Khotbah Eksposisi

Filemon 12-14

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

 

Ay 12-14: “(12) Dia kusuruh kembali kepadamu - dia, yaitu buah hatiku -. (13) Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil, (14) tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.

 

1)         Dia kusuruh kembali kepadamu - dia, yaitu buah hatiku (ay 12).

a)   Paulus menyebut Onesimus sebagai ‘buah hatiku’, menunjukkan betapa sayangnya ia kepada Onesimus, padahal Onesimus adalah seorang budak yang melarikan diri dari tuannya, dan seorang pencuri.

 

Calvin: “if the conversion of a man to God were estimated by us, at its proper value, we too would embrace, in the same manner, those who should give evidence that they had truly and sincerely repented (= jika pertobatan seseorang kepada Allah kita nilai dengan benar, kitapun akan memeluk, dengan cara yang sama, mereka yang memberikan bukti bahwa mereka telah benar-benar dan dengan tulus bertobat) - hal 354.

 

Catatan: jaman sekarang banyak penipu, yang mengaku bertobat, hanya untuk mendapatkan keuntungan dari orang-orang kristen. Kita harus hati-hati untuk tidak terlalu mudah mempercayai seadanya cerita pertobatan, kalau tidak disertai bukti-bukti pertobatan. Tetapi dalam faktanya, banyak orang Kristen yang terlalu mudah mempercayai cerita-cerita seperti itu, sehingga akhirnya tertipu. Lebih-lebih kalau yang mengaku bertobat adalah tokoh dari agama Islam, maka mereka bukan hanya cepat-cepat menerima dan menolong orang itu, tetapi juga segera menjadikan orang itu pengkhotbah / pendeta tanpa melalui pendidikan / sekolah theologia. Ini adalah tindakan yang sangat bodoh dari orang Kristen! Apakah seorang ahli ekonomi, yang pindah ke bidang kedokteran, bisa langsung menjadi dokter, tanpa pendidikan ilmu kedokteran? Biarpun Islam dan Kristen sama-sama adalah agama, tetapi ajaran dan dasarnya / Kitab Sucinya sama sekali berbeda, sehingga tokoh Islam yang bertobat harus belajar kekristenan mulai dari nol, dari pelajaran katekisasi! Ini sangat berbeda dengan tokoh Yahudi abad pertama yang bertobat. Mengapa? Karena Kitab Sucinya sama, yaitu Perjanjian Lama. Perbedaannya hanya mengenai tafsiran berkenaan dengan Mesias dan syarat keselamatan, sehingga kalau 2 hal ini dibereskan, maka mereka siap menjadi pengkhotbah dalam Kristen.

 

Juga harus diingat salah satu syarat penatua dalam 1Tim 3:6 - “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis”.

 

Jadi, mengangkat orang yang baru bertobat menjadi pendeta, merupakan sesuatu yang bertentangan dengan Kitab Suci!

 

b)   Dengan mengirimkan kembali Onesimus, yang adalah buah hatinya, kepada Filemon, Paulus jelas melakukan pengorbanan. Tetapi seseorang mengatakan bahwa lebih besar lagi pengorbanan yang dilakukan oleh Onesimus dengan mau dikirim kembali kepada tuannya, dari siapa yang lari dan mencuri.

 

J. B. Lighfoot: “if the claim of duty demanded a great sacrifice from Paul, it demanded a greater still from Onesimus. By returning he would place himself entirely at the mercy of the master whom he had wronged. Roman law, more cruel than Athenian, practically imposed no limits to the power of the master over his slave. The alternative of life and death rested solely with Philemon, and slaves were constantly crucified for far lighter offences than his. A thief and a runaway, he had no claim of forgiveness” (= jika tuntutan kewajiban menuntut pengorbanan besar dari Paulus, maka itu menuntut pengorbanan yang lebih besar lagi dari Onesimus. Dengan kembali ia menempatkan dirinya sendiri sepenuhnya pada belas kasihan dari tuan terhadap siapa ia telah berbuat salah. Hukum Romawi, lebih kejam dari hukum Athena, secara praktis tidak memberi batas pada kuasa dari tuan atas budaknya. Pilihan antara hidup dan mati sepenuhnya ada pada Filemon, dan budak-budak secara terus menerus disalibkan untuk pelanggaran yang jauh lebih ringan dari ini. Seorang pencuri dan pelarian, tidak mempunyai hak untuk pengampunan) - hal 312.

 

Catatan: kata-kata di atas ini berlaku secara teoretis. Tetapi secara praktis, saya yakin bahwa Paulus yakin bahwa Filemon tidak akan berlaku kejam kepada Onesimus. Kalau tidak, ia tidak akan mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon. Bandingkan dengan point d) di bawah.

Tetapi Onesimus memang harus kembali, karena dari sudut Onesimus berlaku kata-kata Yesus dalam Mat 5:23-24 - “(23) Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, (24) tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu”.

Tindakannya melarikan diri, apalagi dengan mencuri, jelas bersalah dan memberikan suatu ganjelan dalam diri Filemon, dan berdasarkan kata-kata Yesus di atas, ia harus kembali untuk membereskan hal itu. Kalau tidak, itu akan mengganggu hubungannya dengan Allah.

 

c)  Apakah dengan mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon, Paulus / kekristenan mendukung perbudakan?

Barclay: “Christianity in the early days did not attack slavery; to have done so would have been disastrous” (= Kekristenan pada abad-abad awal tidak menyerang perbudakan; melakukan hal itu akan menjadi suatu bencana) - hal 272.

Barclay: “if Christianity had, in fact, given the slaves any encouragement to revolt or to leave their masters, nothing but tragedy could have followed. Any such revolt would have been savagely crushed; any slave who took his freedom would have been mercilessly punished; and Christianity would itself have been branded as revolutionary and subversionary” (= seandainya kekristenan dalam faktanya memberikan dorongan untuk memberontak atau untuk meninggalkan tuan mereka, tidak ada apapun kecuali tragedi yang akan terjadi. Pemberontakan seperti itu akan dihancurkan dengan kejam; budak manapun yang membebaskan dirinya sendiri akan dihukum tanpa belas kasihan; dan kekristenan akan dicap sebagai gerakan yang bersifat revolusioner dan subversif) - hal 271.

Jamieson, Fausset & Brown: “Scripture does not sanction slavery; yet does not begin a political crusade against it. It sets forth principles of love to our fellow-men, sure (as they have done) in due time to undermine and overthrow it, without violently convulsing the existing political fabric, by stirring up slaves against their master” [= Kitab Suci tidak menyetujui / mendukung perbudakan; tetapi tidak memulai suatu peperangan yang bersifat politik terhadap hal itu. Kekristenan memberikan prinsip-prinsip kasih kepada sesama manusia, dengan pasti (seperti yang telah mereka lakukan) pada waktu yang tepat merusak / menggerogoti dan menggulingkan perbudakan, tanpa secara keras / kasar menggoncangkan struktur politik yang sudah ada, dengan menghasut budak-budak menentang tuan mereka].

 

Barclay: “In the Roman Empire there were as many as 60,000,000 slaves. Slavery began with Roman conquests, slaves being originally mainly prisoners taken in war, ... It was by no means only menial tasks which were performed by slaves. Doctors, teachers, musicians, actors, secretaries, stewards were slaves. In fact, all the work of Rome was done by slaves. Roman attitude was that there was no point in being master of the world and doing one’s own work. Let the slaves do that and let the citizens live in pampered idleness” [= Dalam kekaisaran Romawi ada 60 juta budak. Perbudakan dimulai dengan penaklukan Romawi, mula-mula budak-budak pada umumnya adalah para tawanan perang, ... Bukan hanya tugas-tugas kasar / rendah yang dilakukan oleh budak-budak. Dokter-dokter, guru-guru, musisi-musisi, aktor-aktor, sekretaris-sekretaris, pengurus-pengurus rumah adalah budak-budak. Bahkan dalam faktanya semua pekerjaan Romawi dilakukan oleh budak-budak. Sikap Romawi adalah bahwa tidak ada gunanya menjadi tuan dari dunia tetapi melakukan pekerjaannya sendiri. Biarlah budak-budak yang melakukannya dan biarlah para warga negara (Romawi) hidup dalam kemalasan yang manja] - hal 210.

 

Barclay: “In Roman law a slave was not a person but a thing; and he had absolutely no legal rights whatsoever. ... The only difference between a slave and a beast or a farmyard cart was that a slave happened to be able to speak. ... In regard to a slave, his master’s will, and even his master’s caprice, was the only law. ... He did not possess even the elementary rights of a person and for him justice did not even exist” (= Dalam hukum Romawi seorang budak bukanlah seorang pribadi tetapi suatu benda; dan ia sama sekali tidak mempunyai hak-hak hukum apapun. ... Satu-satunya perbedaan antara seorang budak dan seekor binatang atau sebuah kereta pertanian adalah bahwa seorang budak bisa berbicara. ... Berkenaan dengan seorang budak, kehendak tuannya, dan bahkan perubahan pikiran secara tiba-tiba dari tuannya, adalah satu-satunya hukum. ... Ia bahkan tidak mempunyai hak-hak dasar dari seorang pribadi, dan bagi dia keadilan bahkan tidak ada) - hal 211.

 

Barclay: “Some students are puzzled that no New Testament writer ever pleads for the abolition of slavery or even says in so many words that it is wrong. The reason was simple. To have encouraged the slaves to rise against their masters would have been the way to speedy disaster. There had been such revolts before and they had always been quickly and savagely crushed. In any event, such teaching would merely have gained for Christianity the reputation of being a subversionary religion. There are some things which cannot happen quickly; there are some situations in which the leaven has to work and in which haste is the surest way to delay the desired end. The leaven of Christianity had to work for many generations before the abolition of slavery became a practical possibility. Peter was concerned that Christian slaves should demonstrate to the world that their Christianity did not make them disgruntled rebels but rather workmen who had found a new inspiration towards doing an honest day’s work. It will still often happen that, when some situation cannot at the time be changed, the Christian duty is to be Christian within that situation and to accept what cannot be changed until the leaven has worked” (= Sebagian pelajar bingung karena tidak ada penulis Perjanjian Baru yang pernah meminta penghapusan perbudakan atau bahkan mengatakan bahwa hal itu salah. Alasannya sederhana. Mendorong budak-budak untuk memberontak terhadap tuan-tuan mereka merupakan jalan kepada bencana yang cepat. Sebelum saat itu sudah pernah terjadi pemberontakan-pemberontakan dan mereka selalu dihancurkan dengan cepat dan kejam. Bagaimanapun juga, ajaran seperti itu hanya akan menyebabkan kekristenan mendapatkan reputasi sebagai agama yang bersifat subversif. Ada hal-hal yang tidak bisa terjadi dengan cepat; ada situasi-situasi dalam mana ragi harus bekerja dan dalam mana ketergesa-gesaan merupakan jalan yang paling pasti untuk menunda tujuan yang diinginkan. Ragi kekristenan harus bekerja untuk banyak generasi sebelum penghapusan perbudakan menjadi suatu kemungkinan yang praktis. Perhatian Petrus adalah supaya budak-budak kristen mendemonstrasikan kepada dunia bahwa kekristenan mereka tidak membuat mereka menjadi pemberontak-pemberontak yang tidak puas tetapi sebaliknya pekerja-pekerja yang telah menemukan suatu ilham baru untuk melakukan pekerjaan yang jujur. Masih sering terjadi bahwa pada waktu suatu situasi tidak bisa diubah pada saat itu, kewajiban orang kristen adalah untuk menjadi orang kristen dalam situasi itu dan menerima apa yang tidak bisa diubah sampai ragi telah bekerja) - hal 212-213.

 

Catatan: 3 kutipan dari Barclay ini saya ambil dari buku tafsirannya tentang 1Petrus.

 

d)  Apakah dengan mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon, Paulus tidak bertentangan dengan Ul 23:15?

 

Ul 23:15-16 - “(15) ‘Janganlah kauserahkan kepada tuannya seorang budak yang melarikan diri dari tuannya kepadamu. (16) Bersama-sama engkau ia boleh tinggal, di tengah-tengahmu, di tempat yang dipilihnya di salah satu tempatmu, yang dirasanya baik; janganlah engkau menindas dia.’”.

 

Barnes’ Notes: “this passage should not be adduced to prove that we ought to send back runaway slaves to their former masters against their own consent” (= text ini tidak seharusnya dikemukakan untuk membuktikan bahwa kita harus mengirim kembali budak-budak yang melarikan diri kepada tuan-tuan mereka tanpa persetujuan mereka).

 

Barnes juga mengatakan bahwa Paulus pasti tahu tentang Ul 23:15 dan tidak mungkin bertindak bertentangan dengan ayat itu. Jadi, ia menyimpulkan bahwa Paulus mengirimkan Onesimus kembali kepada Filemon, karena Onesimuslah yang pertama-tama menginginkan hal itu. Mungkin ia merasa bahwa ia memang bersalah dan harus memperbaiki kesalahannya. Paulus hanya menyetujui keinginan Onesimus itu, dan dengan surat ini membantu Onesimus supaya dterima dengan baik oleh Filemon.

 

Hal lain yang harus diperhatikan adalah: saya percaya bahwa Ul 23:15 itu tidak berlaku untuk seadanya budak yang melarikan diri dari tuannya. Mungkin ayat itu hanya berlaku kalau tuannya memang kejam dan menindas dia, dan pengiriman budak itu kembali kepada tuannya meresikokan nyawa budak itu secara tidak benar. Tetapi kalau tuannya baik (dan memang ada tuan-tuan yang baik terhadap budaknya), dan budak itu melarikan diri secara salah, apalagi dengan mencuri, maka tidak mungkin bisa diberlakukan Ul 23:15 itu!

 

Barnes’ Notes (tentang Ul 23:15): “It is of course assumed that the refugee was not flying from justice, but only from the tyranny of his lord” (= Sudah pasti dianggap bahwa budak yang minta perlindungan itu bukanlah lari dari keadilan, tetapi hanya dari tirani / kekejaman tuannya).

 

Matthew Henry (tentang Ul 23:15): “It is an honourable thing to shelter and protect the weak, provided they be not wicked. God allows his people to patronise the oppressed. The angel bid Hagar return to her mistress, and Paul sent Onesimus back to his master Philemon, because they had neither of them any cause to go away, nor was either of them exposed to any danger in returning” (= Merupakan hal yang terhormat untuk menyembunyikan / memberi tempat bernaung dan melindungi orang-orang lemah, asal mereka tidak jahat. Allah mengijinkan umatNya mendukung / melindungi orang-orang yang tertindas. Malaikat meminta Hagar kembali kepada nyonyanya, dan Paulus mengirim Onesimus kembali kepada tuannya, Filemon, karena mereka tidak mempunyai alasan / penyebab untuk lari, dan juga mereka tidak terbuka terhadap bahaya apapun pada waktu mereka kembali).

 

Kej 16:4-9 - “(4) Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. (5) Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: ‘Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku; TUHAN kiranya yang menjadi Hakim antara aku dan engkau.’ (6) Kata Abram kepada Sarai: ‘Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.’ Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya. (7) Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. (8) Katanya: ‘Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?’ Jawabnya: ‘Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku.’ (9) Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: ‘Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.’.

 

Catatan: Perhatikan bahwa sekalipun Sarai menindas Hagar, tetapi Hagar yang salah lebih dulu, dengan memandang rendah nyonyanya itu. Karena itu tidak aneh kalau Tuhan menyuruhnya kembali dan membiarkan dirinya ditindas oleh Sarai.

 

Text Kitab Suci lain yang perlu diperhatikan berkenaan dengan hal ini adalah Kel 23:1-3,6-9 - “(1) ‘Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar. (2) Janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang melakukan kejahatan, dan dalam memberikan kesaksian mengenai sesuatu perkara janganlah engkau turut-turut kebanyakan orang membelokkan hukum. (3) Juga janganlah memihak kepada orang miskin dalam perkaranya. ... (6) Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin di antaramu dalam perkaranya. (7) Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta. Orang yang tidak bersalah dan orang yang benar tidak boleh kaubunuh, sebab Aku tidak akan membenarkan orang yang bersalah. (8) Suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutarbalikkan perkara orang-orang yang benar. (9) Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir”.

 

Mungkin sekali Kel 23:1-2 berlaku secara netral. Jadi, tidak boleh bersaksi palsu untuk membela siapapun, kaya atu miskin. Tetapi Kel 23:6-9 ditujukan untuk menentang tindakan orang-orang yang mau membela orang kaya / gede yang salah dengan memberikan kesaksian palsu bagi mereka. Bdk. 1Raja 21:10,13 dimana Izebel menyuruh saksi-saksi palsu memfitnah Nabot sampai Nabot dihukum mati.

Tetapi perhatikan bahwa terhadap Kel 23:6-9 ini, Kitab Suci memberikan keseimbangan, yaitu dalam Kel 23:3, dimana kita dilarang memihak kepada orang miskin dalam perkaranya. Tentu maksudnya adalah orang miskin yang bersalah.

Jadi, inti dari seluruh text ini adalah bahwa kita tidak boleh berpihak kepada orang kaya ataupun orang miskin. Kita harus berpihak pada kebenaran.

Ini menunjukkan bahwa sikap / motto ‘right or wrong my son / friend / church’ (= benar atau salah anak / teman / gereja saya) harus dibuang jauh-jauh! Jangan bersikap solider / setia kawan dengan orang yang salah!

 

Penerapan: Karena itu:

·        merupakan sesuatu yang salah kalau serikat buruh mendukung buruh yang bersalah.

·        merupakan sesuatu yang salah kalau warga membela teman sekampung / sedesanya yang memang bersalah dan lalu ditangkap polisi.

·        merupakan sesuatu yang salah kalau polisi / orang selalu membela pengendara sepeda motor pada waktu tabrakan dengan mobil, atau selalu membela pengendara sepeda pada waktu tabrakan dengan sepeda motor.

·        merupakan sesuatu yang salah kalau gereja mendukung orang Kristen yang memang bersalah dalam kasus apapun. Bandingkan dengan kasus LPMI di kota Batu. Seandainya mereka ditangkap karena melakukan penginjilan secara benar, maka kita harus mendukung mereka, karena sekalipun penginjilan terhadap orang-orang beragama lain dilarang oleh hukum di Indonesia, tetapi itu diperintahkan oleh Firman Tuhan, dan Firman Tuhan ada di atas hukum negara. Tetapi kalau mereka melakukan penghinaan terhadap Kitab Suci agama lain, itu adalah sesuatu yang melanggar hukum, dan tidak pernah diperintahkan oleh Firman Tuhan, dan karena itu kita tidak boleh membela mereka!

·        merupakan sesuatu yang salah kalau ada orang mendukung budak yang lari secara tidak benar sambil mencuri.

 

e)   Gereja / pelayanan bukan alasan untuk lari dari tanggung jawab kita.

Dari peristiwa dimana Paulus menyuruh Onesimus kembali kepada Filemon, sekalipun ia berguna dalam pelayanan terhadap Paulus sendiri, bisa kita lihat bahwa orang Kristen tidak boleh menggunakan pelayanan / gereja sebagai alasan untuk tidak melakukan tanggung jawabnya. Jadi misalnya, bolos sekolah / kerja dengan alasan ke gereja / melakukan pelayanan.

 

2)   Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil (ay 13).

 

Kata-kata ini menunjukkan bahwa Paulus sebetulnya menginginkan bukan hanya bahwa Filemon mengampuni Onesimus, tetapi juga mengirimkannya kembali kepada Paulus. Jadi secara implicit, karena Paulus mengalami penganiayaan / pemenjaraan karena Injil, maka Filemon ‘wajib’ menolong / menyenangkan Paulus, bukan saja dengan mengampuni Onesimus, tetapi juga dengan mengirimnya kembali kepada Paulus.

 

Dari ‘kewajiban’ Filemon untuk menolong Paulus yang ada dalam penjara karena Injil ini, Calvin mengatakan: “he who endures persecution, for the sake of the gospel, ought not to be regarded as a private individual, but as one who publicly represents the whole Church. Hence, it follows, that all believers ought to be united in taking care of it, so that they may not, as is frequently done, leave the gospel to be defended in the person of one man” (= ia yang mengalami penganiayaan, demi Injil, tidak seharusnya dianggap sebagai seorang pribadi / individu, tetapi sebagai seseorang yang secara umum mewakili seluruh Gereja. Karena itu, sebagai akibatnya, semua orang percaya harus bersatu untuk menanganinya, sehingga mereka tidak boleh, seperti yang sering dilakukan, membiarkan Injil dipertahankan / dibela dalam diri satu orang pribadi) - hal 355.

 

Catatan: sekali lagi saya tekankan, bahwa kita hanya harus membela orang Kristen yang menderita karena Injil, yang memang merupakan Injil yang benar dan ia beritakan secara benar. Kita tidak boleh membela orang Kristen yang memang salah.

 

Tetapi William Hendriksen (hal 219) menganggap bahwa tidak ada sedikitpun petunjuk dari sini bahwa Paulus menghendaki Filemon untuk mengirimkan Onesimus kembali kepadanya. Justru dari ay 22 terlihat bahwa Paulus yakin ia akan dibebaskan dan bisa mengunjungi Filemon. Jadi, maksud Paulus dengan semua kata-kata ini hanya untuk menunjukkan betapa berharganya Onesimus.

 

3)   tetapi tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela (ay 14).

 

Ini menunjukkan bahwa semua yang baik, harus kita lakukan dengan rela, bukan dengan terpaksa. Misalnya dalam memberikan persembahan. Bdk. 2Kor 9:7 - “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”.

 

Bukan hanya dalam memberi persembahan saja, tetapi dalam hal-hal baik lainpun kita harus melakukan dengan sukarela, bukan dengan terpaksa. Misalnya: dalam melayani, dalam pergi ke gereja / berbakti, dalam datang ke Pemahaman Alkitab, dan sebagainya.

 

Ini semua menunjukkan bahwa dalam kekristenan, motivasi merupakan sesuatu yang sangat penting. Tindakan lahiriah yang baik, tanpa motivasi yang baik bukan hanya tidak berharga, tetapi juga merupakan dosa!

-o0o-

 


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com