Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 4 Desember 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(19)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

k)      Yes 53:1 - Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?.

KJV: ‘Who hath believed our report? and to whom is the arm of the LORD revealed?’ (= Siapa yang telah mempercayai pemberitaan kami? dan kepada siapa lengan TUHAN dinyatakan?).

 

Sebetulnya dilihat sepintas lalu sudah kelihatan dengan jelas arti dari ayat ini. Yang percaya pada pemberitaan (Injil) oleh Yesaya adalah orang kepada siapa tangan / lengan (= kekuasaan) Tuhan dinyatakan.

 

Yes 53:1 itu dikutip dalam 2 ayat Perjanjian Baru.

 

Ro 10:16-17 - “(16) Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”.

 

Yoh 12:37-38 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’”.

 

Sekarang kita memperhatikan penafsir-penafsir Arminian tentang ayat-ayat ini.

 

Tentang Yes 53:1b, Adam Clarke sama sekali tidak memberi komentar apapun. dan tentang Yoh 12:38b, Adam Clarke hanya memberi komentar: “‘The arm of the Lord.’ The power, strength, and miracles of Christ. (= ‘Lengan Tuhan’. Kuasa, kekuatan, dan mujijat-mujijat Kristus.).

 

Tetapi tentang Ro 10:17, Adam Clarke memberikan komentar.

Adam Clarke (tentang Ro 10:17): “‘So then faith cometh by hearing.’ Preaching the Gospel is the ordinary means of salvation; faith in Christ is the result of hearing the word, the doctrine of God preached. Preaching, God sends; if heard attentively, faith will be produced; and if they believe the report, the arm of the Lord will be revealed in their salvation.” (= ‘Jadi iman datang oleh pendengaran’. Pemberitaan Injil adalah cara / jalan yang biasa dari keselamatan; iman kepada Kristus adalah hasil dari mendengar firman, doktrin / ajaran Allah yang diberitakan. Pemberitaan, Allah mengirimkan; jika didengarkan dengan penuh perhatian, iman akan dihasilkan; dan jika mereka percaya pemberitaannya, lengan Tuhan akan dinyatakan dalam keselamatan mereka.).

 

Tanggapan saya: Adam Clarke jelas memutar-balikkan dalam menafsir. Lengan Tuhan yang seharusnya adalah penyebab orang menjadi percaya, oleh dia dianggap sebagai hasil dari orang yang mau percaya Injil.

 

Tentang Ro 10:16-17 Lenski juga tak membicarakan apapun yang berhubungan dengan doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

 

Tetapi tentang Yoh 12:38, Lenski memberikan komentar.

 

Lenski (tentang Yoh 12:38): Parallel with ‘our report,’ or the prophetic message from the Lord, is ‘the arm of the Lord,’ his almighty power, evidenced most completely in the signs (v. 37) wrought by Jesus. The Jews saw these signs but with their unbelieving eyes refused to see that Jehovah’s arm was revealed in them, that they were divine works and nothing less. Neither the divine testimony of the prophets including Jesus himself, nor the divine testimony of the signs wrought faith in the hearts of the Jews. [= Paralel dengan ‘pemberitaan kami’, atau berita nubuatan dari Tuhan, adalah ‘lengan Tuhan’, kuasaNya yang maha kuasa, dibuktikan secara paling lengkap dalam tanda-tanda (ay 37) yang dilakukan oleh Yesus. Orang-orang Yahudi melihat tanda-tanda ini tetapi dengan mata mereka yang tidak percaya menolak untuk melihat bahwa lengan Yehovah dinyatakan dalam tanda-tanda itu, bahwa tanda-tanda itu adalah pekerjaan-pekerjaan ilahi dan tidak kurang dari itu. Baik kesaksian ilahi dari nabi-nabi mencakup Yesus sendiri, maupun kesaksian ilahi dari tanda-tanda tidak mengerjakan iman dalam hati dari orang-orang Yahudi.].

 

Jadi Lenski tidak menghubungkan ayat ini dengan Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). ‘Lengan Tuhan’ yang seharusnya menunjukkan kuasa Tuhan yang menyebabkan orang-orang itu percaya, oleh Lenski ditafsirkan menunjuk pada tanda-tanda / mujijat-mujijat yang Yesus lakukan. Perlu diingat bahwa dalam Yoh 12:38 ini memang bisa saja ditafsirkan demikian (sekalipun ini tetap merupakan penafsiran yang dipaksakan), tetapi bagaimana dengan Yes 53:1 dari mana Yoh 12:38 itu dikutip? Dalam kontext Yesaya itu tidak ada mujijat apapun! Lalu bagaimana lengan Tuhan itu bisa menunjuk kepada tanda-tanda / mujijat-mujijat? Ini jelas merupakan suatu penafsiran yang sangat tidak masuk akal.

 

Sekarang mari kita perhatikan tafsiran dari Calvin dan orang-orang Reformed tentang ayat-ayat di atas.

 

Ro 10:16-17 - “(16) Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”.

 

Calvin (tentang Ro 10:16): “He however does afterwards point out the reason, by saying, ‘To whom has the arm of the Lord been revealed?’ by which he intimates that there is no benefit from the word, except when God shines in us by the light of his Spirit; and thus the inward calling, which alone is efficacious and peculiar to the elect, is distinguished from the outward voice of men. It is hence evident, how foolishly some maintain, that all are indiscriminately the elect, because the doctrine of salvation is universal, and because God invites all indiscriminately to himself. But the generality of the promises does not alone and by itself make salvation common to all: on the contrary, the peculiar revelation, mentioned by the Prophet, confines it to the elect.” (= Tetapi belakangan ia menunjukkan alasannya, dengan mengatakan, ‘Kepada siapa lengan Tuhan telah dinyatakan?’ dengan mana ia mengisyaratkan bahwa di sana tidak ada manfaat dari firman, kecuali pada waktu Allah bersinar di dalam kita dengan terang dari RohNya; dan demikianlah panggilan dalam, yang hanya mujarab / efektif dan khusus bagi orang-orang pilihan, dibedakan dari suara luar / lahiriah dari manusia. Maka jelaslah, betapa dengan bodoh sebagian orang mempertahankan / berpendapat bahwa semua orang tanpa pembedaan adalah orang-orang pilihan, karena doktrin keselamatan bersifat universal, dan karena Allah mengundang semua orang tanpa pembedaan kepada diriNya sendiri. Tetapi sifat umum dari janji itu sendiri dalam dirinya sendiri tidak membuat keselamatan umum bagi semua orang: sebaliknya, wahyu khusus / khas, yang disebutkan oleh sang nabi, membatasinya pada orang-orang pilihan.).

 

Calvin (tentang Ro 10:17): “And this is a remarkable passage with regard to the efficacy of preaching; for he testifies, that by it faith is produced. He had indeed before declared, that of itself it is of no avail; but that when it pleases the Lord to work, it becomes the instrument of his power. And indeed the voice of man can by no means penetrate into the soul; and mortal man would be too much exalted, were he said to have the power to regenerate us; the light also of faith is something sublimer than what can be conveyed by man: but all these things are no hindrances, that God should not work effectually through the voice of man, so as to create faith in us through his ministry.” (= Dan ini merupakan suatu text yang luar biasa berkenaan dengan kemujaraban / keefektifan dari pemberitaan / khotbah; dan ia menyaksikan, bahwa olehnya iman dihasilkan. Sebelumnya ia memang telah menyatakan, bahwa dari dirinya sendiri itu tak ada gunanya; tetapi bahwa pada waktu itu memperkenan Tuhan untuk bekerja, itu menjadi alat dari kuasaNya. Dan memang suara manusia sama sekali tidak bisa menembus ke dalam jiwa; dan manusia yang fana akan terlalu ditinggikan, seandainya ia dikatakan mempunyai kuasa untuk melahirbarukan kita; terang dari iman juga adalah sesuatu yang lebih agung dari pada apa yang bisa diberikan oleh manusia: tetapi semua hal-hal ini bukanlah halangan-halangan, sehingga Allah tidak bisa bekerja secara efektif melalui suara manusia, sehingga menciptakan iman dalam diri kita melalui pelayanannya.).

 

Yoh 12:37-38 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’”.

 

Leon Morris (tentang Yoh 12:38): Unbelief is now seen to be foreshadowed in prophecy. John has already made it clear that it is only as God draws us that we can believe. Now we have the further thought that what is written in prophecy must be fulfilled. The prophecy cited (Isa. 53:1) speaks both of failure to believe and of a revelation of ‘the arm of the Lord.’ In other words, faith and the divine activity are connected. And even unbelief has some place in the purpose of God. [= Sekarang ketidak-percayaan dilihat sebagai dibayangkan lebih dulu dalam nubuat. Yohanes telah membuatnya jelas bahwa hanyalah pada waktu Allah menarik kita maka kita bisa percaya. Sekarang kita mempunyai pemikiran lebih jauh bahwa apa yang ditulis dalam nubuat harus digenapi. Nubuat yang dikutip (Yes 53:1) berbicara tentang kegagalan untuk percaya dan tentang suatu pernyataan dari ‘lengan Tuhan’. Dengan kata lain, iman dan aktivitas ilahi berhubungan. Dan bahkan ketidakpercayaan mempunyai suatu tempat dalam rencana Allah.] - Libronix.

 

Calvin (tentang Yoh 12:38): “‘To whom hath the arm of the Lord been revealed?’ In this second clause he assigns the reason why they are few; and that reason is, that men do not attain it by their own strength, and God does not illuminate all without distinction, but bestows the grace of his Holy Spirit on very few. And if among the Jews the obstinate unbelief of many ought not to have been an obstacle to believers, though they were few in number, the same argument ought to persuade us, at the present day, not to be ashamed of the Gospel, though it has few disciples. But we ought first to observe the reason which is added, that what makes men believers is not their own sagacity, but the revelation of God. The word ‘arm,’ it is well known, denotes ‘power.’ The prophet declares that the arm of God, which is contained in the doctrine of the Gospel, lies hid until it is revealed, and at the same time testifies that all are not indiscriminately partakers of this revelation. Hence it follows, that many are left in their blindness destitute of inward light, because hearing they do not hear, (Matthew 13:13.)” [= ‘Bagi siapa lengan Tuhan telah dinyatakan?’ Dalam anak kalimat yang kedua ini ia memberikan alasan mengapa mereka sedikit; dan alasannya adalah, bahwa manusia tidak mencapainya oleh kekuatan mereka sendiri, dan Allah tidak menerangi semua orang tanpa pembedaan, tetapi memberikan kasih karunia dari Roh KudusNya pada sangat sedikit orang. Dan jika di antara orang-orang Yahudi ketidakpercayaan yang keras kepala dari banyak orang tidak boleh menjadi halangan bagi orang-orang percaya, sekalipun mereka sedikit jumlahnya, argumentasi yang sama harus meyakinkan kita, pada jaman sekarang, untuk tidak malu tentang Injil, sekalipun itu mempunyai sedikit murid-murid. Tetapi pertama-tama kita harus memperhatikan alasan yang ditambahkan, bahwa apa yang membuat manusia menjadi orang-orang percaya bukanlah kecerdasan mereka sendiri, tetapi wahyu dari Allah. Kata ‘lengan’, diketahui dengan baik, menunjukkan ‘kuasa’. Sang nabi menyatakan bahwa lengan Allah, yang terkandung dalam doktrin dari Injil, tetap tersembunyi sampai itu dinyatakan, dan pada saat yang sama menyaksikan bahwa tidak semua secara tanpa pembedaan adalah pengambil-pengambil bagian dari wahyu ini. Maka akibatnya, banyak orang ditinggalkan dalam kebutaan mereka tanpa mempunyai terang di dalam / batin, karena sekalipun mendengar mereka tidak mendengar, (Mat 13:13).].

 

Yes 53:1 - “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan?.

Tentang Yes 53:1a, Calvin mengatakan bahwa Yesaya menyatakan keluhannya / kesedihannya karena hanya sedikit orang-orang yang percaya oleh pemberitaan injil. Dan tentang Yes 53:1b, Calvin menafsirkan sebagai berikut:

 

Calvin (tentang Yes 53:1b): “‘To whom (literally, on whom) is the arm of Jehovah revealed?’ In this second clause he points out the reason why the number of believers will be so small. It is, because no man can come to God but by an extraordinary revelation of the Spirit. ... It assigns the cause why there are so few that believe; and that is, that they cannot attain it by the sagacity of their own understanding. ... Isaiah does not include merely the men of his own time, but all posterity to the end of the world; for, so long as the reign of Christ shall endure, this must be fulfilled; and therefore believers ought to be fortified by this passage against such a scandal. These words refute the ignorance of those who think that faith is in the power of every person, because preaching is common to all. Though it is sufficiently evident that all are called to salvation, yet the Prophet expressly states that the external voice is of no avail, if it be not accompanied by a special gift of the Spirit. And whence proceeds the difference, but from the secret election of God, the cause of which is hidden in himself?” [= ‘Bagi siapa (secara hurufiah, ‘pada siapa’) lengan Yehovah dinyatakan?’ Dalam anak kalimat yang kedua ini, ia menunjukkan alasan mengapa jumlah dari orang-orang percaya akan begitu sedikit. Itu adalah, karena tak seorangpun dapat datang kepada Allah kecuali oleh suatu pernyataan yang luar biasa dari Roh. ... Itu memberikan penyebab mengapa disana hanya ada begitu sedikit yang percaya; dan itu adalah bahwa mereka tidak dapat mencapainya oleh kecerdasan dari pengertian mereka sendiri. ... Yesaya tidak mencakup semata-mata orang-orang dari jamannya, tetapi semua keturunan sampai akhir jaman; karena selama pemerintahan Kristus bertahan, ini harus digenapi; dan karena itu orang-orang percaya harus dibentengi oleh text ini terhadap skandal seperti itu. Kata-kata ini membantah ketidaktahuan / kebodohan dari mereka yang berpikir bahwa iman ada dalam kuasa dari setiap orang, karena pemberitaan itu bersifat umum bagi semua orang. Sekalipun adalah cukup jelas bahwa semua orang dipanggil pada keselamatan, tetapi sang Nabi menyatakan secara explicit bahwa suara luar itu tak ada gunanya, jika itu tidak disertai oleh suatu karunia khusus dari Roh. Dan dari mana muncul perbedaan itu, kecuali dari pemilihan rahasia dari Allah, penyebab mana tersembunyi dalam diriNya sendiri?].

 

E. J. Young (tentang Yes 53:1): The ‘arm of the Lord’ is used by metonymy for the Lord’s strength. The revelation of the Lord’s strength and believing what we have proclaimed are two aspects of the same thing. The revelation of God’s arm upon a person is one of power (cf. Jer. 17:5), and hence to believe the report proclaimed is evidence that the Lord’s power has been manifested. It is the arm of the Lord that brought the nation out of Egypt (cf. 51:9–10; 63:12), and this arm of power enables a man to believe. The passage clearly teaches that faith is a gift of God and not a work of man’s unaided power. It also teaches that unless God manifests His power, men will not be converted. We must ever depend upon God to work that His kingdom may be extended. [= ‘Lengan Tuhan’ digunakan sebagai kata yang lain untuk ‘kekuatan Tuhan’. ‘Wahyu dari kekuatan Tuhan’ dan ‘percaya pada apa yang telah kami beritakan’ adalah dua aspek dari hal yang sama. Wahyu dari lengan Allah pada seseorang adalah wahyu dari kuasa (bdk. Yer 17:5), dan karena itu mempercayai berita yang diberitakan adalah bukti bahwa kuasa Tuhan telah dinyatakan. Adalah lengan Tuhan yang membawa bangsa itu keluar dari Mesir (bdk. 51:9-10; 63:12), dan lengan dari kuasa ini memampukan seseorang untuk percaya. Text ini secara jelas mengajar bahwa iman adalah suatu karunia / pemberian dari Allah dan bukan suatu pekerjaan dari kuasa manusia tanpa pertolongan. Itu juga mengajar bahwa kecuali Allah menyatakan kuasaNya, manusia tidak akan dipertobatkan. Kita harus selalu bergantung kepada Allah untuk bekerja sehingga KerajaanNya bisa diperluas.].

Yer 17:5 - “Beginilah firman TUHAN: ‘Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!”.

KJV: ‘Thus saith the LORD; Cursed be the man that trusteth in man, and maketh flesh his arm, and whose heart departeth from the LORD.’ (= Demikianlah firman TUHAN; Terkutuklah orang yang percaya kepada manusia, dan membuat daging sebagai lengannya / kekuatannya, dan yang hatinya meninggalkan TUHAN).

Yes 51:9-10 - “(9) Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatan, hai tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala, pada zaman keturunan yang dahulu kala! Bukankah Engkau yang meremukkan Rahab, yang menikam naga sampai mati? (10) Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, air samudera raya yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”.

Yes 63:12 - “yang dengan tanganNya yang agung menyertai Musa di sebelah kanan; yang membelah air di depan mereka untuk membuat nama abadi bagiNya;”.

 

3)  Hal-hal lain yang mendasari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini:

 

a)      Kalau kasih karunia Allah itu bisa ditolak, tak ada gunanya kita berdoa kepada Allah supaya Ia mempertobatkan orang-orang yang belum percaya.

 

Loraine Boettner: “If God does not effectually call, we may imagine Him saying, ‘I will that all men should be saved; nevertheless, it must finally be, not as I will but as they will.’ He is then put into the same extremity with Darius who would gladly have saved Daniel, but could not (Dan. 6:14). ... Furthermore, if God actually stood powerless before the majesty of man’s lordly will, there would be but little use to pray for Him to convert any one. It would then be more reasonable for us to direct our petitions to the man himself” [= Jika Allah tidak memanggil secara efektif, kita bisa membayangkan Dia berkata: ‘Aku mau supaya semua manusia diselamatkan; tetapi, akhirnya adalah bukan seperti yang Kukehendaki, tetapi seperti yang mereka kehendaki. Maka Ia dimasukkan ke dalam keadaan kebutuhan yang sangat yang sama seperti Darius, yang dengan senang hati ingin menyelamatkan Daniel tetapi tidak bisa (Dan 6:15). ... Lebih jauh lagi, jika Allah sungguh-sungguh berdiri tanpa daya di depan keagungan dari kehendak manusia yang mulia, di sana tidak ada gunanya untuk berdoa supaya Ia mempertobatkan siapapun. Akan lebih masuk akal bagi kita untuk mengarahkan permohonan kita kepada manusia itu sendiri] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 171.

Dan 6:15 - “Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.”.

 

b)      Doktrin Arminianisme merupakan penyelamatan oleh diri sendiri!

Loraine Boettner: The universalistic note is always prominent in the Arminian system. A typical example of this is seen in the assertion of Prof. Henry C. Sheldon, who for a number of years was connected with Boston University. Says he: - ‘Our contention is for the universality of the opportunity of salvation, as against an exclusive and unconditional choice of individuals to eternal life.’ Here we notice not only (1) the characteristic Arminian stress on universalism, but also (2) the recognition that, in the final analysis, all that God does for the salvation of men does not actually save anybody, but that it only opens up a way of salvation so that men can save themselves, ... Perhaps the strongest assertion of the Arminian construction is to be found in the creed of the Evangelical Union body, or so-called Morisonians, the very purpose of which was to protest against unconditional election. A summary of its ‘Three Universalities’ is found in the creed thus: ‘The love of God the Father, in the gift and sacrifice of Jesus to all men everywhere without distinction, exception, or respect of persons; the love of God the Son, in the gift and sacrifice of Himself as a true propitiation for the sins of the whole world; the love of God the Holy Spirit, in His personal and continuous work of applying to the souls of all men the provisions of divine grace.’ Certainly, if God loves all men alike, and if Christ died for all men alike, and the Holy Spirit applies the benefits of that redemption to all men alike, one of two conclusions follows. (1) All men alike are saved (which is contradicted by Scripture), or, (2) all that God does for man does not save him, but leaves him to save himself! What then becomes of our evangelicalism, which means that it is God alone who saves sinners? If we assert that after God has done all His work it is still left for man to ‘accept’ or ‘not resist,’ we give man veto power over the work of Almighty God and salvation rests ultimately in the hand of man. In this system no matter how great a proportion of the work of salvation God may do, man is ultimately the deciding factor. And the man who does come to salvation has some personal merit of his own; he has some grounds to boast over those who are lost. He can point the finger of scorn and say, ‘You had as good chance as I had. I accepted and you rejected the offer. Therefore you deserve to suffer.’ How different is this from Paul’s declaration that it is ‘not of works, that no man should glory,’ and ‘He that glorieth, let him glory in the Lord,’ Eph. 2:9; 1 Cor. 1:31. The tendency in all these universalistic systems in which man proudly seizes the helm and proclaims himself the master of his destiny is to reduce Christianity to a religion of works. ... ‘The issue,’ says Dr. Warfield, ‘is indeed a fundamental one and it is clearly drawn. Is it God the Lord who saves us, or is it we ourselves? And does God the Lord save us, or does He merely open up the way of salvation, and leave it, according to our choice, to walk in it or not? The parting of the ways is the old parting of the ways between Christianity and autosoterism. Certainly only he can claim to be evangelical who with full consciousness rests entirely and directly on God and on God alone for his salvation.’ [= Nada universal selalu menonjol dalam sistim Arminian. Suatu contoh yang khas tentang ini terlihat dalam penegasan dari Prof. Henry C. Sheldon, yang untuk bertahun-tahun berhubungan dengan Universitas Boston. Katanya: - ‘Pendirian kami adalah untuk keuniversalan dari kesempatan keselamatan, bertentangan dengan suatu pemilihan yang eksklusif dan tak bersyarat dari individu-individu kepada hidup yang kekal’. Di sini kami memperhatikan bukan hanya (1) ciri yang ditekankan Arminian pada keuniversalan, tetapi juga (2) pengenalan / pengakuan bahwa dalam analisa terakhir, semua yang Allah lakukan untuk keselamatan manusia tidak sungguh-sungguh menyelamatkan siapapun, tetapi bahwa itu hanya membuka suatu jalan keselamatan sehingga manusia bisa menyelamatkan diri mereka sendiri, ... Mungkin penegasan yang terkuat dari konstruksi Arminian didapatkan dalam credo dari tubuh Persatuan Injili, atau yang disebut Morisonians, yang tujuannya adalah memprotes terhadap pemilihan yang tak bersyarat. Suatu ringkasan dari ‘Tiga Keuniversalan’nya didapati dalam credo itu sebagai berikut: ‘Kasih Allah Bapa, dalam karunia dan korban Yesus bagi semua manusia dimana-mana tanpa pembedaan, perkecualian, atau sikap memandang muka; kasih dari Allah Anak, dalam karunia dan korban dari diriNya sendiri sebagai pendamaian yang sejati / benar untuk dosa-dosa dari seluruh dunia; kasih dari Allah Roh Kudus, dalam pekerjaan pribadi dan terus menerus dariNya dalam menerapkan persediaan dari kasih karunia ilahi kepada jiwa-jiwa dari semua manusia. Pasti, jika Allah mengasihi semua manusia secara sama, dan jika Kristus mati untuk semua manusia secara sama, dan Roh Kudus menerapkan manfaat dari penebusan itu kepada semua manusia secara sama, satu dari dua kesimpulan ini mengikuti. (1) Semua manusia diselamatkan secara sama (yang ditentang oleh Kitab Suci), atau, (2) semua yang Allah lakukan untuk manusia tidak menyelamatkan dia, tetapi meninggalkan / membiarkan dia untuk menyelamatkan dirinya sendiri! Lalu apa jadinya dengan doktrin gereja kita yang injili, yang berarti bahwa adalah Allah saja yang menyelamatkan orang-orang berdosa? Jika kami / kita menegaskan bahwa setelah Allah telah melakukan semua pekerjaanNya, maka tetap tertinggal bagi manusia untuk ‘menerima’ atau ‘tidak menolak’, kami / kita memberi manusia kuasa memveto atas pekerjaan dari Allah Yang Mahakuasa dan keselamatan pada akhirnya terletak dalam tangan manusia. Dalam sistim ini tak peduli betapa besar bagian dari pekerjaan keselamatan yang Allah bisa lakukan, manusia pada akhirnya adalah faktor penentu. Dan manusia yang memang datang pada keselamatan mempunyai jasa pribadi tertentu dari dirinya sendiri; ia mempunyai dasar tertentu untuk bermegah / bangga atas mereka yang terhilang. Ia bisa menunjuk dengan jari pencemooh dan berkata, ‘Kamu mempunyai kesempatan yang baik sama seperti yang aku punyai. Aku menerima dan kamu menolak tawaran itu. Karena itu kamu layak untuk menderita’. Alangkah berbedanya ini dari pernyataan Paulus bahwa itu ‘bukanlah dari pekerjaan / perbuatan baik, supaya tak seorangpun bermegah’, dan ‘ia yang bermegah, hendaklah ia bermegah dalam Tuhan’, Ef 2:9; 1Kor 1:31. Kecenderungan dalam semua sistim-sistim universal ini dalam mana manusia dengan bangga memegang kemudi dan memproklamirkan dirinya sendiri sebagai tuan dari nasibnya berarti menurunkan kekristenan pada suatu agama dari perbuatan baik. ... ‘Persoalannya’, Kata Dr. Warfield, ‘memang merupakan suatu persoalan dasari dan itu digambarkan dengan jelas. Apakah Allah, sang Tuhan, yang menyelamatkan kita, atau apakah kita yang menyelamatkan diri kita sendiri? Dan apakah Allah, sang Tuhan, menyelamatkan kita, atau apakah Ia semata-mata membuka jalan keselamatan, dan meninggalkannya / membiarkannya, menurut pemilihan kita, untuk berjalan di dalamnya atau tidak? Perpisahan dari jalan-jalan ini adalah perpisahan yang kuno tentang jalan-jalan antara kekristenan dan penyelamatan diri sendiri. Pastilah hanya ia yang bisa mengclaim sebagai injili, yang dengan penuh kesadaran bersandar dengan sepenuhnya dan secara langsung kepada Allah dan hanya kepada Allah untuk keselamatannya’.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 174-176.

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

1Kor 1:31 - “Karena itu seperti ada tertulis: ‘Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.’”.

 

Contoh lain tentang ajaran Arminian yang dibicarakan oleh Loraine Boettner diatas adalah ajaran dari Adam Clarke.

 

Adam Clarke (tentang Kis 10:35): “Why was Cornelius accepted with God while thousands of his countrymen were passed by? Because he did not receive the grace of God in vain; he watched, fasted, prayed, and gave alms, which they did not. Had he not done so, would he have been accepted? Certainly not; because it would then appear that he had received the grace of God in vain, and had not been a worker together with him.” (= Mengapa Kornelius diterima oleh Allah sementara ribuan orang sebangsanya dilewati? Karena ia tidak menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia; ia berjaga-jaga, berpuasa, berdoa, dan memberi sedekah, yang mereka tidak lakukan. Seandainya ia tidak melakukan demikian, apakah ia akan diterima? Pasti tidak; karena kalau demikian maka akan kelihatan bahwa ia telah menerima kasih karunia Allah dengan sia-sia, dan tidak menjadi seorang yang bekerja sama dengan Dia.).

Catatan: bagi saya, kata-kata Clarke ini sangat berbau keselamatan karena perbuatan baik!

 

III) Serangan terhadap doktrin Irresistible Grace dan jawabannya.

 

A)            Doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini dianggap bertentangan dengan ‘Free Will’ (= Kehendak Bebas).

 

Steven Liauw: “Bisa-bisa saja bahwa Kalvinis tidak memakai istilah ‘memaksakan.’ Tetapi saya sudah beri dalam tanda kurung penjelasan lebih lanjut: ‘Memberi tanpa dapat ditolak.’ Asali mengakui dipakainya istilah irresistible grace. Bagi saya, irresistible dan ‘tidak dapat ditolak’ sudah sama dengan memaksa. Kalvinis mengatakan bahwa manusia menerima Kristus dengan senang hati karena dilahirbarukan dulu oleh Tuhan. Tetapi kelahiran kembali itu kan juga kasih karunia. Jadi sebelum manusia itu lahir baru, dia berdosa, mati dalam dosa. Dalam kondisinya yang mati dalam dosa itu, apakah dia mau lahir baru? Kalvinis akan menjawab bahwa manusia yang mati dalam dosa, tidak mau lahir baru. Jadi, dalam Kalvinisme, manusia (yang selamat) dilahirbarukan tanpa pilihan, tanpa dapat menolak, dan bertentangan dengan keinginan dia (dia tidak mau lahir baru sebelum dilahirbarukan). Pembaca-lah yang dapat menilai, apakah ini tidak mirip dengan pemaksaan? Percuma untuk mengatakan bahwa setelah lahir baru dia akan menerima Kristus dengan rela hati, karena: 1. Dia tidak punya pilihan untuk mau lahir baru atau tidak (jadi kelahiran baru dipaksakan padanya). 2. kerelaan hatinya adalah sesuatu yang telah Tuhan tetapkan dan toh tidak mungkin dia lawan. Permasalahannya bukanlah apakah Kalvinis mau mengakui ini ‘memaksa’ atau tidak. Kalvinis boleh jadi tidak mau mengakui, tetapi saya menyimpulkan. Silakan publik yang menilai”. (graphe - Liauw4.doc).

 

Suhento Liauw: “Sama seperti Limited Atonement, Irresistible Grace adalah poin nalar lanjutan dari serangkaian nalar Calvin. Karena nalar mereka menyimpulkan bahwa Kristus hanya memilih sebagian orang sehingga Ia tidak mungkin menebus semua orang, maka penebusan Kristus sewajarnya bersifat terbatas dari situ terciptalah konsep Limited Atonement. Nalar lanjutannya, jika Kristus hanya memilihi sebagian kecil orang untuk masuk Sorga, dan hanya menebus mereka saja, maka orang yang terpilih serta yang tertebus tidak mungkin dapat menolak anugerah itu. Inilah dasar dari konsep Irresistible Grace. Bisakah disimpulkan bahwa sesungguhnya ada orang yang pada dasarnya tidak ada keinginan masuk Sorga namun apa boleh buat karena telah terpilih maka tidak dapat menolak sehingga terpaksa masuk Sorga? Sebaliknya ada orang yang sangat ingin masuk Sorga namun saying (sayang) sekali ia tidak terpilih dan akhirnya masuk neraka? Sebagian Calvinis mengiyakan dan sebagian membantah.”. (Graphe - Liauw - I.doc).

 

Catatan: kata-kata Steven Liauw dan Suhento Liauw di atas ini sudah saya kutip dan bahas di bagian awal tulisan ini, dan karena itu tak perlu saya ulang pembahasannya di sini.

 

Jawaban dari Calvinisme:

 

1)      Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) tidak bertentangan dengan ‘Free Will’ (= Kehendak Bebas), karena menurut Calvinisme / Reformed orang itu tidak dipaksa.

 

Dalam Westminster Confession of Faith, pasal 10, no 1, bagian akhir, dikatakan: they come most freely, being made will­ing by His grace (= mereka datang dengan paling bebas, setelah dibuat menjadi mau oleh kasih karuniaNya).

 

R. C. Sproul: “Much confusion exists on this point. I remember the first lecture I ever heard from John Gerstner. It was on the subject of predestination. Shortly into his lecture Dr. Gerstner was interrupted by a student who was waving his hand in the air. Gerstner stopped and acknowledged the student. The student asked, ‘Dr. Gerstner, is it safe to assume that you are a Calvinist?’ Gerstner answered, ‘Yes,’ and resumed his lecture. A few moments later a gleam of recognition appeared in Gerstner’s eyes and he stopped speaking in mid-sentence and asked the student, ‘What is your definition of a Calvinist?’ The student replied, ‘A Calvinist is someone who believes that God forces some people to choose Christ and prevents other people from choosing Christ.’ Gerstner was horrified. He said, ‘If that is what a Calvinist is, then you can be sure that I am not a Calvinist.’ The student’s misconception of irresistible grace is widespread. I once heard the president of a Presbyterian seminary declare, ‘I am not a Calvinist because I do not believe that God brings some people, kicking and screaming against their wills, into the kingdom, while he excludes others from his kingdom who desperately want to be there.’ I was astonished when I heard these words. I did not think it possible that the president of a Presbyterian seminary could have such a gross misconception of his own church’s theology. He was reciting a caricature which was as far away from Calvinism as one could get. Calvinism does not teach and never has taught that God brings people kicking and screaming into the kingdom or has ever excluded anyone who wanted to be there. Remember that the cardinal point of the Reformed doctrine of predestination rests on the biblical teaching of man’s spiritual death. Natural man does not want Christ. He will only want Christ if God plants a desire for Christ in his heart. Once that desire is planted, those who come to Christ do not come kicking and screaming against their wills. They come because they want to come. They now desire Jesus. They rush to the Savior. The whole point of irresistible grace is that rebirth quickens someone to spiritual life in such a way that Jesus is now seen in his irresistible sweetness. Jesus is irresistible to those who have been made alive to the things of God. Every soul whose heart beats with the life of God within it longs for the living Christ. All whom the Father gives to Christ come to Christ (John 6:37).” [= Ada banyak kebingungan tentang pokok ini. Saya teringat pelajaran pertama yang pernah saya dengar dari John Gerstner. Itu adalah tentang pokok predestinasi. Begitu masuk ke dalam pelajarannya, Dr. Gerstner diinterupsi oleh seorang mahasiswa yang melambaikan tangannya di udara. Gerstner berhenti dan mengenali / menjawab mahasiswa itu. Mahasiswa itu bertanya, ‘Dr. Gerstner, apakah tepat untuk menganggap bahwa engkau adalah seorang Calvinist?’ Gerstner menjawab, ‘Ya’, dan melanjutkan pelajarannya. Beberapa saat kemudian sekilas perhatian tampak / muncul di mata Gerstner dan ia berhenti berbicara di tengah-tengah kalimat dan bertanya kepada mahasiswa itu, ‘Apa definisimu tentang seorang Calvinist?’ Mahasiswa itu menjawab, ‘Seorang Calvinist adalah seseorang yang percaya bahwa Allah memaksa sebagian orang untuk memilih Kristus dan mencegah orang-orang lain dari memilih Kristus’. Gerstner terkejut. Ia berkata, ‘Jika itu adalah seorang Calvinist, maka engkau bisa yakin / pasti bahwa saya bukanlah seorang Calvinist’. Kesalah-mengertian mahasiswa itu tentang ‘kasih karunia yang tidak bisa ditolak’ tersebar luas. Saya pernah mendengar seorang presiden dari suatu seminari Presbyterian menyatakan, ‘Saya bukanlah seorang Calvinist karena saya tidak percaya bahwa Allah membawa sebagian orang, sambil menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka, ke dalam kerajaan, sementara / sedangkan Ia mengeluarkan orang-orang lain dari kerajaanNya, yang benar-benar ingin untuk berada di sana’. Saya heran pada waktu saya mendengar kata-kata ini. Saya menganggap mustahil bahwa presiden dari suatu seminari Presbyterian bisa mempunyai suatu kesalah-mengertian yang begitu besar tentang theologia gerejanya sendiri. Ia sedang mengutip suatu karikatur / penggambaran yang sengaja disalahkan, yang adalah sejauh mungkin dari Calvinisme yang bisa didapatkan seseorang. Calvinisme tidak mengajar dan tidak pernah mengajar bahwa Allah membawa orang-orang, yang sambil menendang-nendang dan menjerit-jerit, ke dalam kerajaan, atau pernah mengeluarkan siapapun yang ingin berada di sana. Ingat bahwa pokok utama dari doktrin Reformed tentang predestinasi bersandar / terletak pada ajaran Alkitabiah tentang kematian rohani manusia. Manusia alamiah tidak menghendaki Kristus. Ia hanya akan menghendaki Kristus jika Allah menanamkan suatu keinginan untuk Kristus dalam hatinya. Satu kali keinginan itu ditanamkan, mereka yang datang kepada Kristus tidak datang dengan menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka. Mereka datang karena mereka ingin / mau datang. Sekarang mereka menginginkan Yesus. Mereka lari dengan tergesa-gesa kepada sang Juruselamat. Seluruh pokok tentang kasih karunia yang tidak bisa ditolak adalah bahwa kelahiran kembali menghidupkan seseorang pada kehidupan rohani dengan cara sedemikian rupa sehingga sekarang Yesus terlihat dalam kemanisanNya yang tidak bisa ditolak. Yesus tidak bisa ditolak bagi mereka yang telah dibuat hidup bagi hal-hal dari Allah. Setiap jiwa yang hatinya berdenyut dengan kehidupan dari Allah di dalamnya, rindu akan Kristus yang hidup. Semua yang Bapa berikan kepada Kristus datang kepada Kristus (Yoh 6:37).] - ‘Chosen By God’, hal 121-123.

Yoh 6:37 - Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.”.

 

R. C. Sproul: The position of Augustine, Martin Luther, John Calvin, and others is so often caricatured to mean that in God’s gracious election he brings people kicking and screaming against their wills into his kingdom. The Augustinian view is that God changes the recalcitrant and enslaved sinner’s will by the Spirit’s changing his internal bent, disposition, or inclination. Augustinians have spelled out this view so often and so clearly, it is amazing that the caricature is so often repeated. [= Posisi dari Agustinus, Martin Luther, John Calvin, dan yang lain-lain, begitu sering dengan sengaja digambarkan secara salah sehingga berarti bahwa dalam pemilihan yang bersifat kasih karunia dari Allah, Ia membawa orang-orang yang menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka ke dalam kerajaanNya. Pandangan Augustinian adalah bahwa Allah mengubah kehendak yang keras kepala dan diperbudak dari orang berdosa oleh Roh yang mengubah kecenderungan atau kecondongan batinnya. Orang-orang Augustinian telah menunjukkan pandangan ini begitu sering dan dengan begitu jelas, dan adalah mengherankan bahwa karikatur / gambaran yang sengaja disalahkan ini begitu sering diulang.] - ‘Willing to Believe’, hal 94 (Libronix).

 

Loraine Boettner: It is a common thing for opponents to represent this doctrine as implying that men are forced to believe and turn to God against their wills, or, that it reduces men to the level of machines in the matter of salvation. This is a misrepresentation. Calvinists hold no such opinion, and in fact the full statement of the doctrine excludes or contradicts it. The Westminster Confession, after stating that this efficacious grace which results in conversion is an exercise of omnipotence and cannot be defeated, adds, ‘Yet so as they come most freely, being made willing by His grace.’ (= Merupakan suatu hal yang umum bagi penentang-penentang untuk menggambarkan doktrin ini sebagai menunjukkan bahwa orang-orang dipaksa untuk percaya dan berbalik kepada Allah bertentangan dengan kehendak / kemauan mereka, atau, doktrin ini merendahkan manusia ke tingkat dari mesin dalam persoalan keselamatan. Ini adalah suatu penggambaran yang salah. Para Calvinist tidak mempercayai pandangan seperti itu, dan dalam faktanya pernyataan penuh dari doktrin itu membuang atau menentang pandangan itu. Pengakuan Westminster, setelah menyatakan bahwa kasih karunia yang mujarab / efektif ini yang menghasilkan pertobatan adalah suatu penggunaan dari kemahakuasaan dan tidak bisa dikalahkan, menambahkan, ‘Tetapi sedemikian rupa sehingga mereka datang dengan paling bebas, setelah dibuat menjadi mau oleh kasih karuniaNya’.) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 176.

 

Loraine Boettner: “The special grace which we refer to as efficacious is sometimes called irresistible grace. This latter term, however, is somewhat misleading since it does suggest that a certain overwhelming power is exerted upon the person, in consequence of which he is compelled to act contrary to his desires, whereas the meaning intended, as we have stated before, is that the elect are so influenced by divine power that their coming is an act of voluntary choice.” [= Kasih karunia khusus yang kami tunjukkan sebagai efektif / pasti berhasil, kadang-kadang disebut sebagai kasih karunia yang tidak bisa ditolak. Tetapi istilah yang terakhir ini agak menyesatkan, karena istilah itu menunjukkan secara tak langsung bahwa suatu kuasa tertentu yang sangat besar digunakan terhadap orang itu, dan sebagai akibatnya ia dipaksa untuk bertindak bertentangan dengan keinginannya, sedangkan arti yang dimaksudkan, seperti yang telah kami nyatakan sebelumnya, adalah bahwa orang-orang pilihan begitu dipengaruhi oleh kuasa ilahi sehingga datangnya mereka (kepada Kristus) merupakan tindakan dari pilihan yang sukarela.] - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 178.

 

2)      Harus diingat bahwa arti dari istilah ‘Free will’ (= Kehendak Bebas) dalam theologia Reformed berbeda dengan ‘Free will’ (= Kehendak Bebas) dalam kalangan Arminian.

 

a)   Banyak orang Reformed yang tidak setuju dengan istilah free will ( = kehendak bebas). Mereka lebih memilih istilah ‘free agent’ (= agen bebas), karena yang bebas bukan kehendaknya, tetapi seluruh manusianya.

 

Perlu dicamkan bahwa istilah free will / kehendak bebas yang begitu populer itu, sebetulnya tidak pernah ada dalam Alkitab. Memang, kalau istilahnya tidak ada, tetapi ajarannya ada (seperti ‘Tritunggal’), maka tentu saja tak ada masalah. Tetapi apakah ajarannya ada? Kalau kita menanyai orang Arminian dimana ada ajaran tentang free will / kehendak bebas, maka biasanya ia menunjukkan ayat-ayat dimana ada orang-orang yang memilih, atau ada perintah dari Tuhan untuk memilih, atau ayat-ayat yang mengatakan ‘barangsiapa percaya’ dan seterusnya.

Misalnya:

 

Yos 24:14-15 - “(14) Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. (15) Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!’”.

 

Memang mereka disuruh memilih, tetapi dari mana terlihat kalau mereka bisa memilih yang baik dari diri mereka sendiri? Atau, dari mana bisa terlihat bahwa mereka punya free will / kehendak bebas untuk memilih yang baik dari diri mereka sendiri?

 

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

 

Memang ayat ini mengatakan ‘setiap orang’ (bahasa Inggris; ‘whosoever’ / barangsiapa), tetapi apakah setiap orang memang bisa memilih untuk percaya kepada Yesus dengan kekuatan dan kemauannya sendiri? Ayat ini tidak membicarakan hal itu. Ayat-ayat yang secara explicit membahas hal itu adalah ayat-ayat di bawah ini.

 

Yoh 6:44,65 - “(44) Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. ... (65) Lalu Ia berkata: ‘Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.’”.

 

Jadi, sebetulnya, bukan hanya istilah free will / kehendak bebas itu tidak ada dalam Alkitab, tetapi bahkan ajarannya juga tidak ada.

 

Karena itu, jangan merasa aneh kalau Calvin dan para Calvinist tak senang dengan istilah itu.

 

Charles Haddon Spurgeon: “Any man who should deny that man is a free agent might well be thought unreasonable, but free-will is a different thing from free-agency. Luther denounces free-will when he said that ‘free-will is the name for nothing’; and President Edwards demolished the idea in his mastery treatise” (= Orang yang menyangkal bahwa manusia adalah agen bebas akan dianggap tidak masuk akal / tidak rasionil, tetapi kebebasan kehendak berbeda dengan tindakan bebas. Luther mencela kehendak bebas ketika ia berkata bahwa ‘kehendak bebas adalah nama untuk sesuatu yang tidak ada’; dan Presiden Edwards menghancurkan gagasan / idee ini dalam bukunya yang luar biasa) - ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’, vol 7, hal 10.

 

Robert L. Dabney: “... I have not used the phrase ‘freedom of the will’. I exclude it, because persuaded that it is inaccurate, and that it has occasioned much confusion and error. Freedom is properly predicated of a person, not of a faculty. ... I have preferred therefore to use the phrase, at once popular and exact: ‘free agency’ and ‘free agent’” (= Saya tidak memakai ungkapan ‘kebebasan kehendak’. Saya meniadakannya karena diyakinkan bahwa itu adalah tidak tepat, dan bahwa itu menimbulkan banyak kebingungan dan kesalahan. Kebebasan secara tepat ditujukan kepada seseorang, bukan pada bagian dari jiwa / pikiran. ... Karena itu saya lebih menyukai untuk menggunakan ungkapan yang sekaligus populer dan tepat: ‘tindakan bebas’ dan ‘agen bebas’) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 129.

 

Catatan:

1. Istilah ‘agent’ berarti ‘a person that performs actions or is able to do so’ (= seseorang yang melakukan tindakan-tindakan atau yang mampu melakukannya).

2. Istilah ‘agency’ berarti ‘action’ (= tindakan) atau ‘the business of a person’ (= kegiatan / kesibukan seseorang).

Ini diambil dari Webster’s New World Dictionary.

 

Tetapi karena istilah ‘free will’ sudah begitu populer, dan lebih-lebih dalam kalangan orang awam di Indonesia istilah kehendak bebas sangat populer sedangkan istilah ‘agen bebas’ dan ‘tindakan bebas’ tidak pernah terdengar, maka saya tetap menggunakan istilah free will / kehendak bebas. Tetapi tentu saja kita harus berhati-hati terhadap penyalah-gunaan atau arti yang salah dari istilah free will / kehendak bebas ini.

 

b)  Arti yang salah dan benar dari free will ( = kehendak bebas).

 

1. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia itu bebas secara mutlak.

Kalau kita meninjau doktrin Allah (theology), maka kita bisa melihat bahwa satu-satunya makhluk yang bebas mutlak adalah Allah, dan Allah menciptakan segala sesuatu dan membuat segala sesuatu tergantung kepada diriNya (Neh 9:6  Maz 94:17-19  Maz 104:27-30  Kis 17:28  1Tim 6:13  Ibr 1:3). Jadi jelas bahwa manusia tidak bebas secara mutlak, tetapi sebaliknya tergantung kepada Allah.

 

2. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti bahwa manusia selalu bisa / mampu melakukan apa yang ia kehendaki.

Ini berlaku dalam hal:

a. Biasa / jasmani. Misalnya manusia boleh saja ingin terbang, tetapi ia tidak bisa terbang.

b. Rohani. Orang berdosa di luar Kristus tidak bisa berbuat baik atau datang kepada Kristus dengan kekuatannya sendiri. Bahkan orang kristenpun sering menginginkan hal yang baik tetapi tidak mampu melakukannya.

Ro 7:18-23 - “(18) Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. (20) Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. (21) Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. (22) Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, (23) tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.”.

Mat 26:41 - “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’”.

Jadi free will / kehendak bebas tidak berhubungan dengan kemampuan untuk melakukan apa yang ia kehendaki.

 

3. Adanya free will / kehendak bebas tidak berarti pada saat manapun dalam kehidupannya, manusia itu betul-betul bisa memilih beberapa tindakan sesuai dengan kehendaknya sendiri.

Orang Reformed mempercayai bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah, dan pasti akan terjadi sesuai kehendak Allah. Karena itu adalah omong kosong kalau kita dalam hal ini beranggapan bahwa manusia betul-betul bisa memilih tindakan sesuai dengan kemauannya. Sebaliknya, ia pasti akan melakukan tindakan yang telah ditentukan oleh Allah.

Catatan: kalau mau mengetahui tentang penentuan mutlak dari Allah atas segala sesuatu, bacalah buku saya yang berjudul ‘Providence of God’.

 

4. Free will / kehendak bebas berarti: semua yang manusia lakukan, ia lakukan sesuai dengan ketetapan Tuhan, tetapi pada saat yang sama, ia tetap melakukan itu karena itu memang adalah kehendaknya / keputusannya. Ia tidak dipaksa oleh Allah untuk melakukan kehendak / ketetapan Allah tersebut. Ia akan secara sukarela melakukan ketetapan Allah tersebut.

 

R. L. Dabney: We fully admit that where an agent is not free he is not morally responsible. A just God will never punish him for actions in which he is merely an instrument, impelled by the compulsion of external force or fate. But what is free-agency? ... Let every man’s consciousness and common sense tell him: I know that I am free whenever what I choose to do is the result of my own preference. I choose and act so as to please myself, then I am free. That is to say, our responsible volitions are the expression and the result of our own rational preference. When I am free and responsible it is because I choose and do the thing which I do, not compelled by some other agents, but in accordance with my own inward preference. (= Kami sepenuhnya mengakui bahwa dimana seseorang yang melakukan suatu tindakan tidak bebas, ia tidak bertanggung jawab secara moral. Seorang Allah yang adil tidak akan pernah menghukumnya untuk tindakan-tindakan dalam mana ia semata-mata hanyalah alat, dipaksa oleh paksaan dari kekuatan luar atau takdir. Tetapi apakah tindakan bebas itu? ... Hendaklah hati nurani dan akal sehat dari setiap orang memberitahunya: Saya tahu bahwa saya bebas kapanpun apa yang saya pilih untuk lakukan adalah hasil dari pilihanku sendiri. Saya memilih dan bertindak sedemikian rupa sehingga menyenangkan diri saya sendiri, maka saya bebas. Artinya, kemauan-kemauan yang bertanggung jawab dari kita adalah ungkapan dan hasil dari pilihan rasionil kita sendiri. Pada waktu saya bebas dan bertanggung jawab itu adalah karena saya memilih dan melakukan hal yang saya lakukan, tidak dipaksa oleh agen-agen yang lain, tetapi sesuai dengan pilihan hatiku sendiri.) - ‘The Five Points of Calvinism’, hal 13-14 (Libronix).

 

Bahkan pada saat manusia itu ‘dipaksa’ untuk melakukan sesuatu, ia tetap melakukan sesuai keputusan / kehendaknya sendiri. Misalnya: seseorang ditodong dan dipaksa untuk menyerahkan uangnya. Ia bisa saja memutuskan untuk melawan, apapun resikonya. Tetapi setelah ia mempertimbangkan resiko kehilangan nyawa / terluka, maka ia mengambil keputusan untuk menyerahkan uangnya. Ini tetap adalah keputusan / kehendak bebasnya. Karena itu sebetulnya ungkapan bahasa Inggris ‘I did it against my will’ (= aku melakukan itu bertentangan kehendakku) adalah sesuatu yang salah.

Yang bisa terjadi adalah: sesuatu dilakukan terhadap kita bertentangan dengan kehendak kita. Misalnya kita diikat lalu dibawa ke tempat yang tidak kita ingini. Tetapi ini bukan kita yang melakukan, dan tentu saja dalam hal seperti ini kita tidak bisa dianggap bertanggung jawab.

Jadi, kalau kita melakukan sesuatu, itu karena kita mau / menghendaki untuk melakukan hal itu.

 

John Owen: “... we do not absolutely oppose free-will, ... but only in that sense the Pelagians and Arminians do assert it” (= ... kami tidak secara mutlak menentang kehendak bebas, ... tetapi hanya dalam arti yang dinyatakan oleh orang-orang Pelagian dan Arminian) - ‘The Works of John Owen’, vol 10, hal 116.

 

 

 

-bersambung-


e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org