Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Minggu, tgl 21 Maret 2010, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

F I T N A H

 

YAKOBUS 4:11-12

 

Yak 4:11-12 - “(11) Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. (12) Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”.

 

I) Apakah fitnah itu?

 

1)   ‘Fitnah’ dalam bahasa sehari-hari.

 

a)      Memfitnah berarti menceritakan sesuatu yang jelek (tetapi yang tidak benar) tentang orang lain, dengan tujuan menja­tuhkan orang itu. Ini adalah sesuatu yang sering sekali terjadi, seperti:

1.   Istri Potifar memfitnah Yusuf (Kej 39:6-20).

2.   Ziba memfitnah Mefiboset (2Sam 16:1-4  2Sam 19:24-27).

3.   Izebel memfitnah Nabot (1Raja 21:1-16).

4.   Tokoh-tokoh Yahudi memfitnah Yesus (Mat 26:59-61).

5.   Orang-orang Yahudi memfitnah Stefanus (Kis 6:13-14).

6.   Dsb.

 

b)      Memfitnah bisa terjadi pada waktu:

1.   Seseorang meneruskan kabar angin yang ia kira benar, padahal tidak. Ini memang tidak sengaja, tetapi tetap merupakan dosa.

2.   Seseorang menceritakan suatu kejadian tetapi mengubahnya / menambah-nambahinya sehingga merugikan nama baik seseorang.

3.   Seseorang mengarang suatu cerita yang sebetulnya tidak pernah terjadi, untuk menjatuhkan nama orang lain.

4.   Memfitnah juga bisa terjadi pada saat saudara men­ceritakan half truth (= setengah kebenaran).

Memang tidak setiap kali kita menceritakan sesuatu, kita harus menceri­takan seluruh kebenaran. Tetapi seringkali, kalau kebenaran tidak diceritakan seluruhnya tetapi hanya sebagian saja, itu bisa merugikan / menjatuhkan nama orang lain. Dalam hal ini, sekalipun hal yang kita ceritakan itu bukan dusta, tetapi kita tetap memfitnah orang yang kita ceritakan itu.

Misalnya kalau saudara bertemu dengan seseorang pada waktu ia pergi ke bioskop dengan istrinya dan seorang wanita lain, dan saudara lalu menceritakan kepada orang-orang lain bahwa orang itu pergi dengan seorang wanita lain (tanpa menceritakan tentang ikut sertanya istrinya), maka itu jelas adalah half truth yang bersifat memfitnah!

Karena itu kalau saudara ingin menceritakan sesuatu maka pikirkanlah lebih dulu, apakah dengan membuang bagian-bagian tertentu saudara tidak sedang menjelekkan nama orang lain.

5.   Memfitnah juga bisa terjadi kalau saudara menceritakan seluruh kebenaran, tetapi dengan nada dan mimik wajah yang berbeda dengan keadaan aslinya. Misalnya: kalau si A berka­ta kepada saudara: ‘Si B itu gila’. Ia mengatakan hal itu dengan wajah tersenyum, dan tidak betul-betul bermaksud memaki si B. Tetapi saudara lalu menyampaikan hal itu kepada si B dengan berkata: ‘Si A berkata: kamu itu gila!!’, dengan nada membentak dan wajah yang marah, maka sebetulnya saudara sedang memfitnah si A!

Karena itu setiap kali saudara menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh orang lain, perhatikanlah apakah nada dan mimik wajah saudara sesuai dengan aslinya!

 

2)   ‘Fitnah’ dalam bahasa Yunaninya.

Dalam ay 11, kata Yunani yang diterjemahkan ‘memfitnah’ adalah KATALALEITE yang sebetulnya berarti ‘berbicara menja­tuhkan orang lain’, atau ‘berbicara menentang orang lain’.

Lambat laun ada arti tambahan dalam kata Yunani ini, sehingga artinya menjadi ‘berbicara tentang orang lain di belakang mereka dengan cara menghina / merendahkan’ [Catatan: kata Yunani KATALALEITE digunakan dalam Maz 50:20 dan Maz 101:5 versi Septuaginta / LXX (= Perjanjian Lama yang diterjemahkan ke bahasa Yunani)].

Maz 50:20 - “Engkau duduk, dan mengata-ngatai saudaramu, memfitnah anak ibumu”.

Maz 101:5 - “Orang yang sembunyi-sembunyi mengumpat temannya, dia akan kubinasakan. Orang yang sombong dan tinggi hati, aku tidak suka”.

 

Pulpit Commentary: “even in Christian circles a small and slight rumor will sometimes expand speedily into a huge inflated calumny, which will scatter mischief and misery along its path. And even mere idle speaking degenerates into evil-speaking. Gossip soon becomes backbiting; scandal grows out of tittle-tattle” (= bahkan dalam kalangan Kristen suatu kabar angin yang kecil dan remeh kadang-kadang akan meluas dengan cepat menjadi suatu fitnahan yang menggelembung besar, yang akan menyebarkan kejahatan / kerusakan dan kesengsaraan dalam jalannya. Dan bahkan semata-mata pengucapan yang tak berarti memburuk menjadi fitnah / pengucapan yang jahat. Gosip segera menjadi fitnah; skandal bertumbuh dari kabar angin).

 

Penerapan: ini menyebabkan kita harus sangat berhati-hati pada waktu membicarakan orang lain. Juga ini menyebabkan kita tidak boleh terlalu cepat percaya kepada siapapun!

 

3)   ‘Fitnah’ dalam Yak 4:11-12.

 

a)      Ada penafsir-penafsir yang tetap mengartikan kata ‘fitnah’ di sini sesuai dengan arti biasa.

Ay 11a: “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah!”.

KJV: Speak not evil one of another, brethren (= Jangan berbicara jahat satu sama lain, saudara-saudara).

Hal seperti ini sudah dilarang dalam hukum Taurat.

Im 19:16a - “Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu”.

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “It is unfortunate that the saints are at war with each other, leader against leader, church against church, fellowship against fellowship. The world watches these religious wars and says, ‘Behold, how they hate one another!’” (= Merupakan sesuatu yang patut disayangkan bahwa orang-orang kudus berperang satu sama lain, pemimpin melawan pemimpin, gereja melawan gereja, persekutuan melawan persekutuan. Dunia menonton peperangan agama ini dan berkata: ‘Lihatlah bagaimana mereka membenci satu sama lain!’).

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Evil-speaking: - The original of this evil is from Satan, and the pedigree of evil speech is to be derived from the devil, the great dragon, the old serpent. This is he that begetteth all slanderous persons; he it is who raiseth these motions in our hearts” (= Fitnah: - Asal usul dari kejahatan ini adalah dari Iblis, dan asal usul dari ucapan yang jahat diturunkan dari setan, naga yang besar, ular tua. Ialah yang memperanakkan semua orang-orang pemfitnah; ialah yang membangkitkan gerakan-gerakan ini dalam hati kita).

 

The Biblical Illustrator juga mengatakan bahwa salah satu penyebab dari munculnya fitnah adalah kemalasan. Kalau setan mendapati seseorang yang malas / menganggur ia biasanya menggerakkannya untuk bekerja. Pikiran manusia merupakan sesuatu yang aktif, sehingga kalau pikiran itu tidak digunakan untuk menambah pengetahuan, dan mengejar ilmu, atau terlibat dalam hal-hal yang berguna, maka pikiran itu biasanya akan sibuk dengan kesibukan yang negatif. Karena itu, kemalasan / menganggur bukan hanya tidak berguna tetapi bahkan merupakan suatu keadaan yang berbahaya, dan merupakan jalan masuk dari setiap kejahatan, yang bisa memalukan atau memahitkan kehidupan manusia.

Saya berpendapat bahwa ini merupakan salah satu alasan mengapa perempuan lebih condong pada gosip / fitnah dari pada laki-laki. Pada umumnya mereka lebih menganggur!

 

Alasan-alasan lain yang bisa menimbulkan fitnah adalah iri hati, dendam, kejahatan, kesombongan rohani, dan seorang penafsir lain menambahkan, ‘banyak bicara’.

Bdk. Amsal 10:19 - Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Of the secondary and more immediate causes, however, of this baneful and prevailing vice, idleness, envy, revenge, malice, and spiritual pride may perhaps, without much uncharitableness in the supposition, be naturally assigned as the chief and most common sources from whence it flows. It has often been said that when the devil finds a man idle he generally sets him to work; for as the mind of man is essentially active, and cannot long bear the languor and irksomeness of mere idleness, so when he is not habitually employed in the acquisition of learning and knowledge, the pursuits of science, the cultivation of the fine arts, or engaged in one or other of the more common yet not less useful occupations of humble life, he will most likely soon become busied in pursuits of an opposite kind! And hence mere idleness is not only a useless, but even a highly dangerous state of existence - an inlet to every evil which can either disgrace or embitter the life of man; and to none does it afford a more ready and direct access than to that of calumny” (= ).

Catatan: ini tidak saya terjemahkan karena ringkasannya sudah saya berikan di atas.

 

The Biblical Illustrator juga mengatakan bahwa jika burung-burung bangkai terbang di atas bunga-bunga yang indah, mereka tidak memperhatikannya. Tetapi kalau mereka terbang di atas bangkai yang busuk mereka akan segera melihat dan memperhatikannya. Demikianlah ada banyak orang yang tidak mau memperhatikan hal-hal yang baik dalam diri orang-orang tetapi begitu ada hal buruk yang terkecil, mereka langsung memperhatikannya.

 

b)      Kelihatannya ‘memfitnah’ di sini mempunyai arti yang khusus / berbeda. Ini terlihat dari:

1.      Ay 11a: ‘memfitnah saudaranya atau menghakiminya.

Jadi, memfitnah diartikan menghakimi.

2.   Ay 11b: tindakan itu dianggap sebagai ‘mencela hukum dan menghakiminya’. Kalau memang yang dimaksud adalah memfitnah biasa, bagaimana mungkin tindakan itu dianggap sebagai mencela hukum dan menghakiminya?

 

Yang dimaksud dengan memfitnah di sini adalah: mencela orang (baik di depan maupun di belakang orang itu) karena ia tidak hidup sesuai dengan prinsip hidup kita / pandangan kita, padahal Kitab Suci tidak melarang tindakan orang itu (baik secara explicit maupun implicit).

Kalau kita mencela seseorang karena ia hidup tidak sesuai dengan Kitab Suci, maka itu tentu tidak apa-apa. Tetapi kalau kita mencela orang karena ia tidak hidup sesuai pandangan / prinsip kita yang tidak ada dalam Kitab Suci, maka itu adalah ‘tindakan memfitnah’ yang dimaksudkan oleh Yakobus di sini.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “‘He that speaketh evil of his brother, and judgeth his brother.’ What means this judging? We may first reply, negatively, that it does not mean our simply forming an opinion of the conduct of others by the standard of God’s law. This we cannot but do. ... we must not judge beyond the law, pronouncing sentence on our brother in matters which the Divine law does not embrace in its prohibitions or its requirements; in matters which it leaves indifferent. When we do this we are presumptuous. We go quite out of our province” (= ‘Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya’. Apa arti dari penghakiman ini? Kita bisa pertama-tama menjawab secara negatif, bahwa itu tidak berarti sekedar membentuk suatu pandangan tentang tingkah laku orang-orang lain dengan menggunakan hukum-hukum Allah sebagai standard. Ini tidak bisa tidak kita lakukan. ... kita tidak boleh menghakimi melampaui hukum, mengucapkan suatu hukuman / penghakiman tentang saudara kita dalam hal-hal dalam mana hukum Ilahi tidak memberikan larangan ataupun tuntutan; dalam hal-hal dimana hukum Ilahi tidak mengatakan itu baik atau buruk. Pada waktu kita melakukan hal ini, kita lancang. Kita berjalan melampaui daerah kita).

 

Matthew Henry: “‎He who quarrels with his brother, and condemns him for the sake of any thing not determined in the word of God, does thereby reflect on that word of God, as if it were not a perfect rule” (= Ia yang bertengkar dengan saudaranya, dan mengecamnya karena apapun yang tidak ditentukan dalam Firman Allah, dengan itu merendahkan Firman Allah itu, seakan-akan Firman Allah itu bukan suatu peraturan yang sempurna).

 

Calvin: There is also another disease innate in human nature, that every one would have all others to live according to his own will or fancy. ... The evil of slandering takes a wide range; but here he properly refers to that kind of slandering which I have mentioned, that is, when we superciliously determine respecting the deeds and sayings of others, as though our own morosity were the law, when we confidently condemn whatever does not please us (= Juga ada suatu penyakit lain yang merupakan pembawaan dalam sifat manusia, bahwa setiap orang ingin memaksa semua orang lain untuk hidup sesuai dengan kehendaknya atau kesukaannya. ... Kejahatan dari fitnah mempunyai daerah yang luas; tetapi di sini ia secara benar menunjuk pada jenis fitnah yang telah saya sebutkan, yaitu, pada waktu kita dengan congkak menentukan berkenaan dengan perbuatan dan perkataan orang-orang lain, seakan-akan kecerewetan kita adalah hukum, pada waktu kita dengan yakin mengecam apapun yang tidak menyenangkan kita).

 

Calvin: Paul handles nearly the same argument in Romans 14, though on a different occasion. For when superstition in the choice of meats possessed some, what they thought unlawful for themselves, they condemned also in others. He then reminded them, that there is but one Lord, according to whose will all must stand or fall, and at whose tribunal we must all appear. Hence he concludes that he who judges his brethren according to his own view of things, assumes to himself what peculiarly belongs to God. ... He, however, employs the same reason with Paul, that is, that we act presumptuously when we assume authority over our brethren, while the law of God subordinates us all to itself without exception. Let us then learn that we are not to judge but according to God’s law [= Paulus menangani pertengkaran yang hampir sama dalam Roma 14, sekalipun pada kejadian yang berbeda. Karena pada waktu takhyul dalam pemilihan daging / makanan mempengaruhi beberapa orang, apa yang mereka anggap tidak benar untuk diri mereka sendiri, mereka juga mengecamnya dalam diri orang-orang lain. Ia lalu mengingatkan mereka, bahwa hanya ada satu Tuhan, menurut kehendak siapa semua orang harus berdiri atau jatuh, dan pada pengadilan siapa semua harus menghadap. Karena itu ia menyimpulkan bahwa ia yang menghakimi saudara-saudaranya menurut pandangannya sendiri tentang hal-hal, mengambil bagi dirinya sendiri apa yang secara khusus merupakan milik Allah. ... Ia (Yakobus), bagaimanapun, menggunakan alasan / pertimbangan yang sama seperti Paulus, yaitu, bahwa kita bertindak secara congkak / lancang pada waktu kita mengambil otoritas atas saudara-saudara kita, sementara hukum Allah menundukkan kita semua pada dirinya sendiri tanpa kecuali. Maka hendaklah kita belajar bahwa kita tidak boleh menghakimi kecuali sesuai dengan hukum Allah].

 

Ro 14:1-12 - “(1) Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. (2) Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. (3) Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. (4) Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. (5) Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. (6) Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. (7) Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. (8) Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. (9) Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. (10) Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. (11) Karena ada tertulis: ‘Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapanKu dan semua orang akan memuliakan Allah.’ (12) Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah”.

 

Dalam pembahasan ini kita juga harus membahas pertanyaan: kalau demikian, mengapa pemerintah, majikan, otoritas di atas kita, pendeta / majelis dsb, berhak membuat peraturan-peraturan yang tidak ada dalam Alkitab, dan menganggap salah orang-orang yang tidak mentaatinya? Apakah mereka tidak melanggar kata-kata Yakobus ini?

Jawaban saya: Semua otoritas di atas kita memang berhak membuat peraturan-peraturan yang tidak ada dalam Alkitab selama peraturan-peraturan yang mereka buat itu tidak bertentangan dengan Alkitab. Semua peraturan itu penting demi keteraturan. Misalnya: gereja menetapkan kebaktian diadakan hari minggu pada 17.00. Yang terlambat datang dianggap salah. Berhakkah gereja melakukan hal itu? Ya, karena kalau tidak, dan setiap jemaat boleh datang pada waktu yang mereka senangi, maka kebaktian akan kacau.

Tetapi apakah ini tidak bertentangan dengan kata-kata Yakobus ini? Menurut saya tidak, karena peraturan manapun yang dibuat oleh otoritas di atas kita, tidak bersifat universal, tetapi hanya lokal saja. Kalau kita membuat hukum itu menjadi universal, dan kita lalu menghakimi / menyalahkan gereja lain yang mengadakan kebaktian pada hari minggu pk 16.00, maka barulah kita bertentangan dengan kata-kata Yakobus di sini.

 

Contoh dari ‘fitnah’ dalam arti ini:

a.   Orang Farisi mengecam murid-murid Yesus karena mereka makan dengan tangan yang tidak dibasuh.

Mat 15:1-2 - “(1) Kemudian datanglah beberapa orang Farisi dan ahli Taurat dari Yerusalem kepada Yesus dan berkata: (2) ‘Mengapa murid-muridMu melanggar adat istiadat nenek moyang kita? Mereka tidak membasuh tangan sebelum makan.’”.

Catatan: kalau saudara baca ayat-ayat selanjutnya, terlihat Yesus sama sekali tidak mau tunduk pada kritikan yang tidak punya dasar Kitab Suci itu, dan sebaliknya Ia bahkan menyerang balik para pengkritik itu.

 

b.   Orang Farisi mengecam murid-murid Yesus karena mereka memetik gandum dan memakannya, pada hari Sabat.

Mat 12:1-2 - “(1) Pada waktu itu, pada hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum. Karena lapar, murid-muridNya memetik bulir gandum dan memakannya. (2) Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepadaNya: ‘Lihatlah, murid-muridMu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.’”.

Catatan: kalau saudara baca ayat-ayat selanjutnya, terlihat bahwa Yesus tidak mau tunduk pada ‘peraturan / larangan’ yang tidak Alkitabiah itu!

c.      Pendeta / gereja yang mengecam jemaatnya yang melayani / berbakti / memberi persembahan di gereja lain (yang bukan gereja sesat).

d.   Gereja / pendeta / orang-orang Kristen yang melarang perayaan Natal.

e.      Pendeta / gereja / orang Kristen yang melarang perempuan yang kematian suaminya untuk menikah lagi, atau pendeta / gereja yang melarang orang cerai biarpun pasangan hidup orang itu berzinah (bdk. Mat 5:32  Mat 19:9).

f.    Pendeta / gereja yang melarang jemaat yang belum dibaptis selam untuk melayani.

g.   Pendeta / orang Kristen yang menyalahkan gereja yang menggunakan band, menyanyi sambil bertepuk tangan, atau sambil mengangkat kedua tangan, atau berdoa dengan mengangkat kedua tangan, dsb. Kalau mau punya sikap ‘anti Kharismatik’, tentanglah semua ajaran dan praktek Kharismatik yang memang betul-betul disalahkan oleh Kitab Suci, tetapi jangan menyalahkan apapun tanpa ada dasar Kitab Suci.

h.   Gereja / pendeta tertentu yang mengecam orang yang menonton bioskop / TV, menonton aerobic, memakai blue jean, kaos bergambar naga, berenang dsb.

i.    Orang yang mengecam hamba Tuhan yang tertawa terbahak-bahak, atau yang makan di warung, dsb.

j.    Gereja / pendeta / orang Kristen yang mengecam pengkhotbah yang minum dari botol pada waktu khotbah.

k.   Orang yang mengecam laki-laki yang mau menikah dengan perempuan yang lebih tua / lebih tinggi, atau orang yang mengecam perempuan yang mau menikah dengan laki-laki yang miskin, atau orang yang mengecam orang lain yang mau menikah dengan sesama orang Kristen yang berbeda suku / bangsa.

 

Perhatikan bahwa kecaman-kecaman di atas ini semuanya tidak punya dasar Kitab Suci. Dasarnya hanyalah tradisi atau selera dari si pengecam belaka, atau penafsirannya yang salah tentang Kitab Suci!

 

II) Mengapa tidak boleh memfitnah?

 

1)            Tindakan itu adalah tindakan yang mencela hukum dan menghakiminya dan itu tidak menjadikan kita sebagai penurut hukum.

Ay 11: “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya”.

Kalau pandangan kita tidak ada dalam Kitab Suci, atau tidak sesuai dengan Kitab Suci, tetapi toh kita pakai sebagai standard dalam mengecam orang lain, maka secara implicit itu berarti bahwa kita beranggapan bahwa ‘Firman Allah / hukum itu salah; anggapan saya yang benar’. Karena itu maka tindakan ini disebut sebagai tindakan yang mencela hukum dan menghakiminya.

 

2)   Hanya ada 1 Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Allah sendiri.

Ay 12: “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”.

Catatan: KJV dan NKJV tidak mempunyai kata-kata ‘dan Hakim’ ini, tetapi RSV, NIV, NASB, ASV mempunyainya. Memang dalam hal ini ada perbedaan antar manuscript. Kebanyakan menganggap kata-kata ‘dan Hakim’ itu seharusnya ada.

 

Arti dari ay 12 ini adalah sebagai berikut: Kalau pandangan kita tidak ada dalam Kitab Suci, tetapi tetap kita pakai sebagai dasar / standard untuk mengecam orang lain, maka itu sama saja dengan kalau kita membuat hukum baru. Dan pada saat kita menggunakan pandangan kita untuk mengecam orang lain, maka kita menjadikan diri kita hakim. Padahal Allah adalah satu-satunya Pembuat hukum dan Hakim. Kita tidak berhak membuat hukum maupun menjadi hakim!

 

III) Bagaimana supaya tidak memfitnah.

 

1)   Kita harus menjunjung tinggi otoritas Firman Allah dalam hidup kita.

Ay 11 menunjukkan bahwa kita seharusnya menjadi ‘penurut hukum’. Ini berarti kita tunduk pada hukum / Firman Allah, dan menjunjung tinggi otoritasnya dalam hidup kita!

Kalau saudara adalah orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah dalam hidup saudara, maka saudara tidak akan memfitnah lagi, karena:

a)      Orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah, tidak akan menilai orang lain berdasarkan pandangannya sendiri, tetapi akan menilainya berdasarkan Firman Allah.

b)      Orang yang menjunjung tinggi otoritas Firman Allah akan membandingkan pandangan / prinsip hidupnya dengan Firman Allah, dan mengubahnya / menyesuaikannya dengan Firman Allah.

 

2)   Kita harus mengakui otoritas Allah sebagai Pembuat hukum dan Hakim.

Ay 12a: “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan”.

Dengan demikian kita tidak akan mencipta hukum sendiri ataupun menghakimi orang lain menurut pandangan kita sen­diri.

 

3)      Sadarilah siapa diri saudara.

Ay 12b: “Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”.

Kita adalah:

a)      Orang yang tidak mempunyai hak untuk membuat hukum dan menghakimi.

b)      Orang yang berdosa, dan karenanya kita juga adalah terdakwa, bukan hakim.

John Wesley berkata: “I am a poor, weak, dying worm” (= Aku adalah cacing yang miskin, lemah dan mau mati).

Kalau saudara mempunyai pandangan yang benar dan rendah hati tentang diri saudara sendiri, maka saudara tidak akan memfitnah!

 

4)      Kasihilah sesama saudara.

Dalam ay 11 sekalipun Yakobus menegur, tetapi ia tetap menyebut mereka dengan istilah ‘saudara’ yang jelas menun­jukkan kasih. Sekalipun mereka bersalah, dan Yakobus menegur, tetapi Yakobus tidak menghakimi, karena ia mengasihi mereka sebagai saudara-saudara seimannya.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Evil speaking rebuked: - ‘Is she a Christian?’ asked a celebrated missionary in the East of one of the converts who was speaking unkindly of a third party. ‘Yes, I think she is,’ was the reply. ‘Well, then, since Jesus loves her in spite of all her faults, why is it that you can’t?’ (= Fitnah / pembicaraan yang jahat dimarahi: - ‘Apakah ia adalah seorang Kristen?’ tanya seorang misionaris yang terkenal di Timur kepada salah seorang petobat yang sedang berbicara secara tidak baik tentang pihak ketiga. ‘Ya, aku kira ia adalah seorang Kristen’, jawabnya. ‘Kalau begitu, karena Yesus mengasihi dia sekalipun banyak kesalahannya, mengapa kamu tidak bisa mengasihi dia?).

Bdk. Ef 4:32 - “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”.

 

Kalau kita mengasihi, kita akan bisa melihat hal-hal baik dalam diri orang yang kita kasihi. Dan sebaliknya, kalau kita membenci seseorang, maka semua yang kita lihat dalam diri orang itu adalah salah. Karena itu, kita harus berusaha mengasihi, dan berusaha untuk mencari apapun yang baik dalam diri orang itu.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): “Look for good in others: - There is an old legend that our Lord was once walking through a market-place, when He saw a crowd of people gathered together, looking at something on the ground, and He drew near to see what it was. It was a dead dog with a halter round its neck, by which it seemed to have been dragged through the mire, and it certainly was a most disagreeable sight. Everybody around it had something to say against it. ‘How horrible it looks,’ said one, ‘with its ears all draggled and torn’ ‘How soon will it be taken away out of our sight?’ said another. ‘No doubt it has been hanged for thieving,’ said a third. And Jesus heard them, and looking down compassionately on the dead creature, He said, ‘Pearls cannot equal the whiteness of its teeth.’ Then the people turned towards Him with amazement, and said among themselves, ‘This must be Jesus of Nazareth, for only He could find something to approve even in a dead dog.’ This is a beautiful old legend, and the lesson it teaches us is that there is always something good to be found in everybody if only we would take the trouble to look for it” (= Carilah hal yang baik dalam diri orang-orang lain: - Ada suatu dongeng kuno bahwa suatu kali Tuhan kita sedang berjalan melalui sebuah pasar, pada waktu Ia melihat sekumpulan orang berkumpul, melihat pada sesuatu di tanah, dan Ia mendekat untuk melihat apa sesuatu itu. Itu adalah seekor anjing mati dengan sebuah tali kekang melingkari lehernya, dengan mana kelihatannya anjing itu diseret melalui lumpur, dan itu pasti merupakan suatu pemandangan yang tidak menyenangkan. Setiap orang di sekitarnya mempunyai sesuatu untuk dikatakan terhadap anjing mati itu. ‘Alangkah mengerikan kelihatannya’ kata seseorang, ‘dengan telinga-telinganya basah / berlumpur dan sobek’. ‘Secepat apa anjing itu bisa dibuang dari pemandangan kita?’ kata yang lain. ‘Pasti anjing ini telah digantung karena mencuri’, kata yang ketiga. Dan Yesus mendengar mereka, dan sambil memandang dengan penuh belas kasihan pada makhluk yang mati itu, Ia berkata: ‘Mutiara-mutiara tidak bisa menyamai warna putih dari gigi-giginya’. Lalu orang-orang itu berpaling kepadaNya dengan heran, dan berkata di antara mereka sendiri, ‘Ini pastilah Yesus dari Nazaret, karena hanya Dia yang bisa mendapatkan sesuatu untuk dipuji bahkan dalam diri seekor anjing mati’. Ini merupakan suatu dongeng kuno yang indah, dan pelajaran yang diajarkannya kepada kita adalah bahwa di sana selalu ada sesuatu yang baik untuk ditemukan dalam setiap orang jika saja kita mau bersusah payah untuk mencarinya).

 

Lakukanlah ke 4 hal di atas, maka saudara tidak akan memfit­nah lagi!

 

-AMIN-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

Url/alamat website : http://golgothaministry.org atau                     

 http://www.golgothaministry.org