Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 22 Januari 2014, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Irresistible Grace(22)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

Word Biblical Commentary (tentang Mat 23:37): In the message of the dawning of the kingdom, this salvation had been offered repeatedly to the Jews. ... Despite the invitation to receive what Jesus was bringing, the Jews refused it: καὶ οὐκ ἠθελήσατε, ‘and you would not have it’ (cf. 22:3; Luke 19:14; John 1:11; 5:40). [= Dalam pesan tentang menyingsingnya kerajaan, keselamatan ini telah ditawarkan secara berulang-ulang kepada orang-orang Yahudi. ... Sekalipun ada undangan untuk menerima apa yang Yesus sedang bawa, orang-orang Yahudi menolaknya: KAI OUK ETHELESATE, ‘dan kamu tidak menghendakinya’ (bdk. 22:3; Luk 19:14; Yoh 1:11; 5:40).] - Libronix.

Mat 22:3 - “Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang.”.

Luk 19:14 - “Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan menyusul dia untuk mengatakan: Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas kami.”.

Yoh 1:11 - “Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya.”.

Yoh 5:40 - namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.”.

 

Jadi, Yesus ingin mengumpulkan orang-orang Yahudi itu, diartikan bukan sebagai rencana Allah, yang lalu gagal / ditolak oleh orang-orang Yahudi itu, tetapi hanya dianggap sebagai undangan untuk percaya, atau penawaran keselamatan, kepada orang-orang Yahudi itu.

 

Matthew Henry (tentang Mat 23:37): “‘How often!’ Christ often came up to Jerusalem, preached, and wrought miracles there; and the meaning of all this, was, he would have gathered them. He keeps account how often his calls have been repeated. As often as we have heard the sound of the gospel, as often as we have felt the strivings of the Spirit, so often Christ would have gathered us. (= ‘Betapa sering!’ Kristus sering datang / naik ke Yerusalem, berkhotbah, dan melakukan mujijat-mujijat di sana; dan arti dari semua ini adalah, ‘Ia mau mengumpulkan mereka’. Ia mencatat berapa sering panggilanNya telah diulang. Sesering kita telah mendengar suara dari injil, sesering kita telah merasakan usaha / perjuangan dari Roh, begitu seringnya Kristus mau mengumpulkan kita.).

 

Calvin (tentang Mat 23:37): “Again, when the sophists seize on this passage, to prove free will, and to set aside the secret predestination of God, the answer is easy. ‘God wills to gather all men,’ say they; ‘and therefore all are at liberty to come, and their will does not depend on the election of God.’ I reply: The will of God, which is here mentioned, must be judged from the result. For since by his word he calls all men indiscriminately to salvation, and since the end of preaching is, that all should betake themselves to his guardianship and protection, it may justly be said that he wills to gather all to himself. It is not, therefore, the secret purpose of God, but his will, which is manifested by the nature of the word, that is here described; for, undoubtedly, whomsoever he efficaciously wills to gather, he inwardly draws by his Spirit, and does not merely invite by the outward voice of man. If it be objected, that it is absurd to suppose the existence of two wills in God, I reply, we fully believe that his will is simple and one; but as our minds do not fathom the deep abyss of secret election, in accommodation to the capacity of our weakness, the will of God is exhibited to us in two ways. And I am astonished at the obstinacy of some people, who, when in many passages of Scripture they meet with that figure of speech (a]nqrwpopa>qeia) which attributes to God human feelings, take no offense, but in this case alone refuse to admit it. But as I have elsewhere treated this subject fully, that I may not be unnecessarily tedious, I only state briefly that, whenever the doctrine, which is the standard of union, is brought forward, God wills to gather all, that all who do not come may be inexcusable.” [= Lagi-lagi, pada waktu para Sophists menggunakan text ini untuk membuktikan kehendak bebas, dan untuk menyingkirkan predestinasi rahasia dari Allah, jawabannya mudah. ‘Allah menghendaki untuk mengumpulkan semua manusia’, kata mereka; ‘dan karena itu semua bebas untuk datang, dan kehendak mereka tidak tergantung pada pemilihan dari Allah’. Saya menjawab: Kehendak Allah, yang disebutkan di sini, harus dinilai dari hasilnya. Karena oleh firmanNya Ia memanggil semua orang tanpa pembedaan kepada keselamatan, dan karena tujuan dari pemberitaan adalah, supaya semua orang membawa diri mereka sendiri pada penjagaan dan perlindunganNya, maka secara benar dikatakan bahwa Ia menghendaki untuk mengumpulkan semua orang kepada diriNya sendiri. Karena itu, bukanlah rencana rahasia dari Allah, tetapi kehendakNya, yang dinyatakan oleh sifat dasar dari firman yang digambarkan di sini; karena, dengan tak diragukan, siapapun yang Ia kehendaki secara efektif untuk kumpulkan, Ia tarik dari dalam oleh RohNya, dan tidak semata-mata undang oleh suara lahiriah dari manusia. Jika ada yang keberatan, bahwa adalah menggelikan untuk menganggap keberadaan dari dua kehendak di dalam Allah, saya menjawab, kami sepenuhnya percaya bahwa kehendakNya sederhana dan satu; tetapi karena pikiran kita tidak mengerti jurang yang dalam dari pemilihan rahasia, dalam penyesuaian dengan kapasitas dari kelemahan kita, kehendak Allah dinyatakan kepada kita dengan dua jalan / cara. Dan saya heran pada kekeras-kepalaan dari sebagian orang, yang pada waktu dalam banyak text dari Kitab Suci mereka bertemu dengan gaya bahasa itu (ANTHROPOPATHEIA) yang menghubungkan dengan Allah perasaan-perasaan manusia, tidak marah / tersandung, tetapi dalam kasus ini saja menolak untuk mengakuinya. Tetapi seperti saya telah membahas di tempat lain pokok / hal ini dengan sepenuhnya, supaya saya tidak membosankan secara tidak perlu, saya hanya menyatakan secara singkat bahwa, kapanpun doktrin ini, yang adalah standard dari persatuan, dikemukakan, Allah menghendaki untuk mengumpulkan semua orang, sehingga semua orang yang tidak datang tidak bisa dimaafkan.].

Catatan: ‘sophist’ = ahli argumentasi dalam kepausan / Katolik.

 

Jadi, sama seperti dua penafsir di atas, Calvin menafsirkan bahwa Yesus ingin mengumpulkan semua orang itu melalui pemberitaan Injil / firman.

Tetapi Calvin menambahkan bahwa ini (kerinduan Yesus, tangisan Yesus) merupakan bahasa Anthropopathy, yaitu gaya bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia.

Dan Calvin menambahkan lagi bahwa orang-orang Arminian itu, yang dalam banyak bagian Alkitab yang lain bertemu dengan gaya bahasa ini, sama sekali tidak mempersoalkannya, tetapi di sini, dan hanya di sini, mempersoalkannya, dan tidak mau mengakui ini sebagai Anthropopathy.

 

c)      Yes 65:2 - Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;.

 

Sebelum kita membahas ayatnya, mari kita memperhatikan kontext dari ayat itu.

 

Yes 65:1-2 - “(1) Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: ‘Ini Aku, ini Aku!’ kepada bangsa yang tidak memanggil namaKu. (2) Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;.

 

E. J. Young (tentang Yes 65:1): God here speaks of the Gentiles, who, in contrast to the Jews, have received His grace even though they had not asked for it. ... In other words, God’s free grace reached those who did not know Him and who made no effort to find Him. They in fact were found of Him. Isaiah’s forceful language simply asserts the reality of sovereign and free grace given to sinners who deserve it not, and who have had no concern for it. (= Allah di sini berbicara tentang orang-orang non Yahudi, yang, dalam kontras dengan orang-orang Yahudi, telah menerima kasih karuniaNya sekalipun mereka tidak mencarinya. ... Dengan kata lain, kasih karunia yang cuma-cuma dari Allah mencapai mereka yang tidak mengenalNya dan tidak melakukan usaha untuk mencariNya. Mereka sesungguhnya ditemukan olehNya. Bahasa / kata-kata yang kuat dari Yesaya hanya menegaskan kenyataan dari kasih karunia yang berdaulat dan cuma-cuma yang diberikan kepada orang-orang berdosa yang tak layak mendapatkannya, dan yang tak mempedulikannya.).

 

Jadi, ayat sebelumnya, yaitu Yes 65:1 ini justru merupakan bukti dari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), karena bangsa yang tidak mencari Tuhan, justru diselamatkan oleh Tuhan. Sekarang, bagaimana dengan Yes 65:2-nya?

 

E. J. Young (tentang Yes 65:2): Verses 1 and 2 are a general answer to the question raised in the preceding chapter, namely, ‘Will there ever be an end to the divine wrath? Must God’s own people forever suffer the hiding of His face?’ By way of answer, God declares that He will indeed come in grace, but to a people who had not sought Him, i.e. the Gentiles. To the chosen people, however, which throughout their entire history had been rebellious (cf. 63:10), there was no hope. It is the truth that Christ later declared: ‘The kingdom of God shall be taken from you, and shall be given to a nation which shall bring forth fruit’ (Matt. 21:43; cf. also Deut. 32:5,6,21). [= Ayat 1 dan 2 merupakan suatu jawaban umum terhadap pertanyaan yang diberikan dalam pasal sebelumnya, yaitu, ‘Apakah akan ada suatu akhir dari murka ilahi? Haruskah bangsa / umat Allah sendiri selama-lamanya mengalami penyembunyian wajahNya?’ Sebagai jawaban, Allah menyatakan bahwa Ia memang akan datang dengan kasih karunia, tetapi kepada suatu bangsa yang tidak mencariNya, yaitu orang-orang non Yahudi. Tetapi kepada bangsa pilihan, yang selama seluruh sejarah mereka telah menjadi bangsa pemberontak (bdk. 63:10), disana tidak ada harapan. Ini merupakan kebenaran yang belakangan Kristus nyatakan: ‘Kerajaan Allah akan diambil dari padamu, dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan mengeluarkan / menghasilkan buah’ (Mat 21:43; bdk. juga Ul 32:5,6,21).].

Catatan: pertanyaan dalam pasal sebelumnya yang dipersoalkan oleh E. J. Young saya berikan di bawah ini.

Yes 64:8-12 - “(8) Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tanganMu. (9) Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya! Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umatMu. (10) Kota-kotaMu yang kudus sudah menjadi padang gurun, Sion sudah menjadi padang gurun, Yerusalem sunyi sepi. (11) Bait kami yang kudus dan agung, tempat nenek moyang kami memuji-muji Engkau, sudah menjadi umpan api, maka milik kami yang paling indah sudah menjadi reruntuhan. (12) Melihat semuanya ini, ya TUHAN, masakan Engkau menahan diri, masakan Engkau tinggal diam dan menindas kami amat sangat?.

Yes 63:10 - “Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh KudusNya; maka Ia berubah menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.”.

Mat 21:43 - “Sebab itu, Aku berkata kepadamu, bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari padamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu.”.

Ul 32:5,6,21 - “(5) Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anakNya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit. (6) Demikianlah engkau mengadakan pembalasan terhadap TUHAN, hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana? Bukankah Ia Bapamu yang mencipta engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau? ... (21) Mereka membangkitkan cemburuKu dengan yang bukan Allah, mereka menimbulkan sakit hatiKu dengan berhala mereka. Sebab itu Aku akan membangkitkan cemburu mereka dengan yang bukan umat, dan akan menyakiti hati mereka dengan bangsa yang bebal.”.

 

Tetapi, kalau Yes 65:1 merupakan bukti dari Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), tidakkah Yes 65:2 merupakan kebalikannya? Allah kelihatannya membatalkan pemilihanNya dan pemberian kasih karuniaNya kepada Israel karena mereka terus memberontak. Mengapa kasih karunia Allah itu tidak bisa mempertobatkan mereka?

 

Yes 65:2 - Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tanganKu kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri;.

 

E. J. Young (tentang Yes 65:2): Spreading out the hand is an action denoting God’s love and willingness to receive His people. God performed this action not merely once, but all the day, (= Mengulurkan tangan adalah suatu tindakan yang menunjukkan kasih dan kerelaan Allah untuk menerima bangsaNya. Allah melakukan tindakan ini bukan hanya satu kali tetapi sepanjang hari,).

 

Calvin (tentang Yes 65:2): He accuses the Jews, and complains of their ingratitude and rebellion; and in this manner he proves that there is no reason why they should say that the Lord does them wrong if he bestow his grace on others. The Jews conducted themselves proudly and insolently toward God, as if they had been elected through their own merit. On account of their ingratitude and insolence the Lord rejects them as unworthy, and complains that to no purpose did he ‘stretch out his hands’ to draw and bring them back to him. By ‘the stretching out of the hands’ he means the daily invitation. There are various ways in which the Lord ‘stretches out his hands to us;’ for he draws us to him, either effectually or by the word. In this passage it must relate chiefly to the word. The Lord never speaks to us without at the same time ‘stretching out his hand’ to join us to himself, or without causing us to feel, on the other hand, that he is near to us. He even embraces us, and shews the anxiety of a father, so that, if we do not comply with his invitation, it must be owing entirely to our own fault.” (= Ia menuduh orang-orang Yahudi, dan mengeluh tentang rasa tidak tahu terima kasih dan pemberontakan mereka; dan dengan cara ini ia membuktikan bahwa disana tidak ada alasan mengapa mereka harus berkata bahwa Tuhan melakukan kesalahan kepada mereka jika Ia memberikan kasih karuniaNya kepada orang-orang lain. Orang-orang Yahudi bertingkah laku secara sombong dan kurang ajar terhadap Allah, seakan-akan mereka telah dipilih melalui jasa mereka sendiri. Karena rasa tidak tahu terima kasih dan kekurang-ajaran mereka, Tuhan menolak mereka sebagai tidak layak, dan mengeluh bahwa tidak ada gunanya Ia ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menarik dan membawa mereka kembali kepadaNya. Dengan ‘mengulurkan tangan’ ia memaksudkan undangan harian. Di sana ada bermacam-macam cara dalam mana Tuhan ‘mengulurkan tanganNya kepada kita’; karena Ia menarik kita kepadaNya, atau secara efektif, atau oleh firman. Dalam text ini, itu harus berhubungan terutama dengan firman. Tuhan tidak pernah berbicara kepada kita tanpa pada saat yang sama ‘mengulurkan tanganNya’ untuk menggabungkan kita dengan diriNya sendiri, atau tanpa menyebabkan kita untuk merasa, di sisi lain, bahwa Ia dekat dengan kita. Ia bahkan memeluk kita, dan menunjukkan kekuatiran seorang bapa, sehingga jika kita tidak memenuhi / mengikuti undanganNya, itu harus dianggap sepenuhnya sebagai kesalahan kita sendiri.).

 

Jadi jelas bahwa menurut Calvin, Yes 65:2 tidak menunjukkan pemberian Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) kepada Israel, yang ternyata akhirnya bisa mereka tolak. Kata-kata ‘mengulurkan tangan’ diartikan oleh Calvin hanya sebagai pemberitaan firman kepada mereka, atau merupakan panggilan luar / lahiriah kepada mereka.

 

d)      Luk 9:23 - KataNya kepada mereka semua: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.

 

Betul-betul tolol bahwa dari kata ‘mau’ di sini Lenski menganggap bahwa Yesus tidak mengajarkan Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak)!

 

Lenski: “‘Christ does not pull his sheep by a rope; in his army are none but volunteers.’ E. Frommel. Jesus knows of no irresistible grace but only of the grace which draws the will and wins it for himself. And this grace excludes no one - TIS is like a blank space into which you are invited to write your name, no matter who you may be” [= ‘Kristus tidak menarik dombaNya dengan sebuah tali; dalam pasukannya tidak ada orang kecuali sukarelawan’. E. Frommel. Yesus tidak mengenal kasih karunia yang tidak bisa ditolak tetapi hanya kasih karunia yang menarik kemauan / kehendak dan memenangkannya untuk diriNya sendiri. Dan kasih karunia ini tidak mengeluarkan siapapun - kata Yunani TIS (= anyone / siapapun / setiap orang) adalah seperti suatu spasi / tempat kosong ke dalam mana engkau diundang untuk menuliskan namamu, tak peduli siapapun engkau adanya] - hal 517.

 

Tanggapan saya:

1.   Bagaimana kata-kata Lenski ini bisa diharmoniskan dengan fakta bahwa ada banyak orang yang sampai mati tidak pernah diberi kesempatan untuk mendengar Injil?

2.   Bagaimana kata-kata Lenski pada bagian awal dari kutipan di atas bisa sesuai dengan ayat-ayat ini yang menunjukkan bahwa Allah memang menarik orang-orang sehingga menjadi orang-orang yang percaya?

 

Bdk. Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

 

Kesimpulan: semua ayat yang menunjukkan penolakan manusia tidak menunjuk pada penolakan terhadap kasih karunia Allah, tetapi hanya menunjukkan penolakan manusia terhadap Injil / undangan lahiriah dari Tuhan!

 

C)            Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini dianggap bertentangan dengan ayat-ayat Alkitab yang menawarkan keselamatan kepada setiap orang.

 

Misalnya: Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang (Inggris: whoever / whosoever / barangsiapa) yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

 

Ini berlaku juga untuk ayat-ayat lain yang menunjukkan adanya undangan kepada setiap orang untuk datang kepada Tuhan dan diselamatkan. Ayat-ayat seperti ini dianggap menunjukkan bahwa manusia mampu percaya kepada Kristus asal ia mau, dan karena itu tidak dibutuhkan Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

 

R. C. Sproul: non-Reformed views find one of their main proof texts to argue that fallen man retains a small island of ability to choose Christ. It is John 3:16: ‘For God so loved the world that He gave His only begotten Son, that whoever believes in Him should not perish but have everlasting life.’ What does this famous verse teach about fallen man’s ability to choose Christ? The answer, simply, is nothing. The argument used by non-Reformed people is that the text teaches that everybody in the world has it in their power to accept or reject Christ. A careful look at the text reveals, however, that it teaches nothing of the kind. What the text teaches is that everyone who believes in Christ will be saved. Whoever does A (believes) will receive B (everlasting life). The text says nothing, absolutely nothing, about who will ever believe. It says nothing about fallen man’s natural moral ability. Reformed people and non-Reformed people both heartily agree that all who believe will be saved. They heartily disagree about who has the ability to believe. Some may reply, ‘All right. The text does not explicitly teach that fallen men have the ability to choose Christ without being reborn first, but it certainly implies that.’ I am not willing to grant that the text even implies such a thing. However, even if it did it would make no difference in the debate. Why not? Our rule of interpreting Scripture is that implications drawn from the Scripture must always be subordinate to the explicit teaching of Scripture. We must never, never, never reverse this to subordinate the explicit teaching of Scripture to possible implications drawn from Scripture. This rule is shared by both Reformed and non-Reformed thinkers. If John 3:16 implied a universal natural human ability of fallen men to choose Christ, then that implication would be wiped out by Jesus’ explicit teaching to the contrary. We have already shown that Jesus explicitly and unambiguously taught that no man has the ability to come to him without God doing something to give him that ability, namely drawing him. [= pandangan-pandangan non-Reformed menemukan satu dari text-text bukti utama mereka untuk berargumentasi bahwa manusia yang telah jatuh mempertahankan suatu pulau kecil dari kemampuan untuk memilih Kristus. Itu adalah Yoh 3:16: ‘Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.’ Apa yang diajarkan oleh ayat yang terkenal ini tentang kemampuan dari manusia yang telah jatuh untuk memilih Kristus? Jawabannya, sederhana, tidak ada. Argumentasi yang digunakan oleh orang-orang non-Reformed adalah bahwa text ini mengajar bahwa setiap orang dalam dunia mempunyai dalam kuasa mereka untuk menerima atau menolak Kristus. Tetapi suatu pandangan yang teliti pada text itu menyatakan bahwa text itu tidak mengajar apapun tentang hal itu. Apa yang diajarkan oleh text itu adalah, bahwa setiap orang yang percaya kepada Kristus akan diselamatkan. Siapapun yang melakukan A (percaya) akan menerima B (hidup yang kekal). Text itu tidak berkata apa-apa tentang siapa yang akan percaya. Text itu tidak berkata apa-apa tentang kemampuan moral alamiah dari manusia yang telah jatuh. Orang Reformed dan orang non-Reformed sama-sama setuju dengan sungguh-sungguh bahwa semua orang yang percaya akan diselamatkan. Mereka sungguh-sungguh tidak setuju tentang siapa yang mempunyai kemampuan untuk percaya. Sebagian mungkin menjawab, ‘OK, textnya tidak secara explicit mengajar bahwa manusia yang telah jatuh mempunyai kemampuan untuk memilih Kristus tanpa dilahir-barukan lebih dulu, tetapi text itu pasti secara implicit mengajarkan hal itu’. Saya tidak mau mengakui bahwa text itu bahkan secara implicit mengajarkan hal seperti itu. Tetapi, bahkan seandainya text itu mengajarkan hal itu secara implicit, itu tidak akan membuat perbedaan dalam debat ini. Mengapa tidak? Peraturan kita tentang menafsirkan Kitab Suci adalah bahwa kesimpulan yang ditarik dari Kitab Suci harus selalu tunduk pada ajaran explicit dari Kitab Suci. Kita tidak pernah, tidak pernah, tidak pernah boleh membalik ini, untuk menundukkan ajaran explicit Kitab Suci pada kesimpulan yang memungkinkan yang ditarik dari Kitab Suci. Peraturan ini dipakai bersama-sama oleh baik pemikir-pemikir Reformed maupun non-Reformed. Seandainya Yoh 3:16 secara implicit mengajarkan suatu kemampuan manusia alamiah yang bersifat universal dari manusia yang telah jatuh untuk memilih Kristus, maka kesimpulan itu akan dihapuskan oleh ajaran explicit yang sebaliknya dari Yesus. Kami telah menunjukkan bahwa Yesus secara explicit dan secara tak meragukan mengajarkan bahwa tak ada orang yang mempunyai kemampuan untuk datang kepadaNya tanpa Allah melakukan sesuatu yang memberinya kemampuan itu, yaitu menariknya (Yoh 6:44).] - ‘Chosen by God’, hal 73-74.

 

R. C. Sproul: Fallen man is flesh. In the flesh he can do nothing to please God. Paul declares, ‘The fleshly mind is enmity against God; for it is not subject to the law of God, nor indeed can be. So then, those who are in the flesh cannot please God’ (Rom. 8:7, 8). We ask, then, ‘Who are those who are ‘in the flesh’?’ Paul goes on to declare: ‘But you are not in the flesh but in the Spirit, if indeed the Spirit of God dwells in you’ (Rom. 8:9). The crucial word here is ‘if’. What distinguishes those who are in the flesh from those who are not is the indwelling of the Holy Spirit. No one who is not reborn is indwelt by God the Holy Spirit. People who are in the flesh have not been reborn. Unless they are first reborn, born of the Holy Spirit, they cannot be subject to the law of God. They cannot please God. God commands us to believe in Christ. He is pleased by those who choose Christ. If unregenerate people could choose Christ, then they could be subject to at least one of God’s commands and they could at least do something that is pleasing to God. If that is so, then the apostle has erred here in insisting that those who are in the flesh can neither be subject to God nor please him. [= Manusia yang telah jatuh adalah daging. Dalam daging ia tidak bisa melakukan apapun untuk memperkenan Allah. Paulus menyatakan, ‘Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.’ (Ro 8:7,8). Maka kita bertanya, ‘Siapakah mereka yang ada di dalam daging?’ Paulus melanjutkan untuk menyatakan: ‘Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu.’ (Ro 8:9). Kata yang sangat penting di sini adalah kata ‘jika’. Apa yang membedakan mereka yang ada dalam daging dengan mereka yang tidak, adalah penghunian oleh Roh Kudus. Tak seorangpun yang tidak dilahirkan kembali dihuni oleh Allah Roh Kudus. Orang-orang yang ada di dalam daging, belum dilahirkan kembali. Kecuali mereka pertama-tama dilahirkan kembali, dilahirkan dari / oleh Roh Kudus, mereka tidak bisa tunduk pada hukum Allah. Mereka tidak bisa memperkenan Allah. Allah memerintahkan kita untuk percaya kepada Kristus. Ia diperkenan oleh mereka yang memilih Kristus. Jika orang-orang yang belum dilahirbarukan bisa memilih Kristus, maka mereka bisa tunduk pada sedikitnya satu dari perintah-perintah Allah, dan mereka setidaknya bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan / memperkenan Allah. Jika demikian, maka sang rasul telah bersalah di sini dalam berkeras bahwa mereka yang ada dalam daging tidak bisa tunduk kepada Allah ataupun memperkenan Dia.] - ‘Chosen by God’, hal 74-75.

 

Loraine Boettner: But some may ask, Do not the many passages in the Bible such as, ‘If thou shalt obey,’ ‘If thou turn unto Jehovah,’ ‘If thou do that which is evil,’ and so forth, at least imply that man has free will and ability? It does not follow, however, that merely because God commands man is able to obey. ... In these passages man is taught not what he can do, but what he ought to do; (= Tetapi beberapa orang bisa bertanya, Bukankah banyak text dalam Alkitab seperti ‘Jika engkau taat’, ‘Jika engkau berbalik kepada Yehovah’, ‘Jika engkau melakukan apa yang jahat’, dsb, setidaknya menunjukkan secara implicit bahwa manusia mempunyai kehendak bebas dan kemampuan? Tetapi bukanlah merupakan konsekwensinya, bahwa semata-mata karena Allah memerintahkan, maka manusia mampu untuk mentaati. ... Dalam text-text ini manusia diajar bukan apa yang bisa ia lakukan, tetapi apa yang harus ia lakukan;) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 178.

 

 

-o0o-

 

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org