Tanggapan Pdt Budi Asali atas serangan DR. Steven Einstain Liauw, D.R.E. (Kristen Fundamental) terhadap ajaran

Calvin / Calvinisme.  

http://golgothaministry.org/

 

Kedaulatan Allah dan Kebebasan Manusia yang Alkitabiah

 

Dr. Steven E. Liauw

Dapatkan versi full artikel ini dalam bentuk PDF di bagian “Artikel Gratis” atau “Free Articles” di website Graphe, di bawah menu “Download”

 

I. Pendahuluan

 

Salah satu hal yang secara paling mendasar mempengaruhi bagaimana seseorang memandang dunia ini, adalah konsepnya tentang Allah. Beritahukan pada saya, apa yang seseorang percayai tentang Allah, maka saya dapat memprediksikan apa pendapat orang tersebut dalam berbagai hal, dan bahkan bagaimana orang tersebut akan bertindak dalam berbagai situasi. Tentu ada ruang yang lebar untuk variasi individu, tetapi pandangan seseorang tentang Allah berada pada poros inti moralitas dan filosofinya.
Seorang atheis, misalnya, bahkan tidak percaya ada Allah. Oleh karena itu, atheis yang konsisten, tidak akan memiliki moralitas yang absolut. Ada atheis yang tidak memiliki moralitas sama sekali dan menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi jika atheisme diimani secara konsekuen sampai pada kesimpulan akhirnya. Jika tidak ada Allah, maka manusia hanyalah binatang lainnya, dan tidak ada konsep benar atau salah. Oleh karena itu, mereka berlaku tidak lebih dari binatang yang pintar, melakukan apapun juga yang diingini tanpa ada rasa tanggung jawab sedikitpun. Dalam hal ini, tindakan mereka bahkan bisa lebih kejam dari binatang, karena binatang cukup puas dengan mempertahankan hidup dan eksistensi mereka, sedangkan manusia yang tidak bermoral dikuasai oleh nafsu yang tidak pernah mengenal cukup.

Tentu banyak atheis yang tidak seperti itu. Mereka masih memiliki moralitas, walaupun moralitas yang relatif. Walaupun secara intelektual mereka menolak eksistensi Allah, tetapi karena alasan-alasan lain (rasa kemanusiaan, tenggang rasa, budi pekerti yang dipelajari sejak kecil, dll), mereka mempertahankan sejenis moralitas. Tetapi ini tidak berarti bahwa atheisme dapat menghasilkan moralitas. Moralitas pada seorang atheis adalah sisa-sisa kebenaran ilahi yang universal, yang belum terkikis habis oleh atheisme itu, yang masih ada pada individu tersebut. Ia bermoral bukan karena ia atheis. Sebaliknya, ia bermoral walaupun ia seorang atheis, karena dia belum mau menerima konsekuensi logis dari atheisme. Dapat kita katakan bahwa ia adalah seorang atheis dalam teori, tetapi belum atheis dalam praktek, minimal belum sepenuhnya. Ada ketidakkonsistenan antara apa yang ia percayai dengan apa yang ia lakukan, tetapi ketidakkonsistenan yang menguntungkan.

Bagaimana dengan orang-orang yang percaya ada Allah? Apakah mereka semua ini sama? Tentu tidak! Tanpa perlu mengupas tentang deisme, pantheisme, panentheisme, atau yang lainnya yang sudah pasti akan membawa penganutnya ke pandangan yang berbeda-beda, bahkan di kalangan theis sekalipun (percaya Allah sebagai pribadi yang immanen dan transenden), ada perbedaan cara berpikir yang cukup luas, tergantung kepada konsep dia tentang pribadi Allah.

Ketika seseorang menekankan bahwa Allah adalah mahakasih, tanpa melihat aspek lain dari sifat-sifat Allah, maka ia akan sampai kepada kesimpulan yang salah. Banyak orang senang dengan Allah yang mahakasih, tetapi tidak mau Allah yang mahakudus atau Allah yang mahaadil. Mereka merasionalisasikan: Allah yang mahakasih tentu tidak akan mengirim orang ke neraka untuk selama-lamanya!
Tetapi rasionalisasi seperti ini sungguh salah. Ada dua kesalahan yang terjadi. Kesalahan PERTAMA adalah  merasionalisakan sifat Allah dengan mengabaikan pernyataan jelas Alkitab. Banyak sekali ayat Alkitab yang menyatakan bahwa manusia yang berdosa dan menolak kasih karunia penyelamatan Allah, akan binasa untuk selama-lamanya dalam neraka. Matius, misalnya, mencatat peringatan Yesus bahwa lebih baik masuk Surga dalam kondisi timpang dan buta daripada dengan tubuh lengkap, tersesat dan masuk ke dalam api yang kekal (Mat. 18:8). Jadi, pernyataan kaum universalis bahwa semua manusia akan masuk Surga, bertentangan dengan pernyataan jelas dalam Alkitab. Seharusnya, bagi orang yang sungguh menjunjung tinggi Alkitab sebagai standar, adanya pernyataan jelas dalam Alkitab menjadi pandu yang berotoritas.

Seharusnya terjadi pemikiran seperti berikut:“Jika Alkitab menyatakan bahwa orang-orang yang tidak bertobat akan masuk neraka untuk selama-lamanya, maka pemikiran awal saya (bahwa Allah yang mahakasih tidak mungkin mengirim orang ke neraka) adalah salah. Saya harus merevisi ulang premis dasar pemikiran saya.” Ini adalah sikap yang benar. Tetapi sayang, yang biasanya terjadi adalah pemelintiran ayat-ayat kitab Suci untuk mendukung pemikiran dasar seseorang. Bukannya berpikir bahwa ada yang salah dengan premis dasar (karena bertentangan dengan ayat-ayat jelas Alkitab), yang bersangkutan justru sibuk mencoba menjelaskan ayat-ayat Alkitab itu agar masuk ke dalam konsep dia.
Kesalahan KEDUA adalah terlalu menekankan satu sifat Allah, tanpa melihat sifat-sifat Allah yang lain. Ketika seseorang berjalan tanpa membiarkan Alkitab mengoreksi premis dasarnya, maka tidak mungkin dihindari dia akan berlebihan menekankan salah satu sifat Allah. Penekanan yang berlebihan ini justru membuat pengertiannya akan sifat Allah tersebut menjadi salah.

Sang universalis terlalu menekankan tentang kasih Allah, sehingga mengabaikan kekudusan Allah dan keadilan Allah. Manusia yang berdosa tidak dapat berkenan kepada Allah yang mahakudus, dan tidak mungkin masuk Surga tanpa ada penyelesaian dosa terlebih dahulu. Allah yang adil tidak mungkin tidak menjalankan hukumNya sendiri, bahwa dosa harus dihukum. Kita bisa melihat bahwa menekankan satu sifat Allah di atas sifat-sifatNya yang lain akan menghasilkan pemahaman tentang Allah yang timpang. Allahnya sang universalis, bukan lagi menjadi Allah yang mahakasih, melainkan Allah yang lemah, yang tidak berani menjalankan hukumNya sendiri. Kasih yang demikian juga bukanlah kasih yang sejati, karena kasih yang sejati selalu harmonis dengan kebenaran.

Semua pendahuluan di atas mengantar saya kepada topik inti dari tulisan ini, yaitu kedaulatan Allah dan hubungannya dengan kebebasan manusia. Dalam kekristenan ada satu kelompok yang banyak berbicara mengenai “kedaulatan Allah,” yaitu kelompok Kalvinis. Kalvinis membuat premis dasar dari pemahaman mereka akan “kedaulatan Allah.” Menurut mereka, karena Allah berdaulat, maka Allah pastilah telah menetapkan segala sesuatu. Segala sesuatu artinya adalah segala sesuatu. Jadi, setiap tindakan manusia maupun malaikat, setiap pikiran manusia maupun malaikat, telah ditentukan oleh Tuhan. Lebih lanjut lagi, Tuhan sudah menentukan dari semula, bahkan sebelum penciptaan, bahwa Dia akan menciptakan sebagian manusia untuk diselamatkan, dan Dia akan menciptakan sebagian manusia untuk dibinasakan. Keselamatan atau kebinasaan ditentukan oleh Allah tanpa pertimbangan apapun di luar diri Allah! Lebih lanjut lagi, sesuai dengan pemilihan keselamatan/kebinasaan itu, Allah hanya akan menyediakan keselamatan bagi yang terpilih selamat. Dan Allah akan memaksakan (memberi tanpa dapat ditolak) “kasih karunia”Nya kepada orang-orang yang terpilih untuk selamat ini.

 

Tanggapan saya:

Calvinist tak pernah mengatakan ‘memaksakan’, sekalipun memang menggunakan istilah Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Tak bisa menolak tak berarti dipaksa untuk menerima, karena Allah melahirbarukan orang itu, dan itu mengubah orang itu sedemikian rupa sehingga ia pasti dengan sukarela dan sukacita menerima Kristus.

 

Westminster Confession of Faith, Chapter III, 1: “God from all eternity, did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass; yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures; nor is the liberty or contingen­cy of second causes taken away, but rather established” (= Allah dari sejak kekekalan, melakukan, oleh rencana dari kehendakNya sendiri yang paling bijaksana dan suci, dengan bebas, dan dengan tidak berubah menetapkan apapun yang akan terjadi; tetapi dengan demikian Allah bukan pencipta dosa, dan tidak digunakan kekerasan / pemaksaan terhadap kehendak dari makhluk ciptaan; juga kebebasan atau ketidakpastian / sifat tergantung dari penyebab kedua tidaklah disingkirkan, tetapi sebaliknya diteguhkan).

Catatan: Westminster Confession of Faith adalah Pengakuan Iman dari Gereja-gereja Reformed di Amerika.

 


Kalvinis menegaskan bahwa setiap orang yang percaya bahwa Allah berdaulat harus sampai pada kesimpulan yang sama dengan mereka. Jikalau tidak, maka anda tidak benar-benar percaya bahwa Allah berdaulat! Oleh karena itulah saya terbeban untuk menulis tentang topik ini. Motivasi saya bukanlah untuk menyerang pribadi-pribadi tertentu. Saya tidak membenci satu orang Kalvinis pun, bahkan saya memiliki teman-teman baik di antara para Kalvinis. Motivasi saya adalah kebenaran. Saya tidak tahan melihat Allah yang saya sembah dan kasihi, digambarkan dengan sedemikian salah. Saya merinding melihat bagaimana loyalitas terhadap suatu dogma telah membuat banyak orang yang brilian dan baik menentang kata-kata jelas dari Alkitab. Saya ingin menggambarkan kedaulatan Allah yang sebenarnya dari dalam Alkitab.

 

Tanggapan saya:

Kalau ini memang betul-betul merupakan motivasi anda, saya menghargai anda. Tetapi mengapa anda memfitnah Calvinisme? Kalau mau meluruskan, jangan memfitnah! Banyak sekali dalam tulisan anda, anda mengatakan Calvinisme mengajar begini, Calvinisme mengajar begitu, padahal Calvinisme yang sebenarnya tidak pernah mengajar seperti apa yang anda katakan.

Biarpun motivasi anda bagus, tetapi kalau pengetahuan anda / cara menafsir anda salah, maka anda pada hakekatnya berusaha untuk membengkokkan apa yang sudah lurus!

Amsal 19:2 - Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah”.

Ro 10:1-3 - “(1) Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (2) Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. (3) Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

 

Tidak pernah dalam mimpi saya sekalipun, saya berpikir bahwa karya tulis saya akan membuat semua Kalvinis berubah. Orang yang telah menggolongkan dirinya dalam suatu kelompok, cenderung sulit untuk melihat segala sesuatu dengan netral. Tujuan utama saya adalah orang-orang yang masih sedang menyelidiki dan mencari. Jika anda ingin tahu tentang kedaulatan Allah, kebebasan manusia, dan keselamatan, maka harapan saya buku ini bisa bermanfaat dalam anda mempelajari Alkitab. Ingatlah bahwa Alkitab adalah standar tertinggi. Tetapi bagi para Kalvinis yang masih rela untuk menguji sistem yang telah mereka yakini selama ini, saya yakin buku ini juga akan bermanfaat. Saya minta untuk membaca karya tulis ini dengan hati yang terbuka, yang siap untuk menguji setiap premis dasar, membandingkannya dengan Alkitab. Sesudah menyelesaikan buku ini, setuju atau tidak setuju, adalah kebebasan anda! Tetapi suatu hari nanti, kita semua akan berdiri di hadapan Allah, mempertanggungjawabkan bagaimana kita menggunakan kebebasan yang telah Ia anugerahkan itu.

 

Tanggapan saya:

Saya pasti akan menerima apa yang anda katakan / ajarkan, kalau itu memang punya dasar Alkitab yang lebih kuat dari pandangan saya, dan bisa menggugurkan argumentasi-argumentasi saya. Dalam hidup saya sebagai orang Kristen, saya sudah banyak kali berubah pandangan. Dulu saya sendiri Arminian, dan pada waktu pertama kali mendengar ajaran Calvinisme tentang predestinasi, saya tidak bisa menerima. Tetapi setelah mendengar dengan hati terbuka, dan tunduk pada Alkitab, apa dasar-dasar dari doktrin tentang predestinasi, maka saya menerimanya. Demikian juga pada waktu pertama kali mendengar tentang doktrin ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas), saya tidak bisa menerimanya. Tetapi setelah mendengar argumentasi dari Alkitab yang diberikan, saya melihat bahwa saya tidak mungkin menolak doktrin itu tanpa sekaligus menolak Alkitabnya. Demikian juga pada waktu mendengar doktrin penentuan segala sesuatu (termasuk dosa), saya mula-mula menolak. Tetapi lagi-lagi setelah membaca argumentasi-argumentasi yang betul-betul didasarkan Alkitab, saya tunduk dan menerima ajaran itu. Jadi, kalau sekarang anda bisa menghancurkan argumentasi-argumentasi saya dan memberikan dasar Alkitab yang lebih kuat dari yang saya punyai, anda pasti bisa ‘mempertobatkan’ saya!

   

II. Kedaulatan Allah menurut Kalvinis

 

A. Allah Menetapkan Segala Sesuatu

 

Premis dasar dari Kalvinisme menegaskan bahwa Allah yang berdaulat adalah Allah yang menetapkan segala sesuatu. Dengan kata lain, setiap perbuatan, tindakan, maupun pikiran semua makhluk hidup, telah ditetapkan oleh Allah sebelumnya. Ini adalah premis dasar dari Kalvinisme. Untuk membuktikan bahwa Kalvinis sungguh percaya seperti itu, kita akan melihat kutipan pengajaran berbagai tokoh Kalvinis.

Tanggapan saya:

Dalam hal ini saya setuju dengan anda, bahwa itu memang ajaran Calvinisme / Reformed yang sebenarnya. Tetapi perlu anda ketahui bahwa di Indonesia tokoh Reformed Pdt. Stephen Tong (dan juga mayoritas anak buahnya) tidak setuju dengan ajaran itu, dan karena itu menurut saya dia bukan Calvinist / Reformed yang sejati.

 

John Gill berkata, “Pendeknya, segala sesuatu tentang semua individu di dunia, yang pernah ada, yang ada, atau yang akan ada, semuanya sesuai dengan dekrit-dekrit Allah, dan menurut pada dekrit-dekrit itu; lahirnya berbagai manusia ke dalam dunia, waktu terjadinya, semua hal-hal yang terjadi berhubungan dengan itu; semua peristiwa dan kejadian yang dialami manusia, sepanjang hidup mereka; tempat tinggal mereka, posisi mereka, panggilan hidup mereka, dan pekerjaan mereka; kondisi mereka berhubungan dengan kekayaan dan kemiskinan, kesehatan dan penyakit, kesulitan dan kemakmuran; kapan mereka akan meninggalkan dunia, dan semua hal yang berkaitan dengan itu; semuanya sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.” (Penambahan penekanan oleh saya)

 

Semua orang Kristen lahir baru percaya bahwa Allah memiliki rencana dalam hidup tiap-tiap individu. Semua orang percaya yakin bahwa waktu kelahiran ataupun kematian ada di tangan Tuhan. Semua orang beriman juga mengakui bahwa segala hal yang dia nikmati dalam hidupnya adalah berkat-berkat Tuhan. Tetapi Kalvinis tidak puas sampai di situ. Kalvinis menegaskan bahwa semua yang terjadi dalam hidup seseorang, termasuk tindakannya, pikirannya, kesukaan-kesukaannya, pilihan-pilihannya, semuanya telah ditetapkan oleh Tuhan sejak kekekalan dalam dekrit-dekrit rahasia. Untuk memastikan bahwa benar inilah yang dipercayai Kalvinis, kita lihat lagi beberapa kutipan.

 

Budi Asali berkata, “Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu.” Berkhof memperjelas posisi Reformed: “Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi…” (Penambahan penekanan oleh saya)

 

Tanggapan saya:

a)   Ini memang kata-kata Louis Berkhof tetapi anda mengutipnya dari buku saya. Mengapa tidak memberi petunjuk tentang hal itu?

b)   Dalam buku saya, kutipan dari Louis Berkhof lebih panjang, dan ada dasar Alkitabnya. Mengapa anda potong? ‘A half truth is a whole lie!’.

 

Sampai di sini kita perlu berhenti sebentar dan bertanya kepada Kalvinis: “Apakah segala sesuatu yang dimaksud di sini benar-benar berarti segala sesuatu?” Pertanyaan ini penting, karena Kalvinis sering memiliki interpretasi sendiri mengenai kata “segala” atau “semua.” Ketika Alkitab mengatakan bahwa Yesus mati bagi “semua manusia,” Kalvinis bersikukuh bahwa “semua” yang dimaksud adalah “semua orang pilihan.” Jangan-jangan, maksud Kalvinis adalah bahwa Allah menetapkan “segala sesuatu yang pilihan saja.” Tetapi kita dipuaskan oleh para Kalvinis bahwa memang mereka percaya Allah menetapkan segala sesuatu tanpa kecuali.

 

David West berkata, “Allah menetapkan sejak awal segala sesuatu, baik yang beranimasi (bergerak/hidup), maupun yang tidak beranimasi (diam/mati). DekritNya mencakup semua malaikat, baik yang baik maupun yang jahat.” Tow dan Khoo memperjelas: “Dengan kuasa yang tak terbatas dan hikmat yang tak terbatas, Allah telah sejak kekekalan lampau, memutuskan dan memilih dan menetapkan segala peristiwa yang terjadi tanpa kekecualian, sampai dengan kekekalan yang akan datang.” Melanchthon menghilangkan segala keraguan kita dengan berkata bahwa “Segala sesuatu terjadi sesuai dengan ketetapan ilahi; bukan hanya pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan secara eksternal, tetapi bahkan juga pikiran-pikiran yang kita pikirkan secara internal.”

 

Tanggapan saya:

Saya tidak tahu siapa David West maupun Tow dan Khoo, tetapi saya tahu bahwa Melanchton bukan seorang Calvinist! Ia adalah orang Arminian seperti anda! Jadi, kalau kutipan anda benar, maka ternyata ada orang-orang Arminian yang juga percaya doktrin Reformed / Calvinist ini!

 

B. Allah Menetapkan Dosa

 

Satu hal yang mengganggu saya ketika merenungkan pernyataan-pernyataan Kalvinis bahwa “Allah menetapkan segala sesuatu,” adalah masalah dosa. Kalau Allah menetapkan segala sesuatu, maka berarti Ia menetapkan juga semua dosa yang pernah diperbuat, yang sedang diperbuat, dan yang akan diperbuat. Ini berarti bahwa Allah-lah yang menetapkan agar Adam dan Hawa makan buah yang Ia larang. Bukankah lucu bila Allah melarang mereka makan buah itu, tetapi Ia pula yang menetapkan agar mereka makan buah itu?

 

Tanggapan saya:

a)   ‘Lucu’ itu kan logika anda. Jangan berargumentasi hanya menggunakan logika. Inikah argumentasi berdasarkan Alkitab yang anda sebutkan di atas?

b)   Dari kutipan yang anda berikan dari buku saya di atas jelas bahwa anda sudah membaca buku saya itu. Dalam buku saya, saya memberikan argumentasi dalam persoalan kejatuhan Adam dan Hawa yang sudah ditentukan. Mengapa argumentasi saya tak dibahas? Bingung bagaimana mematahkannya?

 

Lebih mengerikan lagi adalah pemikiran bahwa Allah yang menetapkan semua pembunuhan yang pernah terjadi. Jika Allah menetapkan segala sesuatu, maka tindakan semua pemerkosa ditentukan oleh Allah. Sesuai dengan pernyataan Melanchthon, bahwa Allah menentukan “…juga pikiran-pikiran yang kita pikirkan secara internal,” maka semua benci, iri hati, kesombongan, pikiran kotor, hawa nafsu, pikiran perzinahan, juga terjadi karena ditetapkan demikian dalam dekrit Allah.

Apakah anda terganggu dengan semua itu? Saya tahu bahwa saya terganggu, karena saya tidak bisa membayangkan bahwa Allah yang MAHAKUDUS menetapkan satu dosa pun untuk terjadi, jangankan semua dosa yang pernah dan akan ada! Oleh karena itu, saya berulang mengecek, apa benar itu yang dipercayai para Kalvinis?

 

Boettner menegaskan: “Bahkan kejatuhan Adam, dan melaluinya kejatuhan umat manusia, bukanlah suatu kebetulan atau kecelakaan, tetapi sudah ditetapkan demikian dalam keputusan rahasia Allah.” (Penambahan penekanan oleh saya)

 

Perhatikan bahwa Kalvinis bukan hanya berbicara mengenai “mengizinkan dosa.” Kalvinis berbicara mengenai “menetapkan dosa.” Ada perbedaan yang besar antara “menetapkan” dan “mengizinkan.” Ada Kalvinis yang mencoba untuk menyamarkan doktrin mereka dengan menggunakan bahasa “izin.”

 

Tanggapan saya:

Calvin sendiri bahkan tidak senang dengan istilah ‘ijin’ itu, dan ini terlihat dari 2 kutipan kata-kata Calvin di bawah ini.

Calvin: “God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

Calvin: “Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission - as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will”(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providensia Allah dengan ‘sekedar ijin’ - seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya ter-gantung pada kehendak manusia) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

 

Memang para Calvinist yang lain mau menggunakan kata ‘ijin’ tetapi bukan dengan motivasi seperti yang Liauw katakan. Untuk Liauw, saya beri nasehat: Jangan menebak motivasi Calvinist dalam menggunakan kata ‘izin’, kalau anda tidak mengetahuinya. Itu merupakan fitnah! Kalau Calvinist memang mau menyamarkan mengapa dalam penggunaan kata ‘ijin’, mengapa gerangan mereka sering / pada umumnya lalu memberikan tambahan penjelasan bahwa ‘itu bukan sekedar ijin’?

 

Contoh:

 

Herman Hoeksema: “Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God” (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

Louis Berkhof: “It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man ‘both to will and to do’, when man goes con­trary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” [= Merupakan kebiasaan untuk berbicara tentang ketetapan Allah berkenaan dengan kejahatan moral sebagai bersifat mengijinkan. Oleh ketetapanNya Allah membuat tindakan-tindakan berdosa dari manusia menjadi pasti tanpa menetapkan untuk menyebabkan mereka terjadi dengan bertindak langsung dan bertindak dalam kehendak terbatas (kehendak manusia) itu. Ini berarti bahwa Allah tidak secara positif bekerja dalam manusia ‘baik untuk menghendaki dan untuk melakukan’, pada waktu manusia berjalan bertentangan dengan kehendakNya yang dinyatakan. Tetapi harus diperhatikan baik-baik bahwa ketetapan yang bersifat mengijinkan tidak berarti suatu ijin pasif dari sesuatu yang tidak ada di bawah kontrol dari kehendak ilahi. Itu merupakan suatu ketetapan yang membuat tindakan berdosa yang akan datang itu pasti secara mutlak, tetapi dalam mana Allah menentukan (a) tidak menghalangi keputusan yang berdosa yang dilakukan sendiri oleh kehendak terbatas / kehendak manusia; dan (b) mengatur dan mengontrol akibat / hasil dari keputusan berdosa ini] - ‘Systematic Theology’, hal 105.

Juga mengapa di bawah ini R. C. Sproul menjelaskan bahwa mengijinkan pada hakekatnya juga menentukan / menghendaki?

Sekarang maukah anda mengakui bahwa kata ‘menyamarkan’ yang anda gunakan itu merupakan suatu fitnah? Mau mengaku dosa kepada Allah sekarang juga, Liauw? Ingat, ajaran anda sendiri mengatakan bahwa keselamatan bisa hilang! Memfitnah, dan tak mau mengakuinya dan bertobat darinya, akan menghancurkan keselamatan anda (kalau anda pernah mempunyainya!)!

 

R. C. Sproul, agak bingung membedakan antara “menentukan” dengan “mengizinkan.” Dia berkata, “ Jika Ia [Allah] mengizinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengizinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengizinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. … Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar izinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengizinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri.”

 

Tanggapan saya:

a)   Yang bingung R. C. Sproul atau anda, Liauw? Mungkin anda kurang pintar untuk mengerti kata-kata R. C. Sproul. Bagi saya, dan semua orang yang cukup cerdas, kata-kata R. C. Sproul sama sekali tidak membingungkan. Bagian yang mana yang membingungkan? Akan saya jelaskan!

b)   Kata-kata R. C. Sproul juga anda kutip dari buku saya, tanpa memberi petunjuk. Mengapa? Supaya anda dianggap terpelajar karena banyak referensi yang anda gunakan sementara sebenarnya anda hanya menggunakan buku saya (atau setidaknya mayoritas dari buku saya)??

 

Kalau Kalvinis hanya mengatakan bahwa “Allah mengizinkan dosa,” maka saya setuju! Mengizinkan dosa berbeda dengan menetapkan dosa. Memberi izin berarti bahwa kehendak untuk melakukan berasal dari pribadi lain, dan pihak pemberi izin melakukan supervisi. Menetapkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari yang menetapkan itu.

 

Tanggapan saya:

Salah! Coba beri contoh satu orang Calvinist saja yang berpendapat bahwa ‘Menetapkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari yang menetapkan itu’. Itu kesimpulan anda yang anda masukkan ke dalam ajaran Calvinisme! Lagi-lagi suatu fitnahan, Liauw!

 

Kalvinis-kalvinis lain lebih jujur dan dengan terus terang menyatakan bahwa Allah menetapkan dosa.

Arthur Pink membuat jelas bagi kita: “Jelaslah bahwa adalah kehendak Allah dosa harus masuk ke dalam dunia, sebab kalau tidak demikian maka ia [dosa] telah tidak masuk, karena tidak ada sesuatupun yang terjadi selain yang telah didekritkan Allah sejak kekal. Lebih lanjut lagi, masalah ini lebih dari sekedar memberi izin semata, karena Allah hanya mengizinkan apa yang Ia kehendaki.” (Penambahan penekanan oleh saya)

 

Tanggapan saya:

Dari kutipan yang anda berikan, Arthur Pink JUGA Berbicara tentang ijin! Perhatikan kata-kata anda yang saya beri warna merah!

 

Pink melanjutkan, “Bukan hanya mataNya [Allah] yang mahatahu melihat Adam memakan buah yang terlarang itu, tetapi Ia telah mendekritkan sebelumnya bahwa ia [Adam] harus melakukannya.” Palmer menegaskan, “Adalah Alkitabiah untuk mengatakan bahwa Allah telah menetapkan dosa. Jika dosa berada di luar rencana Allah, maka tidak ada satupun hal penting dalam kehidupan yang dikuasai oleh Allah.” (Penambahan penekanan oleh saya)

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda mengutip kata-kata Edwin Palmer dari saya dan mengutipnya hanya sebagian. Kalau anda teruskan kutipan itu, Edwin Palmer menunjukkan logika yang hebat, karena memang, seperti ia katakan, sangat sedikit, kalau ada, tindakan-tindakan manusia yang betul-betul sempurna. Tidak sempurna berarti berdosa, bukan demikian Liauw? Dan kalau semua tidak sempurna, semua berdosa, dan semua ada di luar rencana Allah!

Edwin H. Palmer: “It is even Biblical to say that God has foreordained sin. If sin was outside the plan of God, then not a single important affair of life would be ruled by God. For what action of man is perfectly good? All of history would then be outside of God’s foreordination: the fall of Adam, the crucifixion of Christ, the conquest of the Roman Empire, the battle of Hastings, the Reformation, the French Revolution, Waterloo, the American Revolution, the Civil War, two World Wars, presidential assassinations, racial violence, and the rise and fall of nations” (= Bahkan adalah sesuatu yang Alkitabiah untuk mengatakan bahwa Allah telah menentukan dosa lebih dulu. Jika dosa ada di luar rencana Allah, maka tidak ada satupun peristiwa kehidupan yang penting yang diperintah / dikuasai / diatur oleh Allah. Karena tindakan apa dari manusia yang baik secara sempurna? Seluruh sejarah juga akan ada di luar penentuan lebih dulu dari Allah: kejatuhan Adam, penyaliban Kristus, penaklukan kekaisaran Romawi, pertempuran Hastings, Reformasi, Revolusi Perancis, Waterloo, Revolusi Amerika, Perang saudara Amerika, kedua perang dunia, pembunuhan presiden, kejahatan / kekejaman rasial, dan bangkitnya dan jatuhnya bangsa-bangsa) - ‘The Five Points of Calvinism’, hal 82.

Kutipan terakhir dari Palmer mengandung permainan kata-kata yang cukup berbahaya. Tidak ada orang lahir baru yang mengajarkan bahwa “dosa berada di luar rencana Allah.” Saya percaya bahwa dosa sangat diperhitungkan oleh Allah dalam rencanaNya. Sekali lagi, ini berbeda dengan mengatakan bahwa Allah menetapkan dosa. Jika saya sudah tahu bahwa besok akan hujan, maka hujan bisa ada dalam perencanaan saya, tanpa sedikitpun dapat dikatakan bahwa saya menetapkan hujan. Oleh karena itu, penggunaan kata “rencana” harus diperjelas. Kalvinis percaya bahwa Allah menetapkan dosa, jadi mereka percaya bahwa Allah merencanakan dosa. Merencanakan dosa tentu berbeda dengan sekedar “dosa ada dalam rencana Allah.”

 

Tanggapan saya:

Rencana Allah sangat luas, dan memang mencakup dosa. Ia betul-betul merencanakan supaya dosa itu terjadi. Itu yang dimaksud dengan ‘dosa ada dalam rencana Allah’, dan itu jelas juga sama dengan ‘dosa ditetapkan / direncanakan oleh Allah’. Tetapi ini berbeda dengan kata-kata ‘dosa sangat diperhitungkan oleh Allah dalam rencanaNya’. Kalau yang terakhir ini bisa diartikan bahwa Ia hanya tahu kalau dosa bakal ada, dan dalam rencanaNya, Ia juga merencanakan bagaimana cara menangani dosa yang akan muncul itu. Ini pandangan Arminianisme!

 

Jadi, janganlah ada Kalvinis yang marah jika saya berkata, “allahnya Kalvinis adalah allah yang merencanakan dosa, dan yang mengharuskan manusia berbuat dosa.” Kalau anda Kalvinis, dan anda shock dengan pernyataan ini, maka anda belum tahu pengajaran Kalvinis yang sejati.

 

Tanggapan saya:

Pernyataan anda salah, Liauw! Dari mana kata ‘mengharuskan’ itu muncul? Itu tidak ada dalam theologia Calvinist. Coba beri bukti siapa yang mengatakan demikian. Apa yang Allah tentukan / rencanakan, memang pasti terjadi.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal”.

Tetapi ‘pasti terjadi’ sangat berbeda dengan ‘mengharuskan’. Kalau mengharuskan, berarti Allah memerintahkan dosa itu dilakukan. Itu tak pernah diajarkan oleh Calvinist manapun, Liauw! Lagi-lagi fitnah!

 

Bicara tentang marah, saya tidak marah. Saya kasihan dengan anda yang begitu bodoh, sehingga menyerang ‘Calvinisme’ yang sebetulnya bukan Calvinisme! Lalu untuk apa saya marah?

 

Terus terang pertama kali saya mempelajari Kalvinisme, saya juga shock dengan deklarasi demikian. Tetapi setelah saya selidiki pengajaran tokoh-tokoh Kalvinis itu sendiri, saya dapatkan bahwa benar demikian. Dan sebelum saya dapat protes terhadap deklarasi mereka, para Kalvinis menyuguhkan dulu suatu premis lain lagi: “Kalau Allah mahatahu, itu berarti Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk dosa.”

 

C. Allah Tahu Karena Allah Menetapkan

 

Semua orang Kristen lahir baru tentunya percaya bahwa Allah memiliki sifat mahatahu. Allah tahu segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Allah tahu tentang segenap perbuatan, kejadian, peristiwa, bahkan pikiran, perasaan, dan hal-hal yang paling tersembunyi sekalipun. Bukan hanya itu saja, Allah juga tahu semua kemungkinan yang bisa terjadi, dan semua alternatif dari realita.

 

Tanggapan saya:

Untuk yang saya beri warna merah, saya tidak setuju. Hal-hal yang dari sudut Allah betul-betul contingent (bisa terjadi bisa tidak terjadi), tidak mungkin bisa diketahui oleh siapapun, termasuk oleh Allah.

Kalau bisa terjadi A atau B atau C, dan sama sekali tak ada ketentuan akan terjadi yang mana, lalu Allah tahu apa tentang hal itu? Misalnya Dia tahu bahwa yang akan terjadi adalah A, maka apa yang Ia tahu itu sudah pasti terjadi. Itu berarti A itu sudah tertentu, bukan lagi merupakan sesuatu yang contingent!

Kalau hal-hal yang contingent dari sudut kita, maka memang Allah tahu akan hal itu, karena dari sudut Allah, apa yang contingent bagi kita bukan contingent bagi Dia!

 

Walaupun Non-Kalvinis mempercayai Allah mahatahu, Kalvinis memiliki pengertian yang lain tentang kemahatahuan. Kalvinis percaya bahwa jika Allah mahatahu, berarti Allah menentukan segala sesuatu.

 

Logika Kalvinis berjalan seperti ini:

“Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu mahatahu (1Sam 2:3 – “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu”), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu.”


Saya akan memperjelas lagi dengan mengambil suatu contoh kasus imajiner, yaitu seorang bernama Budi yang suatu hari tertentu memilih untuk memakai baju merah. Allah sudah mengetahui bahwa Budi akan memakai baju merah pada hari itu. Pengetahuan Allah akan hal ini sudah sejak kekekalan lampau. Dan, pengetahuan Allah tentu tidak dapat salah atau gagal, karena Ia Allah dan Ia mahatahu. Jadi, menurut filosofi Kalvinis, Budi tidak memiliki pilihan lain. Kalau Budi pada hari itu memilih baju biru, maka pengetahuan Allah menjadi salah, dan ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, walaupun tampaknya seolah-olah Budi menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih baju merah dari berbagai pilihan berwarna-warni baju di lemari, menurut Kalvinis sebenarnya Budi sudah ditetapkan untuk memilih baju merah, dan bahwa Budi tidak bisa memilih baju warna lain karena Allah sudah tahu dia akan pilih merah, dan pengetahuan Allah tidak bisa salah.

 

Tanggapan saya:

Bukan ‘seolah-olah’, Liauw!

 

Sedemikian yakinnya Kalvinis akan jalur logika dan kesimpulan ini, sehingga Boettner berkata, “Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di hadapan kekonsistenan logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu.”

Tanggapan saya:

Asal tahu saja, argumentasi Loraine Boettner dalam hal ini, yang membuat saya, yang tadinya hanya menganggap Allah hanya mengijinkan dosa, akhirnya percaya bahwa ternyata Alkitab mengajarkan bahwa Allah menentukan dosa. Saya mengaminkan kata-kata Boettner itu dengan segenap hati! Dan saya yakin argumentasi ini tidak bakal bisa digugurkan oleh siapapun juga! Saya belum pernah tahu ada orang manapun bisa menghancurkan argumentasi ini! Dan saya tantang anda untuk melakukannya!

 

Bukan hanya itu, Kalvinis juga menyimpulkan bahwa Allah mahatahu karena Ia menetapkan segala sesuatu. Shedd berkata, “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” Warfield menambahkan, “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri.” Baik anda Kalvinis maupun Non-Kalvinis, anda perlu membaca dan meresapi apa makna dari pernyataan Kalvinis: Allah tidak bisa tahu suatu peristiwa jika Ia tidak menentukan peristiwa itu. Bukankah ini justru mengecilkan kemahatahuan Tuhan?

 

Tanggapan saya:

Terus terang, bahwa bagian ini mula-mula juga membingungkan saya, karena sangat sukar. Tetapi setelah saya renungkan, saya yakin kata-kata itu benar, dan sama sekali tidak mengecilkan kemahatahuan Allah. Kalau kata-kata R. C. Sproul di atas tadi sudah tak bisa anda mengerti, maka saya yakin anda tidak bakal mengerti bagian ini, biarpun anda renungkan sampai akhir jaman!

 

Sampai dengan titik ini, saya belum memberikan ayat-ayat Alkitab ataupun argumen-argumen untuk menyatakan kesalahan posisi Kalvinis. Sampai dengan titik ini, tujuan utama saya adalah untuk menjelaskan pada anda, apa yang sebenarnya Kalvinis percayai. Oleh karena itulah saya tidak sekedar menjelaskan dengan kata-kata saya sendiri, tetapi mengutip langsung dari sumber-sumber Kalvinis. Boettner, Melanchthon, Pink, Sproul, Palmer, Warfield, Shedd, adalah nama-nama besar Kalvinis. Mereka diakui oleh dunia sebagai Kalvinis. Masih banyak lagi tokoh Kalvinis yang akan saya kutip nanti. Tetapi saya ingin anda tahu bahwa saya tidak mengada-ada atau melakukan misrepresentasi terhadap pengajaran Kalvinis.

 

Tanggapan saya:

Jangan berdusta, Liauw! Ada yang anda kutip dari sumber langsung (itupun mungkin). Tetapi banyak yang anda kutip secara tidak langsung, karena anda kutip melalui buku saya! Mau saya buktikan? Enak ya kalau mengutip dari saya, ada bahasa Inggrisnya dan ada terjemahannya sekalian!

Anda berdusta dan memfitnah banyak sekali, Liauw! Tidak takut keselamatan anda hilang? Ternyata orang yang percaya keselamatan bisa hilang berdosa seenaknya sendiri! Padahal mereka biasanya menuduh bahwa orang-orang Calvinist, yang mempercayai keselamatan tidak bisa hilang itulah, yang berdosa seenaknya sendiri!

 

Nah, sebelum saya menjelaskan letak kesalahan dari premis dasar Kalvinisme, saya ingin mengajak pembaca sekalian untuk melihat konsekuensi dari premis dasar Kalvinisme. Saya ingin tahu, jika seseorang memegang pandangan Kalvinisme ini secara konsisten, apa yang akan terjadi.

 

Tanggapan saya:

Saya belum membaca bagian di bawah ini, tetapi dari kata ‘konsekuensi’ yang anda gunakan, saya tahu bahwa bakal muncul fitnahan lagi, karena konsekwensi yang anda maksudkan, pasti bukan yang Calvinisme ajarkan!

 

III. Konsekuensi Pandangan Kalvinisme

 

Logika dan Alkitab mengajarkan kita bahwa untuk segala tindakan dan kepercayaan, pasti ada konsekuensi yang mengikuti. “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Oleh sebab itulah kita mengajari anak-anak kita bahwa tindakan mereka akan membawa konsekuensi. Kalau mereka nakal, kita pukul atau hukum untuk mengajarkan konsekuensi negatif untuk tindakan seperti itu. Sebaliknya kalau mereka melakukan yang baik, kita beri insentif. Ini kita lakukan, karena kita ingin menanamkan pada anak-anak bahwa tindakan dan perilaku mereka akan membawa konsekuensi.

Sebagai contoh lain, Alkitab selalu mengajarkan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman, pasti akan menghasilkan buah. Iman sejati selalu diikuti oleh pekerjaan baik. Memang ada orang yang tidak memiliki buah walaupun mengklaim diri percaya pada Tuhan Yesus. Tentunya mereka ini tidak benar-benar percaya.

Demikian juga dengan Kalvinisme. Jika premis dasar Kalvinisme benar, yaitu bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu sejak kekekalan, bahkan dosa, dan bahwa kemahatahuan Allah (yang adalah karena penetapanNya) menyebabkan manusia tidak memiliki pilihan lain selain apa yang Allah tetapkan itu, maka:

 

A. Manusia Tidak Memiliki Kehendak Bebas

 

Jika Tuhan sudah menetapkan segala sesuatu, termasuk tindakan, pikiran, dan keputusan semua makhlukNya, sebagaimana diajarkan Kalvinisme, maka secara logis tidak ada satupun makhluk yang memiliki kehendak bebas. Manusia pun tidak memiliki kehendak bebas. Bahkan, kalau mau dipikirkan secara konsisten, maka kita tidak bisa mengatakan, “keputusan Budi untuk memakai baju merah.” Keputusan itu bukanlah keputusan Budi, melainkan keputusan atau ketetapan Allah. Budi hanyalah agen pelaksana ketetapan Allah.

 

Tanggapan saya:

Hehehe, saya benar, kan? Saya cukup mengerti ‘cara berpikir / logika’ yang bodoh dari orang Arminian. Konsekwensi yang anda maksudkan muncul dari ‘logika / cara berpikir’ anda, bukan dari Alkitab, yang merupakan dasar ajaran Calvinisme.

Ini lagi-lagi fitnahan, karena Calvinisme tidak mengajar demikian! Ajaran Calvinisme, Budi pakai baju merah itu memang keputusan / penetapan Allah, tetapi sekaligus juga adalah keputusan Budi sendiri! By the way, pada saat ini Budi memilih untuk tidak pakai baju, karena cuaca sedang panas, dan Budi memilih untuk menjawab tulisan tolol dari seorang Arminian supaya jangan banyak orang disesatkan oleh kata-kata tolol itu . Dan itupun sesuai dengan ketentuan / penetapan Allah! Budi sama sekali tidak merasa dipaksa oleh Allah, itu betul-betul kemauannya, tetapi itu juga adalah ketetapan Allah, yang tidak bisa tidak terjadi!

 

Loraine Boettner: “Perhaps the relationship between divine sovereignty and human freedom can best be summed up in these words: God so presents the outside inducements that man acts in accordance with his own nature, yet does exactly what God has planned for him to do” (= Mungkin hubungan antara kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia bisa disimpulkan dengan cara terbaik dengan kata-kata ini: Allah memberikan dorongan / bujukan dari luar sedemikian rupa sehingga manusia bertindak sesuai dengan dirinya, tetapi melakukan secara tepat apa yang Allah telah rencanakan baginya untuk dilakukan) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.

Charles Haddon Spurgeon: (tentang tentara yang tidak mematahkan kaki Kristus tetapi menusukNya dengan tombak - Yoh 19:33-34).

“They acted of their own free will, and yet at the same time they fulfilled the eternal counsel of God. Shall we never be able to drive into men’s mind the truth that predestination and free agency are both facts? Men sin as freely as birds fly in the air, and they are altogether responsible for their sin; and yet everything is ordained and foreseen of God. The foreordination of God in no degree interferes with the responsibility of man. I have often been asked by persons to reconcile the two truths. My only reply is - They need no reconciliation, for they never fell out. Why should I try to reconcile two friends? Prove to me that the two truths do not agree. In that request I have set you a task as difficult as that which you propose to me. These two facts are parallel lines; I cannot make them unite, but you cannot make them cross each other (= Mereka bertindak dengan kehendak bebas mereka, tetapi pada saat yang sama mereka menggenapi rencana yang kekal dari Allah. Apakah kita tidak akan pernah bisa menancapkan ke dalam pikiran manusia kebenaran bahwa predestinasi dan kebebasan agen / manusia dua-duanya merupakan fakta? Manusia berbuat dosa sebebas burung-burung yang terbang di udara, dan mereka semuanya bertanggung jawab untuk dosa mereka; tetapi segala sesuatu ditetapkan dan dilihat lebih dulu oleh Allah. Penetapan lebih dulu dari Allah sama sekali tidak mengganggu tanggung jawab manusia. Saya sering ditanya oleh orang-orang untuk mendamaikan dua kebenaran ini. Jawaban saya hanyalah - Mereka tidak membutuhkan pendamaian, karena mereka tidak pernah bertengkar. Mengapa saya harus mendamaikan 2 orang sahabat? Buktikan kepada saya bahwa dua kebenaran itu tidak setuju / cocok. Dalam permintaan itu saya telah memberimu suatu tugas yang sama sukarnya seperti yang kaukemu-kakan kepada saya. Kedua fakta ini adalah garis-garis yang paralel; saya tidak bisa membuat mereka bersatu, tetapi engkau tidak bisa membuat mereka bersilangan) - ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord, vol VI - The Passion and Death of Our Lord’,  hal 670-671.

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): “We have here a striking and clear instance of the doctrine that the decrees of God do not interfere with the free agency of people. This event was certainly determined beforehand. Nothing is clearer than this. It is here expressly asserted; and it had been foretold with undeviating certainty by the prophets. God had, for wise and gracious purposes, purposed or decreed in his own mind that his Son should die at the time and in the manner in which he did; for all the circumstances of his death, as well as of his birth and his life, were foretold; and yet in this the Jews and the Romans never supposed or alleged that they were compelled or cramped in what they did. They did what they chose. If in this case the decrees of God were not inconsistent with human freedom, neither can they be in any case. Between those decrees and the freedom of man there is no inconsistency, unless it could be shown - what never can be that God compels people to act contrary to their own will. In such a case there could be no freedom. But that is not the case with regard to the decrees of God” (= belum diterjemahkan ).

Charles Hodge: God can control the free acts of rational creatures without destroying either their liberty or their responsibility” (= Allah bisa mengontrol tindakan-tindakan bebas dari makhluk-makhluk rasionil tanpa menghancurkan kebebasan ataupun tanggung jawab mereka) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 332.

Saya berpendapat bahwa bagian yang harus diperhatikan dalam kata-kata Charles Hodge ini adalah ‘God can’ (= Allah bisa).

Kalau saya membuat sebuah film, maka saya akan menyusun naskah, dimana setiap pemain sudah ditentukan harus bertindak apa atau berkata apa. Tetapi sedikit atau banyak selalu ada kebebasan bagi para pemain. Kalau saya tidak memberikan kebebasan sama sekali, maka para pemain itu akan menjadi robot, yang tidak lagi mempunyai kebebasan apapun.

Tetapi Allah berbeda dengan saya atau dengan manusia lain. Allah bisa menentukan dan mengontrol segala sesuatu sampai detail-detail yang sekecil-kecilnya, tanpa menghancurkan kebebasan manusia! Bagaimana Ia bisa melakukan hal itu, merupakan suatu mystery bagi kita, tetapi yang jelas Kitab Suci menunjukkan bahwa Allah memang menentukan dan menguasai segala sesuatu, tetapi manusia tetap mempunyai kebebasan.

 

Jika diteruskan secara logis dan konsisten, maka premis dasar Kalvinisme (Allah menetapkan segala sesuatu) menjadikan seluruh ciptaan Allah dan seluruh rangkaian peristiwa sejak penciptaan hingga kekekalan nanti, sebagai sebuah sandiwara atau film yang sudah dinaskahkan. Setiap kata-kata, tindakan, dan aksi, telah dinaskahkan sesuai dengan keinginan sutradara. Manusia, anda dan saya, hanyalah salah satu pemain, yang tidak dapat melakukan apapun selain dari yang telah dinaskahkan (didekritkan sejak kekekalan). Lebih parah lagi, seorang aktor masih memiliki ruang improvisasi, tetapi Kalvinis menyatakan bahwa hal yang terkecil pun sudah ditetapkan oleh Tuhan. Dengan kata lain, manusia tidak lebih dari robot, yang harus melakukan ketetapan Allah. Kalau ada yang protes, saya hanya perlu mengingatkan bahwa adalah Kalvinis (John Gill) yang mengatakan: “Pendeknya, segala sesuatu tentang semua individu di dunia, yang pernah ada, yang ada, atau yang akan ada, semuanya sesuai dengan dekrit-dekrit Allah, dan menurut pada dekrit-dekrit itu.”.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi logika anda, tanpa Alkitab! Calvinisme pun mengakui bahwa ada suatu misteri di sini, bagaimana Allah menetapkan, tetapi manusia bisa dengan bebas melakukan. Tetapi itu adalah fakta Alkitab, dan itu juga adalah fakta dalam kehidupan sehari-hari.

Yang jelas, konklusi anda merupakan fitnahan lagi, karena tak ada satu Calvinist-pun yang percaya bahwa manusia itu seperti robot!

Kata-kata John Gill itu saya setuju, tetapi berbeda dengan anda, saya tidak menyimpulkan dari kata-kata itu bahwa Calvinisme mempercayai manusia sebagai robot!

Kata ‘harus’ yang saya garis-bawahi itu juga salah! Kata ‘pasti’ lebih cocok!

 

Calvin: “we posited a distinction between compulsion and necessity from which it appears that man, while he sins of necessity, yet sins no less voluntarily” (= kami menempatkan suatu perbedaan di antara pemaksaan dan kepastian dari mana terlihat bahwa manusia, sementara ia pasti berdosa, tetapi ia berdosa dengan sukarela) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter IV, No 1.

Kalau manusia membuat robot, tentunya segala tindakan, perkataan, dan sifat dari robot itu, adalah sesuai dengan programnya. Bukankah ini sama dengan deskripsi Kalvinis, bahwa segala tindakan, perkataan, dan segala sesuatu mengenai individu, sesuai dan menurut pada “dekrit” (program) Allah?
Allah tentu jauh lebih canggih dari manusia, sehingga kalau Allah membuat robot, dia bisa membuat robot itu memiliki perasaan dan kesadaran diri. Tidakkah pandangan Kalvinis membuat manusia masuk ke dalam kategori robot-robot canggih? Robot yang sadar diri dan memiliki perasaan. Robot yang berpikir bahwa ia memilih sesuatu, yang mengira bahwa ia memutuskan berbagai hal, tetapi yang bagaimanapun juga adalah robot karena ia tidak bisa melakukan selain dari “program”nya (dekrit Allah).
Kalvinis sering membantah dan mengatakan bahwa dia percaya manusia punya kehendak bebas. Budi Asali berkata, “…Allah menentukan segala-galanya, dan itu berarti bahwa Allah juga menentukan bahwa orang itu akan melakukan tindakan itu secara bebas.” Dalam kalimat lain, Asali memperjelas, “Sekalipun Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi saat dosa itu terjadi, manusia melakukan dosa itu dengan kemauannya sendiri! Ini menunjukkan bahwa kebebasan manusia tidak dibuang!”
Tetapi permasalahannya adalah, Kalvinis memiliki suatu definisi “bebas” yang aneh. Walaupun tindakan itu sudah ditetapkan Allah, dan manusia tidak bisa melakukan selain dari ketetapan itu, manusia masih dikatakan “bebas.” Webster mendefinisikan “free will” (Indonesia: kehendak bebas) sebagai berikut:

freedom of decision or of choice between alternatives

kebebasan pengambilan keputusan atau memilih antara alternatif-alternatif

Jadi, jelaslah bahwa “ kehendak bebas” berarti dapat memilih antara dua atau lebih alternatif. Jika tidak bisa memilih alternatif lain, maka tidak ada kebebasan. Argumen Kalvinis bahwa “walaupun Allah menentukan, tetapi manusia melakukannya dengan kemauan sendiri,” adalah suatu tipuan! Menurut Kalvinis, segalanya ditentukan Allah. Jadi, kemauan orang itupun ditentukan Allah! Orang itu mau melakukan suatu tindakan, karena Allah menetapkan bahwa dia mau! Dia tidak bisa tidak mau! Dia tidak punya pilihan! Dia tidak bisa mau melakukan apapun selain yang Allah tetapkan! Apakah manusia seperti ini bisa dikatakan memiliki kehendak bebas? Tidak mungkin, kecuali anda meredefinisi “bebas”! Yang paling baik yang bisa dikatakan Kalvinis adalah: Allah menciptakan manusia yang merasa bebas, mengira dirinya bebas, dan bahkan seolah-olah bebas, tetapi sebenarnya, semua tindakan, perasaan, pilihan, pikirannya, telah ditentukan Allah dalam dekrit-dekrit rahasia sejak kekekalan.
Jelas sekali bahwa Kalvinisme yang konsisten membawa kepada konsekuensi bahwa manusia tidak bebas. Kalvinisme sendiri mencoba untuk membenturkan antara kebebasan Allah dengan kemahatahuan Allah. Kalau Allah mahatahu, kata Kalvinis, artinya manusia tidak bisa memilih selain dari yang diketahui Allah. Jadi, Kalvinis sendiri sebenarnya mengakui bahwa manusia tidak bebas! Tetapi dengan tarikan nafas lain, dia mau mengatakan manusia itu bebas! Ini namanya berbicara dolak-dalik, atau bisa juga disebut tidak konsisten!

 

Tanggapan saya:

Anda menggunakan istilah ‘free will’. Kalau anda memang Alkitabiah, tolong berikan ayat Alkitab mana yang berbicara tentang free will?? Calvin / orang-orang Reformed sebetulnya memang menentang istilah itu. Yang bebas adalah orangnya, bukan kehendaknya.

 

Alkitab memang mengajar seperti yang Calvin / orang Reformed ajarkan.

 

Apa kata ‘Allah’ yang saya beri warna merah dalam kata-kata anda di atas itu tidak salah, Liauw? Seharusnya ‘manusia’?

 

Saya memang membenturkan kebebasan manusia (dalam ajaran Arminianisme) dengan kemahatahuan Allah. Anda tidak bisa menjawab argumentasi itu, bukan? Lalu anda membelokkan dengan mengatakan ‘Jadi, Kalvinis sendiri sebenarnya mengakui bahwa manusia tidak bebas!’. Coba jawab argumentasi itu, jangan lari darinya. Kalau Allah maha tahu, Ia pasti tahu saat ini anda akan berbuat apa. Apakah ada kemungkinan bahwa pada saat ini anda tidak melakukan hal itu? Jawab ini, Liauw!

 

Kalau anda mengatakan ‘Jadi, Kalvinis sendiri sebenarnya mengakui bahwa manusia tidak bebas!’, maka saya bisa menjawab ini. Saya / Calvinist memang mengakui bahwa sebenarnya manusia tidak bebas! Tetapi dalam arti apa? Dalam arti Arminianisme! Arminianisme mengartikan ‘bebas’ itu dalam arti bahwa dalam setiap titik dari kehidupannya, manusia itu bisa memilih untuk melakukan apapun yang ia kehendaki. Kami, orang Reformed / Calvinist, tidak mempercayai kebebasan seperti itu! Pada setiap titik dalam hidupnya, semua ditentukan oleh Allah, sehingga manusia itu pasti melakukan apapun yang Allah tentukan. Tetapi, pada waktu ia melakukan apa yang Allah tentukan itu, ia melakukannya dengan kemauan / kehendaknya sendiri. Ini yang kami artikan sebagai ‘bebas’! Anda menganggap ini sebagai definisi yang aneh dari kata ‘bebas’? Aneh tidak aneh tak jadi soal. Yang penting Alkitabiah atau tidak.

 

Dasar Alkitab dari ‘definisi yang aneh’ itu:

·         Dalam Kel 7:3 Allah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun, tetapi pada waktu ketetapan Allah itu terlaksana, ternyata Firaun mengeraskan hatinya sendiri (Kel 7:13,22  8:15,19,32  9:7,34-35).

·         Dalam Ayub 1:21 Ayub berkata bahwa ‘Tuhan yang mengambil’; tetapi dalam Ayub 1:15,17 orang-orang Syeba dan Kasdim melakukan perampokan itu dengan kemauan mereka sendiri.

·         Yes 10:5-7 - Asyur adalah alat Tuhan untuk menghukum Israel, tetapi Asyur melakukan sendiri dengan motivasi yang lain.

Yes 10:5-7 - “(5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa.

Catatan: yang saya beri garis bawah tunggal menunjukkan rencana Allah, yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan bahwa mereka melaksanakan rencana Tuhan itu, tetapi dengan kehendak / motivasi mereka sendiri.

 

B. Manusia Tidak Bertanggung Jawab Atas Tindakannya

 

Jika Allah telah menetapkan segala sesuatu, termasuk tindakan dan pikiran makhluk-makhluk ciptaanNya, dan makhluk-makhluk itu tidak dapat melakukan selain yang ditetapkan Allah, maka makhluk-makhluk itu tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka. Ini sebenarnya adalah konsekuensi yang mudah dimengerti dan mengalir secara logis dari konsekuensi yang pertama. Manusia yang telah ditentukan segala tindakan, pikiran, dan kemauannya, sejak kekekalan, adalah manusia yang tidak bebas dan bisa disamakan dengan robot. Manusia yang telah diprogram ini (telah didekritkan segala sesuatu tentang dirinya), dan yang tidak dapat bertindak selain sesuai programnya (dekrit), tentunya tidak bertanggung jawab atas isi “program” (dekrit) tersebut.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi pakai logika, dan bukan hanya tak ada dasar Alkitabnya, tetapi bahkan bertentangan dengan Alkitab. Coba bandingkan kata-kata anda itu dengan ayat / text Alkitab di bawah ini, Liauw!

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

Text ini diberikan persis setelah Paulus mengarkan doktrin predestinasi (Ro 9:10-18). Paulus sudah memikirkan adanya orang-orang yang akan berpikir seperti anda, Liauw! Kalau Allah mem-predestinasi-kan orang-orang untuk selamat atau tidak selamat, dan itu pasti terjadi, mengapa orang yang tidak percaya lalu disalahkan? Dan karena itu, Paulus memberikan Ro 9:19-21 itu! Ini Alkitab, Liauw!

 

Sebenarnya manusia mengerti akan hal ini dengan amat jelas. Bahkan Kalvinis pun mengerti akan hal ini jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada seorang Kalvinispun yang akan menyalahkan gerbong kereta api ketika kereta api menabrak orang. Kereta api itu hanya dapat berjalan di rel yang dibuat untuknya. Ia tidak dapat menyimpang ke kiri atau ke kanan. Walaupun gerbong kereta api itulah yang bergerak sepanjang rel, dan walaupun gerbong kereta api itulah yang menabrak, tetapi ia sama sekali tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi. Semuanya sudah ditentukan oleh oknum lain di luar dirinya. Oleh karena itu, Kalvinis yang se-Hyper apapun, tidak akan menuntut gerbong kereta api ke pengadilan. Jika ada pihak yang harus dituntut, maka itu adalah orang yang mengendalikan kereta itu, yang memilihkan rel baginya, dan yang mengatur kecepatannya. Ini membawa kita kepada konsekuensi yang ketiga.

 

Tanggapan saya:

Gerbong memang tak salah, karena ia benda mati yang tak punya kemauan. Tetapi masinisnya mungkin salah. Kami tak pernah menyamakan manusia dengan gerbong, yang adalah benda mati, tanpa kemauan. Anda yang melakukan itu, lalu menyerang kami seolah-olah kami setuju dengan penyamaan itu!

Perhatikan kata-kata anda yang saya beri warna merah. Orang yang hyper-Calvinist justru memang tidak akan menyalahkan manusia pada waktu manusia itu berbuat dosa. Tetapi seorang Calvinist yang murni pasti akan menyalahkan orang itu, sekalipun orang itu melakukan dosa sesuai dengan ketentuan Allah.

Mau dasar Alkitab, Liauw? Selain Ro 9:19-21 tadi, ada banyak ayat-ayat lain.

 

Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Yudas Iskariot ditentukan untuk mengkhianati Yesus, tetapi pada waktu ia melakukan hal itu, ia dipersalahkan. Ini terlihat dari kata ‘celakalah’ yang Yesus ucapkan!

Mengomentari Luk 22:22 Spurgeon berkata: “The decree of God does not lessen the responsibility of man for his action. Even though it is predetermined of God, the man does it of his own free will, and on him falls the full guilt of it” (= Ketetapan Allah tidak mengurangi tanggung jawab manusia untuk tindakannya. Sekalipun hal itu sudah ditentukan lebih dulu oleh Allah, manusia melakukannya dengan kehendak bebasnya sendiri, dan pada dialah jatuh kesalahan sepenuhnya) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 18.  

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.

Apakah Herodes, Pontius Pilatus, tokoh-tokoh Yahudi, orang-orang Romawi, dsb tidak disalahkan? Sudah jelas ya!

 

Mat 18:7 - Celakalah dunia dengan segala penyesatan­nya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya!”.

Harus ada, berarti sudah ditentukan. Tetapi celakalah mereka. Ini menunjukkan mereka tetap dipersalahkan.

 

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.

Kata-kata ‘menurut maksud dan rencanaNya’ menunjukkan ketetapan Allah, sedangkan kata ‘durhaka’ menunjukkan bahwa mereka dipersalahkan.

 

Anda tak menggunakan Alkitab, Liauw, tetapi saya menggunakannya. Terserah mau tunduk pada Alkitab atau tidak! Dan bagi para pembaca, terserah mau setuju pada logika Liauw, atau pada Alkitab / Firman Tuhan!

 

C. Allah Bertanggung Jawab Atas Tindakan CiptaanNya

 

Jika Allah menentukan segala sesuatu, maka Allahlah yang bertanggung jawab atas segala sesuatu! Ini adalah pernyataan yang sederhana namun benar! Ingat bahwa adalah Kalvinis sendiri yang ngotot bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dari hal besar hingga hal remeh.

 

Tanggapan saya:

 

Kalimat pertama dan kedua (yang saya beri garis bawah tunggal) saya tidak setuju. Allah menentukan segala sesuatu, termasuk dosa. Itu tidak bisa diartikan bahwa Ia bertanggung jawab atas dosa itu, karena bukan Ia yang melakukannya!

 

Tetapi kalimat ketiga (yang saya beri garis bawah ganda) memang merupakan ajaran Calvinisme, dan ini juga adalah ajaran Alkitab.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Apakah burung pipit itu hal besar atau hal remeh, Liauw? Jelas hal remeh, bukan? Tetapi tak satupun jatuh / mati di luar kehendak Tuhan. Dan ayat selanjutnya bicara tentang rambut. Hal yang lebih remeh lagi. Kontext jelas harus menentukan arti dari ayat itu. Artinya, rambutpun tidak satupun bisa rontok kalau bukan karena kehendak Tuhan. Jadi, Calvinisme sesuai Alkitab, bukan? Tetapi pada waktu kami mengajar seperti itu, anda katakan kami ‘ngotot’??? Saya memang ngotot untuk jadi orang yang Alkitabiah, Liauw!

 

B. B. Warfield: “the minutest occurrences are as directly controlled by Him as the greatest (Matt. 10:29-30, Luke 12:7)” [= Peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terkecil dikontrol secara langsung oleh Dia sama seperti peristiwa-peristiwa / kejadian-kejadian yang terbesar (Mat 10:29-30, Luk 12:7)] - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 296.

Calvin: “But anyone who has been taught by Christ’s lips that all the hairs of his head are numbered (Matt 10:30) will look farther afield for a cause, and will consider that all events are governed by God’s secret plan [= Tetapi setiap orang yang telah diajar oleh bibir Kristus bahwa semua rambut kepalanya terhitung (Mat 10:30) akan melihat lebih jauh untuk suatu penyebab, dan akan menganggap bahwa semua kejadian diatur oleh rencana rahasia Allah] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 2.

Calvin: “... it is certain that not one drop of rain falls without God’s sure command” (= ... adalah pasti bahwa tidak satu titik hujanpun yang jatuh tanpa perintah yang pasti dari Allah) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVI, no 5.

Bdk. Yer 14:22 - “Adakah yang dapat menurunkan hujan di antara dewa kesia-siaan bangsa-bangsa itu? Atau dapatkah langit sendiri memberi hujan lebat? Bukankah hanya Engkau saja, ya TUHAN Allah kami, Pengharapan kami, yang membuat semuanya itu?”. Bandingkan juga dengan Ayub 28:25-26  37:6,10-13  Maz 68:10  Maz 147:8  Amos 4:7  9:5a,6b  Zakh 10:1.

Dan dalam tafsirannya tentang kata-kata ‘jika Allah menghendakinya’ dalam Kis 18:21, Calvin berkata: “we do all confess that we be not able to stir one finger without his direction” (= kita semua mengakui bahwa kita tidak bisa menggerakkan satu jari tanpa pimpinanNya).

Calvin: “A certain man has abundant wine and grain. Since he cannot enjoy a single morsel of bread apart from God’s continuing favor, his wine and granaries will not hinder him from praying for his daily bread” (= Seorang tertentu mempunyai anggur dan padi / gandum berlimpah-limpah. Karena ia tidak bisa menikmati sepotong kecil rotipun terpisah dari kemurahan / kebaikan hati yang terus menerus dari Allah, anggur dan lumbung-lumbungnya tidak menghalangi dia untuk berdoa untuk roti hariannya) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XX, No 7.

Mengomentari Luk 22:60-61 Spurgeon berkata: “God has all things in his hands, he has servants everywhere, and the cock shall crow, by the secret movement of his providence, just when God wills; and there is, perhaps, as much of divine ordination about the crowing of a cock as about the ascending of an emperor to his throne. Things are only little and great according to their bearings; and God reckoned not the crowing bird to be a small thing, since it was to bring a wanderer back to his Saviour, for, just as the cock crew, ‘The Lord turned, and looked upon Peter.’ That was a different look from the one which the girl had given him, but that look broke his heart” [= Allah mempunyai / memegang segala sesuatu di tanganNya, Ia mempunyai pelayan di mana-mana, dan ayam akan berkokok, oleh gerakan / dorongan rahasia dari providensiaNya, persis pada saat Allah menghendakinya; dan di sana mungkin ada pengaturan / penentuan ilahi yang sama banyaknya tentang berkokoknya seekor ayam seperti tentang naiknya seorang kaisar ke tahtanya. Hal-hal hanya kecil dan besar menurut hubungannya / sangkut pautnya / apa yang diakibatkannya; dan Allah tidak menganggap berkokoknya burung / ayam sebagai hal yang kecil, karena itu akan membawa orang yang menyimpang kembali kepada Juruselamatnya, karena, persis pada saat ayam itu berkokok, ‘berpalinglah Tuhan memandang Petrus’. Ini adalah pandangan yang berbeda dengan pandangan yang tadi telah diberikan seorang perempuan kepadanya (Luk 22:56), tetapi pandangan itu menghancurkan hatinya] - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 12, hal 20.

Kalau saudara merasa heran mengapa hal-hal yang kecil / remeh itu juga ditetapkan oleh Allah, seakan-akan Allah itu kekurangan kerjaan (bahasa Jawa: kengangguren), maka ingatlah bahwa:

a)   Kedaulatan yang mutlak dari Allah tidak memungkinkan adanya hal yang bagaimanapun kecil dan remehnya ada di luar Rencana Allah dan Providence of God.

b)   Semua hal-hal di dunia / alam semesta ini berhubungan satu dengan yang lain, sehingga hal kecil / remeh bisa menimbulkan hal yang besar!

Tentang kejatuhan Ahazia dari kisi-kisi kamar atas dalam 2Raja 1:2, Pulpit Commentary memberikan komentar sebagai berikut: “The fainéant king came to his end in a manner: 1. Sufficiently simple. Idly lounging at the projecting lattice window of his palace in Samaria - perhaps leaning against it, and gazing from his elevating position on the fine prospect that spreads itself around - his support suddenly gave way, and he was precipitated to the ground, or courtyard, below. He is picked up, stunned, but not dead, and carried to his couch. It is, in common speech, an accident - some trivial neglect of a fastening - but it terminated this royal career. On such slight contingencies does human life, the change of rulers, and often the course of events in history, depend. We cannot sufficiently ponder that our existence hangs by the finest thread, and that any trivial cause may at any moment cut it short (Jas. 4:14).  2. Yet providential. God’s providence is to be recognized in the time and manner of this king’s removal. He had ‘provoked to anger the Lord God of Israel’ (1Kings 22:53), and God in this sudden way cut him off. This is the only rational view of the providence of God, since, as we have seen, it is from the most trivial events that the greatest results often spring. The whole can be controlled only by the power that concerns itself with the details. A remarkable illustration is afforded by the death of Ahaziah’s own father. Fearing Micaiah’s prophecy, Ahab had disguised himself on the field of battle, and was not known as the King of Israel. But he was not, therefore, to escape. A man in the opposing ranks ‘drew a bow at a venture,’ and the arrow, winged with a Divine mission, smote the king between the joints of his armour, and slew him (1Kings 22:34). The same minute providence which guided that arrow now presided over the circumstances of Ahaziah’s fall. There is in this doctrine, which is also Christ’s (Matt. 10:29,30), comfort for the good, and warning for the wicked. The good man acknowledges, ‘My times are in thy hand’ (Ps. 31:15), and the wicked man should pause when he reflects that he cannot take his out of that hand” [= Raja yang malas sampai pada akhir hidupnya dengan cara: 1. Cukup sederhana. Duduk secara malas pada kisi-kisi jendela yang menonjol dari istananya di Samaria - mungkin bersandar padanya, dan memandang dari posisinya yang tinggi pada pemandangan yang indah di sekitarnya - sandarannya tiba-tiba patah, dan ia jatuh ke tanah atau halaman di bawah. Ia diangkat, pingsan, tetapi tidak mati, dan dibawa ke dipan / ranjangnya. Dalam pembicaraan umum itu disebut suatu kecelakaan / kebetulan - suatu kelalaian yang remeh dalam pemasangan (jendela / kisi-kisi) - tetapi itu mengakhiri karir kerajaannya. Pada hal-hal kebetulan / tak tentu yang remeh seperti ini tergantung hidup manusia, pergantian penguasa / raja, dan seringkali rangkaian dari peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Kita tidak bisa terlalu banyak dalam merenungkan bahwa keberadaan kita tergantung pada benang yang paling tipis, dan bahwa setiap saat sembarang penyebab yang remeh bisa memutuskannya (Yak 4:14). 2. Tetapi bersifat providensia. Providensia ilahi / pelaksanaan rencana Allah harus dikenali dalam waktu dan cara penyingkiran raja ini. Ia telah ‘menimbulkan kemarahan / sakit hati Tuhan, Allah Israel’ (1Raja 22:54), dan Allah dengan cara mendadak ini menyingkirkannya. Ini merupakan satu-satunya pandangan rasionil tentang providensia Allah, karena, seperti telah kita lihat, adalah dari peristiwa yang paling remehlah sering muncul akibat yang terbesar. Seluruhnya bisa dikontrol hanya oleh kuasa yang memperhatikan hal-hal yang kecil. Suatu ilustrasi yang hebat / luar biasa diberikan oleh kematian dari ayah Ahazia sendiri. Karena takut pada nubuat Mikha, Ahab menyamar dalam medan pertempuran, dan tidak dikenal sebagai raja Israel. Tetapi hal itu tidak menyebabkannya lolos. Seseorang dari barisan lawan ‘menarik busurnya secara untung-untungan / sembarangan’ dan anak panah itu, terbang dengan misi ilahi, mengenai sang raja di antara sambungan baju zirahnya, dan membunuhnya (1Raja 22:34). Providensia yang sama seksamanya, yang memimpin anak panah itu, sekarang memimpin / menguasai situasi dan kondisi dari kejatuhan Ahazia. Dalam doktrin / ajaran ini, yang juga merupakan ajaran Kristus (Mat 10:29-30), ada penghiburan untuk orang baik / saleh, dan peringatan untuk orang jahat. Orang baik mengakui: ‘Masa hidupku ada dalam tanganMu’ (Maz 31:16), dan orang jahat harus berhenti ketika ia merenungkan bahwa ia tidak bisa mengambil masa hidupnya dari tangan itu] - hal 13-14.

Catatan: 1Raja 22:53 dalam Kitab Suci Inggris adalah 1Raja 22:54 dalam Kitab Suci Indonesia.

Lalu, dalam tafsiran tentang 2Raja 5, dimana kata-kata yang sederhana dari seorang gadis Israel ternyata bisa membawa kesembuhan bagi Naaman dari penyakit kustanya, Pulpit Commentary mengatakan sebagai berikut: “The dependence of the great upon the small. The recovery of this warrior resulted from the word of this captive maid. Some persons admit the hand of God in what they call great events! But what are the great events? ‘Great’ and ‘small’ are but relative terms. And even what we call ‘small’ often sways and shapes the ‘great.’ One spark of fire may burn down all London” (= Ketergantungan hal yang besar pada hal yang kecil. Kesembuhan dari pejuang ini dihasilkan / diakibatkan dari kata-kata dari pelayan tawanan ini. Sebagian orang mengakui tangan Allah dalam apa yang mereka sebut peristiwa besar! Tetapi apakah peristiwa besar itu? ‘Besar’ dan ‘kecil’ hanyalah istilah yang relatif. Dan bahkan apa yang kita sebut ‘kecil’ sering mempengaruhi dan membentuk yang ‘besar’. Sebuah letikan api bisa membakar seluruh kota London) - hal 110.

R. C. Sproul: “For want of a nail the shoe was lost; for want of the shoe the horse was lost; for want of the horse the rider was lost; for want of the rider the battle was lost; for want of the battle the war was lost” [= Karena kekurangan sebuah paku maka sebuah sepatu (kuda) hilang; karena kekurangan sebuah sepatu (kuda) maka seekor kuda hilang; karena kekurangan seekor kuda maka seorang penunggang kuda hilang; karena kekurangan seorang penunggang kuda maka sebuah pertempuran hilang (kalah); karena kekurangan sebuah pertempuran maka peperangan hilang (kalah)] - ‘Chosen By God’, hal 155.

Jadi, melalui illustrasi ini terlihat dengan jelas bahwa sebuah paku, yang merupakan hal yang remeh / kecil, ternyata bisa menimbulkan kekalahan dalam peperangan, yang jelas merupakan hal yang sangat besar! Karena itu jangan heran kalau hal-hal yang kecil / remeh juga ditetapkan / direncanakan oleh Allah.

Illustrasi lain: saya pernah menonton film rekonstruksi suatu pembunuhan sebagai berikut: seorang pembunuh melakukan pembunuhan berencana dengan rencana yang begitu matang sehingga hampir-hampir tidak terbongkar. Terbongkarnya pembunuhan itu hanya karena ‘suatu kesalahan remeh’, yaitu dimana setelah membunuh korbannya, si pembunuh menyisir rambut palsu / wignya di kamar tempat ia melakukan pembunuhan, dan lalu meninggalkannya di sana. Ternyata satu helai rambut palsunya rontok, dan tertinggal di kamar, dan gara-gara satu helai rambut itu, akhirnya pembunuhannya terungkap, dan ia tertangkap. Film itu diberi judul ‘Beaten by a Hair’ (= dikalahkan oleh sehelai rambut). Anda masih menganggap bahwa rontoknya sehelai rambut merupakan sesuatu yang remeh, dan karena itu tidak mungkin Allah menentukan hal seperti itu? Ingat bahwa yang remeh bisa menimbulkan akibat yang besar. Jadi, kalau yang remeh bisa terjadi di luar kehendak / pengaturan Allah, maka yang besar juga bisa.

Mereka bersikukuh mengatakan bahwa Allah menentukan segala tindakan dan pikiran manusia. Mereka bahkan bangga dengan doktrin yang mengajarkan bahwa Allah menentukan Adam untuk berdosa!

 

Tanggapan saya:

1)   Saya memang percaya bahwa Allah menentukan Adam untuk jatuh ke dalam dosa. Kalau Allah tidak menentukan demikian, lalu bagaimana? Anda percaya Allah menentukan Adam tidak jatuh? Kalau demikian, pada waktu Adam jatuh, rencana Allah gagal! Ini bertentangan dengan Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.

Kemungkinan lain, anda mengatakan bahwa Allah tak punya rencana tentang Adam (jatuh atau tidak). Kalau untuk hal sebesar itu Allah tak punya rencana, lalu Ia punya rencana dalam hal apa? Padahal untuk hal kecil seperti burung pipit mati / rambut rontok, Ia punya rencana. Tidakkah itu aneh, Liauw?

2)   Anda memberikan kata ‘bangga’! Dari mana menyimpulkan fitnahan itu, Liauw? Kami memang mengajarkan itu, karena itu adalah kebenaran. Tetapi ‘dengan bangga’? Dari mana, Liauw? Jangan menambahi ajaran kami dengan kata-kata busuk anda, Liauw!

 

Jika Kalvinisme itu konsisten, maka mereka harus juga mengajarkan bahwa Allah bertanggung jawab atas segala tindakan itu, dan bahwa Allah bertanggung jawab atas dosa. Jangankan mengendalikan seluruh dan setiap detil kehidupan seseorang, membuat kebijaksanaan yang mempengaruhi orang lain saja harus bertanggung jawab. Jika saya sebagai dosen membuat keputusan bahwa mahasiswa saya tidak boleh ada yang membaca buku, maka saya harus bertanggung jawab ketika mahasiswa saya semuanya tidak lulus. Ini barulah suatu kebijaksanaan umum. Betapa besarnya lagi tanggung jawab seorang dosen yang punya kuasa untuk membuat mahasiswanya rajin atau malas, yang dapat mengatur bagaimana mereka menghabiskan setiap waktu mereka, yang dapat menentukan setiap langkah mereka, yang dapat mengontrol setiap pilihan dan kemauan mereka!

Manusia yang memiliki akal sehat tidak dapat menerima alasan seorang pengendara mobil yang menabrak mati pejalan kaki, yang lalu menyalahkan mobilnya. Memang mobil itulah yang menabrak, bukan tubuh si pengendara, tetapi mobil itu dikendalikan setiap gerakannya oleh sang pengendara. Semua orang tahu, bahwa oknum yang mengendalikan, mengontrol, dan menetapkan adalah yang harus bertanggung jawab. Hakim yang masih waras tidak mungkin menyalahkan mobilnya, melainkan pengontrol mobil. Ah, Kalvinis tersenyum di sini! “Analogi anda salah total,” kata mereka, “karena mobil benda mati yang tidak berkehendak, sedangkan manusia itu hidup dan  berkehendak. Bahkan dosa itu dilakukan dengan senang hati oleh manusia dengan bebasnya!”

Tetapi sekali lagi kita perlu mengkaji, bagaimanakah bisa dikatakan bahwa manusia melakukan itu dengan bebas, jika dia tidak bisa melakukan yang lain? Bagaimanakah itu bisa dikatakan bebas jika sudah ditentukan? Ini adalah kontradiksi. Mengenai bahwa manusia melakukan dosa dengan senang hati, kita perlu mengingatkan Kalvinis, bahwa menurut doktrin mereka, itupun telah ditetapkan oleh Allah. Jika Allah menetapkan segala sesuatu, maka Allah menetapkan manusia untuk melakukan dosa, dan untuk melakukan dosa itu dengan senang hati. Kalvinis mengajarkan bahwa hati manusia senang akan dosa karena sudah bobrok total. Tetapi mengapakah manusia bobrok total? Karena ia sejak awal jatuh ke dalam dosa. Tetapi mengapakah ia jatuh ke dalam dosa? Karena Allah menentukannya. Oleh karena itu, Kalvinis tidak bisa mengajarkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, sekaligus membebaskan Allah dari tanggung jawab terhadap dosa. Hal tersebut adalah kontradiksi.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi pakai logika, tetapi tanpa Alkitab! Mana argumentasi Alkitabiah anda? Sampai saat ini saya tidak melihatnya!

Manusia yang berbuat, jadi manusia yang bertanggung jawab. Ini sudah saya jelas di atas (berkenaan dengan free will dsb), jadi tak perlu saya ulang lagi. Anda cuma berbelit-belit dalam menggunakan logika anda, tetapi tanpa dasar Alkitab. Dalam buku saya, saya mungkin menggunakan ratusan ayat, apakah ada yang anda jawab? Coba jelaskan dan jawab ayat-ayat yang saya gunakan. Kalau anda bisa, saya akan ikut ajaran anda!

   

IV. Penolakan Kalvinis Akan Konsekuensi Kalvinisme

 

A. Tidak Konsisten Secara Logis

 

Kita telah melihat di atas, bahwa segala sesuatu memiliki konsekuensi. Kalvinisme, yang mengajukan premis dasar bahwa Allah menentukan segala sesuatu, juga tidak terlepas dari hukum sebab-akibat ini. Mereka tidak bisa berkata: “Karena kami Kalvinis, kami tidak perlu menerima konsekuensi logis dari premis dasar kami.”

Namun demikian, mayoritas Kalvinis menolak konsekuensi logis dari kepercayaan mereka sendiri. Mereka tetap mempertahankan bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu, segala tindakan dan pikiran manusia, namun tidak mau mengakui bahwa dengan demikian manusia tidak bebas. Mereka kekeh (?) bahwa manusia bebas, walaupun segala sesuatu tentang manusia telah ditentukan sebelumnya. Lebih lanjut lagi, Kalvinis tetap mempersalahkan manusia, walaupun manusia itu hanyalah melakukan apa yang ditetapkan. Budi Asali, misalnya, mengatakan: “Pada waktu manusia berbuat dosa, ia tetap bertanggung jawab terhadap Allah akan dosanya itu, artinya ia tetap akan dihukum karena dosanya itu…… Karena itu jangan sembarangan berbuat dosa, apalagi dengan alasan bahwa dosa itu sudah ditentukan oleh Allah!”

 

Tanggapan saya:

1)         Itu ajaran Alkitab, yang dipercaya oleh para Calvinist. Mau salahkan Alkitab?

2)   Anda menentang doktrin Calvinisme bahwa orang kristen yang sejati tidak bisa kehilangan keselamatannya, bukan? Anda berpendapat bahwa orang kristen yang sejati bisa saja jatuh dalam dosa, mundur dari Tuhan, sehingga akhirnya binasa / masuk neraka. Benar bukan? Sekarang, konsekwensi logis dari ajaran anda, adalah: kalau begitu, supaya tetap selamat, orang Kristen itu harus mati-matian berusaha menghindari dosa. Bukankah ini menunjukkan bahwa anda percaya keselamatan karena iman + perbuatan baik?? Ini konsekwensi logis, tetapi saya tahu anda tidak mungkin menerimanya.

Contoh lain: anda percaya Allah menciptakan neraka, bukan? Dan neraka harus ada isinya bukan? Lalu Allah menciptakan orang-orang yang Ia tahu akan masuk neraka selama-lamanya. Konsekwensi logis: Allah itu tidak kasih! Tetapi anda menolak konsekwensi logis ini, bukan?

Lalu, mengapa menyalahkan kami, kalau tidak menerima konsekwensi logis anda?

 

Jadi, Kalvinis mengajarkan bahwa manusia akan dihukum karena melakukan sesuatu yang Allah tentukan! Ini hanya logis dalam dunia Kalvinis. Dalam dunia nyata, ini sama sekali tidak logis. Seorang Jenderal yang baik tidak akan menghukum prajurit bawahannya yang hanya menjalankan instruksi Jenderal itu sendiri, tidak peduli apakah prajurit itu senang atau tidak senang ketika melakukan perintah itu. Anda ada di dunia nyata atau di dunia imajiner Kalvinis?

 

Tanggapan saya:

Contoh yang bodoh, Liauw! Kalau jendral itu menginstruksikan, tentu tentara tak salah. Tetapi kami hanya percaya Allah menentukan, bukan memerintahkan / menginstruksikan orang untuk berbuat dosa! Jangan ngawur kalau membuat contoh, Arminian!

Saya bosan dengan logika anda yang tidak Alkitabiah, Arminian!

 

Coba kita ambil kasus kejatuhan Adam ke dalam dosa. Kita telah mengutip tokoh-tokoh Kalvinis yang menegaskan bahwa adalah ketentuan Allah agar Adam jatuh ke dalam dosa. Dalam tarikan nafas yang sama, para Kalvinis mengatakan bahwa Adam, dan juga segala anak cucu Adam, harus bertanggung jawab atas dosa Adam tersebut! Apakah anda bisa melihat keanehan di sini?

 

Tanggapan saya:

Jangan sengaja membuat ruwet dengan mencampur-adukkan penetapan Allah dengan doktrin dosa asal. Anda percaya dosa asal, bukan? Kalau percaya, jangan ributkan di sini. Kalau tidak percaya, mari kita debatkan di tempat lain. Tetapi yang dipersoalkan di sini adalah penetapan dosa, bukan dosa asal.

 

Supaya Adam tidak dihukum, artinya dia harus tidak boleh jatuh ke dalam dosa! Sedangkan Allah menentukan supaya Adam berdosa. Artinya, supaya Adam tidak dihukum, dia harus melawan keputusan Allah (yang tidak bisa dilawan). STOP! Sebentar dulu, bukannya justru orang yang melawan keputusan Allah itu yang dihukum? Tetapi kalau Adam mengikuti keputusan Allah, dia jatuh dalam dosa, dan dia harus dihukum! Kalau Adam tidak mengikuti keputusan Allah, bukankah itu melawan Allah juga? Dan bukankah itu dosa juga? Artinya, mengikuti keputusan Allah atau tidak mengikuti keputusan Allah, Adam harus kena hukum. Tetapi kita harus ingat bahwa ini hipotetis, karena menurut Kalvinis, sebenarnya Adam tidak bisa tidak melakukan keputusan Allah. Jadi, pada intinya, Allah sudah menetapkan Adam dan seluruh manusia untuk dihukum. Dosa hanyalah cara Tuhan membenarkan hukuman tersebut!

 

Tanggapan saya:

Bandingkan kata-kata anda dengan ayat ini, Liauw!

Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

 

Bukan hanya itu saja, premis Kalvinis bahwa Allah menetapkan segala sesuatu juga menciderai pribadi Allah sendiri. Allah jelas-jelas menyuruh Adam untuk tidak makan buah terlarang di tengah taman Eden tersebut (Kej. 2:16-17). Namun Kalvinis ingin meyakinkan kita, bahwa Allah menentukan Adam untuk melanggar perintahNya sendiri. Tidak berhenti sampai di sana, lalu Allah menghukum dan menyalahkan Adam karena telah melaksanakan apa yang Allah tetapkan dalam dekrit yang tak dapat Adam lawan. Kalau hal yang sama dilakukan oleh manusia, kita semua tidak akan ragu-ragu untuk memvonisnya sebagai pribadi yang sangat licik dan jahat. Apakah itu Allah yang anda percayai? Saya katakan bahwa Allah dalam Alkitab tidak berlaku seperti itu! Oleh karena itulah saya katakan bahwa “allah” Kalvinis berbeda dengan Allah saya. Dan oleh sebab itu pulalah saya katakan bahwa Kalvinisme adalah serangan terhadap pribadi Allah itu sendiri!

 

Tanggapan saya:

Sekarang mari kita bicarakan orang-orang lain, misalnya Yudas Iskariot. Luk 22:22 di atas, sudah jelas menunjukkan bahwa pengkhianatan yang ia lakukan terhadap Yesus sudah ditetapkan oleh Allah. Tetapi bagaimana perintah Allah kepada Yudas Iskariot? Harus mengasihi Tuhan, bukan? Jadi, ada pertentangan juga, Liauw? Bagaimana anda menjelaskan ini?

Lalu Luk 22:22 itu mengatakan celakalah ia. Jadi, Alkitab jelas mengajarkan bahwa sekalipun dosa Yudas Iskariot itu sudah ditetapkan dan pasti akan terjadi tetapi pada saat dosa itu terjadi, ia dipersalahkan. Kalau semua ini bisa berlaku untuk dosa Yudas Iskariot, mengapa tidak bisa berlaku untuk Adam?

Dalam kasus Yudas Iskariot, apakah anda menganggap Allah kejam? Atau anda punya jalan / cara untuk menjelaskan Luk 22:22 itu? Coba jelaskan, saya tantang anda!

 

Sekarang tentang kata-kata anda ‘Kalau hal yang sama dilakukan oleh manusia, kita semua tidak akan ragu-ragu untuk memvonisnya sebagai pribadi yang sangat licik dan jahat’. Ada beberapa hal yang perlu saya berikan sebagai jawaban:

a)   Manusia tidak mungkin bisa melakukan penetapan seperti yang Allah lakukan. Jadi, tidak mungkin bisa dianalogikan seperti itu.

b)   Kalau manusia salah pada waktu melakukan X, Allah belum tentu salah pada waktu melakukan X. Contoh: manusia salah kalau membunuh. Allah membunuh ribuan orang tiap hari, tetapi Ia tidak salah! Anda mau menyamakan manusia dengan Allah, Liauw?

 

Tetapi, apakah Kalvinis mau mengikuti aturan logika dalam hal ini? Jawabannya adalah tidak. Mayoritas Kalvinis tidak mau menerima konsekuensi bahwa premis dasar mereka membuat manusia menjadi robot-robot canggih (yang punya kesadaran diri, bahkan yang merasa melakukan tindakan itu atas “kehendaknya” dan “kemauannya” sendiri, tetapi yang sebenarnya telah ditentukan segala-galanya, termasuk “kehendak” dan “kemauan” tersebut). Kalvinis tidak mau mengakui bahwa ajaran mereka membuat manusia lepas dari tanggung jawab dosa. Justru, teman-teman mereka yang mau menerima konsekuensi Kalvinisme, mereka cap sebagai “Hyper” Kalvinis. Sebenarnya, Hyper-Calvinist hanyalah orang-orang yang secara konsisten menerapkan premis dasar Kalvinisme bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

 

Tanggapan saya:

Saya tidak heran kalau anda mengatakan hyper-Calvinist sebagai konsisten. Memang cara berpikir orang Arminian dan orang yang hyper-Calvinist adalah sama (sama bodohnya maupum tidak Alkitabiahnya). Keduanya menganggap bahwa kedaulatan Allah / penetapan Allah bertentangan dengan tanggung jawab manusia. Karena itu, mereka beranggapan salah satu harus dibuang. Bedanya, Arminian membuang kedaulatan Allah / penetapan Allah, sedangkan hyper-Calvinist membuang tanggung jawab manusia.

 

Edwin H. Palmer: “Hyper-Calvinism. Diametrically opposite to the Arminian is the hyper-Calvinist. He looks at both sets of facts - the sovereignty of God and the freedom of man - and, like the Arminian, says he cannot reconcile the two apparently contradictory forces. Like the Arminian, he solves the problem in a rationalistic way by denying one side of the problem. Whereas the Arminian denies the sovereignty of God, the hyper-Calvinist denies the responsibility of man. He sees the clear Biblical statements concerning God’s foreordination and holds firmly to that. But being logically unable to reconcile it with man’s responsibility, he denies the latter. Thus the Arminian and the hyper-Calvinist, although poles apart, are really very close together in their rationalism (= Hyper-Calvinisme. Bertentangan frontal dengan orang Arminian adalah orang yang hyper-Calvinist. Ia melihat pada kedua fakta - kedaulatan Allah dan kebebasan manusia - dan, seperti orang Arminian, ia mengatakan bahwa ia tidak dapat mendamaikan kedua kekuatan yang tampaknya bertentangan itu. Seperti orang Arminian, ia memecahkan problem itu dengan cara yang logis dengan menyangkal satu sisi dari problem itu. Sementara orang Arminian menyangkal kedaulatan Allah, maka penganut Hyper-Calvinisme meninggalkan fakta tanggung jawab manusia. Ia melihat pernyataan yang jelas dari Alkitab mengenai penentuan lebih dulu dari Allah dan memegang hal itu dengan teguh. Tetapi karena tidak mampu mendamaikannya secara logis dengan tanggung jawab manusia, ia menyangkal tanggung jawab manusia itu. Jadi orang Arminian dan orang hyper-Calvinist, sekalipun merupakan kutub-kutub yang bertentangan, sebetulnya sangat dekat dalam cara berpikirnya) - ‘The Five Points of Calvinism’, hal 84.

Tetapi Calvinist yang sejati, hanya melihat bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan keduanya, dan karena itu kami menerima keduanya!

Lalu apa jawab mereka terhadap ketidakkonsistenan logis yang muncul? Asali mewakili para Kalvinis dengan jawaban: “Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini.” Asali bukan satu-satunya Kalvinis yang melarikan diri dari logika dengan cara demikian. Spurgeon berkata, “Bagaimana dua hal ini bisa benar saya tidak bisa mengatakan….Saya tidak yakin bahwa di surga kita akan bisa mengetahui dimana tindakan bebas manusia dan kedaulatan Allah bertemu, tetapi keduanya adalah kebenaran yang besar. Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu tetapi manusia bertanggungjawab.” Jadi, Spurgeon berkata bahwa bahkan di Surga pun mungkin kita tidak akan bisa menjelaskan kontradiksi antara kebebasan manusia dan kedaulatan Allah! Apakah tidak lebih baik untuk berkesimpulan bahwa justru konsep kedaulatan Allah Kalvinislah yang salah? Perlukah kita ngotot sedemikian rupa hanya untuk mempertahankan suatu filosofi?

 

Tanggapan saya:

Saya melarikan diri dari logika? OK, tetapi anda melarikan diri dari Firman Tuhan / Alkitab. Yang mana yang lebih buruk, Liauw? Saya tidak merasa malu untuk disebut sebagai ‘lari dari logika’ apalagi kalau itu adalah logika bodoh dari anda! Tetapi bagaimana kalau anda lari dari Alkitab? Dari awal anda belum menggunakan Alkitab, untuk ‘argumentasi Alkitabiah’ anda, Liauw! Dalam menjawab buku saya, anda juga tidak menjawab ayat-ayat Alkitab yang sangat banyak saya berikan. Saya yakin anda tak bisa menjawab sampai kapanpun! Bisa tidak malu kalau lari dari Alkitab, Liauw? Kalau bisa, ya memang tidak tahu malu!

 

Sekarang saya bahas kata-kata bagian akhir dari kutipan dari anda di atas. Anda mengatakan: ‘Apakah tidak lebih baik untuk berkesimpulan bahwa justru konsep kedaulatan Allah Kalvinislah yang salah? Perlukah kita ngotot sedemikian rupa hanya untuk mempertahankan suatu filosofi?’. Mempertahankan filosofi? Kami mempertahankan Alkitab / Firman Tuhan, Liauw!

Kalau kami membuang ajaran Calvinisme, mohon petunjukmu, tuan Arminian, bagaimana kira-kira kami harus menafsirkan ayat di bawah ini?

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Kis 2:23 - Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.

Charles Hodge: “The crucifixion of Christ was beyond doubt foreordained of God. It was, however, the greatest crime ever committed. It is therefore beyond all doubt the doctrine of the Bible that sin is foreordained” (= Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan lagi bahwa dosa ditentukan lebih dulu merupakan doktrin / ajaran dari Alkitab) - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 544.

Charles Hodge: “it is utterly irrational to contend that God cannot foreordain sin, if He foreordained (as no Christian doubts) the crucifixion of Christ” [= adalah sama sekali tidak rasionil untuk berpendapat bahwa Allah tidak bisa menentukan dosa, jika Ia menentukan (seperti yang tidak ada orang kristen yang meragukan) penyaliban Kristus] - ‘Systematic Theology’, vol I, hal 547.

Jika sedang mengargumentasikan poin-poin mereka, Kalvinis senang sekali menggunakan logika. Bahkan mereka menuntut bahwa kita, non-Kalvinis, harus mengikuti alur logika yang mereka sampaikan.

 

Tanggapan saya:

Hehehe, lucu sekali. Bukankah dari tadi anda yang menggunakan logika terus menerus, dan memaksa kami mengikuti logika tolol anda? Dari tadi saya yang menggunakan Alkitab, Liauw!

 

 

Sebagai contoh, ketika sedang mengargumentasikan bahwa kemahatahuan Allah berarti manusia tidak memiliki pilihan, Boettner berkata: “Kecuali Arminianisme menyangkal pengetahuan lebih dulu dari Allah, ia tidak mempunyai pertahanan di depan kekonsistenan yang logis dari Calvinisme; karena pengetahuan lebih dulu secara tidak langsung menunjuk pada kepastian, dan kepastian secara tidak langsung menunjuk pada penetapan lebih dulu.”,

Saya menekankan frase “kekonsistenan yang logis dari Calvinisme.” Kalau begitu, Boettner, mengapa tidak melanjutkan logika yang konsisten itu dan menyimpulkan bahwa kalau segala sesuatu sudah ditentukan Allah secara pasti, maka manusia tidak bebas? Mengapa tidak menggunakan logika yang telah diberikan Tuhan dan menyimpulkan bahwa jika manusia ditentukan untuk berdosa, maka berarti manusia tidak perlu dihukum, karena ia sekedar melakukan dekrit Tuhan? Di manakah kekonsistenan yang logis dari Calvinisme itu saat berhadapan dengan konsekuensi dari pengajaran mereka sendiri?

 

Tanggapan saya:

1)   Coba jawab argumentasi Loraine Boettner itu, dan jangan lari ke hal selanjutnya (tentang manusia tidak bebas).

2)   Calvinisme memang mengajar bahwa manusia tidak bebas, selama ‘bebas’ itu dimaksudkan seperti yang Arminianisme maksudkan. Saya sudah jelaskan itu, bukan? Kalau Calvinisme mengajar bahwa Allah menetukan segala sesuatu, lalu Calvinisme juga mengajar bahwa manusia itu bebas, dengan kebebasan seperti yang diajarkan oleh Arminianisme, maka itu memang kontradiksi. Tetapi Calvinisme tidak mengajar demikian. Allah menentukan segala sesuatu, dan karena itu manusia pasti akan melakukan apapun yang Allah tentukan. Lalu apanya yang tidak konsisten? Jangan lupa bahwa kami mendefinisikan kata ‘bebas’ dengan cara yang berbeda dengan kalian, tuan Arminian! Dan itu sebabnya tidak ada kontradiksi dalam persoalan ini!

 

Mereka begitu ngotot dengan logika di satu sisi, tetapi ketika pengajaran mereka tidak konsisten, mereka mencari perlindungan di balik “misteri,” “rahasia Allah yang tidak dapat diselami,” “dua hal yang tidak dapat dijelaskan,” “dua hal yang nampak bertentangan tetapi pasti ada penjelasannya,” atau bahkan “dua hal yang bahkan di Surga pun belum tentu bisa kita jelaskan”! Bukankah semua ini adalah pengakuan bahwa pengajaran mereka tidak konsisten, tetapi mereka tidak mau menerimanya?

 

Tanggapan saya:

Alkitab yang mengajar seperti itu, dan Alkitab tidak pernah mengharmoniskannya, maka kami juga melakukan hal yang sama. Kami mengajar, sekalipun tidak mengharmoniskannya.

 

Contoh lain, Liauw!

Fil 2:12-13 - “(12) Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, (13) karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.

Ay 12 menekankan tanggung jawab manusia, tetapi ay 13 (khususnya perhatikan kata-kata ‘menurut kerelaanNya’) menekankan kedaulatan Allah.

A. T. Robertson mengatakan: “Paul makes no attempt to reconcile divine sovereignty and human free agency, but boldly proclaim both” (= Paulus tidak berusaha untuk mendamaikan kedaulatan ilahi dan kebebasan manusia, tapi dengan berani memberitakan keduanya).

Hal yang sama terjadi dalam Ro 9:19-21 yang sudah saya berikan di depan. Demikian juga dengan Luk 22:22 dan sebagainya.

Loraine Boettner: “But while the Bible repeatedly teaches that this providential control is universal, powerful, wise, and holy, it nowhere attempts to inform us how it is to be reconciled with man’s free agency” (= Tetapi sementara Alkitab berulangkali mengajar bahwa pengua-saan providensia ini bersifat universal, berkuasa, bijaksana, dan suci, Alkitab tidak pernah berusaha untuk memberi informasi kepada kita tentang bagaimana hal itu bisa diperdamaikan / diharmoniskan dengan kebebasan manusia) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 38.  

Kalau ini disebut lari dari logika, terserah. Tetapi kalau saya, saya lebih baik lari dari logika, khususnya dari logika bodoh anda, dari pada lari dari Alkitab / Firman Tuhan! Kalau anda bagaimana, Liauw? Kalau anda setuju dengan saya dalam hal ini, jelaskan ayat-ayat yang saya berikan dalam buku saya


Mungkin ada Kalvinis yang akan berkata: “Mungkin tidak masuk logika kita, tetapi ALLAH BISA membuat manusia yang sudah ditentukan segala-galanya, tetapi yang sekaligus bebas. Apakah anda tidak percaya bahwa ALLAH BISA melakukan itu?”

 

Tanggapan saya:

‘Bebas’nya Calvinisme berbeda arti dengan ‘bebas’nya Arminian, bodoh! Seandainya sama, kami memang gila! Tetapi faktanya, kita menggunakan istilah itu dalam arti yang berbeda!

 

Pertanyaan semacam ini mengingatkan saya akan pertanyaan-pertanyaan jebakan ala atheis. Atheis tidak percaya bahwa ada Allah yang mahakuasa, sehingga mereka sering menantang dengan pertanyaan, seperti: Jika Allah mahakuasa, bisakah Allah menciptakan batu yang begitu besar sehingga Ia sendiri tidak bisa angkat? Tentu ini pertanyaan jebakan. Jawabannya adalah: Allah bisa membuat batu seperti apapun, dan Dia bisa mengangkat semua batu itu. Batu yang begitu besar sehingga tidak dapat Allah angkat, tidak bisa eksis bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Atau ada pertanyaan jebakan lagi yang seperti ini: Jika Allah mahakuasa, bisakah Ia menciptakan sebuah segitiga yang bersisi empat? Tentu ini adalah pertanyaan jebakan juga. Ini tidak ada hubungannya dengan “kuasa” tetapi dengan definisi. Sebuah segitiga yang bersisi empat adalah sesuatu yang sudah bertentangan dengan definisi dirinya, jadi tidak mungkin eksis bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Demikian juga dengan pertanyaan: Bukankah Allah bisa menciptakan manusia yang tidak bebas (ditentukan segalanya) yang memiliki sifat bebas? Saya bukan meragukan kemampuan Tuhan. Tetapi, sama seperti pertanyaan-pertanyaan jebakan di atas, ini bukan masalah kuasa. Ini masalah definisi. Makhluk yang “tidak bebas sekaligus bebas” tidak eksis secara definisi bahkan dalam lingkup probabilitas sekalipun. Ia mirip dengan segitiga yang bersisi empat.

 

Tanggapan saya:

Tak usah lari ke pertanyaan-pertanyaan konyol itu, Liauw. Jawaban saya seperti di atas. Definisi kita berbeda tentang kata ‘bebas’ itu. Coba jelaskan bahwa definisi kami tentang kata ‘bebas’ itu tetap bertentangan dengan penentuan Allah!


Kadang-kadang orang Kalvinis, demi menyelamatkan doktrin mereka yang bahkan mereka akui sendiri tidak harmonis (tidak konsisten), mencoba untuk mengatakan bahwa ada banyak doktrin Alkitab lain yang juga tidak harmonis. Saya akan mengutip lagi Asali sebagai representatif dari Kalvinis. Untuk membela ketidakharmonisan doktrin kedaulatan Allah versi Kalvinis, Asali mengatakan:
“Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu mahakasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia mahakasih dan mahatahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal itu, termasuk orang Arminian, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin ini kita tidak mau bersikap sama?”

 

Tanggapan saya:

Bagaimana kalau jangan teruskan kata-kata anda di bawah, tetapi dahulukan untuk menjawab kata-kata saya di atas? Bisakah anda jawab? Anda menghindar, bukan demikian, Liauw? Anda memang, seperti saya katakan dalam kata-kata saya yang anda kutip di atas, mempunyai ketidak-konsistenan, yang tetap anda terima. Tetapi ketidak-konsistenan yang ini, anda tak mau terima. Apakah itu konsisten, Liauw?

 

Walaupun Asali mungkin tidak senang dengan kesimpulan saya ini, tetapi pada intinya dia seolah ingin mengatakan: “banyak kok doktrin Alkitab yang tidak harmonis (tidak ada orang yang bisa harmoniskan). Jadi kalau Kalvinisme tidak harmonis, tidak apa-apa!” Tetapi benarkah banyak doktrin dalam Alkitab tidak harmonis? Saya menolak hal semacam itu! Alkitab adalah kitab yang paling konsisten dan harmonis!

 

Tanggapan saya:

Bagus sekali. Kalau begitu, jelaskan ketidak-konsistenan yang saya bicarakan di atas! Untuk jelasnya, saya kutip ulang kata-kata saya yang di atas telah anda kutip.

Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu mahakasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia mahakasih dan mahatahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal itu, termasuk orang Arminian, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin ini kita tidak mau bersikap sama?

Sekarang, tolong jelaskan apa yang saya anggap ‘tidak konsisten’ ini! Anda cuma berkata ‘Tetapi benarkah banyak doktrin dalam Alkitab tidak harmonis? Saya menolak hal semacam itu! Alkitab adalah kitab yang paling konsisten dan harmonis!’. Tetapi anda tidak memberi pengharmonisannya? Anda cuma bermulut besar, tetapi berkepala kosong, Liauw!

 

Saya bisa mengerti, mengapa Asali merasa sulit untuk mengharmoniskan kemahatahuan Allah dengan sifatNya yang mahakasih. Karena kedua hal ini memang tidak konsisten jika dilihat dari sudut Kalvinisme! Allah sudah tahu banyak orang akan masuk neraka. Tapi Kalvinis mengatakan bahwa Allah tahu karena Allah menentukan. Jadi, “allah” Kalvinis menentukan manusia masuk neraka! Memang sulit untuk melihat bagaimana “allah” yang demikian bisa mahakasih. Seharusnya, Asali dan Kalvinis lainnya tidak mencoba menggunakan poin ini untuk mendukung ketidakkonsistenan mereka dalam hal kedaulatan Allah. Seharusnya mereka melihat kontradiksi ini sebagai bukti lain bahwa Kalvinisme memang tidak adekuat untuk menggambarkan realita Alkitab.

 

Tanggapan saya:

Anda lari, Liauw! Anda tidak menjelaskan! Anda lari ke ajaran Calvinisme, padahal yang dipersoalkan di sini adalah ajaran Arminianisme. Saya tidak mau anda lari. Jelaskan ajaran Arminianisme yang saya serang ketidak-konsistenannya! ‘Allah’ Arminianisme memang tidak menentukan manusia masuk neraka tetapi Ia menciptakan neraka dan orang-orang yang Ia tahu akan masuk neraka! Bagaimana ‘Allah’ yang seperti itu bisa disebut maha kasih? Jawab ini, Liauw! Kami menjawab serangan terhadap ‘ketidak-konsistenan’ kami dengan menunjukkan bahwa kalau ada orang-orang yang menolak Calvinisme dan menerima Arminianisme, maka mereka juga mendapatkan ketidak-konsistenan yang sama!

 

 

Jika kita tilik lebih lanjut, perbandingan antara kedua hal ini pun sebenarnya tidak setara. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa Allah itu kasih (1 Yoh. 4:6), dan bahwa Allah mahatahu (Maz. 139 misalnya), dan bahwa ada neraka (Wahyu 20:14-15). Tetapi, tidak ada satu ayatpun yang mengajarkan bahwa “Allah menentukan segala sesuatu sejak kekekalan dalam dekrit-dekrit rahasia.”

 

Tanggapan saya:

Anda pendusta, Liauw! Anda sudah membaca buku saya, dan dalam buku saya ada sangat banyak ayat yang menunjukkan hal itu. Mengapa tak menunjukkan ayat-ayat itu di sini dan membahasnya, dari pada mengatakan suatu dusta bahwa tidak ada satu ayatpun yang seperti itu? Demi para pembaca, saya berikan ayat-ayat itu di sini.

·         Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

·         2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

·         2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

·         Kis 2:23 - Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

·         Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

·         Maz 139:16 - “... dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

 

Tentu kita akan melihat dan membahas berbagai ayat yang dipakai Kalvinis di bagian-bagian berikut.
Sebenarnya, bahwa Allah mahatahu sekaligus mahakasih, sama sekali tidak bertentangan jika kita tidak beranggapan Allah menentukan segala sesuatu. Allah memberikan manusia pilihan (kehendak bebas), dan mereka bisa memilih untuk menentang Allah atau percaya pada Allah. Allah bahkan menjadi manusia dan mati bagi semua orang (baik yang menentang maupun percaya), dan itu membuktikan kasihNya. Tetapi, Allah bukan hanya mahakasih, tetapi juga mahaadil, dan mahakudus. Setiap manusia yang menentang Allah dan tidak diselesaikan dosanya oleh Yesus, dihukum secara kekal dalam Neraka. Mengapa Allah tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk Surga? Karena Allah tidak ingin disembah hanya oleh “robot” yang ditentukan untuk percaya. Allah ingin ada pribadi-pribadi yang dapat memilih dengan bebas, yang pada akhirnya memilih untuk menyembah Allah. Karena ada pilihan yang bebas (dengan konsekuensi masing-masing yang sudah diumumkan sebelumnya), maka Allah tidak berlawanan dengan kasihNya jika Ia menghukum mereka yang menentangNya. Ini karena bukan Allah yang menetapkan pilihan tersebut, melainkan pribadi yang bersangkutan.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Anda mengatakan ‘Tentu kita akan melihat dan membahas berbagai ayat yang dipakai Kalvinis di bagian-bagian berikut’. Padahal barusan saja di atas anda mengatakan ‘Tetapi, tidak ada satu ayatpun yang mengajarkan bahwa “Allah menentukan segala sesuatu sejak kekekalan dalam dekrit-dekrit rahasia’. Yang mana yang benar, Liauw? Kalau benar nanti anda membahasnya, saya akan tunggu dan lihat bagaimana anda membahasnya!

 

2)   Anda menghindari argumentasi saya, bukan menjawabnya. Argumentasi saya adalah sebagai berikut:

“Salah satu pertanyaan yang paling sering keluar dalam persoalan ini adalah: Jika Allah sudah menentukan dan mengatur segala sesuatu, bagaimana mungkin manusia masih bisa mempunyai kebebasan, dan bahkan harus bertanggung jawab atas dosanya?

Jawab:

1.   Terus terang, tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal yang kelihatannya bertentangan ini. Orang Reformed hanya melihat bahwa 2 hal itu sama-sama diajarkan oleh Kitab Suci (bdk. Ro 9:19-21), tetapi Kitab Suci tidak pernah mengharmoniskannya. Karena itu orang Reformed juga juga mengajarkan kedua hal itu, tanpa mengharmoniskannya. Ini merupakan wujud kesetiaan dan ketundukan kepada Kitab Suci, sekalipun Kitab Suci itu melampaui akal kita!

Dalam hal yang lain, kita juga melihat hal yang sama. Misalnya: kita percaya bahwa Allah itu maha kasih dan mahatahu. Tetapi kita juga percaya bahwa Allah menciptakan neraka dan orang tertentu yang Ia tahu bakal masuk ke neraka. Kalau memang Ia maha kasih dan maha tahu, mengapa Ia tidak hanya menciptakan orang yang akan masuk ke surga? Saya yakin tidak ada orang yang bisa mengharmoniskan 2 hal itu, termasuk orang Arminian, tetapi toh semua orang kristen percaya dan mengajarkan ke 2 hal itu, karena Kitab Suci memang jelas mengajarkan kedua hal itu. Lalu mengapa dalam hal doktrin Providence of God ini kita tidak mau bersikap sama?” (kutipan dari buku saya berjudul ‘Providence of God’).

 

Tetapi anda lari dan membahas free will / kehendak bebas, ‘robot’, dsb.

Ada beberapa hal yang perlu saya soroti dari kata-kata anda ini:

a)   Allah maha tahu bukan? Jadi, Ia tahu mana pribadi yang nanti akan memilih untuk menyembahNya dan mana yang tidak. Kalau Ia hanya menciptakan orang-orang yang nanti akan memilih untuk menyembahNya, bagaimana mungkin itu dianggap sebagai menciptakan ‘robot’?

b)   Yang saya pertentangkan dengan kasih Allah, bukan penghukuman yang Ia berikan kepada orang-orang yang tidak percaya, tetapi penciptaan orang-orang yang Ia tahu bakal tidak percaya!

c)   Anda bicara seakan-akan datang atau tidak datangnya manusia kepada Yesus betul-betul tergantung pada manusia itu sendiri. Padahal manusia tidak mempunyai kemampuan dari dirinya sendiri untuk percaya kepada Yesus.

Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

Berdasarkan ayat ini, datang atau tidak datangnya manusia kepada Yesus tergantung kepada Allah! Lalu yang mana yang ditarik / dikaruniai, dan yang mana yang tidak? Jelas itu didasarkan pada predestinasi.

d)            Calvinisme tidak mempercayai ‘robot’ karena semua orang, sekalipun melakukan ketetapan Allah, tetap melakukannya dengan kehendaknya sendiri, bukan dipaksa.

 

3)   Sekarang mari kita perhatikan kata-kata anda di atas yang saya beri garis bawah tunggal dan yang saya beri garis bawah ganda! Bukankah keduanya bertentangan? Untuk jelasnya saya kutip ulang bagian itu.

Allah bahkan menjadi manusia dan mati bagi semua orang (baik yang menentang maupun percaya), dan itu membuktikan kasihNya. Tetapi, Allah bukan hanya mahakasih, tetapi juga mahaadil, dan mahakudus. Setiap manusia yang menentang Allah dan tidak diselesaikan dosanya oleh Yesus, dihukum secara kekal dalam Neraka’.

Kalau anda mengatakan Yesus mati bagi semua orang, baik yang menentang maupun yang percaya, lalu bagaimana mungkin manusia yang menentang Allah itu tidak diselesaikan dosanya oleh Yesus, sehingga mereka lalu dihukum secara kekal di neraka??? Jelaskan omongan yang kontradiksi ini, Liauw!

Dalam bahasa Theologia, anda percaya ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas) atau ‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal)? Kalau dilihat bagian yang saya beri garis bawah tunggal, anda percaya ‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal). Tetapi kalau dilihat yang saya beri garis bawah ganda, anda percaya ‘Limited Atonement’ (= Penebusan Terbatas)!

Bagi setiap orang yang percaya ‘Universal Atonement’ (= Penebusan Universal), mereka harus menjelaskan bagaimana mungkin orang-orang yang sudah dibayar hutang dosanya oleh Yesus, lalu bisa ditagih lagi oleh Allah, dan dimasukkan neraka selama-lamanya! Ini menunjukkan Allah menagih satu hutang 2 x, dan ini tidak adil! Itu sebabnya Calvinisme mempercayai Yesus mati hanya untuk orang-orang pilihan!

 

Masalah timbul ketika sifat-sifat Allah didefinisikan menurut manusia. Manusia mengatakan bahwa “kasih” tidak mungkin menghukum. Tetapi ini adalah definisi yang salah. Jika definisi ini dipakai, maka sifat Allah yang “mahakasih” akan bertentangan dengan “kekudusan” dan “keadilan”Nya. Karena ada ketidakharmonisan, kita perlu merevisi premis dasar kita. Ternyata, kasih bukan tidak dapat menghukum.

 

Tanggapan saya:

1)   Siapa yang mengatakan kasih tidak mungkin menghukum? Yang mengajar seperti itu bukan Calvinisme tetapi Saksi Yehuwa! Calvinisme percaya bahwa Allah yang maha kasih bisa menghukum!

2)   Lagi-lagi anda membelokkan argumentasi saya dan karena itu saya ulang kata-kata saya di atas. Yang saya pertentangkan dengan kasih Allah dalam argumentasi saya di atas, bukan penghukuman yang Ia berikan kepada orang-orang yang tidak percaya, tetapi penciptaan orang-orang yang Ia tahu bakal tidak percaya!


Demikian juga dengan kedaulatan Allah. Manusia (Kalvinis) berkata bahwa “Allah yang berdaulat menentukan segala sesuatu.” Tetapi, ini menjadi bertentangan dengan sifat Allah yang kudus (tidak mungkin menentukan manusia untuk berdosa) dan juga keadilanNya (tidak mungkin menghukum manusia yang hanya menjalankan dekrit). Seharusnya ada kerendahan hati di sini untuk introspeksi: kalau begitu, mungkin premis dasarnya salah. Barangkali, Allah yang berdaulat tidak perlu menentukan segala sesuatu!

 

Tanggapan saya:

1)   Calvinisme memang percaya bahwa Allah yang berdaulat menentukan segala sesuatu. Kalau ada apapun yang terjadi di luar ketentuan Allah, itu berarti hal itu ada di luar kedaulatan Allah. Itu menjadikan Allahnya tidak berdaulat, dan Allah yang tidak berdaulat bukanlah Allah!

Anda mengatakan ‘Barangkali, Allah yang berdaulat tidak perlu menentukan segala sesuatu!’?? Ada 2 hal yang ingin saya soroti:

a)      Mengapa anda menggunakan kata ‘barangkali’? Anda sendiri tidak yakin?

b)   Itu bertentangan dengan arti dari kata ‘berdaulat’ itu sendiri! Tentang arti kata itu, saya kutipkan dari buku ‘Providence of God’ saya sendiri, sekaligus dengan beberapa komentar dari para ahli theologia Reformed / Calvinisme.

“Kata ‘berdaulat’ dalam bahasa Inggris adalah ‘sovereign’, yang berasal dari bahasa Latin superanus (super = above, over). Dan dalam Kamus Webster diberikan definisi sebagai berikut tentang kata ‘sovereign’:

a) Above or superior to all others; chief; greatest; supreme (= Di atas atau lebih tinggi dari semua yang lain; pemimpin / kepala; terbesar; tertinggi).

b) supreme in power, rank, or authority (= tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas).

c) of or holding the position of a ruler; royal; reigning (= mempunyai atau memegang posisi sebagai pemerintah; raja; bertahta).

d) independent of all others (= tidak tergantung pada semua yang lain).

Karena itu kalau kita percaya bahwa Allah itu berdaulat, maka kita juga harus percaya bahwa Ia menetapkan segala sesuatu, dan bahwa Ia melaksanakan ketetapanNya itu tanpa tergantung pada siapapun dan apapun di luar diriNya! Jelas adalah omong kosong kalau seseorang berbicara tentang kedaulatan Allah / mengakui kedaulatan Allah, tetapi tidak mempercayai bahwa Rencana Allah dan Providence of God itu mencakup segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak

Louis Berkhof: “Reformed Theology stresses the sovereignty of God in virtue of which He has sovereignly determined from all eternity whatsoever will come to pass, and works His sovereign will in His entire creation, both natural and spiritual, according to His predetermined plan. It is in full agreement with Paul when he says that God ‘worketh all things after the counsel of His will’ (Eph 1:11)” [= Theologia Reformed menekankan kedaulatan Allah atas dasar mana Ia secara berdaulat telah menentukan dari sejak kekekalan apapun yang akan terjadi, dan mengerjakan kehendakNya yang berdaulat dalam seluruh ciptaanNya, baik yang bersifat jasmani maupun rohani, menurut rencanaNya yang sudah ditentukan sebelumnya. Ini sesuai dengan Paulus pada waktu ia berkata bahwa Allah ‘mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya’ (Ef 1:11)] - ‘Systematic Theology’, hal 100.

Charles Hodge: “And as God is absolutely sovereign and independent, all his purposes must be determined from within or according to the counsel of his own will. They cannot be supposed to be contingent or suspended on the action of his creatures, or upon anything out of Himself” (= Dan karena Allah itu berdaulat dan tak tergantung secara mutlak, semua rencanaNya harus ditentukan dari dalam atau menurut keputusan kehendakNya sendiri. Mereka tidak bisa dianggap sebagai kebetulan atau tergantung pada tindakan-tindakan dari makhluk-makhluk ciptaanNya, atau pada apapun di luar diriNya sendiri) - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 320.

William G. T. Shedd: “Whatever undecreed must be by hap-hazard and accident. If sin does not occur by the Divine purpose and permission, it occurs by chance. And if sin occurs by chance, the deity, as in the ancient pagan theologies, is limited and hampered by it. He is not ‘God over all’. Dualism is introduced into the theory of the universe. Evil is an independent and uncontrollable principle. God governs only in part. Sin with all its effects is beyond his sway. This dualism God condemns as error, in his words to Cyrus by Isaiah, ‘I make peace and create evil’; and in the words of Proverbs 16:4, ‘The Lord hath made all things for himself; yea, even the wicked for the day of evil’” (= Apapun yang tidak ditetapkan pasti ada karena kebetulan. Jika dosa tidak terjadi karena rencana dan ijin ilahi, maka itu terjadi karena kebetulan. Dan jika dosa terjadi karena kebetulan, keilahian, seperti dalam teologi kafir kuno, dibatasi dan dirintangi olehnya. Ia bukanlah ‘Allah atas segala sesuatu’. Dualisme dimasukkan ke dalam teori alam semesta. Kejahatan merupakan suatu elemen hakiki yang tak tergantung dan tak terkontrol. Allah memerintah hanya sebagian. Dosa dengan semua akibatnya ada di luar kekuasaanNya. Dualisme seperti ini dikecam Allah sebagai salah, dalam kata-kata Yesaya kepada Koresy, ‘Aku membuat damai dan men-ciptakan malapetaka / kejahatan’; dan dalam kata-kata dari Amsal 16:4, ‘Tuhan telah membuat segala sesuatu untuk diriNya sendiri; ya, bahkan orang jahat untuk hari malapetaka’) - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 36.

Catatan: kata-kata Yesaya kepada Koresy itu diambil dari Yes 45:7 versi KJV. Demikian juga Amsal 16:4 diambil dan diterjemahkan dari KJV.

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it. ... To say that God foreordains all that comes to pass is simply to say that God is sovereign over his entire creation. If something could come to pass apart from his sovereign permission, then that which came to pass would frustrate his sovereignty. If God refused to permit something to happen and it happened anyway, then whatever caused it to happen would have more authority and power than God himself. If there is any part of creation outside of God’s sovereignty, then God is simply not sovereign. If God is not sovereign, then God is not God. ... Without sovereignty God cannot be God. If we reject divine sovereignty then we must embrace atheism” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya. ... Mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu yang akan terjadi adalah sama dengan mengatakan bahwa Allah itu berdaulat atas segala ciptaanNya. Jika ada sesuatu yang bisa terjadi di luar ijinNya yang berdaulat, maka apa yang terjadi itu menghalangi kedaulatanNya. Jika Allah menolak untuk mengijinkan sesuatu dan hal itu tetap terjadi, maka apapun yang menyebabkan hal itu terjadi mempunyai otoritas dan kuasa yang lebih besar dari Allah sendiri. Jika ada bagian dari ciptaan berada di luar kedaulatan Allah, maka Allah itu tidak berdaulat. Jika Allah tidak berdaulat, maka Allah itu bukanlah Allah. ... Tanpa kedaulatan Allah tidak bisa menjadi / adalah Allah. Jika kita menolak kedaulatan ilahi, maka kita harus mempercayai atheisme) - ‘Chosen By God’, hal 26-27.  

Bagian terakhir kata-kata R. C. Sproul ini memang patut diperhatikan / dicamkan. Allah haruslah berdaulat, dan Allah yang tidak berdaulat, bukanlah Allah.

John Murray: “to say that God is sovereign is but to affirm that God is one and that God is God” (= mengatakan bahwa Allah itu berdaulat adalah sama dengan menegaskan bahwa Allah itu satu / esa dan bahwa Allah adalah Allah) - ‘Collected Writings of John Murray’, vol IV, hal 191.

Karena itulah maka menolak penetapan dan pengaturan ilahi atas segala sesuatu, adalah sama dengan menjadi atheis!”.

 

2)   Dari Alkitab sebelah mana anda mendapatkan kata-kata / pandangan bahwa sifat Allah yang kudus tidak memungkinkanNya untuk menentukan dosa? Kalau Ia melakukan dosa, atau menciptakan dosa, maka itu memang bertentangan dengan kekudusanNya. Tetapi kalau hanya menentukan, itu tidak bertentangan dengan kekudusanNya.

 

3)   Anda mengatakan ‘Manusia yang hanya menjalankan dekrit’? Ingat bahwa Calvinisme mengajar bahwa:

a)   Dekrit yang tidak kita ketahui itu bukanlah pedoman hidup kita. Pedoman hidup kita adalah Firman Tuhan. Jadi, pada saat seseorang melakukan apa yang Allah tetapkan, itu tetap dosa kalau hal itu tak sesuai dengan Firman Tuhan!

b)   Pada waktu manusia melakukan apa yang ditetapkan oleh Allah, ia melakukan dengan kemauannya sendiri dan bukan dengan motivasi untuk menjalankan ketetapan Allah! Buang kata ‘hanya’ yang anda pakai! Itu membuat artinya jadi sangat berbeda!

 

 

B. Tidak Konsisten Secara Praktis

 

Walaupun penerapan Kalvinisme yang konsisten akan membawa seseorang kepada Fatalisme, tetapi pada kenyataannya mayoritas Kalvinis bukanlah Fatalis. Tidak peduli betapa tidak mampunya para Kalvinis menjelaskan bagaimana manusia bisa bebas dalam skema theologi mereka, toh banyak Kalvinis tetap mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab. Asali berkata: “Tetapi seperti saudara sudah lihat, sekalipun saya percaya dan mengajarkan kedaulatan Allah / penentuan Allah, tetapi saya tidak mengajarkan untuk hidup secara apatis / acuh tak acuh dan tak bertanggung jawab!”
Terhadap hal ini, saya justru mengucap syukur. Hal ini adalah apa yang dapat kita sebut ketidakkonsistenan yang menguntungkan (felicitous inconsistency). Artinya, jika Kalvinis konsisten dengan premis dasar mereka, mereka akan menjadi Fatalis yang tidak memiliki inisiatif sama sekali. Tetapi untunglah mereka tidak konsisten di sini! Sehingga walaupun teori mereka menuntut kehidupan yang menghalalkan segala sesuatu atau yang sama sekali tidak berinisiatif, namun pada prakteknya mereka berfungsi rata-rata sama dengan manusia lain pada umumnya.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Anda mengatakan ‘Walaupun penerapan Kalvinisme yang konsisten akan membawa seseorang kepada Fatalisme’. Anda sudah menyimpulkan sebelum selesai melihat ajaran Calvinisme. Calvinisme memang mempercayai bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Seandainya hanya ini yang dipercayai oleh Calvinisme, maka mungkin kata-kata anda benar. Tetapi Calvinisme bukan hanya mempercayai ini, tetapi juga bahwa manusia tetap melakukan dosa dengan kehendaknya sendiri, dan dengan demikian manusia bertanggung jawab.

 

2)   Dengan cara yang sama saya bisa menyerang Arminianisme. Kepercayaan Arminianisme bahwa keselamatan bisa hilang membuat seorang Kristen harus berusaha taat, tidak murtad dsb, kalau mau tetap selamat. Kalau mau konsisten, maka ini menjadi ajaran keselamatan karena iman + perbuatan baik. Tetapi puji Tuhan, Arminianisme yang sejati melakukan ‘ketidakkonsistenan yang menguntungkan (felicitous inconsistency)’ dengan tetap mempercayai keselamatan karena iman saja!

 

3)   Anda mengatakan ‘pada kenyataannya mayoritas Kalvinis bukanlah Fatalis’. Ini salah! Yang benar adalah: ‘semua Calvinist bukanlah fatalis’. Yang fatalis bukan Calvinist, tetapi Hyper-Calvinist!

 

4)   Sekarang saya soroti kata-kata terakhir dari kutipan kata-kata anda di atas. Anda mengatakan ‘Sehingga walaupun teori mereka menuntut kehidupan yang menghalalkan segala sesuatu atau yang sama sekali tidak berinisiatif, namun pada prakteknya mereka berfungsi rata-rata sama dengan manusia lain pada umumnya’. Kalau yang saya beri garis bawah ganda itu masih cocok dengan apa yang anda sedang bicarakan, tetapi yang saya beri garis bawah tunggal itu dari mana???? Jangan memfitnah, Liauw!

 

Bahwa banyak Kalvinis yang masih berfungsi normal, bukan berarti Kalvinisme tidak bermasalah. Di bagian Pendahuluan, kita sudah melihat contoh orang atheis. Jika atheisme benar, maka penerapannya secara konsisten akan membuat manusia menjadi tidak bermoral sama sekali. Nyatanya, banyak orang atheis yang masih bermoral (moral relatif), malah banyak menyumbang sana sini untuk acara-acara kemanusiaan. Apakah itu berarti atheisme membangkitkan moralitas? Sama sekali tidak! Moralitas yang ditunjukkan seorang atheis adalah sisa-sisa kebenaran ilahi yang sudah sedemikian terpatri dalam sanubari manusia, sehingga sulit untuk dihilangkan begitu saja. Walaupun dalam pikirannya dia menolak Allah (dan juga sebagai konsekuensinya menolak segala aturan moral), tetapi hati nuraninya belum bisa menerapkan itu dalam perilakunya. Atheismenya belum sempat mengikis habis kebenaran ilahi universal bahwa manusia bertanggung jawab kepada Pribadi di atasnya.

 

Tanggapan saya:

Oh, anda percaya ada orang yang betul-betul atheis / tidak percaya adanya Allah? Saya tidak, dan anda seharusnya juga tidak, kalau anda memang Alkitabiah.

Ro 1:19-20 menunjukkan bahwa Allah menanamkan dalam diri setiap orang suatu perasaan tentang keberadaannya. Tetapi Ro 1:19-20 versi Kitab Suci Indonesia salah / kurang tepat terjemahannya, dan karena itu saya memberikan Ro 1:19-20 versi NASB di bawah ini.

Ro 1:19-20 (NASB): “because that which is known about God is evident within them; for God made it evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes, His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being under­stood through what has been made, so that they are without excuse” (= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan).

Ini menunjukkan bahwa tidak ada orang yang terlahir sebagai atheist. Ide / pemikiran tentang adanya Allah adalah sesuatu yang bersifat universal, dan bahkan ada di antara suku-suku yang bersifat primitif / biadab.

John Calvin: “There is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of divinity. ... To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance, God himself has implanted in all men a certain understanding of his divine majesty. ... a sense of deity inscribed in the hearts of all” (= Di dalam pikiran manusia, oleh suatu naluri yang bersifat alamiah, ada suatu kesadaran tentang keilahian. ... Untuk mencegah siapapun untuk berlindung dalam ketidaktahuan, Allah sendiri telah menanamkan dalam semua manusia suatu pengertian tertentu tentang keagungan ilahinya. ... suatu perasaan tentang Allah dituliskan dalam hati dari semua orang) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter III, no 1.

Demikian juga dengan Kalvinisme. Bahwa masih banyak Kalvinis yang hidup secara bertanggung jawab, bukanlah karena Kalvinisme membangkitkan rasa tanggung jawab bagi para pemegangnya. Sebaliknya, Kalvinisme yang konsisten memimpin kepada Fatalisme. Justru di sini para Kalvinis melakukan ketidakkonsistenan yang menguntungkan! Rasa tanggung jawab dalam diri seorang Kalvinis adalah kebenaran ilahi universal yang sudah terpatri dalam sanubarinya, dan yang belum sempat dikikis habis oleh Kalvinisme yang dianut secara intelektual.

 

Tanggapan saya:

Analogi yang sama sekali tidak cocok. Mengapa? Karena dalam atheisme memang tak ada ajaran untuk tetap bermoral, melakukan apa yang baik dan sebagainya. Tetapi dalam Calvinisme, sekalipun ada ajaran tentang penentuan segala sesuatu, tetapi juga ada ajaran tentang tanggung jawab dan keharusan menjadikan Firman Tuhan, dan bukannya dekrit ilahi, sebagai pedoman hidup!

 

Secara sama saya bisa mengatakan bahwa Arminian yang konsisten seharusnya tidak bisa mempunyai sukacita atau damai sama sekali. Mengapa? Kalau mereka percaya bahwa keselamatan bisa hilang, berarti ada kemungkinan mereka masuk neraka selama-lamanya, disiksa dan mengalami rasa sakit yang luar biasa untuk selama-lamanya! Tak peduli berapa persen kemungkinan terjadinya hal ini, kalau kemungkinan itu ada, itu seharusnya membuat mereka terus menerus hidup dalam ketakutan dan kekuatiran! Itu seharusnya membuat mereka tidak bisa tidur, bahkan jadi gila! Anda pernah pikirkan ini, Liauw?? Ajaib juga kalau anda bisa tidur dan tidak menjadi gila! (Tapi mungkin juga ada gilanya sedikit, kalau dilihat ajaran anda yang tak punya logika!! Pengaruh ajaran Arminian? Hehehe!).

 

 

Saya beranggapan bahwa kesalahan Liauw disini adalah penggunaan logika secara berlebihan dalam menilai Calvinisme. Memang logika harus digunakan dalam menafsirkan suatu ajaran, tetapi bagaimanapun, Firman Tuhan harus diletakkan di atas logika. Kalau Calvinisme mempercayai bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan manusia pasti akan melakukan apa yang ditentukan Allah, maka secara logika memang manusia tak harus bertanggung jawab, menjadi robot, dan sebagainya. Tetapi pada waktu apa yang kelihatannya logis ini ternyata bertentangan dengan ayat-ayat Firman Tuhan / Alkitab, yang menunjukkan secara jelas bahwa Alkitab tidak menganggap manusia sebagai robot yang tidak bertanggung jawab, dan sebaliknya, menunjukkan manusia sebagai oknum yang berttanggung jawab atas perbuatannya, maka logika harus disingkirkan.

Mungkin dipertanyakan: dimana Alkitab menunjukkan bahwa Allah menentukan, tetapi manusia tetap bertanggung jawab? Dalam buku saya, saya memberikan banyak ayat. Di sini saya berikan satu saja.

Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Bagian awal dari ayat itu menunjukkan bahwa Allah telah menetapkan bahwa Yesus akan mati melalui pengkhianatan Yudas Iskariot, tetapi bagian akhirnya mengatakan bahwa Yudas Iskariot bertanggung jawab atas hal itu.

 

Saya akan memberikan contoh penggunaan logika secara berlebihan, yang akhirnya menabrak ayat-ayat Firman Tuhan. Dalam Gereja Roma Katolik dipercaya bahwa Maria lahir dan hidup tanpa dosa. Apa alasannya? Hanya alasan secara logika, yaitu karena Yesus lahir dan hidup tanpa dosa. Mereka beranggapan bahwa Yesus tidak mungkin lahir tanpa dosa, kecuali ibuNya yang melahirkanNya juga suci. Tetapi dengan menarik kesimpulan dengan menggunakan logika seperti itu, mereka menabrak banyak ayat Alkitab yang menyatakan bahwa semua manusia berdosa (Ro 3:23 dsb). Alkitab hanya mengecualikan Yesusnya sendiri (Ibr 4:15  2Kor 5:21), bukan Marianya! Jadi, jelas kesimpulan berdasarkan logika seperti ini harus ditolak.

 

Contoh lain yang seperti ini. Alkitab mengatakan semua manusia berdosa (Ro 3:23). Alkitab juga menyatakan bahwa Yesus adalah manusia sama dengan kita (Ibr 2:14-17  Fil 2:7). Kesimpulan secara logika, Yesus juga berdosa. Tetapi kesimpulan ini bertentangan dengan Ibr 4:15 dan 2Kor 5:21 yang menyatakan bahwa Yesus tidak berdosa. Juga bertentangan dengan fakta bahwa Yesus bisa menjadi Juruselamat / Penebus. Kalau Ia berdosa tidak mungkin Ia bisa menjadi Juruselamat / Penebus. Jadi, kesimpulan yang berdasarkan logika ini harus ditolak, karena bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab yang lain.

 

Saya ingin memberikan lagi contoh lain yang seperti ini. Alkitab jelas mengatakan bahwa Allah itu hanya satu (Ul 6:4). Alkitab jelas juga menunjukkan bahwa Bapa itu Allah dan Yesus berbeda (‘distinct’, bukan ‘different’) dari Bapa (Yoh 1:1b). Apakah kita lalu boleh menggunakan logika, dan lalu meloncat pada kesimpulan bahwa Yesus bukanlah Allah? Seandainya tak ada ayat yang menentang kesimpulan ini, maka itu boleh dilakukan. Tetapi ternyata bagian akhir dari Yoh 1:1 (Yoh 1:1c) mengatakan ‘dan Firman itu adalah Allah’. Dan banyak ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Jadi kesimpulan yang didasarkan pada logika itu bertentangan dengan banyak ayat Firman Tuhan. Dalam hal seperti ini tentu saja salah kalau kita tetap bersandarkan pada logika. Akhirnya yang dilakukan adalah: menciptakan doktrin Allah Tritunggal, yang bisa mengharmoniskan semua ayat-ayat itu.

 

Saya kira sudah cukup banyak contoh yang saya berikan. Sekarang kembali pada apa yang dilakukan oleh Liauw dengan ajaran Calvinisme. Semua contoh itu sebetulnya sama dengan apa yang dilakukan oleh Liauw dengan ajaran Calvinisme. Memang Calvinisme mengajarkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan apapun yang ditentukan Allah pasti akan terjadi. Logika Liauw lalu mengatakan bahwa kalau begitu manusia itu seperti robot yang tidak bertanggung jawab. Bolehkah menyimpulkan seperti ini? Boleh, seandainya itu tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Firman Tuhan. Tetapi sudah saya tunjukkan bahwa kesimpulan logis seperti itu bertentangan dengan ayat-ayat Firman Tuhan, dan karena itu, kesimpulan itu tidak boleh diambil.

 

Sebenarnya, Kalvinisme yang konsisten sama sekali tidak adekuat untuk dijadikan pedoman praktek kehidupan manusia. Saya akan mencoba untuk memperlihatkan kelemahan Kalvinisme dalam praktek hidup sehari-hari. Sebelumnya saya mengajak pembaca untuk mengingat bahwa Kalvinisme percaya;

1. Allah telah menentukan segala sesuatu, termasuk tindakan dan pikiran manusia, dalam dekrit rahasia di kekekalan lampau

2. Manusia pasti melakukan seperti yang Allah dekritkan, tidak dapat menyimpang dari itu.

Untuk menghindari Fatalisme, Kalvinis berkata: “Jangan hidup berpedomankan kepada ketetapan rahasia Allah, itu adalah rahasia. Hiduplah berpedomankan kepada Firman Allah!” Saya senang ketika siapapun juga mengajarkan umat untuk hidup berpedomankan kepada Firman Allah. Tetapi, sambil Kalvinis menghimbau umatnya untuk hidup sesuai Firman Tuhan, premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah seruan tersebut. Seseorang yang mempercayai premis dasar Kalvinisme dengan serius, walaupun dihimbau untuk taat Alkitab, akan bergumul dengan pikiran-pikiran berikut:

1. “Walaupun saat ini saya seolah-olah dapat memilih untuk taat Firman Tuhan atau untuk membangkang, sebenarnya pilihan saya sudah ditentukan oleh Tuhan sejak kekekalan.”

2. “Kalau saya membangkangi Firman Tuhan, saya akan dihukum. Tetapi kalau misalnya Tuhan memang sudah menetapkan saya untuk membangkang, saya tidak bisa melawan itu. Semoga Tuhan tidak menetapkan saya untuk membangkang!” Apakah pembaca dapat melihat, bahwa Kalvinisme yang diimani secara konsisten menimbulkan suatu harapan yang aneh: “Semoga saya bukan telah ditetapkan untuk membangkang!”

3. Ketika melakukan introspeksi, atau mengilas kembali masa lalu, seorang Kalvinis sah-sah saja berpikir demikian: “Apa yang tadi saya lakukan memang bertentangan dengan Firman Tuhan. Saya sungguh menyesal…..Tetapi, bukankah itu sudah ditentukan Tuhan? Artinya, saya tidak mungkin taat tadi. Guru Kalvinis saya mengajarkan bahwa apapun yang terjadi di dunia tidak lepas dari ketetapan dan rencana Tuhan. Apa saya perlu menyesali suatu rencana Allah dalam hidup saya? Saya rasa saya tidak perlu menyesal lagi, saya hanya perlu terima saja bahwa Allah telah menentukan bahwa tadi saya tidak taat dalam hal ini.” Apakah menurut pembaca skenario ini terlalu mengada-ada? Coba renungkan, bukankah premis dasar Kalvinisme berpotensi untuk menimbulkan pikiran-pikiran seperti demikian?

 

Tanggapan saya:

Saya mengakui kalau kemungkinan itu ada, tetapi Calvinist yang berpikir demikian adalah Calvinist yang digodai setan. Memang kalau orang percaya kebenaran, setan selalu menyerang dengan menggunakan ayat-ayat / kebenaran yang disalah-gunakan. Misalnya Yesus digoda dengan menggunakan Firman Tuhan yang disalah-artikan / disalah-gunakan dalam Mat 4:5-6! Anda cocok jadi setan, Liauw!

Tetapi ingat, adanya godaan setan seperti itu tidak menyebabkan kita bisa mengartikan kebenaran itu sendiri sebagai salah! Apakah orang yang percaya Injil, tidak bisa digodai setan untuk berbuat dosa saja, karena dosanya toh sudah ditebus Yesus? Tentu bisa! Apakah ini membuktikan Injil itu salah? Terkutuklah orang yang berpikir demikian!

 

Kepercayaan bahwa Allah sudah menentukan segala sesuatu juga tidak dapat secara adekuat mengajari orang percaya perihal doa dan penginjilan. Jika Allah sudah menentukan segala sesuatu, maka doa-doa kita sama sekali tidak mengubah sesuatu apapun. Demikian juga dengan penginjilan. Seiring dengan doktrin Unconditional Election juga (yang belum dibahas), Allah sudah menentukan siapa yang masuk Surga dan siapa yang masuk neraka. Kalau begitu, usaha penginjilan orang percaya tidak akan menambahi atau mengurangi hal ini.

 

Tanggapan saya:

Idem di atas.

Calvinist yang tidak berdoa ataupun memberitakan Injil, bukanlah Calvinist, bahkan bukan Kristen!

Dan jangan lupa, Allah justru melaksanakan rencanaNya untuk menyelamatkan orang-orang pilihan melalui penginjilan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Perhatikan siapa yang menjadi percaya pada waktu ada penginjilan? Hanya orang-orang pilihan, Liauw!

 

 

Bukan berarti Kalvinis tidak mengajari orang untuk berdoa atau menginjil. Mereka berkata bahwa orang percaya perlu berdoa dan menginjil karena itu adalah perintah Allah bagi kita. Namun seberapa efektifkah seruan ini jika dibandingkan dengan konsep Alkitab bahwa doa kita benar-benar mengubah situasi? Seberapa efektifkah seruan Kalvinis untuk menginjil karena itu adalah keharusan, dibandingkan seruan untuk menginjil karena usaha penginjilanmu membuat perbedaan bagi jiwa-jiwa yang terhilang?
Tidak usah jauh-jauh, kita bisa melihat ilustrasi seorang salesman. Katakanlah ada dua salesman di dua perusahaan berbeda. Perusahaan pertama memberi gaji tetap kepada salesman mereka. Jadi, berapapun hasil penjualan sang salesman, gajinya sama. Sebaliknya, di perusahaan kedua, salesman diberi gaji tetap yang kecil, tetapi insentif yang besar untuk setiap penjualan yang dia hasilkan. Menurut anda, salesman mana yang akan lebih tinggi penjualannya? Saya rasa saya tidak perlu menjawab lagi, anda sudah mengerti. Itulah sebabnya hampir semua perusahaan kini memakai sistem yang kedua.
Dapatkah pembaca memahami, bahwa seruan Kalvinis untuk berdoa, menginjil, ataupun bentuk ketaatan lainnya, diperlemah oleh premis dasar mereka sendiri? Saya sama sekali tidak menyangkal bahwa Kalvinis masih berdoa. Saya tidak meragukan bahwa ada Kalvinis yang menginjil. Tetapi mereka berdoa dan menginjil, bukan karena mereka Kalvinis (because of their Calvinism), melainkan walaupun mereka Kalvinis (in spite of their Calvinism). Jika ada Kalvinis yang rajin menginjil, saya mengucap syukur untuk hal itu. Tetapi kerajinannya menginjil bukanlah karena ia seorang Kalvinis. Kalau dia bukan Kalvinis, dia bisa lebih rajin lagi menginjil. Mungkin ada Kalvinis yang berkata, “Kalvinisme tidak melemahkan semangat saya menginjil.” Terlepas dari benar tidaknya pernyataan dia, apakah dia yakin bahwa semua Kalvinis yang lain tidak melemah, padahal premis dasar Kalvinisme itu sendiri memperlemah semangat menginjil?

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda cuma menyoroti satu sisi ajaran Calvinisme. Yang anda soroti hanyalah Allah menentukan sesuatu. Tetapi ajaran yang menyeimbangkan dalam Calvinisme, yaitu manusia harus bertanggung jawab dsb, anda anggap tidak ada. Dan itu sebabnya anda katakan tidak konsisten.

Saya adalah salah satu Calvinist yang paling keras di Indonesia, tetapi saya berani diadu / dibandingkan dengan orang-orang dari kalangan Arminian, dalam persoalan memberitakan Injil! Bagaimana kalau dibandingkan dengan anda saja, Liauw? Mana yang lebih banyak memberitakan Injil, anda atau saya? Lihat tulisan-tulisan saya di web, dan perhatikan betapa banyak saya memberitakan Injil. Bahkan kalau saya mengajar di sekolah theologia, atau kalau saya khotbah di depan pendeta-pendeta, saya tetap memberitakan Injil, karena saya percaya bahwa selalu ada banyak lalang di antara gandum, dan anda mungkin salah satunya!

 

 

V. Kedaulatan Allah yang Alkitabiah

 

Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk melihat kedaulatan Allah yang Alkitabiah, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan “kedaulatan.” Webster menjelaskan bahwa kata “sovereign” (Indonesia: berdaulat), memiliki arti:

1 above or superior to all others; chief; greatest; supreme 2 supreme in power, rank, or authority
3 of or holding the position of a ruler; royal; reigning 4 independent of all others 5 . . .

1 Di atas atau superior dibanding semua yang lain; pemimpin; yang terbesar; tertinggi 2 tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas 3 memegang posisi seorang penguasa; rajani; bertahta 4 independen terhadap semua yang lain 5 . . .

Jadi, dapat kita lihat bahwa “kedaulatan” berhubungan dengan “kuasa,” “pemerintahan” dan “otoritas.” Dari definisi “kedaulatan” tidak ada suatu keharusan bahwa pribadi yang berdaulat menentukan segala sesuatu. Berikut ini kita akan menggali beberapa hal berhubungan dengan kedaulatan Allah dan kebebasan manusia.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda mengutip dari buku saya tanpa memberitahu (hebatnya, di atas saya sudah lebih dulu mengutip arti kata ‘Sovereign’ dari Webster, sebelum saya membaca tulisan anda di sini!). Supaya kelihatan pintar, Liauw? Sekarang anda justru kelihatan sebagai pendusta, dan pendusta akan masuk neraka (Wah 21:8)! Jadi, percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, Liauw, atau anda akan masuk neraka! By the way, sekarang ini saya memberitakan Injil kepada anda, Liauw! Anda malah tak pernah memberitakan Injil kepada saya!

 

A. Kedaulatan Allah Konsisten Dengan Sifat-SifatNya

 

Allah adalah pribadi yang mahakuasa dan mahaberdaulat. Tidak ada orang Kristen lahir baru yang meragukan kedua sifat Allah tersebut. Walaupun demikian, satu hal yang perlu diingat, kedaulatan dan kekuasaan Allah tidak berarti Allah tidak dibatasi. Memang, tidak ada suatu hal pun atau suatu makhluk pun yang dapat membatasi Allah di luar dari Allah sendiri. Tetapi, Allah dibatasi oleh sifat-sifatNya sendiri. Walaupun Allah mahakuasa dan berdaulat, tetapi ada hal-hal yang tidak dapat Allah lakukan. Sebagai contoh, Allah tidak dapat berdosa, bukan karena halangan dari luar, tetapi karena itu bertentangan dengan sifatNya yang mahakudus. Allah tidak bisa membuat diriNya sendiri tidak eksis, karena sifat Allah adalah mahaada. Sekali lagi, kemahakuasaan dan kedaulatan Allah akan selalu konsisten dengan segala sifatNya yang lain.

Manusia patut mengucap syukur bahwa Allah bukan saja mahakuasa dan maha berdaulat, tetapi juga mahakasih, mahaadil, mahakudus, dan maha penyayang. Oleh karena itu, segala sesuatu yang Allah perbuat melalui kuasa dan kedaulatanNya, pastilah mencerminkan kasih, keadilan, dan kekudusanNya. Jika Allah hanya mahakuasa dan maha berdaulat, tanpa disertai sifat kasih dan kudusNya, maka Allah tidak lebih dari Saddam Hussein yang omnipotent! Bagi pribadi yang demikian, semakin banyak kuasanya, justru semakin berbahaya. Tentu, kalau Allah benar-benar tidak mahakasih atau benar-benar tidak mahakudus, kita tidak bisa protes, karena Dia toh adalah Allah yang menciptakan kita. Kita hanya tinggal tunggu nasib saja! Tetapi puji syukur, Allah menyatakan diriNya dalam Alkitab, dan Ia menyatakan diriNya sebagai Allah yang mahakudus dan mahakasih.

Karena kedaulatan Allah pastilah konsisten dengan sifat-sifatNya yang lain, maka Allah tidak mungkin menetapkan dosa. Kalau Allah menetapkan dosa, maka Allah adalah sumber dosa dan penyebab dosa. Ini tidak mungkin terjadi karena Allah adalah mahakudus. Kalau ada satu sifat Allah yang paling banyak disinggung dalam Alkitab, maka pastinya bukanlah kedaulatanNya, melainkan kekudusanNya. Dalam Alkitab (Indonesia Terjemahan Baru), kata “kudus” dan turunannya, muncul 1008 kali dalam 878 ayat! Sebaliknya, kata “daulat” dalam segala bentuk tidak dapat ditemukan dalam Alkitab Indonesia. Kata “kuasa” hanya muncul 562 kali, sudah termasuk segala jenis “kuasa,” bahkan kuasa kejahatan sekalipun. Sedangkan tidak mungkin ada “kekudusan” kejahatan. Setiap kali kata “kudus” dipakai secara positif, pastilah berbicara mengenai Allah atau hal-hal (benda maupun pribadi) yang berkaitan dengan Allah atau yang dikhususkan untuk Allah. Ini pun belum menghitung penggunaan kata “suci.” Jangan salah! Saya tidak meragukan sedikitpun bahwa Allah maha berdaulat. Pemazmur berkata, “Oleh sebab itu kita bersukacita karena Dia, yang memerintah dengan perkasa untuk selama-lamanya, yang mata-Nya mengawasi bangsa-bangsa. Pemberontak-pemberontak tidak dapat meninggikan diri” (Maz. 66:6-7). Tetapi, manusia tidak ada hak sedikit pun, demi suatu definisi “kedaulatan” yang salah, membuat Allah sebagai pribadi yang menetapkan, mendekritkan, dan merencanakan segala dosa yang ada, yang adalah pelanggaran terhadap kekudusanNya!

 

Tanggapan saya:

 

1)   Saya juga ingin mengingatkan Liauw ini bahwa kata-kata ‘kehendak bebas’ (free will) juga tak pernah ditemukan dalam Alkitab, demikian juga kata-kata ‘Allah Tritunggal’, dan kata ‘sakramen’. Jadi, kata itu muncul atau tidak, tak terlalu jadi soal. Yang penting ajarannya ada.

 

2)   Banyak sedikitnya kata itu muncul, tak menunjukkan bahwa itu lebih ditekankan atau kurang ditekankan. Kelihatannya Liauw menunjukkan jumlah munculnya kata ‘kudus’ untuk menunjukkan bahwa itu lebih ditekankan. Tetapi saya tanya: apa dasarnya kalau suatu kata muncul lebih banyak, itu menunjukkan bahwa kata itu lebih ditekankan? Kalau yang muncul banyak yang ditekankan, dan yang muncul kurang banyak tidak ditekankan, maka kita harus menyimpulkan bahwa Alkitab tidak menekankan Allah Tritunggal, karena kata-kata itu tak pernah muncul. Alkitab juga tidak menekankan ‘sakramen’ karena kata itu tidak pernah muncul dalam Alkitab! Dan kita juga harus menyimpulkan bahwa Alkitab sangat menekankan ‘orang’, karena kata itu muncul ribuan kali dalam Alkitab. Tak percaya? Lihat konkordansi dan hitung sendiri! Dan apa sebabnya orang Arminian menekankan ‘free will’ / kehendak bebas, padahal kata-kata itu tak pernah ada dalam Alkitab?

 

3)   Kata ‘daulat’ tak pernah muncul, tetapi ayat yang menunjukkan bahwa Allah itu tertinggi, dan bahwa segala sesuatu tergantung kepada Allah, dan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, ada banyak.

 

4)   Lagi-lagi Liauw terlalu cepat meloncat pada suatu kesimpulan. Hanya karena Allah itu kudus, ia lalu menyimpulkan bahwa Allah itu tidak mungkin menentukan dosa. Kesimpulan ini dilakukan tanpa mempedulikan ayat-ayat yang secara explicit mengatakan bahwa Allah menentukan dosa. Saya beri beberapa contoh:

·         Daniel 11:36 - “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi”.

Ini menunjukkan bahwa dosa dari raja ini, dimana ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah, dan akan mengucapkan kata-kata tak senonoh terhadap Allah, sudah ditetapkan, dan karena itu pasti akan terjadi.

·         Hab 1:12 - “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.

Biarpun penindasan yang dilakukan oleh orang Kasdim terhadap orang Israel / Yehuda merupakan hukuman Tuhan bagi mereka, tetapi itu tetap merupakan suatu dosa. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa hal itu ditetapkan / ditentukan oleh Tuhan!

·         Mat 18:7 - “Celakalah dunia dengan segala penyesatan­nya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya!”.

Ini menunjukkan bahwa penyesatan harus ada. Ini jelas adalah dosa, tetapi ini telah ditetapkan oleh Allah.

·         Luk 17:25 - “Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini”.

Perhatikan kata ‘harus’ di sini. Penolakan dan penyiksaan terhadap Yesus itu harus terjadi.

·         Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus, yang jelas adalah suatu dosa, telah ditetapkan oleh Allah.

·         Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 3:18 - “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap Kristus (ini adalah dosa yang paling terkutuk) sudah ditentu­kan sejak semula. Perhatikan khususnya kata-kata ‘menurut maksud dan rencanaNya’ dalam Kis 2:23, dan juga kata ‘tentukan’ dalam Kis 4:28. Jelas ini bukan sekedar menunjuk pada foreknowledge (= pengetahuan lebih dulu) dari Allah, tetapi menunjuk pada foreordination (= penetapan lebih dulu) dari Allah.

Seandainya tak ada ayat-ayat seperti ini, maka mungkin Liauw bisa dibenarkan pada waktu ia mengambil kesimpulan logis seperti itu. Tetapi pada waktu kesimpulan logisnya bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab, seperti dalam kasus ini, saya bertanya: haruskah kita tunduk pada logika lebih dari pada pada Firman Tuhan?

Bdk. Amsal 3:5 - “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  

5)   Liauw berkata ‘manusia tidak ada hak sedikit pun, demi suatu definisi “kedaulatan” yang salah, membuat Allah sebagai pribadi yang menetapkan, mendekritkan, dan merencanakan segala dosa yang ada’. Saya setuju! Tetapi bagaimana kalau yang memberikan definisi kedaulatan itu adalah Alkitab sendiri? Saya sudah memberikan banyak ayat di atas. Bagaimana Liauw menafsirkan ayat-ayat itu? Mau diabaikan / dibuang saja ayat-ayat Alkitab, yang adalah Firman Tuhan itu?? Jangan lupa ancaman Alkitab terhadap orang-orang yang membuang Firman Tuhan, seperti yang ada dalam Mat 5:19a dan Wah 22:19!


Ketika Yesaya diizinkan untuk melihat takhta Tuhan, dia menyaksikan para Serafim saling berteriak, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam.” Penglihatan akan kekudusan Tuhan begitu melanda dan melingkupi Yesaya, sehingga ia menganggap dirinya celaka karena dosa-dosanya. Minimal 2600 tahun setelah Yesaya, Rasul Yohanes, dalam penglihatannya akan masa depan, melihat kata-kata yang sama tentang kekudusan Tuhan masih dinyanyikan di hadapan takhta Allah (Wah. 4:8). Apakah kita harus percaya, bahwa Allah yang sedemikian MahaKudus, yang tidak memperbolehkan dosa sekecil apapun untuk menghampiri takhtaNya, ternyata adalah pribadi yang menyebabkan segala dosa yang pernah ada? Ini tidak kurang dari penghujatan! Ini adalah skandal! Oh, wahai teman-temanku Kalvinis, mengapakah anda tidak dapat melihat hal ini?

Tanggapan saya:

Yang anda sebut penghujatan itu adalah ajaran dari ayat-ayat Firman Tuhan sendiri seperti yang sudah saya berikan di atas. Andalah yang menghujat Firman Tuhan, Liauw! Seandainya anda bisa menafsirkan ayat-ayat itu sehingga sesuai dengan ajaran anda, saya mau menerimanya! Tetapi apa yang anda lakukan sampai saat ini adalah menghindari pembahasan ayat-ayat itu!

 

 

B. Allah Menciptakan Makhluk dengan Kehendak Bebas

 

Jika Allah tidak menetapkan adanya dosa, pertanyaan mendasar yang muncul adalah: kalau begitu dari manakah datangnya dosa dan kejahatan? Bukankah di masa kekekalan lampau hanya ada Allah saja? Kalau pada mulanya hanya ada Allah, bukankah berarti segala sesuatu berasal dari Allah?
Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat dijawab jika kita mengerti bahwa Allah selain menciptakan berbagai benda dan hal, juga menciptakan makhluk-makhluk yang Dia berikan kehendak bebas. Manusia adalah salah satu makhluk yang Dia berikan kehendak bebas tersebut. Allah jelas memiliki kehendak bebas, itu adalah salah satu sifatNya. Oleh karena itu, ketika Allah menciptakan manusia sesuai dengan gambar dan rupaNya, manusia mewarisi sifat-sifat Allah sampai tingkat tertentu. Manusia sadar diri, manusia memiliki perasaan, manusia dapat berkomunikasi, dan manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Allah.

 

Banyak pihak yang mencoba untuk mengadu “kedaulatan Allah” dengan “kehendak bebas manusia.” Mereka merasa bahwa kalau manusia memiliki kehendak bebas, maka manusia bisa memilih untuk menentang Allah, dan itu berarti Allah tidak berdaulat penuh. Tetapi ini adalah logika yang salah. Ingat bahwa kehendak bebas manusia diberikan oleh Allah sendiri. Apakah Allah yang berdaulat itu tidak boleh memutuskan untuk memberikan kehendak bebas kepada salah satu ciptaanNya? Seseorang yang berdaulat tidak berarti ia harus menentukan segala sesuatu. Seorang raja yang paling berdaulat sekalipun, memiliki hak untuk mendelegasikan banyak hal kepada bawahannya. Ia bisa berkata kepada seorang pegawainya: “Coba kamu yang kendalikan seluruh pasukan kita.” Walaupun pengendalian pasukan adalah hak raja, tetapi raja memutuskan untuk membiarkan pegawainya yang mengendalikan. Kita bisa juga katakan bahwa sang pegawai mengendalikan pasukan berdasarkan otoritas yang diberikan raja padanya. Raja yang tidak boleh mendelegasikan apapun, melainkan harus menentukan segalanya, justru dia bukanlah raja yang berdaulat!

 

Tanggapan saya:

Lihat ajaran Liauw ini, Ia tidak memberikan ayat-ayat Alkitab sebagai dasar, tetapi hanya memberikan ilustrasi dan logika! Dan orang ini menamakan dirinya Alkitabiah?

Saya tanya: kalau raja itu memutuskan untuk membiarkan terjadinya sesuatu di luar ijinnya, apakah ia tetap adalah raja yang berdaulat? Menurut saya: itu adalah omong kosong. Itu sama dengan mengatakan bahwa raja yang menyerahkan takhta dan makhkotanya kepada orang lain, tetap adalah raja! Karena itu, tidak mungkin Allah mengijinkan terjadinya sesuatu di luar penentuan dan pengaturanNya. Supaya jangan ada yang mengatakan bahwa saya mengajar tanpa dasar Alkitab, maka di sini saya memberikan dasarnya.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

Ay 29nya menunjukkan bahwa jatuhnya burung pipit, yang merupakan sesuatu yang remeh, tidak mungkin terjadi di luar kehendak Tuhan. Dan ay 30nya harus diartikan searah dengan ay 29nya. Jadi tidak mungkin ada satu rambut yang jatuh kalau bukan karena kehendak Tuhan!

 

Saya beri ayat lain lagi.

Ayub 37:6 - “karena kepada salju Ia berfirman: Jatuhlah ke bumi, dan kepada hujan lebat dan hujan deras: Jadilah deras!”.

Jadi, bukan hanya hujan dan turunnya salju tergantung Tuhan, tetapi juga apakah hujan itu deras atau tidak, tergantung kepada Tuhan!

Demikianlah kita lihat Allah yang adalah raja atas seluruh alam ciptaan, Ia mendelegasikan kepengurusan laut dan bumi kepada manusia. Dan Ia pula yang memberikan kepada manusia kehendak bebas, yaitu kemampuan untuk memilih suatu tindakan atau sikap. Dengan kehendak bebas itu, manusia bisa memilih dari banyak pilihan tindakan, berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Jelas pertimbangan-pertimbangan manusia dipengaruhi oleh banyak hal di sekelilingnya, tetapi tidak ditentukan oleh apapun selain dirinya sendiri. Jadi, tidak ada pertentangan antara “kedaulatan Allah” dengan “kebebasan manusia,” karena Allah secara berdaulat memberikan kepada manusia kemampuan untuk memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Dengan kata lain, kebebasan manusia adalah kebebasan yang diberikan oleh Allah. Karena Allah yang memberikan kebebasan tersebut, maka Allah juga membiarkan manusia untuk memilih sendiri, dan tidak menentukan segalanya bagi manusia. Di sinilah perbedaan pandangan Alkitab dengan pandangan Kalvinis.

 

Tanggapan saya:

1)   Saya pikir kata-kata Liauw pada bagian awal kutipan di atas ini, yang berbunyi ‘Demikianlah kita lihat Allah yang adalah raja atas seluruh alam ciptaan, Ia mendelegasikan kepengurusan laut dan bumi kepada manusia’, adalah kata-kata yang gila! Kalau demikian, maka seharusnya manusia betul-betul menguasai laut dan bumi, sehingga pasti bisa menghindarkan badai, tsunami, gempa bumi, gunung meletus dan sebagainya. Buktinya? Manusia tidak bisa!

 

2)   Kata-kata Liauw pada bagian akhir kutipan di atas lagi-lagi hanya diajarkan demikian saja tanpa dasar Alkitab. Alkitab justru bertentangan dengan kata-kata Liauw itu. Sebagai contoh: Petrus dan penyangkalannya. Yesus menubuatkan bahwa Petrus akan menyangkal Dia. Petrus mati-matian menolak hal itu, dan tidak mau menyangkalNya. Tetapi apa yang akhirnya terjadi?

 

 

Ada Kalvinis yang menolak bahwa manusia punya kehendak bebas. Kalvinis-Kalvinis lain di satu sisi menerima kehendak bebas manusia, tetapi di sisi lain menyatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Menurut saya, jenis Kalvinis yang pertama lebih jujur pada premis dasar mereka.

 

Tanggapan saya:

 

Saya ingin membahas tentang free will / kehendak bebas, karena pada waktu Liauw mengatakan ada Calvinist yang menerima dan ada yang menolak free will, saya kira ia tidak mengerti apa yang ia katakan. Untuk bisa jelas tentang hal ini, mari kita melihat penjelasan di bawah ini.

1)   Banyak orang Reformed / Calvinist yang tidak setuju dengan istilah free will ( = kehendak bebas).

Charles Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency. Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise” (= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

Robert L. Dabney: “... I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan ‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan. Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa / pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 129.

Catatan:

·         Istilah ‘agent’ berarti ‘a person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).

·         Istilah ‘agency’ berarti ‘action’ (= tindakan) atau ‘the business of a person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).

Ini diambil dari Webster’s New World Dictionary.

 

Tetapi karena istilah ‘free will’ sudah begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap menggunakan istilah free will / kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus berhati-hati terhadap penyalahgunaan dari istilah free will / kehendak bebas ini.

2)   Arti yang salah dan benar dari free will ( = kehendak bebas).

a)   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.

Kalau kita meninjau doktrin Allah (theology), maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6  Maz 94:17-19  Maz 104:27-30  Kis 17:28  1Tim 6:13  Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.

b)   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia kehendaki.

Ini berlaku dalam hal:

1.      Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia tidak bisa terbang.

2.      Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya (Ro 7:18-23  Mat 26:41).

Jadi free will / kehendak bebas tidak berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.

c)   Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Orang Reformed / Calvinist mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah.

d)   Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.

Bahkan pada saat manusia itu dipaksa untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku) adalah sesuatu yang salah.

Yang bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan.

Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.

Jadi, dari point-point di atas terlihat jelas bahwa Calvinisme menerima free will dalam arti yang berbeda dengan yang diterima oleh orang-orang Arminian!

Jadi, apakah Calvinist setuju dengan free will? Tergantung dalam arti apa? Dalam arti seperti yang dipakai oleh orang-orang Arminian, Calvinist tidak setuju free will, tetapi dalam arti seperti yang digunakan oleh Calvinisme, Calvinist setuju dengan free will!

3)            Penetapan Allah / Predestinasi tidak menghancurkan kebebasan manusia.

Sekalipun Calvinisme mempercayai kedaulatan Allah yang menentukan keselamatan seseorang dan bahkan juga menentukan segala sesuatu yang lain, tetapi Calvinisme tetap mempercayai kebebasan manusia. Mengapa? Karena dalam Kitab Suci kita melihat bahwa sekalipun segala sesuatu terjadi sesuai kehendak / rencana Allah, tetapi pada waktu manusianya melakukan hal itu, ia tidak dipaksa, tetapi melakukannya dengan sukarela.

Misalnya:

a)   Pada waktu mengutus Musa kepada Firaun, Tuhan berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21  7:3). Ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah menentukan bahwa Firaun tidak akan melepaskan Israel. Tetapi pada waktu Musa sampai kepada Firaun, dikatakan bahwa ‘Firaun mengeraskan hatinya sendiri’ (Kel 7:22  8:15,19,32  9:34-35  14:5).

b)   Yudas mengkhianati / menyerahkan Yesus sesuai dengan ketetapan Allah (Luk 22:22), tetapi pada waktu Yudas melakukan hal itu, ia betul-betul melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Kita tidak melihat bahwa Allah memaksa dia untuk mengkhianati Yesus.

c)   Orang-orang yang membunuh Yesus melakukan hal itu sesuai dengan apa yang sudah Allah tentukan dari semula (Kis 4:27-28), tetapi pada waktu mereka melakukannya, mereka betul-betul bebas, dan melakukannya atas kehendak mereka sendiri.

 
Nah, apa kata Alkitab? Alkitab penuh dengan bukti implisit maupun eksplisit bahwa manusia diciptakan dengan kehendak bebas. Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa manusia memiliki kehendak bebas, sama seperti Alkitab tidak banyak berusaha membuktikan bahwa Allah ada. Kedua fakta ini diterima secara implisit dan sudah dianggap benar oleh para penulis Alkitab. Setiap kali ada himbauan dalam Firman Tuhan, itu adalah bukti implisit bahwa manusia dapat memilih.

 

Tanggapan saya:

1)   Omong kosong! Kata-kata Liauw di atas benar tentang keberadaan Allah, tetapi salah kalau berkenaan dengan free will. Yang benar adalah dalam Alkitab ada banyak ayat yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa melakukan apa-apa selain yang Allah tentukan. Contoh:

Amsal 16:1,9 - “(1) Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. ... (9) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Amsal 20:24 - Langkah orang ditentukan oleh TUHAN, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?”.

Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

Kel 21:13 - “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

2)   Liauw mengatakan ‘Setiap kali ada himbauan dalam Firman Tuhan, itu adalah bukti implisit bahwa manusia dapat memilih’. Saya akan buktikan bahwa kata-kata Liauw ini salah sama sekali.

a)   Bukti pertama. Alkitab menyuruh orang percaya kepada Yesus (Kis 16:31). Apakah manusia, dengan kekuatannya sendiri bisa percaya? Jawabannya ada dalam Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”. Jadi, jawabannya jelas adalah ‘Tidak!’.

b)   Bukti kedua. Alkitab mendesak manusia untuk tidak berdosa.

1Yoh 2:1 - “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil”.

Apakah manusia bisa memilih untuk tidak berbuat dosa. Rasul Yohanes yang menulis ayat di atas, sudah menulis lebih dulu jawabannya dalam 1Yoh 1:8,10 - “(8) Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. ... (10) Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita”.

Jadi jelas bahwa jawabannya lagi-lagi adalah ‘Tidak bisa!’.

 

Setiap kali para penulis Alkitab memaparkan argumen, itu adalah bukti bahwa mereka mencoba untuk menyodorkan pertimbangan-pertimbangan kepada intelek para pembaca, agar pembaca membuat keputusan yang benar. Ini adalah bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Bahkan Allah sendiri berkata: “Marilah, baiklah kita berperkara” (Yes. 1:18). Tuhan berusaha untuk meyakinkan manusia agar memilih yang baik. Ini adalah bukti kuat bahwa Tuhan memberikan kehendak bebas kepada manusia. Tetapi, bukankah Tuhan itu berdaulat dan dapat menentukan apa yang akan dipilih oleh manusia? Benar! Tetapi Tuhan yang berdaulat itu telah memutuskan untuk membiarkan manusia yang memilih sendiri. Dan Tuhan konsisten dengan keputusanNya, sehingga Ia hanya akan meyakinkan manusia, bukan menentukan bagi manusia. Tentu manusia akan mempertanggungjawabkan pilihannya di hadapan Tuhan suatu hari.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Lagi-lagi suatu pengambilan kesimpulan berdasarkan logika (yang tolol), yang bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab! Di atas sudah saya berikan contoh, bahwa kalau ada perintah dalam Alkitab, belum tentu manusia bisa memilih untuk mentaatinya. Sekarang saya beri contoh-contoh lagi, yaitu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia tidak bisa mentaati Tuhan dengan kekuatannya sendiri.

·         Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, ...”.

·         Yer 4:22 - “Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu.

·         Yer 13:23 - “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?”.

·         Yoh 8:34b - “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”.

Istilah ‘hamba’ perlu ditekankan di sini. Dengan manusia dinyatakan sebagai ‘hamba dosa’, itu jelas menunjukkan bahwa ia selalu / terus menerus menuruti dosa, dan tidak bisa berbuat baik. Ini dinyatakan secara lebih jelas oleh Ro 6:16-17,20-21. Perhatikan khususnya Ro 6:20 yang berbunyi: “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Istilah ‘bebas dari kebenaran’ itu jelas menunjukkan bahwa manusia berdosa itu tidak bisa berbuat apapun yang benar!

·         Ro 7:18-19 - “(18) Sebab aku tahu bahwa di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”.

Dari ayat ini kelihatan sepintas bahwa dalam diri manusia ada kehendak yang baik. Tetapi jelas bahwa ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa dalam diri manusia berdosa di luar Kristus itu sendiri bisa ada kehendak yang baik, karena:

*        penafsiran ini akan bertentangan dengan Ro 7:18nya yang mengatakan ‘tidak ada sesuatu yang baik’.

*        penafsiran ini juga akan bertentangan dengan Fil 2:13 yang berbunyi:

Fil 2:13 berbunyi: ”karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.

Ini terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:

KJV: “For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure” (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan kehendakNya yang baik).

RSV: “for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NASB: “for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam ka-mu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).

NIV: “for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).

Ini menunjukkan bahwa baik keinginan maupun kemampuan untuk melakukan apa yang baik itu datang dari Tuhan.

Jadi, Ro 7:18-19 ini bukan menggambarkan Paulus pada waktu belum kristen, tetapi sesudah ia menjadi kristen (perhatikan bahwa ayat itu menggunakan present tense, bukan past tense). Karena itu ia sudah mempunyai kemauan / kehendak yang baik (dari Roh Kudus), tetapi bagaimanapun apa yang ia capai / lakukan jauh lebih rendah dari apa yang ia kehendaki, dan berdasarkan pengalaman itu ia menuliskan ayat itu.

·         Ro 8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah”.

2)         Bagian akhir dari kata-kata Liauw sangat bertentangan dengan akal sehat maupun Alkitab.

Ia berkata ‘Tetapi, bukankah Tuhan itu berdaulat dan dapat menentukan apa yang akan dipilih oleh manusia? Benar! Tetapi Tuhan yang berdaulat itu telah memutuskan untuk membiarkan manusia yang memilih sendiri.’. Ini mustahil, dan sama saja dengan mengatakan bahwa Tuhan yang berdaulat itu memilih untuk menjadi tidak berdaulat! Di atas Liauw sendiri mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin melakukan apa yang bertentangan dengan sifatNya / keberadaanNya. Itu benar. Tuhan tidak bisa memilih untuk tidak ada di tempat manapun, karena Ia memang maha ada. Tuhan tidak bisa memilih untuk musnah, karena Ia kekal. Tuhan tidak bisa memilih untuk berubah, karena Ia memang tidak bisa berubah. Dan dalam persoalan ini, kedaulatanNya tidak memungkinkanNya untuk memutuskan memberikan kebebasan kepada manusia.

Catatan: yang saya maksudkan dengan ‘kebebasan’ disini adalah kebebasan dalam arti Arminian!

Saya kira Liauw melihat hanya ayat-ayat dari sudut pandang manusia, dan tidak melihat ayat-ayat dari sudut pandang Tuhan (dan yang terakhir ini adalah realita yang sebenarnya!). Dan ini memang merupakan kesalahan cara berpikir orang-orang Arminian.

Contoh:

a)   Pada waktu Musa menghadap Firaun, Firaun menolak melepaskan Israel (Kel 5). Dari sudut pandang manusia, kelihatannya ini merupakan keputusan Furaun sendiri. Tetapi dari sudut pandang Allah keputusan Firaun itu terjadi karena pekerjaan Allah, karena Kel 4:21 berkata: “Firman TUHAN kepada Musa: ‘Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi.

b)   Paulus, atau Saulus, bertobat dan percaya kepada Yesus setelah ia melihat mujijat (Kis 9). Dari sudut pandang manusia kelihatannya ini merupakan keputusan Paulus sendiri. Tetapi dari sudut pandang Allah, Gal 1:15-16 mengatakan: “(15) Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karuniaNya, (16) berkenan menyatakan AnakNya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia”.

c)   12 murid Yesus ikut Yesus. Dari sudut pandang manusia, mereka ikut karena mereka memilih seperti itu. Tetapi Yoh 15:16 menunjukkannya dari sudut pandang Tuhan. Yoh 15:16 - Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

d)   Yudas Iskariot menjadi pengkhianat dan akhirnya binasa. Dari sudut pandang manusia, kelihatannya ia melakukan hal itu semata-mata karena pilihannya sendiri. Tetapi dari sudut pandang Allah, Luk 22:22 mengatakan “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”. Dan Yoh 17:12 - “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”.

e)   Orang mendengar Injil dan percaya Yesus, kelihatannya (dari sudut pandang manusia) karena pemilihan mereka sendiri. Tetapi perhatikan Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

f)    Yakub beriman, Esau tidak. Kelihatannya semua ini terjadi semata-mata karena pemilihan mereka sendiri. Tetapi itu drt sudut pandang manusia. Dari sudut pandang Allah berlaku Ro 9:11-13 - “(11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

 

Bahkan kisah pencobaan di taman Eden pun merupakan bukti implisit bahwa manusia memiliki kehendak bebas. Perintah Tuhan kepada manusia untuk tidak makan dari buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat adalah bukti bahwa minimal ada dua pilihan! Dan fakta bahwa Tuhan sangat marah dan kecewa saat Adam dan Hawa makan buah itu, membuktikan bahwa Tuhan tidak menetapkan demikian.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Memang dari sudut pandang manusia ada dua pilihan. Tetapi dari sudut pandang Tuhan, jelas Dia sudah menentukan hal itu.

Saya kutipkan dari buku saya ‘providence of God’ di bawah ini.

 

Dosa / kejatuhan Adam mempunyai 3 kemungkinan:

a)   Adam ditentukan untuk tidak jatuh.

Kemungkinan ini harus dibuang, karena kalau Adam direncanakan untuk tidak jatuh, maka ia pasti tidak jatuh (ingat bahwa Rencana Allah tidak bisa gagal - lihat pelajaran II, point B,C di atas).

Ayat-ayat dalam pelajaran II, point B,C akan saya berikan di bawah ini.

·         Yes 14:24,26-27 - “(24) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

·         Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu”.

·         Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

·         Yes 43:13 - “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?”.

·         Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

·         Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

b)   Allah tidak merencanakan apa-apa tentang hal itu.

Ini juga tidak mungkin karena kalau Allah mempunyai Rencana / kehendak tentang hal-hal yang remeh / tidak berarti seperti jatuhnya burung pipit ke bumi atau rontoknya rambut kita (bdk. Mat 10:29-30), bagaimana mungkin tentang hal yang begitu besar dan penting, yang menyangkut kejatuhan dari ciptaanNya yang tertinggi, Ia tidak mempunyai Rencana?

c)   Allah memang merencanakan / menetapkan kejatuhan Adam ke dalam dosa.

Inilah satu-satunya kemungkinan yang tertinggal, dan inilah satu-satunya kemungkinan yang benar, dan ini menunjukkan bahwa dosa sudah ada dalam Rencana Allah.

Jerome Zanchius: “That he fell in consequence of the Divine decree we prove thus: God was either willing that Adam should fall, or unwilling, or indifferent about it. If God was unwilling that Adam should transgress, how came it to pass that he did? ... Surely, If God had not willed the fall, He could, and no doubt would, have prevented it; but He did not prevent it: ergo, He willed it. And if he willed it, He certainly decreed it, for the decree of God is nothing else but the seal and ratification of His will. He does nothing but what He decreed, and He decreed nothing which He did not will, and both will and decree are absolutely eter­nal, though the execution of both be in time. The only way to evade the force of this reasoning is to say that ‘God was indifferent and unconcerned whether man stood or fell’. But in what a shameful, unwor­thy light does this represent the Deity! Is it possible for us to imagine that God could be an idle, careless spectator of one of the most important events that ever came to pass? Are not ‘the very hairs of our head are numbered’? Or does ‘a sparrow fall to the ground without our heavenly Father’? If, then, things the most trivial and worthless are subject to the appointment of His decree and the control of His providence, how much more is man, the masterpiece of this lower creation?” (= Bahwa ia (Adam) jatuh sebagai akibat dari ketetapan ilahi kami buktikan demikian: Allah itu atau menghendaki Adam jatuh, atau tidak menghendaki, atau acuh tak acuh / tak peduli tentang hal itu. Jika Allah tidak menghendaki Adam melanggar, bagaimana mungkin ia melanggar? ... Tentu saja, jika Allah tidak menghendaki kejatuhan itu, Ia bisa, dan tidak diragukan Ia akan mencegahnya; tetapi Ia tidak mencegahnya: jadi, Ia menghendakinya. Dan jika Ia menghendakinya, Ia pasti menetapkannya, karena ketetapan Allah tidak lain adalah meterai dan pengesahan kehendakNya. Ia tidak melakukan apapun kecuali apa yang telah Ia tetapkan, dan Ia tidak menetapkan apapun yang tidak Ia kehendaki, dan baik kehendak maupun ketetapan adalah kekal secara mutlak, sekalipun pelaksanaan keduanya ada dalam waktu. Satu-satunya cara untuk menghindarkan kekuatan dari pemikiran ini adalah dengan mengatakan bahwa ‘Allah bersikap acuh tak acuh dan tidak peduli apakah manusia itu jatuh atau tetap berdiri’. Tetapi alangkah memalukan dan tak berharganya terang seperti ini dalam menggambarkan Allah! Mungkinkah bagi kita untuk membayangkan bahwa Allah bisa menjadi penonton yang malas dan tak peduli terhadap salah satu peristiwa yang terpenting yang akan terjadi? Bukankah ‘rambut kepala kita dihitung’? Atau apakah ‘seekor burung pipit jatuh ke tanah tanpa Bapa surgawi kita’? Jika hal-hal yang paling remeh dan tak berharga tunduk pada penentuan ketetapanNya dan pada kontrol dari providensiaNya, betapa lebih lagi manusia, karya terbesar dari ciptaan yang lebih rendah ini?) - ‘The Doctrine of Absolute Predestination’, hal 88-89.

2)         Tuhan kecewa?

Liauw berkata: ‘Dan fakta bahwa Tuhan sangat marah dan kecewa saat Adam dan Hawa makan buah itu, membuktikan bahwa Tuhan tidak menetapkan demikian’.

 

a)   Dari mana anda menemukan dalam Alkitab bahwa Tuhan kecewa atas hal itu? Dan anda mengatakan bahwa itu adalah ‘fakta’?

Kecewa hanya bisa terjadi karena seseorang tadinya tidak tahu, dan sekarang baru tahu. Misalnya, saya bertemu seseorang yang saya kira baik, dan lalu saya jadikan rekan bisnis saya. Tahu-tahu semua uang saya ia makan, dan sekarang saya kecewa. Saya membaca tulisan seorang doktor kristen, dan saya kira tulisannya akan bermutu dan Alkitabiah. Ternyata, tulisannya konyol, bodoh, penuh dengan dusta dan fitnahan. Maka sekarang saya menjadi kecewa!

Jadi, dalam arti sebenarnya, bisakah Tuhan kecewa? Kalau Ia bisa kecewa, Ia tidak maha tahu, dan kalau Ia tidak maha tahu, Ia bukan Allah.

b)   Kalau Tuhan tidak menetapkan demikian, lalu Ia menetapkan apa? Dari penjelasan saya di atas cuma ada 2 kemungkinan lain, yaitu Ia menetapkan Adam tidak jatuh, atau Ia tidak menetapkan apa-apa. Keduanya sudah saya buktikan salah!

 

Hanya seorang yang telah dicuci otak oleh Kalvinisme yang dapat menyimpulkan dari Kejadian pasal 2 dan 3, bahwa Allah telah menetapkan Adam untuk jatuh ke dalam dosa!

 

Tanggapan saya:

Bukan hanya otaknya, Liauw! Juga seluruh hati, jiwa / rohnya. Dicuci oleh darah Yesus, dikuduskan oleh Roh Kudus dengan menggunakan FirmanNya! Saya tidak tahu apakah orang Arminian seperti anda juga mengalami itu. Tetapi saya mengalaminya!

Disamping, kalau harus memilih antara ‘menjadi Calvinist yang dicuci otaknya’ dan ‘menjadi Arminian yang tidak punya otak’, maka saya memilih yang pertama!

Calvinist memang percaya bahwa Allah telah menetapkan Adam jatuh ke dalam dosa. Tetapi Calvinist mana yang mengatakan bahwa kami menyimpulkan itu dari Kej 2 dan 3? Lagi-lagi tuduhan bersifat memfitnah, yang saya kira merupakan kebiasaan / tradisi dari orang-orang Arminian pada umumnya!

 

Alkitab penuh dengan bukti implisit akan kehendak bebas manusia. Namun Alkitab juga mengandung pernyataan-pernyataan langsung tentang kehendak manusia tersebut. Ada banyak ayat tentang “kehendak manusia.” Yonatan pernah berkata kepada Daud demikian, “Apapun kehendak hatimu, aku akan melakukannya bagimu” (1 Sam. 20:4).

 

Tanggapan saya:

Tentu manusia punya kehendak, dan ia bertindak sesuai kehendaknya. Tetapi yang dibicarakan di sini apakah kehendak itu sepenuhnya muncul dari dirinya sendiri atau karena ketetapan dan pengaturan Tuhan?

 

Tuan dalam perumpamaan Yesus membuat pernyataan yang sangat menarik: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?” (Mat. 20:15).

 

Tanggapan saya:

Penggunaan ayat ini sangat bodoh, Liauw! Mengapa? Karena ‘Tuan’ itu (dalam Mat 20:15) menunjuk kepada Tuhan sendiri! Jelas Ia memang bebas, karena Ia adalah Allah!

 

Ayat-ayat ini membuktikan bahwa keputusan manusia mengalir dari hatinya sendiri bukan ditentukan oleh pribadi lain. Kalvinis ingin agar kita percaya bahwa telah terjadi suatu sandiwara kosmik yang besar, tanpa disadari oleh para pemainnya. Manusia mengira ia menentukan keputusan-keputusannya sendiri, dan Alkitab pun mengacu kepada kehendak hati manusia, tetapi suatu hari nanti akan nyata bahwa ternyata kehendak hati itu telah ditentukan Tuhan! Satu-satunya yang kurang dari skenario ini adalah dukungan Alkitab.

 

Tanggapan saya:

Kalau dibaca seluruh tulisan Liauw sampai saat ini dan tanggapan saya sampai saat ini, yang mana yang lebih banyak menggunakan Alkitab? Liauw hanya menggunakan logika, saya yang menggunakan Alkitab. Bukan hanya dalam jawaban terhadap tulisan Liauw ini, tetapi juga dalam buku ‘Providence of God’ saya, yang jelas sudah dibaca oleh Liauw (karena ia bisa mengutip sangat banyak dari sana). Buku saya itu menggunakan sangat banyak ayat, dan Liauw mengatakan ‘Satu-satunya yang kurang dari skenario ini adalah dukungan Alkitab’. Liauw, anda seorang pendusta! Bertobatlah, dan percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat anda, atau anda akan masuk neraka!

 

Anda tidak akan menemukan satu petunjuk pun dari Alkitab bahwa Allah telah menentukan segala keputusan, perasaan, dan tindakan manusia.

 

Tanggapan saya:

Saya sudah memberikan banyak ayat, Liauw! Anda terlalu bodoh untuk mengerti, atau memang mau mendustai pembaca?

Saya beri contoh lagi.

·         Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Orang-orang itu memutuskan untuk menjadi percaya. Mengapa? Karena Allah yang telah menentukan mereka untuk hidup kekal bekerja dalam diri mereka sehingga mereka menjadi percaya!

·         Luk 22:21-22 - “(21) Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. (22) Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Yudas Iskariot berkhianat. Mengapa? Karena Allah telah menetapkan hal itu.

·         Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.

Banyak orang itu melawan Yesus. Mengapa? Dari sudut manusia itu keputusan mereka sendiri, tetapi Kis 4:28nya menunjukkan bahwa dari sudut Tuhan, mereka melakukan semua itu karena itu ketetapan Tuhan.

·         1Sam 2:22-25 - “(22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23) berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

Eli menasehati anak-anaknya yang brengsek. Mereka tidak mempedulikannya. Dari sudut pandang manusia, itu terjadi semata-mata karena keputusan mereka. Tetapi Ay 25b-nya menunjukkan bahwa dari sudut pandang Allah, Allah yang mengatur hal itu, karena Ia hendak membunuh / menghukum mati mereka.

 

Sebaliknya, dalam kasus-kasus tertentu, justru Allah yang mengikuti kehendak manusia. Demikianlah pemazmur mengumandangkan kebenaran ini: “Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka” (Maz. 145:19).

 

Tanggapan saya:

Konyol dan bodoh sekali, Liauw! Ayat ini bicara tentang orang-orang yang berdoa, yang doanya dikabulkan oleh Allah. Dan ini anda jadikan bukti bahwa ‘Allah yang mengikuti kehendak manusia’? Salah, Liauw, karena doa kita hanya dikabulkan oleh Allah kalau doa itu sesuai dengan kehendakNya.

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.

Karena itu, Yesus mengajar kita berdoa: “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga” (Mat 6:10). Dan Yesus sendiri mempraktekkannya dalam Mat 26:39,42 - “(39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ ... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Jadi, siapa yang menuruti kehendak siapa, Liauw?

 

Apakah kita harus percaya, sebagaimana pengajaran Kalvinis, bahwa Allah menentukan dulu kehendak orang-orang itu, lalu membiarkan orang-orang itu merasa bahwa mereka berkehendak dari diri mereka sendiri, dan lalu menyatakan bahwa Dia mengikuti kehendak mereka? Saya tidak percaya bahwa Allah menipu kita dengan sandiwara kosmik seperti itu!

 

Tanggapan saya:

Anda bukan ditipu oleh Allah, tetapi oleh pengajaran / penafsiran Arminian yang salah! Anda menipu diri anda sendiri, dan sekarang malah menuduh Allah? Lagi-lagi, Liauw, bertobatlah, dan percayalah kepada Yesus Kristus!

 

Itu bertentangan dengan kesaksian Alkitab!

 

Tanggapan saya:

Kesaksian Alkitab yang mana? Dari awal anda hampir tidak menggunakan ayat, dan hanya menggunakan logika. Dan semuanya sudah saya patahkan!

 

Kalau Allah menentukan segala sesuatu, maka adalah olok-olok bagi Allah untuk menyuruh manusia memilih. Tuhan, melalui Yosua, pernah menantang orang Israel: “pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah” (Yos. 24:15). Bukankah ini semua suatu sandiwara besar jika ternyata Tuhan telah menentukan siapa yang akan memilih Dia, dan siapa yang memilih ilah lain? Bukankah olok-olok jika kemudian Tuhan memarahi mereka yang melaksanakan ketetapanNya sendiri untuk memilih ilah lain? Bukankah bertentangan dengan keadilan Tuhan jika kemudian Tuhan menghukum orang-orang yang tidak dapat berbuat lain daripada rencana rahasiaNya? O, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah engkau melihat, betapa Kalvinisme menjatuhkan karakter Tuhan?

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi Liauw menggunakan ayat yang disertai penafsiran berdasarkan logika bodohnya, yang akhirnya menabrak ayat-ayat Alkitab. Memang Tuhan menyuruh mereka memilih, tetapi Tuhan juga sudah menentukan mereka akan memilih apa. Ini terlihat karena pada jaman Musa sudah ada nubuat bahwa mereka akan menyembah berhala kalau mereka sudah tiba di Kanaan.

Ul 32 (nyanyian Musa), pada ayat ke 15-18 berbunyi sebagai berikut: “(15) Lalu menjadi gemuklah Yesyurun, dan menendang ke belakang, - bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun - dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. (16) Mereka membangkitkan cemburuNya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hatiNya dengan dewa kekejian, (17) mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar. (18) Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau”.

Saya tahu apa yang kira-kira akan diberikan sebagai tanggapan tentang hal ini oleh orang-orang Arminian seperti Liauw ini. mereka akan mengatakan: ‘Itu kan cuma nubuat. Jadi, cuma menunjukkan bahwa Allah tahu hal itu akan terjadi, tetapi bukannya menentukan hal itu!’.

Tidak, kalau ada nubuat, itu karena Allah terlebih dulu sudah menentukan hal itu. Saya akan membuktikannya dari ayat-ayat Alkitab. Bagian di bawah ini lagi-lagi saya kutip dari buku ‘Providence of God’ saya.

 

Kalau Tuhan menubuatkan tentang akan terjadinya suatu hal tertentu, itu disebabkan karena Ia sudah lebih dulu menentukan terjadinya hal itu.

Ini terlihat dari:

¨       perbandingan Mat 26:24 dengan Luk 22:22.

Mat 26:24 - “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”.

Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Kedua ayat ini paralel dan sama-sama berbicara tentang pengkhianatan Yudas, tetapi kalau Mat 26:24 mengatakan bahwa hal itu ‘sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia’, yang hanya menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena sudah dinubuatkan, maka Luk 22:22 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘seperti yang telah ditetapkan’, yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena sudah ditetapkan oleh Allah dalam kekekalan.

¨       perbandingan Kis 2:23  Kis 3:18 dan Kis 4:27-28.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 3:18 - “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Semua ayat di atas ini berbicara tentang penderitaan / penyaliban yang dialami oleh Kristus. Tetapi kalau Kis 3:18 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menggenapi apa yang telah difirmankannya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya’, yang hanya menunjuk-kan bahwa hal itu terjadi karena sudah dinubuatkan, maka Kis 2:23 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘menurut maksud dan rencanaNya’ dan Kis 4:28 mengatakan bahwa hal itu terjadi ‘untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu’, yang jelas menunjukkan bahwa hal itu terjadi karena sudah ditentukan oleh Allah dalam kekekalan.

¨       Yes 44:26a - “Akulah yang menguatkan perkataan hamba-hambaKu dan melaksanakan keputusan-keputusan yang diberitakan utusan-utusanKu”.

Perhatikan bahwa apa yang diberitakan (dinubuatkan) oleh utusan-utusan Tuhan itu adalah keputusan dari Tuhan.

¨       Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Perhatikan bahwa dalam Yes 46:10a dikatakan bahwa Tuhan ‘memberitahukan’, tetapi dalam Yes 46:10b-11a dikatakan bahwa itu adalah ‘keputusanKu’, ‘kehendakKu’, dan ‘putusanKu’. Selanjutnya Yes 46:11b terdiri dari 2 kalimat paralel yang sebetulnya memaksudkan hal yang sama, tetapi kalimat pertama menggunakan istilah ‘mengatakannya’, yang hanya menunjukkan nubuat Allah, sedangkan kalimat kedua menggunakan istilah ‘merencanakannya’, yang jelas menunjuk pada rencana / ketetapan Allah.

¨       Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.

¨       Amos 3:7 - “Sungguh, Tuhan Allah tidak berbuat sesuatu tanpa menyatakan keputusanNya kepada hamba-hambaNya, para nabi”.

Ayat ini menunjukkan secara jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Tuhan kepada pada nabi (dan lalu dinubuatkan oleh nabi-nabi itu) adalah keputusanNya [NIV: ‘his plan’ (= rencanaNya)].

¨       Rat 2:17a - “TUHAN telah menjalankan yang dirancangkanNya, Ia melaksanakan yang difirmankanNya”.

Bagian akhir dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan melaksanakan yang difirmankanNya / dinubuatkanNya; tetapi bagian awal dari ayat ini mengatakan bahwa Tuhan menjalankan yang dirancangkanNya. Jelas bahwa apa yang dinubuatkan adalah apa yang dahulu telah dirancangkanNya.

¨       Rat 3:37 - “Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?”.

NIV: ‘Who can speak and have it happen if the Lord has not decreed it’ (= Siapa yang bisa berbicara dan membuatnya terjadi jika Tuhan tidak menetapkannya?).

Ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada nabi atau siapapun juga yang bisa menubuatkan apapun kecuali Tuhan lebih dulu menetapkan hal itu.

¨       Yes 28:22b - “sebab kudengar tentang kebinasaan yang sudah pasti yang datang dari Tuhan ALLAH semesta alam atas seluruh negeri itu”.

NIV: ‘The Lord, the LORD Almighty, has told me of the destruction decreed against the whole land’ (= Tuhan, TUHAN yang mahakuasa, telah memberitahu aku tentang kehancuran yang telah ditetapkan terhadap seluruh negeri itu).

Ini jelas menunjukkan bahwa kehancuran yang oleh Tuhan diberitahukan kepada Yesaya, dan lalu dinubuatkan oleh Yesaya, merupakan ketetapan Allah (decree of God)

Jadi, kalau dalam Kitab Suci dinubuatkan sesuatu, itu tidak sekedar berarti bahwa Allah hanya tahu lebih dulu bahwa hal itu akan terjadi (foreknowledge) dan lalu memberitahukan hal itu kepada manusia, tetapi itu berarti bahwa Allah sudah menetapkan lebih dulu akan hal itu (foreordination) dan lalu memberitahukan ketentuan / rencanaNya itu kepada manusia! Dengan demikian jelas bahwa ayat-ayat diatas yang seakan-akan hanya memberitahukan akan adanya dosa-dosa tertentu, sebetulnya menunjukkan bahwa dosa-dosa tertentu itu sudah ditetapkan dan karenanya harus terjadi!

 

Lihatlah betapa banyak ayat-ayat Alkitab yang saya gunakan! O orang-orang Arminian, khususnya Liauw, tidak bisakah engkau melihat bahwa dengan menyerang Calvinisme, engkau sudah menyerang Alkitab / Firman Tuhan sendiri? Dan pada waktu engkau menolak Calvinisme, engkau sudah menolak Alkitab / Firman Tuhan sendiri? Dan pada waktu memfitnah Calvinisme, engkau sudah memfitnah Alkitab / Firman Tuhan sendiri?

   

C. Kemahatahuan yang Benar-Benar Mahatahu

 

Kalvinis menganggap bahwa kemahatahuan Allah adalah benteng yang kuat bagi doktrinnya. Mereka mengumandangkan bahwa jika seseorang menerima kemahatahuan Allah, maka ia harus juga percaya bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Boettner bahkan berkata: “Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu.”

Tanggapan saya:

Lagi-lagi mengutip dari buku saya, tetapi anda melakukannya seakan-akan anda mengutip langsung dari Boettner. Dan anda mengutip sebagian laginya. Saya berikan kutipan penuh dari buku saya itu.

Loraine Boettner: “The Arminian objection against foreordination bears with equal force against the foreknowledge of God. What God foreknows must, in the very nature of the case, be as fixed and certain as what is foreordained; and if one is inconsistent with the free agency of man, the other is also. Foreordination renders the events certain, while foreknowledge presupposes that they are certain” (= Keberatan Arminian terhadap penentuan lebih dulu mengandung / menghasilkan  kekuatan yang sama terhadap pengetahuan lebih dulu dari Allah. Apa yang Allah ketahui lebih dulu pastilah sama tertentunya dan pastinya seperti apa yang ditentukan lebih dulu; dan jika yang satu tidak konsisten dengan kebebasan manusia, yang lain juga demikian. Penentuan lebih dulu membuat peristiwa-peristiwa pasti / tertentu, sedangkan pengetahuan lebih dulu mensyaratkan bahwa mereka itu pasti / tertentu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 42.

Kita sudah melihat di bagian sebelumnya, bagaimana Kalvinis mengkaitkan kemahatahuan Allah dengan doktrinnya. Berikut ini saya kutip lagi penjelasan dari bagian sebelumnya:

Walaupun Non-Kalvinis mempercayai Allah mahatahu, Kalvinis memiliki pengertian yang lain tentang kemahatahuan. Kalvinis percaya bahwa jika Allah mahatahu, berarti Allah menentukan segala sesuatu. Logika Kalvinis berjalan seperti ini:

“Bayangkan suatu saat (minus tak terhingga) dimana alam semesta, malaikat, manusia, dsb belum diciptakan. Yang ada hanyalah Allah sendiri. Ini adalah sesuatu yang alkitabiah, karena Alkitab jelas mengajarkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu (Kej 1 Yoh 1:1-3). Pada saat itu, karena Allah itu mahatahu (1Sam 2:3 – “Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu”), maka Ia sudah mengetahui segala sesuatu (dalam arti kata yang mutlak) yang akan terjadi, termasuk dosa. Semua yang Ia tahu akan terjadi itu, pasti terjadi persis seperti yang Ia ketahui. Dengan kata lain, semua itu sudah tertentu pada saat itu. Kalau sudah tertentu, pasti ada yang menentukan (karena tidak mungkin hal-hal itu menentukan dirinya sendiri). Karena pada saat itu hanya ada Allah sendiri, maka jelas bahwa Ialah yang menentukan semua itu” (Budi Asali).

 

Saya akan memperjelas lagi dengan mengambil suatu contoh kasus imajiner, yaitu seorang bernama Budi yang suatu hari tertentu memilih untuk memakai baju merah. Allah sudah mengetahui bahwa Budi akan memakai baju merah pada hari itu. Pengetahuan Allah akan hal ini sudah sejak kekekalan lampau. Dan, pengetahuan Allah tentu tidak dapat salah atau gagal, karena Ia Allah dan Ia Mahatahu. Jadi, menurut filosofi Kalvinis, Budi tidak memiliki pilihan lain. Kalau Budi pada hari itu memilih baju biru, maka pengetahuan Allah menjadi salah, dan ini tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, walaupun tampaknya seolah-olah Budi menggunakan kehendak bebasnya untuk memilih baju merah dari berbagai pilihan berwarna-warni baju di lemari, menurut Kalvinis sebenarnya Budi sudah ditetapkan untuk memilih baju merah, dan bahwa Budi tidak bisa memilih baju warna lain karena Allah sudah tahu dia akan pilih merah, dan pengetahuan Allah tidak bisa salah.

Lebih lanjut lagi, Kalvinis mengajarkan bahwa Allah mahatahu karena Allah telah menetapkan segala sesuatu! Kita sudah mengutip Shedd yang berkata, “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.”

Di sinilah letak kesalahan dari Kalvinisme. Mereka membuat suatu asumsi filosofis bahwa:

1. Allah mengetahui lebih dahulu sama dengan Allah menentukan lebih dahulu

2. Pengetahuan Allah menyebabkan hal yang diketahui untuk terjadi

Padahal, tidak ada dukungan Alkitab, dukungan logis, ataupun dukungan praktis untuk asumsi tersebut.
Dalam dunia nyata, bukanlah pengetahuan seseorang akan peristiwa yang membuat suatu peristiwa terjadi. Adalah peristiwa yang menimbulkan pengetahuan. Untuk menyederhanakan, kita mulai dengan contoh pengetahuan manusia pada umumnya (pasca-kejadian / post-knowledge). Misalnya kemarin terjadi gempa bumi di Surabaya. Saya yang di Jakarta, setelah membaca koran, menjadi tahu akan peristiwa tersebut. Tentu tidak ada seorangpun yang cukup gila untuk menegaskan bahwa karena saya tahu akan peristiwa tersebut, maka sayalah yang telah menyebabkan/menentukan terjadinya gempa bumi.

Nah, hal yang sama dapat kita lihat dalam hal pengetahuan awal Allah (pra-kejadian / fore-knowledge). Memang ada perbedaan dalam hal waktu mengetahui. Allah mengetahui sebelumnya, sedangkan manusia mengetahui setelahnya. Tetapi, kita masih berurusan dengan hal yang sama, yaitu pengetahuan! Dan bagaimanakah hubungan “pengetahuan” dengan “peristiwa”? Sebagaimana dalam post-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya, demikian juga dalam fore-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya. Perbedaannya hanyalah dari sudut waktu. Dalam postknowledge, pengetahuan terjadi setelah peristiwa, dalam foreknowledge, pengetahuan terjadi sebelum peristiwa. Tetapi, dalam kedua-duanya, “pengetahuan” tidak menyebabkan “peristiwa,” melainkan sebaliknya.

 
Tanggapan saya:

Anda luar biasa tololnya, Liauw. Tak heran anda tak mengerti apa yang saya katakan. Coba perhatikan dua point di bawah ini:

 

1)   Dari mana anda mengatakan ‘Sebagaimana dalam post-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya, demikian juga dalam fore-knowledge, “peristiwa” menghasilkan “pengetahuan” dan bukan sebaliknya.’??? Kalau dalam fore-knowledge ‘peristiwa’ menghasilkan ‘pengetahuan’, bagaimana itu bisa disebut ‘fore-knowledge’? Luar biasa bodohnya, Liauw! ‘Peristiwa’ menghasilkan ‘pengetahuan’, hanya terjadi dalam post-knowledge!

 

2)   Kata ‘hanyalah’ dalam kata-kata anda di atas (yang saya beri garis bawah), sebetulnya membuat perbedaan antara langit dengan bumi antara contoh anda (tentang gempa bumi), dan argumentasi saya.

Sekarang saya beri contoh lain. Ada orang bernama Steven, yang membuat sebuah tulisan yang sangat tolol. Sebelum membaca tulisan itu, saya tidak tahu kalau Steven itu tolol, mengingat dia punya gelar doktor! Tetapi setelah membaca tulisannya, saya menjadi tahu bahwa Steven itu sangat tolol, sekalipun mempunyai gelar doktor. Dalam kasus ini, seluruhnya tidak menunjukkan bahwa saya maha tahu, karena saya baru tahu hal itu setelah membaca tulisannya. Dan kalau hal ini tidak menunjukkan kemahatahuan saya, maka tentu saja juga tidak menunjukkan bahwa saya menentukan hal itu.

 

Tetapi sangat berbeda kalau kita melihat bahwa pada minus tak terhingga, sebelum ada apapun dan siapapun kecuali Allah, Allah sudah tahu bahwa pada abad ke 20 dan 21 akan ada seorang yang bernama Steven, dan sekalipun orang itu disekolahkan sampai mempunyai gelar doktor, tetapi sebetulnya ia ber IQ rendah. Apa yang Allah ketahui ini, tidak mungkin tidak terjadi. Itu berarti bahwa apa yang Allah ketahui itu sebetulnya sudah tertentu (saya belum mengatakan ‘ditentukan’ tetapi ‘tertentu’). Sekarang bagaimana mungkin gelar doktor dan ketololan Steven itu bisa sudah tertentu pada minus tak terhingga? Saya tantang seadanya orang Arminian, atau non Reformed, atau orang-orang yang mengaku Reformed tetapi tak mempercayai doktrin penentuan segala sesuatu ini, untuk menjawab pertanyaan yang saya garis-bawahi ini! Menurut saya, satu-satunya jawaban adalah: Allah sudah menentukannya. Kalau anda tak mau terima jawaban itu, coba berikan jawaban alternatif / lain! Jangan lari dari argumentasi ini, Liauw. Jawab pertanyaan ini: bagaimana mungkin pada minus tak terhingga, pada saat hanya ada Allah sendiri, segala sesuatu, termasuk gelar doktor dan ketololan Steven, sudah tertentu?

 

 

Tetapi bagaimanakah “peristiwa” dapat menyebabkan “pengetahuan” yang sudah ada sebelum peristiwa itu? Bagi manusia memang tidak mungkin, tetapi Allah berada di luar waktu. Istilah “fore” dan “post” knowledge adalah demi memudahkan manusia untuk mengerti, karena manusia berada dalam waktu. Allah berada di luar waktu. Allah melihat garis waktu bagaikan seseorang yang berada di tempat tinggi memperhatikan banyak kendaraan di jalanan yang panjang. Sedangkan manusia yang berada di dalam waktu, bagaikan salah satu mobil di jalan tersebut, yang sedang “menjalani waktu.” Kapanpun sebuah peristiwa terjadi dalam garis waktu, Allah tahu akan peristiwa itu, bahkan di luar dari waktu.
Jadi, urutan logis (bukan urutan kronologis) yang terjadi adalah:

1. Allah memutuskan untuk memberikan kehendak bebas pada manusia (di luar waktu)

2. Allah menempatkan manusia dalam garis waktu (dalam waktu)

3. Manusia memilih dengan kehendak bebasnya (dalam waktu)

4. Allah tahu pilihan manusia tersebut (di luar waktu)


Tanggapan saya:

 

1)   Bahwa Allah ada di atas (saya tidak menggunakan istilah ‘di luar’ tetapi ‘di atas’) waktu, juga menjadi argumentasi saya bahwa Allah menentukan sesuatu. Karena Allah ada di atas waktu, maka bagi Dia semua hal yang akan datangpun sudah ada / sudah terjadi. Jadi, bagaimana mungkin hal-hal itu tidak tertentu? Dan kalau tertentu, siapa yang menentukan, selain Dia sendiri? Jadi, Liauw berusaha untuk lari dari argumentasi saya yang menggunakan kemahatahuan Allah, tetapi itu menyebabkan ia jatuh dalam argumentasi saya tentang Allah yang ada di atas waktu.

2)   Coba perhatikan kata-kata Liauw di atas ini. Apa maksudnya dengan urut-urutan logis, tetapi bukan khronologis? Terus terang saya tak bisa membedakan omong kosong itu. Coba perhatikan bagian kata-kata Liauw yang saya beri garis bawah tunggal dan yang saya beri garis bawah ganda! Pada bagian yang saya beri garis bawah ganda, ia berkata itu bukan urutan khronologis. Tetapi pada bagian yang saya beri garis bawah tunggal, ia mengatakan ‘Tetapi bagaimanakah “peristiwa” dapat menyebabkan “pengetahuan” yang sudah ada sebelum peristiwa itu?’. Kalau ‘peristiwa’ itu menyebabkan ‘pengetahuan’, maka sudah pasti ‘peristiwa’ itu secara khronologis terjadi lebih dulu dari ‘pengetahuan’ itu. Jadi, kata-kata Liauw ini saling bertentangan sendiri!

3)   Antara point ke 3 dan ke 4 yang mana yang secara khronologis terjadi lebih dulu? Kalau point ke 3 terjadi lebih dulu, adalah lucu / tak masuk akal dan salah, untuk mengatakan bahwa manusia memilih dulu, baru Allah tahu hal itu. Ini akan menyebabkan kita harus mempercayai bahwa Allah tidak maha tahu! Tetapi kalau dikatakan bahwa point ke 4 terjadi dulu, maka ini mendukung argumentasi saya! Allah tahu pilihan manusia, dan karena pengetahuan Allah itu tidak mungkin salah, manusia itu pasti akan bertindak sesuai dengan pengetahuan Allah itu. Itu berarti tindakan manusia itu sudah tertentu. Dan kalau sudah tertentu, lalu siapa yang menentukannya?

 

 

Kita lihat bahwa fakta Allah mengetahui suatu tindakan manusia, bukan berarti Allah menentukan tindakan tersebut. Manusialah yang menentukan tindakannya, dan Allah tahu akan tindakan itu. Foreknowledge Allah dapat saya ilustrasikan dengan rekaman video. Misalnya saya merekam sebuah pertandingan sepakbola. Lalu saya mempertunjukkan rekaman itu kepada teman saya yang tidak sempat menonton. Bagi dia, seolah-olah hasil rekaman saya itu terjadi “live” karena dia belum tahu apa yang terjadi. Bagi saya, seolah-olah saya punya “foreknowledge” akan pertandingan itu. Kalau teman saya tidak tahu bahwa itu adalah rekaman (menyangka sedang menonton “live”), maka dia akan heran bahwa saya bisa mengetahui segala sesuatu dengan sempurna. Saya bisa menceritakan alur permainan, keputusan wasit, gol-gol yang tercipta pada menit yang tepat, cidera yang terjadi, dan lain sebagainya. Tetapi, setinggi apapun kekaguman dia pada kehebatan pengetauan saya, tidak mungkin dia berpendapat bahwa “pengetahuan” sayalah yang menyebabkan semuanya terjadi seperti yang saya katakan. Juga tidak ada orang waras yang akan mengatakan bahwa saya tahu apa yang terjadi karena saya telah menentukan semua itu. Faktanya adalah, walaupun saya sudah “tahu” apa yang terjadi, tetapi “peristiwa” itulah yang membuat saya tahu, bukan “pengetahuan” saya yang menimbulkan “peristiwa.”

 

Tanggapan saya:

 

1)         Anda ‘mencuri’ ilustrasi saya, tetapi anda terapkan secara sangat tolol, Liauw! Tak heran semua jadi kacau.

 

2)   Anda berkata ‘Kita lihat bahwa fakta Allah mengetahui suatu tindakan manusia, bukan berarti Allah menentukan tindakan tersebut. Manusialah yang menentukan tindakannya, dan Allah tahu akan tindakan itu.’. Coba pikir baik-baik, Liauw! Kalau manusia bertindak, baru Allahnya tahu, apakah Allahnya maha tahu? Manusia dicipta pada hari ke 6, baru ia bisa bertindak. Jadi, pada hari ke 2 atau ke 3, apakah Allah tahu apa yang AKAN dilakukan oleh manusia yang AKAN Ia ciptakan itu? Kalau anda mengatakan Allah tidak tahu, itu berarti Allah tidak maha tahu. Kalau anda mengatakan Allah tahu, maka akan bertentangan dengan kata-kata anda yang saya kutip ulang di sini!

 

3)   Sekarang perhatikan kata-kata ‘Bagi saya, seolah-olah saya punya “foreknowledge” akan pertandingan itu’. Tidakkah anda bisa melihat bahwa ini merupakan kata-kata konyol? Kata ‘seolah-olah’ sudah menunjukkan bahwa faktanya bukan itu. Dan anda jadikan ini suatu ilustrasi dari apa yang sungguh-sungguh adalah fore-knowledge! Dalam kasus yang anda jadikan ilustrasi ini, memang teman anda itu sangat tidak waras, kalau dari apa yang hanya seolah-olah merupakan fore-knowledge, ia lalu menganggap bahwa anda yang menentukan semua itu. Tetapi dari ilustrasi saya, dimana saya mengatakan bahwa Allah betul-betul / sungguh-sungguh mempunyai fore-knowledge, dan itu menunjukkan segala sesuatu tertentu, dan ini menunjukkan Allah menentukan, maka adalah sangat tidak waras, atau sangat tolol dan tidak berlogika, kalau anda tetap tidak mau menerima bahwa Allah yang menentukan semua itu!


Dalam kasus Allah, pengetahuanNya adalah sempurna dan tidak mungkin salah. Oleh karena itu, apapun yang Allah ketahui lebih dahulu, PASTI terjadi. Saya mengaminkan pernyataan ini! Tetapi tidak berarti Allah telah menentukannya. Walaupun segala sesuatu sudah PASTI, segala sesuatu TIDAKLAH HARUS. Kalau segala sesuatu itu HARUS, berarti manusia tidak punya pilihan. Ini adalah konsep Kalvinis, bahwa Allah mengetahui dengan cara menentukan. Tetapi Allah telah memberi kebebasan bagi manusia. Manusia itu memilih, dan Allah tahu akan pilihan itu. Bukan Allah yang memilih bagi dia, tetapi Allah tahu pilihan dia.

 

Tanggapan saya:

Terus terang, saya tak bisa mengerti kata-kata tolol yang saya garis-bawahi ini. Saya kutip ulang bagian yang tolol ini. Anda mengatakan ‘Walaupun segala sesuatu sudah PASTI, segala sesuatu TIDAKLAH HARUS’. Anda memotong / menghilangkan satu kata yang seandainya tidak dipotong / dihilangkan, akan membuat semuanya jadi jelas. Kata itu adalah kata ‘terjadi’. Di bagian atas anda menggunakan kata ‘terjadi’ itu (perhatikan bagian yang saya beri warna merah). Tetapi di kalimat selanjutnya anda membuang kata ‘terjadi’ itu. Sekarang kalau kata ‘terjadi’ itu saya tambahkan / kembalikan, maka kata-kata anda menjadi sebagai berikut: ‘Walaupun segala sesuatu sudah PASTI terjadi, segala sesuatu TIDAKLAH HARUS terjadi’. Coba pikir dengan logika anda yang sedikit itu (if you have any), masuk akalkah kalimat itu? Memang kata ‘harus’ berbeda artinya dengan ‘pasti’. Tetapi ‘pasti terjadi’ adalah sama dengan ‘harus terjadi’!

 

Sekarang saya lanjutkan dengan membahas bagian yang saya beri garis bawah ganda. Anda mengatakan ‘Kalau segala sesuatu itu HARUS, berarti manusia tidak punya pilihan. Ini adalah konsep Kalvinis’. Saya melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan di atas. Saya kembalikan kata ‘terjadi’ yang anda buang itu, maka artinya akan jadi jelas. Kalau kata ‘terjadi’ itu dikembalikan, maka kata-kata anda akan menjadi sebagai berikut: ‘Kalau segala sesuatu itu HARUS terjadi, berarti manusia tidak punya pilihan. Ini adalah konsep Kalvinis’. Saya setuju, Liauw! Amin. Hanya ada sedikit catatan, yaitu bahwa kata-kata ‘tidak punya pilihan’ bukan diartikan bahwa manusia itu tidak bebas. Ia pasti melakukan apa yang Allah ketahui itu, tetapi ia tetap melakukan dengan kemauannya sendiri. Jadi saya tetap menggunakan free will dalam arti dari Calvinisme, bukan dalam arti dalam Arminianisme!

 

Sebagai ilustrasi, saya ambil contoh lagi tokoh Budi yang memilih warna baju. Dalam konsep Kalvinis, Allah menentukan Budi untuk memilih baju merah. Ia tidak punya pilihan yang riil sebenarnya. Dari sudut pra-pengetahuan Allah, tindakan Budi sudah PASTI sekaligus HARUS.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda membuang kata ‘terjadi’ itu. Kalau kata itu dikembalikan maka kata-kata anda akan menjadi: ‘Dari sudut pra-pengetahuan Allah, tindakan Budi sudah PASTI terjadi sekaligus HARUS terjadi’. Coba pikir, kata-kata ini benar atau tidak!

 

Tetapi dalam konsep Alkitabiah, Tuhan tidak menentukan bagi Budi. Budi benar-benar punya pilihan, apakah merah atau biru. Karena Budi memilih Merah, Allah tahu akan hal itu (di luar waktu). Sehingga, sebelum Budi memilih pun, dari sudut pra-pengetahuan Allah, sudah PASTI dia memilih merah. Tetapi Budi TIDAK HARUS memilih merah. Kalau Budi memilih biru, maka pengetahuan Allah menjadi “Budi akan memilih biru.” Sekali lagi, maka sejak kekal sudah PASTI Budi memilih biru, walaupun ia TIDAK HARUS memilih biru. Jadi kita lihat, “peristiwa” pemilihan oleh Budi, menyebabkan “pengetahuan” Allah akan pilihan Budi, walaupun pengetahuan (di luar waktu) itu sebelum peristiwa (dalam waktu).

 

Tanggapan saya:

Perhatikan kata ‘menjadi’ yang saya beri garis bawah itu! Jadi, pra-pengetahuan Allah (yang anda sebut pengetahuan Allah di luar waktu) itu berubah-ubah sesuai pemilihan dari Budi? Gila, Liauw, anda memang bukan hanya bodoh, tetapi gila!

Di atas saya sudah membahas tentang kata ‘harus’ dan ‘pasti’ dan karena itu tidak perlu saya ulang di sini.

 

Gagal untuk memahami perbedaan antara PASTI dan HARUS, menyebabkan pernyataan seperti berikut dari Berkhof: “Telah ditentukan bahwa orang Ibrani harus menyalibkan Yesus.” Ini adalah posisi Kalvinis, manusia HARUS melakukan yang sudah ditetapkan. Tetapi seperti telah kita lihat, jika mereka “harus,” berarti mereka tidak bisa dan tidak boleh melakukan yang lain. Itu berarti mereka tidak bebas dan tidak bertanggung jawab. Seorang non-Kalvinis yang Alkitabiah dapat mengatakan: “Berdasarkan pra-pengetahuan Tuhan yang sempurna dan tak dapat salah, orang-orang Ibrani PASTI menyalibkan Yesus, tetapi mereka TIDAK HARUS menyalibkanNya.” Artinya, orang-orang Ibrani bisa saja memilih untuk tidak menyalibkan Yesus. Opsi itu riil dan terbuka bagi mereka! Tetapi Tuhan tahu dengan pasti pilihan mereka, sejak kekekalan.

 

Tanggapan saya:

1)   Bukan orang-orang Calvinist yang gagal memahami perbedaan antara ‘pasti’ dan ‘harus’. Anda yang gagal memahaminya! Apa yang Allah ketahui lebih dulu (foreknew), pasti akan terjadi, atau, harus terjadi!

2)   Kata-kata ‘Seorang non-Kalvinis yang Alkitabiah dapat mengatakan’ seharusnya anda ganti ‘Seorang non-Kalvinis yang tolol dapat mengatakan’! Mengapa saya katakan mereka tolol, Liauw? Karena mereka mengatakan: ‘orang-orang Ibrani PASTI menyalibkan Yesus, tetapi mereka TIDAK HARUS menyalibkanNya.” Artinya, orang-orang Ibrani bisa saja memilih untuk tidak menyalibkan Yesus’. Mereka pasti menyalibkan Yesus, tetapi mereka bisa memilih untuk tidak menyalibkan Yesus. Kata-kata apa ini, Liauw, kalau bukan kata-kata dari orang tolol??? Kalau mereka bisa memilih untuk tidak menyalibkan Yesus, maka penyaliban Yesus oleh mereka menjadi tidak pasti!

4)   Saya kira anda menjadi bingung dan kacau pemikirannya, karena anda menggunakan istilah ‘free will’ (kehendak bebas) dalam arti yang dipakai oleh orang Arminian. Kalau anda menggunakannya dalam arti yang dipakai oleh Calvinisme, maka tak akan ada kebingungan / kekacauan. ‘Harus terjadi’, memang bukan berarti bahwa mereka diperintahkan oleh Allah melakukan hal itu. Juga bukan berarti bahwa mereka akan dipaksa oleh Allah untuk melakukan hal itu. Mereka pasti akan melakukannya, tetapi mereka melakukan dengan kemauan mereka sendiri.

 

William Lane Craig memberikan pengertian yang sangat baik sekali tentang hubungan antara kemahatahuan Allah dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia: “Dari pra-pengetahuan (foreknowledge) Allah tentang suatu aksi yang bebas, seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa aksi itu akan terjadi, bukan bahwa aksi itu harus terjadi. Agen yang melakukan aksi tersebut memiliki kekuatan untuk menahan diri (dari aksi tersebut), dan jika agen tersebut melakukan seperti itu, maka pra-pengetahuan Allah tentunya menjadi berbeda. Agen-agen (pelaku-pelaku) tidak bisa berlaku sedemikian rupa sehingga Allah mengetahui mereka melakukan suatu tindakan, namun mereka tidak melakukan tindakan itu. Tetapi ini bukanlah suatu batasan terhadap kebebasan mereka. Mereka bebas untuk melakukan atau tidak melakukan, dan yang mana pun yang mereka pilih, Allah akan sudah mengetahuinya. Karena pengetahuan Allah, walaupun secara kronologis adalah sebelum aksi tersebut, namun secara logis adalah setelah aksi tersebut dan ditentukan oleh aksi itu. Oleh karena itu, pra-pengetahuan ilahi dan kebebasan manusia tidaklah saling bertentangan.”

 

Tanggapan saya:

1)   Ini adalah contoh dari orang non Calvinist yang tolol yang anda bicarakan di atas, Liauw? Coba saya analisa kata-katanya, khususnya yang bagian awal. Ia berkata ‘Dari pra-pengetahuan (foreknowledge) Allah tentang suatu aksi yang bebas, seseorang hanya dapat menyimpulkan bahwa aksi itu akan terjadi, bukan bahwa aksi itu harus terjadi. Agen yang melakukan aksi tersebut memiliki kekuatan untuk menahan diri (dari aksi tersebut), dan jika agen tersebut melakukan seperti itu, maka pra-pengetahuan Allah tentunya menjadi berbeda’.

Lagi-lagi, pra pengetahuan Allah itu menjadi tergantung pada apa yang agen itu lakukan. Bukan begitu, Liauw? Padahal pra-pengetahuan Allah itu sudah ada di minus tak terhingga, jauh sebelum agen itu ada. Dan ini anda sebut ‘memberikan pengertian yang sangat baik sekali’? Lucu dan tolol sekali. Tidak heran, orang tolol sering kali lucu, saking tololnya!

 

2)   Sekarang saya bahas kalimat orang tolol itu selanjutnya dimana ia mengatakan ‘Mereka bebas untuk melakukan atau tidak melakukan, dan yang mana pun yang mereka pilih, Allah akan sudah mengetahuinya’.

Ada 2 hal:

a)   ‘Akan’ atau ‘sudah’?? Dua kata itu saling bertentangan! Hapuskan salah satu, karena kalau tidak akan menjadi sesuatu yang menggelikan! Mungkin anda menterjemahkan dari kata-kata bahasa Inggris ‘would have known’, tetapi menurut saya dalam kalimat ini tidak bisa diterjemahkan seperti itu. Dalam faktanya, ‘akan’ atau ‘sudah’??? Jawab ini, Liauw!

b)   Kalau kata ‘akan’ itu anda pertahankan, maka lagi-lagi akan menunjukkan bahwa pra pengetahuan Allah itu tergantung pada apa yang mereka lakukan! Sesuatu yang ada di minus tak terhingga (di luar waktu / di atas waktu) tergantung pada sesuatu yang terjadi dalam waktu. Betul-betul pemikiran yang luar biasa!

 

Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pengetahuan Allah berasal dari penentuan Allah. Ini hanyalah suatu asumsi dasar Kalvinisme. Pink berusaha untuk menggunakan Kisah Para Rasul 2:23 untuk membuktikan asumsi Kalvinisme tersebut.

Him, being delivered by the determinate counsel and foreknowledge of God, ye have taken, and by wicked hands have crucified and slain:

Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.

Pink bersikukuh bahwa pra-pengetahuan Allah didasarkan pada dekrit-dekrit Allah, dan meminta kita untuk “perhatikan urutannya: pertama adalah maksud Allah (dekritNya), dan kedua pra-pengetahuanNya.” Berdasarkan urutan ini, Pink mengajarkan bahwa dekrit Allah menyebabkan Allah tahu. Tetapi ini logika yang kacau. Hanya karena “maksud” lebih dulu disebut dari “pra-pengetahuan,” sama sekali tidak membuktikan bahwa yang satu mendasari yang lain. Bagaimana dengan ayat-ayat yang menyebut “pra-pengetahuan” duluan? Roma 8:29 berbunyi: “Sebab semua orang yang diketahuiNya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” Ayat ini justru mengajarkan bahwa pra-pengetahuan Allah menjadi dasar dari penentuanNya. Artinya, Allah menentukan berbagai hal dalam dunia, bukan secara sembarangan, tetapi berdasarkan hal-hal yang Allah ketahui.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Anda mengutip kata-kata Pink dari mana? Rasanya itu bukan dari buku saya, karena saya tidak ingat pernah menulis seperti itu. Tetapi argumentasi seperti itu, kalau Pink memang mengatakannya, menurut saya memang memungkinkan. Kalau anda berusaha menabrakkan cara berpikir Pink dengan Ro 8:29, maka saya kira saya bisa menjelaskannya. Ini saya kutip dari buku saya ‘Providence of God’, jadi anda sebetulnya sudah tahu. Tetapi saya kutipkan bagi pembaca tulisan ini.

 

Roma 8:29 (NIV) - ‘For those He foreknew, He also predestined ...’ (= Karena mereka yang Ia ketahui lebih dulu, juga Ia tentukan ...).

Ayat ini sering dipakai oleh orang Arminian sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Allah menentukan karena Dia sudah tahu bahwa hal itu akan terjadi. Jadi, Allah menentukan supaya si A menjadi orang beriman, karena Ia tahu bahwa orang itu akan menjadi orang beriman. Allah menentukan si B menjadi orang saleh, karena Ia tahu si B akan mentaati Dia, dsb. ... penafsiran Arminian ini menafsirkan kata ‘foreknew’ (= mengetahui lebih dulu) sekedar sebagai suatu pengetahuan intelektual. Tetapi saya percaya bahwa penafsiran seperti itu adalah salah. Untuk itu mari kita melihat penjelasan di bawah ini:

a)      Pembahasan kata ‘know’ (= tahu / kenal) dalam Kitab Suci.

1.            Dalam Perjanjian Lama.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Ibrani adalah YADA. Sekalipun YADA memang bisa diartikan sebagai ‘tahu secara intelektual’ tetapi seringkali kata YADA tidak bisa diartikan demikian. Saya akan memberikan beberapa contoh dimana kata YADA tidak bisa diartikan sekedar sebagai ‘tahu secara intelektual’:

a.   Kej 4:1 (KJV/Lit): ‘Adam knew Eve his wife, and she conceived’ (= Adam tahu / kenal Hawa istrinya, dan ia mengandung).

Di sini jelas bahwa YADA tidak mungkin diartikan ‘tahu secara intelektual’! Tidak mungkin Adam hanya mengetahui Hawa secara intelektual, dan itu menyebabkan Hawa lalu mengandung! Jelas bahwa YADA / ‘to know’ di sini tidak sekedar berarti ‘tahu’, tetapi ada kasih / hubungan intim di dalamnya.

Karena itu kalau Ro 8:29 mengatakan Allah tahu / kenal, lalu menentukan, maksudnya adalah Allah mengasihi, lalu menentukan. Jadi penekanannya adalah: penentuan itu didasarkan atas kasih. Bdk. Ef 1:5 - ‘Dalam kasih Allah telah memilih kita ...’.

Catatan: tafsiran ini saya ambil dari buku tafsiran kitab Roma oleh John Murray (NICNT).

b.      Dalam Kej 18:19, kata YADA ini diterjemahkan ‘memilih’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya”.

RSV, NIV, NASB menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia! ASV / KJV / NKJV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi kalimatnya jadi aneh.

Kej 18:19 (KJV): ‘For I know him, that he will command his children and his household after him, and they shall keep the way of the LORD, to do justice and judgment; that the LORD may bring upon Abraham that which he hath spoken of him’ (= Karena Aku mengetahui / mengenalnya, bahwa ia akan memerintahkan anak-anaknya dan seisi rumahnya / keturunannya, dan mereka akan hidup menurut jalan TUHAN, melakukan keadilan dan penghakiman; supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dikatakanNya kepadanya).

c.      Dalam Amos 3:2, kata YADA diterjemahkan ‘kenal’ oleh Kitab Suci Indonesia.

“Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu”.

KJV/ASV/RSV tetap menterjemahkan ‘know’, tetapi NIV/NASB menterjemahkan ‘choose’ (= memilih).

Tentang kata YADA dalam Amos 3:2 ini B. B. Warfield berkata: “what is thrown prominently forward is clearly the elective love which has singled Israel out for special care” (= apa yang ditonjolkan ke depan secara menyolok jelas adalah kasih yang memilih yang telah memilih / mengkhu-suskan Israel untuk perhatian istimewa) - ‘Biblical and Theological Studies’, hal 288.

Loraine Boettner: “The word ‘know’ is sometimes used in a sense other than that of having merely an intellectual perception of the thing mentioned. It occasionally means that the persons so ‘known’ are the special and peculiar objects of God’s favor, as when it was said of the Jews, ‘You only have I known of all the families of the earth,’ Amos 3:2.” [= Kata ‘tahu’ kadang-kadang digunakan bukan dalam arti sekedar pengetahuan intelektual tentang hal yang disebutkan. Kadang-kadang kata ini berarti bahwa orang yang ‘diketahui’ merupakan obyek istimewa dan khusus dari kemurahan / kebaikan hati Allah, seperti pada waktu dikatakan tentang orang-orang Yahudi: ‘Hanya kamu yang Kukenal / Kuketahui dari segala kaum di muka bumi’ (Amos 3:2)] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

d.      Kel 2:25 - diterjemahkan ‘memperhatikan’.

e.      Maz 1:6 - diterjemahkan ‘mengenal’.

f.      Maz 101:4 - diterjemahkan ‘tahu’.

g.      Nahum 1:7 - diterjemahkan ‘mengenal’.

Dalam semua ayat-ayat di atas ini kata YADA tidak mungkin diartikan sebagai sekedar tahu secara intelektual.

2.            Dalam Perjanjian Baru.

Kata ‘know’ (= tahu) dalam bahasa Yunani adalah GINOSKO, dan digunakan dalam ayat-ayat di bawah ini:

*         Mat 7:23 - “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”.

*         Yoh 10:14,27 - “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku. ... Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku”.

*         1Kor 8:3 - “Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah”.

*         Gal 4:9 - “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?”.

*         2Tim 2:19a - “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: ‘Tuhan mengenal siapa kepunyaanNya’”.

Dalam semua ayat-ayat ini kata GINOSKO itu tidak mungkin diartikan sekedar ‘mengetahui secara intelektual’.

b)            Pembahasan kata ‘foreknow’ (= mengetahui lebih dulu) / ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu).

Ayat-ayat yang mengandung kata-kata foreknowledge, fore-knew, dsb:

·         Kis 2:23a - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya”.

NASB: ‘this Man, delivered up by the predetermined plan and foreknowledge of God (= Orang ini, diserahkan oleh rencana yang ditentukan lebih dulu dan pengetahuan lebih dulu dari Allah).

Jelas bahwa ‘foreknowledge’ (= pengetahuan lebih dulu) di sini tidak sekedar berarti pengetahuan intelektual, karena Allah menyerahkan Anak Manusia untuk mewujudkan ‘fore-knowledge’ itu. Karena itu tidak heran Kitab Suci Indonesia menterjemahkan seperti itu.

·         Ro 11:2a - “Allah tidak menolak umatNya yang dipilihNya”.

NASB: ‘God has not rejected His people whom He foreknew (= Allah tidak menolak umatNya yang diketahuiNya lebih dulu).

Ini lagi-lagi menunjukkan secara jelas bahwa ‘foreknew’ ti-dak bisa diartikan ‘mengetahui lebih dulu secara intelektual’.

Loraine Boettner menghubungkan Ro 8:29 dengan Ro 11:2a ini dengan berkata: “Those in Romans 8:29 are foreknown in the sense that they are fore-appointed to be the special objects of His favor. This is shown more plainly in Rom. 11:2-5, where we read, ‘God did not cast off His people whom He foreknew’” (= Mereka dalam Ro 8:29 diketahui lebih dulu dalam arti bahwa mereka ditetapkan lebih dulu untuk menjadi obyek khusus kemurahan hatiNya. Ini ditunjukkan lebih jelas dalam Ro 11:2-5, dimana kita membaca: ‘Allah tidak menolak / membuang umatNya yang dipilihNya / diketahuiNya lebih dulu’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 100.

·         1Pet 1:2a - “yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita”.

NASB: ‘who are chosen according to the foreknowledge of God the Father’ (= yang dipilih sesuai dengan pengetahuan lebih dulu dari Allah Bapa).

·         1Pet 1:20 - “Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diriNya pada zaman akhir”.

NASB: ‘For He was foreknown before the foundation of the world, but has appeared in these last times for the sake of you’ (= Karena Ia diketahui lebih dulu sebelum penciptaan dunia, tetapi menampakkan diri pada jaman akhir karena kamu).

Melihat ayat-ayat di atas ini, saya berpendapat bahwa bukan tanpa alasan Kitab Suci Indonesia tidak pernah mau menterjemahkan ‘tahu lebih dulu’ atau ‘pengetahuan lebih dulu’, tetapi menterjemahkan dengan kata ‘pilih’ atau ‘rencana’. Karena itu, sekalipun Ro 8:29 versi Kitab Suci Indonesia itu memang bukan terjemahan yang hurufiah, tetapi saya berpendapat bahwa Kitab Suci Indonesia memberikan arti yang benar!

Saya tambahkan komentar Albert Barnes tentang Kis 2:23.

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): “‘Foreknowledge.’ This word denotes the seeing beforehand of an event yet to take place. It implies: 1. Omniscience; and, 2. That the event is fixed and certain. To foresee a contingent event, that is, to foresee that an event will take place when it may or may not take place, is an absurdity. Foreknowledge, therefore, implies that for some reason the event will certainly take place. What that reason is, the word itself does not determine. As, however, God is represented in the Scriptures as purposing or determining future events; as they could not be foreseen by him unless he had so determined, so the word sometimes is used in the sense of determining beforehand, or as synonymous with decreeing, Rom. 8:29; 11:2. In this place the word is used to denote that the delivering up of Jesus was something more than a bare or naked decree. It implies that God did it according to his foresight of what would be the best time, place, and manner of its being done. It was not the result merely of will; it was will directed by a wise foreknowledge of what would be best. And this is the case with all the decrees of God (= ‘Pengetahuan lebih dulu’. Kata ini menunjukkan ‘melihat suatu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi’. Ini secara implicit menunjukkan: 1. Kemahatahuan; dan, 2. Bahwa peristiwa itu tertentu dan pasti. Melihat lebih dulu suatu peristiwa yang bisa terjadi bisa tidak, berarti melihat lebih dulu bahwa suatu peristiwa akan terjadi, pada saat itu bisa terjadi atau bisa tidak terjadi, merupakan sesuatu yang menggelikan. Karena itu, pengetahuan lebih dulu, menunjukkan secara implicit untuk alasan tertentu peristiwa itu pasti akan terjadi. Tetapi karena Allah digambarkan dalam Kitab Suci sebagai merencanakan atau menentukan peristiwa-peristiwa yang akan datang; karena hal-hal itu tidak bisa dilihat lebih dulu olehNya kecuali Ia lebih dulu menentukannya demikian, maka kata itu kadang-kadang digunakan dalam arti ‘menentukan lebih dulu’, atau sinonim dengan ‘menetapkan’, Ro 8:29; 11:2. Di tempat ini kata itu digunakan untuk menunjukkan bahwa penyerahan Yesus merupakan sesuatu yang lebih dari pada sekedar suatu ketetapan semata-mata atau biasa. Ini secara implicit menunjukkan bahwa Allah melakukannya sesuai dengan penglihatan lebih duluNya tentang apa yang akan merupakan saat, tempat dan cara yang terbaik, tentang pelaksanaan hal itu. Itu bukan semata-mata akibat / hasil dari kehendak; itu merupakan kehendak yang diarahkan oleh suatu pengetahuan lebih dulu yang bijaksana tentang apa yang terbaik. Dan ini adalah kasus dari semua ketetapan-ketetapan Allah).

Inti dari semua yang saya jelaskan panjang lebar di atas ini adalah: Dalam Ro 8:29 tidak mungkin yang dimaksudkan dengan kata ‘foreknew’ hanyalah bahwa Allah tahu lebih dulu secara intelektual. Kata itu di sini, kalau dilihat dari arti dan penggunaan kata itu dalam seluruh Alkitab, harus diartikan sebagai ‘menetapkan’ atau ‘memilih’. Jadi, argumentasi anda pergi ke bulan, Liauw!

2)   Anda mengatakan ‘Tidak ada satu ayatpun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pengetahuan Allah berasal dari penentuan Allah’.

Saya kira anda harus setuju bahwa kalaupun tak ada ayat yang mengatakannya secara explicit, belum tentu ajarannya salah / tidak ada. Anda sendiri percaya freel will, sedangkan kata / istilah itu tak pernah muncul dalam Alkitab.

Barnes’ Notes (tentang Kis 2:23): To foresee a contingent event, that is, to foresee that an event will take place when it may or may not take place, is an absurdity (= Mengetahui lebih dulu suatu peristiwa yang contingent, yaitu, melihat lebih dulu bahwa suatu peristiwa akan terjadi pada waktu peristiwa itu bisa terjadi atau tidak terjadi, adalah sesuatu yang menggelikan / mustahil).

Catatan: kata ‘contingent’ sudah dijelaskan oleh kata-kata selanjutnya. Peristiwa yang ‘contingent’ adalah peristiwa yang bisa terjadi, tetapi juga bisa tidak terjadi. Atau, peristiwa yang belum tentu terjadi / sama sekali tidak ada kepastian dalam hal terjadi atau tidak terjadinya.

Apa yang sudah saya jelaskan di atas, akan saya ulang di sini.

Kalau suatu peristiwa itu contingent, berarti peristiwa itu bisa terjadi, bisa tidak. Seandainya Allah bisa tahu peristiwa yang contingent, apa yang Dia ketahui tentang peristiwa itu? Terjadi atau tidak terjadi? Cuma ada dua kemungkinan, bukan? Kalau Ia tahu pertistiwa itu terjadi, maka peristiwa itu pasti terjadi, dan dengan demikian bukan lagi contingent! Demikian juga sebaliknya, kalau Ia tahu peristiwa itu tidak akan terjadi, maka pasti peristiwa itu pasti tidak akan terjadi, dan dengan demikian, peristiwa itu bukan lagi contingent! Jadi, benarlah kata-kata Albert Barnes di atas: ‘Mengetahui lebih dulu suatu peristiwa yang contingent, yaitu, melihat lebih dulu bahwa suatu peristiwa akan terjadi pada waktu peristiwa itu bisa terjadi atau tidak terjadi, adalah sesuatu yang menggelikan / mustahil’.

Coba bantah kata-kata ini, Liauw!

Mazmur 139, salah satu pasal yang paling indah menggambarkan kemahatahuan Tuhan, tidak mendukung sama sekali konsep Kalvinis. Dalam Mazmur ini, Daud menjelaskan:

TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Kata-kata Daud sama sekali tidak mencerminkan bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan. Justru sebaliknya! Tuhan “menyelidiki” dan “mengenal” Daud. Ini berarti Tuhan tidak menentukan pikiran-pikiran Daud. Kalau Tuhan menentukan pikiran Daud, maka tidak perlu lagi “diselidiki”! Tuhan juga “memeriksa” Daud. Semua kata-kata yang dipakai menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas (diciptakan Tuhan demikian), dan menentukan pikiran dan pilihannya sendiri. Tetapi pengetahuan Tuhan sedemikian hebat, sehingga hal-hal yang paling rahasia pun, yang hanya ada dalam pikiran Daud, adalah terbuka bagi pengetahuan Tuhan!
Saking hebatnya pengetahuan Tuhan, Daud berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” (139:6). Ini sangat kontras dengan konsep Kalvinis. Sekali lagi saya mengutip Shedd: “Jika Allah tidak lebih dulu menentukan apa yang akan terjadi, Ia tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi.” Saya rasa pra-pengetahuan ala Kalvinis sama sekali tidak mengesankan. Kalau perlu menentukan dulu, baru bisa tahu, itu saya juga bisa, bahkan anak-anak juga bisa! Sekali lagi, sama sekali tidak ada yang spektakuler mengenai pengetahuan yang harus menentukan dulu untuk bisa tahu.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Anda mengatakan ‘Mazmur 139, salah satu pasal yang paling indah menggambarkan kemahatahuan Tuhan, tidak mendukung sama sekali konsep Kalvinis’. Lalu anda mengatakan ‘Kata-kata Daud sama sekali tidak mencerminkan bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan’.

Maz 139 boleh jadi memang tidak mengatakan secara explicit bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan. Tetapi:

a)   Siapa yang mengharuskan saya mengambil doktrin itu secara explicit dari Maz 139? Saya mengambil doktrin itu dari hal-hal sebagai berikut:

1.      Allah maha tahu, sehingga Ia tahu segala sesuatu. Dan apa yang Ia ketahui itu pasti terjadi. Kalau pasti terjadi, itu berarti hal-hal itu tertentu. Kalau tertentu, lalu siapa yang menentukan? Tidak ada lain. Pasti Allah yang menentukan. Dari argumentasi ini saya mendapatkan doktrin bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

2.      Sekarang saya mau tahu, yang mana yang lebih dulu ada: kemahatahuan Allah, atau penentuan Allah? Saya menjawab: kalau kemahatahuan itu ada dulu, maka tak perlu lagi ditentukan, karena apa yang Dia ketahui sudah pasti akan terjadi. Disamping, merupakan ssyg tidak masuk akal untuk bisa tahu apa yang belum ditentukan. Karena itu, saya Calvinisme mengambil posisi ‘Allah menentukan lebih dulu, baru Ia tahu’. Dengan kata lain, kemahatahuan Allah adalah kemahatahuanNya tentang RencanaNya sendiri.

b)   Maz 139 bukannya sama sekali tidak berbicara tentang penentuan Allah dalam hubungannya dengan kemahatahuan Allah. Kelihatannya Maz 139 justru membicarakan hal itu, sekalipun tidak secara explicit, karena dalam Maz 139:16 dikatakan: “mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.

Ini jelas menunjukkan bahwa Sebelum Daud / pemazmur itu ada sebagai janin, Allah sudah mengetahuinya, dan semua hari-hari yang akan terjadi, sudah tertulis dalam kitab Allah, yang berarti bahwa segala sesuatu sudah ditentukan oleh Allah, sebelum semuanya terjadi.

Barnes’ Notes (tentang Maz 139:16): “‘And in thy book.’ Where thou recordest all things. Perhaps the allusion here would be to the book of an architect or draftsman, who, before his work is begun, draws his plan, or sketches it for the direction of the workmen. ‘All my members were written.’ The words ‘my members’ are not in the original. The Hebrew is, as in the margin, ‘all of them.’ The reference may be, not to the members of his body, but to his ‘days’ (see the margin on the succeeding phrase) - and then the sense would be, all my ‘days,’ or all the periods of my life, were delineated in thy book. That is, When my substance - my form - was not yet developed, when yet an embryo, and when nothing could be determined from that by the eye of man as to what I was to be, all the future was known to God, and was written down - just what should be my form and vigor; how long I should live; what I should be; what would be the events of my life. ‘Which in continuance were fashioned.’ Margin, ‘What days they should be fashioned.’ Literally, ‘Days should be formed.’ DeWette renders this, ‘The days were determined before any one of them was.’ There is nothing in the Hebrew to correspond with the phrase ‘in continuance.’ The simple idea is, The days of my life were determined on, the whole matter was fixed and settled, not by anything seen in the embryo, but ‘before’ there was any form - before there were any means of judging from what I then was to what I would be - all was seen and arranged in the divine mind. ‘When as yet there was none of them.’ literally, ‘And not one among them.’ Before there was one of them in actual existence. Not one development had yet occurred from which it could be inferred what the rest would be. The entire knowledge on the subject must have been based on Omniscience (= ).

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Maz 139:16): “‘Thy book’ is the book of God’s fore-ordering purpose. The same holds good in the case of the body of Christ, the Church, chosen in Him before the foundation of the world; because ‘we are members of His body, of His flesh, and of His bones’ (Eph 5:30; 1:4). The development of this eternal purpose in time is gradual, the members being formed in union with the one Head and the one Body successively by the Spirit of God, the Author of spiritual as well as of natural life. The Chaldaic Targum supplies the ellipsis with ‘days:’ ‘In the book of thy memory were written all my days.’ In the book of God’s predestination (Mal 3:16; Ps 56:8), as distinguished from the actual execution, were written all my days, both their number (Job 14:5), and what events were to befall me in them, ‘(which) in continuance were fashioned’ - literally, ‘(which in) days were fashioned;’ i.e., not all in one day, but in successive development. Two hundred and seventy-three days generally pass in the gestation, Hengstenberg translates, ‘In thy book were they all written (namely), the days (which) were formed’ - i.e., divinely pre-destined to be. The English version gives the more natural sense to the Hebrew, yatzar, ‘fashioned:’ members, not days, can be said to be formed or fashioned. ‘When (as yet there was) none of them.’ - (Rom 9:11.)” (= ).

Ayub 14:1-5 - “(1) ‘Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan. (2) Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan. (3) Masakan Engkau menujukan pandanganMu kepada orang seperti itu, dan menghadapkan kepadaMu untuk diadili? (4) Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis? Seorangpun tidak! (5) Jikalau hari-harinya sudah pasti, dan jumlah bulannya sudah tentu padaMu, dan batas-batasnya sudah Kautetapkan, sehingga tidak dapat dilangkahinya.

Ro 9:11 - “Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya -”.

Bible Knowledge Commentary (tentang Maz 139:16): “But God saw every detail. David’s frame means his skeleton and his unformed body is his embryo. Moreover, God prerecorded all the days of the psalmist before he was even born. This statement may mean that God determined how long he would live, but in view of verses 1-4, it more likely refers to everyday details. God marvelously planned out his life (= ).

Pulpit Commentary (tentang Maz 139:16): “Modern critics mostly translate ‘the days,’ or ‘my days,’ ‘were fashioned, when as yet there was none of them;’ i.e. ‘my life was planned out by God, and settled, before I began to be.’ (= ).

The Bible Exposition Commentary: Old Testament (tentang Maz 139:16): “This is one of the greatest passages in literature about the miracle of human conception and birth. ‘In the presence of birth,’ said Eugene Petersen, ‘we don’t calculate - we marvel.’ David declared that God is present at conception and birth, because we are made in the image of God and God has a special purpose for each person who is born. ... But the Lord did more than design and form our bodies; He also planned and determined our days (v. 16). This probably includes the length of life (Job 14:5) and the tasks He wants us to perform (Eph 2:10; Phil 2:12-13). This is not some form of fatalism or heartless predestination, for what we are and what He plans for us come from God’s loving heart (33:11) and are the very best He has for us (Rom 12:2)” (= ).

Spurgeon (tentang Maz 139:16): “And in thy book all my members were written, which in continuance were fashioned, when as yet there was none of them. An architect draws his plans, and makes out his specifications; even so did the great Maker of our frame write down all our members in the book of his purposes. That we have eyes, and ears, and hands, and feet, is all due to the wise and gracious purpose of heaven: it was so ordered in the secret decree by which all things are as they are. God’s purposes concern our limbs and faculties. Their form, and shape, and everything about them were appointed of God long before they had any existence. God saw us when we could not be seen, and he wrote about us when there was nothing of us to write about. When as yet there were none of our members in existence, all those members were before the eye of God in the sketch book of his foreknowledge and predestination (= ) - ‘Treasury of David’.

Catatan: sekalipun para penafsir yang saya kutip ini mempunyai pandangan yang berbeda-beda tentang Maz 139:16 ini, tetapi semuanya setuju bahwa ayat ini membicarakan tentang predestinasi! Dan Albert Barnes jelas menghubungkan predestinasi itu dengan kemahatahuan Allah!

2)   Anda mengatakan ‘Dalam Mazmur ini, Daud menjelaskan: TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Kata-kata Daud sama sekali tidak mencerminkan bahwa segala yang Tuhan ketahui berarti sudah Tuhan tentukan. Justru sebaliknya! Tuhan “menyelidiki” dan “mengenal” Daud. Ini berarti Tuhan tidak menentukan pikiran-pikiran Daud. Kalau Tuhan menentukan pikiran Daud, maka tidak perlu lagi “diselidiki”! Tuhan juga “memeriksa” Daud. Semua kata-kata yang dipakai menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas (diciptakan Tuhan demikian), dan menentukan pikiran dan pilihannya sendiri.’.

a)   Anda mengutip / menganalisa Maz 139:1-4, mengapa tidak mengutip / menganalisa Maz 139:16? Suatu pengutipan / analisa yang tidak fair / jujur, Liauw!

b)   Kata ‘menyelidiki’ jelas merupakan suatu gaya bahasa Anthropomorphism, yaitu gaya bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia seperti kita (sama seperti kata-kata ‘Allah menyesal’ dsb). Sekalipun anda tidak mempercayai predestinasi, tetap saja kalau kata ‘menyelidiki’ itu anda artikan secara hurufiah, itu merupakan hal yang tolol, karena itu akan bertabrakan dengan kemahatahuan Allah, yang menurut anda sendiri sangat ditekankan dalam Maz 139 ini!

Anda mengatakan ‘Kalau Tuhan menentukan pikiran Daud, maka tidak perlu lagi “diselidiki”!’. dengan cara yang sama saya bisa mengatakan ‘Kalau Tuhan maha tahu, maka tidak perlu lagi “diselidiki”!’.

Senjata anda menjadi boomerang, Liauw?

c)   Anda mengatakan ‘Semua kata-kata yang dipakai menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas (diciptakan Tuhan demikian), dan menentukan pikiran dan pilihannya sendiri.’’.

Saya tidak bisa melihat bahwa kata-kata itu menunjukkan bahwa Daud adalah makhluk dengan kehendak bebas. Apa hubungannya? Apalagi ‘kehendak bebas’ dalam arti yang digunakan oleh orang Arminian. Apa hubungannya? Anda terlalu cepat meloncat pada suatu kesimpulan, Liauw!

3)            Sekarang saya bahas bagian akhir dari kutipan kata-kata anda di atas.

Anda berkata ‘Saya rasa pra-pengetahuan ala Kalvinis sama sekali tidak mengesankan. Kalau perlu menentukan dulu, baru bisa tahu, itu saya juga bisa, bahkan anak-anak juga bisa! Sekali lagi, sama sekali tidak ada yang spektakuler mengenai pengetahuan yang harus menentukan dulu untuk bisa tahu’.

 

a)   Anda tidak bisa, Liauw, dan anak-anak yang manapun juga tidak bisa. Ingat, Allah menentukan segala sesuatu, dan karena itu Ia tahu. Cobalah menentukan segala sesuatu, Liauw! Anda bahkan tidak bisa menentukan apapun, kecuali itu sesuai dengan kehendak / rencana Allah! Tidak setuju? Coba bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini.

Kel 21:13 - “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

Amsal 16:1,9 - “(1) Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. ... (9) Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.

Yer 10:23 - “Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

Jadi, Allah yang menentukan, Liauw, bukan manusia, dan jelas bukan anda!

 

b)   Dan bicara tentang ‘mengesankan’ dan ‘spektakuler’, apakah itu merupakan suatu syarat dari kebenaran? Dengan kata lain, apakah hanya kalau sesuatu itu mengesankan dan spektakuler, baru itu bisa merupakan kebenaran? Dari mana anda belajar hal ini, Liauw?

Doktrin anda tentang free will, apakah itu mengesankan dan spektakuler? Kalau ya, tunjukkan dimana dan bagaimana hal itu mengesankan dan spektakuler. Kalau tidak, lalu mengapa anda tetap mempercayainya, sementara anda menolak doktrin Calvinisme karena tidak mengesankan dan tidak spektakuler? Bukankah ini tidak konsisten, Liauw?

 

Coba kita perjelas dengan ilustrasi sehari-hari.

“Saya adalah seorang dosen, dan tentunya memiliki kuasa untuk menentukan banyak hal di dalam kelas. Suatu hari, saya memutuskan untuk memberikan ujian mendadak kepada para mahasiswa. Mahasiswa yang tidak siap untuk ujian tentunya kaget sekali. Mungkin pula ada yang protes. Tetapi satu hal yang pasti, mereka tidak akan terkesan bila saya mengatakan, ‘saya sudah tahu bahwa hari ini akan ada ujian.’ So what!!?? Ya jelaslah sang dosen tahu, toh dia yang memutuskannya! Sebaliknya, bila ternyata salah satu mahasiswa, karena kepintarannya menganalisa gerak-gerik, pola mengajar, dan pola pikir saya, ternyata dapat mengetahui bahwa akan ada ujian mendadak hari itu, maka itu adalah pengetahuan yang cukup spesial.”

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi tidak benar, Liauw! Allah yang menentukan, bukan anda. Misalnya anda menentukan besok ujian, maka ada dua hal yang perlu dicamkan:

 

1)   Anda mengatakan ‘Saya adalah seorang dosen, dan tentunya memiliki kuasa untuk menentukan banyak hal di dalam kelas’.

Bdk. Yer 10:23 -   Aku tahu, ya TUHAN, bahwa manusia tidak berkuasa untuk menentukan jalannya, dan orang yang berjalan tidak berkuasa untuk menetapkan langkahnya.

Kalau sebagai dosen anda bisa menentukan kapan ujian, bahan ujian dsb, maka perlu diingat bahwa penentuan anda itu juga datang dari Allah yang mengatur / mengerakkan pikiran anda.

Bdk. Amsal 21:1 - “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini.

Ezra 1:1 - “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini”.

Perhatikan dua ayat di atas ini. Ini Firman Tuhan, Liauw! Raja saja pikiran / hatinya ada dalam tangan Tuhan, apalagi anda yang cuma dosen! Anda kira anda siapa?

 

Bdk. Yoh 19:10-11 - “(10) Maka kata Pilatus kepadaNya: ‘Tidakkah Engkau mau bicara dengan aku? Tidakkah Engkau tahu, bahwa aku berkuasa untuk membebaskan Engkau, dan berkuasa juga untuk menyalibkan Engkau?’ (11) Yesus menjawab: ‘Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas. Sebab itu: dia, yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.’”.

Kata-kata anda seperti kata-kata Pontius Pilatus, kata-kata saya seperti kata-kata Yesus!

 

2)   Kalau anda memutuskan sesuatu yang ternyata bukan kehendak Allah untuk terjadi, anda pikir Allah tidak bisa membatalkan keputusan itu? Ada banyak cara yang Allah bisa lakukan untuk membatalkan / membuat tidak terjadi suatu keputusan yang dibuat manusia, misalnya dengan mengubah pikiran orang itu, atau membuat terjadinya sesuatu yang membuat orang itu tidak bisa melaksanakan keputusannya. Dalam kasus keputusan memberikan ujian, kalau Tuhan tahu-tahu membuat anda kecelakaan, masuk rumah sakit, lalu mati, bagaimana anda mau melaksanakan keputusan itu? Roh anda yang melakukannya?

 

Bdk. Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

 

Tidak mungkin Daud terkesan dan berkata, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya” jika ternyata pengetahuan itu adalah karena suatu penentuan. Bahkan bisa dipertanyakan, apakah “pengetahuan karena penentuan” bisa disebut sebagai keMAHAtahuan. Sebagaimana telah dikutip sebelumnya, Warfield mewakili para Kalvinis untuk menjelaskan tentang pengetahuan Allah: “Alah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri.” Mengetahui kehendak sendiri sama sekali tidak ajaib! Pribadi yang hanya tahu apa yang telah ia tentukan, sebenarnya bahkan tidak masuk kategori mahatahu.

 

Tanggapan saya:

Anda memang bodoh, Liauw! Penentuan Allah mencakup segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak. Jadi tanpa kecuali apapun. Karena itu, pada waktu Ia menentukan segala sesuatu, dan lalu mengetahui rencanaNya sendiri, Ia mengetahui segala sesuatu, dan itu berarti Ia maha tahu. Seandainya Ia hanya menentukan satu atau dua hal, dan lalu mengetahui apa yang Ia tentukan / rencanakan itu, maka itu menyebabkan Ia hanya tahu sedikit. Tetapi faktanya Ia menentukan segala sesuatu, dan karena itu Ia mengetahui segala sesuatu, dan itu adalah maha tahu.

 

Dalam bagian awal dari Maz 139 itu Daud hanya bicara tentang kemahatahuan Allah, bukan dalam hubungannya dengan penentuan Allah. Tentu tidak salah untuk kagum terhadap kemahatahuan Allah itu!

 

Kalvinis, karena semangat mereka mempertahankan premis dasar “Allah menentukan segala sesuatu,” justru malah menyerang kemahatahuan Tuhan sendiri! Arminius, tokoh yang paling banyak diserang oleh Kalvinis, justru memiliki pandangan tentang kemahatahuan yang jauh lebih baik. Tentang Allah, Arminius menegaskan:

“Ia tahu segala hal yang mungkin, apakah mengenai kapabilitas Allah ataupun makhluk; dalam kapabilitas aktif maupun pasif; dalam kapabilitas tindakan, atau imajinasi, atau ucapan: Ia tahu segala sesuatu yang dapat eksis, dalam hal hipotesis apapun: Ia tahu hal-hal lain di luar diriNya, baik yang harus maupun yang tergantung, baik atau buruk, umum atau khusus, masa depan, masa kini dan masa lampau, agung ataupun tercela: Ia tahu hal-hal yang substansial maupun segala jenis yang tak disengaja; aksi dan emosi, modus dan keadaan segala hal; kata-kata dan perbuatan eksternal, pikiran-pikiran internal, pertimbangan-pertimbangan, maksud rencana, dan keputusan-keputusan, dan entitas akal budi, apakah kompleks atau sederhana.”

 

Tanggapan saya:

Anda memberikan kutipan dalam bahasa Indonesia. Mengapa tidak bahasa Inggrisnya supaya saya tahu apakah anda menterjemahkannya dengan benar atau tidak, apa kata persisnya dalam bahasa Inggris, dsb?

 

Kata-kata yang saya garis-bawahi itu, khususnya yang saya beri garis bawah ganda, kelihatannya menunjuk pada hal-hal yang ‘contingent’ (bisa terjadi, bisa tidak). Kalau memang demikian, saya berpendapat kata-kata Arminius itu salah!

 

James Arminius justru mengakui kemahatahuan Tuhan yang lebih komplit daripada Kalvinis. Secara tradisional, umat Kristiani percaya bahwa Allah tahu segala sesuatu, termasuk apa yang disebut “middle knowledge.” Allah memiliki “middle knowledge,” yang berarti bahwa Allah bukan hanya tahu semua apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tetapi Allah juga tahu semua yang MUNGKIN terjadi. Jadi, walaupun Allah sudah tahu tentang perzinahan Daud dengan Batsyeba, dan segala konsekuensinya, misalnya kekacauan keluarga Daud karena contoh buruk yang ia berikan, dan juga pemberontakan anaknya dan penasihatnya, Allah juga tahu, apa yang akan terjadi jika saja Daud tidak berzinah dengan Batsyeba! Allah tahu tentang semua konsekuensi, semua pilihan orang-orang lain di sekitar Daud, jika saja Daud memilih untuk melakukan hal lain! Jadi, Allah bukan saja tahu apa yang benar-benar terjadi, Allah bahkan tahu tentang segala kemungkinan! Itulah sebabnya, dalam Alkitab, banyak sekali referensi tentang pengetahuan Allah “jika” sesuatu hal terjadi, padahal hal tersebut tidak terjadi. Contoh:

Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (Mat. 11:21-24)

Pernyataan Tuhan Yesus ini adalah contoh yang sangat baik. Tirus, Sidon, dan Sodom tidak bertobat. Oleh karena itu tidaklah mungkin untuk mengatakan bahwa Allah menentukan mereka bertobat. Namun, Tuhan tahu, bahwa jika di kota-kota itu terjadi mujizat-mujizat tertentu, mereka tentunya telah bertobat. Ini adalah salah satu perikop yang membuktikan bahwa Tuhan bukan hanya tahu hal-hal yang Ia tentukan! Ia tahu segala kemungkinan. Ia tahu apa yang makhluk akan lakukan dalam segala kondisi dan situasi.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Berbicara tentang James Arminius, tahukah anda bahwa ia sangat menghormati Calvin dan buku-buku Calvin, dan bahkan menasehati semua orang untuk mempelajarinya?

Philip Schaff: “Next to the study of Scripture which I earnestly inculcate, I exhort my pupils to peruse Calvin’s Commentaries, which I extol in loftier terms than Helmich himself (a Dutch divine, 1551-1608); for I affirm that he excels beyond comparison (incomparabilem esse) in the interpretation of Scripture, and that his commentaries ought to be more highly valued than all that is handed down to us by the library of the fathers; so that I acknowledge him to have possessed above most others, or rather above all other men, what may be called an eminent spirit of prophecy (spiritum aliquem prophetic eximium). His Institutes ought to be studied after the (Heidelberg) Catechism, as containing a fuller explanation, but with discrimination (cum delectu), like the writings of all men” [= Disamping belajar Kitab Suci yang dengan sungguh-sungguh aku tanamkan, aku mendesak murid-muridku untuk membaca dengan teliti buku-buku tafsiran Calvin, yang aku puji dengan istilah-istilah yang lebih tinggi / mulia dari pada Helmich sendiri (seorang ahli theologia Belanda, 1551-1608); karena aku menegaskan bahwa ia jauh melebihi orang lain dalam penafsiran Kitab Suci, dan bahwa buku-buku tafsirannya harus dinilai lebih lebih tinggi dari pada semua perpustakaan bapa-bapa gereja yang diwariskan kepada kita; sehingga aku mengakui bahwa ia mempunyai, lebih dari kebanyakan orang lain, atau lebih tepat lebih dari semua manusia lain, apa yang disebut roh nubuat yang ulung. Buku ‘Institutes’nya harus dipelajari setelah Katekisasi (Heidelberg), karena berisikan penjelasan yang lebih penuh, tetapi dengan diskriminasi, seperti tulisan dari semua orang] - History of the Christian Church’, vol VIII, hal 280.

Catatan: kata-kata ini dikutip oleh Schaff dari James Arminius!

Kita sudah melihat bagaimana pandangan James Arminius tentang Calvin dan ajarannya / buku-bukunya. Sekalipun James Arminius tidak setuju dengan Calvin dalam hal-hal tertentu, tetapi ia tetap sangat menghormati Calvin dan ajarannya, dan bahkan menganjurkan pengikut-pengikutnya untuk membaca buku-buku tafsiran Calvin dan buku ‘Institutes of the Christian Religion’.

Andaikata saja ia bangkit dari antara orang mati, mungkin sekali ia akan menghajar pengikut-pengikut / anak-anak buahnya pada jaman sekarang, yang begitu kurang ajar terhadap Calvin dan ajarannya, yang ia sendiri sangat hormati!

Mau menuruti kata-kata bapa gereja anda sendiri, Liauw?

2)   Anda mengatakan ‘Secara tradisional, umat Kristiani percaya bahwa Allah tahu segala sesuatu, termasuk apa yang disebut “middle knowledge.”’? Umat Kristiani yang mana? Anda kurang ajar sekali mencatut nama ‘umat Kristiani’! Jadi yang tidak percaya hal ini bukan Kristen?

 

Liauw percaya bahwa Allah mempunyai apa yang ia sebut ‘middle knowledge’, ‘yang berarti bahwa Allah bukan hanya tahu semua apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi, tetapi Allah juga tahu semua yang MUNGKIN terjadi’.

Kelihatannya Lenski juga mempercayai hal seperti itu, karena dalam tafsirannya tentang Mat 11:21 ia berkata seperti di bawah ini.

Lenski: “God’s omniscience includes all posssible actions. Since the possible lies between the absolutely necessary (God himself) and things that are free (such as actual human actions), the knowledge of the possible is called scientia media; under certain conditions certain possible things would become actual which, however, for lack of the conditions do not become actual; yet God knows all about them” [= Kemahatahuan Allah mencakup semua tindakan-tindakan yang memungkinkan. Karena yang memungkinkan itu terletak di antara yang perlu secara mutlak (Allah sendiri) dan hal-hal yang bebas (seperti tindakan-tindakan manusia yang sungguh-sungguh), pengetahuan tentang yang memungkinkan itu disebut SCIENTIA MEDIA; di bawah kondisi tertentu hal-hal memungkinkan yang pasti akan menjadi sungguh-sungguh, sekalipun karena tidak adanya kondisi itu hal-hal itu tidak menjadi sungguh-sungguh; tetapi Allah mengetahui semua tentang hal-hal itu] - hal 446.

Catatan:

·         Tak usah heran kalau Lenski mempunyai pandangan yang sama dengan Liauw, karena Lenski juga adalah seorang Arminian.

·         Saya tidak mengerti dengan pasti arti kata-kata ‘Scientia Media’, karena kata-kata ini ada dalam bahasa Latin, tetapi bisa saya duga bahwa kata-kata ini artinya adalah ‘middle knowledge’.

 

Bahwa tidak semua orang Kristen mempercayai apa yang Liauw katakan bisa saya tunjukkan dari kata-kata Louis Berkhof di bawah ini.

Louis Berkhof: “Jesuit, Lutheran, and Arminian theologians suggested the so-called scientia media as a solution of the problem. The name is indicative of the fact that it occupies a middle ground between the neccessary and the free knowledge of God. It differs from the former in that its object is not all possible things, but a special class of things actually future; and from the latter in that its ground is not the eternal purpose of God, but the free action of the creature as simply foreseen.” (= Ahli-ahli theologia Jesuit, Lutheran, dan Arminian mengusulkan apa yang disebut SCIENTIA MEDIA sebagai suatu solusi / penyelesaian dari problem itu. Nama itu merupakan petunjuk dari fakta bahwa itu menempati daerah di tengah-tengah di antara pengetahuan yang perlu / tak terhindarkan dan pengetahuan yang bebas dari Allah. Itu berbeda dengan yang pertama dalam hal obyeknya bukanlah semua hal yang memungkinkan, tetapi suatu golongan khusus dari hal-hal yang betul-betul akan datang; dan berbeda dengan yang terakhir dalam hal bahwa dasarnya bukanlah rencana kekal dari Allah, tetapi tindakan bebas dari makhluk-makhluk ciptaan yang sekedar dilihat lebih dulu) - ‘Systematic Theology’, hal 68.

Catatan:

·         yang Louis Berkhof maksudkan dengan ‘the problem’ (problem itu) adalah ‘kontradiksi antara penentuan lebih dulu dari Allah dan kebebasan kehendak dari manusia’.

·         sangat perlu dicamkan bahwa Louis Berkhof menggunakan kata ‘possible’ (memungkinkan) yang saya beri warna merah itu, dalam arti yang berbeda dengan arti dari kata itu pada waktu digunakan oleh Liauw / Lenski! Untuk mengerti tentang hal itu, dan juga tentang apa yang Louis Berkhof maksudkan dengan ‘the necessary and free knowledge of God’ (pengetahuan yang perlu / tak terhindarkan dan pengetahuan yang bebas dari Allah), kita harus melihat penjelasan Louis Berkhof sebelumnya.

Louis Berkhof: “A distinction is made between the ‘necessary’ and ‘free’ knowledge of God. The former is the knowledge which God has of Himself and of all things possible, a knowledge resting on the consciousness of His omnipotence. It is called ‘necessary knowledge’, because it is not determined by an action of the divine will. ... ‘The free knowledge of God’ is the knowledge which He has of all things actual, that is, of things that existed in the past, that exists in the present, or that will exist in the future. It is founded on God’s infinite knowledge of His own all-comprehensive and unchangeable eternal purpose, and is called ‘free knowledge’, because it is determined by a concurrent act of the will (= Suatu pembedaan dibuat antara pengetahuan yang ‘perlu / harus / tak terhindarkan’ dan ‘bebas’ dari Allah. Yang pertama adalah pengetahuan yang dimiliki Allah tentang DiriNya sendiri dan tentang segala sesuatu yang memungkinkan akan terjadi, suatu pengetahuan yang didasarkan pada kesadaran akan kemaha-kuasaanNya. Itu disebut ‘pengetahuan yang perlu / harus’, karena itu tidak ditentukan oleh suatu tindakan dari kehendak ilahi. ... ‘Pengetahuan yang bebas dari Allah’ adalah pengetahuan yang Ia miliki tentang segala sesuatu yang sungguh-sungguh, yaitu tentang hal-hal yang ada pada masa lalu, yang ada pada masa ini, dan yang akan ada pada masa yang akan datang. Ini didasarkan pada pengetahuan yang tak terbatas dari Allah tentang rencana kekalNya yang tak berubah dan mencakup segala sesuatu, dan disebut ‘pengetahuan bebas’, karena itu ditentukan oleh suatu tindakan bersamaan dari kehendak) - ‘Systematic Theology’, hal 66-67.

Jadi, kalau Louis Berkhof mengatakan hal-hal yang ‘possible’ (memungkinkan), ia tidak memaksudkan hal-hal yang contingent (hal yang bisa terjadi bisa tidak / tidak ada kepastian terjadi atau tidak). Ia memaksudkan hal yang bisa saja dilakukan oleh Allah yang maha kuasa seandainya Ia menghendakinya. Saya memberi contoh: pada minus tak terhingga, sebelum Allah menciptakan apapun, Ia tentu tahu bahwa Ia bisa saja menciptakan 10 Adam dan 10 Hawa, atau, Ia tentu tahu bahwa Ia bisa saja menciptakan 10 alam semesta. Hal-hal ini dalam kenyataannya tidak Ia lakukan, karena hal-hal itu bukan merupakan rencanaNya. Tetapi Ia tahu hal-hal itu memungkinkan untuk Ia lakukan, karena Ia tahu bahwa kemahakuasaanNya mampu untuk melakukan hal-hal itu. Ini sangat berbeda dengan, dan harus sangat dibedakan dari, kepercayaan bahwa Allah tahu akan hal-hal yang bersifat contingent.

Louis Berkhof melanjutkan dengan berkata sebagai berikut: “It is called ‘mediate’, says Dabney, ‘because they suppose God by His infinite insight into the manner in which the contingent second cause will act, under given outward circumstances, foreseen or produced by God.’ But this is no solution of the problem at all. It is an attempt to reconcile two things which logically exclude each other, namely, freedom of action in the Pelagian sense and a certain foreknowledge of that action (= Itu disebut ‘di antara / di tengah-tengah’, kata Dabney, ‘karena mereka menganggap Allah oleh kemampuan melihatNya yang tak terbatas ke dalam cara dalam mana penyebab kedua yang tak terduga akan bertindak, di bawah keadaan-keadaan luar yang diberikan, dilihat lebih dulu atau dihasilkan / dibuat oleh Allah’. Tetapi ini sama sekali bukan solusi / penyelesaian dari problem itu. Itu merupakan suatu usaha untuk memperdamaikan dua hal yang secara logika saling bertentangan, yaitu kebebasan tindakan dalam arti Pelagian dan suatu pra pengetahuan yang pasti tentang tindakan itu) - ‘Systematic Theology’, hal 68.

Catatan:

·         Dabney adalah seorang ahli theologia Reformed / Calvinist.

·         ‘kebebasan tindakan dalam arti Pelagian’ adalah tindakan yang bebas secara mutlak. Sekalipun Arminianisme terletak di antara Calvinisme dan Pelagianisme, dan merupakan ‘tawaran’ di tengah-tengah yang diberikan oleh setan setelah Pelagianisme dikecam sebagai ajaran sesat, tetapi dalam persoalan kebebasan kehendak saya kira Pelagianisme dan Arminianisme mempunyai pandangan yang sama.

·         Bagian yang saya garis-bawahi menunjukkan bahwa Louis Berkhof sama sekali tidak percaya tentang Scientia Media / middle knowledge (pengetahuan di tengah-tengah) itu.

Dan Dabney juga menolak secara mutlak gagasan tersebut.

R. L. Dabney: “scientia media ... The existence of such a species of knowledge the Calvinists deny in toto” (= scientia media ... Keberadaan dari jenis pengetahuan seperti itu, orang-orang Calvinist menolak sebagai suatu keseluruhan) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 156.

·         Di bagian akhir dari point 2) di bawah saya memberikan lagi kata-kata Louis Berkhof yang merupakan sambungan langsung dari kata-katanya di sini.

 

3)   Dari mana / apa dasarnya anda mengatakan ‘Allah sudah tahu tentang perzinahan Daud dengan Batsyeba, dan segala konsekuensinya, misalnya kekacauan keluarga Daud karena contoh buruk yang ia berikan, dan juga pemberontakan anaknya dan penasihatnya, Allah juga tahu, apa yang akan terjadi jika saja Daud tidak berzinah dengan Batsyeba! Allah tahu tentang semua konsekuensi, semua pilihan orang-orang lain di sekitar Daud, jika saja Daud memilih untuk melakukan hal lain!’?

Bagian awalnya saya setuju (kalau Daud berzinah), karena memang ada ayat-ayat yang menunjukkan hal itu. Tetapi bagian akhirnya belum tentu (kalau Daud tidak berzinah), karena tidak ada ayat-ayat yang menunjukkan pengetahuan Tuhan tentang hal itu.

 

Dalam kasus Daud, ada kemungkinan persoalannya adalah sebagai berikut: Allah sudah memikirkan kalau Daud berzinah, hal-hal apa yang akan terjadi, dan juga memikirkan kalau Daud tidak berzinah, hal-hal apa yang akan terjadi. Tetapi Ia tidak mau menentukan Daud tidak berzinah. Saya percaya Allah menentukan kejatuhan Daud, dan karena itu Ia juga tahu hal-hal apa yang akan terjadi.

Tetapi ini sangat berbeda halnya dengan kalau kejatuhan Daud itu sesuatu yang sepenuhnya contingent (bisa terjadi, bisa tidak), dan Allah tidak / belum menentukan apapun berkenaan dengan hal itu. Dalam hal ini Allah tidak bisa tahu apakah Daud akan jatuh atau tidak! Kalau anda tak setuju dengan hal ini, saya tanya: kalau kejatuhan Daud itu memang contingent, apa yang Allah ketahui tentang hal itu? Kalau anda katakan Allah tahu Daud bakal jatuh, maka kejatuhan itu sudah pasti, bukan lagi contingent. Demikian juga kalau anda katakan Allah tahu Daud bakal tidak jatuh, maka kejatuhan itu pasti tidak terjadi, dan lagi-lagi itu bukan lagi sesuatu yang contingent!

Saya harap dengan penjelasan ini anda bisa melihat bahwa ‘mengetahui lebih dulu tentang sesuatu yang contingent’ merupakan kata-kata yang kontradiksi!

Karena itu sangat tepatlah kata-kata Louis Berkhof di atas (saya kutip ulang sebagian di sini).

Louis Berkhof: “It is an attempt to reconcile two things which logically exclude each other, namely, freedom of action in the Pelagian sense and a certain foreknowledge of that action (= Itu merupakan suatu usaha untuk memperdamaikan dua hal yang secara logika saling bertentangan, yaitu kebebasan tindakan dalam arti Pelagian dan suatu pra pengetahuan yang pasti tentang tindakan itu) - ‘Systematic Theology’, hal 68.

 

Louis Berkhof: “Actions that are in no way determined by God, directly or indirectly, but are wholly dependent on the arbitrary will of man, can hardly be the object of divine foreknowledge” (= Tindakan-tindakan yang tidak ditentukan oleh Allah dengan cara apapun, secara langsung atau tidak langsung, tetapi sepenuhnya tergantung pada kehendak manusia yang berubah-ubah, tidak mungkin bisa merupakan obyek dari pra-pengetahuan ilahi) - ‘Systematic Theology’, hal 68.

Catatan: kata ‘hardly’ di sini tidak boleh diterjemahkan ‘hampir tidak’ seperti biasanya, tetapi harus diterjemahkan ‘improbable’ (= ‘tidak mungkin’) atau ‘not at all’ (= ‘sama sekali tidak’). Arti seperti ini memang diberikan dalam Webster’s New World Dictionary (College Edition).

4)            Persoalan Mat 11:20-24.

Saya kira ada 2 kemungkinan untuk menafsirkan:

 

a)   Calvin memberi penjelasan, yang bisa kita lihat dari tafsirannya tentang Mat 11:20-24 di bawah ini.

Calvin (tentang Mat 11:20-24): Lest any should raise thorny questions about the secret decrees of God, we must remember, that this discourse of our Lord is accommodated to the ordinary capacity of the human mind. Comparing the citizens of Bethsaida, and their neighbors, with the inhabitants of Tyre and Sidon, he reasons, not of what God foresaw would be done either by the one or by the other, but of what both parties would have done, so far as could be judged from the facts (= Supaya jangan ada siapapun menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sukar tentang ketetapan-ketetapan rahasia dari Allah, kita harus mengingat, bahwa pembicaraan Tuhan kita ini disesuaikan dengan kapasitas biasa dari pikiran manusia. Membandingkan orang-orang Betsaida, dan tetangga-tetangga mereka, dengan penduduk-penduduk dari Tirus dan Sidon, Ia menganalisa secara logis, bukan tentang apa yang Allah lihat lebih dulu akan dilakukan atau oleh yang satu atau oleh yang lain, tetapi tentang apa yang kedua pihak akan lakukan, sejauh seperti yang bisa dinilai dari fakta-fakta).

Matthew Poole (tentang Mat 11:22): “Our Saviour might here speak after the manner of men, according to rational conjectures and probabilities” (= Juruselamat kita di sini bisa / mungkin berbicara menurut cara manusia, sesuai dengan dugaan-dugaan dan kemungkinan-kemungkinan yang rasionil).

Jadi intinya, dalam bagian ini dalam Yesus mengucapkan kata-kata itu, Ia berbicara sambil menyesuaikan diri dengan kapasitas pengertian manusia. Ini adalah penganalisaan secara logis, bukan tentang pra-pengetahuan dari Allah.

b)   Kita harus membedakan antara ‘ditentukan untuk tidak terjadi’ dengan ‘tidak ditentukan untuk terjadi’. Dalam kata-kata yang pertama, ada penentuan Allah, yaitu hal itu tidak akan terjadi. Tetapi dalam hal yang kedua, betul-betul tidak ada penentuan Allah berkenaan dengan terjadi atau tidak terjadinya hal itu. Dalam hal yang pertama, karena ada penentuan, maka Allah tahu hal itu. Dalam hal kedua, karena memang tidak ada penentuan apa-apa / tidak ada penentuan sama sekali, Allah tidak bisa tahu tentang hal itu.

Kasus Mat 11:20-24 (tentang pertobatan orang-orang Sidon dsb) termasuk yang mana? Jelas termasuk yang pertama, bukan yang kedua. Mungkin kalau kita membayangkan Allah seakan-akan Dia adalah manusia dengan pemikiran terbatas seperti manusia, maka pada waktu mau merencanakan / menentukan, Ia berpikir: Aku bisa memberi mujijat-mujijat kepada mereka, dan mempertobatkan mereka menggunakan mujijat-mujijat itu, atau, Aku bisa langsung menghancurkan mereka, tanpa memberi mujijat-mujijat yang akan mempertobatkan mereka. Sebetulnya, mungkin Ia juga memikirkan kemungkinan yang ketiga: Aku juga bisa memberi mujijat-mujijat kepada mereka, tetapi tetap tidak mempertobatkan mereka. Akhirnya Ia memilih untuk menentukan untuk tidak memberi mujijat-mujijat yang akan mempertobatkan mereka. Jadi dalam hal ini ada penentuan Allah, yaitu Ia tidak mau memberi mereka mujijat-mujijat, dan Ia tidak mau mereka bertobat. Karena hal ini ada dalam perencanaan Allah, maka Ia tahu akan hal itu.

Karena itu perhatikan kata-kata Louis Berkhof di atas, yang akan saya kutip ulang di sini.

Louis Berkhof: “Actions that are in no way determined by God, directly or indirectly, but are wholly dependent on the arbitrary will of man, can hardly be the object of divine foreknowledge” (= Tindakan-tindakan yang tidak ditentukan oleh Allah dengan cara apapun, secara langsung atau tidak langsung, tetapi sepenuhnya tergantung pada kehendak manusia yang berubah-ubah, tidak mungkin bisa merupakan obyek dari pra-pengetahuan ilahi) - ‘Systematic Theology’, hal 68.

Saya kira bagian-bagian yang saya garis-bawahi menunjukkan betapa hati-hatinya Louis Berkhof dalam menyusun kalimatnya. Jadi, hal-hal yang tidak mungkin diketahui lebih dulu oleh Allah hanyalah:

·         hal-hal yang sama sekali tidak ditentukan oleh Allah dalam cara apapun. Ini pasti tidak mencakup hal yang ‘ditentukan untuk tidak terjadi’!

·         hal-hal yang betul-betul tergantung pada kehendak manusia yang berubah-ubah, sehingga ini adalah hal-hal yang betul-betul tidak pasti / tertentu 

Perikop lain yang mengilustrasikan kebenaran ini ada dalam kitab 1 Samuel:

Ketika diketahui Daud, bahwa Saul berniat jahat terhadap dia, berkatalah ia kepada imam Abyatar: “Bawalah efod itu ke mari.” Berkatalah Daud: “TUHAN, Allah Israel, hamba-Mu ini telah mendengar kabar pasti, bahwa Saul berikhtiar untuk datang ke Kehila dan memusnahkan kota ini oleh karena aku. Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku ke dalam tangannya? Akan datangkah Saul seperti yang telah didengar oleh hamba-Mu ini? TUHAN, Allah Israel, beritahukanlah kiranya kepada hamba-Mu ini.” Jawab TUHAN: “Ia akan datang.” Kemudian bertanyalah Daud: “Akan diserahkan oleh warga-warga kota Kehila itukah aku dengan orang-orangku ke dalam tangan Saul?” Firman TUHAN: “Akan mereka serahkan.” (1 Sam. 23:9-12).

Pada waktu itu, Daud sedang bersembunyi dari Saul di sebuah kota bernama Kehila. Saul rupanya mendapat kabar bahwa Daud berada di sana, dan Saul berniat untuk membawa pasukan dan mengepung Daud di Kehila. Namun rencana itu bocor ke telinga Daud, sehingga Daud bertanya kepada Tuhan: “Apakah orang-orang Kehila akan menyerahkan aku kepada Saul?” Tentu pertanyaan ini adalah dengan asumsi bahwa Daud terus berada di Kehila. Pada kenyataannya, Daud akhirnya segara keluar dari Kehila. Walaupun demikian, Tuhan bisa tahu dengan pasti, bahwa jika Daud berada di Kehila, orang-orang kota itu akan menyerahkan Daud kepada Saul. Ini adalah suatu kondisi hipotetis, dan tidak pernah terjadi. Tetapi demikianlah kemahatahuan Tuhan, sedemikian ajaib, sehingga Ia tahu segala kemungkinan dan Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh makhluk-makhlukNya dalam segala jenis kondisi. Jelaslah bahwa Tuhan bukan hanya tahu apa yang Ia tetapkan! Tuhan bukan hanya tahu apa yang menjadi kehendakNya sendiri!

Kalau mau direnung-renungkan, pernyataan Warfield bahwa “Allah mengetahui lebih dulu hanya karena Ia telah menentukan lebih dulu, dan karena itu juga Ia menyebabkannya terjadi; dengan kata lain, pengetahuan lebih dulu ini pada hakekatnya adalah pengetahuan tentang kehendakNya sendiri,” sebenarnya adalah pengakuan Kalvinis bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas! Dengan satu kalimat ini, Warfield menerangkan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Kalvinis, tidak peduli betapa gigihnya mereka berusaha menyangkalinya, yaitu bahwa segala “kehendak” makhluk adalah sebenarnya “kehendak Allah.” Tanpa sadar (atau mungkin dengan sadar), Warfield menegaskan bahwa makhluk tidak memiliki kehendak sendiri, melainkan dikendalikan oleh “kehendak Allah.”

 

Tanggapan saya:

Calvin tidak menulis buku tafsiran tentang kitab 1Samuel, tetapi saya kira ia akan menafsirkan secara sama dengan pada waktu ia menafsirkan tentang Mat 11:20-24. Ini bukan berhubungan dengan pra pengetahuan Allah, tetapi hanya suatu pemikiran logis. Jadi, Allah bicara dengan menyesuaikan diri dengan pemikiran manusia yang terbatas.

 

Atau, bisa juga saya menafsirkan bagian ini seperti saya menafsirkan Mat 11:20-24 di atas. Jadi, kalau kita membayangkan Allah sebagai manusia dengan pemikiran yang terbatas, Ia mungkin berpikir: Aku bisa menentukan Daud untuk tetap di Kehila, dan Saul akan datang ke sana, dan warga Kehila akan menyerahkan Daud kepada Saul. Atau, Aku bisa menentukan Daud meninggalkan Kehila, sehingga Saul tidak pergi ke Kehila, dan warga Kehila tidak menyerahkan dia ke tangan Saul. Akhirnya Tuhan memutuskan untuk tidak menentukan yang pertama tetapi menentukan yang kedua. Jadi, lagi-lagi dalam hal ini ada penentuan Tuhan, yaitu bahwa Daud tidak tetap di Kehila, sehingga Saul tidak datang ke Kehila, dan warga Kehila tidak menyerahkan dia ke tangan Saul. Jadi, karena di sini ada penentuan Allah, tentu Allah tahu tentang hal itu.

 

Dari dua penafsiran ini, saya lebih condong pada yang pertama.

 

 

Jadi, usaha Kalvinis untuk memakai kemahatahuan Allah untuk mendukung premis dasarnya bahwa Allah telah menentukan segala sesuatu, justru membawa dua dampak. Pertama, ia semakin memperlihatkan posisi Kalvinis sebenarnya, bahwa manusia hanyalah pion-pion pintar yang melakukan segenap “dekrit Allah” sambil berpikir dan merasa bahwa ia melakukannya atas keinginan sendiri. Kedua, ia justru memperlemah kemahatahuan Tuhan sendiri. Oh, teman-temanku Kalvinis, tidak dapatkah kalian melihat, bahwa “allah” yang hanya bisa tahu apa yang ia tentukan, dan hanya tahu kehendaknya sendiri, bukanlah Allah yang Mahatahu dalam Alkitab?

 

Tanggapan saya:

1)   Saya tidak mengerti bagaimana dari pembahasan tentang kemahatahuan Allah yang dijadikan dasar dari penentuan segala sesuatu, kok tahu-tahu anda bisa menyimpulkan tentang manusia sebagai pion-pion pintar dan sebagainya. Apa hubungannya?

2)   Tak ada pelemahan terhadap kemahatahuan Allah, mengingat bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan dengan demikian, mengetahui segala sesuatu juga!

 

D. Allah yang Mengendalikan Sejarah

 

Tidak ada orang yang benar-benar percaya pada Alkitab yang akan meragukan bahwa Allah maha berdaulat. Demikian pula tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti kebenaran dapat meragukan bahwa Allah mengontrol sejarah. Perdebatan antara Kalvinis dengan non-Kalvinis sebenarnya bukanlah masalah apakah Allah berdaulat atau tidak. Perselisihan juga bukan pada poin apakah Allah mengendalikan sejarah atau tidak. Baik Kalvinis maupun non-Kalvinis percaya akan hal-hal tersebut. Permasalahannya adalah, apakah Allah yang berdaulat harus menentukan segala tindakan makhlukNya? Apakah Allah mengendalikan sejarah dengan cara menentukan segala tindakan makhlukNya?
Kita sudah melihat di bagian yang lebih awal, bahwa tidak ada suatu hal pun dalam definisi “kedaulatan” yang mengharuskan Allah untuk menentukan segala tindakan makhlukNya. Ide ini tidak inheren dalam makna “kedaulatan,” melainkan adalah suatu pilihan filosofis dari kaum Kalvinis.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Anda tidak salah bicara, Liauw? Anda mengakui bahwa Allah mengontrol sejarah? Tetapi anda tak mengakui kalau Allah menentukan sejarah / segala tindakan dari makhluk-makhlukNya. Menurut saya ini adalah pemikiran-pemikiran yang saling bertentangan, dan juga tidak Alkitabiah. Kalau Ia dari awal tidak menentukan, lalu berdasarkan apa dan ke arah mana Ia mengontrol sejarah?

Juga, kalau anda mengakui bahwa Allah mengontrol sejarah, berarti terjadinya dosa, termasuk dosa Adam, juga terjadi karena kontrol Allah itu, bukan? Lalu mengapa gerangan Ia mengontrol sedemikian rupa sehingga dosa-dosa itu terjadi? Apakah ini tidak bertentangan dengan kemahasucian Allah? Juga itu berarti bahwa ketidak-percayaan seseorang terhadap Kristus, juga terjadi karena kontrol Allah itu, bukan? Lalu, mengapa Ia mengontrol sedemikian rupa sehingga orang itu tidak percaya kepada Kristus, dan akhirnya masuk neraka? Apakah ini tidak bertentangan dengan sifat maha kasih dari Allah?

 

Alkitab sendiri dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhan bekerja dalam sejarah sesuai dengan rencana kekalNya! Lihat ayat-ayat di bawah ini:

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan--kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya-”.

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu”.

Ro 8:29-30 - “(29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.

 

2)   Tentang istilah ‘berdaulat’ / ‘kedaulatan’ dsb, saya sudah membahasnya di atas bahwa itu adalah arti yang diberikan oleh Kamus Webster. Mengapa mau menggunakan suatu kata, kalau tidak mau menerima arti kata itu?

 

Lalu bagaimana dengan pengendalian atas sejarah? Banyak sekali bukti dan contoh kasus dalam Alkitab, bahwa Allah memegang kendali penuh atas perjalanan sejarah. Nubuat-nubuat yang terdapat dalam Alkitab adalah salah satu contoh kendali Tuhan. Pada saat yang sama, Allah tidak menentukan tindakan-tindakan makhluk-makhlukNya, karena terbukti Ia masih meminta pertanggungan jawab makhluk-makhluk itu.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Dari sudut pandang anda, apa hubungan nubuat-nubuat dengan pengendalian penuh atas sejarah? Kalau dari sudut pandang saya, saya percaya Allah menentukan segala sesuatu, dan lalu bagian-bagian tertentu dari apa yang Ia tentukan, Ia nubuatkan. Lalu akhirnya hal-hal itu Ia laksanakan. Jadi, memang ada hubungannya. Tetapi dari sudut pandang anda, yang menolak penentuan Allah atas segala sesuatu, apa hubungan nubuat-nubuat dengan kontrol Allah terhadap sejarah? Aapakah secara tak anda sadari anda percaya ajaran Calvinisme?

 

2)   Anda mengatakan ‘Pada saat yang sama, Allah tidak menentukan tindakan-tindakan makhluk-makhlukNya, karena terbukti Ia masih meminta pertanggungan jawab makhluk-makhluk itu’. Coba untuk sementara tinggalkan logika anda yang bertentangan dengan Alkitab ini, dan baca dan renungkan ayat-ayat di bawah ini.

a)   Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Ini kata-kata Yesus dalam Firman Tuhan, Liauw! Mau tunduk atau tidak? Jelas tindakan pengkhianatan Yudas Iskariot telah ditetapkan, tetapi ia toh harus bertanggung jawab. Kalau tidak, untuk apa Yesus mengatakan ‘celakalah’?

b)   Ro 9:19-21 - “(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

Memang sepintas lalu, kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia kelihatan sebagai suatu kontradiksi. Ini terlihat dari Ro 9:19 dimana Paulus, setelah mengajarkan Predestinasi dan kedaulatan Allah dalam Ro 9:6-18, lalu menanyakan pertanyaan yang ia perkirakan bakal muncul dalam diri orang yang mendengar ajaran Predestinasi dan kedaulatan Allah.

Ro 9:19 - “Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’”.

NASB: “You will say to me then, ‘Why does He still find fault? For who resists His will?’” (= Lalu kamu akan berkata kepadaku: ‘Mengapa Ia masih menyalahkan / mencari kesalahan? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?’).

KJV / RSV » NASB.

NIV: “One of you will say to me: Then why does God still blame us? For who resists his will?” (= Salah satu dari kamu akan berkata kepadaku: Lalu mengapa Allah masih menyalahkan kita? Karena siapa yang menahan / menolak kehendakNya?).

Jadi, karena Allah dalam kedaulatanNya sudah menetapkan / mempredestinasikan, dan kehendak Allah pasti terjadi sehingga tidak bisa ditolak, maka orang lalu merasa aneh bahwa manusia masih harus bertanggung jawab / disalahkan oleh Allah.

Andaikata Paulus menganggap bahwa karena adanya kedaulatan Allah / Predestinasi maka manusia tidak lagi perlu bertanggung jawab, maka ia akan menjawab dengan berkata: ‘Siapa bilang bahwa Allah menyalahkan kamu? Karena Ia yang menetapkan segala sesuatu dan karena kehendakNya pasti terjadi, maka Ia tidak akan menyalahkan kamu kalau kamu berbuat dosa atau tidak percaya’.

Andaikata Paulus memang tidak setuju dengan kedaulatan Allah yang menetapkan segala sesuatu, maka ia akan menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata: ‘Allah tidak menetapkan apa-apa, karena itu kamu bertanggung jawab’.

Tetapi Paulus tidak menjawab seperti itu. Perhatikan jawaban Paulus dalam Ro 9:20-21: “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”.

J. I. Packer mengomentari ayat ini dengan berkata:

“What the objector has to learn is that he, a creature and a sinner, has no right whatsoever to find fault with the revealed ways of God. Creatures are not entitled to register complaints about their Creator” (= Apa yang harus dipelajari oleh orang yang mengajukan keberatan itu adalah bahwa ia, seorang makhluk ciptaan dan seorang berdosa, tidak mempunyai hak apapun untuk tidak puas / berkeberatan dengan jalan Allah yang dinyatakan. Makhluk-makhluk ciptaan tidak berhak menyatakan keluhan / ucapan yang menyatakan ketidakpuasan tentang Pencipta mereka) - ‘Evangelism and the Sovereignty of God’, hal 23.

Lalu, bagaimanakah Tuhan mengendalikan sejarah? Pertama, walaupun Allah tidak menentukan segala sesuatu, tetapi Ia menentukan banyak hal. Jelaslah bahwa Allah yang menentukan semua hukum alam yang berlaku. Segala tindakan penciptaan Allah adalah keputusanNya sendiri. Banyak Kalvinis berpikir, bahwa karena non-Kalvinis menentang penentuan Allah atas segala sesuatu, maka kami tidak percaya Allah menentukan apa-apa. Ini tidak benar! Saya percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Yang tidak Allah tentukan adalah keputusan-keputusan makhluk-makhluk yang berkehendak bebas. Mengapa Allah tidak menentukannya? Karena Allahlah yang pada awalnya menentukan mereka berkehendak bebas, yang berarti Allah ingin mereka sendiri yang memutuskan. Namun saya percaya bahwa hal-hal lain di luar kehendak bebas makhluk ciptaan Tuhan, ditentukan oleh Tuhan. Penulis Amsal mengakui kebenaran ini dengan pernyataan berikut: “Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN” (Ams. 16:33). Bukan hanya jatuhnya undian, saya percaya bahwa setiap tetes hujan yang turun, diatur oleh Tuhan untuk mengenai titik tanah yang tertentu, baik itu melalui hukum alam maupun intervensi khususNya. Setiap batu yang berguling, Tuhan tentukan trayektorinya, baik melalui hukum alam maupun intervensi khususnya. Hal-hal ini tidak berkaitan dengan kehendak bebas makhluk ciptaan, dan Allah memang menentukan hal-hal ini. Dengan jalan demikian, kita bisa memahami salah satu cara yang Tuhan pakai untuk mengendalikan sejarah, tanpa menentukan keputusan manusia. Kita melihat bagaimana undian telah Tuhan pakai sepanjang sejarah untuk mengendalikan jalannya sejarah (kisah Yunus, juga Nebukadnezar di dalam Yeh. 21:18-22).

 

Tanggapan saya:

 

1)   Apa nggak salah, Liauw? Apakah ini memang pandangan Arminian? Bisakah anda berikan kutipan kata-kata Arminius yang menunjukkan bahwa ia percaya seperti yang anda katakan di sini? Saya melihat pada buku tafsiran Adam Clarke, yang jelas adalah orang Arminian yang keras, berkenaan dengan ayat-ayat seperti Amsal 16:33  Yun 1:17 dsb, dan saya tidak melihat bahwa ia mempercayai seperti yang anda katakan di atas. Memang pandangan anda ini bukan pandangan Reformed / Calvinisme, tetapi kalau dilihat konsekwensinya, akan menjurus pada pandangan Reformed / Calvinisme. Mengapa? Karena benda-benda yang tak punya kehendak sama sekali itu, berhubungan dengan manusia yang mempunyai kehendak bebas. Sebagai contoh:

 

a)   Amsal 16:33 - Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari pada TUHAN.

Bagaimana mungkin Tuhan menentukan undian itu akan menunjuk pada apa / siapa, kalau Ia tidak lebih dulu menentukan orang yang melakukan pengundian itu? Kalau Ia hanya menentukan undian itu menunjuk pada apa / siapa, tetapi tidak menentukan orang yang melakukan pengundian, bagaimana kalau tahu-tahu tak ada orang yang melakukan pengundian? Itu berarti ketentuan Allah tentang pengundian itu tidak terjadi, dan ini jelas tidak mungkin, bukan?

 

b)   Dalam kitab Yunus, sedikitnya ada 3 x dikatakan ‘atas penentuan Tuhan’ (Yunus 1:17 4:6,8), yang menunjukkan bahwa Allah menentukan ikan menelan Yunus (Yun 1:17), tumbuhnya pohon jarak yang digunakan sebagai perteduhan oleh Yunus (Yun 4:6), dan datangnya angin timur yang panas yang mematikan pohon itu (Yun 4:8). Semua ini ditentukan Tuhan untuk apa? Untuk menghajar Yunus, bukan? Tetapi Kalau Yunusnya tidak ditentukan untuk membandel, lalu bagaimana seandainya dalam faktanya ia tidak membandel? Lalu apakah ikan, pohon dan angin panas itu tetap Tuhan buat sesuai dengan kehendakNya?

 

c)   Paku yang menembus tangan dan kaki Yesus, dan cambuk yang menghancurkan punggung Yesus, pasti juga sudah ditentukan bukan? Mungkinkah Allah tidak menentukan orang yang memukulkan palu ke paku yang akan ditancapkan ke tangan dan kaki Yesus itu? Kalau itu tidak ditentukan, bagaimana kalau ternyata tidak ada orang yang mau memukulkan palu ke paku yang akan menembus kaki dan tangan Yesus itu? Apakah paku-paku itu bisa meloncat sendiri, dan memakukan tangan dan kaki Yesus ke salib?

 

d)   Buah pohon pengetahuan yang oleh Tuhan dilarang dimakan oleh Adam dan Hawa, adalah benda mati, bukan? Tak punya kehendak bebas, bukan? Jadi Tuhan menentukan apapun tentang buah itu, bukan? Dan apa yang Tuhan tentukan tentang buah itu pasti terjadi, bukan? Dalam faktanya buah itu dimakan oleh Adam dan Hawa, dan karena itu, pasti dalam kekekalan Allah menentukan kalau buah itu dimakan. Kalau Adam dan Hawa tidak ditentukan untuk makan buah itu, bagaimana seandainya mereka memutuskan, dengan free will mereka, untuk tidak memakannya? Rencana Allah gagal? Ini bertentangan dengan Ayub 42:1-2!

 

Kira-kira saya tahu apa yang akan anda jawabkan terhadap ketiga point ini. Anda pasti menggunakan pra-pengetahuan Allah. Jadi, Allah sudah tahu akan ada orang yang melakukan pengundian itu, Allah juga sudah tahu kalau Yunus akan membandel, dsb. Tetapi kalau Allah sudah tahu, maka hal-hal itu sudah pasti terjadi, dan itu berarti hal-hal itu sudah tertentu. Dan kalau sudah tertentu, pasti Allah yang menentukan!

Disamping, kalau Allah menentukan berdasarkan apa yang Dia tahu akan dilakukan oleh manusia dengan kehendak bebasnya, maka:

 

1.   Ini akan menjadikan Allahnya tergantung pada manusia. Ini tetap anda sebut berdaulat?

Saya ingin mengingatkan bahwa Kamus Webster memberikan definisi sebagai berikut tentang kata ‘sovereign’ (= berdaulat):

a) Above or superior to all others; chief; greatest; supreme (= Di atas atau lebih tinggi dari semua yang lain; pemimpin / kepala; terbesar; tertinggi).

b) supreme in power, rank, or authority (= tertinggi dalam kuasa, tingkat, atau otoritas).

c) of or holding the position of a ruler; royal; reigning (= mempunyai atau memegang posisi sebagai pemerintah; raja; bertahta).

d) independent of all others (= tidak tergantung pada semua yang lain).

Saya tekankan point d nya. Kalau Allah tergantung manusia, itu jelas tidak berdaulat!

 

2.   Ini akan bertentangan dengan dengan Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

Yakub sudah dipilih, Esau sudah ditolak, sebelum mereka dilahirkan, supaya pemilihan Allah (yang jelas merupakan penentuan / rencana Allah) TIDAK TERGANTUNG perbuatan manusia, tetapi tergantung panggilan Allah.

Jadi, bagaimana dengan adanya ayat seperti ini anda bisa mengatakan bahwa rencana Allah tergantung kepada manusia?

 

3.   Ini juga akan bertentangan dengan Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

Text ini jelas menunjukkan bahwa apa yang manusia akan lakukan (percaya Yesus, hidup kudus, dsb) bisa terjadi karena penentuan Allah / pemilihan Allah atas dirinya. Jadi, jangan dibalik! Kalau ajaran anda, Allah tahu orang-orang itu akan percaya dan kudus, dan karena itu Allah memilih mereka. Ini betul-betul terbalik dibandingkan dengan Ef 1:4-5 itu!

 

2)   Anda mengatakan: ‘Yang tidak Allah tentukan adalah keputusan-keputusan makhluk-makhluk yang berkehendak bebas’.

 

Sekarang coba bandingkan dengan ayat-ayat ini:

·         Daniel 11:36 - “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi”.

Ini menunjukkan bahwa dosa dari raja ini, dimana ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah, dan akan mengucapkan kata-kata tak senonoh terhadap Allah, yang sudah pasti berhubungan dengan kehendak bebasnya, sudah ditetapkan, dan karena itu pasti akan terjadi.

·         Hab 1:12 - “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.

Biarpun penindasan yang dilakukan oleh orang Kasdim terhadap orang Israel / Yehuda merupakan hukuman Tuhan bagi mereka, tetapi itu tetap merupakan suatu dosa, dan karena itu berhubungan dengan kehendak bebasnya. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa hal itu ditetapkan / ditentukan oleh Tuhan!

·         2Sam 17:14 - “Lalu berkatalah Absalom dan setiap orang Israel: ‘Nasihat Husai, orang Arki itu, lebih baik dari pada nasihat Ahitofel.’ Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN mendatangkan celaka kepada Absalom”.

Penolakan oleh Absalom terhadap nasehat Ahitofel yang baik itu terjadi karena keputusan Allah! Apakah ini tidak menunjukkan bahwa penolakan itu, yang jelas berhubungan dengan manusia yang mempunyai kehendak bebas, juga ditentukan oleh Allah?

·         Luk 17:25 - “Tetapi Ia harus menanggung banyak penderitaan dahulu dan ditolak oleh angkatan ini”.

Perhatikan kata ‘harus’ di sini. Penolakan dan penyiksaan terhadap Yesus itu harus terjadi, dan ini lagi-lagi merupakan dosa-dosa yang berhubungan dengan kehendak bebas orang-orang itu.

·         Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus, yang jelas adalah suatu dosa, dan berhubungan dengan kehendak bebas Yudas Iskariot, telah ditetapkan oleh Allah.

·         Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 3:18 - “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap Kristus (ini adalah dosa yang paling terkutuk), yang lagi-lagi berhubungan dengan kehendak bebas orang-orang itu, sudah ditentu­kan sejak semula. Perhatikan khususnya kata-kata ‘menurut maksud dan rencanaNya’ dalam Kis 2:23, dan juga kata ‘tentukan’ dalam Kis 4:28. Jelas ini bukan sekedar menunjuk pada foreknowledge (= pengetahuan lebih dulu) dari Allah, tetapi menunjuk pada foreordination (= penetapan lebih dulu) dari Allah.

 

Semua ayat-ayat di atas ini membicarakan dosa yang pasti terjadi, karena sudah ditetapkan oleh Allah. Dan karena ini bicara tentang dosa, maka pasti berurusan dengan free will, bukan? Jadi, apa yang dilakukan manusia dengan bebas, tetap ditentukan Allah, bukan? Kalau tidak, tolong tafsirkan ayat-ayat di atas ini satu per satu!

 

Kedua, walaupun Allah tidak menentukan keputusan manusia, Allah menentukan apakah keputusan itu bisa sampai atau tidak. Alkitab selalu menyuruh manusia untuk memilih yang baik, menentukan yang benar, dan memutuskan secara bertanggung jawab. Ini adalah bukti implisit bahwa Allah tidak menentukan itu semua bagi manusia. Manusialah yang membuat berbagai keputusan bagi dirinya sendiri. Namun demikian, Allah dapat menentukan apakah keputusan manusia itu akan sampai atau tidak. Seseorang bisa saja memutuskan untuk membunuh temannya. Itu adalah keputusannya sendiri. Jika kita percaya bahwa Allah mahakudus, dan juga percaya bahwa manusia bertanggung jawab, kita tidak dapat mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, Tuhan menentukan apakah keputusan orang tadi untuk membunuh akan terlaksana atau tidak. Tuhan bisa mengintervensi dengan berbagai cara. Orang itu bisa saja terkena serangan jantung atau tertimpa kecelakaan sebelum sempat melaksanakan niatnya. Intinya, Tuhan bisa memastikan bahwa niatnya tidak kecapaian. Oleh sebab itulah penulis Amsal berkata, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21). Bukan berarti bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Justru ayat ini mengajarkan bahwa rancangan dalam hati tiap individu adalah rancangan dia sendiri. Itu keputusannya! Tetapi, Allah bisa mengintervensi sehingga niatnya tidak kesampaian, melainkan rencana Tuhan yang jadi!

 

Tanggapan saya:

 

1)   Lagi-lagi Allah memutuskan berdasarkan keputusan manusia. Allah tergantung kepada manusia! Dan itu anda sebut berdaulat? Juga, Allah menentukan itu kapan? Pada minus tak terhingga bukan? Lalu manusia itu memutuskan kapan? Dalam waktu, bukan? Bagaimana mungkin apa yang terjadi lebih dulu tergantung pada apa yang terjadi belakangan? Lagi-lagi anda pasti menjawab dengan menunjuk pada pengathuan lebih dulu dari Allah. Dalam hal ini saya menjawab seperti di atas (tak perlu saya ulangi di sini).

 

2)   Anda mengatakan: ‘Alkitab selalu menyuruh manusia untuk memilih yang baik, menentukan yang benar, dan memutuskan secara bertanggung jawab. Ini adalah bukti implisit bahwa Allah tidak menentukan itu semua bagi manusia. Manusialah yang membuat berbagai keputusan bagi dirinya sendiri.’.

Ini cuma didasarkan pada logika anda, Liauw. Tak masalah seandainya tak bertentangan dengan Alkitab. Tetapi ternyata ini bertentangan dengan Alkitab. Saya akan tunjukkan. Dalam firmanNya Allah memerintahkan semua orang percaya Yesus, bukan? Tetapi ternyata dalam hal ini, Allah memilih / menentukan orang-orang yang akan percaya kepada Yesus dan masuk surga.

Ef 1:4-5 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya.

1Tes 5:9 - “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

2Tes 2:12-13 - “(12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan. (13) Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai.

 

Jadi, jelas bahwa adanya perintah Allah TIDAK MEMBUKTIKAN, bahwa Allah tidak menentukan! Kalau anda tidak setuju, tolong jelaskan ayat-ayat di atas ini, Liauw, sehingga menjadi sesuai dengan pandangan anda!

 

3)   Anda mengatakan ‘Namun demikian, Allah dapat menentukan apakah keputusan manusia itu akan sampai atau tidak. Seseorang bisa saja memutuskan untuk membunuh temannya. Itu adalah keputusannya sendiri. Jika kita percaya bahwa Allah mahakudus, dan juga percaya bahwa manusia bertanggung jawab, kita tidak dapat mengatakan bahwa keputusan untuk membunuh telah ditentukan Tuhan. Namun demikian, Tuhan menentukan apakah keputusan orang tadi untuk membunuh akan terlaksana atau tidak. Tuhan bisa mengintervensi dengan berbagai cara. Orang itu bisa saja terkena serangan jantung atau tertimpa kecelakaan sebelum sempat melaksanakan niatnya. Intinya, Tuhan bisa memastikan bahwa niatnya tidak kecapaian’.

 

Aneh sekali! Jadi, hasil akhirnya ditentukan, tetapi prosesnya tidak. Bagaimana kalau dalam perjalanan proses itu, tahu-tahu manusia itu tidak melakukan pembunuhan itu? Sedangkan Tuhan sudah memutuskan pembunuhan itu berhasil atau tidak? Lagi-lagi saya yakin anda akan menjawab menggunakan pra pengetahuan Allah. Terhadap hal-hal ini lagi-lagi saya memberikan jawaban seperti di atas.

 

4)   Anda mengatakan ‘Oleh sebab itulah penulis Amsal berkata, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana” (Ams. 19:21). Bukan berarti bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Justru ayat ini mengajarkan bahwa rancangan dalam hati tiap individu adalah rancangan dia sendiri. Itu keputusannya! Tetapi, Allah bisa mengintervensi sehingga niatnya tidak kesampaian, melainkan rencana Tuhan yang jadi!’.

 

Ayat ini hanya menunjukkan dari sudut pandang manusia. Memang kelihatannya manusia itu yang merancang, tetapi dari mana rancangan manusia itu? Dari Tuhan, yang mengaturnya, atau secara aktif, atau secara pasif, sesuai dengan rencanaNya. Ini sesuai dengan banyak ayat yang menunjukkan bahwa Tuhan yang bekerja sehingga seseorang melakukan sesuatu. Contoh:

 

a)   Amsal 21:1 - “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkanNya ke mana Ia ingini”.

Dalam tafsirannya tentang ayat ini bahkan Adam Clarke, yang adalah orang Arminian yang keras berkata sebagai berikut: “‘The king’s heart is in the hand of the Lord.’ The Lord is the only ruler of princes. He alone can govern and direct their counsels. But there is an allusion here to the Eastern method of watering their lands. Several canals are dug from one stream; and by opening a particular sluice, the husbandman can direct a stream to whatever part he please: so the king’s heart, wherever it turns; i.e., to whomsoever he is disposed to show favour. As the land is enriched with the streams employed in irrigation; so is the favourite of the king, by the royal bounty: and God can induce the king to give that bounty to whomsoever he will”.

 

Bandingkan Amsal 21:1 ini dengan:

Ezra 1:1 - “Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini”.

Luk 2:1-3 - “(1) Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. (2) Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. (3) Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri”.

Sekalipun tak dinyatakan secara explicit, tetapi jelas perintah kaisar itu muncul karena Tuhan bekerja dalam hatinya. Nubuat dari nabi Mikha mengatakan Yesus harus lahir di Betlehem, tetapi pada saat itu Maria masih di Nazaret. Karena itu Tuhan bekerja dalam hati kaisar, supaya muncul perintah itu, sehingga Yusuf dan Maria terpaksa pergi ke Betlehem, dan Yesus lahir di sana sesuai nubuat Mikha.

Jelas bahwa kaisar itu punya rencana sendiri, tetapi semua diatur / diarahkan oleh Tuhan.

 

b)   Waktu Musa diutus Tuhan kepada Firaun, Tuhan sudah berkata bahwa Ia akan mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21  7:3). Itu yang menyebabkan Firaun tidak mau melepaskan Israel dan hatinya menjadi keras (Kel 7:13,22  8:15,19,32  9:7,34,35). Alkitab menuliskan secara explicit bahwa Firaun tidak mau membiarkan Israel pergi karena Tuhan mengeraskan hatinya!

Kel 9:12 - “Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga ia tidak mendengarkan mereka--seperti yang telah difirmankan TUHAN kepada Musa”.

Kel 10:20,27 - “(20) Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak mau membiarkan orang Israel pergi. ... (27) Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga dia tidak mau membiarkan mereka pergi.

Kel 11:10 - “Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.

 

c)   Tuhan yang membuat orang-orang Mesir bermurah hati kepada orang-orang Israel.

Kel 12:35-36 - “(35) Orang Israel melakukan juga seperti kata Musa; mereka meminta dari orang Mesir barang-barang emas dan perak serta kain-kain. (36) Dan TUHAN membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa itu, sehingga memenuhi permintaan mereka. Demikianlah mereka merampasi orang Mesir itu.

 

d)   Tuhan juga yang membuat Firaun mengeraskan hati lagi sehingga mengejar Israel.

Kel 14:1-8 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: (2) ‘Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut. (3) Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. (4) Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaanKu, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.’ Lalu mereka berbuat demikian. (4) Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: ‘Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?’ (5) Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta. (6) Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. (7) Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan”.

 

e)   Hofni dan Pinehas tidak mempedulikan nasehat ayahnya. Mereka yang memutuskan hal itu, tetapi karena apa? Ada pekerjaan Tuhan yang membuat hal itu menjadi keputusan mereka.

1Sam 2:22-25 - “(22) Eli telah sangat tua. Apabila didengarnya segala sesuatu yang dilakukan anak-anaknya terhadap semua orang Israel dan bahwa mereka itu tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, (23) berkatalah ia kepada mereka: ‘Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? (24) Janganlah begitu, anak-anakku. Bukan kabar baik yang kudengar itu bahwa kamu menyebabkan umat TUHAN melakukan pelanggaran. (25) Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap TUHAN, siapakah yang menjadi perantara baginya?’ Tetapi tidaklah didengarkan mereka perkataan ayahnya itu, sebab TUHAN hendak mematikan mereka.

 

f)    Ahab memutuskan untuk bertindak berdasarkan nasehat nabi-nabi palsunya. Tetapi di belakang ini ada penentuan dan pekerjaan Tuhan untuk melaksanakan penentuannya untuk menimpakan malapetaka terhadap Ahab.

1Raja 22:19-23 - “(19) Kata Mikha: ‘Sebab itu dengarkanlah firman TUHAN. Aku telah melihat TUHAN sedang duduk di atas takhtaNya dan segenap tentara sorga berdiri di dekatNya, di sebelah kananNya dan di sebelah kiriNya. (20) Dan TUHAN berfirman: Siapakah yang akan membujuk Ahab untuk maju berperang, supaya ia tewas di Ramot-Gilead? Maka yang seorang berkata begini, yang lain berkata begitu. (21) Kemudian tampillah suatu roh, lalu berdiri di hadapan TUHAN. Ia berkata: Aku ini akan membujuknya. TUHAN bertanya kepadanya: Dengan apa? (22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’”.

 

Para nabi palsu itu punya rencana. 1Raja 22:13 - “Suruhan yang pergi memanggil Mikha itu, berkata kepadanya: ‘Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja, hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan meramalkan yang baik.’”.

Tetapi tanpa mereka sadari Allah menguasai semuanya dan mengarahkannya sesuai dengan kehendak / rencana Allah!

 

g)   Yes 10:5-7,12 - “(5) Celakalah Asyur, yang menjadi cambuk murkaKu dan yang menjadi tongkat amarahKu! (6) Aku akan menyuruhnya terhadap bangsa yang murtad, dan Aku akan memerintahkannya melawan umat sasaran murkaKu, untuk melakukan perampasan dan penjarahan, dan untuk menginjak-injak mereka seperti lumpur di jalan. (7) Tetapi dia sendiri tidak demikian maksudnya dan tidak demikian rancangan hatinya, melainkan niat hatinya ialah hendak memunahkan dan hendak melenyapkan tidak sedikit bangsa-bangsa. ... (12) Tetapi apabila Tuhan telah menyelesaikan segala pekerjaanNya di gunung Sion dan di Yerusalem, maka Ia akan menghukum perbuatan ketinggian hati raja Asyur dan sikapnya yang angkuh sombong”.

Text ini secara menyolok menunjukkan bahwa pada waktu Asyur menyerang dan mengalahkan Israel, mereka mempunyai rencana, tetapi di belakang rencana mereka ada rencana Allah. Ada persamaannya, yaitu Asyur akan menyerang dan mengalahkan Israel. Tetapi kalau motivasi Allah adalah untuk menghajar Israel karena kemurtadan mereka, maka motivasi Asyur adalah untuk memunahkan Israel (ay 7). Karena itu, setelah mereka dipakai oleh Tuhan sebagai ‘cambuk murka’ dan ‘tongkat amarah’, Tuhan lalu menghukum Asyur (ay 12)!

 

h)      Rancangan saudara-saudara Yusuf vs rancangan Allah.

Kej 50:20 - “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar”.

Ini secara explicit menunjukkan bahwa sekalipun saudara-saudara Yusuf mereka-rekakan / memaksudkan yang jahat terhadap Yusuf, tetapi Allah telah mereka-rekakannya / memaksudkannya untuk kebaikan! Jadi, jelas bahwa Allah bekerja menggunakan dosa dari saudara-saudara Yusuf demi kebaikan Yusuf / Israel.

Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:

“The selling of Joseph was a crime detestable for its cruelty and perfidy; yet he was not sold except by the decree of heaven. For neither did God merely remain at rest, and by conniving for a time, let loose the reins of human malice, in order that afterwards he might make use of this occasion; but, at his own will, he appointed the order of acting which he intended to be fixed and certain. Thus we may say with truth and propriety, that Joseph was sold by the wicked consent of his brethren, and by the secret providence of God” (= Penjualan terhadap Yusuf adalah suatu kejahatan yang menjijikkan karena kekejaman dan pengkhianatannya; tetapi ia tidak dijual kecuali oleh ketetapan dari surga. Karena Allah bukannya semata-mata berdiam diri, dan sambil menutup mata / pura-pura tidak melihat untuk sementara waktu, melepaskan kendali terhadap keinginan jahat manusia, supaya setelah itu ia bisa menggunakan kejadian ini; tetapi, pada kehendakNya sendiri, Ia menetapkan urut-urutan tindakan yang Ia maksudkan untuk menjadi tetap dan tertentu. Jadi kita bisa berkata dengan benar dan tepat, bahwa Yusuf dijual oleh persetujuan jahat dari saudara-saudaranya, dan oleh providensia rahasia dari Allah).

 

Jadi, jelaslah bahwa segala sesuatu adalah atas izin Tuhan, tetapi bukan segala sesuatu ditetapkan oleh Tuhan. Ada perbedaan antara mengizinkan sesuatu dengan menetapkan sesuatu. Mengizinkan sesuatu berarti kehendak untuk melakukan berasal dari pihak lain. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa Allah mengizinkan dosa (untuk sementara waktu), dan Allah tidak bertanggung jawab atas dosa. Tetapi, jika Allah menentukan harus ada dosa, maka Allah bertanggung jawab akan dosa.

 

Tanggapan saya:

1)   Kesia-siaan penggunaan istilah ‘ijin’ ini untuk ‘melindungi’ kesucian Allah.

Banyak orang senang menggunakan istilah ‘ijin’ ini untuk melindungi kesucian Allah. Mereka berpikir bahwa kalau Allah menentukan dosa maka Allah sendiri berdosa / tidak suci. Tetapi kalau Allah hanya mengijinkan terjadinya dosa, maka Allah tidak bersalah dan tetap suci. Tetapi ini salah, karena kalau ‘penentuan Allah tentang terja­dinya dosa’ dianggap sebagai dosa, maka ‘pemberian ijin dari Allah sehingga dosa terjadi’ juga harus dianggap sebagai dosa, yaitu dosa pasif. Sama halnya kalau saya membunuh orang, maka itu adalah dosa (dosa aktif). Tetapi kalau saya membiarkan / mengijinkan seseorang bunuh diri / membunuh orang lain, padahal saya bisa mencegahnya, maka saya juga berdosa (dosa pasif).

Bdk. Yak 4:17 - “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa”.

Herman Hoeksema: “Nor must we, in regard to the sinful deeds of men and devils, speak only of God’s permission in distinction from His determination. Holy Scripture speaks a far more positive language. We realize, of course, that the motive for speaking God’s permission rather than of His predetermined will in regard to sin and the evil deeds of men is that God may never be presented as the author of sin. But this purpose is not reached by speaking of God’s permission or His permissive will: for if the Almighty permits what He could just as well have prevented, it is from an ethical viewpoint the same as if He had committed it Himself. But in this way we lose God and His sovereignty: for permis­sion presupposes the idea that there is a power without God that can produce and do something apart from Him, but which is simply permitted by God to act and operate. This is dualism, and it annihilates the complete and absolute sovereignty of God. And therefore we must main­tain that also sin and all the wicked deeds of men and angels have a place in the counsel of God, in the counsel of His will. Thus it is taught by the Word of God” (= Juga kita tidak boleh, berkenaan dengan tindakan-tindakan berdosa dari manusia dan setan, berbicara hanya tentang ijin Allah dan membedakannya dengan penentuan / penetapanNya. Kitab Suci berbicara dengan suatu bahasa yang jauh lebih positif. Tentu saja kita menyadari bahwa motivasi untuk menggunakan istilah ‘ijin Allah’ dari pada ‘kehendakNya yang sudah ditetapkan lebih dulu’ berkenaan dengan dosa dan tindakan-tindakan jahat dari manusia adalah supaya Allah tidak pernah dinyatakan sebagai pencipta dosa. Tetapi tujuan ini tidak tercapai dengan menggunakan ‘ijin Allah’ atau ‘kehendak yang mengijinkan dari Allah’: karena jika Yang Maha Kuasa mengijinkan apa yang bisa Ia cegah, dari sudut pandang etika itu adalah sama seperti jika Ia melakukan hal itu sendiri. Tetapi dengan cara ini kita kehilangan Allah dan kedaulatanNya: karena ijin mensyaratkan suatu gagasan bahwa ada suatu kekuatan di luar Allah yang bisa menghasilkan dan melakukan sesuatu terpisah dari Dia, tetapi yang diijinkan oleh Allah untuk bertindak dan beroperasi. Ini merupakan dualisme, dan ini menghapuskan kedaulatan Allah yang lengkap dan mutlak. Dan karena itu kita harus mempertahankan bahwa juga dosa dan semua tindakan-tindakan jahat dari manusia dan malaikat mempunyai tempat dalam rencana Allah, dalam keputusan kehendakNya. Demikianlah diajarkan oleh Firman Allah) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 158.

2)   Istilah ‘Allah mengijinkan’ boleh digunakan, tetapi artinya harus benar. Ini tidak berarti bahwa sebetulnya Allah merencanakan seseorang berbuat baik / tidak berbuat dosa, tetapi karena orangnya memaksa berbuat dosa, maka Allah mengijinkan. Kalau diartikan seperti ini, maka itu berarti bahwa Rencana Allah sudah gagal. ‘Allah mengijinkan’ berarti bahwa Allah bekerja secara pasif dan Ia menggunakan second causes / penyebab-penyebab kedua, tetapi dosa yang diijinkan itu pasti terjadi, persis sesuai dengan Rencana Allah! Jadi digunakannya istilah ‘Allah mengijinkan’ hanyalah karena dalam pelaksanaannya Allah bekerja secara pasif dan Allah menggunakan second causes / penyebab-penyebab kedua.

Louis Berkhof: “It is customary to speak of the decree of God respecting moral evil as permissive. By His decree God rendered the sinful actions of man infallibly certain without deciding to effectuate them by acting immediately upon and in the finite will. This means that God does not positively work in man ‘both to will and to do’, when man goes con­trary to His revealed will. It should be carefully noted, however, that this permissive decree does not imply a passive permission of something which is not under the control of the divine will. It is a decree which renders the future sinful acts absolutely certain, but in which God determines (a)not to hinder the sinful self-determination of the finite will; and (b)to regulate and control the result of this sinful self-determination” [= Merupakan kebiasaan untuk berbicara tentang ketetapan Allah berkenaan dengan kejahatan moral sebagai bersifat mengijinkan. Oleh ketetapanNya Allah membuat tindakan-tindakan berdosa dari manusia menjadi pasti tanpa menetapkan untuk menyebabkan mereka terjadi dengan bertindak langsung dan bertindak dalam kehendak terbatas (kehendak manusia) itu. Ini berarti bahwa Allah tidak secara positif bekerja dalam manusia ‘baik untuk menghendaki dan untuk melakukan’, pada waktu manusia berjalan bertentangan dengan kehendakNya yang dinyatakan. Tetapi harus diperhatikan baik-baik bahwa ketetapan yang bersifat mengijinkan tidak berarti suatu ijin pasif dari sesuatu yang tidak ada di bawah kontrol dari kehendak ilahi. Itu merupakan suatu ketetapan yang membuat tindakan berdosa yang akan datang itu pasti secara mutlak, tetapi dalam mana Allah menentukan (a) tidak menghalangi keputusan yang berdosa yang dilakukan sendiri oleh kehendak terbatas / kehendak manusia; dan (b) mengatur dan mengontrol akibat / hasil dari keputusan berdosa ini] - ‘Systematic Theology’, hal 105.

William G. T. Shedd: “When God executes his decree that Saul of Tarsus shall be ‘a vessel of mercy’, he works efficiently within him by his Holy Spirit ‘to will and to do’. When God executes his decree that Judas Iscariot shall be ‘a vessel of wrath fitted for destruction’, he does not work efficiently within him ‘to will and to do’, but permissively in the way of allowing him to have his own wicked will. He decides not to restrain him or to regenerate him, but to leave him to his own obstinate and rebellious inclination and purpose; and accordingly ‘the Son of man goeth, as it was determined, but woe unto that man by whom he is betrayed’ (Luke 22:22; Acts 2:23). The two Divine methods in the two cases are plainly different, but the perdition of Judas was as much foreordained and free from chance, as the conversion of Saul” [= Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Saulus dari Tarsus akan menjadi ‘bejana / benda belas kasihan’, Ia bekerja secara efisien di dalamnya dengan Roh KudusNya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’. Pada waktu Allah melaksanakan ketetapanNya bahwa Yudas Iskariot akan menjadi ‘bejana kemurkaan yang cocok untuk kehancuran / benda kemurkaan yang telah dipersiapkan untuk kebinasaan’, Ia tidak bekerja secara efisien dalam dirinya ‘untuk mau / menghendaki dan untuk melakukan’, tetapi dengan cara mengijinkan dia mempunyai kehendak jahatnya sendiri. Ia memutuskan untuk tidak mengekang dia atau melahirbarukan dia, tetapi membiarkan dia pada kecondongan dan rencananya sendiri yang keras kepala dan bersifat memberontak; dan karena itu ‘Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan’ (Luk 22:22; Kis 2:23). Kedua metode ilahi dalam kedua kasus ini jelas berbeda, tetapi kebinasaan Yudas ditentukan lebih dulu dan bebas dari kebetulan, sama seperti pertobatan Saulus] - ‘Calvinism: Pure & Mixed’, hal 31.

3)   Komentar-komentar Calvin yang menyerang istilah ‘Allah mengijinkan’.

Calvin: “God wills that the false king Ahab be deceived; the devil offers his services to this end; he is sent, with a definite command, to be a lying spirit in the mouth of all the prophets (1Kings 22:20,22). If the blinding and insanity of Ahab be God’s judgment, the figment of bare permission vanishes: because it would be ridiculous for the Judge only to permit what he wills to be done, and not also to decree it and to command its execution by his ministers” [= Allah menghendaki bahwa raja Ahab yang tidak benar ditipu; setan menawarkan pelayanannya untuk tujuan ini; ia dikirim, dengan perintah yang pasti, untuk menjadi roh dusta dalam mulut semua nabi (1Raja 22:20,22). Jika pembutaan dan kegilaan Ahab adalah penghakiman Allah, isapan jempol tentang ‘sekedar ijin’ hilang: karena adalah menggelikan bagi sang Hakim untuk hanya mengijinkan apa yang Ia kehendaki untuk dilakukan, dan tidak juga menetapkannya dan memerintahkan pelaksanaannya oleh pelayan-pelayanNya] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

Calvin: “Those who are moderately versed in the Scriptures see that for the sake of brevity I have put forward only a few of many testimonies. Yet from these it is more than evident that they babble and talk absurdly who, in place of God’s providence, substitute bare permission - as if God sat in a watchtower awaiting chance events, and his judgments thus depended upon human will”(= Mereka yang betul-betul mengetahui Kitab Suci melihat bahwa untuk singkatnya saya hanya memberikan sedikit dari banyak kesaksian. Tetapi dari kesaksian-kesaksian ini adalah lebih dari jelas bahwa mereka mengoceh dan berbicara secara menggelikan yang, menggantikan providensia Allah dengan ‘sekedar ijin’ - seakan-akan Allah duduk di menara pengawal menunggu kejadian-kejadian yang terjadi secara kebetulan, dan dengan demikian penghakimanNya ter-gantung pada kehendak manusia) - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVIII, no 1.

4)   Banyaknya ayat yang menunjukkan Allah menentukan / menetapkan dosa, dan / atau bekerja (secara aktif) sehingga dosa terjadi, tidak memungkinkan untuk diartikan hanya sebagai semata-mata pemberian suatu ijin.

a)            Kej 45:5-8 - “(5) Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu. (6) Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai. (7) Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. (8) Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir”.

Khususnya perhatikan kata-kata ‘Allah menyuruh aku mendahului kamu’ (ay 5,7) dan ‘bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah’ (ay 8). Bdk. Maz 105:17 - ‘diutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual sebagai budak’.

Semua ini menunjukkan bahwa penjualan Yusuf ke Mesir, yang jelas adalah suatu dosa, merupakan pekerjaan Allah, yang melakukan semua itu untuk melaksanakan rencana tertentu.

Dalam tafsirannya tentang bagian ini, Calvin berkata:

“Good men are ashamed to confess, that what men undertake cannot be accomplished except by the will of God; fearing lest unbridled tongues should cry out immediately, either that God is the author of sin, or that wicked men are not to be accused of crime, seeing they fulfil the counsel of God. But although this sacrilegious fury cannot be effectually rebutted, it may suffice that we hold it in detestation. Meanwhile, it is right to maintain, what is declared by the clear testimonies of Scripture, that whatever men may contrive, yet, amidst all their tumult, God from heaven overrules their counsels and attempts; and, in short, does, by their hands, what he himself decreed” (= Orang-orang saleh malu mengakui, bahwa apa yang manusia lakukan tidak bisa tercapai kecuali oleh kehendak Allah; karena mereka takut bahwa lidah-lidah yang tidak dikekang akan segera berteriak, bahwa Allah adalah pencipta dosa, atau bahwa orang jahat tak boleh dituduh karena kejahatannya, mengingat mereka menggenapi rencana Allah. Tetapi sekalipun kemarahan yang tidak senonoh ini tidak bisa dibantah secara efektif, cukuplah kalau kita menganggapnya sebagai sesuatu yang menjijikkan. Sementara itu, adalah benar untuk mempertahankan, apa yang dinyatakan oleh kesaksian yang jelas dari Kitab Suci, bahwa apapun yang manusia usahakan / rencanakan, di tengah-tengah segala keributan mereka, Allah dari surga menguasai rencana dan usaha mereka, dan, singkatnya, melakukan dengan tangan mereka apa yang Ia sendiri tetapkan).

Calvin melanjutkan dengan berkata: “Good men, who fear to expose the justice of God to the calumnies of the impious, resort to this distinction, that God wills some things, but permits others to be done. As if, truly, any degree of liberty of action, were he to cease from governing, would be left to men. If he had only permitted Joseph to be carried into Egypt, he had not ordained him to be the minister of deliverance to his father Jacob and his sons; which he is now expressly declared to have done. Away, then, with that vain figment, that, by the permission of God only, and not by his counsel or will, those evils are committed which he afterwards turns to a good account” (= Orang-orang saleh, yang takut membuka keadilan Allah terhadap fitnahan dari orang-orang jahat, memutuskan untuk mengadakan pembedaan ini, yaitu bahwa Allah menghendaki beberapa hal, tetapi mengijinkan hal-hal yang lain untuk dilakukan. Seakan-akan Ia berhenti dari tindakan memerintah, dan memberikan kebebasan bertindak tertentu kepada manusia. Jika Ia hanya mengijinkan Yusuf untuk dibawa ke Mesir, Ia tidak menetapkannya untuk menjadi pembebas bagi ayahnya Yakub dan anak-anaknya; yang dinyatakan secara jelas telah dilakukanNya. Maka singkirkanlah isapan jempol yang sia-sia yang mengatakan bahwa hanya karena ijin Allah, dan bukan karena rencana atau kehendakNya, hal-hal yang jahat itu dilakukan, yang setelah itu Ia balikkan menjadi sesuatu yang baik).

b)   Kel 1:8-10 - “(8) Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf. (9) Berkatalah raja itu kepada rakyatnya: ‘Bangsa Israel itu sangat banyak dan lebih besar jumlahnya dari pada kita. (10) Marilah kita bertindak dengan bijaksana terhadap mereka, supaya mereka jangan bertambah banyak lagi dan - jika terjadi peperangan - jangan bersekutu nanti dengan musuh kita dan memerangi kita, lalu pergi dari negeri ini.’”.

Bdk. Maz 105:25 - “diubahNya hati mereka (orang Mesir) untuk membenci umatNya, untuk memperdayakan hamba-hambaNya”. Jelas dikatakan bahwa Tuhanlah yang mengubah hati orang Mesir untuk membenci Israel, supaya dengan demikian rencanaNya bisa terlaksana.

c)   Ul 2:30 - “Tetapi Sihon, raja Hesybon, tidak mau memberi kita berjalan melalui daerahnya, sebab TUHAN, Allahmu, membuat dia keras kepala dan tegar hati, dengan maksud menyerahkan dia ke dalam tanganmu, seperti yang terjadi sekarang ini”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allahlah yang mengeraskan hati Sihon supaya bisa menyerahkannya ke tangan Israel.

d)            Yos 11:20 - “Karena TUHAN yang menyebabkan hati orang-orang itu menjadi keras, sehingga mereka berperang melawan orang Israel, supaya mereka ditumpas, dan jangan dikasihani, tetapi dipunahkan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allah mengeraskan hati orang Kanaan supaya mereka tidak dikasihani tetapi ditumpas.

e)   Hak 9:22-24 - “(22) Setelah tiga tahun lamanya Abimelekh memerintah atas orang Israel, (23) maka Allah membangkitkan semangat jahat di antara Abimelekh dan warga kota Sikhem, sehingga warga kota Sikhem itu menjadi tidak setia kepada Abimelekh, (24) supaya kekerasan terhadap ketujuh puluh anak Yerubaal dibalaskan dan darah mereka ditimpakan kepada Abimelekh, saudara mereka yang telah membunuh mereka dan kepada warga kota Sikhem yang membantu dia membunuh saudara-saudaranya itu”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allah membangkitkan semangat jahat dalam diri orang-orang tertentu, supaya memberontak terhadap Abimelekh (anak Yerubaal / Gideon), supaya Ia bisa menghukum baik Abimelekh maupun orang-orang Sikhem karena pembunuhan yang mereka lakukan terhadap anak-anak Yerubaal / Gideon yang lain dalam Hak 9:1-5.

f)            Hak 14:4 - “Tetapi ayahnya dan ibunya tidak tahu bahwa hal itu dari pada TUHAN asalnya: sebab memang Simson harus mencari gara-gara terhadap orang Filistin. Karena pada masa itu orang Filistin menguasai orang Israel”.

Simson mau kawin dengan orang Filistin / kafir (Hak 14:1-2), dan ayahnya menasehatinya untuk tidak melakukan hal itu, karena itu jelas adalah dosa (Hak 14:3). Dan dalam ay 4 dikatakan bahwa hal itu datang dari Tuhan, karena Tuhan menghendaki Simson mencari gara-gara terhadap orang Filistin!

g)            2Sam 12:11 - “Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan” (bdk. 2Sam 16:20-23).

Ayat ini menunjukkan bahwa peristiwa hubungan sex antara Absalom dan gundik-gundik Daud, yang bisa dikatakan merupakan perkosaan dan incest (perzinahan dalam keluarga) merupakan pekerjaan Tuhan!

h)            2Sam 16:10-11 - “(10) Tetapi kata raja: ‘Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?’ (11) Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: ‘Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian”.

Daud / ayat ini mengatakan bahwa Tuhan ‘menyuruh’ Simei mengutuki Daud. Tetapi kata ‘menyuruh’ di sini tentu tidak bisa diartikan seakan-akan Tuhan betul-betul berfirman kepada Simei supaya mengutuki Daud. Kata ‘menyuruh’ di sini harus diartikan ‘bekerja sehingga’ atau ‘mengatur sehingga’. Penafsiran ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, karena penafsiran ini sejalan dengan beberapa ayat yang lain seperti:

1.      Kej 45:7-8 yang mengatakan bahwa Allah ‘menyuruh’ Yusuf ke Mesir untuk memelihara Israel. Bandingkan juga dengan Maz 105:17 yang menggunakan istilah ‘diutusNya’. Padahal Allah sama sekali tidak pernah berfirman untuk menyuruh / mengutus Yusuf pergi ke Mesir. Yusuf pergi ke Mesir karena dipaksa oleh sikon, yaitu pada waktu ia dijual sebagai budak. Tetapi karena ini semua merupakan pengaturan Allah, maka digunakan istilah Allah ‘menyuruh’ / ‘mengutus’.

2.      1Raja 17:4,9 dimana Allah berfirman kepada Elia bahwa Ia telah ‘memerintahkan’ burung gagak dan seorang janda di Sarfat untuk memberi makan Elia. Tetapi Allah tidak betul-betul berbicara kepada burung gagaknya, melainkan Allah hanya ‘mengatur’ sehingga burung gagak itu memberi makan Elia. Demikian juga dengan janda di Sarfat itu. Pada waktu Elia sampai di Sarfat, janda itu tidak tahu apa-apa tentang persoalan memberi makan Elia. Jadi jelas bahwa Tuhan tidak betul-betul berfirman kepadanya supaya ia memberi makan Elia. Tuhan hanya ‘mengatur’ supaya janda itu memberi makan Elia.

i)            1Raja 11:14,23 - “(14) Kemudian TUHAN membangkitkan seorang lawan Salomo, yakni Hadad, orang Edom; ia dari keturunan raja Edom. ... (23) Allah membangkitkan pula seorang lawan Salomo, yakni Rezon bin Elyada, yang telah melarikan diri dari tuannya, yakni Hadadezer, raja Zoba”.

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhanlah membangkitkan lawan-lawan untuk memberontak terhadap Salomo, padahal pemberontakan adalah suatu dosa (bdk. Ro 13:1-7).

j)            1Raja 12:15,24 - “(15) Jadi raja tidak mendengarkan permintaan rakyat, sebab hal itu merupakan perubahan yang disebabkan TUHAN, supaya TUHAN menepati firman yang diucapkanNya dengan perantaraan Ahia, orang Silo, kepada Yerobeam bin Nebat. ... (24) Beginilah firman TUHAN: Janganlah kamu maju dan janganlah kamu berperang melawan saudara-saudaramu, orang Israel. Pulanglah masing-masing ke rumahnya, sebab Akulah yang menyebabkan hal ini terjadi.’ Maka mereka mendengarkan firman TUHAN dan pergilah mereka pulang sesuai dengan firman TUHAN itu” (bdk. 2Taw 10:15  11:4).

Bagian ini menunjukkan bahwa Tuhan bekerja sehingga Rehabeam menolak nasehat yang baik dari tua-tua, karena Tuhan mau memecah Israel.

k)            Yes 63:17a - “Ya TUHAN, mengapa Engkau biarkan kami sesat dari jalanMu, dan mengapa Engkau tegarkan hati kami, sehingga tidak takut kepadaMu?”.

Ayat ini mengatakan bahwa kesesatan dan ketegaran hati merupakan pekerjaan Tuhan!

l)            Yer 19:9 - Aku akan membuat mereka memakan daging anak-anaknya laki-laki dan daging anak-anaknya perempuan, dan setiap orang memakan daging temannya, dalam keadaan susah dan sulit yang ditimbulkan musuhnya kepada mereka dan oleh orang-orang yang ingin mencabut nyawa mereka”.

Tuhan membuat orang Yehuda mati oleh pedang lawan (Yer 19:7), dan membiarkan mayat mereka dimakan burung dan binatang (Yer 17:8), dan lalu dalam Yer 19:9 ini dikatakan sesuatu yang mengerikan dimana Tuhan membuat mereka memakan daging anaknya dan daging temannya sendiri! Perbuatan kanibal ini merupakan pekerjaan Tuhan! Bdk. juga dengan Yeh 5:8-10  Yes 49:26.

m)      Rat 2:6b - “Di Sion TUHAN menjadikan orang lupa akan perayaan dan sabat”.

Merayakan hari raya dan hari Sabat adalah sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan, sehingga melupakan / melalaikan hal itu jelas merupakan suatu dosa. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa Tuhanlah yang membuat hal itu!

n)            Yeh 14:9 - “Jikalau nabi itu membiarkan dirinya tergoda dengan mengatakan suatu ucapan - Aku, TUHAN yang menggoda nabi itu - maka Aku akan mengacungkan tanganKu melawan dia dan memunahkannya dari tengah-tengah umatKu Israel”.

Ayat ini terletak dalam suatu kontex dimana Allah mengancam Israel. Ia berkata bahwa kalau ada orang yang pergi kepada seorang nabi palsu dan menanyakan petunjuk kepada nabi itu, maka Allah sendiri akan menjawab orang itu (Yeh 14:7). Lalu dalam Yeh 14:9 dikatakan bahwa pada waktu nabi palsu itu memberi petunjuk, yang tentunya merupakan petunjuk yang sesat, maka Tuhan yang menggoda nabi palsu itu.

o)            Zakh 14:2 - Aku akan mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yerusalem; kota itu akan direbut, rumah-rumah akan dirampoki dan perempuan-perempuan akan ditiduri. Setengah dari penduduk kota itu harus pergi ke dalam pembuangan, tetapi selebihnya dari bangsa itu tidak akan dilenyapkan dari kota itu”.

Ayat ini mengatakan bahwa Tuhan bekerja mengumpulkan segala bangsa untuk memerangi Yehuda / Yerusalem dan mengalahkannya, lalu merampok dan bahkan melakukan pemerkosaan di sana.

p)            Amos 3:6 - “Adakah sangkakala ditiup di suatu kota, dan orang-orang tidak gemetar? Adakah terjadi malapetaka di suatu kota, dan TUHAN tidak melakukannya?”.

Jelas bahwa jawaban atas pertanyaan ini adalah ‘tidak!’.

q)            2Tes 2:11-12 - “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.

Ayat ini mengatakan bahwa Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta!

r)            Daniel 11:36 - “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi”.

Ini menunjukkan bahwa dosa dari raja ini, dimana ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah, dan akan mengucapkan kata-kata tak senonoh terhadap Allah, sudah ditetapkan, dan karena itu pasti akan terjadi.

s)            Hab 1:12 - “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kautetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kautentukan dia untuk menyiksa.

Biarpun penindasan yang dilakukan oleh orang Kasdim terhadap orang Israel / Yehuda merupakan hukuman Tuhan bagi mereka, tetapi itu tetap merupakan suatu dosa. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa hal itu ditetapkan / ditentukan oleh Tuhan!

t)            Luk 22:22 - “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan”.

Ayat ini menunjukkan bahwa pengkhianatan yang dilakukan oleh Yudas terhadap Yesus, yang jelas adalah suatu dosa, telah ditetapkan oleh Allah.

u)   Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

Kis 3:18 - “Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankanNya dahulu dengan perantaraan nabi-nabiNya, yaitu bahwa Mesias yang diutusNya harus menderita”.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu”.

Ayat-ayat di atas ini menunjukkan bahwa pembunuhan terhadap Kristus (ini adalah dosa yang paling terkutuk) sudah ditentu­kan sejak semula. Perhatikan khususnya kata-kata ‘menurut maksud dan rencanaNya’ dalam Kis 2:23, dan juga kata ‘tentukan’ dalam Kis 4:28. Jelas ini bukan sekedar menunjuk pada foreknowledge (= pengetahuan lebih dulu) dari Allah, tetapi menunjuk pada foreordination (= penetapan lebih dulu) dari Allah.

Liauw, cobalah menafsirkan ayat-ayat ini sehingga menjadi cocok dengan ajaran anda tentang ijin Allah itu!

Berdasarkan pemahaman ini, kita juga mengerti mengapa Tuhan selalu melihat hati, lebih daripada hal-hal eksternal. Tuhan Yesus berkata bahwa: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:27-28). Niat dan pikiran berzinah adalah keputusan orang itu, Tuhan tidak menentukannya. Tetapi belum tentu ada kesempatan dan peluang bagi dia untuk melakukan zinah itu. Walau dia tidak pernah berzinah secara fisik, di hadapan Tuhan dia sudah berzinah, karena Tuhan tahu pikiran dan niatnya. Dalam kondisi dan dengan peluang yang tepat, dia tentunya sudah berzinah.

 

Tanggapan saya:

Ini ajaran konyol dari mana, Liauw? Tak ada urusannya dengan persoalan yang sedang anda bahas. Mengapa memikirkan zinah sudah dosa? Karena dosa bukan hanya bisa dilakukan dengan tindakan atau kata-kata, tetapi juga dengan pikiran! Dan kalau anda mengatakan pikiran zinah itu ada karena keputusan orang itu, lagi-lagi saya minta anda baca ayat-ayat yang sangat banyak di atas, untuk melihat apakah memang suatu pikiran jahat semata-mata merupakan keputusan orang itu, atau dibelakang keputusan orang itu ada rencana dan pekerjaan Allah?

 

 

Walaupun Allah tidak menentukan tindakan dan keputusan manusia, Allah senantiasa melakukan berbagai intervensi, agar rencanaNya jadi. Allah tidak pernah menentukan agar orang-orang Sodom menjadi sangat jahat. Itu adalah keputusan mereka. Tetapi, Allah mengintervensi agar kejahatan mereka tidak merusak rencanaNya. Tuhan menghancurkan Sodom dengan hujan belerang. Kita perlu mengucap syukur karena Allah kita mengendalikan sejarah dan senantiasa turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28).

 

Ketiga, rencana Allah dan intervensi yang Allah lakukan bekerja sama dengan kemahatahuan Allah. Kalvinis sering memakai kasus penyaliban Yesus Kristus untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, dan bahkan dosa. Hodge mengajarkan bahwa “Penyaliban Kristus tidak diragukan lagi ditentukan lebih dulu oleh Allah. Tetapi itu adalah tindakan kriminal terbesar yang pernah dilakukan. Karena itu tidak perlu diragukan, Alkitab mengajarkan dosa ditentukan lebih dulu merupakan pengajaran Alkitab.”

Tentu tidak ada orang Kristen yang menyangkal bahwa Allah sudah merencanakan penyelamatan melalui kematian AnakNya, sejak kekekalan bahkan. Ada banyak ayat yang mengajarkan tentang rencana Tuhan ini. Petrus pernah berkhotbah tentang Yesus: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan pra-pengetahuanNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis. 2:23). Apakah ini berarti Allah menentukan tindakan orang-orang Israel yang menyalibkan Yesus? Sama sekali tidak ! Ini adalah asumsi Kalvinis. Kalau anda tidak memiliki bias Kalvinis, anda tidak akan mendapatkan dari ayat-ayat ini bahwa Allahlah yang membuat mereka menyalibkan Yesus! Justru ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja sama dengan kemahatahuanNya.
Orang Israel menyalibkan Yesus atas dasar keinginan mereka sendiri. Semuanya berjalan sesuai dengan rencana Allah, karena Allah mahatahu. Tuhan memutuskan untuk datang ke dalam dunia dalam waktu yang tepat dan dalam kondisi yang tepat. Dan Allah tahu apa tindakan manusia dalam tiap kondisi. Oleh karena itu, Allah dapat merencanakan penyaliban Kristus, tanpa memaksa manusia atau menentukan pilihan manusia. Dengan kata lain, Allah tahu bahwa jika Kristus lahir di zaman tertentu, lalu mengajarkan pengajaran-pengajaran yang benar, lalu melakukan segala yang Kristus lakukan, maka para tua-tua dan imam-imam akan berniat untuk membunuh Yesus. Niat itu sama sekali tidak ditentukan Allah, melainkan adalah keputusan dan tanggung jawab manusia. Yang Allah tentukan adalah bahwa niat mereka bisa tercapai dalam kondisi dan waktu yang tepat, dan mereka berhasil menyalibkan Yesus. Jadi, Allah tidak menentukan dosa terbesar dalam sejarah, Allah mengizinkannya. Dengan kata lain, niat dosa manusia, yang datang dari manusia itu sendiri, Tuhan pergunakan untuk maksud dan tujuan Tuhan!
Hal ini bisa menjawab pertanyaan, mengapa Allah mengizinkan dosa? Tuhan memiliki maksud dan tujuanNya sendiri. Walaupun dosa tidak disebabkan oleh Tuhan, dan tidak ditentukan oleh Tuhan, tetapi untuk sementara waktu Tuhan membiarkan dosa. Selalu ada tujuan dibaliknya. Dalam kasus penyaliban Yesus, kita melihat bagaimana Allah menggunakan dosa manusia untuk justru mendatangkan keselamatan. Sama sekali bukan Tuhan yang menentukan dosa itu, melainkan Tuhan “memelintir dosa itu” untuk tujuanNya. Dalam kasus Yusuf dan saudara-saudaranya, Yusuf bisa mengambil kesimpulan: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kej. 50:20). Dari ayat ini, sama sekali tidak ada indikasi bahwa kejahatan kakak-kakak Yusuf adalah atas penentuan Tuhan. Justru ayat ini mengajarkan konsep yang kita bahas di bagian ini, bahwa dengan kemahatahuanNya dan kemahakuasaanNya, Tuhan memperhitungkan dosa sedemikian rupa dalam rencanaNya, agar dosa itu memainkan peran dalam rencana Tuhan.
Untuk mengulangi sekali lagi, kejahatan manusia dan Iblis tidak Tuhan tentukan. Namun, kejahatan mereka Tuhan izinkan, dan Tuhan pakai untuk maksudNya yang baik. Oleh karena itulah dalam Wahyu dikatakan: “Sebab Allah telah menerangi hati mereka untuk melakukan kehendak-Nya dengan seia sekata dan untuk memberikan pemerintahan mereka kepada binatang itu, sampai segala firman Allah telah digenapi” (Wah. 17:17).

 

Tanggapan saya:

1)   Dari kata-kata anda yang saya beri garis bawah tunggal, terlihat bahwa anda mengakui bahwa rencana penyelamatan melalui penebusan Yesus Kristus sudah ada sejak semula (minus tak terhingga). Kalau penebusan dosa oleh Kristus, melalui kematian dan pembunuhan terhadap Kristus, sudah ditentukan / direncanakan sejak semula, bagaimana mungkin dosa yang ditebus tidak direncanakan? Bagaimana kalau dosa itu lalu tidak terjadi? Lagi-lagi anda pasti bersembunyi dibalik pra pengetahuan Allah. Tetapi untuk ini saya sudah memberikan tanggapan di atas, yang tak perlu saya ulangi di sini.

 

2)   Anda mengatakan ‘Apakah ini berarti Allah menentukan tindakan orang-orang Israel yang menyalibkan Yesus? Sama sekali tidak ! Ini adalah asumsi Kalvinis. Kalau anda tidak memiliki bias Kalvinis, anda tidak akan mendapatkan dari ayat-ayat ini bahwa Allahlah yang membuat mereka menyalibkan Yesus! Justru ayat ini mengajarkan bahwa rencana Allah bekerja sama dengan kemahatahuanNya’.

Omong kosong, Liauw! Dulu saya juga Arminian, karena belum pernah mendengar ajaran Calvinisme. Dan pada waktu saya membaca Alkitab, saya selalu bingung tentang arti dari banyak ayat-ayat Calvinist, seperti yang mengandung kata-kata ‘orang-orang pilihan’, ‘Allah menentukan’, ‘Allah memilih’, ‘Allah mengeraskan hati Firaun’, dan sebagainya. Pada saat itu, saya sama sekali tidak memiliki bias Calvinist! Jadi, kebingungan saya sama sekali bukan disebabkan saya memiliki bias Calvinist! Sekarang setelah saya mengerti ajaran Calvinisme, baru saya bisa mengerti ayat-ayat itu.

 

Saya ingin memberikan satu contoh lain tentang kebingungan saya pada saat itu.

2Sam 24:1 - “Bangkitlah pula murka TUHAN terhadap orang Israel; Ia menghasut Daud melawan mereka, firmanNya: ‘Pergilah, hitunglah orang Israel dan orang Yehuda.’”.

1Taw 21:1 - “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel”.

Cobalah mengharmoniskan kedua ayat ini dengan theologia Arminian anda, Liauw! Dulu waktu saya masih Arminian, saya tidak mengerti bagaimana kedua ayat itu bisa diharmoniskan. Yang satu mengatakan Tuhan yang menghasut, dan yang lain mengatakan Iblis yang membujuk!

Dalam theologia Reformed / Calvinisme, kami mempercayai bahwa segala sesuatu ditetapkan dan diatur oleh Tuhan. Jadi, pada waktu setan / iblis membujuk Daud, setan adalah second cause / penyebab kedua dari dosa Daud itu, sedangkan causa prima / penyebab pertama tetap adalah Tuhan, karena Ialah yang menetapkannya dan mengaturnya (sekalipun dalam pengaturan yang bertindak pasif). Karena Ia adalah causa prima, maka bisa dikatakan ‘Tuhan menghasut Daud’. Jadi, dengan theologia Reformed / Calvinisme, kedua ayat ini bisa diharmoniskan. Tetapi bagaimana theologia Arminianisme bisa mengharmoniskannya? Tolong jawab saya, Liauw!

 

Karena pengalaman saya itu, saya berpendapat bahwa orang-orang yang sudah mendengar dan mengerti ajaran Calvinisme, tetapi tetap menolaknya, adalah orang-orang yang tegar tengkuk! Andalah yang membaca dan menafsirkan ayat-ayat itu dengan bias Arminianisme!

 

 

Sebagai kesimpulan, saya dapat mengatakan bahwa Allah yang berdaulat tidaklah perlu menentukan segala sesuatu. Lebih lanjut lagi, karena Allah mahatahu, karena Ia adalah Pencipta, karena Ia mahakuasa, Ia tidak perlu menentukan pilihan-pilihan manusia agar dapat mengendalikan alam semesta ini.

 

E. Kedaulatan Mana Yang Lebih Agung?

 

Kalvinis banyak menggunakan konsep “kedaulatan Allah” untuk menakut-nakuti non-Kalvinis. Seolah-olah hanya Kalvinis-lah yang percaya dengan sungguh-sungguh akan kedaulatan Tuhan. Seolah-olah, jika Tuhan tidak menentukan segala sesuatu, maka Tuhan kehilangan kendali atas alam semesta ciptaanNya.
Tetapi kita telah melihat, bahwa tidak benar demikian. Definisi “kedaulatan” itu sendiri sama sekali tidak memerlukan penentuan atas segala sesuatu. Kita juga telah melihat bagaimana Allah tetap memegang kendali atas segala sesuatu, walaupun Ia memberikan kehendak bebas pada manusia. Pertanyaan yang muncul justru adalah sebagai berikut: Kedaulatan versi mana yang lebih agung? Kedaulatan Allah versi Kalvinis, di mana Allah menentukan segalanya? Atau kedaulatan versi Alkitab, di mana ada kehendak bebas manusia (yang tidak ditentukan Allah)?

 

Tanggapan saya:

Pertanyaan anda tidak bisa dijawab, Liauw! Yang mana yang lebih agung? Itu berarti salah satu mempercayai kedaulatan yang kurang agung dan yang lain mempunyai kedaulatan yang lebih agung. Padahal menurut saya, Calvinisme mengajarkan kedaulatan Allah yang sungguh-sungguh dan sangat ditinggikan, sedangkan Arminianisme mengajarkan kedaulatan Allah yang sebetulnya bukan kedaulatan Allah! Dengan kata lain, dalam Arminianisme tidak ada kedaulatan Allah! Seperti dikatakan oleh R.C. Sproul bahwa orang yang tidak mempercayai penentuan, sebetulnya tidak percaya kedaulatan Allah, dan Allah yang tidak berdaulat bukanlah Allah. Jadi, sebetulnya orang-orang Arminian mengclaim diri sebagai Atheis!

 

 

Manakah yang lebih hebat dan agung, (1) bahwa rencana Allah terlaksana karena Allah menentukan segala sesuatu, atau (2) bahwa rencana Allah terlaksana walaupun banyak makhluk bebas yang menentangNya, namun tetap rencanaNya yang menang? Manakah yang lebih hebat, berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang segala aspeknya anda tentukan, atau berhasil mengendalikan suatu lingkungan yang terdiri dari pribadi-pribadi bebas lainnya? Manusia dan Iblis dalam skema Kalvinis, telah ditentukan oleh Allah segala pikiran dan tindakan mereka. Bahwa lalu segalanya berjalan sesuai dengan rencana Allah tidaklah mengherankan. Yang kita herankan adalah justru jika segalanya ditentukan Allah, mengapa masih terjadi banyak dosa dan kekacauan. Jika seseorang berhasil mengendalikan 100 robot yang dia buat, untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini bukan hal yang mengagumkan. Toh segalanya tinggal di program. Tetapi, ketika seorang guru berhasil mengendalikan 100 siswa untuk menciptakan suasana persis seperti keinginannya, ini adalah suatu hal yang hebat. 100 siswa ini bisa menentang atau mengikuti keinginan guru tersebut. Jadi, kedaulatan mana yang lebih hebat dan agung? Kedaulatan di mana semuanya sudah ditentukan, atau kedaulatan di mana ada makhluk-makhluk bebas, bahkan banyak yang menentang Allah, tetapi pada akhirnya semuanya sesuai dengan rencana Allah?

 

Tanggapan saya:

Jawaban saya sama dengan di atas. ‘Mana yang lebih hebat’ merupakan pertanyaan yang tidak cocok. Calvinisme mengajarkan kedaulatan Allah, Arminianisme sama sekali tidak. Mestinya kalau tanya: ‘mana yang lebih benar?’, bukan ‘mana yang lebih hebat?’. Peduli apa dengan hebat kalau tidak benar?

 

Jikalau saya mengambil ilustrasi sebuah permainan catur, konsep Kalvinis dapat digambarkan dengan seorang yang bermain catur sendirian. Dia menggerakkan buah-buah putih dan juga buah-buah hitam. Dia menentukan segala sesuatu. Serangan musuh, dia yang tentukan, tangkisannya juga dia yang tentukan. Bisa saja pemain solo ini melakukan acting, dan seolah-olah memerankan dua orang yang sedang bertarung. Tetapi pada dasarnya, dialah yang menentukan setiap langkah. Jikalau permainan ini berakhir dengan kemenangan bagi pihak yang dia pilih, maka tidak ada seorangpun yang perlu kagum. Ini adalah hal yang mendasar. Jika anda menentukan segala sesuatu maka hasil akhir pastilah sesuai keingian anda, ini adalah hukum alam.

 

Tanggapan saya:

Salah dan tolol. Buah catur tak punya kemauan sama sekali. Itu benda mati, tetapi manusia tidak. Jadi, ini ilustrasi tolol yang sama sekali tidak cocok!

 

Tetapi saya ingin gunakan ilustrasi anda ini untuk menyerang anda sendiri. Buah catur itu benda mati yang tak punya kehendak bebas, bukan? Dan itu menurut anda di atas, ditentukan oleh Tuhan, bukan? Jadi, setiap gerakan buah catur sudah ditentukan dan pasti akan terjadi, bukan? Lalu kalau para pemainnya tidak ditentukan untuk main catur, atau tidak ditentukan untuk melangkahkan buah caturnya sesuai rencana / penentuan Tuhan, bagaimana kalau mereka ternyata tidak main catur, atau main catur tetapi menggerakkan buah caturnya secara berbeda dengan penentuan Tuhan? Coba jawab, Liauw!

 

 

Bandingkan dengan konsep yang Alkitabiah. Kembali ke ilustrasi catur, kali ini ada seorang grandmaster yang hebat sekali, melawan pemain yang riil. Lawannya benar-benar berniat mengalahkan sang grandmaster, dan sama sekali tidak ada kolusi. Kolusi saja tidak ada, jadi sang grandmaster sama sekali tidak menentukan langkah-langkah musuhnya. Namun, kemampuan dan penguasaan sang grandmaster begitu jauh di atas lawannya, sehingga ia dapat membaca semua gerakan lawannya itu. Ia benar-benar mengendalikan permainan. Ia menyerang dan bertahan sesuai keinginannya. Bahkan ia memakai gerakan-gerakan musuhnya untuk kepentingannya sendiri. Musuhnya mungkin menggerakkan buah caturnya untuk menyerang, tetapi sang grandmaster tahu, bahwa justru langkah itu bisa dipakai dalam rencananya sendiri.

 

Tanggapan saya:

Konsep Alkitabiah yang tanpa Alkitab, tapi pakai buah catur! Hebat sekali!

Apa yang anda katakan di atas ini mungkin cocok kalau yang dibicarakan adalah kemahakuasaan Allah atau kepintaran Allah, tetapi untuk kedaulatan Allah sama sekali tidak cocok!

 


Dalam kisah mitos Cina, ada seorang pecatur yang legendaris. Kehebatannya terkenal ke mana-mana sehingga raja pun ingin menjajalnya. Jeleknya, raja ini punya sifat yang sombong. Dia merasa dirinya paling hebat dan mestinya mampu mengalahkan siapapun. Namun demikian, raja tidak mau pecatur legendaris ini mengalah daripadanya. Oleh karena itu, dia membuat suatu peraturan. Sang grandmaster catur tidak boleh kalah dari padanya, dan jika kalah maka sang grandmaster akan dibunuh.
Pertandingan catur antara raja melawan grandmaster pun di mulai. Sebenarnya mudah bagi sang grandmaster untuk mengalahkan raja yang sombong itu. Tetapi si grandmaster tahu sifat raja itu. Kalau dia menang, maka raja yang sombong ini pasti akan membunuhnya juga. Sedangkan kalau dia kalah, maka raja telah mengeluarkan titah untuk membunuhnya. Akhirnya, setelah berpikir, pecatur hebat itu memutuskan untuk mengendalikan permainan sedemikian rupa, sehingga hasil akhir adalah remis. Pada awalnya, raja tidak sadar, karena permainan sang grandmaster seolah-olah serius. Karena penasaran, raja mengulangi permainan berkali-kali dan hasilnya selalu remis. Akhirnya setelah semua permainan berakhir remis, raja itu sadar betapa hebat pecatur itu sebenarnya. Pecatur itu dapat mengendalikan hasil akhir dari permainan, walaupun raja berusaha keras untuk mengalahkannya!

 

Memang, ilustrasi catur tentu tidak sempurna untuk menggambarkan hubungan antara Allah dengan ciptaanNya.

 

Tanggapan saya:

O anda sadar juga kalau tak cocok? Lalu mengapa digunakan? Hanya untuk menipu orang?

 

Tetapi, konsep Kalvinis bahwa Allah menentukan segala sesuatu, tercermin pada kasus seorang pecatur yang bermain sendirian. Sama sekali tidak ada keagungan! Dan jika pada akhirnya manusia dan malaikat memuji dan menyembah Allah, atas dasar penentuan Allah, ini pun tidak memuaskan. Manusia saja tidak akan puas jika dipuji-puji oleh komputer atau robot yang telah diprogram. Itulah sebabnya Allah menciptakan makhluk yang bebas, yang serupa dan segambar dengan Dia, yang dapat membuat keputusan atas dasar dirinya sendiri. Makhluk-makhluk yang bebas ini, membawa kemuliaan kepada Allah pencipta mereka, ketika mereka atas keputusan mereka sendiri menyembah dan memuji Allah.

Kedaulatan mana yang lebih agung? Skema mana yang lebih menunjukkan kehebatan dan kekuasaan Allah atas ciptaanNya? Pecatur yang bermain sendirian dan menentukan segala sesuatu sendiri? Oh, teman-teman Kalvinisku, tidak dapatkah anda melihat, bahwa Kalvinisme justru membuat kedaulatan Allah menjadi tidak agung sama sekali?

 

Tanggapan saya:

Apakah anda sadar bahwa dalam segala omong kosong anda dalam point di atas ini, anda sama sekali tidak menggunakan dasar Alkitab? Hanya ilustrasi-ilustrasi tolol!

 

Dalam seluruh point ini yang anda nilai adalah kehebatan, kepandaian, keagungan, tetapi bukan kedaulatan! Cara berpikir anda memang miring, jadi semuanya kacau!

   

VI. Pengajaran Alkitab

 

Walaupun sudah cukup banyak ayat-ayat yang kita lihat dalam pembahasan sejauh ini, bagian ini akan secara spesifik membahas berbagai ayat yang berhubungan dengan kedaulatan Tuhan, kebebasan manusia, dan apakah Tuhan menentukan segala sesuatu atau tidak.

 

A. Alkitab Mengajarkan Bahwa Allah Tidak Menentukan Segala Sesuatu

 

Tanggapan saya:

O ya? Kalau bagitu anda menggunakan Alkitab yang berbeda dengan punya saya?

 

Ada banyak alasan dari Alkitab, mengapa Allah tidak mungkin menentukan segala sesuatu. Mari kita perhatikan satu persatu alasan-alasan di bawah ini.

 

Pertama, Allah sendiri menyatakan bahwa Dia tidak menentukan segala sesuatu! Mengenai praktek penyembahan berhala dan pengorbanan anak yang ditiru oleh orang Israel dari bangsa-bangsa sekitar mereka, Allah berkata: “Mereka telah mendirikan bukit-bukit pengorbanan bagi Baal untuk membakar anak-anak mereka sebagai korban bakaran kepada Baal, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan atau Kukatakan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku” (Yer. 19:5). Jikalau Tuhan tidak pernah memerintahkannya, dan bahkan tidak pernah timbul dalam hati Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan menentukannya? Mustahil! Justru dosa yang sangat biadab ini muncul dari hati manusia yang jahat, bukan ditentukan oleh Tuhan. Tuhan menegaskan bahwa hal ini tidak pernah timbul dalam hatiNya! Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!

 

Tanggapan saya:

Ini tololnya pemikiran dan penafsiran Arminian! Tidak pernah bisa membedakan apakah Allah bicara dari sudut pandangNya sendiri atau ia bicara dengan cara menyesuaikan diri dengan kapasitas manusia yang terbatas.

 

Kata-kata ‘tidak pernah timbul dalam hatiKu’ juga muncul dalam Yer 7:31.

Yer 7:31 - “Mereka telah mendirikan bukit pengorbanan yang bernama Tofet di Lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya lelaki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hatiKu.

Calvin (tentang Yer 7:31): The Prophet’s words then are very important, when he says, that God had commanded no such thing, and that it never came to his mind; as though he had said, that men assume too much wisdom, when they devise what he never required, nay, what he never knew. It is indeed certain, that there was nothing hid from God, even before it was done: but God here assumes the character of man, as though he had said, that what the Jews devised was unknown to him, as his own law was sufficient (= ).

 

Anda mengatakan ‘Apakah Kalvinis mau percaya kepada pernyataan langsung dari Tuhan, atau lebih percaya kepada guru-guru Kalvinis mereka? Ataukah Tuhan membohongi kita, dan bahwa sebenarnya tindakan ini telah ditentukan dalam suatu “dekrit rahasia?” Saya lebih percaya pada Tuhan!’.

Saya jawab:

a)   Apa yang anda katakan, bukanlah pernyataan langsung dari Tuhan, tetapi merupakan penafsiran anda tentang ayat Firman Tuhan! Firman Tuhannya pasti benar, tetapi penafsiran anda, sama sekali tidak!

b)   Ayat manapun butuh penafsiran. Bahkan pada waktu Alkitab diterjemahkan, sudah butuh penafsiran. Jadi, menggunakan kata-kata ‘pernyataan langsung dari Tuhan’ untuk mendesak orang percaya penafsiran anda merupakan kata-kata tolol! Anda memang punya gelar doktor ya? Rasanya kok tidak cocok!

 

Kedua, sifat Allah yang mahakudus tidak memungkinNya menentukan dosa! Poin ini telah dibahas sebelumnya, jadi hanya akan disinggung sekilas saja. Allah yang “kudus, kudus, kudus” (Yes. 6:3) dan yang “membenci kefasikan” (Maz. 45:8), tidak mungkin menetapkan dan mengharuskan adanya kefasikan dan dosa.

 

Tanggapan saya:

Saya juga sudah menjawabnya di atas, tidak perlu saya ulangi!

 

 

Ketiga, Allah tidak bermain sandiwara! Berbicara melalui Yesaya kepada kaum Israel, Tuhan berkata, “Tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi atau di tempat bumi yang gelap. Tidak pernah Aku menyuruh keturunan Yakub untuk mencari Aku dengan sia-sia! Aku, TUHAN, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus” (Yes. 45:19). Nyatanya, banyak keturunan Yakub yang tidak mencari Tuhan! Apakah Tuhan menentukan mereka untuk tidak mencariNya, lalu memberi perintah untuk mencariNya? Itu sandiwara! Tetapi ayat ini menegaskan bahwa Tuhan tidak bermain seperti itu. Tuhan tidak menetapkan ketidakpercayaan Israel. Jelas, Tuhan tidak menetapkan segala sesuatu.

Tanggapan saya:

Lagi-lagi ini penafsiran anda, Liauw! Dan anda menggunakan dan menafsirkan satu ayat tanpa mempedulikan ayat-ayat lain dalam Alkitab yang mempunyai hubungan dengan ayat itu!

Mengapa tidak mempedulikan ayat-ayat ini:

Ro 3:10-12 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”.

Bukan hanya sebagian dari keturunan Yakub yang tidak mencari Allah. Ro 3:11 ini mengatakan ‘tidak ada seorangpun yang mencari Allah’! Mau percaya Firman Tuhan atau tidak, Liauw?

Sekarang kalau memang Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada manusia yang mencari Allah, mengapa dalam faktanya ada orang-orang yang mencari Allah (misalnya 2Taw 19:3)? Jelas karena Allahnya sudah mencari manusia lebih dulu, mengubahkan mereka, sehingga mereka mau mencariNya. Tanpa pekerjaan Allah dalam diri seseorang, berlaku Ro 3:11, tak ada orang yang mencari Allah.

Dalam Luk 19:10, Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Istilah ‘Anak Manusia’ menunjuk kepada Yesus, yang juga adalah Allah sendiri. Jadi ayat ini lagi-lagi menunjukkan bahwa pada waktu manusia itu terhilang dalam dosa, Allah mencari manusia untuk menyelamatkannya.

Bdk. Yeh 34:16 - Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya”.

Tidak ada domba hilang yang mencari gembalanya, gembalanyalah yang mencari domba yang hilang itu.

 

Bdk. 1Kor 2:14 - Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

Kis 16:14 - “Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus.

Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

Lalu siapa yang Dia ubahkan sehingga mencari Dia, dan siapa yang tidak? Itu ditentukan oleh kehendak / rencana kekalNya, Liauw! Karena itu, pada akhirnya yang betul-betul datang kepada Kristus adalah orang-orang pilihan!

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya”.

Karena itu juga maka Yesus berkata dalam Yoh 15:16 - Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu”.

 

Apakah anda anggap sebagai sandiwara atau tidak, itu urusan anda. Tetapi yang jelas ayat-ayat Alkitab sangat banyak yang secara explicit menyuruh percaya kepada Yesus, dan pada sisi yang lain, sangat banyak juga yang mengatakan bahwa hanya orang-orang pilihan yang bisa percaya kepada Yesus. Saya percaya pada Alkitab, dan bukan pada kesimpulan anda bahwa ini merupakan suatu sandiwara.

By the way, ayat mana yang mengatakan Allah bersandiwara atau tidak bersandiwara?

 

 

Keempat, jika Allah menentukan segala sesuatu, manusia tidak bertanggung jawab! Ini juga telah dibahas dibagian sebelumnya. Tentang Yudas, Tuhan Yesus berkata, “Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!” (Luk 22:22). Kalvinis sering salah mengartikan kata “telah ditetapkan,” dan menyimpulkan bahwa pengkhianatan Yudas ditetapkan oleh Allah. Tetapi ayat ini tidak berkata bahwa tindakan Yudas ditetapkan Tuhan. Ayat ini mengajarkan bahwa adalah ketetapan Allah agar Yesus diserahkan dan disalibkan. Silakan lihat lagi bagian pembahasan tentang bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah. Melalui kemahatahuan dan intervensi Allah (kelahiran Yesus, dll), Tuhan tahu bahwa imam-imam kepala akan memutuskan untuk membunuh Yesus. Hal ini Tuhan pakai dalam rencanaNya bagi keselamatan manusia. Jadi, penyaliban Yesus memang adalah menurut rencana dan maksud Allah. Allah bukan menetapkan maksud jahat manusia, Allah menetapkan bahwa maksud jahat mereka boleh terlaksana! Tuhan bukan menetapkan bahwa Yudas akan menjual Yesus, tetapi Tuhan menetapkan bahwa niat jahatnya itu dapat terlaksana, sesuai rencana Tuhan. Jika Tuhan yang menetapkan Yudas untuk menjualnya, dan Yudas tidak punya pilihan lain, maka di manakah keadilan perkataan Yesus: “celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!”

 

Tanggapan saya:

Ini juga sudah saya bahas, patahkan, dan hancurkan!

Penafsiran anda tentang Luk 22:22 menggelikan. Coba baca mulai ayat 21nya.

Luk 22:21-22 - “(21) Tetapi, lihat, tangan orang yang menyerahkan Aku, ada bersama dengan Aku di meja ini. (22) Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan, akan tetapi, celakalah orang yang olehnya Ia diserahkan!’”.

Yang anda bicarakan / bahas adalah bagian yang saya garis-bawahi, bukan? Anda mengatakan bahwa inilah, dan bukannya pengkhianatan Yudas Iskariot, yang telah ditetapkan. Tetapi coba baca kontextnya. Ay 21nya bicara tentang Yudas Iskariot dan tindakan menyerahkan / mengkhianati Yesus , dan ay 22b juga demikian. Masakan ay 22a tidak berbicara tentang tindakan menyerahkan / mengkhianati dari Yudas Iskariot? Ini penafsiran yang dipaksakan; anda memperkosa dan membengkokkan Firman Tuhan!

 

Bahwa kata ‘menyerahkan’ sering digunakan untuk menunjuk pada pengkhianatan Yudas Iskariot, terlihat dari banyak ayat seperti ayat-ayat di bawah ini:

Mat 26:15  Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

Mat 26:16  Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Mat 26:21  Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku."

Mat 26:23  Ia menjawab: "Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Mat 26:25  Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: "Bukan aku, ya Rabi?" Kata Yesus kepadanya: "Engkau telah mengatakannya."

Mat 26:46  Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat."

Mat 26:48  Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia."

Matthew Henry: “He foretels that the treason would take effect (v. 22): Truly the Son of man goes as it was determined, goes to the place where he will be betrayed; for he is delivered up by the counsel and foreknowledge of God, else Judas could not have delivered him up.

Calvin (tentang Mat 26:24): The Son of man indeed goeth. Here Christ meets an offense, which might otherwise have greatly shaken pious minds. For what could be more unreasonable than that the Son of God should be infamously betrayed by a disciple, and abandoned to the rage of enemies, in order to be dragged to an ignominious death? But Christ declares that all this takes place only by the will of God; and he proves this decree by the testimony of Scripture, because God formerly revealed, by the mouth of his Prophet, what he had determined. We now perceive what is intended by the words of Christ. It was, that the disciples, knowing that what was done was regulated by the providence of God, might not imagine that his life or death was determined by chance. But the usefulness of this doctrine extends much farther; for never are we fully confirmed in the result of the death of Christ, till we are convinced that he was not accidentally dragged by men to the cross, but that the sacrifice had been appointed by an eternal decree of God for expiating the sins of the world. For whence do we obtain reconciliation, but because Christ has appeased the Father by his obedience? Wherefore let us always place before our minds the providence of God, which Judas himself, and all wicked men - though it is contrary to their wish, and though they have another end in view - are compelled to obey. Let us always hold this to be a fixed principle, that Christ suffered, because it pleased God to have such an expiation. And yet Christ does not affirm that Judas was freed from blame, on the ground that he did nothing but what God had appointed. For though God, by his righteous judgment, appointed for the price of our redemption the death of his Son, yet nevertheless, Judas, in betraying Christ, brought upon himself righteous condemnation, because he was full of treachery and avarice. In short, God’s determination that the world should be redeemed, does not at all interfere with Judas being a wicked traitor. Hence we perceive, that though men can do nothing but what God has appointed, still this does not free them from condemnation, when they are led by a wicked desire to sin. For though God directs them, by an unseen bridle, to an end which is unknown to them, nothing is farther from their intention than to obey his decrees. Those two principles, no doubt, appear to human reason Lo be inconsistent with each other, that God regulates the affairs of men by his Providence in such a manner, that nothing is done but by his will and command, and yet he damns the reprobate, by whom he has carried into execution what he intended. But we see how Christ, in this passage, reconciles both, by pronouncing a curse on Judas, though what he contrived against God had been appointed by God; not that Judas’s act of betraying ought strictly to be called the work of God, but because God turned the treachery of Judas so as to accomplish His own purpose. I am aware of the manner in which some commentators endeavor to avoid this rock. They acknowledge that what had been written was accomplished through the agency of Judas, because God testified by predictions what He fore-knew. By way of softening the doctrine, which appears to them to be somewhat harsh, they substitute the foreknowledge of God in place of the decree, as if God merely beheld from a distance future events, and did not arrange them according to his pleasure. But very differently does the Spirit settle this question; for not only does he assign as the reason why Christ was delivered up, that it was so written, but also that it was so determined. For where Matthew and Mark quote Scripture, Luke leads us direct to the heavenly decree, saying, according to what was determined; as also in the Acts of the Apostles, he shows that Christ was delivered not only by the foreknowledge, but likewise by the fixed purpose of God, (Acts 2:25) and a little afterwards, that Herod and Pilate, with other wicked men, did those things which had been fore-ordained by the hand and purpose of God, (Acts 4:27, 28.).

 

Hal lain lagi yang harus dipertimbangkan adalah bahwa Luk 22:22 itu paralel dengan Mat 26:24 dan juga dengan Yoh 13:21-26 - “(21) Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.’ (22) Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkanNya. (23) Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihiNya, bersandar dekat kepadaNya, di sebelah kananNya. (24) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ‘Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!’ (25) Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapakah itu?’ (26) Jawab Yesus: ‘Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.’ Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot”.

 

Jadi, mana bisa yang dibicarakan dalam Luk 22:22a bukan pengkhianatan Yudas Iskariot?

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang Yoh 13:22): “Then the disciples looked one on another, doubting (or ‘being in doubt’) of whom he spake. Further intensely interesting particulars are given in the other Gospels. First, ‘They were exceeding sorrowful’ (Matt 26:22). Second, ‘They began to inquire among themselves which of them it was that should do this thing’ (Luke 22:23). Third, ‘They began to say unto Him one by one, Is it I? and another, Is it I?’ (Mark 14:19). Generous, simple hearts! They abhorred the thought, but, instead of putting it on others, each was only anxious to purge himself, and know if he could be the wretch. Their putting it at once to Jesus Himself, as knowing doubtless who was to do it, was the best, as it certainly was the most spontaneous and artless, evidence of their own innocence. Fourth, Jesus-apparently while this questioning was going on-added, ‘The Son of Man goeth as it is written of Him: but woe unto that man by whom the Son of Man is betrayed! it had been good for that man if he had not been born’ (Matt 26:24). Fifth, ‘Judas,’ last of all, ‘answered and said, Lord, Is it I?’ evidently feeling that when all were saying this, if he were to hold his peace, that of itself would draw suspicion upon him. To prevent this the question is wrung out of him, but perhaps, amidst the stir and excitement at the table, in a half-suppressed tone-as we are inclined to think the answer also was - ‘Thou hast said’ (Matt 26:25), or possibly by little more than a sign; for from John 13:28, below, it is evident that until the moment when he went out he was not openly discovered”.

 

Kelima, Alkitab mengajarkan bahwa manusia memiliki kehendak dirinya sendiri! Daud berkata kepada Salomo: “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya” (1 Taw. 28:9). Salomo diperintahkan untuk beribadah dengan rela hati. Kerelaan hati mengimplikasikan bahwa tindakan itu adalah atas dasar keinginan sendiri, bukan dipaksa atau ditentukan oleh orang lain. Kerelaan hati yang telah ditentukan oleh Tuhan adalah konsep yang kontradiktif. Masih banyak ayat lain yang berbicara mengenai kerelaan seseorang (e.g. Ezra 7:13; Hakim 5:2).

Ada juga ayat-ayat tentang kehendak manusia. Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh. 15:7). Apakah Tuhan telah menetapkan kehendak kita, lalu menyuruh kita untuk meminta sesuai dengan “kehendak” yang telah ditetapkan itu? Apakah ini tidak terdengar aneh bagi anda? Pembacaan Alkitab yang normal, dan pengalaman hidup sehari-hari memberitahu kita bahwa kehendak kita sungguh adalah kehendak kita sendiri, bukan sesuatu yang telah ditentukan Allah. Kalvinis juga mengajarkan bahwa dalam hidup ini, keputusan-keputusan manusia seolah-olah adalah keputusannya sendiri. Hanya saja, menurut mereka sebenarnya keputusan itu telah ditetapkan dalam “dekrit rahasia” Allah. Tetapi, saya tidak tahu siapa yang memberitahu para Kalvinis “rahasia” ini, karena sama sekali tidak ada dalam Alkitab.

 

Tanggapan saya:

Lagi-lagi anda menggunakan ayat-ayat yang menyoroti dari sudut manusia, bukan dari sudut Allah. Siapa bilang Calvinisme percaya manusia tak punya kehendak? Mereka melakukan semua hal dengan kehendak mereka sendiri, tetapi pada saatv yang sama apa yang mereka lakukan adalah rencana Tuhan / ketetapan Tuhan.

Omongan anda bertele-tele, itu-itu saja. Tak punya argumentasi yang lain?

 

 

Keenam, Alkitab mengajarkan bahwa doa dapat mengubah keadaan! Kebanyakan orang Kristen yang berdoa, percaya bahwa doanya dapat membawa perubahan dalam dunia ini. Tetapi, jika segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah, maka bagaimana mungkin doa dapat membawa perubahan? Oleh sebab itulah, James O. Wilmoth, seorang Kalvinis, berkata: “Kita tahu bahwa Allah telah mempredestinasikan segala sesuatu yang terjadi. Ia mengerjakan segala sesuatu sesuai dengan maksud kehendakNya sendiri. Sulit untuk merekonsiliasi doa dengan kehendak Allah yang tidak berubah.” David West berkata, “Doa tidak mengubah apapun, doa juga tidak mengubah Allah atau pikiranNya.” Bandingkanlah dengan ayat-ayat Alkitab seperti berikut:

Sesudah itu aku sujud di hadapan TUHAN, empat puluh hari empat puluh malam lamanya, seperti yang pertama kali roti tidak kumakan dan air tidak kuminum karena segala dosa yang telah kamu perbuat, yakni kamu melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sehingga kamu menimbulkan sakit hati-Nya. Sebab aku gentar karena murka dan kepanasan amarah yang ditimpakan TUHAN kepadamu, sampai Ia mau memunahkan kamu. Tetapi sekali inipun TUHAN mendengarkan aku. Juga kepada Harun TUHAN begitu murka, hingga Ia mau membinasakannya; maka pada waktu itu aku berdoa untuk Harun juga. (Ul. 9:18-20)

 

Tanggapan saya:

Mengatakan bahwa doa bisa mengubah kehendak Allah, hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang tak tahu Alkitabnya sendiri.

 

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.

Mat 6:10b - jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga”.

Mat 26:39,42 - “(39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ ... (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Mat 20:20-23 - “(20) Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya. (21) Kata Yesus: ‘Apa yang kaukehendaki?’ Jawabnya: ‘Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang di sebelah kananMu dan yang seorang lagi di sebelah kiriMu.’ (22) Tetapi Yesus menjawab, kataNya: ‘Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?’ Kata mereka kepadaNya: ‘Kami dapat.’ (23) Yesus berkata kepada mereka: ‘CawanKu memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kananKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya.’”.

 

Kalau doa bisa mengubah rencana Allah, lalu bagaimana kita menafsirkan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Rencana Allah tak bisa berubah ataupun gagal?

 

Bil 23:19 - “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”.

1Sam 15:29 - “Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’”.

Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu”.

 

B. Ayat-Ayat Alkitab yang Disalahgunakan Kalvinis

 

Dalam usaha mereka untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, Kalvinis mencoba untuk memakai berbagai ayat Alkitab. Kita akan melihat, apakah ayat-ayat yang mereka pakai sungguh mengajarkan premis dasar Kalvinisme.

 

1. Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.

Jawab: Kesalahan Kalvinis adalah tidak memperhatikan konteks dan juga mengambil kesimpulan yang terlalu cepat. Jika Allah menentukan tangan orang dalam suatu kasus pembunuhan tidak disengaja, apakah berarti Allah menentukan segala sesuatu? Sama sekali tidak. Kalau memperhatikan konteks, justru perikop ini membuktikan sebaliknya! Jika membaca dari ayat 12-13, ada dua jenis pembunuhan yang Tuhan diskusikan. Di ayat 12, Tuhan mengatur tentang pembunuhan yang disengaja: “Siapa yang memukul seseorang, sehingga mati, pastilah ia dihukum mati.” Barulah di ayat 13, ada aturan tentang pembunuhan yang tidak disengaja.

Coba dipikir dengan baik-baik, dan baca ayat 12 dan 13 dalam satu konteks. Orang yang tidak sengaja membunuh sesamanya, artinya tangannya ditentukan Tuhan. Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!

Apakah ini membuktikan Allah menetapkan segala sesuatu? Sama sekali tidak! Ayat 12 dan 13 sedang menjelaskan perbedaan dua kasus. Pembunuh di ayat 12, harus dihukum mati, karena membunuh dengan sengaja. Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!

 

Tanggapan saya:

 

A)  Apakah orang-orang Arminian tidak bisa menyerang Calvinisme tanpa memfitnah dan membengkokkan dulu ajaran Calvinisme? Dari ayat yang dipakai Liauw ini, yaitu Kel 21:12-13 dan Ul 19:4-5, rasanya ia pasti memaksudkan ajaran saya. Tetapi saya (maupun orang-orang Reformed) tidak menggunakan bagian ini untuk mengajarkan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah, ataupun bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Untuk lebih jelasnya saya menunjukkan bagaimana saya menggunakan text itu dalam mengajar:

 

Untuk mengajarkan bahwa Allah memang menentukan segala sesuatu dalam arti kata yang mutlak, saya memberikan beberapa argumentasi. Dan argumentasi pertama ada di bawah ini:

1)   Dasar Kitab Suci:

a)      Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup ‘semuanya’.

Maz 139:16 - “... dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya”.

b)      Ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Rencana Allah mencakup hal-hal yang remeh / kecil / tak berarti.

Mat 10:29-30 - “(29) Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak BapaMu. (30) Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya”.

c)      Ayat-ayat Kitab Suci yang menunjukkan bahwa hal-hal yang kelihatannya seperti ‘kebetulan’ juga hanya bisa terjadi karena itu merupakan Rencana Allah. Contoh:

1.   Kel 21:13 - Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari”.

Yang dimaksud dengan ‘pembunuhan yang tidak disengaja’ itu dijelaskan / diberi contoh dalam Ul 19:4-5, yaitu orang yang pada waktu mengayunkan kapak, lalu mata kapaknya terlepas dan mengenai orang lain sehingga mati. Hal seperti ini kelihatannya ‘kebetulan’, tetapi toh Kel 21:13 itu mengatakan bahwa hal itu bisa terjadi karena ‘tangannya ditentukan Allah melakukan itu’. Jadi, jelas bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun hanya bisa terjadi kalau itu sesuai kehendak / Rencana Allah.

 

Ini yang saya ajarkan dalam buku ‘providence of God’ saya (tetapi saya potong-potong kutipannya karena yang ingin saya tunjukkan hanya garis besar dari ajaran saya.

 

Jadi, untuk membuktikan bahwa Allah menentukan segala sesuatu, maka pada point a saya menggunakan Maz 139:16, pada point b saya menunjukkan bahwa penentuan Allah itu juga mencakup hal-hal remeh / tak berarti, dan untuk itu saya menggunakan Mat 10:29-30, dan pada point c saya menunjukkan bahwa penentuan Allah itu juga mencakup hal-hal yang kelihatannya ‘kebetulan’, dan untuk inilah saya menggunakan Kel 21:13!

 

Tetapi atau Liauw ini terlalu bodoh untuk mengerti jalur argumentasi saya, atau ia membacanya sambil meloncat-loncat, atau ia memang mau membengkokkan dulu ajaran saya, dan baru menyerangnya (supaya ia kelihatan pintar dan saya kelihatan bodoh). Ia memang pintar, tetapi dalam hal apa? Dalam hal memutar-balikkan, berdusta, dan memfitnah. Dalam tulisan-tulisannya saya memang melihat banyak kali ia memfitnah Calvinisme!

Apapapun penyebabnya, yang jelas Liauw mengatakan ‘Keluaran 21:13. “Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.” Dari ayat ini, Kalvinis mengatakan bahwa suatu hal yang tidak disengaja (pembunuhan), ditentukan oleh Allah. Mereka mengambil frase “tangannya ditentukan Allah,” untuk membuktikan bahwa segala tindakan manusia ditentukan oleh Allah.’.

Padahal saya menggunakan ayat itu untuk membuktikan bahwa hal-hal yang kelihatannya kebetulan sekalipun juga ditentukan Allah.

Saran saya: baca baik-baik sebelum menyerang, Liauw!

 

B)  Sekarang saya akan mengomentari bagian yang saya beri garis bawah ganda dalam kutipan di atas. Untuk jelasnya saya kutip ulang kata-kata Liauw sebagai berikut: ‘Sebagai contoh, dalam Ulangan 19:4-5, seseorang yang sedang menebang pohon dengan kapak, tiba-tiba mata kapak terlepas dan mengenai temannya. Lepasnya mata kapak, trayektori mata kapak, dan hal-hal lain yang mendukung sehingga mata kapak mengenai orang, semua itu ditentukan Allah. Ini tidak ada masalah, karena yang Allah tentukan bukanlah suatu keputusan manusia. Pembaca bisa melihat lagi dalam bagian pembahasan tentang bagaimana Allah mengendalikan sejarah. Undi ada di tangan Tuhan, jatuhnya mata kapak juga di tangan Tuhan! Hal-hal yang tidak sengaja itu ditentukan oleh Tuhan! Amin!’.

 

Aneh juga kalau ayatnya bicara tentang orang yang menggunakan tangannya untuk mengapak, tetapi Liauw hanya membahas mata kapaknya. Pada waktu orangnya memukulkan kapak itu ke pohon, dan jelas ia melakukan secara agak ceroboh, karena mata kapaknya rupanya sudah kendor (kalau tidak, tidak akan mata kapak terlepas), dan juga pengambilan posisi yang membahayakan, baik dari si pengapak maupun dari orang yang terkena mata kapak yang terlepas, apakah tidak ada kehendak manusia yang terlibat?

Disamping, dalam Kel 21:13 itu yang dikatakan ditentukan Allah bukanlah kapak, tetapi tangan orang itu. Coba baca ayat itu sekali lagi.

Kel 21:13 - Tetapi jika pembunuhan itu tidak disengaja, melainkan tangannya ditentukan Allah melakukan itu, maka Aku akan menunjukkan bagimu suatu tempat, ke mana ia dapat lari.

Kalau tangannya ditentukan Allah, bisakah kehendaknya tidak? Jadi tangan mengayunkan kapak sesuai penentuan Allah, tanpa dikehendaki orangnya, atau bahkan tanpa disadari orangnya. Bisakah hal itu terjadi? Memang bisa, kalau orangnya ngelindur!

Lalu, mengapa Liauw membahas mata kapaknya saja? Apakah mata kapak bisa terlontar dengan sendirinya dan mengenai orang sehingga membunuh orang itu, seandainya orang yang mengapak tidak lebih dulu memutuskan untuk mengapak? Dan seandainya ia cukup hati-hati, dengan memeriksa dulu mata kapaknya longgar atau tidak, dan seandainya ia dan orang yang terkena kapak cukup hati-hati dalam mengambil posisi yang tidak membahayakan, maka bisakah mata kapak lepas dan membunuh orang tanpa sengaja? Jadi jelas bahwa dalam terjadinya hal ini kehendak manusia juga berperan.

 

C)  Sekarang saya membahas kata-kata Liauw pada bagian akhir (yang saya cetak miring) yang berbunyi sebagai berikut: ‘Pembunuh di ayat 13, tidak dihukum mati karena tangannya ditentukan Allah. Kesimpulan apa yang dapat ditarik? Bahwa pembunuh di ayat 12 justru tangannya tidak ditentukan oleh Allah. Jadi, Kel. 21:12-13, justru membuktikan bahwa hal-hal yang dilakukan oleh manusia secara sengaja (atas kehendak sendiri), tidak ditentukan oleh Allah. Ayat ini tidak mendukung premis Kalvinis, sebaliknya membuktikan bahwa Allah tidak menentukan hal-hal yang manusia lakukan dengan sengaja!’.

Lucu sekali kesimpulannya. Tadi di atas Liauw menuduh Calvinist mengambil kesimpulan terlalu cepat, tetapi ternyata di sini ia yang bukan hanya mengambil kesimpulan yang terlalu cepat tetapi juga yang sembrono / gegabah karena kesimpulannya bertentangan dengan Alkitab.

 

Kalau ay 13 yang menunjukkan pembunuhan sengaja dikatakan ditentukan Allah, haruskah ay 12nya yang merupakan pembunuhan sengaja dianggap / disimpulkan sebagai tidak ditentukan Allah?

 

Ada beberapa hal yang ingin saya berikan sebagai jawaban:

 

1)   Secara implicit Liauw menganggap bahwa kalau pembunuhan itu sengaja, maka manusia melakukan dengan kehendaknya sendiri, sedangkan kalau tidak sengaja, maka kehendaknya tidak terlibat. Tetapi di atas sudah saya tunjukkan bahwa dalam hal tidak sengaja itu tetap ada kehendak yang terlibat, biarpun bukan kehendak untuk membunuh.

2)   Saya sodorkan kemungkinan menyimpulkan yang berbeda. Kalau dalam ay 13 saja, dimana terjadinya pembunuhan itu sepertinya ‘kebetulan’, ada penentuan Allah, apalagi dalam ay 12, dimana terjadinya pembunuhan bukan ‘kebetulan’. Mengapa untuk hal yang ‘kebetulan’ harus ditekankan penentuan Allahnya? Karena merupakan pandangan umum bahwa hal yang ‘kebetulan’ itu tidak ditentukan.

3)   Liauw mengatakan bahwa pembunuhan yang sengaja tidak ditentukan oleh Allah. Ini saya katakan ceroboh, karena:

a)      Pembunuhan terhadap Yesus, yang jelas-jelas sengaja, secara explicit dikatakan oleh Alkitab sebagai ditentukan oleh Allah.

Kis 4:27-28 - “(27) Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, HambaMu yang kudus, yang Engkau urapi, (28) untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka”.

b)            Pembunuhan terhadap orang-orang Kristen juga ditentukan oleh Allah.

Wah 6:11 - “Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka”.

Perhatikan kata ‘genap’. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menentukan jumlah orang Kristen yang mati dibunuh, dan sebelum jumlah itu tergenapi / tercapai, maka terus saja orang Kristen dibunuhi! Apakah ini bukan pembunuhan sengaja, Tentu ya, tetapi ini ditentukan oleh Allah!

Barnes’ Notes (tentang Wah 6:11): “‘Should be fulfilled.’ That is, until these persecutions were passed through, and the number of the martyrs was complete. The state of things represented here would seem to be, that there was then a persecution raging on the earth. Many had been put to death, and their souls had fled to heaven, where they pleaded that their cause might be vindicated, and that their oppressors and persecutors might be punished. To this the answer was, that they were now safe and happy - that God approved their course, and that in token of his approbation they should be clothed in white raiment; but that the invoked vindication could not at once occur. There were others who would yet be called to suffer as they had done, and they must wait until all that number was completed. Then, it is implied, God would interpose, and vindicate his name”.

Matthew Henry (tentang Wah 6:11): “Observe, [1.] There is a number of Christians, known to God, who are appointed as sheep for the slaughter, set apart to be God's witnesses. [2.] As the measure of the sin of persecutors is filling up, so is the number of the persecuted martyred servants of Christ. [3.] When this number is fulfilled, God will take a just and glorious revenge upon their cruel persecutors; he will recompense tribulation to those who trouble them, and to those that are troubled full and uninterrupted rest”.

c)            Penghancuran (jelas mencakup pembunuhan sengaja) terhadap Yehuda juga ditentukan oleh Allah.

Yes 28:22b - “sebab kudengar tentang kebinasaan yang sudah pasti yang datang dari Tuhan ALLAH semesta alam atas seluruh negeri itu”.

NIV: ‘The Lord, the LORD Almighty, has told me of the destruction decreed against the whole land’ (= Tuhan, TUHAN yang mahakuasa, telah memberitahu aku tentang kehancuran yang telah ditetapkan terhadap seluruh negeri itu).

Ini jelas menunjukkan bahwa kehancuran yang oleh Tuhan diberitahukan kepada Yesaya, dan lalu dinubuatkan oleh Yesaya, merupakan ketetapan Allah (decree of God).

 

2. Daniel 11:36 “Raja itu akan berbuat sekehendak hati; ia akan meninggikan dan membesarkan dirinya terhadap setiap allah. Juga terhadap Allah yang mengatasi segala allah ia akan mengucapkan kata-kata yang tak senonoh sama sekali, dan ia akan beruntung sampai akhir murka itu; sebab apa yang telah ditetapkan akan terjadi.” Ada Kalvinis yang ingin memakai ayat ini untuk membuktikan bahwa Allah menetapkan dosa. Raja dalam Daniel 11:36 ini (antikristus), jelas melakukan dosa. Kalvinis lalu mengambil frase “apa yang telah ditetapkan akan terjadi,” untuk membuktikan bahwa dosa itu telah Allah tetapkan.

Jawab: Kalvinis melihat ayat ini dari kacamata bias doktrinnya sendiri. Padahal, jika dibaca secara normal, justru ayat ini mengajarkan bahwa perbuatan si raja jahat ini tidak ditentukan. Bagian awal ayat ini berkata, “raja itu akan berbuat sekehendak hati.” Apakah ini kurang jelas?  Perbuatannya berasal dari kehendak dia sendiri, bukan ditentukan oleh Tuhan. Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung.

 

Tanggapan saya:

 

1)   Memang sukar untuk membuat orang bodoh mengerti. Anda mengatakan raja itu berbuat ‘sekehendak hati’. Siapa yang tidak setuju? Kami Calvinist percaya bahwa pada saat seseorang melakukan apa yang ditentukan Allah, ia tetap melakukan hal itu sesuai dengan kehendaknya sendiri! Apakah ini kurang jelas?

 

2)   Anda membengkokkan kata-kata Alkitab, Liauw. Ayat itu mengatakan ‘ditetapkan’, tetapi anda ganti menjadi ‘mengizinkan’! (perhatikan kata-kata yang saya beri garis bawah tunggal dalam kutipan di atas).

 

3)            Kalaupun Allah mengijinkan, perlu dipertanyakan: mengapa Ia mengijinkan, kalau itu bukan kehendakNya?

R. C. Sproul: “That God in some sense foreordains whatever comes to pass is a necessary result of his sovereignty. ... everything that happens must at least happen by his permission. If he permits something, then he must decide to allow it. If He decides to allow something, then is a sense he is foreordaining it” (= Bahwa Allah dalam arti tertentu menentukan apapun yang akan terjadi merupakan akibat yang harus ada dari kedaulatanNya. ... segala sesuatu yang terjadi setidaknya harus terjadi karena ijinNya. Jika Ia mengijinkan sesuatu, maka Ia pasti memutuskan untuk mengijinkannya. Jika Ia memutuskan untuk mengijinkan sesuatu, maka dalam arti tertentu Ia menentukannya) - ‘Chosen By God’, hal 26.

 

4)   Pada bagian akhir kutipan kata-kata anda di atas anda berkata sebagai berikut: ‘Lalu apakah yang telah ditetapkan itu? Walaupun kehendak jahat raja itu berasal dari dirinya sendiri, dia tentu tidak akan berhasil kalau Allah tidak mengizinkan. Allah menetapkan bahwa kehendak jahat raja ini bisa dia laksanakan, salah satu caranya adalah dengan memberikan hidup yang cukup panjang kepada dia. Itulah sebabnya dikatakan bahwa “ia akan beruntung sampai akhir murka itu.” Tetapi, sampai titik tertentu, Allah tidak lagi mengizinkan maksud jahatnya untuk berhasil, dan saat itulah dia akan mati. Jadi, Allah sama sekali tidak menetapkan kejahatan yang ia perbuat. Allah mengontrol, sampai seberapa jauh kejahatannya dapat berlangsung’.

 

Tidakkah anda melihat kelucuan di sini? Anda memulai bagian ini dengan menanyakan ‘Lalu apakah yang telah ditetapkan itu?’, tetapi lalu melnjutkan sampai akhir tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan itu, sebaliknya anda membicarakan soal izin Allah!

Mengapa tidak menjawab pertanyaan anda sendiri, Liauw?

 

Matthew Henry (tentang Daniel 11:36): He grew very proud, insolent, and profane, and, being puffed up with his conquests, bade defiance to Heaven, and trampled upon every thing that was sacred, v. 36, &c. And here some think begins a prophecy of the antichrist, the papal kingdom. It is plain that St. Paul, in his prophecy of the rise and reign of the man of sin, alludes to this (2 Thess 2:4), which shows that Antiochus was a type and figure of that enemy, as Babylon also was; but, this being joined in a continued discourse with the foregoing prophecies concerning Antiochus, to me it seems probably that it principally refers to him, and in him had its primary accomplishment, and has reference to the other only by way of accommodation. (1.) He shall impiously dishonour the God of Israel, the only living and true God, called here the God of gods. He shall, in defiance of him and his authority, do according to his will against his people and his holy religion; he shall exalt himself above him, as Sennacherib did, and shall speak marvellous things against him and against his laws and institutions. This was fulfilled when Antiochus forbade sacrifices to be offered in God’s temple, and ordered the sabbaths to be profaned, the sanctuary and the holy people to be polluted, &c., to the end that they might forget the law and change all the ordinances, and this upon pain of death, 1 Macc 1:45. (2.) He shall proudly put contempt upon all other gods, shall magnify himself above every god, even the gods of the nations. Antiochus wrote to his own kingdom that every one should leave the gods he had worshipped, and worship such as he ordered, contrary to the practice of all the conquerors that went before him, 1 Macc 1:41,42. And all the heathen agreed according to the commandment of the king; fond as they were of their gods, they did not think them worth suffering for, but, their gods being idols, it was all alike to them what gods they worshipped. Antiochus did not regard any god, but magnified himself above all, v. 37. He was so proud that he thought himself above the condition of a mortal man, that he could command the waves of the sea, and reach to the stars of heaven, as his insolence and haughtiness are expressed, 2 Macc 9:8,10. Thus he carried all before him, till the indignation was accomplished (v. 36), till he had run his length, and filled up the measure of his iniquity; for that which is determined shall be done, and nothing more, nothing short.

 

Bagian yang saya beri garis bawah tunggal menunjukkan dosa-dosa raja itu, dan bagian yang saya beri garis bawah ganda menunjukkan bahwa Matthew Henry menganggap semua dosa-dosa itu harus digenapi, tidak bisa lebih, tidak bisa kurang!

 

Barnes’ Notes (tentang Daniel 11:36): “‘And shall prosper until the indignation be accomplished.’ Referring still to the fact that there was an appointed time during which this was to continue. That time might well be called a time of ‘indignation,’ for the Lord seemed to be angry against his temple and people, and suffered this pagan king to pour out his wrath without measure against the temple, the city, and the whole land. ‘For that that is determined shall be done.’ What is purposed in regard to the city and temple, and to all other things, must be accomplished. Compare Dan 10:21. The angel here states a general truth - that all that God has ordained will come to pass. The application of this truth here is, that the series of events must be suffered to run on, and that it could not be expected that they would be arrested until all that had been determined in the Divine mind should be effected. They who would suffer, therefore, in those times must wait with patience until the Divine purposes should be brought about, and when the period should arrive, the calamities would cease”.

Jelas bahwa Albert Barnes berpendapat bahwa apa yang telah ditetapkan itu adalah hal-hal buruk / jahat / dosa yang akan diperbuat raja itu.

Kata-kata ‘ia akan beruntung sampai akhir murka itu’ tidak menjadi masalah. Allah membiarkannya hidup supaya ia bisa melakukan dosa-dosa yang telah ditetapkan itu!  

3. Kisah Para Rasul 4:27-28 “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Ini adalah perwakilan dari beberapa ayat lain, tentang kematian dan penyaliban Yesus, yang Kalvinis pakai. Argumen mereka cukup jelas, yaitu bahwa penyaliban Yesus telah Allah tentukan. Ini, bagi Kalvinis, membuktikan bahwa Allah menetapkan terjadinya dosa.
Jawab: Sekali lagi, Kalvinis membaca ayat ini dengan presuposisi doktrin mereka. Oleh karena itu mereka mendapatkan Allah menetapkan dosa di sini. Padahal Allah yang mahakudus benci kepada dosa, masakan merencanakan dan mengharuskan dosa? Kalau ayat ini dibaca dengan netral, sama sekali tidak mengajarkan Kalvinisme. Ayat ini berbunyi: “telah berkumpul….bangsa-bangsa….. untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula.” Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).” Ada perbedaan antara dua kalimat tersebut.

 

Tanggapan saya:

Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”

Anda hanya menganbil bagian-bagian yang saya beri garis bawah tunggal. Lalu anda mengatakan ‘Ayat ini TIDAK berbunyi: “Engkau menentukan mereka untuk menyalibkan Yesus (melakukan dosa).’.

Lucu sekali. Mengapa bagian yang saya beri garis bawah ganda tidak anda ambil? Mereka berkumpul untuk melawan Yesus! Jadi, semua tindakan orang-orang itu, yaitu menangkapNya, mengadiliNya, memfitnahNya, memaki-makiNya, mencambukiNya, menyalibkannya dsb, tercakup dalam kata-kata ‘melawan Yesus’! Dan semua itu, yang jelas-jelas adalah dosa, mereka laksanakan sesuai dengan apa yang ‘Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu’!

Jangan memutar-balikkan ayat Alkitab, Liauw! Anda main-main dari Firman Tuhan, dan itu berarti anda main-main dengan Tuhan sendiri!

Anda selalu menuduh kami menafsirkan dengan bias Calvinist, padahal di sini jelas-jelas anda menafsir (atau ‘memperkosa’) ayat Alkitab dengan bias Arminian!

 

Kehendak untuk menyalibkan Yesus berasal dari manusia itu sendiri, tidak pernah ditetapkan oleh Allah. Mereka punya pilihan untuk menerima Yesus, tetapi mereka memilih untuk menyalibkanNya. Allah yang mahatahu, memasukkan kehendak manusia-manusia jahat ini dalam rencana penyelamatanNya, sehingga Ia menentukan bahwa Yesus memang akan mereka salibkan. Jadi, Allah tidak menetapkan mereka harus menyalibkan Yesus. Allah tahu mereka mau menyalibkanNya (dari kehendak mereka sendiri), dan Allah memutuskan, dalam kuasa dan kehendakNya, agar kemauan mereka tercapai, dan Yesus disalibkan.

 

Tanggapan saya:

Kis 4:27-28 - “Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”

Anda tidak membaca kata-kata yang saya garis-bawahi itu? ‘Telah’, dan ‘Dari semula’, Liauw! Allah telah menentukan semua itu dari semula! Orang-orang brengsek itu belum lahir, dan belum memilih, menghendaki atau melakukan yang baik atau yang jahat, dan Allah sudah menentukan (dalam kekekalan). Baru dalam waktu / sejarah, orang-orang itu melakukan apa yang telah Allah tentukan dari semula.

Kelihatannya anda membaca ayat ini seolah-olah bunyinya adalah ‘Allah menentukan segala sesuatu yang akan mereka lakukan’, padahal itu terbalik!

 

Lagi-lagi apa yang anda ajarkan menunjukkan bahwa Allahnya yang tergantung manusia dan bukannya sebaliknya. Ini tolol dan merupakan penghujatan! Saya berpendapat, Liauw, kalau semua memang tergantung kehendak manusia yang berdosa, maka yang terjadi pada saat itu adalah: bukan hanya Herodes, Pontius Pilatus, orang-orang Romawi dsb yang menyalibkan Yesus, tetapi semua muridNya juga akan ikut! Mengapa? Karena semua adalah orang-orang berdosa, yang kalau bukan karena kasih karunia dan pekerjaan Allah, bukan saja tidak akan percaya kepada Yesus, tetapi sebaliknya akan memusuhi dan menyalibkanNya! Pemilihan Allah terhadap 11 murid, dan pemberian kasih karunia kepada mereka, menyebabkan mereka percaya kepada Yesus dan tidak ikut menyalibkanNya.

 

Juga, Liauw, kalau Allah tahu apa yang akan mereka kehendaki dan lakukan, maka apa yang Allah tahu itu pasti terjadi, bukan? Lalu, apa gunanya direncanakan / ditentukan / ditetapkan?

 

 

Sebuah ilustrasi dapat membantu memberikan contoh dalam kehidupan nyata. Kepolisian Jakarta telah lama berusaha membongkar jaringan perampok toko emas. Suatu ketika, mereka mendapatkan info akurat (foreknowledge), bahwa para perampok akan beraksi di toko tertentu. Karena ingin menangkap para penjahat secara basah, para polisi memutuskan untuk tidak menghalangi niat para perampok, melainkan memasang jebakan. Akhirnya para perampok beraksi, dan di tengah perampokan mereka, mereka ditangkap oleh polisi. Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi. Para polisi pun punya kemampuan untuk membatalkan perampokan, misalnya dengan menempatkan banyak penjaga ekstra di toko itu. Namun, untuk tujuan tertentu (menangkap basah para perampok), para polisi sengaja membiarkan para perampok untuk melakukan kejahatan mereka. Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan. Tetapi, jelas bukan polisi yang menetapkan mereka untuk merampok. Demikianlah, Allah mempergunakan kejahatan manusia, untuk tujuanNya sendiri. Pembaca silakan melihat lagi bagian pembahasan bagaimana Allah mengendalikan sejarah tanpa menentukan tindakan manusia.

 

Tanggapan saya:

1)         Tak ada gunanya memberi ilustrasi, kalau hal yang didapatkan dari ayatnya sudah salah sama sekali!

 

2)   Text Kis 4:27-28 sama sekali tidak bicara tentang foreknowledge (pra pengetahuan), lalu dari mana anda tahu-tahu bicara tentang hal itu?

 

3)   Kalau polisi menerima info, itu tidak bisa disebut pra pengetahuan. Allah mempunyai pra pengetahuan bukan karena Ia menerima info. Pengetahuan Allah sama sekali tidak berasal dari luar diriNya, bukan karena belajar, menyelidiki, ataupun menerima info!

 

4)   Bagaimana di bagian atas anda bisa mengatakan ‘Tindakan perampokan itu berasal dari kehendak para perampok, sama sekali tidak ditentukan atau ditetapkan oleh para polisi’ (yang saya beri garis bawah tunggal), dan lalu di bagian bawah anda mengatakan ‘Bisa dikatakan, bahwa tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi, dan bahwa para perampok melakukan apa yang polisi rancangkan/tetapkan’ (yang saya beri garis bawah ganda)?

Kalau menurut kata-kata yang diatas, tidak perampokan tidak ditetapkan polisi (jadi bukan rencana polisi), tetapi kalau menurut kata-kata yang di bawah tindakan para perampok persis sesuai dengan rencana para polisi. Tidak melihat kalau 2 kalimat ini kontradiksi, Liauw?

 

5)   Adalah omong kosong bahwa semua tindakan perampok itu diketahui lebih dulu dan / atau ditentukan oleh polisi! Pada waktu menyerbu, polisi tidak tahu dan tidak menentukan perampoknya mau menyerah, mengambil sandera, atau lari, dan kalau lari ke arah mana. Ini anda jadikan ilustrasi untuk Allah yang merencanakan / menentukan segala sesuatu dan mengatur segala sesuatu? Betul-betul bodoh!

 

4. Matius 10:29-30 “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya.” Menurut Kalvinis, ayat ini mendukung konsep bahwa Allah menentukan segala sesuatu.
Jawab: Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan, bahwa non-Kalvinis percaya Allah menentukan banyak sekali hal. Tetapi ini berbeda dengan menentukan segala hal. Banyak ayat yang Kalvinis kutip hanya menyatakan bahwa Allah menetapkan hal ini dan hal itu, tetapi tidak ada satupun yang menyatakan bahwa Allah menetapkan segala sesuatu.

Bahwa jumlah rambut di kepala kita diketahui oleh Tuhan, sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menetapkan segala tindakan kita. Diperlukan lompatan logika yang luar biasa untuk bisa menyimpulkan hal seperti itu dari ayat ini. Hidup matinya pipit berada di tangan Tuhan. Saya sungguh mengaminkan hal ini! Jangankan pipit, hidup matinya manusia pun ada di tangan Tuhan. Tetapi ini sama sekali tidak membuktikan bahwa Allah menentukan segala pikiran, tindakan, dan keputusan manusia.

 

Tanggapan saya:

Anda lagi-lagi memfitnah! Anda membelokkan argumentasi saya. Seperti sudah saya jelaskan di atas (dalam penjelasan saya tentang Kel 21:13), bagian ini bukan saya berikan untuk menunjukkan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Tetapi saya gunakan untuk menunjukkan bahwa Allah menentukan hal-hal yang remeh / tak berarti. Baru lanjutannya: kalau hal tak berarti saja ditentukan, masakan hal penting, seperti kejatuhan Adam dsb tidak ditentukan?

 

Sama seperti dalam penjelasan saya tentang Kel 21:13 di atas, di sini saya juga menjawab bahwa burung pipit dan rambut yang tak punya kehendak, berhubungan dengan manusia yang punya kehendak.

Bagaimana kalau ada orang mau menembak burung pipit yang oleh Allah ditentukan untuk tidak mati (belum waktunya mati)? Memang Ia bisa saja membuat tembakannya luput, tetapi Ia bisa saja lalu bekerja supaya orang itu lalu merasa kasihan, dan lalu batal menembak. Atau tahu-tahu ada temannya datang dan mengajaknya pergi. Tetapi Allah tentu tidak akan membuat orang itu merasa kasihan, kecuali Ia sudah menentukan hal itu lebih dulu.]

 

Kalau burung pipit bisa berhubungan dengan manusia yang punya kehendak bebas, apalagi rambut. Kalau rambut anda ditentukan untuk tidak jatuh ke tanah, bagaimana kalau tahu-tahu anda kepingin potong rambut? Allah bisa saja membuat anda malas potong rambut. Tetapi Allah tidak akan melakukan hal itu, kecuali Ia sudah menentukannya lebih dulu.

 

Jadi, benda-benda yang tak punya kehendak bebas berhubungan erat dengan manusia yang punya kehendak bebas! Kalau yang satu ditentukan, sukar terbayangkan bahwa yang lain tidak ditentukan!

 

5. Yeremia 4:28 “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Saya akan mengutip argumen Asali dari ayat ini:

Ayat ini baru mengatakan ‘Aku telah mengatakannya’ dan lalu langsung menyambungnya dengan ‘Aku telah merancangnya’. Ini jelas menunjukkan bahwa Tuhan mengatakan sesuatu kepada nabi-nabi (yang lalu dinubuatkan oleh para nabi itu), karena Tuhan telah merancang / merencanakannya.

Jadi, Asali mengatakan bahwa ayat ini membukti pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Asali juga menyatakan bahwa jika Tuhan bernubuat tentang sesuatu hal, berarti hal itu sudah Ia tentukan lebih dahulu.
Jawab: Ayat ini sama sekali tidak membuktikan bahwa semua pengetahuan Tuhan berasal dari penentuanNya. Kalau seorang dosen berkata, “Seluruh kelas akan berkabung karena ujian yang akan saya berikan, sebab aku telah mengatakannya, aku telah merancangnya, aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.” Apakah ini membuktikan bahwa semua pengetahuan dosen itu berasal dari penentuannya? Tentu tidak!

 

Tanggapan saya:

Hehehe, kelihatannya saking bingungnya bagaimana menjawab argumentasi saya, anda jadi kelihatan seperti orang gila atau idiot! Saya sampai ketawa terpingkal-pingkal membaca kata-kata dosen gila tersebut. Tentu saja kelasnya akan berkabung, karena dosennya edan! Apakah dosen itu anda sendiri, Liauw?

Jangan paksakan ilustrasi yang begitu tidak cocok dan tidak masuk akal untuk menjawab suatu argumentasi yang memang benar, Liauw!

 

Disamping, kalau dosen itu mengatakan ujian dan para mahasiswa akan berkabung, memang mungkin itu terjadi karena dosen gila itu sudah terlebih dulu merancang ujian yang terlalu sukar bagi para mahasiswanya. Jadi apa yang ia nyatakan, muncul dari apa yang ia tetapkan / rencanakan!

 

 

Tentu ada banyak hal yang Allah tentukan, dan Allah tahu akan hal-hal itu. Ada banyak nubuat yang memang berasal dari ketentuan Tuhan. Tetapi tidak kurang juga nubuat yang tidak berasal dari ketentuan Tuhan, melainkan Tuhan memberitahu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Contohnya, dalam 1 Samuel 23:12, Allah menubuatkan apa yang akan orang-orang Kehila lakukan jika Daud tinggal di Kehila. Pada kenyataannya, Daud tidak tinggal di Kehila, jadi itu bukanlah penentuan Tuhan. Nubuat (pengetahuan) ini bukanlah sesuatu yang Allah tentukan dulu!

 

Tanggapan saya:

Ini sudah saya jelaskan di depan, jadi saya jawab singkat saja di sini.

Dalam hal ini Allah menetapkan bahwa Daud tidak tinggal di Kehila. Jadi, bukannya tidak ada penetapan. Ada penetapan bahwa Daud tidak tinggal di Kehila! Dan adanya penetapan itu kelihatannya menunjukkan bahwa sebelum perencanaan Tuhan sudah memikirkan kemungkinan-kemungkinan kalau Daud tinggal, atau kalau Daud meninggalkan Kehila. Karena itu Ia tahu hal-hal itu.

 

Atau bisa juga dijawab seperti penjelasan Calvin berkenaan dengan Mat 11:20-24, yaitu di sini Tuhan hanya berbicara secara logis, bukan berdasarkan rencana / keputusanNya.

 

 

6. Efesus 1:11 “Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.” Bahwa Allah di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya, diartikan oleh Kalvinis untuk mendukung premis mereka bahwa Allah menentukan segala sesuatu.

Jawab: Ayat ini sama sekali tidak mengatakan bahwa Allah menentukan segala sesuatu. Jikalau dikatakan bahwa “Allah bekerja di dalam segala sesuatu,” maka non-Kalvinis sama sekali tidak akan protes, karena itulah bunyi ayat ini. Allah memang bekerja dalam segala sesuatu. Segala tindakan dan keputusan manusia, haruslah melalui izin Allah, apakah dapat tercapai atau tidak. Seperti sudah diilustrasikan, seseorang bisa saja berniat untuk membunuh. Maksud pembunuhan tersebut tidak Allah tetapkan melainkan keluar dari hati orang yang jahat itu. Tetapi, Allah bekerja dalam segala sesuatu. Allah bisa menggagalkan niat pembunuhan itu, atau Allah bisa membiarkan niat pembunuhan itu untuk melaksanakan rencanyaNya. Allah bekerja dalam segala sesuatu menurut keputusan kehendakNya! Ayat ini sama sekali tidak harus mendukung bahwa Allah telah menetapkan segala sesuatu.

Tanggapan saya:

Coba baca lagi ayatnya, Liauw! Anda memang kelihatannya senang kalau orang hanya melihat ayatnya sepintas lalu, karena kalau demikian, anda bisa lari / menghindar dari argumentasi saya.

Tetapi saya justru ingin ayatnya diperhatikan baik-baik. Karena itu saya kutip ulang untuk diperhatikan dengan seksama.

Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya.”

Bagian awal ayat itu (yang saya beri garis bawah tunggal) jelas bicara tentang predestinasi (seperti Ef 1:4-5). Jadi, kami mendapat bagian itu karena dari semula kami ditentukan untuk menerima bagian itu (ay 11a). Dan ini sesuai dengan maksud Allah (ay 11b). Lalu untuk menjelaskan tentang ‘Allah’ di akhir ay 11b itu, Paulus melanjutkan dengan kata-kata ‘yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya’ (ay 11c).

Jadi, karena Allah dalam segala sesuatu bekerja menurut ketetapanNya, maka predestinasi itu bisa terjadi.

Kalau ‘segala sesuatu’ itu tidak berhubungan dengan tindakan bebas manusia / kehendak bebas manusia, apakah itu bisa disebut ‘segala sesuatu’?

Calvin: “‘Who worketh all things.’ The circumlocution employed in describing the Supreme Being deserves attention. He speaks of Him as the sole agent, and as doing everything according to His own will, so as to leave nothing to be done by man. In no respect, therefore, are men admitted to share in this praise, as if they brought anything of their own. God looks at nothing out of himself to move him to elect them, for ‘the counsel of his own will’ is the only and actual cause of their election. This may enable us to refute the error, or rather the madness, of those who, whenever they are unable to discover the reason of God’s works, exclaim loudly against his design (= ).

Pesan untuk para pembaca perdebatan ini: bacalah tulisan saya yang berjudul ‘Providence of God’, maka saudara akan melihat berapa banyak bagian dan ayat-ayat dari tulisan saya yang diloncati begitu saja oleh Steven Liauw! Mengapa? Jelas karena ia tidak bisa menjawabnya! Dan bagian-bagian / ayat-ayat yang ia jawab, banyak juga ia selewengkan, sehingga pada hakekatnya, tidak ia jawab!

 

-o0o-

 

Untuk membaca tulisan Pdt Budi Asali tentang:

‘Providence of God’

sdr/sdri bisa masuk ke website :

http://golgothaministry.org/