Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 27 Nopember 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(18)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

i)      Luk 14:23 - “Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”.

 

Lenski (tentang Luk 14:23): The new order is: ‘Compel them to come in!’ and we need not soften the verb to mean ‘constrain’ (R. V.) Yes, this is the text for the persecutor and the inquisitor who would compel with brute force and claim that he is doing this by order of Jesus. We answer at once that Jesus has in mind the compulsion of grace, its spiritual drawing power, and may point to any and all of the strong gospel commands even as Paul said: God ‘now commandeth all men everywhere to repent.’ But this order to compel appears only here in the parable and has its appropriate place only here; for those outside of the city, who are roaming around far from it, need especial assurance and urging so that they may believe that this invitation really and truly includes also them. Something like that was needed, we may say, already for the poor, etc., in the city although, being in the city, they could know about this feast that was to be prepared in the fulness of time. The Gentiles could not know, it was all new to them. Thus ‘compel’ does not mean to overcome hostile resistance but to remove the fear that so gracious and wonderful a feast could not be intended for them. [= Perintah yang baru adalah: ‘Paksalah (compel) mereka masuk!’ dan kita tidak perlu melunakkan kata kerja itu sehingga berarti ‘paksa’ (constrain) (R. V.). Ya, text ini adalah text untuk penganiaya dan orang yang mencari dan menghukum orang yang dianggap sesat, yang memaksa dengan kekuatan kasar dan mengclaim bahwa ia sudah melakukan ini oleh perintah Yesus. Kami segera menjawab bahwa Yesus memikirkan pemaksaan dari kasih karunia, kuasaNya yang menarik secara rohani, dan bisa menunjuk pada semua / yang manapun dari perintah-perintah injil yang kuat, bahkan pada saat Paulus berkata: ‘Sekarang Allah memerintahkan semua orang dimana-mana untuk bertobat’ (Kis 17:30). Tetapi perintah untuk memaksa ini muncul hanya di sini dalam perumpamaan dan mempunyai tempat yang cocok hanya di sini; karena mereka di luar kota, yang mengembara jauh darinya, membutuhkan keyakinan dan desakan khusus sehingga mereka bisa percaya bahwa undangan ini sungguh-sungguh juga mencakup mereka. Kita bisa mengatakan bahwa sesuatu seperti itu sudah dibutuhkan, untuk orang-orang miskin, sekalipun yang ada di dalam kota, karena mereka ada di dalam kota, mereka bisa tahu tentang pesta ini yang dipersiapkan pada kegenapan waktunya. Orang-orang non Yahudi tidak bisa tahu, itu semua baru bagi mereka. Jadi, ‘memaksa’ tidak berarti mengalahkan perlawanan / penahanan yang bersifat bermusuhan, tetapi untuk menyingkirkan rasa takut bahwa pesta yang begitu murah hati dan luar biasa tidak bisa dimaksudkan untuk mereka.].

Catatan:

1.   Kelihatannya ada perbedaan antara kata bahasa Inggris ‘compel’ dan ‘constrain’. Dalam bahasa Indonesia keduanya berarti ‘memaksa’, tetapi dalam bahasa Inggris ‘constrain’ lebih lunak dari ‘compel’.

2.   Kata ‘inquisitor’ berarti orang yang melakukan ‘inquisition’. Dan ‘inquisition’ berarti ‘pencarian dan penghukuman orang-orang yang tidak percaya atau dianggap sebagai bidat’ (biasanya dalam Gereja Roma Katolik, mencari orang-orang Protestan) - Webster’s New World Dictionary.

3.   Lenski menyamakan ‘pemaksaan’ dalam Luk 14:23 ini dengan perintah yang kuat dari Injil seperti dalam Kis 17:30, tetapi saya tidak bisa menerima pandangannya ini. Perintah tetap berbeda dengan pemaksaan.

4.   Lenski menafsirkan bahwa ‘pemaksaan’ ini bukan berarti penyingkiran perlawanan / penahanan terhadap Injil, tetapi penyingkiran rasa takut dalam diri orang-orang non Yahudi bahwa pesta / undangan pesta itu bukan untuk mereka. Jadi, bukan untuk memaksa mereka untuk mau datang, tetapi untuk meyakinkan mereka bahwa pesta itu memang juga untuk mereka. Menurut saya, ini tidak sesuai dengan kata-kata dari ayat itu, karena kata-kata dari ayat itu jelas berurusan dengan mau datangnya mereka, dan bukan dengan keyakinan mereka bahwa pesta itu memang untuk mereka.

Luk 14:21-23 - “(21) Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. (22) Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat. (23) Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.”.

Perhatikan ayat-ayat di atas ini, apakah pemaksaan itu berurusan dengan keyakinan mereka bahwa pesta itu memang untuk mereka? Sama sekali tidak. Itu berurusan dengan mau tidaknya mereka datang ke pesta itu!

Dan kalau kita melihat text sebelumnya (tentang orang-orang yang menolak), maka mereka juga menolak karena mereka tidak mau datang ke pesta itu.

Luk 14:17-20 - “(17) Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. (18) Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. (19) Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. (20) Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.”.

Ini yang membuat tuan itu menyuruh untuk memaksa orang-orang dari kelompok kedua itu untuk datang! Semuanya tidak menunjukkan indikasi apapun bahwa paksaan itu berurusan dengan keyakinan apakah mereka diundang atau tidak.


Adam Clarke (tentang Luk 14:23): “‘Compel them to come in.’ αναγκασον / ANAGKASON, Prevail on them by the most earnest entreaties. The word is used by Matthew, Mt 14:22, and by Mark, Mr 6:45; in both which places, when Christ is said, αναγκαζειν / ANAGKAZEIN, to constrain his disciples to get into the vessel, nothing but his commanding or persuading them to do it can be reasonably understood. The Latins use cogo, and compello, in exactly the same sense, i.e. to prevail on by prayers, counsels, entreaties, etc.” (= ‘Paksalah mereka untuk masuk’. ANAGKASON. Bujuklah mereka dengan permohonan-permohonan yang mendesak yang paling sungguh-sungguh. Kata itu digunakan dalam Matius, Mat 14:22, dan oleh Markus, Mark 6:45, memaksa murid-muridNya untuk masuk ke dalam kapal, tak ada apapun bisa dimengerti secara masuk akal, kecuali Ia memerintahkan atau membujuk / mendesak mereka untuk melakukan hal itu. Bahasa Latin menggunakan COGO, dan COMPELLO, dalam arti yang persis sama, yaitu ‘membujuk’ oleh doa-doa, nasehat-nasehat, permohonan-permohonan, dsb.).

Mat 14:22 - “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan (ANAGKASEN) murid-muridNya naik ke perahu dan mendahuluiNya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.”.

KJV/ASV: constrained (= memaksa); RSV/NIV/NASB: ‘made’ (= membuat / memaksa).

Mark 6:45 - “Sesudah itu Yesus segera memerintahkan (ANAGKASEN) murid-muridNya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang.”.

KJV: constrained (= memaksa).

 

Dalam Bible Works 7 kata Yunani avnagka,zw (ANAGKAZO) diartikan: force’ (= memaksa), ‘compel’ (= memaksa) Ac 26:11; Gal 2:3, 14; ‘invite’ (= mengundang), ‘urge strongly’ (= mendesak dengan kuat) Mt 14:22.

Kis 26:11 - “Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya (ANAGKAZON) untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing.’”.

Dalam Kis 26:11 ini artinya pasti adalah ‘memaksa’.

Gal 2:3,14 - “(3) Tetapi kendatipun Titus, yang bersama-sama dengan aku, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa (ENAGKASTHE) untuk menyunatkan dirinya. ... (14) Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: ‘Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa (ANAGKAZEIS) saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?’”.

Dalam Gal 2 ini, ay 3nya bisa diartikan ‘mendesak’ atau ‘memaksa’, sedangkan ay 14nya rasanya tidak mungkin diartikan ‘memaksa’. Mungkin lebih cocok diartikan ‘mengundang’. Semua Alkitab bahasa Inggris menterjemahkan ‘compel’ (= memaksa) untuk ay 3, dan ‘force’ atau ‘compel’ (= memaksa) untuk ay 14.

 

Dari semua pembahasan dari bahasa aslinya ini, saya menyimpulkan bahwa kata itu, sekalipun  tidak mutlak / harus, tetapi memang sangat memungkinkan diterjemahkan ‘memaksa’.

 

Adam Clarke melanjutkan (tentang Luk 14:23): “No other kind of constraint is ever recommended in the Gospel of Christ; every other kind of compulsion is antichristian, can only be submitted to by cowards and knaves, and can produce nothing but hypocrites.” (= Tak ada jenis pemaksaan lain pernah dianjurkan dalam Injil Kristus; setiap jenis pemaksaan lain adalah anti Kristen, hanya bisa diajukan / disampaikan oleh pengecut-pengecut dan bajingan-bajingan, dan tidak bisa menghasilkan apa-apa kecuali orang-orang munafik.).

 

Kata-kata Adam Clarke ini, muncul karena kelihatannya ada orang-orang yang menggunakan ayat ini untuk membenarkan tindakan mereka dalam betul-betul memaksa orang-orang secara fisik untuk mengikuti agama / kepercayaan mereka. Ini jelas merupakan arti yang salah, dan ini jelas juga bukan arti yang diambil oleh orang-orang Reformed, berkenaan dengan doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

 

William Hendriksen (tentang Luk 14:23): These highway and these hedgerow people must now be ‘compelled’ to come to the banquet; ‘compelled’ not physically but by the force of powerful and loving persuasion. (= Orang-orang di jalan-jalan raya dan pagar / lintasan ini sekarang harus ‘dipaksa’ untuk datang ke pesta; ‘dipaksa’ bukan secara fisik tetapi oleh kekuatan dari desakan yang kuat dan penuh kasih.).

 

Pulpit Commentary (tentang Luk 14:23): “‘And compel them to come in.’ A greater pressure is put on this class of outsiders than was tried upon the favoured first invited. The indifferent ones were left to themselves. They knew, or professed to know and to appreciate, the nature of that feast in heaven, the invitation to which they treated apparently with so much honour, and really with such contempt. But these outsiders the Divine Host would treat differently. To them the notion of a pitying, loving God was quite a strange thought; these must be compelled - must be brought to him with the gentle force which the angels used when they laid hold of the hand of lingering Lot, and brought him out of the doomed city of the plain. Thus faithful men, intensely convinced of the truth of their message, ‘compel’ others, by the bright earnestness of their words and life, to join the company of those who are going up to the feast above. Anselm thinks that God may be also said to ‘compel’ men to come in when he drives them by calamities to seek and find refuge with him and in his Church. (= ‘Dan paksalah mereka untuk masuk’. Suatu tekanan yang lebih besar diberikan kepada golongan orang-orang luar ini dari pada yang telah dicoba untuk digunakan kepada orang-orang kesayangan yang pertama diundang. Orang-orang yang acuh tak acuh itu dibiarkan pada diri mereka sendiri. Mereka tahu, atau kelihatannya tahu dan menghargai, hakekat dari pesta di surga itu, undangan mana kelihatannya mereka perlakukan dengan begitu hormat, tetapi sesungguhnya mereka perlakukan dengan begitu memandang rendah. Tetapi orang-orang luar ini diperlakukan oleh Tuan Rumah Ilahi ini secara berbeda. Bagi mereka, gagasan / pemikiran tentang seorang Allah yang berbelas kasihan dan mengasihi merupakan suatu pemikiran yang cukup aneh; orang-orang ini harus dipaksa - harus dibawa kepada Dia dengan kekuatan yang lembut yang malaikat-malaikat gunakan pada waktu mereka memegang tangan Lot yang berlambat-lambat, dan membawa dia keluar dari kota-kota di dataran yang dihukum dengan malapetaka itu. Demikianlah orang-orang setia / percaya, meyakinkan dengan kuat tentang kebenaran dari berita mereka, ‘memaksa’ orang-orang lain, oleh kesungguhan yang terang dari kata-kata dan kehidupan mereka, untuk bergabung dengan rombongan dari mereka yang sedang pergi ke pesta di atas. Anselm berpikir bahwa Allah bisa juga dikatakan ‘memaksa’ orang-orang untuk datang / masuk pada waktu Ia mendorong / memaksa mereka oleh bencana-bencana untuk mencari dan mendapatkan perlindungan pada Dia dan dalam GerejaNya.).

Catatan:

1.   Kalau ditanya, mengapa orang-orang dari kelompok pertama tidak dipaksa? Apakah mereka dibiarkan, karena Tuhan ‘menghargai’ free will / kehendak bebas mereka? Saya menjawab: bukan karena Tuhan menghargai free will / kehendak bebas mereka, tetapi karena Tuhan tidak memilih mereka, maka Ia tidak ‘memaksa’ mereka untuk datang.

2.   Penafsir ini berkata bahwa orang-orang luar itu diperlakukan secara berbeda, dan terhadap mereka digunakan kekuatan yang lebih besar dari pada terhadap golongan pertama. Ia memberi 2 contoh:

a. Tentang Lot yang ‘dipaksa’ untuk keluar dari Sodom.

b. Pandangan Anselm yang mengatakan bahwa Tuhan ‘memaksa’ orang untuk percaya dengan menggunakan bencana-bencana.

3.   Kata-katanya tentang orang-orang yang memberitakan Injil dengan desakan dan kesungguhan dsb, tak terlalu cocok dengan doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), karena dalam doktrin itu desakannya datang dari Allah, dan sekalipun Allah bisa saja mendesak orang melalui si pemberita Injil, tetapi bukan itu yang ditekankan dari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini. Desakan si penginjil, bagaimanapun tetap bisa ditolak, dan itu berbeda dengan desakan dari Tuhan sendiri, yang tidak mungkin bisa ditolak.

 

Calvin (tentang Luk 14:23): “‘Compel them to come in.’ This expression means, that the master of the house would give orders to make use, as it were, of violence for compelling the attendance of the poor, and to leave out none of the lowest dregs of the people. ... The allusion appears to be to the manner in which the Gospel invites us; for the grace of God is not merely offered to us, but doctrine is accompanied by exhortations fitted to arouse our minds. This is a display of the astonishing goodness of God, who, after freely inviting us, and perceiving that we give ourselves up to sleep, addresses our slothfulness by earnest entreaties, and not only arouses us by exhortations, but even ‘compels’ us by threatenings to draw near to him.” (= ‘Paksalah mereka untuk masuk’. Pernyataan / ungkapan ini berarti, bahwa tuan rumah itu memberi perintah-perintah, seakan-akan untuk menggunakan kekerasan untuk memaksa kehadiran dari orang-orang miskin, dan tidak membiarkan / mengabaikan seorangpun dari sampah yang terendah dari orang-orang itu. ... Kiasan ini kelihatannya adalah cara dengan mana Injil mengundang kita; karena kasih karunia Allah tidak semata-mata ditawarkan kepada kita, tetapi doktrin disertai dengan desakan-desakan yang cocok untuk membangkitkan pikiran kita. Ini adalah suatu pertunjukan dari kebaikan yang mengherankan dari Allah, yang setelah mengundang kita dengan cuma-cuma, dan merasa / mengerti bahwa kita membiarkan / menyerahkan diri kita sendiri untuk tidur, menegur kemalasan kita oleh permohonan-permohonan yang mendesak yang sungguh-sungguh, dan bukan hanya membangkitkan kita oleh desakan-desakan, tetapi bahkan ‘memaksa’ kita oleh ancaman-ancaman untuk mendekat kepada Dia.).

 

Jadi, Calvinpun kelihatannya mengartikan ‘paksaan’ itu sebagai desakan pada waktu memberitakan Injil.

 

Dan ada satu lagi keberatan terkuat yaitu: dalam bagian paralelnya dalam Injil Matius, ada tambahan yang tidak ada dalam Injil Lukas, yaitu tentang orang yang sudah masuk tetapi dibuang keluar karena ia tidak berpakaian pesta.

Mat 22:11-14 - “(11) Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. (12) Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. (13) Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. (14) Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.’”.

Orang yang tidak berpakaian pesta itu pasti menunjuk kepada orang kristen KTP. Lalu bagaimana mungkin orang itu, yang sudah ‘dipaksa’ menjadi orang percaya oleh Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), tetapi lalu dikeluarkan dari pesta karena ia adalah orang kristen KTP?

 

Tetapi persoalannya adalah: apakah Mat 22:1-14 paralel dengan Luk 14:15-24? Ada 2 pandangan tentang hal ini:

 

a)   Calvin: Ya! Hanya, Matius menceritakannya secara lebih mendetail / terperinci.

 

b)      Mayoritas penafsir: Tidak!

Alasannya: Ada sangat banyak perbedaan antara kedua bagian ini:

1. Tempat kejadian berbeda. Luk 14:15-24 terjadi di rumah orang yang mengundang Yesus.

Luk 14:12 - “Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: ‘Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.”.

2. Dalam Matius yang mengadakan perjamuan adalah ‘seorang raja’; dalam Lukas hanya dikatakan ‘seorang’.

3. Dalam Matius disebutkan ‘perjamuan kawin untuk anak’; dalam Lukas hanya dikatakan ‘perjamuan besar’.

4. Dalam Matius ada banyak hamba; dalam Lukas hanya ada 1 hamba.

5. Dalam Matius hamba-hamba disuruh mengundang tamu 2 x; dalam Lukas hanya 1 x.

6. Dalam Matius penolakannya kasar dan disertai penyiksaan dan pembunuhan, dalam Lukas penolakannya sopan.

7. Dalam Matius, raja menyuruh untuk membunuh orang yang tidak mau datang; dalam Lukas, tuan itu tidak menyuruh untuk membunuh.

8. Dalam Matius ada tamu yang tidak berpakaian pesta: dalam Lukas tidak ada.

Dari 8 perbedaan ini, yang 7 bisa terjadi hanya karena yang satu menceritakan, yang lain tidak menceritakan. Tetapi perbedaan no 6 betul-betul sangat bertentangan.

Karena itu, saya condong untuk berkata bahwa 2 bagian ini bukan para­lel!

 

Kalau tidak paralel, maka dalam Lukas tak ada orang yang tak berpakaian pesta itu, sehingga ayat yang menunjukkan pemaksaan itu memungkinkan untuk dijadikan dasar dari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Tetapi kita juga sudah melihat bahwa kebanyakan penafsir menafsirkan pemaksaan itu hanya sebagai desakan pada waktu memberitakan Injil.

 

Kalau paralel, maka cerita / perumpamaan ini mirip dari cerita tentang Lot dan keluarga, yang dipaksa keluar dari Sodom, tetapi istri Lot lalu menoleh ke belakang, sehingga dibinasakan. Ini akan kita pelajari dalam point di bawah ini.

 

j)      Kej 19:16 - Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.”.

 

Bukankah ini suatu ‘pemaksaan’ terhadap Lot dan keluarganya? Dimana ‘free will’ (= kehendak bebas) mereka? Memang ini berurusan dengan keselamatan jasmani, tetapi kalau Tuhan bisa memaksa pada waktu Ia mau menyelamatkan orang secara jasmani, mengapa Ia tidak bisa memaksa pada waktu Ia mau menyelamatkan orang secara rohani?

 

Adam Clarke (tentang Kej 19:16): “‘While he lingered’ Probably in affectionate though useless entreaties to prevail on the remaining parts of his family to escape from the destruction that was now descending; laid hold upon his hand - pulled them away by mere force, the Lord being merciful; else they had been left to perish in their lingering, as the others were in their gainsaying.” (= ‘Pada waktu ia berlambat-lambat’. Mungkin dalam permohonan-permohonan yang penuh kasih sayang sekalipun tak berguna, untuk membujuk bagian yang tersisa dari keluarganya untuk lolos dari penghancuran yang sekarang sedang turun; memegang tangannya - menarik mereka dengan kekuatan semata-mata, karena Tuhan penuh dengan belas kasihan; kalau tidak mereka tertinggal untuk binasa dalam tindakan berlambat-lambat mereka, seperti orang-orang lain dalam oposisi / penolakan mereka.).

 

Barnes’ Notes (tentang Kej 19:16): The visitors now take steps for the deliverance of Lot and his kindred before the destruction of the cities. ... His early choice and his growing habits have attached him to the place, notwithstanding its temptations. ... But though these thoughts make him linger, the mercy of the Lord prevails. The angels use a little violence to hasten their escape. (= Sekarang tamu-tamu itu mengambil langkah untuk pembebasan Lot dan keluarganya sebelum penghancuran dari kota-kota itu. ... Pilihan awalnya dan kebiasaan-kebiasaannya yang bertumbuh telah melekatkan dia pada tempat itu, sekalipun tempat itu mempunyai pencobaan-pencobaannya. ... Tetapi sekalipun pikiran-pikiran ini membuatnya berlambat-lambat, belas kasihan Tuhan menang. Malaikat-malaikat itu menggunakan sedikit kekerasan untuk mempercepat lolosnya mereka.) - PC Study Bible 5.

Catatan: penulis dari tafsiran Barnes’ Notes dalam PC Study Bible 5 tentang Kitab Kejadian bukanlah Albert Barnes, tetapi James G. Murphy.

 

Calvin (tentang Kej 19:16): “The angels first urged him by words; now seizing him by the hand, and indeed with apparent violence, they compel him to depart. His tardiness is truly wonderful, since, though he was certainly persuaded that the angels did not threaten in vain, he could yet be moved, by no force of words, until he is dragged by their hands out of the city. ... For what Moses says is worthy of attention, that the Lord was merciful to his servant, when, having laid hold of his hand by the angels, He hurried him out of the city. For so it is often necessary for us to be forcibly drawn away from scenes which we do not willingly leave. If riches, or honors, or any other things of that kind, prove an obstacle to any one, to render him less free and disengaged for the service of God, when it happens that he is abridged of his fortune, or reduced to a lower rank, let him know that the Lord has laid hold of his hand; because words and exhortations had not sufficiently profited him. We ought not, therefore, to deem it hard, that those diseases, which instruction did not suffice effectually to correct, should be healed by more violent remedies. Moses even seems to point to something greater; namely, that the mercy of God strove with the sluggishness of Lot; for, if left to himself, he would, by lingering, have brought down upon his own head the destruction which was already near. Yet the Lord not only pardons him, but, being resolved to save him, seizes him by the hand, and draws him away, although making resistance.” (= Malaikat-malaikat mula-mula mendesak dia dengan kata-kata; sekarang memegang dia pada tangannya, dan memang dengan kekerasan yang jelas, mereka memaksanya untuk pergi. Kelambatannya betul-betul adalah luar biasa, karena sekalipun ia pasti diyakinkan bahwa malaikat-malaikat itu tidak mengancam dengan sia-sia, ia tidak bisa digerakkan oleh kekuatan kata-kata, sampai ia ditarik oleh tangan mereka keluar dari kota itu. ... Karena apa yang Musa katakan layak diperhatikan, bahwa Tuhan berbelas kasihan kepada hambaNya, pada waktu, setelah memegang tangannya oleh malaikat-malaikat, Ia mempercepat mereka keluar dari kota itu. Karena demikianlah seringkali diperlukan bagi kita untuk ditarik dengan kekerasan dari tempat yang tidak mau kita tinggalkan dengan sukarela. Jika kekayaan, atau kehormatan, atau hal-hal lain apapun dari jenis itu, terbukti menjadi penghalang bagi siapapun, membuat dia kurang bebas dan untuk pelayanan Allah, pada waktu terjadi bahwa ia dikurangi / dicabut kekayaannya, atau diturunkan ke tingkat yang lebih rendah, hendaklah ia mengetahui bahwa Tuhan telah memegang tangannya; karena kata-kata dan desakan-desakan / nasehat-nasehat tidak secara cukup menguntungkan dia. Karena itu, kita tidak boleh, menganggapnya keras, bahwa penyakit-penyakit itu, yang tidak cukup diperbaiki secara efektif oleh instruksi, harus disembuhkan oleh obat / pengobatan yang lebih keras. Bahkan Musa kelihatannya menunjuk pada sesuatu yang lebih besar; yaitu, bahwa belas kasihan Allah berjuang dengan kelambanan Lot; karena seandainya dibiarkan pada dirinya sendiri, dengan berlambat-lambat ia akan sudah menurunkan pada kepalanya sendiri penghancuran yang sudah dekat. Tetapi Tuhan bukan hanya mengampuni dia, tetapi karena sudah memutuskan untuk menyelamatkan dia, memegangnya pada tangannya, dan menarik dia menjauh, sekalipun ia melakukan penahanan / penolakan.).

 

Matthew Henry (tentang Kej 19:16): With what a gracious violence Lot was brought out of Sodom, v. 16. It seems, though he did not make a jest of the warning given, as his sons-in-law did, yet he lingered, he trifled, he did not make so much haste as the case required. Thus many that are under some convictions about the misery of their spiritual state, and the necessity of a change, yet defer that needful work, and foolishly linger. Lot did so, and it might have been fatal to him if the angels had not ‘laid hold of his hand, and brought him forth,’ ... Herein it is said, ‘The Lord was merciful to him;’ otherwise he might justly have left him to perish, since he was so loth to depart. Note, (1.) The salvation of the most righteous men must be attributed to God’s mercy, not to their own merit. We are saved by grace. (2.) God’s power also must be acknowledged in the bringing of souls out of a sinful state. If God had not brought us forth, we had never come forth. (3.) If God had not been merciful to us, our lingering had been our ruin. [= Dengan kekerasan yang murah hati / penuh kasih karunia yang bagaimana Lot dikeluarkan dari Sodom, ay 16. Kelihatannya, sekalipun ia tidak membuat peringatan yang diberikan sebagai suatu lelucon, seperti yang dilakukan oleh menantu-menantunya, tetapi ia berlambat-lambat, ia membuang-buang waktu, ia tidak begitu tergesa-gesa seperti yang dibutuhkan oleh kasus itu. Demikianlah ada banyak orang yang ada dibawah suatu keyakinan tentang keburukan dari keadaan rohani mereka, dan kebutuhan akan suatu perubahan, tetapi menunda pekerjaan yang dibutuhkan itu, dan secara bodoh berlambat-lambat. Lot berbuat demikian, dan akan fatal baginya seandainya malaikat-malaikat itu tidak ‘memegang tangannya, dan membawanya,’ ...

Di dalam ini dikatakan, ‘Tuhan bermurah hati kepadanya’; kalau tidak Ia bisa dengan benar telah meninggalkannya untuk binasa, karena ia begitu segan untuk pergi. Perhatikan, (1) Keselamatan dari orang-orang yang paling benar harus dihubungkan dengan belas kasihan Allah, bukan dengan jasa / kebaikan mereka sendiri. Kita diselamatkan oleh kasih karunia. (2) Kuasa Allah juga harus diakui dalam membawa jiwa-jiwa keluar dari suatu keadaan berdosa. Seandainya Allah tidak mengeluarkan kita, kita tidak akan pernah keluar. (3) Seandainya Allah tidak bermurah hati kepada kita, sikap berlambat-lambat kita telah menjadi kehancuran kita.].

 

Tetapi bagaimana dengan istri Lot?

Kej 19:26 - “Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”.

Apakah Tuhan memaksa untuk menyelamatkannya, tetapi lalu Tuhan membiarkannya binasa?

 

Menurut saya jawabannya mudah, istri Lot tidak percaya, dan memang bukan maksud Allah untuk memberi kasih karunia kepadanya. Sama seperti seluruh Israel dikeluarkan dari Mesir tetapi mayoritas dari mereka dibunuh di padang gurun.

 

1Kor 10:1-5 - “(1) Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. (2) Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. (3) Mereka semua makan makanan rohani yang sama (4) dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus. (5) Tetapi sungguhpun demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.”.

 

Tetapi bukankah tadi dalam ay 16 Tuhan mau bermurah hati kepada mereka, termasuk istri Lot? Tidak, coba perhatikan lagi ay 16 itu.

Kej 19:16 - “Ketika ia berlambat-lambat, maka tangannya, tangan isteri dan tangan kedua anaknya dipegang oleh kedua orang itu, sebab TUHAN hendak mengasihani dia; lalu kedua orang itu menuntunnya ke luar kota dan melepaskannya di sana.”.

NIV: ‘them’ (= mereka). Ini salah!

KJV/RSV/NASB/ASV/NKJV: ‘him’ [= dia (laki-laki)]

Kata Ibrani yang dipakai adalah wyl'_[' (ALAYW) yang berarti ‘unto him’ (= kepada dia).

 

Barnes’ Notes (tentang Kej 19:26): Lot’s wife lingering behind her husband, and looking back, contrary to the express command of the Lord, is caught in the sweeping tempest, and becomes a pillar of salt: so narrow was the escape of Lot. The dashing spray of the salt sulphurous rain seems to have suffocated her, and then encrusted her whole body. She may have burned to a cinder in the furious conflagration. She is a memorable example of the indignation and wrath that overtakes the halting and the backsliding. (= Istri Lot berlambat-lambat di belakang suaminya, dan melihat ke belakang, bertentangan dengan perintah yang jelas dari Tuhan, ditangkap / dikejar dalam badai yang menyapu, dan menjadi suatu tiang garam: begitu tipis kelolosan Lot. Semburan yang menghancurkan dari hujan belerang dan garam kelihatannya telah mencekiknya, dan lalu menutupi seluruh tubuhnya. Ia mungkin telah terbakar menjadi bara dalam lautan api yang hebat. Ia adalah contoh yang mengesankan tentang kemarahan dan murka yang menyusul orang-orang yang berhenti dan merosot ke belakang.).

Kej 19:17 - “Sesudah kedua orang itu menuntun mereka sampai ke luar, berkatalah seorang: ‘Larilah, selamatkanlah nyawamu; janganlah menoleh ke belakang, dan janganlah berhenti di manapun juga di Lembah Yordan, larilah ke pegunungan, supaya engkau jangan mati lenyap.’”.

 

Matthew Henry (tentang Kej 19:26): “‘But his wife looked back from behind him, and she became a pillar of salt.’ This also is written for our admonition. Our Saviour refers to it (Luke 17:32), ‘Remember Lot’s wife.’ As by the example of Sodom the wicked are warned to turn from their wickedness, so by the example of Lot’s wife the righteous are warned not to turn from their righteousness. See Ezek 3:18,20. We have here, I. The sin of Lot’s wife: ‘She looked back from behind him.’ This seemed a small thing, but we are sure, by the punishment of it, that it was a great sin, and exceedingly sinful. ... Unbelief was at the bottom of it; she questioned whether Sodom would be destroyed, and thought she might still have been safe in it. ... Probably she hankered after her house and goods in Sodom, and was loth to leave them. Christ intimates this to be her sin (Luke 17:31,32); she too much regarded her stuff. ... Her looking back evinced an inclination to go back; and therefore our Saviour uses it as a warning against apostasy from our Christian profession. We have all renounced the world and the flesh, and have set our faces heaven-ward; we are in the plain, upon our probation; and it is at our peril if we return into the interests we profess to have abandoned. Drawing back is to perdition, and looking back is towards it. ‘Let us therefore fear,’ Heb 4:1. ... Come, behold the goodness and severity of God (Rom 11:22), towards Lot, who went forward, goodness; towards his wife, who looked back, severity. Though she was nearly related to a righteous man, though better than her neighbours, and though a monument of distinguishing mercy in her deliverance out of Sodom, yet God did not connive at her disobedience; for great privileges will not secure us from the wrath of God if we do not carefully and faithfully improve them. ... Since it is such a dangerous thing to look back, let us always press forward, Phil 3:13,14. [= ‘Tetapi istrinya melihat ke belakang dari belakangnya, dan ia menjadi suatu tiang garam’. Ini juga ditulis untuk peringatan bagi kita. Juruselamat kita menunjuk kepadanya (Luk 17:32), ‘Ingatlah istri Lot’. Seperti dengan contoh Sodom orang-orang jahat diperingati untuk berbalik dari kejahatan mereka, demikian juga dengan contoh istri Lot orang-orang benar diperingati untuk tidak berbalik dari kebenaran mereka. Lihat Yeh 3:18,20. Kita mempunyai di sini, I. Dosa dari istri Lot: ‘Ia melihat ke belakang dari belakangnya’. Ini kelihatannya merupakan hal kecil, tetapi kami yakin, oleh penghukumannya, bahwa itu adalah dosa yang besar, dan sangat berdosa. ... Ketidak-percayaan ada di dasarnya; ia mempertanyakan apakah Sodom akan dihancurkan, dan berpikir bahwa ia bisa tetap aman di dalamnya. ... Mungkin ia sangat menginginkan rumah dan harta benda / barang-barangnya  di Sodom, dan segan meninggalkannya. Kristus menyatakan ini sebagai dosanya (Luk 17:31,32); ia terlalu banyak memperhatikan / mengasihi barang-barangnya. ... Tindakannya melihat ke belakang menunjukkan dengan jelas suatu kecondongan untuk kembali; dan karena itu Juruselamat kita menggunakan itu sebagai suatu peringatan terhadap kemurtadan dari pengakuan Kristen kita. Kita semua telah meninggalkan dunia dan daging, dan telah mengarahkan wajah kita ke arah surga; kita ada di tanah yang datar, pada masa percobaan kita; dan merupakan resiko kita jika kita kembali ke dalam perhatian / minat yang kita akui telah kita tinggalkan. Mengundurkan diri adalah kepada kehancuran / neraka, dan melihat ke belakang adalah menuju kepadanya. ‘Karena itu hendaklah kita takut’, Ibr 4:1. ... ‘Mari, perhatikanlah kebaikan  dan kekerasan Allah’ (Ro 11:22), terhadap Lot, yang maju terus, kebaikan; terhadap istrinya, yang melihat ke belakang, kekerasan. Sekalipun ia mempunyai hubungan secara sangat dekat dengan seorang yang benar, sekalipun ia lebih baik dari tetangga / sesamanya, dan sekalipun ia adalah suatu monumen dari belas kasihan yang membedakan dalam pembebasannya dari Sodom, tetapi Allah tidak pura-pura tidak melihat ketidak-taatannya; karena hak-hak yang besar tidak membuat kita aman dari murka Allah jika kita tidak dengan hati-hati dan dengan setia meningkatkan hal-hal itu. ... Karena merupakan suatu hal yang berbahaya untuk melihat ke belakang, hendaklah kita selalu maju, Fil 3:13,14.].

Luk 17:31-32 - “(31) Barangsiapa pada hari itu sedang di peranginan di atas rumah dan barang-barangnya ada di dalam rumah, janganlah ia turun untuk mengambilnya, dan demikian juga orang yang sedang di ladang, janganlah ia kembali. (32) Ingatlah akan isteri Lot!.

Yeh 3:18,20 - “(18) Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu. ... (20) Jikalau seorang yang benar berbalik dari kebenarannya dan ia berbuat curang, dan Aku meletakkan batu sandungan di hadapannya, ia akan mati. Oleh karena engkau tidak memperingatkan dia, ia akan mati dalam dosanya dan perbuatan-perbuatan kebenaran yang dikerjakannya tidak akan diingat-ingat, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.”.

Ibr 4:1 - “Sebab itu, baiklah kita waspada, supaya jangan ada seorang di antara kamu yang dianggap ketinggalan, sekalipun janji akan masuk ke dalam perhentianNya masih berlaku.”.

Kata ‘waspada’ diterjemahkan ‘careful’ (= hati-hati) oleh NIV, tetapi KJV/RSV/NASB menterjemahkan ‘fear’ (= takut), dan memang terjemahan ini yang benar.

Fil 3:13-14 - “(13) Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, (14) dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”.

 

The Biblical Illustrator (New Testament): The cause and danger of backsliding: - I. THE CAUSE OF BACKSLIDING. Unbelief, leading to (1)      disobedience, (2)      indecision. She was perplexed between God and the world. [= Penyebab dan bahaya dari kemerosotan / kemunduran: - I. PENYEBAB DARI KEMEROSOTAN / KEMUNDURAN. Ketidak percayaan, membimbing pada (1) ketidaktaatan, (2) keragu-raguan. Ia bingung / ragu-ragu antara Allah dan dunia.].

 

Wiersbe’s Expository Outlines (Old Testament) tentang Kej 19: He must have married a worldly woman, for her heart was in Sodom and she could not bear to leave the city behind. [= Ia (Lot) pasti telah menikahi seorang perempuan duniawi, karena hatinya ada di Sodom dan ia tidak bisa tahan meninggalkan kota itu di belakang.].

 

Jelas bahwa istri Lot tak pernah percaya!

 

Pulpit Commentary: Graciously assisted. Even the urgency displayed by the angels would not have sufficed to rescue Lot, had they not extended to him and his worldly-minded partner a helping hand. Hankering after Sodom, perhaps thinking of the wealth they had to leave, the good man and his wife still lingered, and were at last only dragged forth by main force beyond the precincts of the doomed city. It reminds us that few, probably none, would ever escape from the city of destruction if Divine grace were not practically to lay hold of them and drag them forth; and even this Divine grace would not do unless the Lord were specially merciful to them, as he was to Lot. (= Ditolong secara murah hati / dengan penuh kasih karunia. Bahkan kedaruratan yang ditunjukkan oleh malaikat-malaikat tidak akan cukup untuk menyelamatkan Lot, seandainya mereka tidak mengulurkan tangan yang menolong kepada dia dan partnernya yang berpikiran duniawi. Karena sangat menginginkan Sodom, mungkin berpikir tentang kekayaan yang harus mereka tinggalkan, orang baik dan istrinya ini tetap berlambat-lambat, dan akhirnya ditarik oleh kekuatan yang besar melewati daerah dari kota yang dihukum. Itu mengingatkan kita bahwa sedikit, mungkin tidak ada, yang pernah, yang pernah lolos dari kota kehancuran, seandainya kasih karunia Ilahi tidak secara praktis memegang mereka dan menarik mereka; dan bahkan kasih karunia Ilahi ini tidak cukup, kecuali Tuhan secara khusus berbelas kasihan kepada mereka, seperti Ia kepada Lot.) - hal 258.

 

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org