KENAIKAN KRISTUS KE SURGA

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


 

Kenaikan Kristus ke surga 2002

Ibr 6:19-20  Yoh 14:1-6

I) Pengharapan.

Dalam pembicaraan sehari-hari kalau kita menggunakan kata ‘pengharapan’ atau ‘berharap’, maka itu tidak menunjuk pada suatu kepastian, tetapi hanya merupakan suatu keinginan yang bisa terjadi, tetapi bisa juga tidak.

Misalnya:

Dalam Kitab Sucipun kata ‘pengharapan’ sering digunakan dalam arti seperti itu.

Misalnya:

¨      Amsal 11:7 - Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia”.

¨      Yes 20:5 - “Maka orang akan terkejut dan malu karena Etiopia, pokok pengharapan mereka, dan karena Mesir, kebanggaan mereka”.

Tetapi dalam Kitab Suci seringkali kata ‘pengharapan’ digunakan dalam arti yang pasti, atau bisa diartikan sebagai ‘keyakinan’.

Misalnya:

Dalam arti seperti itulah kata ‘pengharapan’ digunakan dalam Ibr 6:19-20 ini.

Ibr 6:19-20 - “(19) Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, (20) di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya”.

Bagi orang kristen, pengharapan akan keselamatan / masuk surga bukan sekedar suatu pengharapan dalam arti bisa terjadi, bisa juga tidak. Bagi orang kristen, pengharapan bukan berarti ‘mungkin’, atau ‘mudah-mudahan’, atau ‘kemungkinan besar’. Sama sekali tidak! Dalam agama lain tidak ada kepastian keselamatan. Mengapa? Karena semua agama lain mendasarkan keselamatannya pada perbuatan baik. Setidaknya perbuatan baik mempunyai andil dalam keselamatan mereka. Dan karena tidak seorangpun bisa tahu berapa banyaknya dosa maupun perbuatan baiknya, maka jelas bahwa dalam agama lain tidak mungkin ada seorangpun yang bisa yakin akan keselamatannya. Tetapi dalam kekristenan ada kepastian keselamatan. Pengharapan untuk masuk surga bukan cuma ‘mungkin’, ‘mudah-mudahan’, dsb, tetapi merupakan sesuatu yang pasti. Mengapa?

II) Alasan kepastian keselamatan.

1)   Kristen mendasarkan keselamatan sama sekali bukan pada perbuatan baik, tetapi pada iman.

Ef 2:8-9 - “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

2)   Karena di atas kayu salib Yesus sudah menebus semua dosa kita.

Ini dinyatakan oleh:

a)   Kata-kata ‘Sudah selesai’ di kayu salib’ (Yoh 19:30).

b)   Ayat-ayat seperti:

·        Kol 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”.

·        1Yoh 1:7,9 - “(7) Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. ... (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.

·        Tit 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik”.

3)   Karena Yesus sudah bangkit dari antara orang mati.

Kalau Yesus tidak bangkit, itu menunjukkan bahwa maut sebagai upah dosa (Ro 6:23) belum Ia bereskan, dan dengan demikian dosa-dosa kita juga belum beres. Tetapi bahwa Ia sudah bangkit dari antara orang mati, itu menunjukkan bahwa semua dosa kita sudah Ia bereskan.

4)   Karena kenaikan Yesus ke surga.

Mengapa kenaikan Yesus ke surga bisa memberi kepastian keselamatan?

a)   Kenaikan Yesus ke surga dan diterimanya Ia di surga oleh Allah Bapa, menunjukkan bahwa misiNya untuk menebus dosa manusia memang sudah selesai.

b)   Karena Yesus berkata bahwa Ia pergi / naik ke surga untuk menyediakan / mempersiapkan tempat bagi kita (yang percaya kepadaNya), dan Ia akan kembali untuk membawa kita ke tempatNya, supaya dimana Ia berada di situ kita berada.

Yoh 14:1-6 - “(1) ‘Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. (2) Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (3) Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. (4) Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.’ (5) Kata Tomas kepadaNya: ‘Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?’ (6) Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”.

c)   Karena Ibr 6:19-20 berkata bahwa Yesus masuk ke surga sebagai Perintis bagi kita.

Ibr 6:19-20 - “(19) Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, (20) di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya”.

NIV: ‘(19) We have this hope as an anchor for the soul, firm and secure. It enters the inner sanctuary behind the curtain, (20) where Jesus, who went before us, has entered on our behalf. He has become a high priest forever, in the order of Melchizedek’ [= Kami / kita mempunyai pengharapan ini sebagai suatu sauh / jangkar untuk jiwa, teguh dan aman / pasti. Itu (pengharapan tersebut) memasuki ruang maha suci di balik tabir, (20) kemana Yesus, yang pergi di depan kita / mendahului kita, telah masuk demi kepentingan kita. Ia telah menjadi Imam Besar selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek].

Karena penulis surat Ibrani ini menulis kepada orang-orang Yahudi, maka ia menggunakan Kemah / Bait Suci sebagai gambaran (Calvin, hal 154).

Calvin: “this was shadowed forth formerly under the Law; for the high priest entered the holy of holies, not in his own name only, but also in that of the people, ... so that in the person of one man all entered into the sanctuary together. ... Rightly then does the Apostle speak, when he reminds them that our high priest has entered into heaven; for he has not entered only for himself, but also for us” [= ini dulu digambarkan di bawah hukum Taurat; karena imam besar memasuki ruang maha suci, bukan hanya dalam namanya sendiri, tetapi juga dalam nama umat / bangsa (Israel), ... sehingga dalam diri satu orang semua masuk ke dalam ruang maha suci bersama-sama. ... Maka benarlah kata-kata sang Rasul, pada waktu ia mengingatkan mereka bahwa Imam Besar kita telah masuk ke dalam surga; karena Ia tidak masuk hanya untuk diriNya sendiri, tetapi juga untuk kita] - hal 154.

Catatan: Calvin menyebut ‘rasul’ karena ia beranggapan bahwa penulis surat Ibrani adalah rasul Paulus. Tetapi hampir semua penafsir-penafsir jaman sekarang menganggap bahwa Paulus bukanlah penulis dari surat Ibrani.

Calvin: “There is therefore no reason to fear that access to heaven will be closed up against our faith, as it is never disjoined from Christ. And as it becomes us to follow Christ who is gone before, he is therefore called our Forerunner, or precursor” (= Karena itu tidak ada alasan untuk takut bahwa jalan masuk ke surga akan ditutup terhadap iman kita, karena itu (surga / jalan masuk ke surga) tidak pernah dipisahkan dari Kristus. Dan karena kita mengikut Kristus yang telah pergi / masuk ke sana lebih dulu, karena itu Ia disebut Perintis kita) - hal 154.

Editor dari Calvin’s Commentary: “The prodromoV (PRODROMOS) is one who goes before to prepare the way for those who follow him. ... He has not only gone to prepare a place for his people; but he is also their leader whom they are to follow; and where he has entered they shall also enter. His entrance is a pledge of their entrance” [= Kata prodromoV / PRODROMOS artinya adalah seseorang yang berjalan di depan / pergi dahulu untuk mempersiapkan jalan bagi mereka yang mengikuti dia. ... Ia (Yesus) bukan hanya pergi untuk mempersiapkan tempat bagi umatNya; tetapi Ia juga adalah Pemimpin mereka yang harus mereka ikuti; dan kemana Ia telah masuk, mereka juga akan masuk. Masuknya Dia merupakan jaminan masuknya mereka] - hal 154-155 (footnote).

Karena itulah maka dalam ay 19nya dikatakan bahwa ‘pengharapan itu adalah sauh / jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa kita’.

Orang-orang Arminian menafsirkan text yang indah ini sedemikian rupa sehingga menghancurkan kepastian keselamatan, dan menjadikan ‘pengharapan’ sekedar sebagai suatu keinginan yang bisa terjadi, bisa juga tidak.

Pulpit Commentary: “The Divine purpose may have been evinced by supplies of grace so abundant as to remove all doubt of the possibility of success; yet through the human will there may be failure; ... faith and patience are the conditions of fulfilment” (= Rencana ilahi mungkin telah ditunjukkan dengan jelas oleh suplai kasih karunia yang begitu banyak sehingga menyingkirkan semua keragu-raguan tentang kemungkinan kesuksesan; tetapi melalui kehendak manusia bisa ada kegagalan; ... iman dan kesabaran adalah syarat dari penggenapan) - hal 163.

Bandingkan dengan komentar Calvin di bawah ini, yang betul-betul menunjukkan jaminan keselamatan bagi orang kristen yang sejati.

Calvin: “It is a striking likeness when he compares faith leaning on God’s word to an anchor; for doubtless, as long as we sojourn in this world, we stand not on firm ground, but are tossed here and there as it were in the midst of the sea, and that indeed very turbulent; for Satan is incessantly stirring up innumerable storms, which would immediately upset and sink our vessel, were we not to cast our anchor fast in the deep. ... Thus when we united to God, though we must struggle with continual storms, we are yet beyond the peril of shipwreck. Hence he says, that this anchor is ‘sure’ and ‘stedfast,’ or safe and firm” (= Merupakan suatu kemiripan yang menyolok pada waktu ia membandingkan iman yang bersandar pada Firman Allah sebagai suatu jangkar; karena tidak diragukan bahwa selama kita tinggal dalam dunia ini, kita tidak berdiri pada tanah yang kokoh, tetapi kita diombang-ambingkan kesana kemari seakan-akan kita ada di tengah-tengah laut, yang betul-betul sedang bergolak; karena setan / Iblis dengan tak henti-hentinya membangkitkan sangat banyak badai, yang akan segera membalikkan dan menenggelamkan kapal kita, seandainya kita tidak membuang / memasukkan jangkar kita dengan teguh di kedalaman. ... Karena itu pada waktu kita dipersatukan dengan Allah, sekalipun kita harus bergumul dengan badai yang terus menerus, tetapi kita berada di luar bahaya kapal karam / kecelakaan kapal. Karena itu ia berkata bahwa sauh / jangkar ini ‘pasti’ dan ‘teguh’, atau aman dan teguh) - hal 153.

Seorang penafsir lain dari Pulpit Commentary memberikan komentar yang sangat bertentangan dengan komentar dari penafsir dari Pulpit Commentary di atas (ingat bahwa Pulpit Commentary mencakup tulisan dari banyak penulis / penafsir), dengan kata-kata di bawah ini.

Pulpit Commentary: “This text suggests, first of all, that the Christian life is a life of storm. It is exposed to storms of persecution, of doubt, of remorse, of inward corruption, of outward adversity, and to the last great storm of death. But, blessed be God, believers possess complete security in the midst of these storms” (= Pertama-tama text ini menunjukkan secara implicit bahwa kehidupan Kristen adalah kehidupan badai. Itu terbuka terhadap badai penganiayaan, keragu-raguan, penyesalan, kejahatan / kebejatan di dalam, kesengsaraan luar / lahiriah, sampai pada badai besar terakhir yaitu kematian. Tetapi terpujilah Allah, karena orang-orang percaya mempunyai keamanan yang sempurna di tengah-tengah badai-badai ini) - hal 165.

Pulpit Commentary: “This hope enables the Christian in deep distress to say, ‘Why art thou cast down, O my soul?’ (Ps. 42:11). And in wildest storms it inspires him to sing, ‘God is our Refuge and Strength, a very present Help in trouble,’ etc. (Ps. 46:1-3,7)” [= Pengharapan ini memampukan orang kristen dalam kesukaran / kesusahan / penderitaan yang dalam untuk berkata: ‘Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?’ (Maz 42:12). Dan dalam badai yang paling hebat ini mengilhaminya untuk menyanyi: ‘Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti’, dst. (Maz 46:2-4,8)] - hal 172-173.

Maz 42:12 - “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, penolongku dan Allahku!”.

Maz 46:2-4,8 - “(2) Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. (3) Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; (4) sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya. Sela ... (8) TUHAN semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub. Sela”.

Merupakan suatu yang menarik bagi saya bahwa sekalipun pada awal dari Ibrani pasal 6 ini (ayat 4-6) terdapat text yang sering dianggap sebagai dasar bahwa keselamatan bisa hilang / orang kristen bisa kehilangan keselamatannya, tetapi pada akhir dari Ibr 6 ini diberikan suatu jaminan keselamatan bagi orang kristen yang sejati. Jadi, yang bisa murtad dalam ay 4-6 itu, pastilah hanya orang kristen KTP. Orang kristen yang sejati mempunyai jangkar yang ‘kuat dan aman’ / ‘pasti dan teguh’. Ini memang tidak berarti bahwa kita boleh hidup secara sembrono. Jaminan dari Allah tidak membuang tanggung jawab kita untuk hidup dengan sebaik-baiknya! Tetapi bagaimanapun juga, jaminan bagi orang percaya itu merupakan jaminan yang mutlak!

Kesimpulan / penutup.

Hari ini kita merayakan Hari Kenaikan Kristus ke surga. Apakah saudara merayakan dengan suatu pengharapan / keyakinan bahwa suatu hari kelak, saudara pasti akan masuk ke surga dan bersama-sama dengan Dia selama-lamanya?

 

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com