Pemahaman Alkitab

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)

Jumat, tanggal 27 Maret 2009, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(7064-1331 / 6050-1331)

buas22@yahoo.com

 

 

APAKAH KITAB SUCI MELARANG ORANG KRISTEN BERDEBAT  ?

Bag. 1

 

I Timotius 6:3-5(1)

 

1Tim 6:3-5 - (3) Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat - yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus - dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita, (4) ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, yang menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, (5) percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan.

 

1)         Jika seorang mengajarkan ajaran lain.

 

a)   Kata ‘lain’ / ‘yang lain’ berasal dari kata Yunani HETEROS.

Ada 2 kata bahasa Yunani yang berarti ‘yang lain (= another)’, yaitu ALLOS dan HETEROS. Tetapi kedua kata ini ada bedanya.

W. E. Vine: “ALLOS ... denotes another of the same sort; HETEROS ... denotes another of a different sort” (= ALLOS ... menunjuk pada ‘yang lain’ dari jenis yang sama; HETEROS ... menunjuk pada ‘yang lain’ dari jenis yang berbeda) - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 52.

Illustrasi: Saya mempunyai satu gelas Aqua. Kalau saya mengingin­kan satu gelas Aqua ‘yang lain’, yang sama dengan yang ada pada saya ini, maka saya akan menggunakan ALLOS. Tetapi kalau saya menghendaki minuman ‘yang lain’, misalnya Coca Cola, maka saya harus menggunakan HETEROS, bukan ALLOS.

Catatan: kata HETEROS ini juga digunakan dalam Gal 1:6 - “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain (Yunani: HETEROS).

 

b)   Karena dalam 1Tim 6:1-2 (ayat-ayat sebelum ay 3 yang sedang kita bahas saat ini), Paulus mengajar tentang hubungan budak dengan tuannya, maka merupakan sesuatu yang wajar kalau ‘ajaran lain’ ini diterapkan juga berkenaan dengan hal itu.

Jadi, dalam ay 1-2 Paulus sudah memberikan ajaran yang benar berkenaan dengan hubungan budak dengan tuannya. Sekarang dalam ay 3-5 ia mengecam orang / pengajar yang mengajarkan ajaran yang berbeda dengan ajaran yang sudah ia ajarkan itu.

 

Adam Clarke: “‘If any man teach otherwise.’ It appears that there were teachers of a different kind in the church, a sort of religious levellers, who preached that the converted servant had as much right to the master’s service as the master had to his. Teachers of this kind have been in vogue long since the days of Paul and Timothy” (= ‘Jika ada orang siapapun mengajarkan yang lain’. Kelihatannya ada guru-guru / pengajar-pengajar dari jenis yang lain dalam gereja, suatu jenis pengajar yang melakukan penyama-rataan agamawi, yang berkhotbah bahwa pelayan yang telah bertobat mempunyai hak yang sama terhadap pelayanan sang tuan seperti tuannya mempunyai hak terhadap pelayanannya. Guru-guru / pengajar-pengajar dari jenis ini telah menjadi mode / sangat digemari sejak jaman Paulus dan Timotius).

 

c)   Komentar Calvin tentang kata-kata ‘mengajarkan ajaran lain’.

Calvin: The word eJterodidaskalei~, being a compound, may also, not improperly, be translated, ‘teacheth other things.’ Yet there is no ambiguity as to the meaning; for he condemns all those who do not agree with this manner of teaching, although they do not openly and avowedly oppose, sound doctrine. It is possible that he who does not profess any wicked or open error may yet, by endeavoring to insinuate himself by means of silly babbling, corrupt the doctrine of godliness; for, when there is no progress, and no edification in the doctrine itself, there is already a departure from the ordinance of Christ. Now although Paul does not speak of the avowed supporters of wicked doctrines, but of vain and irreligious teachers, who, by their ambition or covetousness, disfigure the plain and simple doctrine of godliness, yet we see with what sharpness and severity he attacks them (= Kata HETERODIDASKALEI, yang merupakan suatu kata gabungan, juga bisa secara benar diterjemahkan ‘mengajarkan hal-hal lain’. Tetapi tidak ada arti ganda / membingungkan berkenaan dengan artinya; karena ia mengecam semua mereka yang tidak setuju dengan cara pengajaran ini, sekalipun mereka tidak menentang secara terbuka dan terang-terangan, ajaran yang sehat. Adalah mungkin bahwa ia yang tidak mempunyai pengakuan yang salah apapun yang jahat atau terbuka, bisa, oleh usaha memperkenalkan dirinya sendiri dengan ocehan yang tolol, merusak ajaran tentang kesalehan; karena pada saat di sana tidak ada kemajuan, dan tidak ada pendidikan dalam ajaran itu sendiri, di sana sudah ada suatu penyimpangan dari peraturan / perintah Kristus. Sekalipun Paulus tidak berbicara tentang pendukung-pendukung yang terang-terangan dari ajaran-ajaran yang jahat, tetapi tentang guru-guru yang sia-sia dan tidak religius, yang oleh ambisi dan ketamakan mereka, menodai / mengubah bentuk dari ajaran kesalehan yang jelas dan sederhana, tetapi kita bisa melihat dengan kekerasan yang bagaimana ia menyerang mereka).

 

Saya ingin memperjelas kata-kata Calvin ini. Dengan kata-katanya di atas ini, ia memaksudkan bahwa seseorang bisa dikatakan ‘mengajarkan ajaran yang lain’, pada saat ia betul-betul mengajarkan sesuatu yang salah secara terang-terangan. Tetapi ia lalu menambahkan bahwa ‘mengajarkan ajaran yang lain’ juga bisa terjadi pada saat seseorang hanya memberikan ocehan-ocehan yang tolol, yang sama sekali tidak berguna bagi pendidikan! Mungkin yang ia maksudkan adalah orang-orang yang memberikan pengajaran-pengajaran, yang tidak ada isinya, atau isinya sama sekali tidak berguna, karena memang membahas topik / hal-hal yang tidak berguna.

 

Penerapan: kalau saudara pergi ke suatu gereja dengan rajin, dan saudara juga selalu mendengar khotbah dengan sungguh-sungguh, tetapi ternyata saudara sama sekali tidak maju dalam pengetahuan tentang firman / tentang Allah / Yesus sendiri, maka mungkin sekali saudara sedang mengikuti suatu gereja, yang para pengajarnya adalah orang-orang seperti ini (yang dimaksudkan oleh Calvin).

Repotnya, orang yang pergi ke gereja-gereja yang seperti itu, biasanya sudah terbiasa dengan keadaan ‘tidak mendapat apa-apa’ sepulang dari gereja, sehingga tidak menganggap hal itu sebagai suatu kerugian / sesuatu yang salah! Padahal, seandainya ini terjadi dalam dunia jasmani, tidak ada orang yang tidak merasakan ini sebagai suatu kerugian / kesalahan. Misalnya, kalau ada orang yang rajin sekolah tetapi sama sekali tak maju dalam kepandaian / pengetahuan, atau orang yang pergi ke restoran, dan setiap kali mengeluarkan uang untuk membayar, tetapi selalu pulang tanpa makan apa-apa, dan tetap lapar. Adakah orang yang mau menerima hal seperti itu? Anehnya, dalam dunia rohani, banyak orang menerima saja keadaan seperti itu!

 

d)   Dari kata-kata Paulus dalam ay 3-5 ini terlihat bahwa seorang pengajar Kristen boleh, bahkan harus, memberikan pelajaran yang sifatnya negatif, yaitu yang menyerang ajaran lain yang ia anggap salah! Karena itu, kalau saudara melihat pendeta / pengkhotbah / pengajar yang seperti itu, jangan menganggap bahwa orang itu adalah orang yang ‘suka bertengkar / berperang’, ‘tidak cinta damai’, dsb!

Seluruh Kitab Suci, dan juga mayoritas buku-buku tafsiran dan theologia, penuh dengan serangan-serangan seperti itu!

Alasannya jelas adalah karena orang yang memang mencintai kebenaran, pasti akan membenci kesalahan, apalagi kesesatan. Karena itu, tidak bisa tidak, mereka akan menyerang ajaran salah / sesat itu.

 

2)   dan tidak menurut perkataan sehat - yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus - dan tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita,.

KJV/RSV/NASB: ‘godliness’ (= kesalehan).

NIV: ‘godly teaching’ (= ajaran yang saleh).

 

Calvin: “Whoever, therefore, does not strive to teach usefully, does not teach as he ought to do; and not only so, but that doctrine is neither godly nor sound, whatever may be the brilliancy of its display, that does not tend to the profit of the hearers” (= Karena, itu, siapapun tidak berjuang untuk mengajar secara berguna, tidak mengajar seperti yang seharusnya ia lakukan; dan bukan hanya demikian, tetapi bahwa ajaran itu tidaklah saleh maupun sehat, bagaimanapun cemerlangnya kelihatannya, kalau ajaran itu tidak mempunyai kecenderungan untuk memberikan manfaat kepada para pendengarnya).

 

Penerapan: ada pendeta / pengkhotbah yang pada waktu khotbah membahas text / ayat secara sukar, menggunakan bahasa asli Kitab Suci, dsb, tetapi apa yang dibahas boleh dikatakan tidak ada gunanya. Ini yang dikatakan oleh Calvin sebagai ‘cemerlang tetapi tak berguna’! Dan ini ia katakan sebagai bukan ajaran yang saleh maupun sehat.

 

3)         ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa.

 

Matthew Henry: “Commonly those are most proud who know least; for with all their knowledge they do not know themselves” (= Biasanya mereka yang paling sombong tahu paling sedikit; karena dengan semua pengetahuan mereka, mereka tidak mengenal diri mereka sendiri).

 

Matthew Henry: “Whoever teaches otherwise, and does not consent to these wholesome words, he is proud, knowing nothing; for pride and ignorance commonly go together” (= Siapapun yang mengajarkan ajaran yang lain, dan tidak setuju dengan kata-kata yang sehat ini, ia adalah sombong, tidak tahu apa-apa; karena kesombongan dan kebodohan / ketidak-tahuan biasanya berjalan bersama-sama).

 

The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Instead of being humble, a false teacher is proud; yet he has nothing to be proud about because he does not know anything ... A believer who understands the Word will have a burning heart, not a big head” (= Bukannya rendah hati, seorang guru palsu adalah sombong; tetapi ia tidak mempunyai apapun untuk disombongkan karena ia tidak mengetahui apapun ... Seorang percaya yang mengerti Firman akan mempunyai hati yang berkobar-kobar, bukan kepala yang besar).

 

4)         Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata.

KJV: but doting about questions and strifes of words (= tetapi gemar akan persoalan dan perselisihan tentang kata-kata).

RSV: he has a morbid craving for controversy and for disputes about words (= ia mempunyai kecanduan / keinginan yang tidak wajar akan kontroversi dan pertengkaran tentang kata-kata).

NIV: He has an unhealthy interest in controversies and quarrels about words (= Ia mempunyai keinginan / interest yang tidak sehat dalam kontroversi dan pertengkaran tentang kata-kata).

NASB: but he has a morbid interest in controversial questions and disputes about words (= tetapi ia mempunyai keinginan / interest yang tidak wajar dalam persoalan yang versifat kontroversial dan pertengkaran tentang kata-kata).

 

Ayat ini mungkin bisa digunakan oleh orang-orang yang ‘anti debat’ untuk mengatakan bahwa berdebat merupakan sesuatu yang salah. Dan ada lagi beberapa ayat yang serupa seperti:

 

a)   2Tim 2:14 - “Ingatkanlah dan pesankanlah semuanya itu dengan sungguh-sungguh kepada mereka di hadapan Allah, agar jangan mereka bersilat kata, karena hal itu sama sekali tidak berguna, malah mengacaukan orang yang mendengarnya”.

KJV: that they strive not about words to no profit (= supaya mereka tidak berjuang tentang kata-kata tanpa ada gunanya).

RSV: to avoid disputing about words, which does no good (= untuk menghindari pertengkaran tentang kata-kata, yang tidak membawa kebaikan).

NIV: against quarreling about words; it is of no value (= terhadap pertengkaran tentang kata-kata; itu tidak ada nilainya).

NASB: not to wrangle about words, which is useless (= untuk tidak bertengkar tentang kata-kata, yang tak ada gunanya).

 

b)   Tit 3:9 - “Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka”.

 

c)   2Tim 2:23 - “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran”.

 

Apakah memang ayat-ayat di atas ini melarang orang Kristen untuk berdebat? Ada beberapa hal yang akan saya berikan sebagai jawaban:

 

1.   Siapapun yang melarang orang Kristen berdebat dengan menggunakan ayat-ayat tersebut di atas sebagai dasar, atau dengan menggunakan alasan-alasan lain (seperti ‘debat tidak pernah mempertobatkan orang’, dsb), maka pada saat itu ia sendiri sudah berdebat, dan dengan demikian ‘ia menampar mukanya sendiri’!

Ini tidak terlalu berbeda dengan orang yang menyalahkan saya pada waktu saya menyerang ajaran sesat / nabi palsu, dengan mengatakan kepada saya ‘jangan menghakimi’. Pada saat itu ia sendiri sudah menghakimi saya!

 

2.   Sekarang kita perhatikan banyak text dari Kitab Suci yang menunjukkan orang-orang saleh berdebat, bahkan pada saat kepenuhan Roh Kudus.

 

a.         Stefanus.

Kis 6:5,8-10 - “(5) Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia. ... (8) Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. (9) Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini - anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria - bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, (10) tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

 

Untuk contoh yang satu ini perhatikan bahwa Stefanus penuh dengan Roh Kudus (ay 5), dan dalam bersoal jawab / berdebat, ia dipimpin Roh Kudus! Hanya orang yang tidak menghargai otoritas Firman Tuhan yang tahu akan text ini tetapi tetap melarang orang Kristen untuk berdebat!

 

b.         Apolos.

Kis 18:27b-28 - “(27b) Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. (28) Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

 

c.         Paulus.

Kis 9:20-22,28-29 - “(20) Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. (21) Semua orang yang mendengar hal itu heran dan berkata: ‘Bukankah dia ini yang di Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke hadapan imam-imam kepala?’ (22) Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. ... (28) Dan Saulus tetap bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam nama Tuhan. (29) Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia”.

Kis 15:1-2 - “(1) Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’ (2) Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu”.

Kis 19:8 - “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah”.

Kis 25:19 - Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup.

Kis 26:1-3 - “(1) Kata Agripa kepada Paulus: ‘Engkau diberi kesempatan untuk membela diri.’ Paulus memberi isyarat dengan tangannya, lalu memberi pembelaannya seperti berikut: (2) ‘Ya raja Agripa, aku merasa berbahagia, karena pada hari ini aku diperkenankan untuk memberi pertanggungan jawab di hadapanmu terhadap segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diriku, (3) terutama karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar”.

 

3.   Text ini merupakan perintah bagi orang Kristen untuk ber-apologetik, yang sebenarnya tidak berbeda dengan ‘keharusan berdebat’ pada saat iman kristen diserang.

1Pet 3:15 - “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat”.

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘pertanggungan jawab’ adalah APOLOGIA, dan dari kata itu diturunkan kata ‘apologetics’ / ‘apologetik’!

 

-bersambung-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com