Khotbah Eksposisi

Filemon 1-3(1)

 Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

 Latar belakang surat Filemon.

 

1)   Filemon, yang bertobat karena penginjilan oleh rasul Paulus, mempunyai seorang hamba yang bernama Onesimus, yang suatu hari melarikan diri dari padanya, dan mungkin sekaligus mencuri barang / uang Filemon (bdk. ay 18-19). Entah bagaimana, Onesimus lalu bertemu dengan Paulus, dan dibawa oleh Paulus kepada Kristus (ay 10).

 

Calvin: “the elect of God are sometimes brought to salvation by a method that could not have been believed, contrary to general expectation, by circuitous windings, and even by labyrinths. Onesimus lived in a religious and holy family, and, being banished from it by his own evil actions, he deliberately, as it were, withdraws far from God and from eternal life. Yet God, by hidden providence, wonderfully directs his pernicious flight, so that he meets with Paul” (= orang-orang pilihan Allah kadang-kadang dibawa pada keselamatan oleh suatu cara yang tidak bisa dipercaya, bertentangan dengan harapan umum, oleh jalan yang berliku-liku dan memutar, dan bahkan oleh jalan-jalan yang membingungkan. Onesimus hidup / tinggal dalam suatu keluarga yang religius dan kudus, dan dengan dibuang dari keluarga itu oleh tindakannya sendiri yang jahat, ia seakan-akan dengan sengaja menjauhkan diri dari Allah dan hidup yang kekal. Tetapi Allah, oleh providensia rahasia, dengan ajaib mengarahkan pelariannya yang jahat, sehingga ia bertemu dengan Paulus) - hal 357-358.

 

Bdk. Nahum 1:3b - Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kakiNya”.

KJV: the LORD hath his way in the whirlwind and in the storm (= TUHAN mempunyai jalanNya dalam puting beliung dan dalam badai).

NIV: His way is in the whirlwind and the storm (= JalanNya ada dalam puting beliung dan badai).

NASB: In whirlwind and storm is His way (= Dalam puting beliung dan badailah jalanNya).

 

Ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu menggunakan logika / akal sehat kalau kita mau mempertobatkan seseorang. Jangan kutipan di atas saudara tanggapi dengan sikap sebagai berikut: saudara membawa seorang kafir, yang ingin saudara pertobatkan ke gereja yang sesat, yang tidak memberitakan Injil, dengan pemikiran bahwa Tuhan toh bisa mempertobatkan dia, dengan cara yang tidak masuk akal. Kita tetap wajib hidup berdasarkan Kitab Suci dan akal sehat, dan karena itu, kalau kita mau mempertobatkan seseorang, kita harus membawa orang itu ke gereja dimana Injil yang benar banyak diberitakan.

 

2)   Setelah itu, Paulus, yang menyadari bahwa Onesimus telah melakukan kesalahan kepada Filemon, lalu menyuruhnya kembali kepada Filemon (ay 12), dan surat ini dibawakan kepada Onesimus untuk diberikan kepada Filemon.

 

3)   J. B. Lighfoot mengatakan (hal 301) bahwa surat Filemon ini merupakan suatu surat Paulus yang unik, karena ini adalah satu-satunya surat Paulus yang bersifat pribadi. Memang surat Timotius dan Titus juga ditujukan kepada pribadi-pribadi, tetapi yang dibahas adalah doktrin dan hal-hal tentang gereja, yang sifatnya bukan pribadi. Tetapi surat Filemon ini, bukan hanya ditujukan kepada pribadi, tetapi sifatnya juga pribadi.

 

4)   Paulus, seorang rasul yang sangat pandai, yang biasanya menangani persoalan besar, seperti kesesatan dalam gereja Galatia dan Korintus, doktrin-doktrin besar dan sukar seperti dalam suratnya kepada gereja Roma, sekarang / di sini menangani persoalan remeh / sepele, yaitu seorang budak yang lari sambil mencuri! Nanti pada waktu membahas ay 8-10 saya akan membahas hal ini lagi secara lebih terperinci.

 

Salam.

Ay 1-3: (1) Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu: (3) Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu.

 

1)   Penulisan surat ini dimulai dengan:

a)   Menunjukkan siapa penulis surat itu, yaitu Paulus (ay 1a).

b)   Menunjukkan kepada siapa surat itu ditujukan, yaitu kepada Filemon, Apfia, Arkhipus, jemaat di rumah Filemon (ay 1b-2).

c)   Suatu salam dari penulis surat kepada penerima surat (ay 3).

Ini boleh dikatakan merupakan kebiasaan orang pada jaman itu dalam menulis surat.

 

2)   “Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius saudara kita” (ay 1a).

 

a)   Mengapa ia tidak menyatakan dirinya sebagai rasul?

Pada waktu otoritasnya sebagai rasul memang dibutuhkan, maka Paulus memulai suratnya dengan menyatakan diri sebagai rasul, seperti misalnya dalam surat kepada gereja Galatia, dimana muncul ajaran sesat, dan juga dalam surat kepada gereja Korintus, dimana kerasulannya diragukan.

Bandingkan dengan:

·        1Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita”.

·        2Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya”.

·        Gal 1:1 - “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati”.

 

Tetapi pada waktu menulis surat Filemon ini, ia justru tidak mau menggunakan otoritasnya sebagai rasul.

Bdk. ay 8-9a: “(8) Karena itu, sekalipun di dalam Kristus aku mempunyai kebebasan penuh untuk memerintahkan kepadamu apa yang harus engkau lakukan, (9a) tetapi mengingat kasihmu itu, lebih baik aku memintanya dari padamu”.

Ia lebih memilih untuk meminta dengan dasar kasih / persahabatan, dan karena itu ia tidak memulai suratnya dengan menyatakan kerasulannya.

 

Penerapan: hal seperti ini penting. Adalah lebih baik mendapatkan ketaatan yang didasarkan oleh kasih, dari pada oleh ketakutan terhadap otoritas. Jadi sikap Paulus di sini harus kita teladani, baik dalam keadaan jasmani / duniawi, dan terlebih lagi dalam urusan rohani / gereja.

 

b)   Paulus menyatakan diri sebagai ‘seorang hukuman karena Kristus Yesus’.

KJV: ‘a prisoner of Jesus Christ’ (= seorang hukuman dari Kristus Yesus).

Ini juga berlaku untuk ay 9.

 

1.         Seorang hukuman.

Sekedar menjadi seorang hukuman / orang yang masuk penjara tentu bukan sesuatu yang membanggakan. Tetapi berbeda dengan kasus Paulus di sini, dimana ia menjadi seorang hukuman:

 

a.   Sama sekali bukan karena ia bersalah.

Kis 23:29 - “Ternyatalah bagiku, bahwa ia didakwa karena soal-soal hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada tuduhan, atas mana ia patut dihukum mati atau dipenjarakan”.

Kata-kata dalam surat Klaudius yang ditujukan kepada Feliks, menunjukkan bahwa Paulus memang sebetulnya tidak layak dipenjarakan.

 

b.   Karena Kristus Yesus / karena Injil!

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

·        Ay 9b: “Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus.

·        Ay 13: “Sebenarnya aku mau menahan dia di sini sebagai gantimu untuk melayani aku selama aku dipenjarakan karena Injil.

·        Ef 3:1 - “Itulah sebabnya aku ini, Paulus, orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus untuk kamu orang-orang yang tidak mengenal Allah”.

·        Ef 4:1 - “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu”.

·        Fil 1:13 - “sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus.

·        Kol 4:3 - “Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus, yang karenanya aku dipenjarakan.

 

2.         Seorang hukuman dari Kristus Yesus.

William Hendriksen mengatakan (hal 209) bahwa Paulus menyebut dirinya sebagai ‘seorang hukuman dari Kristus Yesus’, bukan hanya karena ia menjadi seorang hukuman demi / karena Kristus Yesus, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa semua detail pemenjaraannya, maupun hasil akhir pemenjaraannya, apakah ia akan dibebaskan atau dihukum mati, semuanya ada dalam tangan Kristus Yesus, yang sekarang mengontrol seluruh alam semesta.

 

3.   Paulus tetap melayani / memberitakan Injil dalam sikon yang buruk!

 

a.   William Hendriksen mengatakan bahwa di dalam penjara itu Paulus menulis surat-surat Kolose, Filemon, Efesus, dan Filipi (Intro, hal 28). Jadi, keempat surat tersebut ditulis dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, yaitu pada sekitar tahun 61-63 M.

 

b.   Untuk melihat betapa buruknya keadaan Paulus pada saat itu, perhatikan komentar Adam Clarke di bawah ini.

 

Adam Clarke: “Paul was a prisoner at Rome when he wrote this letter, and those to the Colossians and Philippians. ... the original word desmios should be translated ‘bound with a chain:’ ... it shows us in some measure his circumstances - one arm was bound with a chain to the arm of the soldier to whose custody he had been delivered” (= Paulus adalah seorang tahanan di Roma pada waktu ia menulis surat ini, dan surat-surat kepada gereja Kolose dan Filipi. ... kata bahasa asli DESMIOS seharusnya diterjemahkan ‘diikat / dibelenggu dengan rantai’: ... ini menunjukkan kepada kita sebagian keadaannya - satu lengan diikat / dibelenggu dengan sebuah rantai pada lengan dari tentara kepada penjagaan siapa ia diserahkan).

Catatan: kata DESMIOS muncul dalam ay 1 dan diterjemahkan ‘seorang hukuman’ dalam Kitab Suci Indonesia.

 

Jadi, Paulus bukan sekedar ada dalam penjara / dimasukkan di dalam sel, dsb, tetapi juga lengannya dirantai pada lengan seorang tentara yang menjaganya. Ini tentunya merupakan suatu keadaan yang sangat tidak enak, tetapi dalam kondisi seperti itu, Paulus tetap melakukan pelayanan, dengan menulis surat kepada Filemon!

 

c.   Dari surat Filipi kita bahkan bisa melihat bahwa dalam penjara ia tetap memberitakan Injil, mungkin kepada tentara-tentara yang bergiliran menjaganya, sehingga ia bisa berkata dalam Fil 1:12-13 - “(12) Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, (13) sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus”.

 

Karena itu benarlah kata-kata Paulus dalam 2Tim 2:9 dimana ia berkata: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu.

 

Penerapan:

·        Bandingkan dengan orang kristen jaman sekarang yang pada umumnya orangnya tidak terbelenggu, tetapi Firman Allah di dalam mereka terbelenggu!

·        Gampang melakukan pelayanan kalau sikonnya enak, misalnya kita sehat, ekonomi baik, tempatnya enak, dan sebagainya. Tetapi bagaimana kalau semuanya tidak enak, kita sakit-sakitan, ekonomi kacau, keluarga kacau, pekerjaan kacau, dsb? Maukah tetap melayani Tuhan?

·        Juga dalam suatu pelayanan / gereja, mungkin kita akan bersemangat dalam pelayanan kalau gerejanya besar, teman kristen banyak, gerejanya banyak uang, pendukungnya banyak, tempatnya enak, peralatannya lengkap, pakai AC, dan sebagainya. Tetapi bagaimana kalau gerejanya baru berdiri, jemaatnya bisa dihitung dengan jari, uangnya nol atau minus, tidak ada donatur, tempatnya seadanya, dsb? Ini kondisi yang buruk, tetapi jelas jauh tidak seburuk kondisi Paulus pada saat itu. Dia tetap mau melayani dalam kondisi seperti itu, bagaimana dengan saudara? Maukah tetap melayani dengan sungguh-sungguh?

 

c)   Paulusnya sendiri tidak malu karena keadaan dirinya sebagai orang hukuman itu.

2Tim 1:11-12 - “(11) Untuk Injil inilah aku telah ditetapkan sebagai pemberita, sebagai rasul dan sebagai guru. (12) Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakanNya kepadaku hingga pada hari Tuhan”.

Bdk. 1Pet 4:15-16 - “(15) Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. (16) Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu”.

 

d)   Paulus bukan hanya tidak malu tentang hal itu, tetapi bahkan dalam surat Filemon ini, ia menggunakan fakta ini sebagai sesuatu untuk memotivasi Filemon untuk menuruti permintaannya!

 

Ay 9b-10: “(9b) Aku, Paulus, yang sudah menjadi tua, lagipula sekarang dipenjarakan karena Kristus Yesus, (10) mengajukan permintaan kepadamu mengenai anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara, yakni Onesimus”.

 

William Hendriksen: “The mention of himself as a prisoner of Christ Jesus is also very tactful, probably implying, ‘In comparison with the sacrifice that I am making is not the favour which I am asking you to grant a rather easy matter?’” (= Penyebutan dirinya sebagai orang hukuman dari Kristus Yesus juga merupakan sesuatu yang sangat taktis, mungkin secara tak langsung mengatakan: ‘Dalam perbandingan dengan pengorbanan yang aku sedang lakukan, bukankah kebaikan yang aku minta darimu merupakan suatu hal yang mudah?’) - hal 209.

 

Matthew Henry: “A petition from one suffering for Christ and his gospel would surely be tenderly regarded by a believer and minister of Christ, especially when strengthened too with the concurrence of Timothy, one eminent in the church” (= Suatu permohonan dari seseorang yang menderita bagi Kristus dan InjilNya, pasti akan dianggap / diperhatikan dengan lembut / ramah oleh orang percaya dan pelayan Kristus, khususnya pada waktu dikuatkan juga oleh kebersamaannya dengan Timotius, seseorang yang menonjol dalam gereja).

 

Coba renungkan: benarkah kata-kata ini bagi diri saudara? Permohonan dari siapa / orang yang bagaimana yang biasanya saudara perhatikan? Orang Kristen yang saleh? Hamba Tuhan yang sungguh-sungguh? Orang yang menderita bagi Kristus / Injil? Atau permohonan dari:

·        boss / orang kaya.

·        orang berkedudukan tinggi / pejabat pemerintah.

·        orang yang kelihatannya bisa menguntungkan saudara.

·        seorang gadis cantik.

 

Bdk. Mat 25:40,45 - “(40) Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. ... (45) Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku”.

 

Text ini menunjukkan bahwa kalau ada seorang kristen dalam kebutuhan dan saudara bisa menolongnya, tetapi tidak mau melakukannya, Yesus menganggap bahwa saudara tidak melakukannya untuk Dia. Sebaliknya kalau saudara mau melakukannya, itu dianggap sama seperti kalau saudara melakukannya untuk Yesus!

Renungkan juga hal ini: kalau tidak menolong saja sudah dianggap sebagai dosa, bagaimana kalau kita secara sengaja berbuat jahat kepada sesama saudara seiman?

 

e)   Kita juga sama sekali tak boleh merasa malu tentang orang yang dipenjarakan karena Kristus / karena Injil.

Bdk. 2Tim 1:8 - “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi InjilNya oleh kekuatan Allah”.

Kita sering malu tentang sesuatu / seseorang atas mana sebetulnya kita tidak boleh malu, tetapi anehnya, dalam hal-hal dimana kita seharusnya malu, kita justru menjadi tidak tahu malu!

 

f)    Paulus bahkan menghendaki orang-orang kristen mengingat akan pemenjaraan yang ia alami itu, supaya juga diberi keberanian untuk menderita bagi Kristus.

Kol 4:18 - “Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu”.

Fil 1:14 - “Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut”.

 

Catatan: mengingat akan penderitaan seseorang demi Kristus / Injil, bisa menghasilkan 2 reaksi dalam diri kita, yaitu:

·        menjadi kendor dalam hidup bagi Kristus / Injil, supaya jangan kita mengalami penderitaan orang itu.

·        meneladani orang itu dalam hidup bagi Kristus / Injil, tanpa peduli bahwa itu memungkinkan kita mengalami penderitaan yang sama.

 

g)   “dan dari Timotius saudara kita” (ay 1a).

 

1.   Ini tidak berarti bahwa Timotius juga adalah penulis / pengarang surat ini (F. F. Bruce, NICNT, hal 205), tetapi mungkin hanya menunjukkan bahwa ia bersama-sama dengan Paulus pada saat itu, atau karena ia adalah rekan Paulus dalam pelayanan.

 

2.   Sebutan ‘saudara kita’ bagi Timotius, yang kelihatannya menyejajarkan Paulus dengan Timotius, menunjukkan kerendahan hati Paulus.

 

3)   “(1b) kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami (2) dan kepada Apfia saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan kepada jemaat di rumahmu” (ay 1b-2).

 

a)   kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami.

 

1.   Filemon adalah nama dari seorang Kristen Yunani, yang artinya adalah ‘a friend’ (= seorang teman); dan ia mungkin tinggal di Kolose. Alasannya:

 

a.   Onesimus, hamba Filemon, disebut ‘seorang dari antaramu’ dalam Kol 4:9, dan itu berarti Onesimus adalah seorang dari antara jemaat gereja Kolose.

Kol 4:9 - “Ia kusuruh bersama-sama dengan Onesimus, saudara kita yang setia dan yang kekasih, seorang dari antaramu. Mereka akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang terjadi di sini”.

 

b.   Arkhipus, yang menjadi penerima surat ini bersama-sama dengan Filemon, juga muncul dalam surat Kolose.

Kol 4:17 - “Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya”.

 

2.   Filemon adalah tujuan utama dari surat Paulus ini, karena ialah tuan / pemilik dari budak bernama Onesimus ini (ay 15-16).

 

3.   Dari kata-kata Paulus ini jelas bahwa Filemon adalah orang Kristen yang saleh, yang juga melayani Tuhan. Menurut Matthew Henry, hal-hal ini menyebabkan Paulus menyebutnya sebagai ‘yang kekasih’.

 

Penerapan: apakah hal-hal seperti itu (kesalehan, pelayanan) juga menyebabkan saudara mengasihi seseorang? Atau, yang menyebabkan saudara mengasihi seseorang adalah keuntungan, uang, kesenangan, yang bisa saudara dapatkan dari dia?

 

4.   Paulus menyebut Filemon sebagai ‘teman sekerja kami’.

KJV: ‘fellowlabourer’ (= rekan / teman / sesama pekerja).

 

a.   Jabatan / kedudukan Filemon.

Menurut Matthew Henry, mungkin ia adalah ‘a minister / pastor’ (= seorang pelayan Tuhan / pendeta). Saya berpendapat bahwa tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa Filemon adalah seorang pendeta. Barnes secara benar mengatakan bahwa dari kata-kata ‘teman sekerja’ ini, kita hanya bisa tahu bahwa ia pernah melayani bersama-sama dengan Paulus, tetapi kita tidak bisa tahu ia melayani sebagai apa.

 

b.   Pulpit Commentary mengatakan bahwa dari istilah yang ia gunakan ini, terlihat bahwa: “Paul believed in work - in hard work” (= Paulus percaya pada pekerjaan - pada pekerjaan berat) - hal 11.

 

Tentu saja yang dimaksud di sini bukan pekerjaan duniawi, tetapi pekerjaan bagi Tuhan / pelayanan.

 

Bdk. 2Kor 11:23,27,28 - “(23) Apakah mereka pelayan Kristus? - aku berkata seperti orang gila - aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. ... (27) Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, (28) dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat”.

Juga bandingkan dengan pelayanan Yesus yang juga begitu banyak sehingga beberapa kali tidak sempat makan.

Mark 3:20 - “Kemudian Yesus masuk ke sebuah rumah. Maka datanglah orang banyak berkerumun pula, sehingga makanpun mereka tidak dapat.

Mark 6:31 - “Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!’ Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.

 

Penerapan: apakah saudara melakukan pelayanan, dan apakah saudara melakukannya sampai berjerih-payah?

 

c.   Penyebutan ‘rekan sekerja’ terhadap Filemon ini lagi-lagi menunjukkan kerendahan hati Paulus.

Selain fakta bahwa Paulus adalah seorang rasul, yang merupakan jabatan tertinggi dalam gereja, dari ay 19c kelihatannya Filemon bertobat karena penginjilan yang dilakukan oleh Paulus.

Ay 19c: “karena engkau berhutang padaku, yaitu dirimu sendiri”.

Jadi, jelas bahwa Paulus sebetulnya jauh lebih tinggi kedudukannya dari Filemon, tetapi ia toh menyebut Filemon dengan sebutan rekan / teman / sesama pekerja’ yang menunjukkan kesederajatan!

Penerapan: kalau saudara adalah seorang pendeta, apakah saudara menganggap majelis, diaken, Guru Sekolah Minggu, pengurus komisi dalam gereja saudara sebagai teman / rekan sekerja saudara’ atau sebagai bawahan saudara’?

 

d.   Pauluspun membutuhkan ‘teman sekerja’ / ‘rekan pekerja’, dan ia menghargainya.

Tidak ada orang, bahkan yang sehebat Paulus, yang bisa melayani sendirian. Setiap orang Kristen mempunyai karunia-karunianya sendiri-sendiri / berbeda-beda, dan hanya dengan bekerja sama barulah gereja bisa berjalan dengan baik. Ini sama seperti dalam tubuh manusia, tidak ada satu anggota yang sepenting apapun, yang bisa sendirian menjalankan seluruh tubuh. Semua anggota, dengan kemampuan masing-masing, harus bekerja sama untuk menjalankan tubuh.

 

Ro 12:4-8 - “(4) Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, (5) demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. (6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”.

 

1Kor 12:7,18 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. ... (18) Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya”.

 

Prinsip ini harus kita terapkan dalam gereja, khususnya dalam ‘gereja’ / persekutuan kita yang baru mulai dirintis. Saya sebagai pendeta tidak mungkin bisa melakukan semua pelayanan sendirian. Semua saudara harus ikut bekerja sama dengan saya.

 

e.   Lebih jauh lagi, Filemon, dan juga semua orang Kristen yang melayani Tuhan, bukan hanya bisa disebut sebagai ‘rekan kerja’ Paulus, tetapi juga ‘rekan kerja Allah’ sendiri!

1Kor 3:9a - “Karena kami adalah kawan sekerja Allah”.

KJV: ‘For we are labourers together with God’ (= Karena kami adalah pekerja-pekerja bersama-sama dengan Allah).

NIV: ‘For we are God’s fellow workers’ (= Karena kami adalah rekan-rekan pekerja Allah).

 

Sekalipun jelas bahwa kita bukan rekan yang setingkat dengan Allah, tetapi bagaimanapun juga istilah ini merupakan suatu istilah yang membanggakan bagi kita. Bagaimana mungkin kita sebagai manusia yang terbatas dan berdosa ini disebut sebagai ‘rekan dari Allah’?

 

b)   dan kepada Apfia saudara perempuan kita.

Tidak biasanya nama perempuan disebutkan lebih dulu, tetapi di sini Apfia disebutkan lebih dulu dari Arkhipus. Mungkin ini disebabkan karena Apfia ini lebih berkepentingan dalam urusan Onesimus ini. Mungkin larinya Onesimus menyakiti Apfia. Ada juga pandangan lain dari banyak penafsir yang menganggap bahwa Apfia adalah istri dari Filemon.

 

c)   dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita.

 

1.   Matthew Henry menganggap bahwa Arkhipus adalah pendeta di gereja di rumah Filemon itu, mungkin menggembalakan gereja itu bersama-sama dengan Filemon.

Lagi-lagi anggapan ini menurut saya tidak berdasar. Adam Clarke memberikan kemungkinan yang berbeda, yaitu bahwa Apfia adalah istri dari Filemon, dan Arkhipus adalah anak mereka, yang lalu menjadi pendeta di gereja di rumah Filemon. Tetapi inipun pasti hanya dugaan.

Jamieson, Fausset & Brown mengatakan bahwa seandainya Apfia dan Arkhipus bukan keluarga dari Filemon, tidak mungkin mereka disebutkan di sini sebagai penerima surat, dalam urusan yang bersifat domestik / rumah tangga seperti ini. Ia juga menganggap bahwa Arkhipus ini sama dengan yang ada dalam Kol 4:17, yang adalah pendeta gereja Kolose.

 

Kol 4:17 - “Dan sampaikanlah kepada Arkhipus: Perhatikanlah, supaya pelayanan yang kauterima dalam Tuhan kaujalankan sepenuhnya”.

 

2.   ‘teman seperjuangan’.

 

a.   Kata-kata ‘teman seperjuangan’ dalam KJV adalah ‘fellow soldier’ (= rekan tentara).

Tadi ia menyebut Filemon sebagai ‘teman sekerja / rekan pekerja’, dan sekarang ia menyebut Arkhipus sebagai ‘rekan / sesama tentara’. Ini lagi-lagi menunjukkan kerendahan-hatinya.

 

b.   Bagi saudara, yang mana yang lebih menyenangkan / membanggakan: disebut sebagai ‘rekan’ oleh orang seperti Paulus, atau disebut sebagai ‘rekan’ oleh seorang konglomerat?

 

c.   Matthew Henry mengatakan bahwa seorang pelayan Tuhan harus memandang diri sendiri sebagai pekerja dan tentara, yang mau berusaha dengan keras, menanggung penderitaan, berjaga-jaga, dan saling memperhatikan / menjaga dan menguatkan dalam kerohanian dan pelayanan.

Alangkah berbedanya ajaran ini dengan ajaran populer jaman sekarang yang mengatakan bahwa sebagai anak-anak Allah, kita harus kaya, sukses, sembuh dari penyakit, bebas dari problem dan sebagainya.

 

d)   dan kepada jemaat di rumahmu.

A. T. Robertson: “The church that met in the house of Philemon. ... Before the third century there is no certain evidence of special church buildings for worship” (= Gereja yang bertemu di rumah Filemon. ... Sebelum abad ketiga tidak ada bukti tertentu tentang bangunan-bangunan gereja yang khusus untuk ibadah).

 

Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

·        1Kor 16:19 - “Salam kepadamu dari Jemaat-jemaat di Asia Kecil. Akwila, Priskila dan Jemaat di rumah mereka menyampaikan berlimpah-limpah salam kepadamu”.

·        Ro 16:5 - “Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus”.

·        Kol 4:15 - “Sampaikan salam kami kepada saudara-saudara di Laodikia; juga kepada Nimfa dan jemaat yang ada di rumahnya.

 

Ada 2 hal yang ingin saya bahas:

1.   Semua kata ‘jemaat’ dalam ayat-ayat di atas ini, dalam Kitab Suci Inggris diterjemahkan ‘church’ (= gereja).

Jadi, rumah Filemon digunakan sebagai gereja, dan demikian juga dengan banyak rumah-rumah orang-orang kristen lain! Ini menunjukkan bahwa tidak salah menggunakan rumah sebagai gereja (ini ditinjau dari sudut Alkitab; bukan dari sudut hukum)! Gereja-gereja mapan yang menentang adanya kebaktian / gereja-gereja di ruko / restoran / hotel dsb, bukan hanya tidak Alkitabiah, tetapi juga merupakan penghina-penghina dari gereja mula-mula, dan bahkan pengkhianat-pengkhianat dari kekristenan. Jelas bahwa sikap ini muncul hanya karena mereka merasa gereja-gereja lain bukan sebagai rekan sekerja, tetapi sebagai saingan! Mereka bersikap bukan sebagai orang yang membuka gereja, tetapi membuka warung. Orang yang membuka warung pasti menganggap warung lain sebagai saingan!

 

2.   Bahwa ‘gereja’ ini menjadi salah satu penerima surat Paulus ini, menunjukkan bahwa kata ‘gereja’ ini tidak menunjuk pada gedung gereja, tetapi kepada orang-orang kristen dalam gereja itu.

 

4)   Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu (ay 3).

 

William Hendriksen (tentang Ro 1:7): “This is the form of the salutation found in most of Paul’s epistles. ... What we see here in Romans, etc., is that the Greek greeting form has been combined with the Jewish form. The Greek says ‘Chaire!’ = ‘Joy to you!’ The Jew says ‘Shalom!’ = ‘Peace!’ Not only, however, have these two greetings been joined by Paul but they have at the same time been transformed into one distinctively Christian salutation. Note, in this connection, that CHAIRE has been changed into CHARIS = grace” (= Ini adalah bentuk salam yang ditemukan dalam kebanyakan surat-surat Paulus. ... Apa yang kita lihat di sini dalam surat Roma, dsb, adalah bahwa bentuk salam Yunani telah dikombinasikan dengan bentuk salam Yahudi. Orang Yunani berkata ‘KHAIRE!’ = ‘Sukacita bagimu!’ Orang Yahudi berkata ‘SHALOM!’ = ‘Damai!’. Tetapi, bukan hanya bahwa kedua salam ini telah digabungkan oleh Paulus tetapi pada saat yang sama keduanya telah diubahkan menjadi suatu salam Kristen yang khusus. Perhatikan, dalam hubungan ini, bahwa KHAIRE telah diubah menjadi KHARIS = kasih karunia) - hal 48.

 

a)   ‘kasih karunia’.

 

Di sini arti yang diambil oleh Paulus adalah seperti yang ia katakan dalam Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia.

 

International Standard Bible Encyclopedia (tentang kata ‘grace’): “‘Grace’ in this sense is an attitude on God’s part that proceeds entirely from within Himself, and that is conditioned in no way by anything in the objects of His favor. ... ‘Grace’ then, in this sense is the antinomy to ‘works’ or to ‘law’; ... Of course it is this sense of grace that dominates Rom 3--6, especially in the thesis 3:24, while the same use is found in Gal 2:21; Eph 2:5,8; 2 Tim 1:9. The same strict sense underlies Gal 1:6 and is found, less sharply formulated, in Tit 3:5-7. ... Outside of Paul’s writings, his definition of the word seems to be adopted in Jn 1:17; Acts 15:11; Heb 13:9, while a perversion of this definition in the direction of antinomianism is the subject of the invective in Jude verse 4. And, of course, it is from the word in this technical Pauline sense that an elaborate Protestant doctrine of grace has been developed” (= ‘Kasih karunia’ dalam arti ini merupakan suatu sikap dari Allah yang keluar sepenuhnya dari dalam diriNya sendiri, dan itu tidak disyaratkan oleh apapun dalam obyek dari kebaikanNya. ... Jadi, ‘kasih karunia’ dalam arti ini merupakan lawan kata dari ‘pekerjaan / perbuatan baik’ atau ‘hukum Taurat’; ... Tentu saja arti kasih karunia inilah yang mendominasi Ro 3-6, khususnya dalam thesis 3:24, sementara penggunaan yang sama ditemukan dalam Gal 2:21; Ef 2:5,8; 2Tim 1:9. Arti ketat yang sama mendasari Gal 1:6 dan ditemukan dalam formulasi yang kurang tajam dalam Tit 3:5-7. ... Di luar tulisan Paulus, definisinya tentang kata ini kelihatannya diadopsi / diambil dalam Yoh 1:17; Kis 15:11; Ibr 13:9, sementara suatu penyimpangan dari definisi ini yang mengarah pada antinomianisme merupakan subyek dari cercaan dalam Yudas 4. Dan, tentu saja, dari kata ini dalam arti tekhnis dari Pauluslah berkembang doktrin Protestan yang panjang lebar tentang kasih karunia) - PC Study Bible.

 

Ro 3:23-24 - “(23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, (24) dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.

Gal 2:21 - “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus”.

Ef 2:5,8 - “(5) telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita - oleh kasih karunia kamu diselamatkan - ... (8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah”.

2Tim 1:9 - “Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman”.

Gal 1:6 - “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain”.

Tit 3:5-7 - “(5) pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (6) yang sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, (7) supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita”.

Yoh 1:17 - “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus”.

Kis 15:11 - “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.’”.

Ibr 13:9 - “Janganlah kamu disesatkan oleh berbagai-bagai ajaran asing. Sebab yang baik ialah, bahwa hati kamu diperkuat dengan kasih karunia dan bukan dengan pelbagai makanan yang tidak memberi faedah kepada mereka yang menuruti aturan-aturan makanan macam itu”.

Yudas 4 - “Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus”.

 

Bandingkan juga dengan:

·        Ro 6:14-15 - “(14) Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. (15) Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!”.

·        Gal 5:4 - “Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.

 

William Hendriksen (tentang Ro 1:7): “Grace, as here used, is God’s spontaneous, unmerited favor in action, his freely bestowed lovingkindness in operation, bestowing salvation upon guilt-laden sinners who turn to him for refuge. ... We think of the Judge who not only remits the penalty but also cancels the guilt of the offender and even adopts him as his own son” (= Kasih karunia, seperti digunakan di sini, adalah kebaikan Allah yang spontan dan tak layak kita terima, kebaikanNya yang diberikan dengan cuma-cuma, memberikan keselamatan kepada orang-orang berdosa yang penuh dengan kesalahan yang berpaling kepadaNya untuk perlindungan. ... Kita berpikir tentang seorang Hakim yang bukan hanya mengampuni hukuman tetapi juga membatalkan kesalahan dari si pelanggar dan bahkan mengadopsinya sebagai anaknya sendiri) - hal 48.

 

Catatan: kata KHARIS dalam bahasa Yunani [= grace (= kasih karunia)] mempunyai sangat banyak arti dan penggunaan. Karena itu, jangan heran kalau dalam ayat-ayat lain, kata itu diartikan secara berbeda.

 

b)   ‘damai sejahtera’.

 

William Hendriksen (tentang Ro 1:7): “Grace brings peace. The latter is both a state, that of reconciliation with God, and a condition, the inner conviction that consequently all is well. ... It is not the reflection of an unclouded sky in the tranquil waters of a picturesque lake, but rather the cleft of the rock in which the Lord hides his children when the storm is raging” (= Kasih karunia membawa damai. Yang terakhir merupakan suatu keadaan damai dengan Allah, dan suatu kondisi, suatu keyakinan di dalam batin / hati bahwa sebagai akibatnya semua baik-baik saja. Ini bukanlah bayangan dari langit yang tidak berawan dalam air yang tenang dari suatu danau yang indah, tetapi lebih seperti celah dari batu karang dalam mana Tuhan menyembunyikan anak-anakNya ketika badai sedang mengamuk) - hal 48.

 

-o0o-


 

e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com