Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 20 Nopember 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(17)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

h)      Maz 110:3 - “Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.”.

KJV: Thy people shall be willing in the day of thy power, in the beauties of holiness from the womb of the morning: thou hast the dew of thy youth.’ (= Umat / bangsamu akan mau pada hari kuasamu, dalam keindahan dari kekudusan dari kandungan pagi: Engkau mempunyai embun keremajaanmu).

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): Verse 3. ‘Thy people shall be willing in the day of thy power.’ This verse has been wofully perverted. It has been supposed to point out the irresistible operation of the grace of God on the souls of the elect, thereby making them willing to receive Christ as their Saviour. Now, whether this doctrine be true or false, it is not in this text, nor can it receive the smallest countenance from it. ” (= Ayat 3. ‘UmatMu / BangsaMu akan mau pada hari dari kuasaMu’. Ayat ini telah disimpangkan secara menyedihkan. Ayat ini telah dianggap menunjuk operasi / pekerjaan yang tidak bisa ditolak dari kasih karunia Allah kepada jiwa-jiwa dari orang-orang pilihan, dengan demikian membuat mereka mau untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat mereka. Apakah doktrin ini benar atau salah, itu tidak ada dalam text ini, juga doktrin itu tidak bisa menerima persetujuan yang terkecil darinya.).

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): There has been much spoken against the doctrine of what is called ‘free will’ by persons who seem not to have understood the term. ‘Will’ is a free principle. Free will’ is as absurd as ‘bound will,’ it is not ‘will’ if it be ‘not free;’ and if it be ‘bound’ it is no ‘will.’ ‘Volition’ is essential to the being of the soul, and to all rational and intellectual beings. This is the most essential discrimination between ‘matter’ and ‘spirit.’ Matter can have no choice; spirit has. Ratiocination is essential to intellect; and from these ‘volition’ is inseparable. God uniformly treats man as a free agent; and on this principle the whole of Divine revelation is constructed, as is also the doctrine of future rewards and punishments. If man be forced to believe, he believes not at all; it is the forcing power that believes, not the machine forced. If he be forced to obey, it is the forcing power that obeys; and he, as a machine, shows only the effect of this irresistible force. If man be incapable of willing good, and nilling evil, he is incapable of being saved as a rational being; and if he acts only under an overwhelming compulsion, he is as incapable of being damned.” (= Banyak pembicaraan menentang doktrin yang disebut ‘kehendak bebas’, oleh orang-orang yang kelihatannya belum mengerti istilah itu. ‘Kehendak’ adalah suatu kecenderungan yang bebas. ‘Kehendak bebas’ adalah sama menggelikannya seperti ‘kehendak yang terbelenggu’, itu bukan ‘kehendak’ jika itu ‘tidak bebas’; dan jika itu ‘terbelenggu’ itu bukan ‘kehendak’. ‘Kemauan’ adalah sesuatu yang hakiki bagi keberadaan dari jiwa, dan bagi semua makhluk-makhluk rasionil dan intelektuil. Ini adalah pembedaan yang paling hakiki antara ‘barang’ dan ‘roh’. BARANG tidak bisa mempunyai pilihan; ROH punya. Pertimbangan adalah sesuatu yang hakiki bagi intelek; dan dari ini ‘kemauan’ tidak terpisahkan. Allah secara selalu sama memperlakukan manusia sebagai seorang agen bebas; dan pada prinsip ini seluruh wahyu Ilahi didirikan, seperti juga doktrin dari pahala dan hukuman yang akan datang. Jika manusia dipaksa untuk percaya, ia tidak percaya sama sekali; adalah kuasa yang memaksa itu yang percaya, bukan mesin yang dipaksa. Jika ia dipaksa untuk mentaati, adalah kuasa yang memaksa yang mentaati; dan ia, sebagai suatu mesin, hanya menunjukkan hasil / akibat dari kekuatan yang tak dapat ditolak. Jika manusia tidak mampu untuk menghendaki yang baik, dan menolak yang jahat, ia tidak bisa diselamatkan sebagai makhluk rasionil; dan jika ia bertindak hanya di bawah suatu paksaan yang sangat besar, ia sama tidak bisanya untuk dihukum.).

Catatan:

1.   Bagian yang saya garis-bawahi itu apa nggak salah? Adam Clarke mengatakan: Free will’ is as absurd as ‘bound will,’” (= ‘Kehendak bebas’ adalah sama menggelikannya seperti ‘kehendak yang terbelenggu’,).

Bagaimana ia bisa menganggap kehendak bebas sama menggelikannya dengan kehendak yang terbelenggu? Saya tidak mengerti bagaimana Clarke bisa mengucapkan kalimat itu.

2.   Perhatikan bahwa di sini, sebelum Adam Clarke memberikan exegesis dari ayat ini, atau menguraikan arti ayat ini, ia sudah lebih dulu memberikan doktrinnya tentang kehendak bebas. Sukar dibayangkan bahwa ia akan bisa menafsir secara fair, kalau pemikirannya sudah ditetapkan lebih dulu.

3.   Dalam doktrinnya tentang ‘free will’ / kehendak bebas, ia mengatakan bahwa kalau orang tidak mempunyai kehendak bebas, atau kalau kehendak bebasnya terbelenggu, maka orang itu menjadi barang / mesin dan sebagainya.

4.   Dua kali Adam Clarke menggunakan kata-kata ‘be forced’ (= dipaksa). Jelas ia menganggap bahwa kalau Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) benar, maka itu berarti kehendak bebas hilang, dan orangnya dipaksa untuk percaya. Padahal Calvinisme tidak mengajarkan seperti itu.

 

Sekarang mari kita lihat lanjutan kata-kata Adam Clarke tentang ayat ini.

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): ‘But if the text supports the doctrine laid upon it, vain are all these reasonings.’ Granted. Let us examine the text.” (= ‘Tetapi jika textnya mendukung doktrin yang diletakkan di atasnya, sia-sia semua pertimbangan / pemikiran ini’. Setuju. Mari kita memeriksa textnya.).

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): “The Hebrew words are the following: עמך נדבת ביום צילך ammecha nedaboth beyom cheylecha, which literally translated are, Thy princely people, or free people, in the day of thy power; and are thus paraphrased by the Chaldee: ‘Thy people, O house of Israel, who willingly labour in the law, thou shalt be helped by them in the day that thou goest to battle.’

The Syriac has: ‘This praiseworthy people in the day of thy power.’

The Vulgate: ‘With thee is the principle or origin (principium) in the day of thy power.’ And this is referred, by its interpreters, to the Godhead of Christ; and they illustrate it by Joh 1:1: In principio erat Verbum, ‘In the beginning was the Word.’

The Septuagint is the same; and they use the word as St. John has it in the Greek text: μετα σου η αρχη εν ημερα της δυναμεως σου ‘With thee is the Arche, or principle, in the day of thy power.’

The Æthiopic is the same; and the Arabic nearly so, but rather more express: ‘The government, (Arabic) riasat, exists with thee in the day of thy power.’

The Anglo-Saxon, (A.S.). ‘With thee the principle in day of thy greatness.’

The old Psalter, With the begynnyngs in day of thi vertu. Which it thus paraphrases: ‘I, the fader begynnyng with the, begynnyng I and thou, an begynnyng of al thyng in day of thi vertu.’

Coverdale thus: ‘In the day of thy power shal my people offre the free-will offeringes with a holy worship.’ So Tindal, Cardmarden, Beck, and the Liturgic Version.

The Bible printed by Barker, the king’s printer, 4to. Lond. 1615, renders the whole verse thus: ‘Thy people shall come willingly at the time of assembling thine army in the holy beauty; the youth of thy womb shall be as the morning dew.’

By the authors of the Universal History, vol. 3., p. 223, the whole passage is thus explained: ‘The Lord shall send the rod, or sceptre, of thy power out of Sion,’ i.e., out of the tribe of Judah: compare Ge 49:20, and Ps 78:68. ‘Rule thou over thy free-will people;’ for none, but such are fit to be Christ’s subjects: See Mt 11:29. ‘In the midst of thine enemies,’ Jews and heathens; or, in a spiritual sense, the world, the flesh, and the devil. ‘In the day of thy power,’ i.e., when all power shall be given him, both in heaven and earth; Mt 28:18. ‘In the beauties of holiness,’ which is the peculiar characteristic of Christ’s reign, and of his religion.” (= ).

Catatan: saya tak menterjemahkan kata-kata Clarke di atas ini karena ia hanya memberikan terjemahan-terjemahan dari bermacam-macam versi, yang bagi saya tak mempunyai argumentasi apapun berkenaan dengan hal yang sedang kita persoalkan.

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): None of the ancient Versions, nor of our modern translations, give any sense to the words that countenances the doctrine above referred to; it merely expresses the character of the people who shall constitute the kingdom of Christ. נדב nadab signifies to be free, liberal, willing, noble; and especially liberality in bringing offerings to the Lord, Ex 25:2; 35:21,29. And נדיב nadib signifies a nobleman, a prince, Job 21:8; and also liberality. נדבה nedabah signifies a free-will offering - an offering made by superabundant gratitude; one not commanded: see Ex 36:3; Le 7:16, and elsewhere. Now the עם נדבות am nedaboth is the people of liberality - the princely, noble, and generous people; Christ’s real subjects; his own children, who form his Church, and are the salt of the world; the bountiful people, who live only to get good from God that they may do good to man. Is there, has there ever been, any religion under heaven that has produced the liberality, the kindness, the charity, that characterize Christianity? Well may the followers of Christ be termed the am nedaboth - the cheerfully beneficent people. They hear his call, come freely, stay willingly, act nobly, live purely, and obey cheerfully.” (= Tidak ada dari versi-versi kuno, ataupun terjemahan-terjemahan modern kita, memberikan arti apapun pada kata-kata yang menyetujui / mendukung doktrin yang ditunjuk di atas; itu semata-mata menyatakan karakter dari orang-orang / bangsa yang akan membentuk kerajaan Kristus. נדב nadab berarti bebas, royal, mau / rela, mulia; dan khususnya keroyalan dalam membawa persembahan kepada Tuhan, Kel 25:2; 35:21,29. Dan נדיב NADIB berarti seorang bangsawan, seorang pangeran, Ayub 21:8; dan juga keroyalan. נדבה nedabah berarti suatu persembahan sukarela - suatu persembahan yang dibuat oleh rasa terima kasih yang sangat berlimpah-limpah; suatu persembahan yang tidak diperintahkan: lihat Kel 36:3; Im 7:16, dan di tempat lain. Lalu עם נדבות am nedaboth adalah orang-orang dari keroyalan - orang-orang seperti bangsawan, mulia, dan murah hati; orang-orang yang benar-benar tunduk kepada Kristus; anak-anakNya sendiri, yang membentuk Gereja, dan adalah garam dunia; orang-orang yang murah hati, yang hidup hanya untuk mendapat yang baik dari Allah supaya mereka bisa berbuat baik kepada manusia. Apakah pernah ada, agama apapun di bawah langit yang telah menghasilkan kemurahan hati, kebaikan, kasih, yang menjadi ciri dari kekristenan? Para pengikut Kristus bisa dengan baik / benar disebut AM NEDABOTH - orang-orang yang bersifat dermawan dengan sukacita. Mereka mendengar panggilanNya, datang dengan bebas, tetap tinggal dengan sukarela, bertindak secara mulia, hidup secara murni, dan mentaati dengan sukacita.).

Catatan: sampai titik ini saya berpendapat Adam Clarke tidak memberi argumentasi apapun untuk menentang Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Calvinist yang mempercayai Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), memang juga percaya bahwa orang-orang itu akan mau / secara sukarela menerima Kristus. Persoalannya adalah: orang-orang itu mau dari dirinya sendiri, atau karena pekerjaan Roh Kudus dalam diri mereka?

 

Adam Clarke (tentang Maz 110:3): The day of Christ’s power is the time of the Gospel, the reign of the Holy Spirit in the souls of his people. Whenever and wherever the Gospel is preached in sincerity and purity, then and there is the day or time of Christ’s power. It is the time of his exaltation. The days of his flesh were the days of his weakness; the time of his exaltation is the day of his power.” (= Hari dari kuasa Kristus adalah saat dari Injil, pemerintahan dari Roh Kudus dalam jiwa-jiwa dari umat / bangsaNya. Kapanpun dan dimanapun Injil diberitakan dengan ketulusan dan kemurnian, pada saat itu dan disana adalah hari atau waktu dari kuasa Kristus. Itu adalah waktu / saat dari pemuliaanNya. Hari-hari dari dagingNya adalah hari-hari dari kelemahanNya; waktu dari pemuliaanNya adalah hari dari kuasaNya.).

Catatan: ini justru adalah bagian vital dari ayat ini. Dan Clarke hanya mengatakan bahwa ini adalah hari dari Injil / saat dimana Injil diberitakan. Lalu mengapa ada orang yang percaya dan ada orang yang tidak percaya? Apakah bukan kuasa Kristus di sini yang membuat orang-orang tertentu menjadi percaya dan menjadi mau / sukarela (untuk berperang)?

 

Matthew Henry (tentang Maz 110:3): There is a general power which goes along with the gospel to all, proper to make them willing to be Christ’s people, arising from the supreme authority of its great author and the intrinsic excellency of the things themselves contained in it, besides the undeniable miracles that were wrought for the confirmation of it. And there is also a particular power, the power of the Spirit, going along with the power of the word, to the people of Christ, which is effectual to make them willing. The former leaves sinners without matter of excuse; this leaves saints without matter of boasting. Whoever are willing to be Christ’s people, it is the free and mighty grace of God that makes them so. (= Ada suatu kuasa umum yang berjalan / pergi bersama-sama dengan injil kepada semua orang, cocok untuk membuat mereka mau untuk menjadi umat Kristus, muncul dari otoritas tertinggi dari penciptanya yang agung dan keunggulan hakiki dari hal-hal itu sendiri ada di dalamnya, disamping mujijat-mujijat yang tak bisa disangkal yang dikerjakan untuk peneguhannya. Dan disana juga ada suatu kuasa khusus, kuasa dari Roh, pergi / berjalan dengan kuasa dari firman, kepada umat Kristus, yang efektif untuk membuat mereka mau. Yang pertama menyebabkan orang-orang berdosa tak punya dalih; yang ini menyebabkan orang-orang kudus tak punya alasan untuk bermegah. Siapapun yang mau untuk menjadi umat Kristus, adalah kasih karunia Allah yang cuma-cuma / gratis dan kuat yang membuat mereka demikian.).

 

Spurgeon (tentang Maz 110:3): In consequence of the sending forth of the rod of strength, namely, the power of the Gospel, out of Zion, converts will come forward in great numbers to enlist under the banner of the Priest-King. Given to him of old, they are his people, and when his power is revealed, these hasten with cheerfulness to own his sway, appearing at the Gospel call as it were spontaneously, just as the dew comes forth in the morning. (= Sebagai konsekwensi dari pengiriman tongkat kekuatan, yaitu, kuasa dari Injil, dari Sion, petobat-petobat akan maju dalam jumlah besar untuk mendaftar di bawah panji dari Raja-Imam. Karena diberikan kepadaNya dari dulu, mereka adalah umatNya, dan pada waktu kuasaNya dinyatakan, orang-orang ini dengan sukacita cepat-cepat / terburu-buru untuk memiliki kekuasaan / pengaruhNya, muncul pada panggilan Injil seakan-akan secara spontan, sama seperti embun muncul di pagi hari.).

Maz 110:2-3 - “(2) Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu! (3) Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.”.

 

Tak ada yang istimewa dari kata-kata Spurgeon ini, dan saya memberikan di sini hanya untuk menunjukkan bahwa ia juga menggunakan ayat ini untuk mendukung Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

 

Calvin (tentang Maz 110:3): “Thy people shall come. In this verse the Psalmist sets forth the honors of Christ’s kingdom in relation to the number of his subjects, and their prompt and cheerful obedience to his commands. The Hebrew term, which he employs, frequently denotes voluntary oblations; but, in the present case, it refers to the chosen people, those who are truly Christ’s flock; declaring that they shall be a willing people, spontaneously and cheerfully consecrating themselves to his service. At the time of the assembling of thine army, that is to say, as often as there shall be a convening of solemn and lawful assemblies, or the king shall desire an account of his people; which may be expressed in French, au jour des montres, - in the day of the review. Others render it, in the day of thy power; but the former is preferable, for when Christ shall wish to assemble his people, immediately they will yield a prompt obedience, without being forcibly constrained to it.” (= ‘Orang-orangMu / umatMu akan datang’. Dalam ayat ini sang pemazmur menyatakan kehormatan dari kerajaan Kristus dalam hubungan dengan jumlah dari orang-orang yang ada di bawah otoritasNya, dan dengan ketaatan mereka yang segera dan sukacita pada perintah-perintahNya. Istilah Ibraninya, yang ia gunakan, seringkali menunjukkan persembahan / korban sukarela; tetapi dalam kasus saat ini, itu menunjuk kepada orang-orang pilihan, mereka yang sungguh-sungguh adalah kawanan domba Kristus; menyatakan bahwa mereka akan menjadi orang-orang yang mau, dengan spontan dan sukacita membaktikan diri mereka sendiri pada pelayanan untukNya. Pada saat pengumpulan tentaraMu, artinya, sesering di sana ada suatu panggilan untuk perkumpulan yang khidmat dan sah, atau sang raja menginginkan suatu laporan dari umat / orang-orangNya; yang bisa dinyatakan dalam bahasa Perancis, au jour des montres, - pada hari dari peninjauan / pemeriksaan. Orang-orang lain menterjemahkannya, ‘pada hari dari kuasaMu’; tetapi yang terdahulu lebih dipilih, karena pada saat Kristus ingin mengumpulkan umatNya, dengan segera mereka akan menyerahkan suatu ketaatan langsung, tanpa dipaksa dengan kekerasan padanya.).

Catatan: kelihatannya Calvin tidak mengarahkan ini pada Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak), karena ia membicarakan orang-orang yang sudah percaya, yang akan mau mentaati pada saat ada panggilan.

 

Barnes’ Notes (tentang Maz 110:3): ‘Thy people.’ All who are given to thee; all over whom thou art to rule. This verse has been variously translated. The Septuagint renders it, ‘With thee is the beginning in the day of thy power, in the splendor of thy saints, from the womb, before the light of the morning have I begotten thee.’ So the Latin Vulgate. Luther renders it, ‘After thy victory shall thy people willingly bring an offering to thee, in holy adorning: thy children shall be born to thee as the dew of the morning.’ DeWette, ‘Willingly shall thy people show themselves to thee on the day of the assembling of thy host in holy adorning, as from the womb of the morning, thy youth (vigor) shall be as the dew.’ Prof. Alexander, ‘Thy people (are) free-will offerings in the day of thy power, in holy decorations, from the womb of the dawn, to thee (is) the dew of thy youth.’ [= ].

Catatan: yang ini tidak saya terjemahkan karena Barnes hanya memberikan macam-macam terjemahan untuk ayat ini.

 

Barnes’ Notes (tentang Maz 110:3): Every clause of the verse is obscure, though the general idea is not difficult to perceive; - that, in the day of Messiah’s power, his people would willingly offer themselves to him, in holy robes or adorning, like the glittering dew of the morning; - or, in numbers that might be compared with the drops of the morning dew. The essential ideas are (1) that he would have a ‘people;’ (2) that their subjection to him would be a ‘willing’ subjection; (3) that this would be accomplished by his ‘power;’ .... [= Setiap anak kalimat dari ayat ini kabur artinya, sekalipun gagasan umum tidak sukar untuk dimengerti; - bahwa pada hari dari kuasa Mesias, umatNya akan dengan sukarela mempersembahkan diri mereka sendiri kepadaNya, dalam jubah-jubah kudus atau indah, seperti embun yang gemerlapan dari pagi hari; - atau, dalam jumlah yang bisa dibandingkan dengan titik-titik dari embun pagi. Gagasan-gagasan hakikinya adalah (1) bahwa Ia akan mempunyai suatu ‘umat’; (2) bahwa ketundukan mereka kepadaNya akan merupakan ketundukan yang ‘sukarela’; (3) bahwa ini akan dicapai oleh ‘kuasa’Nya; ...].

 

Barnes’ Notes: ‘Shall be willing.’ ... The idea is that of freeness; of voluntariness; of doing it from choice, doing it of their own will. They did it in the exercise of freedom. There was no compulsion; no constraint. Whatever ‘power’ there was in the case, was to make them ‘willing,’ not to compel them to do a thing against their will. That which was done, or that which is here intended to be described as having been done, is evidently the act of devoting themselves to him who is here designated as their Ruler - the Messiah. The allusion may be either (a) to their devoting themselves to him in conversion, or becoming his; (b) to their devoting themselves to his service - as soldiers do in war; or (c) to their devoting their time, wealth, talents, to him in lives consecrated to him. Whatever there is as the result of his dominion over them is ‘voluntary’ on their part. There is no compulsion in his religion. Men are not constrained to do what they are unwilling to do. All the power that is exerted is on the will, disposing men to do what is right, and what is for their own interest. No man is forced to go to heaven against his will; no man is saved from hell against his will; no man makes a sacrifice in religion against his will; no man is compelled to serve the Redeemer in any way against his will. The acts of religion are among the most free that men ever perform; and of all the hosts of the redeemed no one will ever say that the act of his becoming a follower of the Redeemer was not perfectly voluntary. He chose - he professed - to be a friend of God, and he never saw the time when he regretted the choice. ‘In the day of thy power.’ The power given to the Messiah to accomplish the work of his mission; the power to convert men, and to save the world. Matt. 28:18; 11:27; John 17:2. This implies (a) that power would be employed in bringing men to submit to him; and (b) that there would be a fixed time when that power would be put forth. Still, it is power which is not inconsistent with freedom. It is power exerted in making men ‘willing,’ not in ‘compelling’ or ‘forcing’ them to submit to him. There is a power which may be exerted over the will consistent with liberty, and that is the power which the Messiah employs in bringing men to himself. [= ‘Akan mau’. ... Gagasannya adalah gagasan tentang kebebasan; atau kesukarelaan; tentang melakukan itu dari pilihan, melakukan itu dari kehendak mereka sendiri. Mereka melakukan itu dalam penggunaan kebebasan. Disana tidak ada keharusan / tekanan atau pemaksaan. ‘Kuasa’ apapun yang ada disana dalam kasus itu, akan membuat mereka ‘mau’, tidak / bukan memaksa mereka untuk melakukan sesuatu bertentangan dengan kehendak mereka. Hal yang telah dilakukan, atau hal yang di sini dimaksudkan untuk digambarkan sebagai telah dilakukan, jelas adalah tindakan membaktikan diri mereka sendiri kepada Dia yang di sini ditunjuk / digambarkan sebagai Penguasa / Pemerintah mereka - sang Mesias. Kiasan ini bisa adalah, atau (a) menunjuk pada pembaktian diri mereka sendiri kepada Dia dalam pertobatan, atau menjadi milikNya; (b) menunjuk pada pembaktian diri mereka sendiri pada pelayanan untukNya - seperti yang tentara-tentara lakukan dalam perang; atau (c) menunjuk pada pembaktian mereka akan waktu, kekayaan, talenta mereka, kepadaNya dalam kehidupan-kehidupan yang dipersembahkan kepadaNya. Apapun yang ada disana sebagai akibat / hasil dari kekuasaanNya atas mereka adalah ‘sukarela’ di pihak mereka. Tidak ada pemaksaan dalam agamaNya. Orang-orang tidak dipaksa untuk melakukan apa yang mereka tidak ingin lakukan. Semua kuasa yang digunakan adalah pada kehendak, mencondongkan orang-orang untuk melakukan apa yang benar, dan apa yang adalah untuk kepentingan mereka sendiri. Tak ada orang yang dipaksa untuk pergi ke surga bertentangan dengan kehendaknya; tak ada orang yang diselamatkan dari neraka bertentangan dengan kehendaknya; tak ada orang yang dipaksa untuk melayani sang Penebus dengan cara apapun bertentangan dengan kehendaknya. Tindakan-tindakan dari agama adalah di antara yang paling bebas yang orang-orang pernah lakukan; dan dari semua tentara dari orang-orang yang telah ditebus, tak seorangpun akan pernah mengatakan bahwa tindakannya menjadi seorang pengikut dari sang Penebus tidak sukarela secara sempurna. Ia memilih - ia mengaku - sebagai / menjadi seorang sahabat Allah, dan ia tidak pernah melihat saat dimana ia menyesalkan pemilihan itu. ‘Pada hari dari kuasaNya’. Kuasa diberikan kepada sang Mesias untuk menyelesaikan pekerjaan dari missiNya; kuasa untuk mempertobatkan orang-orang, dan untuk menyelamatkan dunia. Mat 28:18; 11:27; Yoh 17:2. Ini secara implicit menunjukkan (a) bahwa kuasa akan digunakan dalam membawa orang-orang untuk tunduk kepadaNya; dan (b) bahwa disana akan ada suatu saat yang pasti pada waktu kuasa itu akan dikeluarkan. Tetap, itu adalah kuasa yang bukannya tidak konsisten dengan kebebasan. Itu adalah kuasa yang digunakan untuk membuat orang-orang ‘mau’, bukan untuk memaksa mereka untuk tunduk kepadaNya. Disana ada suatu kuasa yang bisa digunakan atas kehendak yang konsisten dengan kebebasan, dan itu adalah kuasa yang sang Mesias gunakan dalam membawa orang-orang kepada diriNya sendiri.].

 

Catatan: kalau orang dibawa ke surga, atau dilepaskan dari neraka, atau dibawa untuk percaya kepada Yesus, maka itu memang pasti secara sukarela. Tetapi kalau untuk pelayanan, tidak selalu demikian. Misalnya Musa dan Yeremia mula-mula keberatan, tetapi mereka didesak, sehingga akhirnya tunduk. Tetapi yang paling menyolok adalah Yunus, yang memang dipaksa untuk melakukan pelayanan, yang tidak ia inginkan, ke Niniwe.

 

Catatan: setelah membahas penafsiran-penafsiran tentang Maz 110:3 ini, karena adanya bermacam-macam terjemahan, dan bermacam-macam penafsiran, maka saya menganggap bahwa sekalipun ayat ini tidak menentang, tetapi ayat ini juga tidak terlalu pasti mendukung doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Dan karena itu, dalam perdebatan, saya tidak menganjurkan saudara untuk menggunakan ayat ini sebagai dasar dari doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Banyak ayat lain yang sudah kita pelajari, yang mendukung doktrin Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) secara lebih pasti dan lebih kuat.

 

Catatan: saya ingin memberikan penjelasan tentang buku tafsiran yang disebut Barnes’ Notes yang sering sekali saya gunakan. Baru beberapa hari yang lalu (Nopember 2013), saya mengetahui bahwa buku tafsiran ini tidak semuanya ditulis oleh Albert Barnes sendiri. Kalau tafsiran tentang kitab-kitab Perjanjian Baru memang Barnes sendiri yang menulisnya, tetapi dari kitab-kitab Perjanjian Lama, hanya Ayub, Mazmur, Yesaya dan Daniel yang ditulis oleh Barnes sendiri, sedangkan tafsiran kitab-kitab lain dari Perjanjian Lama, diberikan oleh bermacam-macam orang. Itu sebabnya dalam tafsiran kitab Kejadian, bukunya berbeda total dengan yang ada dalam PC Study Bible 5. Jadi, pasti digantikan. Karena bukunya sudah keluar lama sebelum jaman komputer, maka pasti yang di PC Study Bible 5 itu yang lebih baru.

 

Penjelasan ini perlu diperhatikan dalam semua tulisan saya pada waktu saya memberikan kutipan-kutipan dari Barnes’ Notes, khususnya dari Perjanjian Lama.

 

Tetapi karena di sini kita mempersoalkan ayat dalam Mazmur, maka ini adalah penafsiran Albert Barnes sendiri.

 

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org