Eksposisi Injil Lukas

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


LUKAS 8:4-21

I) Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan.

1)   Banyak orang datang kepada Yesus dari tempat-tempat yang jauh (ay 4).

a)   Sekalipun kelihatannya ada banyak orang datang kepada Yesus, tetapi sesuai dengan perumpamaan ini, yang sungguh-sungguh cuma sedikit.

Dalam Luk 9:10-17 ada cerita tentang Yesus memberi makan 5000 orang, dan dari cerita ini terlihat bahwa yang ‘mengikut’ Yesus ada ribuan orang. Dalam Injil Yohanes cerita tersebut ada dalam Yoh 6:1-14, dan pada akhir dari Yoh 6 diceritakan bahwa banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak mengikuti Yesus lagi (Yoh 6:66). Jadi jelas bahwa pengikut sejati memang hanya sedikit. Apakah saudara termasuk yang sedikit itu?

b)   Bahwa mereka mau datang dari tempat yang jauh, tidak membuktikan bahwa mereka betul-betul berniat mencari Yesus dan firmanNya.

Bisa saja mereka datang hanya karena ingin tahu, hanya ikut-ikutan, atau untuk mencari kesembuhan, dan berkat-berkat jasmani yang lain.

Bdk. Yoh 6:26-27 - “Yesus menjawab mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meteraiNya.’”.

Bahwa Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang penabur ini untuk mereka, dan tidak menjelaskannya untuk mereka, jelas menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka bukanlah ‘tanah yang baik’ (ay 8).

Calvin: “if those who ran from distant places to Christ, like hungry persons, are compared to an unproductive and barren soil, we need not wonder if, in our own day, the Gospel does not yield fruit in many, of whom some are lazy and sluggish, others hear with indifference, and others are scarcely drawn even to hear” (= jika mereka yang datang dari tempat yang jauh kepada Kristus, seperti orang-orang yang lapar, dibandingkan dengan tanah yang tidak produktif dan gersang, kita tidak perlu heran jika, pada jaman kita, Injil tidak memberikan buah dalam banyak orang, yang sebagian di antaranya malas dan pasif / lamban, sedangkan yang lain mendengar dengan sikap acuk tak acuh, dan yang lain hampir-hampir tidak mendengar) - hal 101.

2)   Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan.

a)   Persamaan dan perbedaan antara perumpamaan dengan dongeng.

Baik perumpamaan maupun dongeng menekankan suatu kebenaran moral, tetapi dalam dongeng ceritanya hanya merupakan khayalan yang tidak masuk akal, seperti binatang berbicara dsb, sedangkan dalam perumpamaan ceritanya bukan khayalan tetapi betul-betul bisa terjadi (Pulpit Commentary, hal 201-202).

b)   Sebetulnya sebelum saat ini Yesus sudah pernah mengajar dengan menggunakan perumpamaan, misalnya dalam Mat 7:24-27. Tetapi sebelum saat ini, Yesus tidak banyak mengajar dengan menggunakan perumpamaan, dan perumpamaan-perumpamaan yang Ia berikan pendek-pendek, dan cukup jelas artinya. Tetapi mulai saat ini Yesus mengajar dengan banyak perumpamaan, dan perumpamaan-perumpamaan itu panjang-panjang, dan tidak bisa dimengerti kecuali dijelaskan.

3)   Mengapa Yesus mengajar dengan menggunakan perumpamaan?

a)   Apakah ay 9 bertentangan dengan Mat 13:10?

Ay 9: “Murid-muridNya bertanya kepadaNya, apa maksud perumpamaan itu”.

Mat 13:10  - “Maka datanglah murid-muridNya dan bertanya kepadaNya: ‘Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?’”.

Ini bukan kontradiksi, tetapi saling melengkapi. Jadi sebetulnya mereka menanyakan kedua pertanyaan ini; Matius menceritakan yang satu, Lukas menceritakan yang lain. Luk 8:10 / Mat 13:11-17 menjawab pertanyaan dalam Mat 13:10; sedangkan penjelasan arti perumpamaan ini (Luk 8:11-15 / Mat 13:18-23) menjawab pertanyaan dalam Luk 8:9.

b)   Alasan / tujuan Yesus mengajar dengan perumpamaan ada dalam Luk 8:10 - “Lalu Ia menjawab: ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti”.

1.   ‘Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah’.

a.   ‘diberi karunia’.

Calvin: “Christ, by declaring that it was ‘given’ to them, excludes all merit. Christ declares that there are certain and elect men, on whom God specially bestows this honour of revealing to them his secrets, and that others are deprived of this grace. No other reason will be found for this distinction, except that God calls to himself those whom he has gratuitously elected” (= Kristus, dengan menyatakan bahwa hal itu ‘diberikan’ kepada mereka, membuang semua jasa / kebaikan. Kristus menyatakan bahwa ada orang-orang tertentu dan pilihan, kepada siapa Allah secara khusus memberikan kehormatan dengan menyatakan kepada mereka rahasia-rahasiaNya, dan orang-orang yang lain tidak diberi kasih karunia ini. Tidak ada alasan lain akan ditemukan untuk pembedaan ini, kecuali bahwa Allah memanggil kepada diriNya sendiri, mereka yang telah dipilihNya dengan murah hati / penuh kasih karunia) - hal 104.

David Gooding mengatakan (hal 140) bahwa mula-mula para murid sama tidak mengertinya dengan orang-orang lain. Tetapi mereka mempunyai keinginan / kerinduan untuk mengerti, dan karena itu mereka bertanya kepada Yesus, dan mendapatkan penjelasan (ay 9-dst).

Tetapi kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa para murid diberi pengertian karena mereka lebih baik dari pada orang banyak tersebut. Orang banyak itu tidak rindu pada Firman Tuhan, sedangkan mereka rindu. Mengapa? Karena kerinduan itu merupakan pemberian Tuhan (bdk. Kis 16:14b)! Dan Tuhan memberikannya hanya kepada orang-orang pilihanNya.

Bandingkan dengan komentar Calvin tentang ay 8b: “Setelah berkata demikian Yesus berseru: ‘Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”, dimana Calvin berkata sebagai berikut:

“he makes distinction among the hearers, by pronouncing some to have ears, and others to be deaf. If it is next inquired, how it comes to pass that the former have ears, Scripture testifies in other passages, that it is the Lord who pierces the ears, (Psalm 40:7,) and that no man obtains or accomplishes this by his own industry” [= Ia membedakan para pendengar, dengan menyatakan bahwa sebagian mempunyai telinga, dan yang lain tuli. Jika selanjutnya ditanyakan: bagaimana bisa terjadi bahwa yang pertama mempunyai telinga, Kitab Suci menyaksikan dalam text-text yang lain, bahwa Tuhanlah yang menusuk / membuka telinga (Maz 40:7), dan bahwa tidak seorangpun mendapatkan atau mencapai hal ini oleh kerajinannya sendiri] - hal 101.

Maz 40:7 - “Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut”.

b.   ‘rahasia’.

Leon Morris (Tyndale): “To them are revealed ‘the secrets of the kingdom of God.’ ‘Secrets’ (MUSTERIA) are truths which man could never discover for himself, but which God has revealed” [= Kepada mereka dinyatakan ‘rahasia dari Kerajaan Allah’. ‘Rahasia’ (MUSTERIA) adalah kebenaran-kebenaran yang tidak pernah bisa ditemukan oleh manusia untuk dirinya sendiri, tetapi yang telah dinyatakan oleh Allah] - hal 151-152.

David Gooding: “God’s way of salvation, that is, his way of establishing his kingdom, is admittedly a mystery; though the word ‘mystery’ has a somewhat different meaning on the lips of Christ from what it has in our normal modern parlance. He means that God’s was of salvation is a plan devised by God which no-one would ever have known anything about if God had not revealed it” (= Jalan keselamatan Allah, yaitu caraNya untuk menegakkan kerajaanNya, diakui merupakan suatu misteri / rahasia; sekalipun kata ‘rahasia / misteri’ mempunyai arti yang agak berbeda di bibir Kristus dari artinya dalam percakapan modern yang normal. Ia memaksudkan bahwa jalan keselamatan Allah merupakan suatu rencana yang direncanakan oleh Allah yang tak akan pernah diketahui oleh siapapun seandainya Allah tidak menyatakannya) - hal 140.

William Hendriksen: “By no means has this mystery been revealed to all. That it was made known to us was pure grace. Hence, all the more we should, with gratitude to God, share what we have freely received. ‘Woe to me if I do not preach the gospel’ (1Cor. 9:16)” [= Rahasia / misteri ini sama sekali tidak dinyatakan kepada semua orang. Bahwa itu dinyatakan kepada kita, itu merupakan kasih karunia yang murni. Jadi, kita harus lebih membagikan apa yang kita dapat dengan cuma-cuma, dengan rasa syukur kepada Allah. ‘Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil’ (1Kor 9:16)] - hal 432.

2.   ‘tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti’.

Kata Yunaninya: HINA (= ‘that’ / ‘supaya’). Ini menunjukkan tujuan penggunaan perumpamaan.

Mark 4:11-12 - “JawabNya: ‘Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.’”.

Jadi, Markus juga menggunakan kata Yunani HINA.

Mat 13:13 - “Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti”.

Matius menggunakan kata Yunani HOTI (= ‘because’ / ‘karena’). Ini menunjukkan alasan penggunaan perumpamaan.

A. T. Robertson: “Jesus speaks in parables because the multitudes see without seeing and hear without hearing. But He also speaks in parable in order that they may see without seeing and hear without hearing” (= Yesus berbicara dalam perumpamaan-perumpamaan karena orang banyak memandang tanpa melihat dan mendengar tanpa menanggap. Tetapi Ia juga berbicara dalam perumpamaan supaya mereka memandang tanpa melihat dan mendengar tanpa menanggap) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 2, hal 113.

Jadi, yang salah pertama-tama adalah para pendengar yang brengsek ini. Karena itu, sebagai hukuman, Yesus mengajar dalam perumpamaan, supaya mereka makin tidak mengerti ajaranNya.

William Hendriksen: “It was because by their own choice these impenitent Pharisees and their followers had refused to see and hear, that, as a punishment for this refusal, they are now addressed in parables, that (or in order that) seeing, they may not see; and hearing, they may not understand” (= Adalah karena pilihan mereka sendiri orang-orang Farisi yang tidak bertobat dan para pengikut mereka telah menolak untuk melihat dan mendengar, sehingga, sebagai hukuman untuk penolakan ini, sekarang mereka diajar dalam perumpamaan-perumpamaan, supaya mereka memandang tetapi tidak melihat; dan mendengar tetapi tidak mengerti) - hal 425.

Calvin: “all whom God does not enlighten with the Spirit of adoption are men of unsound mind; and that, while they are more and more blinded by the word of God, the blame rests wholly on themselves, because this blindness is voluntary” (= semua yang tidak diterangi oleh Allah dengan Roh adopsi adalah orang-orang dengan pikiran yang tidak sehat; dan bahwa sementara mereka makin lama makin dibutakan oleh firman Allah, kesalahan sepenuhnya berada pada diri mereka sendiri, karena kebutaan ini terjadi secara sukarela) - hal 108.

Jadi jelas bahwa bagi para pendengar yang brengsek itu, pengajaran menggunakan perumpamaan merupakan sesuatu yang bersifat penghakiman / penghukuman, dan ini memisahkan pencari firman yang sungguh-sungguh dan yang sambil lalu / asal-asalan.

Leon Morris (Tyndale): “The crowds were thronging about Jesus. He was becoming a popular preacher. But He looked for more than a superficial adherence, so He intensified His use of parables, stories which yielded their meaning only to those who were prepared to search for them. The parables demand thought and spiritual earnestness. They separate the sincere seeker from the casual hearer” (= Orang banyak berdesak-desakan di sekitar Yesus. Ia menjadi pengkhotbah yang populer. Tetapi Ia mencari sesuatu yang lebih dari sekedar kesetiaan yang dangkal / lahiriah, jadi Ia meningkatkan penggunaan perumpamaan-perumpamaan, cerita-cerita yang memberikan artinya hanya kepada mereka yang siap untuk mencarinya. Perumpamaan-perumpamaan ini menuntut pemikiran dan kesungguhan rohani. Mereka memisahkan pencari yang sungguh-sungguh dari pendengar yang sambil lalu) - hal 150.

Leon Morris (Tyndale): “Parables both reveal and conceal the truth; they reveal it to the genuine seeker who will take the trouble to dig beneath the surface and discover the meaning, but they conceal it from him who is content simply to listen to the story. ... Parables are a mine of information to those who are in earnest, but they are a judgment on the casual and careless” (= Perumpamaan menyatakan dan menyembunyikan kebenaran; perumpamaan menyatakannya kepada pencari yang sungguh-sungguh yang mau berjerih payah untuk menggali di bawah permukaan dan menemukan artinya, tetapi perumpamaan menyembunyikannya dari dia yang puas dengan sekedar mendengarkan ceritanya. ... Perumpamaan adalah suatu tambang informasi bagi mereka yang sungguh-sungguh, tetapi merupakan suatu penghakiman bagi orang-orang yang sambil lalu dan ceroboh) - hal 152.

Pulpit Commentary mengutip kata-kata Godet: “The veil which it (the parable) throws over the truth becomes transparent to the attentive mind, while it remains impenetrable to the careless” (= Selubung yang dilemparkan ke atas kebenaran oleh perumpamaan itu menjadi transparan bagi pikiran yang penuh perhatian, sementara itu tetap tidak bisa ditembus bagi orang-orang yang ceroboh / sembarangan) - hal 203.

Pulpit Commentary: “The element of judgment in parabolic teaching. ... While to a docile and childlike spirit a parable sets truth in its most attractive aspect, to a proud, self-sufficient spirit it veils and hides the truth. It is light or darkness according to our spiritual attitude” (= Elemen penghakiman dalam pengajaran yang menggunakan perumpamaan. ... Sementara bagi roh / semangat yang patuh dan seperti anak suatu perumpamaan menyatakan kebenaran dalam aspeknya yang paling menarik, bagi roh / semangat yang sombong dan merasa dirinya cukup perumpamaan itu menyelubungi dan menyembunyikan kebenaran. Itu adalah terang atau gelap menurut sikap rohani kita) - hal 228,229.

Pulpit Commentary: “Those who did not wish to learn were sent away with the feeling, A dark saying has been uttered: who can hear it?” (= Mereka yang tidak ingin belajar akan pergi dengan perasaan: Suatu kata-kata yang gelap telah diucapkan: siapa bisa mendengarnya?) - hal 211.

Pernahkah setelah mendengar suatu khotbah saudara berpikir dalam hati: ‘Ngomong apa sih pengkhotbah itu?’. Ini memang bisa terjadi karena kesalahan pengkhotbah, yang berkhotbah secara ruwet / tidak jelas. Tetapi ini juga bisa terjadi karena kesalahan pendengar, yang karena memang tidak rindu terhadap Firman Tuhan, tidak diberi pengertian oleh Tuhan.

3.   Tuhan punya cara lain untuk membuat orang tidak mengerti firmanNya.

Calvin: “the word of God is not obscure, except so far as the world darkens it by its own blindness. And yet the Lord conceals its mysteries, so that the perception of them may not reach the reprobate. There are two ways in which he deprives them of the light of his doctrine. Sometimes he states, in a dark manner, what might be more clearly expressed; and sometimes he explains his mind fully, without ambiguity and without metaphor, but strikes their senses with dulness and their minds with stupidity, so that they are blind amidst bright sunshine” (= firman Allah tidaklah merupakan sesuatu yang kabur / tidak jelas, kecuali dunia menggelapkannya dengan kebutaan mereka sendiri. Dan Tuhan menyembunyikan misteri-misterinya, sehingga pengertian tentang hal itu tidak mencapai orang-orang yang ditetapkan untuk binasa. Ada 2 jalan dengan mana Ia tidak memberi mereka terang dari doktrin / ajaranNya. Kadang-kadang Ia menyatakan, dengan cara yang gelap, sesuatu yang bisa dinyatakan secara lebih jelas; dan kadang-kadang Ia menjelaskan pikiranNya secara penuh, tanpa arti ganda dan tanpa kiasan, tetapi Ia memukul pengertian mereka dengan ketumpulan dan pikiran mereka dengan kebodohan, sehingga mereka buta di tengah-tengah matahari yang terang) - hal 102-103.

4.   Ketidak-mengertian terhadap Firman Tuhan ini mempunyai resiko yang sangat hebat!

Ini tidak terlihat dalam Injil Lukas, tetapi terlihat dalam Injil Matius dan Markus, karena dalam Matius dan Markus ada tambahan kata-kata yang tidak ada dalam Lukas.

Mat 13:15 - “Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka.

Mark 4:12 - “supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.’”.

Kesembuhan yang dibicarakan oleh Matius jelas tidak mungkin diartikan sebagai kesembuhan jasmani, tetapi harus diartikan sebagai kesembuhan rohani. Dan kalau diartikan demikian, menjadi sama dengan Markus yang menggunakan kata ‘mendapatkan ampun’.

Jadi, ketidak-mengertian terhadap Firman Tuhan berhubungan dengan keselamatan kekal!

Kesimpulan: kerinduan terhadap Firman Tuhan merupakan sesuatu yang sangat penting. Memang bagi orang-orang yang bukan pilihan, Allah tidak akan memberikannya, sehingga mereka tidak akan pernah bisa rindu dengan sungguh-sungguh. Tetapi bagi orang-orang pilihan / orang kristen yang sejati, yang sudah rindu Firman Tuhan, kerinduan itu perlu dijaga / ditingkatkan dengan cara betul-betul belajar Firman Tuhan, mempercayainya dan mentaatinya. Perlu diketahui bahwa:

Karena itu, rajin dan tekunlah dalam belajar Firman Tuhan, dan taatlah kepada Firman Tuhan!

II) Perumpamaan tentang seorang penabur dan artinya.

1)   Tanah tepi jalan, yang merupakan tanah yang keras sehingga tak memungkinkan benih itu bertumbuh.

Ay 5b,12 - “(5) ... sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. ... (12) Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan”.

a)   Ay 12: ‘Iblis’ [HO DIABOLOS (= the devil)].

Mat 13:19 - ‘si jahat’.

Mark 4:15 - ‘Iblis’ [HO SATANAS (= the Satan)].

Adam Clarke: “It is worthy of remark, that the three evangelists should use each a different appellative of this mortal enemy of mankind; probably to show that the devil, with all his powers and properties, opposes every thing that tends to the salvation of the soul” [= Merupakan sesuatu yang perlu diperhatikan bahwa ketiga penginjil (Matius, Markus, Lukas) masing-masing menggunakan sebutan yang berbeda tentang musuh manusia ini; mungkin untuk menunjukkan bahwa setan, dengan semua kuasa dan miliknya, menentang segala sesuatu yang mempunyai kecenderungan pada keselamatan jiwa] - hal 145.

b)   Ay 12 ini menunjukkan bahwa setan pasti ada di gereja / di manapun Injil / Firman Allah disampaikan!

Banyak orang yang menganggap bahwa setan senang untuk berada di kuburan-kuburan.

Pdt. Drs. Yesaya Pariadji: “Kalau anda ingin tahu, gudangnya setan-setan adalah di kuburan-kuburan. ... Rumah-rumah sakit, terutama di ruang I.C.U. juga gentayangan setan-setan. Setan-setan akan berusaha dan mencari kesempatan untuk menerkam orang-orang yang menjelang ajal, masuk alam roh” - ‘Majalah Tiberias’, Edisi V / Tahun II, hal 40.

Adalah sesuatu yang menggelikan bahwa ada banyak orang percaya, apalagi kalau ia seorang pendeta, bahwa setan paling senang ada di kuburan-kuburan. Apa yang dia lakukan di sana? Siapa yang dia goda? Mungkin memang ada setan di sana, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran yang jelek tentang kuburan, dan supaya banyak orang percaya bahwa setan senang di sana, supaya dengan demikian orang-orang itu tidak menyadari bahwa tempat yang paling dia senangi adalah gereja / tempat dimana Firman Tuhan / Injil disampaikan. Mengapa tempat ini ia senangi? Sebetulnya ia ada di sana jelas bukan karena ia menyenangi tempat itu, tetapi karena ia tahu bahwa di tempat itu Injil / Firman Tuhan diberitakan, sehingga kalau ia tidak bekerja di sana, akan ada banyak orang yang bertobat dan mengikut Tuhan.

c)   Adanya pekerjaan setan ini tidak berarti bahwa orang yang termasuk ‘tanah tepi jalan’ ini tidak bersalah.

William Hendriksen: “By no means does Jesus excuse these people, as if only the devil and not they themselves were responsible for what happened to the divine message that had been spoken to them. Verse 12 does not cancel verse 8b or verse 18a! But here in verse 12 these frivolous hearers are being told that in treating the word of God so lightly they are co-operating with the prince of evil, whose purpose is to prevent them from believing and being saved!” [= Yesus sama sekali tidak memaafkan / memberi dalih untuk orang-orang ini, seakan-akan hanya setan dan bukan mereka sendiri yang bertanggung jawab untuk apa yang terjadi pada berita / pesan ilahi yang telah diucapkan kepada mereka. Ayat 12 tidak membatalkan ayat 8b (‘Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’) atau ayat 18a (‘Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar’)! Tetapi di sini dalam ayat 12 para pendengar yang sembrono ini diberitahu bahwa dengan memperlakukan firman Allah dengan begitu meremehkan, mereka bekerja sama dengan pangeran dari kejahatan, yang tujuannya adalah menghalangi mereka percaya dan diselamatkan!] - hal 426.

Setan memang kurang ajar, tetapi pada saat saudara berbuat dosa, saudara tidak bisa mengkambing-hitamkan setan, dan menggunakan dia sebagai dalih untuk menutupi kesalahan saudara!

d)   Beberapa alasan yang menyebabkan seseorang menjadi ‘tanah tepi jalan’.

William Hendriksen: “These people do nothing with the message. They do not use it to good advantage. ‘Immediately’ after they have heard it, any favorable effect it might have had on them is annihilated. What accounts for their negative reaction? Perhaps it is ill will toward the messenger. Or perhaps hostility with respect to this particular message. Or they do not wish to be inconvenienced (Acts 24:25). The spirit of indifference may have crept into them, perhaps little by little until it was total, their hearts having become as hard as the path on which the seed of the parable was scattered” [= Orang-orang ini tidak melakukan apa-apa dengan berita / pesan itu. Mereka tidak menggunakannya untuk keuntungan mereka. ‘Segera’ setelah mereka mendengarnya, akibat yang menyenangkan apapun yang bisa terjadi pada diri mereka dihapuskan. Apa yang menyebabkan reaksi negatif ini? Mungkin sikap yang tidak baik terhadap pemberitanya. Atau mungkin permusuhan / ketidak senangan berkenaan dengan berita yang khusus itu. Atau mereka tidak ingin merasa susah (Kis 24:25). Sikap hati yang acuh tak acuh bisa telah masuk perlahan-lahan ke dalam diri mereka, mungkin sedikit demi sedikit sampai menyeluruh, hati mereka telah menjadi sekeras tanah tepi jalan dimana benih dari perumpamaan itu disebarkan] - hal 426-427.

Kis 24:25 - “Tetapi ketika Paulus berbicara tentang kebenaran, penguasaan diri dan penghakiman yang akan datang, Feliks menjadi takut dan berkata: ‘Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau.’”.

Juga perlu diperhatikan bahwa Matius mengatakan bahwa orang-orang ini mendengar Firman tetapi ‘tidak mengertinya’ (Mat 13:19). Mungkin mereka menuruti godaan setan untuk melamun, omong-omong, dan sebagainya.

e)   Contoh dari ‘tanah tepi jalan’:

·        kedua calon menantu Lot (Kej 19:14).

·        orang-orang Kharismatik yang mendengar khotbah saya tentang bahasa Roh / baptisan. Sedikitnya 2 gereja dan satu sekolah theologia memutuskan hubungan dengan saya karena saya mengajarkan apa yang betul-betul berdasarkan Kitab Suci dan yang tidak bisa mereka bantah. Bagi mereka berlaku peribahasa: ‘buruk muka cermin dibelah’!

2)   Tanah berbatu, yang merupakan batu besar yang dilapisi tanah tipis, sehingga memungkinkan benih bertumbuh, tetapi lalu mati karena tidak berakar.

Ay 6,13: “(6) Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. ... (13) Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad”.

a)   Yang dimaksud dengan ‘tanah berbatu’ bukanlah tanah yang bercampur dengan batu-batu kecil. Di tanah yang seperti ini tanaman bisa tumbuh. Yang dimaksud dengan ‘tanah berbatu’ adalah batu besar yang dilapisi tanah tipis. Benih bisa timbuh, tetapi akarnya tidak bisa menembus batu, sehingga tiodak tahan lama. Pada waktu sinar matahari yang panas menimpa tanaman itu, ia menjadi layu / kering dan mati.

b)   Orang-orang ini mendengar firman dan menerimanya dengan gembira, tetapi mereka ini tidak berakar.

Norval Geldenhuys (NICNT): “the seed falling upon the rock, are those who, when listening to the preaching, receive it with emotional excitement and superficial enthusiasm” (= benih yang jatuh di tanah berbatu adalah mereka yang pada waktu mendengar pada pemberitaan, menerimanya dengan kegembiraan yang emosionil dan semangat / kegairahan yang palsu / lahiriah) - hal 244.

William Hendriksen: “These are emotional people. Now it is a good thing to be emotional. ... the trouble with the people symbolized by seed that fell on rock is that their emotions are superficial, not based on deep-seated convictions. These people ‘have no root.’” (= Ini adalah orang-orang yang emosionil. Adalah sesuatu yang baik untuk menjadi emosionil. ... problem dengan orang-orang yang disimbolkan oleh benih yang jatuh di tanah berbatu adalah bahwa emosi mereka palsu / lahiriah, dan tidak didasarkan pada keyakinan yang berakar. Orang-orang ini ‘tidak berakar’.) - hal 427.

Pulpit Commentary menganggap golongan ini sebagai orang-orang yang cepat-cepat membuat suatu pengakuan iman, tetapi mereka tidak menghitung ongkosnya, sehingga pada saat penderitaan / penganiayaan tiba, mereka murtad.

c)   Mereka ‘percaya sebentar saja’ dan dalam masa pencobaan mereka murtad.

Apakah ini menunjukkan bahwa iman bisa hilang? Apakah ini menunjukkan bahwa orang kristen yang sejati bisa murtad dan akhirnya binasa? Tentu saja tidak, karena ‘iman’ mereka bukanlah iman yang sejati, dan orang-orang ini tidak pernah menjadi orang kristen yang sejati.

Calvin: “According to Luke, Christ says that they believe for a time; because that honour which they render to the Gospel resembles faith” (= Menurut Lukas, Kristus berkata bahwa mereka ‘percaya sebentar saja’; karena ‘hormat yang mereka berikan kepada Injil’ menyerupai ‘iman’) - hal 115.

Jadi kata-kata ‘percaya sebentar saja’ jelas bukan merupakan fakta tetapi suatu penggambaran secara lahiriah / dari luar.

d)   Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

·        Mat 7:13-14 - “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.’”.

·        Mat 10:38 - “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu”.

·        Mat 11:6 - “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.’”.

·        Mat 24:9,10,13 - “Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu, dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci. ... Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat”.

·        Ibr 10:32-36 - “Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian. Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya. Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya. Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Kalau ada dari saudara yang saat ini sedang mengalami penderitaan dalam mengikut Tuhan, dan mungkin sedang digoda setan untuk berhenti ikut Tuhan, renungkan ayat-ayat di atas ini!

e)   Contoh dari tanah berbatu.

·        ada yang menganggap bahwa Herodes adalah salah satu contoh dari tanah berbatu ini.

Mark 6:20 - “sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Sebetulnya saya lebih condong untuk mengatakan bahwa Herodes adalah tanah tepi jalan, karena ia tidak pernah mengikut Tuhan.

·        semua orang yang berhenti ikut Kristus karena adanya penderitaan dan penganiayaan.

3)   Tanah bersemak duri.

Ay 7,14: “(7) Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. ... (14) Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang”.

a)   Ini adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan, dan mereka bukannya tidak mempedulikannya. Mereka peduli pada Firman Tuhan, tetapi mereka juga sangat peduli dengan hal-hal duniawi, bahkan mereka mengutamakan hal-hal duniawi lebih dari Tuhan dan firmanNya.

Pulpit Commentary: “These hear the Word, and, hearing it, grasp its deep solemn meaning, and for a part of each day honestly try to live the life which that Divine Word pressed home to them. But with these there is another life; side by side with the golden grain has grown up a crop of thorns, which, unless destroyed in time, will choke and utterly mar, as, alas, it often does, the true corn. Such men and women, ... try to serve two masters - God and the world” (= Orang-orang ini mendengar Firman, dan pada waktu mendengarnya mereka menangkap arti khidmatnya yang dalam, dan untuk sebagian dari setiap hari mereka dengan sungguh-sungguh hidup sebagaimana Firman Ilahi itu memberi kesan kepada mereka. Tetapi dengan hal-hal ini ada suatu kehidupan yang lain; berdampingan dengan bulir yang keemasan telah tumbuh suatu kumpulan semak duri, yang, kecuali dihancurkan pada waktunya, akan mencekik dan merusak jagung yang sejati / benar secara total, seperti yang sering terjadi. Orang-orang seperti itu, ... berusaha melayani dua tuan - Allah dan dunia) - hal 204.

Norval Geldenhuys (NICNT): “Material want or material abundance and worldly pleasures so completely absorb the lives of these people, that the fruit borne in their lives by the preaching of the Word is ere long altogether destroyed” (= Kekurangan atau kelimpahan materi dan kesenangan-kesenangan duniawi begitu menyerap kehidupan dari orang-orang ini, sehingga dalam waktu singkat buah yang dikeluarkan dalam kehidupan mereka oleh pemberitaan Firman dihancurkan sama sekali) - hal 244.

Leon Morris (Tyndale): “these people fill their lives with so many things that there is no room for spiritual fruit” (= orang-orang ini mengisi kehidupan mereka dengan begitu banyak hal sehingga tidak ada tempat untuk buah rohani) - hal 152.

Ciri dari orang seperti ini adalah: pada waktu diminta untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan, seperti belajar Firman Tuhan / ikut Pemahaman Alkitab, bersaat teduh / berdoa, melayani dsb, selalu mengatakan: ‘Tidak ada waktu!’.

Kalau saudara adalah orang seperti ini perhatikan peringatan / ancaman Firman Tuhan dalam Amsal 1:24-28 - “(24) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, (25) bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, (26) maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, (27) apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. (28) Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku”.

b)   William Hendriksen mengatakan (hal 428) bahwa untuk tanah golongan ke 3 ini ada 3 bahaya:

1.   ‘the cares and worries of life’ (= perhatian / urusan dan kekuatiran dari kehidupan).

2.   ‘riches, the craving for wealth and / or the inordinate yearning to cling to it, come what may’ (= kekayaan, keinginan untuk kekayaan dan / atau hasrat / kerinduan yang sangat besar untuk memegangnya erat-erat, apapun yang terjadi).

3.   ‘the pleasures of life. These, too, if a person does not watch out, may become soul-ruining entanglements. They are of two kinds: (a) those that are wrong in themselves: drunkenness, drug addiction, gambling, sexual vice, etc.; (b) those that are wrong when a person overindulges in them: games, sports, entertainments, etc.’ [= kesenangan-kesenangan hidup. Ini juga, jika seseorang tidak waspada, bisa menjadi belitan-belitan yang menghancurkan jiwa. Hal-hal ini terdiri dari 2 jenis: (a) hal-hal yang salah dalam dirinya sendiri, seperti mabuk, kecanduan narkoba, berjudi, kejahatan sexual, dsb.; (b) hal-hal yang salah pada waktu seseorang menuruti kesukaan hatinya secara berlebihan dalam hal-hal itu: permainan, olah raga, hiburan-hiburan, dsb.].

Karena itu hati-hati dengan olah raga, hiburan, siaran piala dunia, dsb.! Ini termasuk point (b). Jadi sebetulnya itu bukan dosa, tetapi kalau saudara menurutinya secara berlebihan, sampai menyingkirkan Tuhan (Pemahaman Alkitab, Kebaktian, Saat Teduh / doa, dsb.), maka itu menjadi dosa, dan bisa menjadikan saudara sebagai tanah bersemak duri!

c)   Jadi, dengan membandingkan tanah golongan 2 dan tanah golongan 3, kita bisa menyimpulkan bahwa setan menyerang manusia dengan cara-cara yang bermacam-macam. Kadang-kadang ia menyerang kita dengan hal-hal yang tidak enak, seperti problem, kegagalan, penyakit, kemiskinan, penderitaan, penganiayaan (tanah golongan 2), tetapi kadang-kadang ia menyerang justru dengan memberikan hal-hal yang enak, seperti bisnis / pekerjaan yang menghasilkan banyak uang (tetapi menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran), atau godaan sex, hiburan-hiburan, pesta, dan sebagainya! Kita harus waspada terhadap kedua cara yang bertentangan ini!

d)   Karena itu, kita harus mengutamakan Tuhan dan firmanNya!

Pulpit Commentary: “We cannot hear to advantage if we put anything before the Word. Unless it is put before worldly concerns, there will not be much fruit” (= Kita tidak bisa mendengar sehingga mendapatkan keuntungan / manfaat, jika kita meletakkan apapun di depan Firman. Kecuali Firman diletakkan di depan urusan-urusan duniawi, di sana tidak akan ada banyak buah) - hal 229.

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·        Mat 6:24 - “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.

·        Mat 10:37,39 - “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu. ... Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya”.

·        Mat 16:24 - “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”.

·        Luk 9:62 - “Tetapi Yesus berkata: ‘Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.’”.

·        Luk 14:33 - “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.”.

·        Luk 21:34 - “‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat”.

·        1Yoh 2:15 - “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu”.

e)   Contoh tanah bersemak duri:

·        Yudas Iskariot, yang rela menjual Gurunya dengan harga hanya 30 keping perak.

·        Ananias dan Safira, yang rela berdusta demi kepopuleran / penghormatan manusia (Kis 5:1-11).

·        pemuda kaya, yang lebih mementingkan kekayaannya dari Yesus (Mat 19:16-26).

·        istri Lot (Kej 19:26).

·        Demas.

Kol 4:14 - “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.

Filemon 23-24 - “Salam kepadamu dari Epafras, temanku sepenjara karena Kristus Yesus, dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku”.

2Tim 4:10 - “karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia”.

4)   Tanah yang baik / subur.

Ay 8a,15: “(8) Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.’ ... (15) Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.’”.

David Gooding: “The Word of God is a living thing like seed. Where it is given the opportunity, it will show its living power by producing fruit. If no permanent fruit is produced, then one may question whether the word of God was truly received” (= Firman Allah adalah sesuatu yang hidup seperti benih. Dimana ia diberi kesempatan, ia akan menunjukkan kuasanya yang hidup dengan menghasilkan buah. Jika tidak ada buah yang permanen yang dihasilkan, maka seseorang boleh mempertanyakan apakah Firman Allah betul-betul diterima) - hal 141.

5)   Hal-hal yang harus diperhatikan dalam perumpamaan ini.

a)   William Hendriksen mengatakan bahwa:

·        tanah golongan 1 adalah ‘the unresponsive heart’ (= hati yang tidak menanggapi).

·        tanah golongan 2 adalah ‘the impulsive heart’ (= hati yang menuruti dorongan hati).

·        tanah golongan 3 adalah ‘the preoccupied heart’ [= hati yang sudah ditempati / diasyikkan (oleh hal-hal lain / duniawi)].

·        tanah golongan 4 adalah ‘the good, responsive, or well-prepared heart’ (= hati yang baik, tanggap, atau disiapkan dengan baik).

Saudara termasuk yang mana?

b)   Ini tidak berarti bahwa setiap kali kita memberitakan Injil pasti 25 % bertobat dengan sungguh-sungguh. Tujuan Kristus dengan perumpamaan ini hanyalah untuk menyatakan bahwa pada waktu kita memberitakan Injil ada banyak orang yang tidak sungguh-sungguh bertobat. Ia tidak mempersoalkan persentasenya (Calvin, hal 113). Persentase pertobatan yang sejati pasti berubah-ubah pada setiap penginjilan / pemberitaan Firman Tuhan.

c)   Banyak orang yang mendengar Injil / Firman Tuhan, tetapi tidak diselamatkan!

Pulpit Commentary: “Many are the children of opportunity who are not heirs of the kingdom of God; many go into the ‘house of God’ who remain outside the Church of Christ; who hear but do not heed, or who listen but do not ponder and pray, or who pray but do not determine and devote; who at some point or other fall short of the kingdom. It is a sad thing to be ‘in the way of salvation,’ and yet to be unsaved” (= Banyak orang-orang yang mendapatkan kesempatan tetapi yang bukan ahli-ahli waris dari Kerajaan Allah; banyak orang pergi ke ‘rumah Allah’ yang tetap berada di luar Gereja Kristus; yang mendengar tetapi tidak memperhatikan / mempedulikan, atau yang mendengar tetapi tidak merenungkan dan berdoa, atau yang berdoa tetapi tidak memutuskan dan membaktikan diri / bertekun; yang pada titik tertentu gagal untuk memenuhi standard dari kerajaan. Merupakan hal yang menyedihkan untuk berada ‘dalam jalan keselamatan’, tetapi tidak diselamatkan) - hal 220.

d)   Ini bisa menjadi penghiburan bagi para pelayan Firman / pemberita Injil, jika pelayanan mereka tidak berbuah.

Calvin: “Again, the ministers of the word ought to seek consolation from this passage, if the success of their labours does not always correspond to their wish” (= Selanjutnya, pelayan-pelayan firman harus mencari penghiburan dari text ini, jika sukses dari jerih payah mereka tidak selalu sesuai dengan harapan mereka) - hal 108.

e)   Ay 11: ‘benih’ menunjuk pada ‘Firman Allah’.

1.   Memang mungkin yang ditekankan adalah ‘bagian Firman Allah yang berupa Injil’, karena dalam ay 12 akhir ada kata-kata ‘supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan’ (bdk. Mat 13:15c dan Mark 4:12b).

Jadi memang ada orang-orang yang pada waktu mendengar Injil akan ada macam-macam reaksi:

·        tidak mau ikut Kristus sama sekali, mungkin karena merasa tidak butuh Kristus / merasa diri cukup baik untuk bisa masuk ke surga tanpa Kristus, atau karena tidak peduli pada kehidupan yang akan datang; atau karena sudah mempunyai agama lain, dan sebagainya.

·        ‘ikut / percaya’ Kristus cepat-cepat, tetapi lalu murtad pada waktu penderitaan dan penganiayaan datang.

·        ‘ikut / percaya’ Kristus, tetapi lalu luntur / mundur, karena kehidupannya terlalu dipenuhi dengan hal-hal duniawi.

·        ikut / percaya Kristus dengan sungguh-sungguh dan bertekun sampai akhir.

2.   Tetapi bagaimanapun, karena benih menunjuk pada Firman Allah, maka ini juga bisa diterapkan pada pemberitaan Firman Tuhan yang bukan Injil, seperti:

a.   Perintah untuk belajar Firman Tuhan.

b.   Perintah untuk berdoa.

c.   Perintah untuk melayani / memberitakan Injil.

d.   Perintah untuk memberikan persembahan persepuluhan.

e.   Larangan dan perintah berkenaan dengan hari Sabat.

f.    Perintah untuk saling mengasihi dan bersekutu.

g.   Perintah untuk mengutamakan Tuhan di atas segala sesuatu.

Terhadap semua bagian dari Firman Tuhan, saudara bisa memberikan 4 macam tanggapan, yaitu:

·        sama sekali tidak mempedulikan / mentaati, atau bahkan marah kepada si pemberita Firman Tuhan.

·        mempedulikan / mentaati, tetapi lalu ‘murtad’ pada waktu ada penderitaan / penganiayaan karena ketaatan tersebut.

·        mempedulikan / mentaati, tetapi lalu berhenti karena terlalu disibukkan oleh hal-hal duniawi.

·        mempedulikan dan mentaati dengan tekun.

Maukah untuk selalu menjadi tanah yang baik / subur?

III) Perumpamaan tentang pelita dan artinya (ay 16-18).

1)   Ay 16-17: “(16) ‘Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. (17) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan”.

Apa yang dimaksudkan dengan perumpamaan ini?

a)   Ada yang menganggap bahwa pelita di sini menunjuk pada kehidupan.

·        Sekalipun saya tidak setuju dengan pandangan pertama ini, tetapi saya tetap memberikan pendangan pertama ini, dan komentar-komentar dari orang-orang yang menerima pandangan ini. Kata-kata mereka benar / tidak salah. Kesalahan mereka adalah karena mereka mendapatkan pandangan itu dari ayat ini, yang sebetulnya artinya bukan demikian.

·        Mungkin orang-orang yang mengambil pandangan ini melihat bahwa ay 16-17 ini sama dengan Mat 5:15 - “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu”, dan mereka beranggapan bahwa Mat 5:15 itu mempersoalkan kehidupan, karena kontextnya membicarakan orang kristen sebagai terang dunia.

·        Kalau pelita menunjuk pada kehidupan, maka ay 16-17 artinya adalah: hidup orang kristen tidak boleh disembunyikan.

William Barclay: “Verse 16 stresses the essential conspicuousness of the Christian life. Christianity is in its very nature something which must be seen. It is easy to find prudential reasons why we should not flaunt our Christianity in the world’s face. In almost every person there is an instinctive fear of being different; and the world is always likely to persecute those who do not conform to pattern” (= Ayat 16 menekankan sifat menyolok yang penting dari kehidupan Kristen. Kekristenan dalam hakekatnya adalah sesuatu yang harus terlihat. Adalah mudah untuk mendapatkan alasan-alasan yang bijaksana mengapa kita tidak memamerkan kekristenan kita di hadapan dunia. Dalam hampir setiap orang ada rasa takut yang bersifat naluri tentang menjadi berbeda; dan dunia selalu mungkin menganiaya mereka yang tidak menyesuaikan diri dengan pola) - hal 101.

William Barclay: “Hard as it may be, the duty is laid upon us of never being ashamed to show whose we are and whom we serve; and if we regard the matter in the right way it will be, not a duty, but a privilege” (= Bagaimanapun sukarnya hal itu, kita diwajibkan untuk tidak pernah malu untuk menunjukkan siapa yang memiliki kita dan siapa yang kita layani; dan jika kita memandang persoalan ini dengan cara yang benar, maka hal itu tidak akan merupakan suatu kewajiban tetapi suatu hak) - hal 101.

·        orang yang berbuat dosa / hidup jahat jelas justru tidak mau melaksanakan ay 16-17 ini, karena mereka pasti tidak mau menunjukkan kehidupan mereka, tetapi sebaliknya, menyembunyikannya. Mengapa? Karena mereka tidak akan senang jika dosa-dosanya terlihat / diketahui orang lain. Bdk. Yoh 3:19-20 - “Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak”.

Tetapi dalam hal seperti ini, ay 17 ini berlaku. Semua dosa akan disingkapkan. Penyingkapan dosa bisa terjadi dalam hidup ini, tetapi yang pasti akan terjadi di masa yang akan datang / penghakiman akhir jaman. Bandingkan dengan:

*        Ro 2:16 - “Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.

*        1Kor 4:5 - “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah”.

Pikirkan bagaimana malunya orang-orang pada saat itu, karena penyingkapan dosa-dosanya di depan semua orang. Tetapi penyingkapan dosa pada akhir jaman itu hanya berlaku untuk orang-orang yang tidak percaya. Bagi kita yang percaya kepada Kristus, dosa-dosa kita dihapus dan dikubur selama-lamanya. Ini terlihat dari:

Þ    Maz 103:10-12 - “(10) Tidak dilakukanNya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalasNya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, (11) tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setiaNya atas orang-orang yang takut akan Dia; (12) sejauh timur dari barat, demikian dijauhkanNya dari pada kita pelanggaran kita.

Þ    Mikha 7:18-19 - “(18) Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milikNya sendiri; yang tidak bertahan dalam murkaNya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? (19) Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.

Þ    Yes 43:25 - “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.

Pada saat Kristus menderita dan mati di atas kayu salib, Ia nyaris telanjang, dan dengan demikian Ia mengalami rasa malu yang luar biasa. Tetapi dengan demikian Ia telah memikul rasa malu yang seharusnya merupakan bagian kita sebagai orang-orang berdosa. Karena itu siapapun yang percaya kepadaNya, tidak akan mengalami penyingkapan dosa pada akhir jaman, dan dengan demikian juga tidak mungkin akan dipermalukan pada saat itu.

·        Keberatan terhadap pandangan pertama ini (yang menganggap bahwa ‘pelita’ menunjuk pada ‘kehidupan’) adalah:

*        Sekalipun ay 16-17 sama / mirip dengan Mat 5:15, tetapi penekanan kontextnya berbeda. Dalam Mat 5 itu kontextnya mempersoalkan orang kristen sebagai terang dunia, tetapi dalam Luk 8 ini kontextnya mempersoalkan sikap terhadap Firman Tuhan / mendengar Firman Tuhan (bdk. ay 18, juga ay 19-21, dan bahkan ay 4-15, yang semuanya mempersoalkan tentang ‘mendengar Firman Tuhan’).

*        Juga, dalam Mat 5 itu sendiri belum tentu ‘pelita’ harus diartikan hanya sebagai kehidupan. Tetap memungkinkan untuk mengartikannya sebagai Firman Tuhan, mengingat terang itu memberi petunjuk dalam kegelapan.

b)   Ada yang menganggap bahwa pelita menunjuk pada Firman Tuhan.

Jadi, arti dari ay 16-17 adalah: Firman Tuhan tidak boleh disembunyikan, tetapi sebaliknya harus dinyatakan kepada dunia. Ini pandangan yang saya terima.

1.   Kristus sendiri tidak ingin menyembunyikan pengetahuan / Firman Tuhan.

Cara mereka yang salah dalam mendengarlah yang menyebabkan Kristus lalu menyembunyikan arti dari ajaranNya, dengan jalan mengajar menggunakan perumpamaan. Bdk. ay 18 - “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.’”.

Bdk. Mark 4:21-25 - “(21) Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. (22) Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. (23) Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!’ (24) Lalu Ia berkata lagi: ‘Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu. (25) Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.’”. Kata ‘camkanlah’ diterjemahkan secara berbeda-beda.

KJV/RSV: ‘Take heed’ (= Perhatikanlah).

NIV: ‘Consider carefully’ (= Pertimbangkanlah dengan seksama).

NASB: ‘Take care’ (= Peliharalah).

Yang manapun yang kita ambil, ayat ini tetap menunjukkan bahwa kita harus mempunyai sikap yang baik terhadap Firman Tuhan / dalam persoalan mendengar Firman Tuhan.

2.   Setelah para murid mendengar dan mengerti Firman Tuhan, mereka harus memberitakannya.

Pulpit Commentary: “What was then hidden in the minds of the disciples they were to reveal to the world in due time; the truth which the Master was making known to them ‘in the darkness’ they were to ‘speak in the light.’” (= Apa yang tersembunyi dalam pikiran dari murid-murid harus mereka nyatakan kepada dunia pada waktunya; kebenaran yang dinyatakan oleh sang Guru kepada mereka dalam kegelapan, harus mereka nyatakan dalam terang) - hal 221.

Bdk. Mat 10:26-27 - “(26) Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. (27) Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah”.

Pulpit Commentary: “The disciples had received Jesus’ explanation of the first parable. And now he further applies it to their case. They are intended, he tells them, to be lights in the world; and he has no intention of putting them under a bushel or bed, where the light would be lost and useless, but on a candlestick to illuminate all who enter the house” (= Murid-murid telah menerima penjelasan Yesus tentang perumpamaan yang pertama. Dan sekarang Ia menerapkannya lebih lanjut kepada kasus mereka. Ia berkata kepada mereka, bahwa mereka dimaksudkan untuk menjadi terang dalam dunia; dan Ia tidak mempunyai maksud untuk meletakkan mereka di bawah gantang atau ranjang / tempat tidur, dimana terang itu akan hilang dan tak berguna, tetapi pada kaki dian untuk menerangi semua yang memasuki rumah) - hal 229.

Penerapan:

Saudara mungkin banyak belajar / mendengar Firman Tuhan, tetapi apakah saudara memberitakan Firman Tuhan itu kepada orang-orang di sekitar saudara? Ingat bahwa makin banyak kita diberi, makin besar tanggung jawab yang dituntut dari kita (Luk 12:47-48).

2)   Ay 18: “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya.’”.

a)   Ayat ini berhubungan dengan ‘mendengar Firman Tuhan’.

Leon Morris (NICNT): “This is not, of course, a message of encouragement for the moneyed classes: it is connected with hearing the word of God. If we use what God gives it will increase. And the next words underline the opposite truth: if we do not, we will lose even what we think we have. This is total loss” (= Tentu saja ini bukan suatu berita yang membesarkan hati untuk golongan yang berada / beruang: ini dihubungkan dengan mendengar firman Allah. Jika kita menggunakan apa yang Allah berikan, itu akan bertambah. Dan kata-kata selanjutnya menekankan kebenaran yang sebaliknya: jika kita tidak menggunakan apa yang Allah berikan, kita akan kehilangan bahkan apa yang kita kira kita punyai. Ini merupakan kehilangan total) - hal 153.

Jelas bahwa ay 18 ini:

·        tidak dimaksudkan dalam persoalan uang / materi. Tetapi seringkali hal ini berlaku dalam persoalan uang / materi. Orang yang sudah mempunyai banyak uang, juga lebih gampang dalam mencari uang lebih banyak lagi. Sebaliknya orang yang miskin, sukar sekali mencari uang. Tetapi ini tidak mutlak, karena seperti dikatakan Firman Tuhan: ‘di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar dan mencurinya’ (Mat 6:24b).

·        dimaksudkan dalam persoalan ‘mendengar Firman Tuhan’.

Pulpit Commentary: “The real student, patient, humble, and restlessly industrious, he shall be endowed with ever-increasing powers; while the make-believe, lazy, and self-sufficient one shall be punished by the gradual waning of the little light which once shone in his soul” (= Murid yang sungguh-sungguh, sabar, rendah hati, dan rajin tanpa henti-hentinya, akan diberi kuasa-kuasa yang selalu bertambah; sementara seorang murid khayalan, malas, dan merasa diri cukup akan dihukum dengan penyusutan perlahan-lahan dari sedikit terang yang pernah bersinar dalam jiwanya) - hal 205.

William Hendriksen: “In matters spiritual, standing still is impossible. A person either gains or loses; he either advances or declines” (= Dalam persoalan rohani, berdiri diam merupakan sesuatu yang mustahil. Seseorang mendapatkan atau kehilangan; ia maju atau mundur / turun) - hal 431.

Barclay: “Verse 18 lays down the universal law that the man who has will get more; and that the man who has not will lose what he has. If a man is physically fit and keeps himself so, his body will be ready for ever greater efforts; if he lets himself go flabby, he will lose even the abilities he has. The more a student learns, the more he can learn; but if he refuses to go on learning, he will lose the knowledge he has. This is just another way of saying that there is no standing still in life. All the time we are either going forward or going back. The seeker will always find; but the man who stops seeking will lose even what he has” (= Ayat 18 memberikan hukum universal bahwa orang yang mempunyai akan mendapatkan lebih banyak; dan bahwa orang yang tidak mempunyai akan kehilangan apa yang ia miliki. Jika seseorang sehat secara fisik dan menjaga dirinya sendiri supaya sehat, tubuhnya akan siap untuk usaha-usaha yang lebih besar; jika ia membiarkan dirinya sendiri lembek, ia akan kehilangan kemampuan-kemampuan yang ia miliki. Makin banyak seorang murid belajar, makin ia bisa belajar; tetapi jika ia menolak untuk terus belajar, ia akan kehilangan pengetahuan yang ia miliki. Ini merupakan suatu cara lain untuk mengatakan bahwa tidak ada ‘berdiri diam’ dalam kehidupan. Dalam sepanjang waktu, atau kita maju atau kita mundur. Orang yang mencari akan selalu mendapat; tetapi orang yang berhenti mencari akan kehilangan apa yang ia miliki) - hal 102.

Catatan: saya tidak setuju dengan bagian awal dari kata-kata Barclay ini. Ay 18 ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menjadi hukum universal dalam segala hal, sekalipun harus diakui bahwa kata-kata dalam ayat ini bisa benar dalam banyak hal.

Misalnya gereja yang mempunyai banyak jemaat, gampang untuk menambah jemaat. Tetapi gereja yang mempunyai sedikit jemaat, sukar untuk menambah jemaat, tetapi gampang kehilangan jemaat. Tetapi secara strict / ketat, ayat ini tidak dimaksudkan untuk diarahkan ke sana.

b)   Beberapa cara mendengar Firman Tuhan.

William Hendriksen: “Some people listen hardly at all (Isa. 40:21). Some listen merely to be entertained (Ezek. 33:31,32). Some listen in order to find fault (Mark 12:13; Luke 11:54). Some listen in order to obtain true wisdom and to put it to good use (Acts 17:10,11)” [= Sebagian orang hampir tidak mendengar sama sekali (Yes 40:21). Sebagian lain mendengar hanya untuk mendapatkan penghiburan (Yeh 33:31-32). Sebagian lagi mendengar untuk mencari kesalahan (Mark 12:13; Luk 11:54). Sebagian lagi mendengar untuk mendapatkan hikmat yang benar dan menggunakannya dengan baik (Kis 17:10-11)] - hal 432.

c)   Ketidak-berhasilan dalam suatu pemberitaan Firman Tuhan tidak harus merupakan kesalahan dari pemberita firman.

Pulpit Commentary: “It is the manner of hearing that is the main thing - the motive, the desire, the extent to which the heart and the soul are engaged whilst hearing. Persons are apt to blame the speaker, to lay the want of effect at his door. It may be so; no doubt it often is so. But what of these persons themselves? Let each of us examine himself. Eloquence, it has been said, is in the audience; ... Christ reminds us that, where there is failure, the hearer at least divides the blame” (= Adalah ‘cara mendengar’ yang merupakan hal yang utama - motivasi, keinginan, tingkat ketertarikan dari hati dan jiwa pada waktu mendengar. Orang-orang suka / condong untuk menyalahkan si pembicara, meletakkan kurangnya hasil pada pintunya. Itu memang memungkinkan, dan tidak diragukan bahwa seringkali memang demikian. Tetapi bagaimana tentang orang-orang itu sendiri? Hendaklah setiap orang memeriksa dirinya sendiri. Dikatakan bahwa kefasihan ada pada pendengar; ... Kristus mengingatkan kita bahwa dimana ada kegagalan, pendengarnya sedikitnya ikut bersalah) - hal 212.

Bandingkan dengan perumpamaan penabur (ay 4-15) yang menunjukkan bahwa gagal atau tidaknya tergantung jenis tanahnya! Kalau seseorang menabur di tepi jalan, biarpun ia menabur dengan hati-hati, tetap saja benih itu tidak tumbuh. Tetapi sebaliknya, kalau ia menabur di tanah yang subur / baik, sekalipun benih itu dilemparkan dengan keras ke tanah tersebut, tetap saja benih itu akan tumbuh dan akhirnya berbuah. Ini tentu saja tidak berarti bahwa seorang pemberita firman boleh sembarangan saja dalam mempersiapkan dan dalam memberitakan firman. Ia tetap harus melakukan semua itu dengan sebaik-baiknya. Tetapi kalaupun ia melakukan dengan sebaik-baiknya, hasil juga sangat dipengaruhi oleh para pendengarnya.

IV) Ibu dan saudara Yesus (ay 19-21).

Ay 19-21: “(19) Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepadaNya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak. (20) Orang memberitahukan kepadaNya: ‘IbuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.’ (21) Tetapi Ia menjawab mereka: ‘IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.’”.

1)   Ay 19-21 bdk. Mark 3:31-35 / Mat 12:46-50.

Baik dalam Matius maupun Markus, bagian ini terjadi sebelum perumpamaan tentang seorang penabur. Lukas memang sering tidak chronologis.

2)   Saudara-saudara Yesus adalah anak-anak Maria.

Norval Geldenhuys (NICNT): “Since in the New Testament Jesus’ brothers and even sisters are frequently mentioned in a most natural manner as if they were His own brothers and sisters, born of Mary (Matt. 12:46; 13:55; Mark 3:32; 6:3; John 2:12), and since in Like 2:7 He is called the ‘first-born’, apart from various other considerations, there can be no doubt that the Lord really had blood-brothers and sisters. The Roman Catholic opinion that the ‘brethren and sisters’ were step-brothers and step-sisters (children of Joseph by a former wife), or His ‘cousins’, is unfounded and would never have existed had it not been for Epiphanius, Jerome and later Roman leaders who embraced a false asceticism and regarded Mary as a woman who had remained a virgin throughout her life. Even Tertullian insisted on taking the ‘brethren and sisters’ of Jesus as real children of Mary” [= Karena dalam Perjanjian Baru saudara-saudara dan bahkan saudari-saudari Yesus sering disebutkan dengan cara yang paling alamiah / wajar / biasa seakan-akan mereka adalah saudara-saudara dan saudari-saudariNya sendiri, dilahirkan oleh Maria (Mat 12:46; 13:55; Mark 3:32; 6:3; Yoh 2:12), dan karena dalam Luk 2:7 Ia disebut ‘sulung’, terpisah dari bermacam-macam pertimbangan yang lain, tidak ada keraguan bahwa Tuhan betul-betul mempunyai saudara-saudara dan saudari-saudari sedarah. Pandangan Roma Katolik bahwa ‘saudara-saudara dan saudari-saudari’ itu adalah saudara-saudara tiri dan saudari-saudari tiri (anak-anak dari Yusuf oleh istri yang terdahulu), atau ‘saudara-saudara sepupu’Nya, tidak mempunyai dasar, dan tidak akan pernah ada, kalau bukan karena Epiphanius, Jerome dan pemimpin-pemimpin Roma (Katolik) belakangan yang memeluk / mempercayai pertapaan yang palsu dan menganggap Maria sebagai seorang perempuan yang tetap perawan sepanjang hidupnya. Bahkan Tertullian berkeras untuk mengartikan ‘saudara-saudara dan saudari-saudari’ Yesus sebagai betul-betul anak-anak Maria] - hal 250 (footnote).

3)   Kedatangan Maria dan saudara-saudara Yesus pasti dengan maksud / cara yang tidak bisa dibenarkan, karena kalau tidak, tidak akan muncul kata-kata ‘yang tidak enak’ seperti itu dari mulut Yesus.

Kata-kata ‘yang tidak enak’ itu tidak terlalu terlihat dalam Injil Lukas, tetapi lebih terlihat dalam Injil Matius.

Ay 21: “Tetapi Ia menjawab mereka: ‘IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.’”. Bdk. Mat 12:48-50 - “Tetapi jawab Yesus kepada orang yang menyampaikan berita itu kepadaNya: ‘Siapa ibuKu? Dan siapa saudara-saudaraKu?’ Lalu kataNya, sambil menunjuk ke arah murid-muridNya: ‘Ini ibuKu dan saudara-saudaraKu! Sebab siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di sorga, dialah saudaraKu laki-laki, dialah saudaraKu perempuan, dialah ibuKu.’”.

Barclay mengatakan bahwa tidak sukar untuk melihat bahwa dalam hidup Yesus, keluargaNya tidak bersimpati dengan Dia. Bdk. Mark 3:21 - “Waktu kaum keluargaNya mendengar hal itu, mereka datang hendak mengambil Dia, sebab kata mereka Ia tidak waras lagi”.

Calvin: “‘Who is my mother?’ These words were unquestionably intended to reprove Mary’s eagerness, and she certainly acted improperly in attempting to interrupt the progress of his discourse” (= ‘Siapa ibuKu?’. Kata-kata ini tidak diragukan dimaksudkan untuk memarahi keinginan Maria, dan ia jelas bertindak secara tidak pantas dalam berusaha untuk menginterupsi percakapan Yesus yang sedang berjalan) - hal 90.

Penerapan:

Karena itu jangan mengganggu jalannya pemberitaan Firman Tuhan. Juga jangan membiarkan anak-anak saudara ribut dalam kebaktian sehingga mengganggu jalannya pemberitaan Firman Tuhan. Dan kalau saudara menyalahkan pengkhotbah yang memarahi jemaat yang ribut pada saat khotbah, maka pikirkan: beranikah saudara menyalahkan Yesus di sini?

4)   Kata-kata Yesus ini menunjukkan bahwa:

a)   Maria bukan orang suci.

Norval Geldenhuys (NICNT): “This story proves to us clearly that Mary was not the perfect saint as she is represented to have been by the Roman church. She was and is indeed the blessed one amongst women, because to her was given the privilege of being the mother of the Redeemer, but she was also a fallible mortal, beset with sin and weakness” [= Cerita ini membuktikan dengan jelas kepada kita bahwa Maria bukanlah orang suci yang sempurna sebagaimana ia digambarkan oleh gereja Roma (Katolik). Dulu maupun sekarang ia memang adalah seseorang yang diberkati di antara perempuan, karena kepada dia diberikan hak untuk menjadi ibu dari sang Penebus, tetapi ia juga adalah seseorang yang fana yang bisa salah, yang dikepung oleh dosa dan kelemahan] - hal 250 (footnote).

b)   Yesus lebih menekankan hubungan rohani dari pada hubungan jasmani / darah. Bandingkan dengan kata-kata ‘Persekutuan orang kudus’ dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli.

Penerapan:

Kalau ada jemaat kawin, jarang ada jemaat yang menghadiri acara pemberkatan nikah.

c)   Yesus sangat menekankan pentingnya mendengar dan mentaati Firman Tuhan, karena hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah keluarga rohani Tuhan Yesus.

Kesimpulan / Penutup.

Bagi saudara yang memiliki sikap yang tidak baik atau kurang baik terhadap Firman Tuhan, perbaikilah sikap itu. Dan bagi yang sudah memiliki sikap yang baik terhadap Firman Tuhan, jagalah dan bahkan tingkatkanlah sikap yang baik itu. Tuhan memberkati saudara.

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com