Golgotha School of Ministry

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Rabu, tgl 24 Juli 2013, pk 19.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(7)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

Barnes’ Notes (tentang Ibr 12:2): The word ‘author’ - ‎archeegon - (marg. beginner) - means properly the source, or cause of anything; or one who makes a beginning. ... The phrase ‘the beginner of faith,’ or the leader on of faith, would express the idea. He is at the head of all those who have furnished an example of confidence in God, for he was himself the most illustrious instance of it. The expression, then, does not mean properly that he produces faith in us, or that we believe because he causes us to believe - whatever may be the truth about that - but that he stands at the head as the most eminent example that can be referred to on the subject of faith. ... The word ‘finisher’ - ‎teleiooteen - corresponds in meaning with the word ‘author.’ It means that he is the completer as well as the beginner; the last as well as the first. [= Kata ‘pencipta’ - ARKHEGON - (catatan tepi - pemulai) - secara tepat berarti sumber, atau penyebab dari apapun; atau seseorang yang membuat suatu pemulaian. ... Ungkapan ‘pemulai dari iman’, atau pemimpin dari iman, menyatakan gagasan / artinya. Ia adalah kepala dari semua mereka, yang telah memberikan suatu teladan tentang keyakinan kepada Allah, karena Ia sendiri adalah contoh yang paling menonjol darinya. Maka, ungkapan itu secara tepat tidak berarti bahwa Ia menghasilkan iman di dalam kita, atau bahwa kita percaya karena Ia menyebabkan kita untuk percaya - apapun adanya kebenaran tentang itu - tetapi bahwa Ia berdiri sebagai kepala seperti contoh yang paling menonjol yang bisa ditunjukkan dalam persoalan tentang iman. ... Kata ‘penyelesai’ - TELEIOTEN - sesuai / cocok dalam arti dengan kata ‘pencipta’. Itu berarti bahwa Ia adalah penyempurna maupun pemulai; yang terakhir maupun yang pertama.].

Catatan: saya hanya menekankan bagian yang saya garis-bawahi. Bagian tengah dari kutipan kata-kata Barnes ini bagi saya sangat tidak masuk akal, dan bertentangan dengan bagian yang saya garis-bawahi. Itu juga secara tepat sudah dibantah oleh kata-kata Lenski di atas, maupun oleh kata-kata Abraham Kuyper di bawah ini.

 

Abraham Kuyper: Hence it may not be said that Jesus had saving faith. For Jesus was no sinner, and therefore could not have ‘that assured confidence that not only to others, but to Him also, was given the righteousness of the Mediator.’ We have only to connect the name of Jesus with the clear and transparent description of saving faith by the Heidelberg Catechism to show how foolish it is for the Ethical theologians to explain the words, ‘Jesus, the Author and Finisher of our faith,’ as tho He had saving faith like every child of God. Hence saving faith is unthinkable in heaven. Faith is saving; and he that is saved has obtained the end of faith. He no longer walks by faith, but by sight. It should therefore be thoroughly understood that saving faith refers only to the sinner, and that Christ in the garments of the Sacred Scripture is its only object. (= Maka tidak bisa / tidak boleh dikatakan bahwa Yesus mempunyai iman yang menyelamatkan. Karena Yesus bukan orang berdosa, dan karena itu tidak bisa mempunyai ‘keyakinan yang pasti itu yang bukan hanya kepada orang-orang lain, tetapi kepada Dia juga, diberikan kebenaran dari sang Pengantara.’ Kita hanya harus menghubungkan nama Yesus dengan penggambaran yang jelas dan nyata tentang iman yang menyelamatkan oleh Katekismus Heidelberg untuk menunjukkan betapa bodohnya bagi ahli-ahli theologia Etika untuk menjelaskan kata-kata ‘Yesus, Pencipta dan Penyelesai dari iman kita’ seakan-akan Ia mempunyai iman yang menyelamatkan seperti setiap anak Allah. Jadi, iman yang menyelamatkan merupakan sesuatu yang tak terpikirkan di surga. Iman itu menyelamatkan; dan ia yang sudah selamat (maksudnya ‘sudah masuk surga’) telah memperoleh tujuan dari iman. Ia tidak lagi berjalan dengan iman, tetapi dengan penglihatan. Karena itu, harus dimengerti secara teliti / sepenuhnya bahwa iman yang menyelamatkan hanya menunjuk kepada orang berdosa, dan bahwa Kristus dalam pakaian dari Kitab Suci yang Kudus adalah satu-satunya obyeknya.) - ‘The Work of the Holy Spirit’, hal 397.

Ro 8:24 - “Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?.

Ibr 11:1 - Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”.

Dari dua ayat di atas jelaslah bahwa kalau kita sudah di surga, dan sudah melihat semuanya, maka tidak ada lagi iman!

 

John Owen (tentang Ibr 12:2): “he works it in us, or bestows it on us, by his Spirit, in the beginning and all the increases of it from first to last. Hence his disciples prayed unto him, ‘Lord, increase our faith,’ Luke 17:5. ... So he is the ‘author’ or beginner of our faith, in the efficacious working of it in our hearts by his Spirit; and ‘the finisher’ of it in all its effects, in liberty, peace, and joy, and all the fruits of it in obedience: for ‘without him we can do nothing.’” [= Ia mengerjakannya (iman) di dalam kita, atau memberikannya kepada kita, oleh RohNya, pada mulanya / awalnya dan semua peningkatannya / pertumbuhannya dari pertama sampai akhir. Karena itu murid-muridNya berdoa kepadaNya, ‘Tuhan, tambahkanlah iman kami’, Luk 17:5. ... Jadi, Ia adalah ‘pencipta’ atau pemulai dari iman kita, dalam pekerjaan yang mujarab tentangnya dalam hati kita oleh RohNya; dan ‘penyelesai’ darinya dalam semua hasil-hasilnya, dalam kebebasan, damai, dan sukacita, dan semua buah-buah darinya dalam ketaatan: karena ‘tanpa Dia / di luar Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa’.] - ‘Hebrew 12’, hal 25-26 (AGES).

Luk 17:5 - “Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: Tambahkanlah iman kami!.

Yoh 15:5 - “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”.

 

John Owen (tentang Ibr 12:2): “‘the author and finisher of our faith.’ - He both begins it in us, and carries it on unto perfection.” [= ‘pencipta dan penyelesai dari iman kita’ - Ia memulainya di dalam kita, dan meneruskannya / melanjutkannya sampai pada kesempurnaan.] - ‘Hebrew 12’, hal 27 (AGES).

 

5.  2Kor 4:13 - “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”.

 

Adam Clarke (tentang 2Kor 4:13): “‘We having the same spirit of faith.’ As David had when he wrote Ps 116:10: ‘I believed, therefore have I spoken’: we also believe that we shall receive the fulfilment of all God’s promises; and being fully convinced of the truth of the Christian religion, we speak and testify that our deliverance is from God; and that he does not fail those who trust in him; and that he saves to the uttermost them who come unto him through Christ Jesus. (= ‘Kamu mempunyai roh iman yang sama’. Seperti yang Daud punyai ketika ia menulis Maz 116:10: ‘Aku percaya, karena aku telah berbicara’: kita juga percaya bahwa kita akan menerima penggenapan dari semua janji-janji Allah; dan karena sepenuhnya diyakinkan tentang kebenaran dari agama Kristen, kita berbicara dan menyaksikan bahwa pembebasan kita adalah dari Allah; dan bahwa Ia tidak meninggalkan / mengecewakan mereka yang percaya kepadaNya; dan bahwa Ia menyelamatkan sampai akhir mereka yang datang kepadaNya melalui Yesus Kristus.).

Catatan:

a. Maz 116:10 - Aku percaya, sekalipun aku berkata: ‘Aku ini sangat tertindas.’”.

KJV: ‘I believed, therefore have I spoken’ (= Aku percaya, karena itu aku telah berbicara).

RSV: ‘I kept my faith, even when I said,’ (= Aku memelihara imanku, bahkan / yaitu pada waktu aku berkata,).

NIV: ‘I believed; therefore I said’ (= Aku percaya; karena itu aku berkata).

NASB: ‘I believed when I said,’ (= Aku percaya pada waktu aku berkata).

b. Adam Clarke sama sekali tak menyinggung arti dari kata-kata ‘spirit of faith’ / ‘roh iman’! Dan kata-katanya pada bagian akhir membuat saya heran, bagaimana dengan mengatakan kata-kata seperti itu ia bisa percaya bahwa keselamatan bisa hilang.

 

Calvin (tentang 2Kor 4:13): “By metonymy, he gives the name of ‘the spirit of faith’ to faith itself, because it is a gift of the Holy Spirit.” (= Oleh suatu metonymy, ia memberikan sebutan ‘roh iman’ kepada iman itu sendiri, karena itu adalah suatu karunia dari Roh Kudus.).

Catatan: kata ‘metonymy’ berarti ‘use of the name of one thing for that of another assossiated with or suggested by it’ (= penggunaan nama / sebutan dari satu hal untuk untuk hal yang lain yang berhubungan dengannya atau dikesankan ditunjukkan secara tak langsung olehnya) - ‘Webster’s New World Dictionary’.

 

Charles Hodge (tentang 2Kor 4:13): “‘That same spirit of faith.’Spirit of faith’ may be a way of saying faith itself, or the word ‘spirit’ may refer to ‘the human spirit,’ and the whole would then mean, ‘having the same believing spirit.’ It is more in accordance with scriptural usage, and especially with Paul’s manner, to make ‘spirit’ refer to ‘the Holy Spirit,’ who is so often designated from the effects that he produces. (= ‘Roh iman yang sama itu’. ‘Roh iman’ bisa menjadi suatu cara untuk mengatakan ‘iman itu sendiri’, atau kata ‘roh’ bisa menunjuk pada ‘roh manusia’, dan maka seluruhnya akan berarti ‘mempunyai roh percaya yang sama’. Adalah lebih sesuai dengan penggunaan yang Alkitabiah, dan khususnya dengan cara Paulus, untuk membuat ‘roh’ menunjuk kepada ‘Roh Kudus’, yang begitu sering ditunjukkan / disebutkan dari hasil / akibat yang Ia hasilkan.).

 

Hodge lalu memberi beberapa contoh:

a. Roh Kudus disebut ‘Roh ke-anak-an’.

Ro 8:15 - “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’”.

KJV: ‘the Spirit of adoption’ (= Roh adopsi).

RSV: ‘the spirit of sonship’ (= roh ke-anak-an).

NIV: ‘the Spirit of sonship’ (= Roh ke-anak-an).

NASB: ‘a spirit of adoption’ (= suatu roh adopsi).

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘adoption’ / ‘sonship’ adalah HUIOTHESIAS, yang berarti ‘pengadopsian sebagai anak’ (Bible Works 7).

b. Roh Kudus disebut ‘Roh hikmat’.

Ef 1:17 - “dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.”.

c. Roh Kudus disebut ‘Roh kasih karunia’.

Ibr 10:29 - “Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?”.

d. Roh Kudus disebut ‘Roh kemuliaan’.

1Pet 4:14 - “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”.

Untuk ayat yang terakhir ini saya merasa tidak tepat penggunaannya, karena saya beranggapan bahwa ‘Roh Kemuliaan’ bukan berarti ‘Roh yang memberi kemuliaan’ tetapi ‘Roh yang mulia’. Bandingkan dengan istilah ‘The Lord of glory’ bagi Yesus dalam 1Kor 2:8, yang jelas berarti ‘Tuhan yang mulia’.

 

Jadi, kalau Roh Kudus disebut ‘Roh iman’, itu menunjukkan bahwa Ia adalah pemberi / penyebab dari iman itu.

 

6.  Yoh 1:12-13 - “(12) Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; (13) orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.”.

 

Adam Clarke (tentang Yoh 1:13): “‘Which were born, not of blood.’ Who were regenerated, ‎ouk ‎ex ‎haimatoon, not of bloods - the union of father and mother, or of a distinguished or illustrious ancestry; for the Hebrew language makes use of the plural to point out the dignity or excellence of a thing: and probably by this the evangelist intended to show his countrymen, that having Abraham and Sarah for their parents would not entitle them to the blessings of the new covenant; as no man could lay claim to them, but in consequence of being born of God; therefore, neither the will of the flesh - anything that the corrupt heart of man could purpose or determine in its own behalf; nor the will of man - anything that another may be disposed to do in our behalf, can avail here; this new birth must come through the will of God - through his own unlimited power and boundless mercy, prescribing salvation by Christ Jesus alone. It has been already observed that the Jews required circumcision, baptism, and sacrifice, in order to make a proselyte. They allow that the Israelites had in Egypt cast off circumcision, and were consequently out of the covenant; but at length they were circumcised, and they mingled the blood of circumcision with the blood of the paschal lamb, and from this union of bloods they were again made the children of God. See Lightfoot. This was the only way by which the Jews could be made the sons of God; but the evangelist shows them that, under the Gospel dispensation, no person could become a child of God, but by being spiritually regenerated.” (= ‘Yang diperanakkan, bukan dari darah’. Yang dilahirbarukan, OUK EX HAIMATON, ‘bukan dari darah-darah’ - persatuan dari ayah dan ibu, atau dari suatu keturunan yang terhormat / terkemuka atau termasyhur; karena bahasa Ibrani menggunakan bentuk jamak untuk menunjukkan kewibawaan atau keunggulan dari sesuatu: dan mungkin oleh hal ini sang penginjil bermaksud untuk menunjukkan bahwa mempunyai Abraham dan Sara sebagai orang tua / nenek moyang mereka tidak akan membuat mereka berhak atas berkat-berkat dari perjanjian baru; karena tak ada orang yang bisa meletakkan claim kepada mereka, tetapi sebagai konsekwensi dari kelahiran dari Allah; karena itu, bukan karena kehendak dari daging - apapun yang hati yang jahat dari manusia bisa rencanakan atau putuskan untuk kepentingannya sendiri; juga bukan dari kehendak manusia / orang laki-laki - apapun yang orang lain bisa / mungkin tentukan untuk lakukan demi kepentingan kita, bisa berguna di sini; kelahiran baru ini harus datang melalui kehendak Allah - melalui kuasaNya sendiri yang tak terbatas dan belas kasihanNya yang tak terbatas, menentukan keselamatan oleh Yesus Kristus saja. Telah pernah diamati bahwa orang-orang Yahudi menuntut / mensyaratkan sunat, baptisan, dan korban, untuk membuat seorang proselit. Mereka mengijinkan bahwa orang Israel di Mesir telah membuang sunat, dan sebagai akibatnya ada di luar perjanjian; tetapi akhirnya mereka disunat, dan mereka mencampur darah dari sunat dengan darah dari domba Paskah, dan dari persatuan darah-darah ini mereka dibuat lagi menjadi anak-anak Allah. Lihat Lighfoot. Ini adalah satu-satunya cara dengan mana orang-orang Yahudi bisa dibuat menjadi anak-anak Allah; tetapi sang penginjil menunjukkan kepada mereka bahwa, di bawah jaman Injil, tak ada orang bisa menjadi seorang anak Allah, kecuali dengan dilahirkan baru secara rohani.).

Catatan:

a. Saya tidak terlalu percaya bagian yang saya beri garis bawah ganda, sekalipun hal itu dinyatakan oleh banyak penafsir. Teori itu digunakan oleh para Unitarian / Saksi-Saksi Yehuwa untuk menafsirkan kata-kata bentuk jamak yang dipakai untuk menunjuk kepada Allah, hanya dalam arti ini, untuk menghindari doktrin Allah Tritunggal.

b. Bagian yang saya cetak dengan huruf besar menurut saya ditambahkan oleh Clarke untuk mengaburkan arti! Ayatnya sama sekali tak membicarakan hal itu. Kalau keselamatan ditentukan Allah oleh Yesus Kristus saja, maka Clarke bisa melanjutkan dengan mengatakan: lalu bagaimana seseorang bisa percaya kepada Yesus Kristus? Tergantung kehendak bebasnya! Tetapi kalau jadi seperti ini, maka itu menjadi ‘karena kehendak manusia’, dan akan bertentangan frontal dengan Yoh 1:13 ini.

 

Lenski (tentang Yoh 1:13): Which were born, not of blood, nor of the will of the flesh, nor of the will of man, but of God,’ ... describing the birth of God’s children as not being due to natural generation but to a generation that has its source in God, ἐκ Θεοῦ. (= ‘yang diperanakkan bukan dari darah atau dari kehendak daging, ataupun dari kehendak manusia / seorang laki-laki, melainkan dari Allah’, ... menggambarkan kelahiran anak-anak Allah sebagai bukan disebabkan karena tindakan memperanakkan secara alamiah, tetapi karena suatu tindakan memperanakkan yang mempunyai sumbernya dalam Allah, EK THEOU.).

 

William Hendriksen (tentang Yoh 1:13): The evangelist teaches that God’s true children do not owe their origin to blood (physical descent; for example, from Abraham), nor to the will of the flesh (carnal desire, the sexual impulse of man or woman), nor to the will of man (the procreative urge of the male) but to God alone. [= Sang penginjil mengajar bahwa anak-anak yang sejati dari Allah tidak berhutang asal usul mereka dari darah (keturunan fisik; sebagai contoh, dari Abraham), ataupun dari kehendak dari daging (keinginan daging, dorongan sex dari orang laki-laki atau perempuan), atau dari kehendak manusia / laki-laki (dorongan memperanakkan dari laki-laki) tetapi dari Allah saja.].

 

Matthew Henry: Man is called ‘flesh and blood,’ because thence he has his original: but we do not become the children of God as we become the children of our natural parents. Note, Grace does not run in the blood, as corruption does. Man polluted ‘begat a son in his own likeness’ (Gen 5:3); but man sanctified and renewed does not beget a son in that likeness. The Jews gloried much in their parentage, and the noble blood that ran in their veins: ‘We are Abraham’s seed;’ and therefore to them pertained the adoption because they were born of that blood; but this New-Testament adoption is not founded in any such natural relation. ... it is the grace of God that makes us willing to be his. [= Manusia disebut ‘daging dan darah’, karena dari sana ia mendapatkan asal usulnya: tetapi kita tidak menjadi anak-anak Allah pada waktu kita menjadi anak-anak dari orang tua alamiah kita. Perhatikan: Kasih karunia tidak mengalir dalam darah, seperti kejahatan mengalir dalam darah. Manusia yang telah dikotori ‘memperanakkan seorang anak laki-laki dalam gambarnya sendiri’ (Kej 5:3); tetapi manusia yang dikuduskan dan diperbaharui tidak memperanakkan seorang anak dalam gambar itu. Orang-orang Yahudi banyak bermegah dalam asal usul mereka, dan darah mulia yang mengalir dalam pembuluh darah mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham’; dan karena itu milik merekalah pengadopsian itu karena mereka dilahirkan oleh darah itu; tetapi pengadopsian Perjanjian Baru ini tidak didasarkan pada hubungan alamiah seperti itu. ... adalah kasih karunia Allah yang membuat kita mau untuk menjadi milikNya.].

Kej 5:3 - “Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya.”.

Mat 3:9 - “Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!”.

Yoh 8:33,39,40 - “(33) Jawab mereka: ‘Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?’ ... (39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (40) Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham.”.

 

Saya tidak mengerti mengapa Matthew Henry mengatakan ‘Perjanjian Baru’ sedangkan di atas tadi Adam Clarke mengatakan ‘di bawah jaman Injil’. Menurut saya, bahkan dalam jaman Perjanjian Lama, kelahiran baru juga datang dari Allah!

Yeh 11:19 - Aku akan memberikan mereka hati yang lain dan roh yang baru di dalam batin mereka; juga Aku akan menjauhkan dari tubuh mereka hati yang keras dan memberikan mereka hati yang taat,”.

 

Calvin: “But faith is the principal work of the Holy Spirit. ... to believers in Christ is given the privilege of becoming children of God, who are born not of flesh and blood, but of God (John 1:12-13). Contrasting God with flesh and blood, he declares it to be a supernatural gift that those who would otherwise remain in unbelief receive Christ by faith. Similar to this is that reply of Christ’s: ‘Flesh and blood have not revealed it to you, but my Father, who is in heaven’ (Matthew 16:17).” [= Tetapi iman adalah pekerjaan utama dari Roh Kudus. ... kepada orang-orang percaya dalam Kristus diberikan hak untuk menjadi anak-anak Allah, yang dilahirkan bukan dari daging dan darah, tetapi dari Allah (Yoh 1:12-13). Mengkontraskan Allah dengan daging dan darah, ia menyatakannya sebagai karunia supranatural sehingga mereka yang seharusnya tetap tidak percaya, menerima Kristus oleh / dengan iman. Mirip dengan ini adalah jawaban Kristus: ‘Daging dan darah tidak menyatakan ini kepadamu, tetapi BapaKu, yang ada di surga’ (Mat 16:17).] - ‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter 1, no 4.

 

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org