok.

f)    Ada banyak hal yang tidak diperintahkan Tuhan, tetapi toh dilakukan, dan tidak dipersalahkan.

Misalnya:

1.   Orang Israel tidak makan daging yang menutupi sendi pangkal paha.

Kej 32:25,31-32 - “(25) Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. ... (31) Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya. (32) Itulah sebabnya sampai sekarang orang Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha, karena Dia telah memukul sendi pangkal paha Yakub, pada otot pangkal pahanya”.

Barnes’ Notes: “God did not demand this ritual observance in the Mosaic law, but the descendants of Israel of their own accord instituted the practice because they recognized how extremely important this experience of Jacob was for him and for themselves” (= Allah tidak menuntut ketaatan / ibadah yang bersifat upacara ini dalam hukum Musa, tetapi keturunan dari Israel dari persetujuan mereka sendiri mengadakan praktek ini karena mereka menyadari betapa pentingnya pengalaman Yakub ini untuk dirinya dan untuk diri mereka sendiri) - hal 883.

Matthew Poole: “Not from any superstitious conceit about it, but only for a memorial of this admirable conflict, the blessed effects whereof even the future generations received” (= Bukan dari pemikiran yang bersifat takhyul tentangnya, tetapi hanya untuk suatu peringatan tentang konflik yang mengagumkan ini, tentang mana akibat-akibat yang memberkati bahkan diterima oleh generasi-generasi yang akan datang) - hal 76.

2.   Musa mendirikan 12 tugu peringatan tanpa adanya perintah dari Tuhan.

Kel 24:4 - “Lalu Musa menuliskan segala firman TUHAN itu. Keesokan harinya pagi-pagi didirikannyalah mezbah di kaki gunung itu, dengan dua belas tugu sesuai dengan kedua belas suku Israel”.

3.   Anak-anak perempuan Israel mempunyai tradisi untuk meratapi anak perempuan Yefta 4 hari dalam setahun, dan ini juga tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan.

Hak 11:34-40 - “(34) Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. (35) Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: ‘Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.’ (36) Tetapi jawabnya kepadanya: ‘Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.’ (37) Lagi katanya kepada ayahnya: ‘Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.’ (38) Jawab Yefta: ‘Pergilah,’ dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. (39) Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, (40) bahwa dari tahun ke tahun anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu.

4.   Suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye, mendirikan mezbah sebagai saksi / peringatan, tanpa perintah dari Tuhan. Ini menyebabkan sisa Israel yang lain marah dan mau memerangi mereka, karena mengira bahwa 2 ½ suku itu memberontak terhadap Tuhan. Memang sebetulnya 2 ½ suku itu juga mempunyai kesalahan, yaitu karena mereka tidak memberitahu lebih dulu tentang hal itu kepada suku-suku yang lain, sehingga muncul kecurigaan yang memang cukup beralasan. Tetapi setelah mereka menjelaskan apa tujuan mezbah itu, suku-suku yang lain menganggap hal itu baik, dan membatalkan rencana mereka untuk memerangi 2 ½ suku itu.

Yos 22:9-34 - “(9) Maka pulanglah bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu dan mereka pergi meninggalkan orang Israel, keluar dari Silo di tanah Kanaan untuk pergi ke tanah Gilead, tanah milik mereka yang didiami mereka sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa. (10) Ketika mereka sampai ke Gelilot pada sungai Yordan, yang di tanah Kanaan, maka bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu mendirikan mezbah di sana di tepi sungai Yordan, mezbah yang besar bangunannya. (11) Lalu terdengarlah oleh orang Israel itu cakap orang: ‘Telah didirikan mezbah oleh bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, mezbah menghadap ke tanah Kanaan, di Gelilot pada sungai Yordan, di sebelah wilayah orang Israel.’ (12) Ketika hal itu terdengar oleh orang Israel, berkumpullah segenap umat Israel di Silo, untuk maju memerangi mereka. (13) Kemudian orang Israel mengutus kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu, ke tanah Gilead, imam Pinehas bin Eleazar, (14) dan bersama-sama dengan dia sepuluh pemimpin, yakni seorang pemimpin kaum keluarga sebagai wakil tiap-tiap suku Israel. Masing-masing mereka itu kepala kaum keluarganya di antara kaum-kaum orang Israel. (15) Setelah mereka sampai kepada bani Ruben, kepada bani Gad dan kepada suku Manasye yang setengah itu di tanah Gilead, berkatalah mereka kepada orang-orang itu, demikian: (16) ‘Beginilah kata segenap umat TUHAN: Apa macam perbuatanmu yang tidak setia ini terhadap Allah Israel, dengan sekarang berbalik dari pada TUHAN dan mendirikan mezbah bagimu, dengan demikian memberontak terhadap TUHAN pada hari ini? (17) Belum cukupkah bagi kita noda yang di Peor itu, yang dari padanya kita belum mentahirkan diri sampai hari ini dan yang menyebabkan umat TUHAN kena tulah, (18) sehingga kamu berbalik pula sekarang ini membelakangi TUHAN? Jika kamu hari ini memberontak terhadap TUHAN, maka besok Ia akan murka kepada segenap umat Israel. (19) Akan tetapi, jika sekiranya tanah milikmu itu najis, marilah menyeberang ke tanah milik TUHAN, tempat kedudukan Kemah Suci TUHAN, dan menetaplah di tengah-tengah kami. Tetapi janganlah memberontak terhadap TUHAN dan janganlah memberontak terhadap kami, dengan mendirikan mezbah bagimu sendiri, selain dari mezbah TUHAN, Allah kita. (20) Ketika Akhan bin Zerah berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, bukankah segenap umat Israel kena murka? Bukan orang itu saja yang mati karena dosanya.’ (21) Lalu jawab bani Ruben, bani Gad dan suku Manasye yang setengah itu, katanya kepada para kepala kaum-kaum orang Israel: (22) ‘Allah segala allah, TUHAN, Allah segala allah, TUHAN, Dialah yang mengetahui, dan patutlah orang Israel mengetahuinya juga! Jika sekiranya hal ini terjadi dengan maksud memberontak atau dengan maksud berubah setia terhadap TUHAN - biarlah jangan TUHAN selamatkan kami pada hari ini. (23) Jika sekiranya kami mendirikan mezbah untuk berbalik dari pada TUHAN, untuk mempersembahkan korban bakaran dan korban sajian di atasnya serta korban keselamatan di atasnya, biarlah TUHAN sendiri yang menuntut balas terhadap kami. (24) Tetapi sesungguhnya, kami telah melakukannya karena cemas. Sebab pikir kami: Di kemudian hari anak-anak kamu mungkin berkata kepada anak-anak kami, demikian: Apakah sangkut pautmu dengan TUHAN, Allah Israel? (25) Bukankah TUHAN telah menentukan sungai Yordan sebagai batas antara kami dan kamu, hai orang bani Ruben dan bani Gad! Kamu tidak mempunyai bagian akan TUHAN. Demikianlah mungkin anak-anak kamu membuat anak-anak kami berhenti dari pada takut akan TUHAN. (26) Sebab itu kata kami: Biarlah kita mendirikan mezbah itu bagi kita! Bukanlah untuk korban bakaran dan bukanlah untuk korban sembelihan, (27) tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap beribadah kepada TUHAN di hadapanNya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada TUHAN. (28) Lagi kata kami: Apabila di kemudian hari demikian dikatakan mereka kepada kita dan kepada keturunan kita, maka kita akan berkata: Tengoklah bangunan tiruan mezbah TUHAN itu, yang telah dibuat oleh nenek moyang kami. Bukan untuk korban bakaran dan bukan untuk korban sembelihan, tetapi mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu. (29) Jauhlah dari pada kami untuk memberontak terhadap TUHAN, dan untuk berbalik dari pada TUHAN pada hari ini dengan mendirikan mezbah untuk korban bakaran, korban sajian atau korban sembelihan, mezbah yang bukan mezbah TUHAN, Allah kita, yang ada di depan Kemah SuciNya!’ (30) Setelah imam Pinehas dan para pemimpin umat serta para kepala kaum-kaum orang Israel yang bersama-sama dengan dia, mendengar perkataan yang dikatakan oleh bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye itu, maka mereka menganggap hal itu baik. (31) Kemudian berkatalah imam Pinehas bin Eleazar kepada bani Ruben, bani Gad dan bani Manasye: ‘Sekarang tahulah kami bahwa TUHAN ada di tengah-tengah kita, sebab tidaklah kamu berubah setia terhadap TUHAN. Dengan demikian kamu telah melepaskan orang Israel dari hukuman TUHAN.’ (32) Sesudah itu imam Pinehas bin Eleazar serta para pemimpin itu meninggalkan bani Ruben dan bani Gad di tanah Gilead, pulang ke Kanaan kepada orang Israel, lalu disampaikanlah berita itu kepada mereka. (33) Hal itu dipandang baik oleh orang Israel, sehingga orang Israel memuji Allah dan tidak lagi berkata hendak maju memerangi mereka untuk memusnahkan negeri yang didiami bani Ruben dan bani Gad itu. (34) Dan bani Ruben dan bani Gad menamai mezbah itu: Saksi, karena inilah saksi antara kita, bahwa TUHAN itulah Allah.

Kalau ada orang-orang yang anti Natal yang membaca text ini, semoga merekapun berhenti memerangi kita yang pro pada perayaan Natal! Kalau sudah dijelaskanpun mereka tetap ingin ‘memerangi’ kita, itu menunjukkan kebrengsekan mereka, yang tidak mempunyai jiwa persatuan seperti suku-suku lain dalam cerita ini!

5.   Salomo mengadakan perayaan pentahbisan mezbah selama 7 hari; dan sepanjang yang saya ketahui dari Kitab Suci, tidak ada perintah Tuhan untuk hal itu.

2Taw 7:9 - “Pada hari yang kedelapan mereka mengadakan perkumpulan raya, karena mereka telah merayakan pentahbisan mezbah selama tujuh hari, dan perayaan Pondok Daun selama tujuh hari”.

6.   Perayaan hari-hari raya tertentu, seperti Purim, hari raya pentahbisan Bait Suci, dsb.

Alfred Edersheim: “Besides the festivals mentioned in the Law of Moses, other festive seasons were also observed at the time of our Lord, to perpetuate the memory either of great national deliverances or of great national calamities” (= Selain hari-hari raya yang disebutkan dalam hukum Musa, waktu-waktu untuk hari raya yang lain juga dijalankan pada jaman Tuhan kita, untuk mengabadikan ingatan terhadap pembebasan-pembebasan nasional yang besar atau bencana-bencana nasional yang besar) - ‘The Temple’, hal 330.

Alfred Edersheim: “these feasts ... of human, not Divine institution” (= hari-hari raya ini ... merupakan sesuatu yang didirikan oleh manusia, bukan olah Allah) - ‘The Temple’, hal 330,331.

Alfred Edersheim: “Besides the Mosaic festivals, the Jews celebrated at the time of Christ two other feasts - that of Esther, or Purim, and that of the Dedication of the Temple, on its restoration by Judas Maccabee” (= Disamping hari-hari raya dari hukum Musa, orang-orang Yahudi merayakan pada jaman Kristus dua hari raya yang lain - hari raya dari Ester, atau Purim, dan hari raya Pentahbisan Bait Suci, pada pemulihannya oleh Yudas Makabeus) - ‘The Temple’, hal 197.

Merrill C. Tenney: “Two other feasts were added later in post-exilic times: the Feast of Lights and the Feast of Purim. ... The Feast of Lights or the Feast of Dedication was observed for eight days beginning with the twenty-fifth of Kislev. It is mentioned in John 10:22. It was first established in 164 B.C. when Judas Maccabeus cleansed the temple, which had been profaned by Antiochus Epiphanes, and rededicated it to the service of God. Every Jewish home was brilliantly lighted in its honor and the stories of the Maccabees were repeated for the benefit of the children. It corresponds almost exactly in time to the Christian Christmas. ... The Feast of Purim. Purim, or ‘lots,’ as the word signifies, was kept on the fourteenth and fifteenth days of Adar. On the evening of the thirteenth day the whole of the book of Esther was read publicly in the synagogue. It contained a minimum of religious observances and was rather a national holiday, corresponding somewhat to the Fourth of July as Americans used to celebrate it. It is not mentioned in the New Testament, unless John 5:1 is an allusion to it” (= Dua hari raya ditambahkan belakangan pada jaman setelah pembuangan: Hari Raya Terang dan Hari Raya Purim. ... Hari Raya Terang atau Hari Pentahbisan dijalankan / diperhatikan untuk 8 hari mulai bulan Kislev tanggal 25. Itu disebutkan dalam Yoh 10:22. Itu pertama-tama ditetapkan pada tahun 164 S. M. pada saat Yudas Makabeus membersihkan Bait Suci, yang telah dinodai oleh Antiokhus Epiphanes, dan mempersembahkannya kembali bagi pelayanan Allah. Setiap rumah Yahudi diterangi secara gemerlapan untuk menghormatinya dan cerita-cerita tentang Makabeus diulang untuk kepentingan anak-anak. Itu hampir bersamaan dengan Natalnya orang kristen. ... Hari Raya Purim. Purim, atau ‘undi’, seperti arti dari kata itu, dipelihara pada tanggal 14 dan 15 dari bulan Adar. Pada malam hari dari tanggal 13 seluruh kitab Ester dibacakan di depan umum dalam synagogue. Ini mengandung ibadat agama yang minimum dan lebih merupakan hari libur nasional, agak mirip dengan tanggal 4 Juli sebagai orang-orang Amerika merayakannya. Itu tidak disebutkan dalam Perjanjian Baru, kecuali kalau Yoh 5:1 dianggap menunjuk kepada hari itu) - ‘New Testament Survey’, hal 98-99.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Jewish Holidays’:

“Purim (Feast of Lots) and Hanukka (Feast of Dedication), while not mentioned in the Torah (and therefore of lesser solemnity), were instituted by Jewish authorities in the Persian and Greco-Roman periods” [= Purim (Hari Raya Undian) dan Hanukka (Hari Raya Pentahbisan), sementara tidak disebutkan dalam hukum Taurat (dan karena itu mempunyai kekhidmatan yang agak kurang), didirikan oleh otorita-otoritas Yahudi pada jaman Persia dan Romawi-Yunani].

a.   Purim.

Dalam 2Makabe 15:36 disebut hari Mordekhai.

Ester 9:1-32 - “(1) Dalam bulan yang kedua belas - yakni bulan Adar - , pada hari yang ketiga belas, ketika titah serta undang-undang raja akan dilaksanakan, pada hari musuh-musuh orang Yahudi berharap mengalahkan orang Yahudi, terjadilah yang sebaliknya: orang Yahudi mengalahkan pembenci-pembenci mereka. (2) Maka berkumpullah orang Yahudi di dalam kota-kotanya di seluruh daerah raja Ahasyweros, untuk membunuh orang-orang yang berikhtiar mencelakakan mereka, dan tiada seorangpun tahan menghadapi mereka, karena ketakutan kepada orang Yahudi telah menimpa segala bangsa itu. (3) Dan semua pembesar daerah dan wakil pemerintahan dan bupati serta pejabat kerajaan menyokong orang Yahudi, karena ketakutan kepada Mordekhai telah menimpa mereka. (4) Sebab Mordekhai besar kekuasaannya di dalam istana raja dan tersiarlah berita tentang dia ke segenap daerah, karena Mordekhai itu bertambah-tambah besar kekuasaannya. (5) Maka orang Yahudi mengalahkan semua musuhnya: mereka memukulnya dengan pedang, membunuh dan membinasakannya; mereka berbuat sekehendak hatinya terhadap pembenci-pembenci mereka. (6) Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi membunuh dan membinasakan lima ratus orang. (7) Juga Parsandata, Dalfon, Aspata, (8) Porata, Adalya, Aridata, (9) Parmasta, Arisai, Aridai dan Waizata, (10) kesepuluh anak laki-laki Haman bin Hamedata, seteru orang Yahudi, dibunuh oleh mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (11) Pada hari itu juga jumlah orang-orang yang terbunuh di dalam benteng Susan disampaikan ke hadapan raja. (12) Lalu titah raja kepada Ester, sang ratu: ‘Di dalam benteng Susan saja orang Yahudi telah membunuh dan membinasakan lima ratus orang beserta kesepuluh anak Haman. Di daerah-daerah kerajaan yang lain, entahlah apa yang diperbuat mereka. Dan apakah permintaanmu sekarang? Niscaya akan dikabulkan. Dan apakah keinginanmu lagi? Niscaya dipenuhi.’ (13) Lalu jawab Ester: ‘Jikalau baik pada pemandangan raja, diizinkanlah kiranya kepada orang Yahudi yang di Susan untuk berbuat besokpun sesuai dengan undang-undang untuk hari ini, dan kesepuluh anak Haman itu hendaklah disulakan pada tiang.’ (14) Rajapun menitahkan berbuat demikian; maka undang-undang itu dikeluarkan di Susan dan kesepuluh anak Haman disulakan orang. (15) Jadi berkumpullah orang Yahudi yang di Susan pada hari yang keempat belas bulan Adar juga dan dibunuhnyalah di Susan tiga ratus orang, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (16) Orang Yahudi yang lain, yang ada di dalam daerah kerajaan, berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta mendapat keamanan terhadap musuhnya; mereka membunuh tujuh puluh lima ribu orang di antara pembenci-pembenci mereka, tetapi kepada barang rampasan tidaklah mereka mengulurkan tangan. (17) Hal itu terjadi pada hari yang ketiga belas dalam bulan Adar. Pada hari yang keempat belas berhentilah mereka dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. (18) Akan tetapi orang Yahudi yang di Susan berkumpul, baik pada hari yang ketiga belas, baik pada hari yang keempat belas dalam bulan itu. Lalu berhentilah mereka pada hari yang kelima belas dan hari itu dijadikan mereka hari perjamuan dan sukacita. (19) Oleh sebab itu orang Yahudi yang di pedusunan, yakni yang diam di perkampungan merayakan hari yang keempat belas bulan Adar itu sebagai hari sukacita dan hari perjamuan, dan sebagai hari gembira untuk antar-mengantar makanan. (20) Maka Mordekhai menuliskan peristiwa itu, lalu mengirimkan surat-surat kepada semua orang Yahudi di seluruh daerah raja Ahasyweros, baik yang dekat baik yang jauh, (21) untuk mewajibkan mereka, supaya tiap-tiap tahun merayakan hari yang keempat belas dan yang kelima belas bulan Adar, (22) karena pada hari-hari itulah orang Yahudi mendapat keamanan terhadap musuhnya dan dalam bulan itulah dukacita mereka berubah menjadi sukacita dan hari perkabungan menjadi hari gembira, dan supaya menjadikan hari-hari itu hari perjamuan dan sukacita dan hari untuk antar-mengantar makanan dan untuk bersedekah kepada orang-orang miskin. (23) Maka orang Yahudi menerima sebagai ketetapan apa yang sudah dimulai mereka melakukannya dan apa yang ditulis Mordekhai kepada mereka. (24) Sesungguhnya Haman bin Hamedata, orang Agag, seteru semua orang Yahudi itu, telah merancangkan hendak membinasakan orang Yahudi dan diapun telah membuang pur - yakni undi - untuk menghancurkan dan membinasakan mereka, (25) akan tetapi ketika hal itu disampaikan ke hadapan raja, maka dititahkannyalah dengan surat, supaya rancangan jahat yang dibuat Haman terhadap orang Yahudi itu dibalikkan ke atas kepalanya. Maka Haman beserta anak-anaknya disulakan pada tiang. (26) Oleh sebab itulah hari-hari itu disebut Purim, menurut kata pur. Oleh sebab itu jugalah, yakni karena seluruh isi surat itu dan karena apa yang dilihat mereka mengenai hal itu dan apa yang dialami mereka, (27) orang Yahudi menerima sebagai kewajiban dan sebagai ketetapan bagi dirinya sendiri dan keturunannya dan bagi sekalian orang yang akan bergabung dengan mereka, bahwa mereka tidak akan melampaui merayakan kedua hari itu tiap-tiap tahun, menurut yang dituliskan tentang itu dan pada waktu yang ditentukan, (28) dan bahwa hari-hari itu akan diperingati dan dirayakan di dalam tiap-tiap angkatan, di dalam tiap-tiap kaum, di tiap-tiap daerah, di tiap-tiap kota, sehingga hari-hari Purim itu tidak akan lenyap dari tengah-tengah orang Yahudi dan peringatannya tidak akan berakhir dari antara keturunan mereka. (29)  Lalu Ester, sang ratu, anak Abihail, menulis surat, bersama-sama dengan Mordekhai, orang Yahudi itu; surat yang kedua tentang hari raya Purim ini dituliskannya dengan segala ketegasan untuk menguatkannya. (30) Lalu dikirimkanlah surat-surat kepada semua orang Yahudi di dalam keseratus dua puluh tujuh daerah kerajaan Ahasyweros, dengan kata-kata salam dan setia, (31) supaya hari-hari Purim itu dirayakan pada waktu yang ditentukan, seperti yang diwajibkan kepada mereka oleh Mordekhai, orang Yahudi itu, dan oleh Ester, sang ratu, dan seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka, mengenai hal berpuasa dan meratap-ratap. (32) Demikianlah perintah Ester menetapkan perihal Purim itu, kemudian dituliskan di dalam kitab”.

Text ini menunjukkan bahwa Purim diharuskan / diwajibkan. Perintah itu diberikan oleh Mordekhai dan Ester, dan tidak pernah diberikan oleh Tuhan! Salah satu hal yang mereka lakukan selain bergembira adalah saling mengirimkan makanan (ay 19).

KJV: ‘sending portions’ (= mengirimkan bagian-bagian).

RSV: ‘send choice portions’ (= mengirimkan bagian-bagian pilihan).

NIV: ‘giving presents’ (= memberikan hadiah-hadiah).

NASB: ‘sending portions of food’ (= mengirimkan bagian-bagian makanan).

Dalam komentarnya tentang Ester 9:31, Adam Clarke berkata:

“‘As they had decreed for themselves and for their seed’. There is no mention of their receiving the approbation of any high priest, nor of any authority beyond that of Mordecai and Esther; the king could not join in such a business, as he had nothing to do with the Jewish religion, that not being the religion of the country” (= ‘seperti yang diwajibkan mereka kepada dirinya sendiri serta keturunan mereka’. Tidak disebutkan bahwa mereka menerima persetujuan dari imam besar manapun, ataupun dari otoritas di atas Mordekhai dan Ester; raja tidak bisa ikut dalam urusan seperti itu, karena ia tidak mempunyai urusan dengan agama Yahudi, karena itu bukan agama negerinya) - hal 827.

Pulpit Commentary: “In modern times the Jews keep up the practice, and on the 15th of Adar both interchange gifts, chiefly sweetmeats, and make liberal offering for the poor (comp. ver. 22, ad fin.)” [= Dalam jaman modern orang-orang Yahudi mempertahankan praktek ini, dan pada tanggal 15 bulan Adar mereka saling tukar menukar hadiah, yang terutama daging manis, dan memberikan persembahan yang murah hati kepada orang-orang miskin (bdk. ay 22 bagian akhir)] - hal 158.

Pulpit Commentary: “The universal adoption of the Purim feast by the Jewish nation, originating as it did at Susa, among the Persian Jews, ... Mordecai had no ecclesiastical authority; and it might have been expected that the Jews of Jerusalem would have demurred to the imposition of a fresh religious obligation upon them by a Jew of the Dispersion, who was neither a prophet, nor a priest, not even a Levite. ... But Joiakim, the high priest of the time (Neh. 12:10-12), ... must have given his approval to the feast from the first, and have adopted it into the ceremonial of the nation, or it would scarcely have become universal. Hooker ... rightly makes the establishment of the feast an argument in favour of the Church’s power to prescribe festival days; and it must certainly have been by ecclesiastical, and not by civil, command that it became obligatory” [= Penerimaan secara universal terhadap Hari Raya Purim oleh bangsa Yahudi, berasal mula di Susa, di antara orang-orang Yahudi Persia, ... Mordekhai tidak mempunyai otoritas kegerejaan; dan bisa diharapkan bahwa orang-orang Yahudi Yerusalem akan keberatan pada pembebanan suatu kewajiban agama yang baru kepada mereka oleh seorang Yahudi yang sedang tersebar, yang bukan seorang nabi, atau imam, dan bahkan bukan seorang Lewi. ... Tetapi Yoyakim, sang imam besar pada saat itu (Neh 12:10-12, ... pasti memberikan persetujuannya terhadap hari raya itu dari semula, dan telah mengadopsinya ke dalam upacara bangsa itu, atau itu tidak mungkin bisa bersifat universal. Hooker ... secara benar membuat peneguhan dari hari raya ini suatu argumentasi yang mendukung kuasa Gereja untuk menentukan hari-hari raya; dan itu haruslah oleh perintah gereja, dan bukan perintah pemerintah, sehingga itu menjadi suatu yang bersifat wajib)] - hal 158-159.

Pulpit Commentary: “Other Jewish festivals, as the passover and tabernacles, were instituted by express Divine authority. The feast of Purim was instituted by the authority of Mordecai and Esther. Yet its observance was undoubtedly sanctioned by the God whose merciful interposition it commemorated” (= ) - hal 160.

Pulpit Commentary: “the observanecs consisting of a preliminary fast; and of a sacred assembly in the synagogue, when the Megillah (or roll) of the Book of Esther, is unfolded and solemnly read aloud; and of a repast at home, followed by merry-making, and the sending of presents” (= ) - hal 160.

Tentang Ester 9:28b - “sehingga hari-hari Purim itu tidak akan lenyap dari tengah-tengah orang Yahudi dan peringatannya tidak akan berakhir dari antara keturunan mereka”, Pulpit Commentary berkata: “As a commemoration of human, and not of Divine, appointment, the feast of Purim was liable to abrogation or discontinuance. The Jews of that time resolved that the observance should be perpetual; and in point of fact the feast has continued up to the present date” (= Sebagai suatu peringatan oleh penetapan manusia, dan bukan penetapan Ilahi, hari raya Purim bisa dihapuskan atau tidak dilanjutkan. Orang-orang Yahudi pada jaman itu memutuskan bahwa pemeliharaan hari itu harus kekal; dan dalam faktanya hari raya itu berlanjut sampai saat ini) - hal 159.

W. N. McElrath & Billy Mathias: “Purim. Hari raya bangsa Yahudi untuk memperingati kemenangan Ester dan Mordekhai atas komplotan jahat Haman (Ester 9:23-26). Pesta itu agak luar biasa di antara hari-hari raya bangsa Yahudi, karena dirayakan dengan penuh sukacita dan keramaian. Kisah Ester dipentaskan pula dengan cukup keriangan” - ‘Ensiklopedia Alkitab Praktis’, hal 117.

Alfred Edersheim: “Purim was never more than a popular festival. As such it was kept with great merriment and rejoicing, when friends and relations were wont to send presents to each other (= ) - ‘The Temple’, hal 331.

Alfred Edersheim: “the religious observances of Purim commenced with a fast” (= Pemeliharaan Purim secara agama dimulai dengan suatu puasa) - ‘The Temple’, hal 332.

Alfred Edersheim: in such synagogues the Megillah, or at least the principal portions of it, was read on the previous Thursday. It was also allowed to read the Book of Esther in any language other than Hebrew, ... The prayers for the occasion now used in the synagogue, ... ” (= dalam synagogue-synagogue seperti itu Megillah, atau setidaknya bagian-bagian utama darinya, dibacakan pada hari Kamis sebelumnya. Juga diijinkan untuk membaca kitab Ester dalam bahasa apapun selain Ibrani, ... Doa-doa untuk peristiwa itu yang sekarang digunakan di synagogue, ...) - ‘The Temple’, hal 333.

Alfred Edersheim: “According to the testimony of Josephus, in his time ‘all the Jews that are in the habitable earth’ kept ‘these days festivals,’ and sent ‘portions to one another.’. In our own days, though the synagogue has prescribed for them special prayers and portions of Scripture, they are chiefly marked by boisterous and uproarious merrymaking, even beyond the limits of propriety” (= ) - ‘The Temple’, hal 333.

II. Didn't the Jews in the days of queen Esther set up a holy day not authorized in the law of Moses? Doesn't that example allow the church to set up a holy day (e.g., Christmas) not authorized in the Bible?

1. There is almost no resemblance between Christmas and Purim. Purim consists of two days of thanksgiving. The events of Purim are: "joy and gladness, a feast and a good day. . . and of sending portions one to another, and gifts to the poor" (Est. 8:17; 9:22). There was no worship service. There were no levitical priestly activities. There were no ceremonies. The two days of Purim have much more in common with Thanksgiving and it's dinners than Christmas. Purim is certainly no justification for Christmas services. Purim resembles the special days of thanksgiving which are still allowed, and not the religious and ceremonial holy days of the Levitical system. In fact, the Westminster divines used Purim as a proof text (Est. 9:22) authorizing days of thanksgiving.38

2. Purim was a unique historical event in Israel's salvation history. The festival was decreed by the civil magistrate: the prime minister, Mordecai, and the queen, Esther. It was agreed to unanimously by the people. The occasion and authorization of Purim are inscripturated in the Word of God and approved by the Holy Spirit. The biblical imperative of no addition and no subtraction applies to man-made law and worship. It most certainly does not forbid the Holy Spirit from completing the canon of Scripture and instituting new regulations.

3. Christmas is intrinsically immoral because it is built upon the monuments of pagan idolatry. There is nothing wrong with a country having a day of thanksgiving for a special act of deliverance by God. But there is something very wrong when a corrupt church attempts to sew Christian cloth onto pagan garments. There is something very wrong when Protestants conspire with the corrupt church of Rome and use godly Mordecai as an excuse.

Jawaban saya:

·        Ini omong kosong, bandingkan dengan dengan kata-kata Edersheim di atas yang mengatakan perayaan Purim sebagai ‘religious observances’. Juga dilakukan perayaan di synagogue, dengan pembacaan kitab Ester, disertai doa, dan sebagainya.

·        Yang saya garis bawahi dobel itu ngawur. Perayaan Purim tidak pernah diperintahkan oleh Tuhan, tetapi hanya oleh Mordekhai dan Ester, tanpa adanya persetujuan / ororitas dari Tuhan! Baca sendiri Ester 9:20-32 tersebut.

b.   Perayaan hari Pentahbisan Bait Suci.

Yoh 10:22-23 - “(22) Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. (23) Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo”.

Yang dimaksud dengan hari raya Pentahbisan di sini adalah Pentahbisan Bait Suci yang diperintahkan oleh Judas Maccabaeus pada tahun 165 SM. Ini dicatat dalam kitab Apocrypha, yaitu 1Makabe 1:59  4:52,59. Pentahbisan ini lalu dirayakan setiap tahun.

Pulpit Commentary: “This feast is not elsewhere noticed in the New Testament. The account of its origin is found in 1Macc. 4:36, etc.; 2Macc. 10:1-8; ... It was held on the 25th of Chisleu, which, in A.D. 29, would correspond with the 19th of December, in commemoration of the ‘renewal,’ reconstruction, of the temple by Judas Maccabæus after the gross profanation of it by Antiochus Epiphanes (1Macc. 1:20-60; 4:36-57). It occupied eight days, was distinguished by illumination of the city and temple and of other places throughout the land, and hence was called the ‘Feast of Lights.’ ... One feature was the increase night by night of the number of lights which commemorated the restoration of the temple. All fasting and public mourning were prohibited” (= ) - hal 48.

Calvin: “the temple, which had been polluted, was again consecrated by the command of Judas Maccabæus; and at that time it was enacted that the day of the new dedication or consecration should be celebrated every year as a festival, that the people might recall to remembrance the grace of God” (= ) - hal 412.

Adam Clarke: “‘The feast of the dedication’. This was a feast instituted by Judas Maccabaeus, in commemoration of his purifying the temple after it had been defiled by Antiochus Epiphanes. This feast began on the twenty-fifth of the month Cisleu (which answers to the eighteenth of our December), and continued for eight days. When Antiochus had heard that the Jews had made great rejoicings, on account of a report that had been spread of his death, he hastened out of Egypt to Jerusalem, took the city by storm, and slew of the inhabitants in three days forty thousand persons; and forty thousand more he sold for slaves to the neighbouring nations. Not contented with this, he sacrificed a great sow on the altar of burnt offerings; and, broth being made by his command of some of the flesh, he sprinkled it all over the temple, that he might defile it to the uttermost. ... After this, the whole of the temple service seems to have been suspended for three years, great dilapidations having taken place also in various parts of the buildings: see 1 Macc. 4:36, etc. As Judas Maccabaeus not only restored the temple service, and cleansed it from pollution, etc., but also repaired the ruins of it, the feast was called ta egkainia, the renovation.” (= ) - hal 594.

Antiochus Epiphanes adalah raja Syria yang bertakhta tahun 175-164 S.M. (Barclay hal 69). Ia mempersembahkan daging babi untuk dewa-dewa kafir di Bait Allah.

Yudas Makabeus memerintahkan perayaan hari ini dalam 1Mak 4:59.

William Hendriksen: “Though it is not one of the three great pilgrim-feasts, it nevertheless, drew many people to Jerusalem” (= ) - hal 120.

Barclay: “This was the latest of the great Jewish festivals to be founded. It was sometimes called The Festival of Lights; and its Jewish name was Hanukkah. Its date is the 25th of the Jewish month called Chislew which corresponds with our December. This Festival therefore falls very near our Christmas time and is still universally observed by the Jews” (= ) - hal 69.

Alfred Edersheim: “It was not of Biblical origin, but had been instituted by Judas Maccabaeus in 164 B.C., when the Temple, which had been desecrated by Antiochus Epiphanes, was once more purified, and re-dedicated to the Service of Jehovah (1Macc 6:52-59) ... In memory of this, it was ordered the following year, that the Temple be illuminated for eight days on the anniversary of its ‘Dedication’ ... the ‘Lights’ in honour of the Feast were lit not only in the Temple, but in every home. ... Certain benediction are spoken on lighting these lights, all work is stayed, and the festive time spent in merriment” (= ) - ‘The Life and Times of Jesus the Messiah’, hal 428-429.

Alfred Edersheim: “The Feast of the Dedication of the Temple, Chanuchah (‘the dedication’), called in 1Maccab. 4:52-59 ‘the dedication of the altar,’ and by Josephus ‘the Feast of Lights,’ was another popular and joyous festival. It was instituted by Judas Maccabæus in 164 B.C., when, after the recovery of Jewish independence from the Syro-Grecian domination, the Temple of Jerusalem was solemnly purified, the old polluted altar removed, its stones put in a separate place on the Temple-mount, and the worship of the Lord restored. The feast commenced on the 25th of Chislev (December), and lasted for eight days. On each of them the ‘Hallel’ was sung, the people appeared carrying palm and other branches, and there was a grand illumination of the Temple and of all private houses” (= ) - ‘The Temple’, hal 333-334.

Alfred Edersheim: “the date of the Feast of the Dedication - the 25th of Chislev - seems to have been adopted by the ancient Church as that of the birth of our blessed Lord - Christmas - the Dedication of the true Temple, which was the body of Jesus” [= tanggal dari hari raya Pentahbisan Bait Allah - bulan Kislew tanggal 25 - kelihatannya telah diadopsi oleh Gereja kuno sebagai tanggal kelahiran dari Tuhan kita yang terpuji - Natal - Pentahbisan dari Bait Allah yang sejati, yang adalah tubuh dari Yesus (bdk. Yoh 2:19-22)] - ‘The Temple’, hal 334.

Alfred Edersheim: “From the hesitating language of Josephus, we infer that even in his time the real origin of the practice of illuminating the Temple was unknown. Tradition, indeed, has it that when in the restored Temple the sacred candlestick was to be lit” (= ) - ‘The Temple’, hal 335.

Alfred Edersheim: “there cannot be a doubt that our blessed Lord Himself attended this festival at Jerusalem, on which occasion He told them plainly: ‘I and My Father are one.’” (= Tidak diragukan bahwa Tuhan kita sendiri menghadiri hari raya / perayaan ini di Yerusalem, dalam peristiwa mana Ia memberitahu mereka dengan jelas, ‘Aku dan Bapa adalag satu’.) - ‘The Temple’, hal 336.

Yoh 10:22-23,30 - “(22) Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. (23) Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo. ... (30) Aku dan Bapa adalah satu.’”.

Ini merupakan sesuatu yang harus ditekankan. Hari Raya Pentahbisan itu bukanlah hari Raya yang ditetapkan oleh Tuhan, tetapi oleh Yudas Makabeus. Tetapi sekalipun demikian, dalam perayaan hari itu, Yesus mengikutinya! Yesus tidak bersikap sok suci seperti orang-orang yang anti Natal, dengan menolak mengikuti perayaan tersebut dan mengecam setiap orang yang mengikutinya!

c.   Perayaan Tahun Baru, yang disebut Rosh Hashanah.

Saksi-Saksi Yehuwa secara implicit menentang perayaan tahun baru dengan alasan bahwa Julius Caesarlah yang pada tahun 46 M. menetapkan 1 Januari sebagai Hari Tahun Baru, dan orang-orang Romawi lalu membaktikan hari ini kepada Yanus, dewa dari gerbang, pintu, dan awal mula. Bulan Januari disebut menurut nama Yanus, yang mermpunyai 2 wajah - satu menghadap ke depan, dan yang satunya menghadap ke belakang (‘Bertukar Pikiran Mengenai Ayat-Ayat Alkitab’, hal 133).

Alasan lain yang diberikan oleh Saksi-Saksi Yehuwa adalah banyaknya pesta pora dan kemabukan yang menyertai perayaan-perayaan tersebut.

Tetapi orang-orang Yahudi justru merayakan tahun baru selama 2 hari berturut-turut.

Alfred Edersheim: “it became early common to observe the New Year’s Feast on two successive days, and the practice may have been introduced in Temple times” (= ) - ‘The Temple’, hal 295.

Dalam perayaan tahun baru ada peniupan terompet dari pagi sampai malam, bahkan di dalam Bait Suci dan synagogue.

Alfred Edersheim: “During the whole of New Year’s Day, trumpets and horn were blown in Jerusalem from morning to evening. In the Temple it was done, even on a Sabbath, but not outside its walls. Since the destruction of Jerusalem this restriction has been removed, and the horn is blown in every synagogue, even though the feast fall upon a Sabbath” (= ) - ‘The Temple’, hal 297-298.

Merrill C. Tenney: “The sacred Year. The Jewish year consisted of twelve lunar months, with an intercalary month which was added to the calendar whenever it was needed to equate the lunar year with the solar year. The civil year commenced with the seventh month, corresponding roughly to October on the modern calendar. The religious year began with the first month, in which occurred the Passover, the first great feast of the Jewish cycle. The sequence of the months is as follows, using the religious year as the standard:

Month                   Special Days

Nisan                    (April)                   14 - Passover

15 - Unleavened Bread

21 - Close of Passover

Iyar                       (May)

Sivan                     (June)                   6 - Feast of Pentecost - seven weeks from the Passover

(Anniversary of the giving of the law on Mt. Sinai)

Tammuz                (July)

Ab                         (August)

Elul                       (September)

Tishri                    (October)              1 & 2 - The Feast of Trumpets

Rosh Hashanah, the beginning of the civil year

10 - Day of Atonement

15-21 - Feast of Tabernacles

Marchesvan          (November)

Kislev                    (December)                 25 - Feast of Lights, or Dedication

Hanukkah

Tebeth                   (January)

Shebet                   (February)

Adar                      (March)                 14 - The Feast of Purim

The festivals, or feasts, were seven in number, as follows: Passover, the Feast of Unleavened Bread, the Feast of Pentecost, the New Year and the Day of Atonement, the Feast of Tabernacles, the Feast of Dedication, and the Feast of Purim. Of these, the first five were prescribed by the Mosaic law; the last two were post-exilic in origin” (= ) - ‘New Testament Survey’, hal 95.

Merrill C. Tenney: The Feast of Trumpets, or The New Year (Rosh Hashanah). The civil year of the Jews began on the first day of Tishri. During the entire New Year’s Day horns and trumpets were blown in the temple from morning to evening. Unlike the Passover and Pentecost, the feast did not attract many pilgrims to Jerusalem, for it was celebrated in the synagogue as well as in the temple. The book of Nehemiah states (Neh. 8:2-12) that those who returned from the exile observed the feast by the public reading of the law and by general rejoicing.” (= ) - ‘New Testament Survey’, hal 97.

Catatan: apakah Neh 8 itu bukan hari raya pondok daun? Yang dalam ay 2 menurut Barnes adalah Feast of Trumpets, yang dalam ay 15 baru Feast of Tabernacles.

d.   Perayaan Yom Kippur / the Day of Atonement.

Sekalipun hari ini memang ada dan diperintahkan oleh Tuhan, tetapi perhatikan cara mereka melakukan perayaan tersebut, atau hal-hal yang mereka lakukan dalam merayakan hari tersebut, yang sama sekali tidak ada dalam Kitab Suci.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Yom Kippur’:

“Hebrew YOM HA-KIPPURIM, English Day Of Atonement, the most solemn of Jewish religious holidays, observed on the 10th day of the lunar month of Tishri (in the course of September and October), when Jews seek to expiate their sins and achieve a reconciliation with God. Yom Kippur concludes the ‘10 days of repentance’ that begin with Rosh Hoshanah (New Year’s Day) on the first day of Tishri. The Bible refers to Yom Kippur as Shabbat Shabbaton (‘Sabbath of Solemn Rest,’ or ‘Sabbath of Sabbaths’) because, even though the holy day may fall on a weekday, it is on Yom Kippur that solemnity and cessation of work are most complete. The purpose of Yom Kippur is to effect individual and collective purification by the practice of forgiveness of the sins of others and by sincere repentance for one’s own sins against God. Yom Kippur is marked by abstention from food, drink, and sex. Among extremely Orthodox Jews the wearing of leather shoes and anointing oneself with oil are forbidden. Orthodox Jews may wear long white robes called kippelot. Jewish congregations spend the eve of Yom Kippur and the entire day in prayer and meditation. On the eve of Yom Kippur the Kol Nidre is recited. Famous for its beautiful melody, the Kol Nidre is a declaration annulling all vows made during the course of the year insofar as they concern oneself (obligations toward others are excluded). Friends also ask and accept forgiveness from one another for past offenses on the evening before Yom Kippur, since obtaining forgiveness from one’s fellows signifies God’s forgiveness. God is believed to forgive the sins of those who sincerely repent and show their repentance by improved behaviour and performance of good deeds. The services on Yom Kippur itself last continuously from morning to evening and include readings from the Torah and the reciting of penitential prayers. Yiskur, which are memorial prayers for the recently deceased, may also be recited by members of the congregation. The services end with closing prayers and the blowing of the ritual horn known as the shofar. Before the destruction of the Temple in Jerusalem, the high priest performed an elaborate sacrificial ceremony in the Temple, successively confessing his own sins, the sins of priests, and the sins of all Israel. Clothed in white linen, he then entered the Holy of Holies--allowed only at Yom Kippur--to sprinkle the blood of the sacrifice and to offer incense. The ceremony concluded when a goat (the scapegoat), symbolically carrying the sins of Israel, was driven to its death in the wilderness”.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Jewish Religious Year: Ten Days of Penitence’:

“The Ten Days of Penitence begin on Rosh Hashana and close with Yom Kippur. Already in Talmudic times they were viewed as forming an especially appropriate period of introspection and repentance. Penitential prayers (selihot) are recited prior to the daily morning service and, in general, during the period scrupulous observance of the Law is expected. According to Mishnaic teaching, the New Year festival ushers in the Days of Judgment for all of mankind. Despite its solemnity, the festive character of Rosh Hashana is in no way diminished. In Scripture it is called ‘a day when the horn is sounded’; in the liturgy ‘a day of remembrance.’ In the land of Israel and in the Diaspora, Rosh Hashana is celebrated on the first two days of Tishri. Originally celebrated by all Jews on Tishri 1, calendrical uncertainty led to its being celebrated an additional day in the Diaspora and, depending upon the circumstances, one or two days in Palestine. After the calendar was fixed in 359, it was regularly celebrated in Palestine on Tishri 1 until the 12th century, when Provençal scholars introduced the two-day observance. Considerable speculation in recent literature concerning the origin of the Jewish New Year festival proves mostly that its early history can only be conjectured, not reconstructed. The most distinctive Rosh Hashana observance is the sounding of the ram’s horn (shofar) at the synagogue service. Medieval commentators suggest that the blasts acclaim God as Ruler of the universe, recall the divine revelation at Sinai, and are a call for spiritual reawakening and repentance. An expanded New Year liturgy stresses God’s sovereignty, his concern for man, and his readiness to forgive those who repent. On the first day of Rosh Hashana (except when it falls on the Sabbath) it is customary for many to recite penitential prayers at a river, symbolically casting their sins into the river; this ceremony is called tashlikh (‘thou wilt cast’). Other symbolic ceremonies, such as eating bread and apples dipped in honey, accompanied with prayers for a ‘sweet’ and propitious year, are performed at the festive meals. The most solemn of the Jewish festivals, Yom Kippur is a day when sins are confessed and expiated and man and God are reconciled. It is also the last of the Days of Judgment and the holiest day of the Jewish year. Celebrated on Tishri 10, it is marked by fasting, penitence, and prayer. Work, eating, drinking, washing, anointing one’s body, sexual intercourse, and donning leather shoes are all forbidden. In Temple times, Yom Kippur provided the only occasion for the entry of the high priest into the Holy of Holies; details of the expiatory rites performed by the high priest and others are recorded in the Mishna and recounted in the liturgy. Present-day observances begin with a festive meal shortly before Yom Kippur eve. The Kol Nidre prayer (recited before the evening service) is a legal formula which absolves Jews from fulfilling solemn vows, thus safeguarding them from accidentally violating a vow’s stipulations. The formula first appears in gaonic sources (derived from the Babylonian Talmudic academies, 6th-11th centuries) but may be older; the haunting melody that accompanies it is of medieval origin. Virtually the entire day is spent in prayer at the synagogue, the closing service (ne’ila) concluding with the sounding of the ram’s horn”.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Yamim Nora’im’:

“(Hebrew: ‘days of awe’), English High Holy Days, in Judaism, the High Holy Days of Rosh Hashana (on Tishri 1 and 2) and Yom Kippur (on Tishri 10), in September or October. Though the Bible does not link these two major festivals, the Talmud does. Consequently, yamim nora’im is sometimes used to designate the first 10 days of the religious year: the three High Holy Days, properly so-called, and also the days between. The entire 10-day period is more accurately called Aseret Yeme Teshuva (‘Ten Days of Penitence’)”.

Catatan: ini penting untuk menghadapi orang-orang yang anti penggabungan Natal dan Tahun Baru.

e.   The Feast of Wood-offering, yang terjadi pada bulan Ab (Agustus) tanggal 15 (Edersheim, hal 336).

f.    Hari-hari puasa, yang banyak ditambahkan kepada hari puasa yang memang merupakan perintah Allah. Yang ditambahkan adalah:

·        puasa untuk memperingati pembuangan ke Babilonia (Edersheim, hal 338).

·        puasa untuk memperingati direbutnya Yerusalem oleh Nebukadnezar (Edersheim, hal 339).

·        puasa untuk memperingati pembuatan anak lembu emas, dan pemecahan 10 hukum Tuhan oleh Musa (Edersheim, hal 339).

Alfred Edersheim: “the Jewish calendar at present contains other twenty-two fast-days” (= ) - ‘The Temple’, hal 340.

g.   Dalam 2Makabe 15:35-36 terlihat bahwa orang-orang Yahudi merayakan hari matinya Nikanor.

h.   Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Calendar: Months and important days’:

“The months of the Jewish year and the notable days are as follows:

·        Tishri: 1-2, Rosh Hashana (New Year); 3, Fast of Gedaliah; 10, Yom Kippur (Day of Atonement); 15-21, Sukkot (Tabernacles); 22, Shemini Atzeret (Eighth Day of Solemn Assembly); 23, Simhat Torah (Rejoicing of the Law).

·        Heshvan.

·        Kislev: 25, Hanukka (Festival of Lights) begins.

·        Tevet: 2 or 3, Hanukka ends; 10, Fast.

·        Shevat: 15, New Year for Trees (Mishna).

·        Adar: 13, Fast of Esther; 14-15, Purim (Lots).

·        Second Adar (Adar Sheni) or ve-Adar (intercalated month); Adar holidays fall in ve-Adar during leap years.

·        Nisan: 15-22, Pesah (Passover).

·        Iyyar: 5, Israel Independence Day.

·        Sivan: 6-7, Shavuot (Feast of Weeks [Pentecost]).

·        Tammuz: 17, Fast (Mishna).

·        Av: 9, Fast (Mishna).

·        Elul”.

Dari sini juga terlihat adanya hari-hari yang dirayakan tanpa adanya perintah Tuhan, seperti ‘Shemini Atzeret’, ‘Simhat Torah’, ‘Hezhvan’, ‘New Year for Trees’, ‘Israel’s Independence Day’, dan sebagainya.

7.   Kebiasaan mendedikasikan rumah baru.

Orang-orang Yahudi biasanya selalu mendedikasikan rumah baru, dan kebiasaan itu terlihat dari Ul 20:5.

Ul 20:5 - “Para pengatur pasukan haruslah berbicara kepada tentara, demikian: Siapakah orang yang telah mendirikan rumah baru, tetapi belum menempatinya? Ia boleh pergi dan pulang ke rumahnya, supaya jangan ia mati dalam pertempuran dan orang lain yang menempatinya”.

Kata ‘menempatinya’ salah terjemahan.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘and not dedicated it?’ (= ).

Bdk. Maz 30:1 - “Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku”.

KJV: ‘A Psalm and Song at the dedication of the house of David’ (= ).

NIV: ‘temple’.

NASB: ‘house’.

Fred H. Wight: “It was common when any person had finished a house and entered into it, to celebrate it with great rejoicing, and keep a festival, to which his friends are invited, and to perform some religious ceremonies, to secure the protection of Heaven” (= ) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 135.

8.   Perayaan berkenaan dengan penyapihan anak.

Pada jaman itu penyapihan anak baru terjadi pada usia 3 tahun, dan ini dilakukan dengan suatu perayaan, dimana teman-teman berkumpul, ada pesta, dan ada upacara-upacara agama, dan kadang-kadang ada acara pemberian nasi kepada anak itu.

Fred H. Wight: “The weaning of a child is an important event in the domestic life of the East. In many places it is celebrated by a festive gathering of friends, by feasting, by religious ceremonies, and sometimes the formal presentation of rice to the child. ... It was probably at this age of three, or possibly even later, that Hannah weaned Samuel and brought him to God’s sanctuary, where offerings were made to God, and he was presented to the Lord (1Sam 1:23)” (= ) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 136.

Catatan: 2Makabe 7:27 mengatakan bahwa pada jaman itu seorang ibu menyusui anaknya sampai usia 3 tahun.

Kej 21:8 - “Bertambah besarlah anak itu dan ia disapih, lalu Abraham mengadakan perjamuan besar pada hari Ishak disapih itu.

9.   Perayaan pada masa pengguntingan bulu domba.

Masa pengguntingan bulu domba juga merupakan saat dimana mereka melakukan perayaan / pesta, sebagai suatu ucapan syukur kepada Tuhan.

Fred H. Wight: “It would seem from two Bible references that sheep-shearing was another time of special festivity in the ancient Hebrew home. ... These two examples of this sort of a feast would not by themselves indicate that it was anything but a time of festivity alone. But without doubt, in many pious homes it was a time of thanksgiving to God for the wool provided from the flock” (= ) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 137.

1Sam 25:4,36 - “(4) Ketika didengar Daud di padang gurun, bahwa Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya, ... (36) Sampailah Abigail kepada Nabal dan tampaklah, Nabal mengadakan perjamuan di rumahnya, seperti perjamuan raja-raja. Nabal riang gembira dan mabuk sekali. Sebab itu tidaklah diceriterakan perempuan itu sepatah katapun kepadanya, sampai fajar menyingsing”.

2Sam 13:23-28 - “(23) Sesudah lewat dua tahun, Absalom mengadakan pengguntingan bulu domba di Baal-Hazor yang dekat kota Efraim. Lalu Absalom mengundang semua anak raja. (24) Kemudian Absalom menghadap raja, lalu berkata: ‘Hambamu ini mengadakan pengguntingan bulu domba. Kiranya raja dan pegawai-pegawainya ikut bersama-sama dengan hambamu ini.’ (25) Tetapi raja berkata kepada Absalom: ‘Maaf, anakku, jangan kami semua pergi, supaya kami jangan menyusahkan engkau.’ Lalu Absalom mendesak, tetapi raja tidak mau pergi, ia hanya memberi restu kepadanya. (26) Kemudian berkatalah Absalom: ‘Kalau tidak, izinkanlah kakakku Amnon pergi beserta kami.’ Tetapi raja menjawabnya: ‘Apa gunanya ia pergi bersama-sama dengan engkau?’ (27) Tetapi ketika Absalom mendesak, diizinkannyalah Amnon dan semua anak raja pergi beserta dia. (28) Lalu Absalom memerintahkan orang-orangnya, demikian: ‘Perhatikan! Apabila hati Amnon menjadi gembira karena anggur, dan aku berkata kepadamu: Paranglah Amnon, maka haruslah kamu membunuh dia. Jangan takut. Bukankah aku yang memerintahkannya kepadamu? Kuatkanlah hatimu dan tunjukkanlah dirimu sebagai orang yang gagah perkasa!’”.

Memang kontext yang kedua ini merupakan suatu perangkap. Tetapi jkalau hal itu bukan sesuatu yang lazim dilakukan, tidak mungkin saudara-saudara yang lain mau datang ke pesta itu.

g)   Kalau tadi saya mengatakan bahwa merayakan Natal tidak dilarang oleh Tuhan, maka sekarang saya ingin memberikan 2 ayat yang secara implicit mendukung kita untuk merayakan Natal. Kedua ayat itu adalah 1Kor 6:12 dan 1Kor 10:23.

1Kor 6:12 - “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun”.

1Kor 10:23 - “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun”.

Calvin: “he treats here of outward things, which God has left to the free choice of believers” (= di sini ia membicarakan tentang hal-hal lahiriah, yang Allah tinggalkan pada pemilihan bebas dari orang-orang percaya) - hal 214.

Pulpit Commentary: “By ‘all things,’ of course, is only meant ‘all things which are indifferent in themselves.’” (= Dengan ‘segala sesuatu’, tentu saja, hanya dimaksudkan ‘segala sesuatu yang bukannya baik ataupun buruk dalam diri mereka sendiri’) - hal 193.

Jadi ayat ini berhubungan dengan hal-hal yang tidak diperintahkan ataupun dilarang oleh Tuhan. Hal-hal seperti ini boleh dilakukan dengan 2 syarat:

1.   Hal itu berguna / membangun. Contoh yang salah: tidur sepanjang hari; ini jelas tidak berguna.

Pulpit Commentary: “It has been well said, ‘Unlawful things ruin thousands, lawful things (unlawfully used) ten thousands.’ And also, ‘Nowhere does the devil build his little chapels more cunningly than right by the side of the temple of Christian liberty” [= Pernah dikatakan dengan benar: ‘Hal-hal yang dilarang menghancurkan ribuan, hal-hal yang diijinkan (tetapi digunakan secara salah) menghancurkan puluhan ribu’. Dan juga: ‘Tidak ada tempat lain dimana setan membangun gereja kecilnya dengan lebih cerdik dari pada di sisi dari Bait kebebasan Kristen’] - hal 209.

2.   Hal itu tidak memperhamba kita. Contoh yang salah: rokok, ganja, atau bahkan makan berlebihan, dan sebagainya; ini jelas memperbudak.

Adam Clarke: “A man is brought under the power of any thing which he cannot give up. He is the slave of that thing, whatsoever it be, which he cannot relinquish; and then, to him, it is sin” (= ) - hal 218.

Ayat-ayat ini bisa mendukung pelaksanaan hal-hal yang tidak diperintahkan, tetapi juga tidak dilarang oleh Kitab Suci, selama hal-hal itu berguna / membangun.

Sekarang, kalau kita menerapkan pada perayaan Natal, maka jelas bahwa perayaan Natal tidak memperhamba, tetapi justru berguna dan membangun. Apa gunanya dan dalam hal apa perayaan Natal itu membangun?

a.   Natal berguna untuk pemberitaan Injil.

Banyak orang yang tidak pernah ke gereja, mau ke gereja pada Natal, dan ini merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk memberitakan Injil kepada mereka. Dalam buku-buku KKR saya ada khotbah-khotbah Natal saya, dan kalau saudara lihat, semua khotbah Natal saya merupakan khotbah yang berisi pemberitaan Injil. Bahkan dalam gereja-gereja yang tidak injili, pada perayaan Natal ada lagu-lagu Natal yang injili, dan pembacaan ayat-ayat yang bersifat penginjilan, sehingga Injil tetap diberitakan pada Natal. Mengapa kita harus membuang perayaan Natal, kalau itu memang menyebabkan penyebaran Injil? Bahkan kartu Natal, yang dianggap sebagai pemborosan, dan memang bisa merupakan pemborosan, bisa diarahkan pada penginjilan, yaitu kalau kita memilih kartu Natal yang kata-katanya mengandung Injil, atau menuliskan kata-kata yang bersifat penginjilan. Kalau yang demikian masih dianggap sebagai pemborosan, maka yang menganggap seperti itu hanyalah orang gila secara rohani!

b.   Untuk mengingatkan jemaat akan kasih Allah.

Ini bisa menyegarkan iman orang-orang kristen, dan mengembalikan mereka pada kasih mereka yang semula kepada Allah.

c.   Untuk sarana persekutuan, dan lebih mendekatkan jemaat satu sama lain.

Saya tidak anti pesta Natal (selama tidak keterlaluan / terlalu mewah), karena saya berpendapat hal itu bisa mempererat persekutuan antar Jemaat. Dalam Perjanjian Lama juga ada pesta-pesta yang ditetapkan oleh Tuhan, lalu mengapa dalam Perjanjian Baru kita tidak boleh mengadakan pesta kalau hal itu memang berguna?

8)   Perayaan Natal bertentangan dengan Gal 4:9-11 dan Kol 2:16-17.

Internet: “Sekarang perhatikan apa yang menjadi kekuatiran Paulus di dalam ayat 9-11: ‘Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimana kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? Kamu dengan teliti MEMELIHARA HARI-HARI TERTENTU, BULAN-BULAN, MASA-MASA YANG TETAP DAN TAHUN-TAHUN. Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah SIA-SIA’. Dengarkan itu! Mengapa kita, sebagai anak-anak Allah, terus menceburkan diri dan ikut ambil bagian dalam perayaan HARI-HARI BESAR KEAGAMAAN sementara Roh Allah dengan tegas MENENTANGNYA! Adalah PENGANGKATAN KITA SEBAGAI ANAK bagi ALLAH yang MELEPASKAN kita dari KEBUTUHAN akan semua unsur perbudakan ini! Hari-hari besar keagamaan adalah; roh-roh dunia yang lemah dan miskin; sebagaimana yang dikatakan Alkitab. Dan sekalipun kita tahu bahwa hari-hari besar keagamaan dan perayaan-perayaannya yang dikatakan oleh Paulus tidak termasuk Natal (karena Natal pada waktu itu belum diketemukan), akan tetapi prinsipnya sama. Baik Galatia 4:9-11 dan Kolose 2:16 keduanya tegas atas ketidaksetujuannya terhadap semua hari besar keagamaan dan perayaan-perayaannya. SAMPAI DETIK INI ALLAH TIDAK PERNAH MENGATAKAN SATU KATAPUN AGAR SUPAYA KITA MEMELIHARA HARI-HARI ISTIMEWA. Allah tidak pernah mengatakan di dalam firman-Nya, ataupun melalui nubuatan, atau penglihatan, atau bahasa roh, atau wahyu, atau malaikat, ataupun media lainnya pada sekarang ini yang memerintahkan kita sebagai umat-Nya agar supaya merayakan hari kelahiran Anak-Nya ataupun HARI lainnya!”.

Jawaban saya:

Mari kita memperhatikan kedua text yang dipersoalkan.

Kol 2:16 - “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat”.

Gal 4:9-11 - “(9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya? (10) Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun. (11) Aku kuatir kalau-kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia”.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

a)   Dalam kedua text di atas ini Paulus tidak mungkin melarang perayaan hari-hari raya, karena kalau diartikan demikian, akan bertentangan dengan Ro 14:5.

Dilihat sepintas lalu, memang kedua text di atas ini melarang kita untuk memelihara hari raya, tetapi benarkah demikian? Kalau kita mau menafsirkan kedua text ini dengan benar, kita juga harus memperhatikan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci yang berhubungan dengannya. Dan text / ayat yang harus diperhatikan adalah Ro 14:1-6 (khususnya ay 5-6nya).

Ro 14:1-6 - “Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. (2) Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. (3) Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. (4) Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. (5) Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (6) Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah”.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan / dimengerti tentang Ro 14:5-6 ini:

1.   Kata ‘hari’ di sini tidak mencakup Sabat Kristen / hari Minggu!

Barnes mengatakan bahwa Sabatnya orang kristen tidak bisa dimasukkan dalam hal ini, dan alasannya adalah:

·        yang dibicarakan di sini bukanlah Sabatnya orang kristen, tetapi hari-hari raya Yahudi.

·        dalam Kitab Suci Sabatnya Kristen dipelihara oleh semua orang Kristen.

·        Ro 14:6 mengatakan bahwa ‘memelihara’ atau ‘tidak memelihara’ hari tersebut haruslah dilakukan untuk Tuhan. Dan seseorang tidak mungkin tidak memelihara Sabat demi Tuhan.

Barnes’ Notes: “If any man is disposed to plead this passage as an excuse for violating the Sabbath, and devoting it to pleasure or gain, let him quote it, just as it is, i.e., let him neglect the Sabbath from a conscientious desire to honour Jesus Christ. Unless this is his motive, the passage cannot avail him. But this motive never yet influenced a Sabbath-breaker” (= Jika seseorang ingin menggunakan text ini sebagai alasan untuk melanggar Sabat, dan menggunakan Sabat untuk kesenangan atau keuntungan, hendaklah ia mengutipnya sebagaimana adanya, yaitu, hendaklah ia mengabaikan Sabat dari suatu keinginan yang benar / jujur untuk menghormati Yesus Kristus. Kecuali ini merupakan motivasinya, text ini tidak bisa ia pakai. Tetapi motivasi ini tidak pernah mempengaruhi seorang pelanggar Sabat) - hal 654-655.

Bahkan para penafsir menganggap bahwa Kol 2:16-17 - “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus” - juga tidak mengajarkan bahwa Sabat dihapuskan.

Barnes’ Notes: “The word Sabbath in the Old Testament is applied not only to the seventh day, but to all the days of holy rest that were observed by the Hebrews, and particularly to the beginning and close of their great festivals. There is, doubtless, reference, to those days in this place, as the word is used in the plural number, and the apostle does not refer particularly to the Sabbath properly so called. ... If he had used the word in the singular number - ‘THE Sabbath’ - it would then, of course, have been clear that he meant to teach that that commandment had ceased to be binding, and that a Sabbath was no longer to be observed. But the use of the term in the plural number, and the connexion, show that he had his eye on the great number of days which were observed by the Hebrews as festivals, as a part of their ceremonial and typical law, and not to the moral law, or the ten commandments. No part of the moral law - no one of the ten commandments - could be spoken of as ‘a shadow of things to come.’ These commandments are, from the nature of moral law, of perpetual and universal obligation” (= Kata ‘Sabat’ dalam Perjanjian Lama tidak diterapkan hanya pada hari yang ketujuh, tetapi kepada semua hari-hari dari istirahat kudus yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani, dan secara khusus menunjuk pada permulaan dan penutupan dari pesta perayaan mereka yang besar. Tidak diragukan bahwa di tempat ini kata itu menunjuk pada hari-hari itu, karena kata itu digunakan dalam bentuk jamak, dan sang rasul tidak menunjuk secara khusus pada apa yang secara benar dinamakan Sabat. ... Seandainya ia menggunakan kata dalam bentuk tunggal - ‘Sabat’ - maka tentu saja jelas bahwa ia bermaksud untuk mengajar bahwa perintah itu tidak mengikat lagi, dan bahwa Sabat tidak perlu dipelihara lagi. Tetapi penggunaan istilah itu dalam bentuk jamak, dan hubungannya, menunjukkan bahwa ia menujukan matanya pada sejumlah besar hari-hari yang dipelihara oleh orang-orang Ibrani sebagai pesta-pesta perayaan, sebagai bagian dari hukum yang bersifat upacara dan TYPE, dan bukan pada hukum moral, atau 10 hukum Tuhan. Tidak ada bagian dari hukum moral - tidak satupun dari 10 hukum Tuhan - yang bisa dikatakan sebagai ‘bayangan dari apa yang harus datang’. Hukum-hukum ini, dari sifat dari hukum moral, merupakan kewajiban yang bersifat kekal dan universal) - hal 1070.

Adam Clarke: “There is no intimation here that the Sabbath was done away, or that its moral use was superseded, by the introduction of Christianity. I have shown elsewhere that ‘Remember the Sabbath day, to keep it holy,’ is a command of perpetual obligation, and can never be superseded but by the final termination of time. As it is a type of that rest which remains for the people of God, of an eternity of bliss, it must continue in full force till that eternity arrives; for no type ever ceases till the antitype be come. Besides, it is not clear that the apostle refers at all to the Sabbath in this place, whether Jewish or Christian; his sabbatwn, of sabbaths or weeks, most probably refers to their feasts of weeks” [= Ini bukan merupakan suatu pernyataan bahwa Sabat telah disingkirkan, atau bahwa penggunaan moralnya telah digantikan, oleh perkenalan akan kekristenan. Saya telah menunjukkan di tempat lain bahwa ‘Ingatlah hari Sabat, dan kuduskanlah Dia’ merupakan suatu perintah tentang kewajiban kekal, dan tidak pernah bisa digantikan kecuali oleh kesudahan terakhir dari waktu. Karena Sabat merupakan suatu TYPE dari istirahat yang tertinggal untuk umat Allah, dari kebahagiaan kekal, maka Sabat harus tetap berlaku sampai kekekalan itu tiba; karena tidak ada TYPE yang pernah berhenti sampai ANTI-TYPEnya datang. Disamping itu, sama sekali tidak jelas bahwa sang rasul menunjuk pada hari Sabat di tempat ini, apakah itu Sabat Yahudi atau Sabat Kristen; his sabbatwn, ‘mengenai / tentang Sabat-Sabat atau minggu-minggu’, paling mungkin menunjuk pada pesta mingguan (?) mereka] - hal 524.

Tentang hari apa yang dimaksudkan dalam Ro 14:5-6, Hendriksen mengatakan bahwa ia tidak tahu hari apa yang dimaksudkan. Ia mengatakan bahwa ada yang mengatakan itu adalah Sabat Yahudi, ada juga yang mengatakan itu adalah hari-hari raya Yahudi, atau hari puasa (bdk. Luk 18:12). Tetapi ia menolak kalau ini diartikan menunjuk pada Sabat Kristen / Minggu.

Editor dari Calvin’s Commentary mengatakan bahwa ini bukan Sabat Kristen, karena yang dibicarakan adalah hari-hari raya Yahudi, sama seperti Gal 4:10 dan Kol 2:16 (Calvin, hal 498, footnote).

Charles Hodge: “Paul has reference to the Jewish festivals, and therefore his language cannot properly be applied to the Christian Sabbath. ... The principle which the apostle enforces in reference to this case, is the same as that which he enjoined in relation to the other, viz., that one man should not be forced to act according to another man’s conscience, but every one should be satisfied in his own mind, and be careful not to do what he thought wrong” (= ) - ‘Romans’, hal 420.

John Brown mengatakan bahwa gereja Roma, sama seperti banyak gereja mula-mula yang lain, terdiri dari orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi. Orang-orang non Yahudi menganggap bahwa hukum-hukum ceremonial sudah dihapuskan, tetapi orang-orang Yahudi menganggap itu tetap berlaku, dan ada di antara mereka orang-orang yang berusaha untuk memaksakan pengertian mereka kepada yang lain.

2.   Kata-kata ‘sama saja’ pada Ro 14:5 seharusnya tidak ada.

Lit: ‘tetapi yang lain menilai setiap hari’.

Barnes’ Notes: “The word ‘alike’ is not in the original, and it may convey an idea which the apostle did not design” (= Kata ‘sama saja’ tidak ada dalam bahasa aslinya, dan itu bisa memberikan suatu gagasan yang tidak dimaksudkan oleh sang rasul) - hal 654.

Adam Clarke: “We add here ‘alike,’ and make the text say what I am sure was never intended, viz. that there is no distinction of days, not even of the Sabbath: and that every Christian is at liberty to consider even this day to be holy or not holy, as he happens to be persuaded in his own mind. That the Sabbath is of lasting obligation may be reasonably concluded from its institution ...  and from its typical reference. All allow that the Sabbath is a type of that rest in glory which remains for the people of God. Now, all types are intended to continue in full force till the antitype, or thing signified, take place; consequently, the Sabbath will continue in force till the consummation of all things. The word ‘alike’ should not be added; nor is it acknowledged by any MS. or ancient version” [= Kita menambahkan di sini ‘sama saja’, dan membuat text itu mengatakan apa yang saya yakin tidak pernah dimaksudkan oleh text itu, yaitu bahwa tidak ada perbedaan hari-hari, bahkan tidak tentang Sabat: dan bahwa setiap orang Kristen bebas untuk menganggap hari ini kudus atau tidak kudus, sebagaimana yang ia yakini dalam pikirannya. Bahwa Sabat merupakan kewajiban yang kekal bisa disimpulkan secara masuk akal dari penegakannya ... dan dari penggunaannya sebagai TYPE. Semua orang mengakui bahwa Sabat merupakan suatu TYPE dari istirahat dalam kemuliaan yang tertinggal untuk umat Allah. Semua TYPE dimaksudkan untuk tetap berlaku sampai ANTI TYPEnya, atau hal yang ditunjuknya, terjadi; dan karena itu Sabat akan terus berlaku sampai akhir / penyempurnaan dari segala sesuatu. Kata ‘sama saja’ tidak seharusnya ditambahkan; juga itu tidak diakui oleh manuscripts atau versi kuno manapun] - hal 151.

3.   Kata-kata ‘Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri’.

Barnes’ Notes: “Every man is to examine them for himself, and act accordingly. This direction pertains to the subject under discussion, and not to any other. It does not refer to subjects that were morally wrong, but to ceremonial observances. ... The word ‘fully persuaded’ denotes the highest conviction - not a matter of opinion or prejudice, but a matter on which the mind is made up by examination. ... This is the general principle on which Christians are called to act in relation to festival days and fasts in the church. If some Christians deem them to be for edification, and suppose that their piety will be promoted by observing the days which commemorate the birth, and death, and temptations of the Lord Jesus, they are not to be reproached or opposed in their celebration. Nor are they attempt to impose them on others as a matter of conscience, or to reproach others because they do not observe them” (= Setiap orang harus memeriksanya untuk dirinya sendiri, dan bertidak sesuai dengan hal itu. Pengarahan ini berlaku untuk pokok yang sedang dibicarakan, dan bukan untuk hal-hal lain. Itu tidak menunjuk pada sesuatu yang salah secara moral, tetapi pada pemeliharaan upacara. Kata-kata ‘benar-benar yakin’ menunjuk pada keyakinan yang tertinggi - bukan persoalan pandangan atau prasangka, tetapi persoalan dimana pikiran ditetapkan oleh pemeriksaan. ... Ini merupakan prinsip umum yang menjadi dasar tindakan orang Kristen dalam persoalan hari-hari raya dan puasa dalam gereja. Jika orang-orang Kristen tertentu menganggap hal-hal itu berguna untuk pendidikan dan menganggap bahwa kesalehan mereka ditingkatkan oleh pemeliharaan hari-hari yang memperingati kelahiran, dan kematian, dan pencobaan dari Tuhan Yesus, mereka tidak boleh dicela atau ditentang dalam perayaan mereka. Tetapi mereka juga tidak boleh berusaha untuk memaksakan hal itu kepada orang-orang lain sebagai persoalan hati nurani, atau mencela orang-orang lain karena mereka tidak memelihara hari-hari itu) - hal 655.

Jadi ada 2 hal yang ditekankan oleh Barnes:

·        kata-kata ini tidak boleh diberlakukan untuk segala hal. Misalnya: kalau kita yakin bahwa kita boleh mempunyai lebih dari satu istri, maka kita boleh melakukannya. Ini tentu ngawur! Jadi, kata-kata ini hanya berlaku untuk pemeliharaan hal-hal yang bersifat upacara keagamaan yang merupakan hal yang remeh, dan tidak untuk hal-hal yang lain.

·        keyakinan seseorang itu harus didapatkan melalui penyelidikan, tentunya terhadap Firman Tuhan.

b)   Apakah Ro 14:5-6 ini bertentangan dengan Gal 4:9-11 dan Kol 2:16-17? Mengapa dalam Gal 4:9-11 dan Kol 2:16-17 Paulus seakan-akan menentang pemeliharaan hari raya, sedangkan dalam Ro 14:5-6 Paulus menoleransi pemeliharaan hari raya?

1.   Karena dalam jemaat Roma pemeliharaan hari raya itu tidak berhubungan dengan kesesatan, sedangkan dalam jemaat Galatia dan Kolose pemeliharaan hari raya itu berhubungan dengan kesesatan.

John Murray (NICNT): “in the other epistles (Gal. 4:10,11; Col. 2:16,17) the observance of days, because of its association with the heresies prevalent in the Galatians and Colossian churches, is unsparingly condemned. The observance in the church at Rome is tolerated because it was not bound with heresy” [= dalam surat-suratnya yang lain (Gal 4:10-11; Kol 2:16-17), orang-orang yang memelihara hari-hari, karena penggabungannya dengan kesesatan yang lazim di gereja-gereja Galatia dan Kolose, dikecam dengan keras. Pemeliharaan (hari) di gereja Roma ditoleransi karena itu tidak terikat dengan kesesatan] - ‘The Epistle to the Romans’, vol , hal 178-179.

2.   Kesesatan apa yang dimaksudkan?

Kesesatan apa yang dihubungkan dengan perayaan hari-hari raya itu dalam jemaat Galatia dan Kolose, yang menyebabkan Paulus lalu melarang perayaan hari-hari raya itu di gereja-gereja itu?

Kata-kata ‘berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin’ dan ‘memperhambakan diri lagi’ dalam Gal 4:9 tidak menunjuk sekedar pada pemeliharaan hari raya, tetapi pada pemeliharaan hari raya sebagai cara untuk mendapatkan keselamatan.

Calvin: When he calls the ceremonies beggarly elements, he views them as out of Christ, and, what is more, as opposed to Christ. To the fathers they were not only profitable exercises and aids to piety, but efficacious means of grace. But then their whole value lay in Christ, and in the appointment of God. The false apostles, on the other hand, neglecting the promises, endeavoured to oppose the ceremonies to Christ, as if Christ alone were not sufficient [= Pada waktu ia menyebut upacara-upacara itu elemen-elemen yang miskin, ia memandang mereka sebagai di luar Kristus, dan lebih lagi sebagai bertentangan dengan Kristus. Bagi bapa-bapa (orang-orang Perjanjian Lama) hal-hal itu bukan hanya merupakan hal-hal yang menguntungkan dan menolong kesalehan, tetapi merupakan jalan kasih karunia yang mujarab. Tetapi pada saat itu nilai sepenuhnya dari hal-hal itu ada di dalam Kristus, dan dalam penetapan Allah. Di sisi yang lain, rasul-rasul palsu itu, sambil mengabaikan janji-janji, berusaha untuk mempertentangkan upacara-upacara itu dengan Kristus, seakan-akan Kristus sendiri tidaklah cukup] - hal 123.

William Hendriksen: “Are they really going back to their former state of slavery, with this difference that they will be exchanging one type of bondage (to heathenism) for another (to Judaism)? ... Formerly they had been enslaved by the childish teachings of pagan priests and ritualists. ... Having been delivered from all this folly, do they now wish to become enslaved all over again, this time by Judaistic regulations?” [= Apakah mereka betul-betul kembali kepada keadaan perbudakan mereka yang dahulu, dengan perbedaan dimana mereka akan menukar sejenis perbudakan (kepada kekafiran) dengan perbudakan yang lain (kepada Yudaisme)? ... Dahulu mereka diperbudak oleh ajaran-ajaran yang kekanak-kanakan dari imam-imam kafir dan orang-orang yang menekankan upacara keagamaan. ... Setelah dibebaskan dari semua kebodohan ini, apakah sekarang mereka ingin diperbudak kembali, kali ini pada peraturan-peraturan Yudaisme?] - hal 163.

William Hendriksen: “Paul calls these ‘rudiments’ weak and beggarly because they have no power to help man in any way. Luther, commenting on this verse and applying the lesson to his own day, tells us that he had known monks who zealously labored to please God for salvation, but the more they labored the more impatient, miserable, uncertain, and fearful they became. And he adds, ‘People who prefer the law to the gospel are like Aesop’s dog who let go of the meat to snatch at the shadow in the water ... The law is weak and poor, the sinner is weak and poor: two feeble beggars trying to help each other. They cannot do it. They only wear each other out. But through Christ a weak and poor sinner is revived and enriched unto eternal life.’” (= Paulus menyebut elemen-elemen ini lemah dan miskin karena mereka tidak mempunyai kuasa untuk menolong manusia dengan cara apapun. Luther, mengomentari ayat ini dan menerapkannya pada jamannya sendiri, mengatakan bahwa ia mengenal biarawan-biarawan yang berjerih payah dengan bersemangat untuk menyenangkan Allah untuk keselamatan, tetapi makin mereka berjerih payah, makin mereka menjadi tidak sabar, menyedihkan / tidak senang, tidak pasti, dan takut. Dan ia menambahkan: ‘Orang-orang yang lebih memilih hukum Taurat dari pada injil sama seperti anjingnya Aesop yang melepaskan daging untuk menggigit bayangan di air ... Hukum Taurat itu lemah dan miskin, orang berdosa itu lemah dan miskin: dua pengemis yang lemah berusaha menolong satu terhadap yang lainnya. Mereka tidak bisa melakukannya. Mereka hanya melelahkan satu sama lain. Tetapi melalui Kristus seorang berdosa yang lemah dan miskin disegarkan / dihidupkan lagi dan diperkaya sampai hidup yang kekal’) - hal 165.

William Barclay: “It is weak because it is helpless. It can define sin; it can convict a man of sin; but it can neither find for him forgiveness for past sin nor strength to conquer future sin” (= Hal itu lemah karena hal itu tidak berdaya. Hal itu bisa mendefinisikan dosa; hal itu bisa menyadarkan / meyakinkan seseorang akan dosanya; tetapi hal itu tidak bisa mendapatkan untuknya pengampunan untuk dosa-dosa yang lalu maupun kekuatan untuk mengalahkan dosa yang akan datang) - hal 36.

Adam Clarke: “After receiving all this, will you turn again to the ineffectual rites and ceremonies of the Mosaic law - rites too weak to counteract your sinful habits, and too poor to purchase pardon and eternal life for you?” (= Setelah menerima semua ini, apakah kamu mau berbalik lagi kepada upacara-upacara yang tidak efektif dari hukum Musa - upacara-upacara yang terlalu lemah untuk menetralkan kebiasaan berdosamu, dan terlalu miskin untuk membeli pengampunan dan hidup kekal bagimu?) - hal 404.

Barnes’ Notes: “They are called ‘weak’ because they had no power to save the soul; no power to justify the sinner before God. They are called ‘beggarly,’ (Greek, ptwca , poor,) because they could not impart spiritual riches” (= Mereka disebut ‘lemah’ karena mereka tidak mempunyai kuasa untuk menyelamatkan jiwa; tidak mempunyai kuasa untuk membenarkan orang berdosa di hadapan Allah. Mereka disebut miskin karena mereka tidak bisa memberikan kekayaan rohani) - hal 947.

Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan ‘berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin’ maupun ‘memperhambakan diri lagi’, bukanlah sekedar pemeliharaan hari-hari raya tersebut, tetapi pemeliharaan hari-hari raya sebagai cara untuk mendapatkan keselamatan!

Calvin: “To bring back Christianity to Judaism, was in itself no light evil; but far more serious mischief was done, when, in opposition to the grace of Christ, they set up holidays as meritorious performances, and pretended that this mode of worship would propitiate the divine favour. When such doctrines were received, the worship of God was corrupted, the grace of Christ made void, and the freedom of conscience oppressed” (= Membawa kembali kekristenan kepada Yudaisme, bukanlah kejahatan yang ringan; tetapi kesalahan yang jauh lebih serius dilakukan pada waktu mereka, untuk mempertentangkan dengan kasih karunia Kristus, menegakkan hari-hari raya sebagai perbuatan yang layak mendapatkan pahala, dan mengclaim bahwa cara penyembahan ini akan menyebabkan Allah menjadi baik / berkenan) - hal 125.

Hendriksen menganggap Gal 4:10 ini sebagai contoh dari ‘berbalik kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin’ dalam Gal 4:9. Ia juga mengatakan bahwa karena dalam surat ini Paulus menyerang doktrin salvation by works (= keselamatan oleh perbuatan baik) dari Yudaisme.

William Hendriksen: “Paul is saying that strict observance of such days and festivals has nothing whatever to do with securing the divine favor” (= Paulus mengatakan bahwa pemeliharaan yang ketat terhadap hari-hari dan hari-hari raya seperti itu tidak mempunyai hubungan apapun dengan memastikan kebaikan ilahi) - hal 166.

William Barclay: “The failure of a religion which is dependent on special occasions is that almost inevitably it divides days into sacred and secular; and the further almost inevitable step is that when a man has meticulously observed the sacred days he is liable to think that he has discharged his duty to God. ... For real Christian every day is God’s day” (= Kegagalan / kehancuran dari sebuah agama yang bergantung pada saat-saat khusus adalah bahwa hampir tak terhindarkan mereka membagi hari-hari menjadi hari-hari yang kudus dan hari-hari yang duniawi; dan langkah selanjutnya yang juga hampir tak terhindarkan adalah bahwa pada saat seseorang telah memelihara secara sangat cermat / teliti hari-hari kudus itu, besar kemungkinannya bahwa ia berpikir bahwa ia sudah melakukan kewajibannya terhadap Allah. ... Untuk orang Kristen yang sejati, setiap hari adalah hari Allah) - hal 36.

William Barclay: “It was Paul’s fear that men who had once known the splendour of grace would slip back to legalism, and that men who had once lived in the presence of God would shut him up to special days” [= Paulus takut bahwa orang-orang yang pernah mengenal kemegahan kasih karunia akan tergelincir kembali kepada legalisme (penekanan ketaatan untuk keselamatan), dan bahwa orang-orang yang pernah hidup di hadapan Allah akan mengurung Dia pada / untuk hari-hari khusus] - hal 37.

Jadi, jelaslah bahwa dalam jemaat Galatia dan Kolose, Paulus melarang pemeliharaan hari raya, karena mereka merayakan hari raya itu sebagai cara untuk mendapatkan keselamatan. Sedangkan dalam jemaat Roma, karena mereka tidak mempunyai motivasi sesat seperti itu dalam perayaan hari raya, maka Paulus memberikan kebebasan. Dengan demikian jelaslah bahwa Kol 2:16 dan Gal 4:9-11 sama sekali tidak bisa dipakai untuk menentang perayaan Natal, kecuali ada orang-orang yang merayakan Natal sebagai suatu sarana untuk mendapatkan keselamatan.

Penutup / kesimpulan:

Saya sama sekali tidak setuju dengan penghapusan perayaan Natal, karena saya menganggap bahwa perayaan Natal itu sangat berguna. Tetapi supaya perayaan Natal itu tidak menyandungi orang-orang tertentu, mari kita memurnikan perayaan Natal tersebut. Selalulah berhati-hati supaya tidak memasukkan unsur-unsur yang salah ke dalam perayaan Natal. Juga selalulah membuatnya berguna dan membangun, baik dengan memberitakan Injil, mengadakan acara untuk mengakrabkan, dan juga mengambil waktu secara pribadi untuk merenungkan kasih Tuhan pada Natal, supaya saudara sendiri bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan melalui perayaan Natal tersebut.

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com