Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 15 Januari 2014, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

Irresistible Grace(21)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

B)            Doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini dianggap bertentangan dengan ayat-ayat yang menunjukkan bahwa manusia bisa menolak kasih karunia Allah itu.

 

a)      Luk 7:30 - “Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.”.

 

Adam Clarke: “‘Rejected the counsel of God.’ Or, frustrated the will of God. ... The will of God was that all the inhabitants of Judea should repent at the preaching of John, be baptized, and believe in Christ Jesus. Now as they did not repent, &c., at John’s preaching, so they did not believe his testimony concerning Christ: thus the will, gracious counsel, or design of God, relative to their salvation, was annulled or frustrated” (= ‘Menolak maksud / rencana Allah’. Atau, ‘menggagalkan kehendak Allah’. ... Kehendak Allah adalah bahwa semua penduduk Yudea bertobat oleh pemberitaan / khotbah Yohanes, dibaptiskan, dan percaya kepada Kristus Yesus. Sekarang, karena mereka tidak bertobat dsb, oleh khotbah Yohanes, demikian juga mereka tidak percaya pada kesaksiannya mengenai Kristus: maka kehendak, maksud / rencana yang penuh kasih karunia, atau rancangan dari Allah, berhubungan dengan keselamatan mereka, dibatalkan atau digagalkan) - hal 413.

 

Lenski: Their leaders, ... refused John’s baptism and thus from the start ‘nullified’ (ἀθετέω), made void the counsel of God for themselves. This counsel (βουλή) is what the will of God fixed and planned; it was exhibited in John and in his work. [= Pemimpin-pemimpin mereka, ... menolak baptisan Yohanes dan dengan demikian dari permulaan ‘menghapuskan’ (ATHETEO), membatalkan rencana Allah bagi diri mereka sendiri. Rencana ini (BOULE) adalah apa yang kehendak Allah tentukan dan rencanakan; itu ditunjukkan dalam Yohanes dan dalam pekerjaannya.].

Catatan: saya tak tahu kata ‘nya’ (his) yang terakhir itu menunjuk kepada Allah atau kepada Yohanes Pembaptis.

 

Jadi, jelaslah bahwa kedua penafsir Arminian ini menganggap bahwa ayat ini menunjukkan bahwa kehendak / rencana Allah digagalkan oleh orang-orang itu.

 

Luk 7:30 - ‘menolak maksud Allah terhadap diri mereka’.

KJV: ‘rejected the counsel of God against themselves’ (= menolak rencana Allah terhadap / menentang mereka sendiri).

NIV: rejected God’s purpose for themselves (= menolak rencana Allah untuk / bagi mereka sendiri).

 

Mari kita menyoroti kata ‘maksud’ [Inggris: ‘counsel’ (= rencana); Yunani: BOULE].

Ada yang mengatakan bahwa kata Yunani BOULE menunjuk pada rencana kekal dari Allah, sedangkan kata Yunani Thelema menunjuk pada perintah Allah. Dengan demikian Luk 7:30, yang menggunakan kata Yunani BOULE, menunjukkan bahwa rencana kekal dari Allah itu bisa digagalkan oleh kehendak bebas dari manusia.

 

Ada 2 hal yang saya berikan sebagai tanggapan:

 

1.   Mengatakan bahwa manusia bisa menggagalkan rencana Allah bertentangan dengan banyak ajaran Alkitab, yang menyatakan rencana Allah tidak bisa gagal.

·        Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.”.

·        Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.

·        Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?.

·        Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.

·        Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.

·                 Yes 43:13 - “Juga seterusnya Aku tetap Dia, dan tidak ada yang dapat melepaskan dari tanganKu; Aku melakukannya, siapakah yang dapat mencegahnya?.

·        Yes 46:10-11 - “(10) yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, (11) yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya.”.

·        Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.

 

Memang, baik dari sudut logika, maupun dari sudut Alkitab, jelas bahwa adanya kemahatahuan dan kemahakuasaan Allah menyebabkan rencana Allah tidak mungkin bisa gagal / digagalkan oleh siapapun / apapun juga.

 

2.   Setelah saya memeriksa penggunaan kata BOULE dan THELEMA dalam seluruh Kitab Suci, saya yakin bahwa pembedaan seperti ini tidak bisa dipertanggung-jawabkan, karena:

 

a. Kata Yunani THELEMA memang sering digunakan untuk menunjuk pada perintah Allah, seperti misalnya dalam Mat 7:21 dan Luk 12:47.

Mat 7:21 - “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.”.

Luk 12:47 - “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.”.

 

Tetapi kata ini juga sangat sering digunakan untuk menunjuk pada rencana kekal dari Allah, yaitu dalam:

Mat 6:10 - “datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga.”.

Mat 26:42 - “Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’”.

Kis 21:14 - “Karena ia tidak mau menerima nasihat kami, kami menyerah dan berkata: ‘Jadilah kehendak Tuhan!’”.

Ro 1:10 - “Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu.”.

Ro 15:32 - “agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu.”.

1Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah dipanggil menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Sostenes, saudara kita,”.

2Kor 1:1 - “Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.”.

Gal 1:4 - “yang telah menyerahkan diriNya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita.”.

Ef 1:1,5 - “(1) Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. ... (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya,”.

Kol 1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita,”.

2Tim 1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah untuk memberitakan janji tentang hidup dalam Kristus Yesus,”.

1Pet 3:17 - “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”.

1Pet 4:19 - “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.”.

1Yoh 5:14 - “Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya.”.

Kata ‘kehendak’ dalam ayat-ayat di atas ini menggunakan kata THELEMA, padahal ini pasti menunjuk pada rencana kekal dari Allah.

 

b. Kata Yunani BOULE dalam ayat-ayat tertentu memang menunjuk pada rencana kekal dari Allah, seperti misalnya dalam Kis 2:23 dan Kis 4:28.

Kis 2:23 - “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencanaNya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.”.

Kis 4:28 - “untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendakMu.”.

 

Tetapi kata itu juga pernah digunakan untuk menunjuk pada perintah Allah, yaitu dalam Kis 13:36 dan Kis 20:27.

 

Kis 13:36 - “Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan kepada kebinasaan.”.

Jelas bahwa kata ‘kehendak’ di sini tidak mungkin menunjuk pada rencana Allah, karena Daud tidak tahu rencana Allah itu. Ini pasti menunjuk pada perintah-perintah Allah, dan menunjukkan Daud sebagai orang yang taat kepada Tuhan.

 

Kis 20:27 - “Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.”.

Kata ‘maksud’ di sini menggunakan kata BOULE, dan tidak mungkin kata ini menunjuk pada rencana kekal dari Allah, karena Paulus tidak mungkin bisa memberitakan seluruh rencana kekal dari Allah, yang tidak dia ketahui. Yang dimaksud pasti adalah perintah / ajaran dari Allah.

 

c. Sesuatu yang menarik terjadi dalam Ef 1:11 - “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya -”.

KJV: ‘who worketh all things after the counsel of his own will (= yang mengerjakan segala sesuatu menurut rencana dari kehendakNya sendiri).

Untuk kata ‘counsel’ digunakan kata BOULE, sedangkan untuk kata ‘will’ digunakan kata THELEMA.

 

3.      Komentar-komentar dari beberapa penafsir.

 

Norval Geldenhuys / NICNT (tentang Luk 7:30): “Here boulh (BOULE) does not refer to the eternal decree of God (Eph. 1:1), which cannot be broken or put aside by the creature, but to God’s dispensing of salvation as it is revealed in John’s mission and work’.” [= Di sini BOULE tidak menunjuk pada ketetapan kekal dari Allah (Ef 1:1), yang tidak bisa dihancurkan atau disingkirkan oleh makhluk ciptaan, tetapi pada penyaluran / pembagian keselamatan sebagaimana dinyatakan dalam misi dan pekerjaan Yohanes’.] - hal 230.

 

Robert L. Dabney: “When it is said that the Pharisees rejected the counsel of God concerning themselves, the word ‘counsel’ means but ‘precept.’” (= Ketika dikatakan bahwa orang-orang Farisi menolak maksud / rencana Allah mengenai diri mereka sendiri, kata ‘maksud / rencana’ hanya berarti ‘perintah / ajaran’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 222.

 

Barnes’ Notes ( tentang Luk 7:30): “‘The counsel of God.’ The counsel of God toward them was the solemn admonition by John to ‘repent’ and be baptized, and be prepared to receive the Messiah. This was the command or revealed will of God in relation to them. When it is said that they ‘rejected’ the counsel of God, it does not mean that they could frustrate his purposes, but merely that they violated his commands. Men cannot frustrate the ‘real’ purposes of God, but they can contemn his messages, they can violate his commands, and thus they can reject the counsel which he gives them, and treat with contempt the desire which he manifests for their welfare” (= ‘Rencana Allah’. Rencana Allah terhadap mereka adalah nasehat khidmat oleh Yohanes untuk bertobat dan dibaptis, dan dipersiapkan untuk menerima sang Mesias. Ini adalah perintah dan kehendak yang dinyatakan dari Allah berkenaan dengan mereka. Pada waktu dikatakan bahwa mereka ‘menolak’ rencana Allah, itu tidak berarti bahwa mereka bisa menggagalkan rencanaNya, tetapi semata-mata bahwa mereka melanggar perintah-perintahNya. Manusia tidak bisa menggagalkan rencana yang sungguh-sungguh dari Allah, tetapi mereka bisa meremehkan berita-beritaNya, mereka bisa melanggar perintah-perintahNya, dan dengan demikian mereka bisa menolak rencana yang Ia berikan kepada mereka, dan memperlakukan dengan jijik keinginan yang Ia nyatakan bagi kesejahteraan mereka).

 

William Hendriksen: Probable meaning in the light of the context: Jesus has shown that John was great indeed (verse 28). As God’s voice to the people he had pressed upon them these divine requirements: they must turn from their evil ways and bear good fruit. [= Arti yang memungkinkan dalam terang dari kontext: Yesus telah menunjukkan bahwa Yohanes memang orang besar (ay 28). Sebagai suara Allah kepada bangsa itu ia telah menekankan kepada mereka tuntutan-tuntutan ilahi ini: mereka harus berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat dan menghasilkan buah yang baik.].

 

b)      Mat 23:37 - “‘Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau..

 

Ayat ini sangat banyak digunakan oleh orang-orang Arminian / non Reformed untuk menekankan free will, dan juga untuk menentang doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini.

 

Adam Clarke (tentang Mat 23:37): “1. It is evident that our blessed Lord seriously and earnestly wished the salvation of the Jews. 2. That he did everything that could be done, consistently with his own perfections, and the liberty of his creatures, to effect this. 3. That his tears over the city, Luke 19:41, sufficiently evince his sincerity. 4. That these persons nevertheless perished. And 5. That the reason was, they would not be gathered together under his protection: therefore wrath, i.e. punishment, came upon them to the uttermost. From this it is evident that there have been persons whom Christ wished to save, and bled to save, who notwithstanding perished, because they would not come unto him, John 5:40” (= 1. Adalah jelas bahwa Tuhan kita yang terpuji secara serius dan sungguh-sungguh menginginkan keselamatan dari orang-orang Yahudi. 2. Bahwa Ia melakukan segala sesuatu yang bisa dilakukan, dengan / secara konsisten dengan kesempurnaanNya sendiri, dan kebebasan dari makhluk-makhlukNya, untuk menghasilkan hal ini. 3. Bahwa air mataNya atas / karena kota itu, Luk 19:41, secara cukup menunjukkan dengan jelas ketulusan / kesungguhanNya. 4. Bahwa meskipun demikian orang-orang ini binasa. Dan 5. Bahwa alasannya adalah, mereka tidak mau dikumpulkan bersama-sama di bawah perlindunganNya: karena itu murka, yaitu hukuman, datang kepada mereka sampai sepenuhnya. Dari ini adalah jelas bahwa disana ada orang-orang yang Kristus ingin untuk selamatkan, dan berkorban / mencurahkan darah untuk menyelamatkan, tetapi yang bagaimanapun juga binasa, karena mereka tidak mau datang kepadaNya, Yoh 5:40).

Luk 19:41 - “Dan ketika Yesus telah dekat dan melihat kota itu, Ia menangisinya,”.

Yoh 5:39-40 - “(39) Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehNya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, (40) namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu.”.

Kata ‘olehNya merupakan terjemahan yang salah.

KJV/RSV/NASB: ‘in them’ (= dalam mereka).

NIV: ‘by them’ (= oleh mereka).

Catatan: kepercayaan Arminian bahwa Tuhan sungguh-sungguh ingin menyelamatkan semua orang, dan melakukan apa yang bisa Ia lakukan untuk mencapai hal itu, tetapi toh akhirnya orang-orang itu binasa, menurut saya berbau penghujatan, karena menunjukkan ‘ketidak-mampuan’ Allah! Juga pandangan ini tak bisa menjawab pertanyaan ini: ‘Kalau memang pandangan itu benar, mengapa ada banyak orang yang sampai mati tidak pernah mendengar Injil?’.

 

Lenski: the very ones whom Jesus willed to gather refused to be gathered: rulers and people alike. ... John describes Jesus’ ministry in the capital at length, but all of Jesus’ ministry to the Jews is here included: ‘thy children,’ the nation. One of the inexplicable features of divine love is the fact that, in spite of the infallible foreknowledge that all will be in vain, its call and its effort to save never cease until the very end. Judas is another example. Such knowledge would either stop us at once or make our efforts a mere pretense. So far is God above us in this respect that our minds cannot follow his ways. (= orang-orang yang Yesus mau kumpulkan menolak untuk dikumpulkan: pemimpin-pemimpin dan orang-orang sama saja. ... Yohanes akhirnya menggambarkan pelayanan Yesus di ibu kota, tetapi semua pelayanan Yesus kepada orang-orang Yahudi dicakup di sini: ‘anak-anakmu’, bangsa itu. Salah satu dari hal menonjol yang tidak bisa dijelaskan tentang kasih ilahi adalah fakta bahwa, sekalipun ada pra-pengetahuan yang tidak bisa salah bahwa semua akan sia-sia, panggilan dan usaha dari kasih ilahi untuk menyelamatkan tak pernah berhenti sampai akhir. Yudas adalah contoh yang lain. Pengetahuan seperti itu atau akan menghentikan kita dengan segera atau membuat usaha-usaha kita semata-mata suatu kepura-puraan. Begitu jauh Allah itu ada di atas kita dalam hal ini sehingga pikiran kita tidak bisa mengikuti jalan-jalanNya.).

 

Komentar saya:

1.   Lagi-lagi, bagaimana kata-kata Lenski ini bisa sesuai dengan fakta bahwa ada banyak orang yang sampai mati tidak mendengar Injil?

2.   Sekalipun saya percaya bahwa ada hal-hal berkenaan dengan Allah dan rencanaNya yang tidak bisa dijelaskan, tetapi tentang hal yang sedang dibicarakan ini, saya tidak percaya bahwa itu termasuk dalam golongan yang tidak bisa dijelaskan. Lalu mengapa Lenski mengatakan ‘tidak bisa dijelaskan’? Karena dia mengikuti pandangan yang salah! Pandangan salah itu menyebabkan munculnya suatu kontradiksi, yang ia usahakan untuk tutup-tutupi dengan kata-kata ‘tidak bisa dijelaskan’. 

 

Lenski: The verb ἠθέλησα denotes the gracious, saving will of Jesus. It is the so-called antecedent will which takes into account only our lost condition from which it works to deliver us and not our reaction to this will. The will which deals with this reaction is always the subsequent will, and for the obdurate this will is judgment. Determinism and other confusions result when this distinction is ignored. The gracious antecedent will and its call to grace is equal for all. To make it serious and real only in the case of one class of men and only a pretense in the case of another class, is to attribute duplicity to God, against which all Scripture cries out, Rom. 11:32. ... Who dares to say that Jesus willed to save even the Sanhedrists less than he willed to save the Twelve; or Judas less than Peter? [= Kata kerja ἠθέλησα / ETHELESA (= ingin / rindu) menunjuk pada kehendak Yesus yang murah hati / bersifat kasih karunia dan menyelamatkan. Adalah apa yang disebut ‘kehendak yang mendahului’ yang mengingat hanya akan kondisi terhilang kita dari mana itu bekerja untuk membebaskan kita dan tidak mengingat akan reaksi kita terhadap kehendak ini. Kehendak yang menangani reaksi ini selalu adalah kehendak yang berikut / sesudahnya, dan bagi orang-orang yang keras kepala kehendak ini adalah penghakiman. Determinisme dan kebingungan-kebingungan yang lain dihasilkan pada waktu pembedaan ini diabaikan. Kehendak yang mendahului yang murah hati dan panggilannya kepada kasih karunia adalah sama / setara bagi semua orang. Membuatnya serius dan sungguh-sungguh hanya dalam kasus dari satu golongan manusia, dan hanya merupakan suatu kepura-puraan dalam kasus dari golongan yang lain, sama dengan menghubungkan sikap bermuka dua kepada Allah, terhadap / menentang hal mana seluruh Kitab Suci berteriak, Ro 11:32. ... Siapa berani mengatakan bahwa Yesus ingin menyelamatkan bahkan para Sanhedrin kurang dari Ia ingin menyelamatkan 12 Rasul; atau Yudas kurang dari Petrus?].

Ro 11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua.”.

Catatan: Determinisme secara kasar bisa disamakan dengan doktrin Predestinasi.

 

Tanggapan saya:

 

1.   Lenski menganggap ada dua kehendak, ‘kehendak yang mendahului’ yang ingin menyelamatkan, dan ‘kehendak yang berikutnya / sesudahnya’ yang merupakan penghakiman terhadap orang-orang yang keras kepala. Ini menunjukkan adanya perubahan rencana dalam diri Allah, dan ini bertentangan dengan banyak ayat di bawah ini:

2Raja 19:25 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu.”.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal’.”.

Maz 33:10-11 - “(10) TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa; (11) tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hatiNya turun-temurun.”.

Yes 14:24,26-27 - “(14) TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: ... (26) Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa. (27) TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 25:1 - “Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi namaMu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancanganMu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.”.

Yes 37:26 - “Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari dan telah merancangnya dari zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu,”.

Yes 46:10 - “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan,”.

Yer 4:28 - “Karena hal ini bumi akan berkabung, dan langit di atas akan menjadi gelap, sebab Aku telah mengatakannya, Aku telah merancangnya, Aku tidak akan menyesalinya dan tidak akan mundur dari pada itu.’”.

 

2. Tentang kata-kata Lenski bahwa panggilan Allah setara bagi semua orang, lagi-lagi saya tekankan, bagaimana mungkin ini sesuai dengan fakta bahwa ada banyak orang mati tanpa pernah mendengar Injil?

 

3.   Lenski menggunakan Ro 11:32 tanpa memperhatikan kontext dari ayat itu, yang menunjukkan bahwa Allah sengaja mengeraskan hati orang-orang Yahudi, sehingga mereka menolak Kristus, dan lalu Allah bisa mengalihkan Injil kepada orang-orang non Yahudi.

Ro 11:7-8,11,15,25,30 - “(7) Jadi bagaimana? Israel tidak memperoleh apa yang dikejarnya, tetapi orang-orang yang terpilih telah memperolehnya. Dan orang-orang yang lain telah tegar hatinya, (8) seperti ada tertulis: ‘Allah membuat mereka tidur nyenyak, memberikan mata untuk tidak melihat dan telinga untuk tidak mendengar, sampai kepada hari sekarang ini.’ ... (11) Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu. ... (15) Sebab jika penolakan mereka berarti perdamaian bagi dunia, dapatkah penerimaan mereka mempunyai arti lain dari pada hidup dari antara orang mati? ... (25) Sebab, saudara-saudara, supaya kamu jangan menganggap dirimu pandai, aku mau agar kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. ... (30) Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh kemurahan oleh ketidaktaatan mereka,”.

 

Jadi, apa arti dari Ro 11:32?

Ro 11:32 - “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua.”.

Kata-kata ‘mereka semua’, dilihat dari kontextnya, tidak mungkin menunjuk kepada semua orang tanpa kecuali, tetapi menunjuk kepada ‘semua orang-orang pilihan’!

 

4.   Tentang kalimat terakhir, saya tanggapi dengan mengatakan bahwa saya bukan hanya berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A lebih dari si B, tetapi saya bahkan berani mengatakan bahwa Allah ingin menyelamatkan si A dan sama sekali tidak ingin menyelamatkan si B.

 

Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya (Dia yang memanggil) - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’”.

Bagaimana text seperti ini bisa diartikan bahwa Allah ingin menyelamatkan Esau sama seperti Ia ingin menyelamatkan Yakub? Yang benar adalah: Ia merencanakan untuk menyelamatkan Yakub, tetapi tidak Esau!

 

Bandingkan dengan Yoh 17:9,20 yang menunjukkan bahwa Yesus hanya berdoa untuk orang-orang yang sudah percaya dan orang-orang yang akan percaya. Jadi Ia berdoa untuk orang-orang pilihan, BUKAN UNTUK DUNIA!

Yoh 17:9,20 - “(9) Aku berdoa untuk mereka. Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka, yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu ... (20) Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka;”.

 

Lenski: So this nation belonged to Jesus, and as his very own he willed to gather it together. ... Nothing is more tragic than the outcome of this gracious will of Jesus: ‘and you did not will.’ As so often, the adversative idea is added with a telling copulative καί. ... The sentence ought to close: ‘and you willed’; but now it closed: ‘and you willed NOT!’ Only this, nothing more, is said. No qualification, no modifiers, no explanations, no additions. The one fatal thing is: ‘you did not will.’ Despite its brevity this expression includes many facts. Grace is not irresistible; every case of resistance proves this, notably this glaring case of the Jews. Damnation results from man’s own will which becomes permanent, obdurate, unaccountable resistance against God’s will of grace. The more God draws the will with the power of grace, the more this will rejects God until grace can do no more. (= Maka bangsa ini adalah milik Yesus, dan sebagai milikNya, Ia ingin mengumpulkannya bersama-sama. ... Tak ada yang lebih tragis dari pada hasil dari kehendak yang murah hati dari Yesus: ‘Dan kamu tidak mau’. Seperti begitu sering, gagasan yang berlawanan ditambahkan dengan kata penghubung yang berpengaruh, KAI. ... Kalimat itu seharusnya ditutup dengan ‘dan kamu mau’; tetapi sekarang itu ditutup dengan ‘dan kamu tidak mau!’ Hanya ini, tak ada lain, yang dikatakan. Tak ada kwalifikasi / syarat / pembatasan, tak ada pemodifikasi, tak ada penjelasan, tak ada tambahan. Satu hal yang fatal adalah: ‘kamu tidak mau’. Sekalipun singkat, ungkapan ini mencakup banyak fakta. Kasih karunia bukannya tidak bisa ditolak; setiap kasus dari penolakan membuktikan ini, khususnya kasus yang menyolok dari orang-orang Yahudi ini. Penghukuman muncul dari kehendak manusia sendiri yang menjadi penolakan yang permanen, keras kepala, tak bisa dipertanggung-jawabkan terhadap / menentang kehendak dari kasih karunia Allah. Makin Allah menarik kehendak itu dengan kuasa dari kasih karunia, makin kehendak ini menolak Allah sampai kasih karunia tidak bisa melakukan apa-apa lagi.).

 

Tanggapan saya:

1.   Lenski terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa ayat ini membicarakan kehendak / rencana Allah. Pertama-tama, perlu diperhatikan bahwa Yesus mempunyai 2 kehendak, ilahi dan manusiawi. Ini bisa saja hanya menunjuk pada kehendak manusiawiNya. Kedua, penggunaan kata ‘kehendak’ untuk Allah, bisa mempunyai 3 arti, yaitu:

a. Rencana Allah. Ini tak bisa gagal.

b. Keinginan / kesenangan Allah. Ini bisa gagal.

c. Perintah / larangan Allah. Ini bisa gagal / dilanggar oleh manusia.

2.   Kata-kata bagian akhir dari kutipan dari Lenski di atas, betul-betul konyol, karena menunjukkan bahwa Allahnya frustrasi, karena Ia mau memberikan kasih karunia, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi menghadapi kekuatan dari free will manusia yang menolaknya.

 

Lenski: Why do some wills resist thus? This asks for a reasonable explanation for an unreasonable act - no such explanation exists. To say that this is due to inborn sin is not an explanation, for men who have the same inborn sin are won, and their wills assent under grace. Moreover, this obdurate resistance is produced only when grace operates with its power. The spring is poisonous and throws out a poisonous stream. The gratia sufficiens is applied to spring and stream with power sufficiens to unpoison both. Behold, now the spring and the stream are a hundred times more poisonous than before. Explain that! All we know is that the mystery of this resistance lies in the will itself and in no way in God. How could Satan fall? How could Adam sin? How can man resist grace and salvation? How can a believer whose will is changed turn to unbelief and be damned? It is all one and the same question. (= Mengapa beberapa kehendak menolak seperti itu? Ini menanyakan / meminta untuk suatu penjelasan yang masuk akal untuk suatu tindakan yang masuk akal - penjelasan seperti itu tidak ada. Mengatakan bahwa ini disebabkan oleh dosa bawaan (sejak lahir) bukanlah suatu penjelasan, karena orang-orang yang mempunyai dosa bawaan (sejak lahir) yang sama dimenangkan, dan kehendak mereka menyetujui di bawah kasih karunia. Selanjutnya, penolakan yang keras kepala ini dihasilkan hanya pada waktu kasih karunia bekerja dengan kuasanya. Sumbernya beracun dan mengeluarkan suatu aliran yang beracun. Kasih karunia yang cukup diterapkan kepada sumber dan aliran dengan kuasa yang cukup untuk membuang racun keduanya. Lihatlah, sekarang sumber dan alirannya adalah 100 x lebih beracun dari pada sebelumnya. Jelaskan itu! Semua yang kami ketahui adalah bahwa misteri dari penolakan ini terletak dalam kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di dalam Allah. Bagaimana Iblis bisa jatuh? Bagaimana Adam bisa berdosa? Bagaimana manusia bisa menolak kasih karunia dan keselamatan? Bagaimana seorang percaya yang kehendaknya diubah bisa berbalik pada ketidakpercayaan dan binasa? Ini semua merupakan pertanyaan yang satu dan yang sama.).

 

Tanggapan saya:

Semua pertanyaan yang oleh Lenski dianggap tak bisa dijawab ini bisa dijawab seandainya ia memeluk Calvinisme. Mari kita membahas pertanyaan-pertanyaan yang dianggap sebagai misteri oleh Lenski ini dari sudut Calvinisme.

1.   Mengapa sebagian orang menolak? Calvinisme menjawab: karena mereka tak diberi kasih karunia. Mengapa mereka tidak diberi kasih karunia? Karena mereka bukan orang-orang pilihan Allah.

2.   Sekarang kita perhatikan kata-kata Lenski yang ini Semua yang kami ketahui adalah bahwa misteri dari penolakan ini terletak dalam kehendak itu sendiri dan sama sekali bukan di dalam Allah.’.

Arminianisme mempercayai bahwa semua manusia sejak lahir telah diberi kasih karunia yang mendahului (prevenient grace), sehingga semua ada pada level yang sama, bisa berbuat baik dan bisa percaya kepada Kristus. Kalau penolakan mereka bukan karena sesuatu yang ada di dalam diri Allah (predestinasi), maka itu pasti karena kehendak mereka sendiri, dimana ada yang mau dan ada yang tidak mau. Lalu mengapa ada yang percaya dan ada yang tidak? Pasti karena yang satu lebih baik dari yang lain. Tetapi Lenski jelas tak mau menerima ini, sehingga ia menganggap ini sebagai suatu misteri, padahal ini sebetulnya bukan misteri.

Calvinisme mengajarkan bahwa penolakan mereka ini memang karena sesuatu dalam diri Allah (predestinasi)!

3.   Bagaimana Iblis dan Adam bisa jatuh? Calvinisme menjawab: karena itu adalah rencana Allah, sehingga pada waktuNya, Ia menarik kasih karuniaNya dari mereka, dan secara tak terhindarkan, merekapun jatuh.

4.   Bagaimana manusia bisa menolak kasih karunia dan keselamatan? Calvinisme menganggap ini sebagai suatu omong kosong. Kalau Allah memang memberi kasih karunia dan bermaksud untuk menyelamatkan, maka orang itu tidak akan menolaknya.

5.   Bagaimana orang percaya bisa berbalik / murtad dan akhirnya binasa? Calvinisme lagi-lagi menganggap ini sebagai omong kosong, karena orang percaya yang sejati tidak mungkin murtad (1Yoh 2:19).

 

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org