Eksposisi Surat Paulus kepada Jemaat di Filipi

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


FILIPI 2:1-11

I) Paulus menginginkan kesatuan gereja Filipi:

1) Gereja Filipi mengalami perpecahan.

Sebetulnya, gereja Filipi adalah gereja yang bagus / baik. Ini terlihat dari banyaknya pujian yang Paulus berikan kepada mereka (bdk. 1:5 4:10,14-18).

Tetapi, bagaimanapun juga, ini bukan gereja yang sempurna. Dalam gereja ini ternyata ada perpecahan (bdk. 4:2).

Dari sini kita bisa belajar bahwa kalau suatu gereja pecah, itu tidak / belum membuktikan bahwa gereja itu adalah gereja yang jelek!

William Barclay memberikan komentar sebagai berikut:

"The one danger which threatened the Phillipian church was that of disunity. There is a sense in which that is the danger of every healthy church. It is when people are really in earnest and their belief really matter to them, that they are apt to get up against each other. The greater their enthusiasm, the greater the danger that they may collide" (= bahaya yang mengancam gereja Filipi adalah perpecahan. Dalam arti tertentu, ini adalah bahaya bagi semua gereja yang sehat. Kalau orang-orang bersungguh-sungguh dan kepercayaan mereka betul-betul pen-ting / berarti bagi mereka, maka mereka akan condong untuk gegeran satu dengan yang lain. Makin besar semangat mereka, makin besar bahaya bahwa mereka akan geger).

Saya setuju dengan kata-kata ini. Dalam suatu gereja yang suam, kalau ada hal-hal yang salah dalam gereja, atau kalau ada orang-orang yang melakukan pelayanan dengan tidak bertanggung jawab, maka jemaat yang lain yang juga suam itu tidak akan marah, sehingga tidak terjadi gegeran. Tetapi kalau hal itu terjadi dalam gereja yang bagus, maka hal itu akan membuat jemaat yang bersungguh-sungguh ikut Tuhan menjadi marah, sehingga terjadi gegeran!

Penerapan:

2) Paulus menginginkan kesatuan gereja Filipi.

Paulus bersukacita kalau gereja Filipi bisa bersatu (ay 2). Orang kristen yang sejati seharusnya adalah 'pembawa damai' (bdk. Mat 5:9), sehingga seharusnya selalu senang kalau gereja bisa bersatu. Tetapi anehnya, ada orang-orang kristen tertentu yang senang kalau melihat suatu gereja pecah, khususnya kalau itu adalah gereja 'saingan'nya!

Bahkan ada juga orang kristen yang kerjanya menyebarkan gossip / fitnah sehingga memecah gereja!

Kalau saudara adalah orang kristen seperti itu, cepatlah bertobat!

II) Cara bersatu:

1) Tidak mencari kepentingan sendiri dan puji-pujian yang sia-sia (ay 3a).

NIV: 'do nothing out of selfish ambition or vain conceit' (= jangan melaku-kan apapun yang ditimbulkan oleh ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia).

Adanya keinginan untuk meninggikan diri sendiri, selalu menyebabkan timbulnya persaingan, dan persaingan lalu menimbulkan ketidaksenang-an / permusuhan. Karena itu, renungkanlah apakah dalam diri saudara ada egoisme atau keinginan untuk menonjol / menyombongkan diri. Kalau ada, bertobatlah sebelum hal itu memecah gereja saudara!

2) Rendah hati dan menganggap orang lain lebih baik dari diri kita sendiri (ay 3b).

Kitab Suci Indonesia: 'lebih utama'.

NASB: 'more important' (= lebih penting).

KJV / RSV / NIV: 'better' (= lebih baik).

Kalau kita berusaha untuk bersatu, maka kita akan berusaha untuk mendekat satu sama lain. Tetapi ini bisa membuat kita makin melihat kejelekan saudara seiman kita sehingga bisa menyebabkan kita bahkan makin tidak senang kepada saudara seiman kita.

Karena itu, ay 3b ini penting sekali! Kita harus menganggap saudara seiman kita lebih baik dari diri kita sendiri. Ini tidak berarti bahwa kita harus menganggap bahwa saudara seiman kita lebih baik dari diri kita dalam segala hal!

Apa yang harus kita lakukan supaya bisa menganggap saudara seiman kita lebih baik dari diri kita?

3) Jangan hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri, tetapi kepenting-an orang lain juga (ay 4).

Kitab Suci Indonesia: 'kepentingan'.

RSV / NIV / NASB: 'interests' (= kepentingan).

KJV / Lit: 'things' (= hal-hal).

Penerapan:

4) Meneladani Yesus Kristus (ay 5).

Kita hanya bisa sehati, sepikir dan seperasaan dengan Yesus kalau kita banyak bersekutu dengan Dia. Karena itu pikirkan: apakah saudara cukup memberi waktu untuk bersaat teduh, dimana saudara bisa sendirian dengan Tuhan?

III) Teladan Kristus Yesus:

1) Yesus adalah Allah.

Ay 6: 'walaupun dalam rupa Allah'.

KJV: 'being in the form of God' (ada dalam rupa Allah).

a) Kata 'being' itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tidak bisa berubah ('It describes that which a man is in his very essence and which cannot be changed').

Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu 'being in the form of God', maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah dan ini tak bisa berubah.

Ketidak-bisa-berubahan ini ditunjukkan oleh bentuk present participle dari kata HUPARCHON tersebut.

Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk aorist (past / lampau) pada kata-kata setelahnya, dan ini menunjuk pada 'continuance of being' (= keberadaan yang terus-menerus).

Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6 Maz 102:26-28 Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan bahwa Ia tidak sempurna!

b) Juga kalau ay 7 yang mengatakan 'mengambil rupa seorang hamba' diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsekwensinya, ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada 'dalam rupa Allah' haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

2) Yesus menjadi manusia (ay 6b-7).

Ay 6b-7 ini dijadikan dasar suatu ajaran sesat yang disebut Teori Keno-sis, yang mengatakan bahwa Anak Allah mengesampingkan sebagian / seluruh sifat-sifat ilahiNya supaya Ia bisa menjadi manusia yang terbatas.

Contoh: Mat 24:36 menunjukkan Yesus tidak maha tahu.

Tetapi, Teori Kenosis ini salah! Alasannya:

Catatan: Kalau saudara mau mempelajari hal ini lebih dalam bacalah buku saya yang berjudul CHRISTOLOGY.

Penafsiran yang benar:

a) Kristus tetap adalah Allah, dan keilahianNya tidak berkurang, tetapi disembunyikan.

Calvin:

"Christ, indeed, could not divest himself of Godhead; but he kept it concealed for a time, that it might not be seen, under the weakness of the flesh. Hence, he laid aside his glory in the view of men, not by lessening it, but by concealing it" (= Kristus tidak bisa melepaskan dirinya sendiri dari keilahian-Nya; tetapi menyembunyikannya untuk sementara waktu, supaya tak kelihatan, di bawah kelemahan daging. Jadi, Ia mengesampingkan kemuliaanNya dalam pandangan manusia, bukan dengan menguranginya, tetapi dengan menyembu-nyikannya).

b) Kristus direndahkan dengan mengambil / menambahkan hakekat manusia pada diriNya.

Seseorang mengatakan:

"Christ was lowered not by losing, but rather by taking" (= Kristus direndah-kan, bukan dengan kehilangan, tetapi dengan mengambil).

Illustrasi:

Orang kaya / orang kota bisa merendahkan dirinya tanpa kehilangan apa-apa, yaitu kalau kepadanya ditambahkan pakaian orang miskin / orang desa.

3) Yesus merendahkan diri, lalu taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (ay 8).

Akibatnya: Allah meninggikan Dia (ay 9-11).

Sebagian dari peninggian / pemuliaan itu sudah terjadi, yaitu pada waktu Yesus bangkit, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah.

Tetapi peninggian / pemuliaan yang dilukiskan dalam ay 10-11, dimana setiap lutut akan bertelut di depan Yesus dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, baru akan terjadi pada saat Yesus datang kembali untuk ke dua kalinya. Pada saat itu maka:

Karena itu, kalau saat ini saudara bukan orang kristen yang sejati, dari pada saudara dipaksa untuk berlutut dan mengakui Yesus sebagai Tuhan pada akhir jaman, berlututlah di depan Yesus dan akuilah Dia sebagai Tuhan dengan sukarela, pada saat ini juga!

Kesimpulan:

Teladan Yesus adalah:

Kalau kita mau menuruti teladan ini, maka:

a) Gereja akan bisa bersatu.

b) Sama seperti Yesus, kitapun akan ditinggikan oleh Allah (bdk. 1Pet 5:6).

Maukah saudara menuruti teladan Yesus?

-AMIN-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com