Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 10 Juli 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(5)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

e)      Kelahiran baru harus mendahului iman.

R. C. Sproul: “The classic issue between Augustinian theology and all forms of semi-Pelagianism focuses on one aspect of the order of salvation (ordo salutis): What is the relationship between regeneration and faith? Is regeneration a monergistic or synergistic work? Must a person first exercise faith in order to be born again? Or must rebirth occur before a person is able to exercise faith? Another way to state the question is this: Is the grace of regeneration operative or cooperative? Monergistic regeneration means that regeneration is accomplished by a single actor, God. It means literally a ‘one-working.’ Synergism, on the other hand, refers to a work that involves the action of two or more parties. It is a co-working. All forms of semi-Pelagianism assert some sort of synergism in the work of regeneration. Usually God’s assisting grace is seen as a necessary ingredient, but it is dependent on human cooperation for its efficacy. The Reformers taught not only that regeneration does precede faith but also that it must precede faith. Because of the moral bondage of the unregenerate sinner, he cannot have faith until he is changed internally by the operative, monergistic work of the Holy Spirit. Faith is regeneration’s fruit, not its cause. According to semi-Pelagianism regeneration is wrought by God, but only in those who have first responded in faith to him. Faith is seen not as the fruit of regeneration, but as an act of the will cooperating with God’s offer of grace.” [= Persoalan klasik antara theologia Augustinian dan semua bentuk dari Semi-Pelagianisme terfokus pada satu aspek dari urut-urutan keselamatan (ordo salutis): Apa hubungan kelahiran baru dan iman? Apakah kelahiran baru itu suatu pekerjaan yang bersifat monergistik atau sinergistik? Haruskah seseorang menjalankan / mempunyai iman lebih dulu untuk dilahirbarukan? Atau haruskah kelahiran lagi terjadi sebelum seseorang mampu untuk menjalankan / mempunyai iman? Suatu cara lain untuk menyatakan pertanyaan adalah ini: Apakah kasih karunia dari kelahiran baru itu efektif atau bersifat kerja sama? Kelahiran baru yang bersifat monergistik artinya bahwa kelahiran baru dicapai oleh satu aktor, Allah. Kata itu secara hurufiah berarti ‘satu yang bekerja’. Sinergisme, di sisi lain, menunjuk pada suatu pekerjaan yang melibatkan tindakan dari dua atau lebih pihak. Itu merupakan suatu kerja sama. Semua bentuk dari Semi-Pelagianisme menegaskan sejenis sinergisme dalam pekerjaan kelahiran baru. Biasanya kasih karunia yang menolong dari Allah dilihat sebagai unsur yang perlu, tetapi itu tergantung kepada kerja sama manusia untuk bisa menjadi efektif. Para tokoh Reformasi mengajar bukan hanya bahwa kelahiran baru memang mendahului iman tetapi juga bahwa kelahiran baru harus mendahului iman. Karena perbudakan moral dari orang berdosa yang belum / tidak dilahirbarukan, ia tidak bisa mempunyai iman sampai ia diubahkan secara batin / dalam oleh pekerjaan yang efektif dan monergistik dari Roh Kudus. Iman adalah buah, dan bukan penyebab, dari kelahiran baru. Menurut Semi-Pelagianisme kelahiran baru dilakukan oleh Allah, tetapi hanya dalam diri mereka yang telah lebih dulu menanggapi dengan iman kepadaNya. Iman dipandang bukan sebagai buah dari kelahiran baru, tetapi sebagai suatu tindakan dari kehendak yang bekerja sama dengan tawaran kasih karunia Allah.] - ‘Willing to Believe’, hal 23-24.

 

Catatan: kelihatannya John Murray berpendapat bahwa regeneration harus terjadi bersamaan dengan iman. Ia beranggapan bahwa ‘regeneration mendahului iman’ hanya merupakan persoalan logika, tetapi bukan persoalan khronologis. (‘Collected Writings of John Murray’, vol II, hal 262). Saya tidak setuju dengan dia. Saya berpendapat bahwa tanpa kelahiran baru seseorang tak bisa mendengar, mengerti ataupun menghargai injil (1Kor 2:14), apalagi percaya kepada injil. Jadi kelahiran baru secara khronologis harus terjadi sebelumnya, lalu baru orang itu bisa mendengar, mengerti, menghargai Injil, dan lalu imanpun masih harus dianugerahkan kepadanya (Fil 1:29), yang membuatnya percaya. Bdk. Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’, hal 471.

 

f)  Iman merupakan pemberian / anugerah Allah.

Ada banyak ayat yang menunjukkan bahwa ‘iman’ (bukan ‘kemampuan untuk beriman’!) memang merupakan pemberian / anugerah Allah kepada kita. Mari kita melihat ayat-ayat tersebut.

 

1.  Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Catatan: kata ‘itu’ (Yunani: TOUTO) sebetulnya hanya muncul dalam ay 8; yang dalam ay 9 sebetulnya tidak ada.

 

Tetapi ada banyak pro dan kontra tentang apakah kata ‘itu’ menunjuk pada ‘keselamatan’, atau kepada ‘iman’.

 

Adam Clarke (tentang Ef 2:8): “But whether are we to understand, faith or salvation as being the gift of God? This question is answered by the Greek text: tee gar chariti este sesoosmenoi dia tees pisteoos; kai touto ouk ex humoon; Theou to dooron, ouk ex ergoon; hina mee tis kaucheeseetai. ‘By this grace ye are saved through faith; and THIS (‎touto, this salvation) not of you; it is the gift of God, not of works: so that no one can boast.’ ‘The relative ‎touto, this, which is in the neuter gender, cannot stand for ‎pistis, faith, which is the feminine; but it has the whole sentence that goes before for its antecedent.’” (= Tetapi apakah kita harus mengerti, iman atau keselamatan sebagai pemberian / karunia dari Allah? Pertanyaan ini dijawab oleh text bahasa Yunaninya: tee gar chariti este sesoosmenoi dia tees pisteoos; kai touto ouk ex humoon; Theou to dooron, ouk ex ergoon; hina mee tis kaucheeseetai. ‘Oleh kasih karunia ini kamu diselamatkan melalui iman; dan INI (TOUTO, keselamatan ini) bukan dari kamu; itu adalah karunia / pemberian Allah, bukan dari pekerjaan / perbuatan baik: sehingga tak seorangpun bisa bermegah’. ‘Kata TOUTO, ini, yang ada dalam jenis kelamin netral, tidak bisa berarti / menunjuk pada PISTIS, ‘iman’, yang adalah feminin / perempuan; tetapi itu mempunyai seluruh kalimat yang ada sebelumnya sebagai penggantinya’.).

Catatan: dalam terjemahan LAI kata ‘ini’ yang dibicarakan oleh Adam Clarke diterjemahkan ‘itu’.

 

Sampai sini kata-kata Adam Clarke masih masuk akal, tetapi ia lalu melanjutkan kata-katanya sebagai berikut:

 

Adam Clarke (tentang Ef 2:8-9): “But it may be asked: Is not faith the gift of God? Yes, as to the grace by which it is produced; but the grace or power to believe, and the act of believing, are two different things. Without the grace or power to believe no man ever did or can believe; but with that power the act of faith is a man’s own. God never believes for any man, no more than he repents for him; the penitent, through this grace enabling him, believes for himself: nor does he believe necessarily, or impulsively when he has that power; the power to believe may be present long before it is exercised, else, why the solemn warnings with which we meet everywhere in the word of God, and threatenings against those who do not believe? Is not this a proof that such persons have the power but do not use it? They believe not, and therefore are not established. This, therefore, is the true state of the case: God gives the power, man uses the power thus given, and brings glory to God: without the power no one can believe; with it, any one may.” [= Tetapi bisa dipertanyakan: Bukankah iman adalah karunia / pemberian dari Allah? Ya, berkenaan dengan kasih karunia dengan mana itu (iman itu) dihasilkan; tetapi kasih karunia atau kuasa untuk percaya, dan tindakan percaya itu sendiri, adalah dua hal yang berbeda. Tanpa kasih karunia atau kuasa untuk percaya tak seorangpun pernah percaya atau bisa percaya; tetapi dengan kuasa itu tindakan iman adalah dari manusia itu sendiri / milik manusia. Allah tidak pernah percaya untuk manusia manapun, sama seperti Ia tidak bertobat untuknya; orang yang bertobat / menyesal, melalui kasih karunia yang memampukannya ini, percaya untuk dirinya sendiri: ia tidak harus percaya, atau percaya secara terpaksa pada waktu ia mempunyai kuasa itu; kuasa untuk percaya bisa ada jauh sebelum itu digunakan, kalau tidak, mengapa ada peringatan-peringatan yang khidmat yang kita temui dimana-mana dalam firman Allah, dan ancaman-ancaman terhadap mereka yang tidak percaya? Bukankah ini adalah suatu bukti bahwa orang-orang seperti itu mempunyai kuasa tetapi tidak menggunakannya? Mereka tidak percaya, dan karena itu tidak ditegakkan. Karena itu, ini adalah keadaan yang sebenarnya dari kasusnya: Allah memberi kuasa, manusia menggunakan kuasa yang diberikan itu, dan membawa kemuliaan bagi Allah: tanpa kuasa itu tak seorangpun bisa percaya; dengan kuasa itu, siapapun bisa (percaya).].

 

Barnes’ Notes (tentang Ef 2:8): “‘And that not of yourselves.’ That is, salvation does not proceed from yourselves. The word rendered ‘that’ - ‎touto - is in the neuter gender, and the word ‘faith’ - ‎pistis ‎- is in the feminine. The word ‘that,’ therefore, does not refer particularly to faith, as being the gift of God, but to ‘the salvation by grace’ of which he had been speaking. This is the interpretation of the passage which is the most obvious, and which is now generally conceded to be the true one; see Bloomfield. Many critics, however, as Doddridge, Beza, Piscator, and Chrysostom, maintain that the word ‘that’ ‎touto refers to ‘faith’ ‎pistis; and Doddridge maintains that such a use is common in the New Testament. As a matter of GRAMMAR this opinion is certainly doubtful, if not untenable; but as a matter of THEOLOGY it is a question of very little importance. [= ‘Dan itu bukan dari dirimu sendiri’. Artinya, keselamatan tidak keluar / dihasilkan dari dirimu sendiri. Kata yang diterjemahkan ‘itu’ - TOUTO - ada dalam jenis kelamin netral, dan kata ‘iman’ - PISTIS - ada dalam jenis kelamin feminin / perempuan. Karena itu, kata ‘itu’ tidak menunjuk secara khusus kepada ‘iman’, sebagai pemberian / karunia dari Allah, tetapi kepada ‘keselamatan oleh kasih karunia’ tentang mana ia telah berbicara. Ini adalah penafsiran dari text yang adalah paling jelas, dan yang sekarang pada umumnya diakui sebagai penafsiran yang benar; lihat Bloomfield. Tetapi banyak pengkritik, seperti Doddridge, Beza, Piscator, dan Chrysostom, mempertahankan bahwa kata ‘itu’ (TOUTO) menunjuk kepada ‘iman’ (PISTIS); dan Doddridge mempertahankan bahwa penggunaan seperti itu adalah umum dalam Perjanjian Baru. Sebagai suatu persoalan gramatika pandangan ini pastilah meragukan, jika bukannya tidak bisa dipertahankan; tetapi sebagai persoalan theologia itu adalah suatu pertanyaan yang tidak penting.].

 

Sampai titik ini, Albert Barnes sama dengan Adam Clarke. Tetapi lanjutan kata-kata Barnes sangat berbeda dengan lanjutan dari kata-kata Clarke.

 

Barnes’ Notes (tentang Ef 2:8): Whether this passage proves it or not, it is certainly true that faith is the gift of God. It exists in the mind only when the Holy Spirit produces it there, and is, in common with every other Christian excellence, to be traced to his agency on the heart. This opinion, however, does not militate at all with the doctrine that man himself ‘believes.’ It is not God that ‘believes’ for him, for that is impossible. It is his own mind that actually believes, or that exercises faith; ... In the same manner ‘repentance’ is to be traced to God. It is one of the fruits of the operation of the Holy Spirit on the soul. But the Holy Spirit does not ‘repent’ for us. It is our ‘own mind’ that repents; our own heart that feels; our own eyes that weep - and without this there can be no true repentance. No one can repent for another; and God neither can nor ought to repent for us. He has done no wrong, and if repentance is ever exercised, therefore, it must be exercised by our own minds. So of faith. God cannot believe for us. ‘We’ must believe, or ‘we’ shall be damned. Still this does not conflict at all with the opinion, that if we exercise faith, the inclination to do it is to be traced to the agency of God on the heart. (= Apakah text ini membuktikannya atau tidak, adalah pasti benar bahwa iman adalah pemberian / karunia dari Allah. Itu / iman itu ada dalam pikiran hanya pada waktu Roh Kudus menghasilkannya di sana, dan, sama seperti setiap keunggulan Kristen yang lain, harus ditelusuri jejaknya kepada tindakan / kegiatanNya pada hati. Pandangan ini, bagaimanapun, sama sekali tidak melawan doktrin bahwa manusia itu sendiri yang percaya. Bukan Allah yang percaya bagi dia, karena itu adalah mustahil. Adalah pikirannya sendiri yang sungguh-sungguh percaya, atau yang menjalankan iman; ... Dengan cara yang sama ‘pertobatan’ harus ditelusuri jejaknya kepada Allah. Itu adalah salah satu buah dari pekerjaan dari Roh Kudus pada jiwa. Tetapi Roh Kudus tidak bertobat bagi kita. Adalah pikiran kita sendiri yang bertobat; hati kita sendiri yang merasa; mata kita sendiri yang menangis - dan tanpa ini di sana tidak bisa ada pertobatan yang sejati / benar. Tak seorangpun bisa bertobat bagi orang lain; dan Allah juga tidak bisa atau tidak harus bertobat bagi kita. Ia tidak melakukan kesalahan, dan karena itu jika pertobatan pernah dijalankan, itu harus dijalankan oleh pikiran kita sendiri. Begitu juga tentang iman. Allah tidak bisa percaya bagi kita. ‘Kita’ harus percaya, atau ‘kita’ akan dihukum. Ini tetap sama sekali tidak bertentangan dengan pandangan, bahwa jika kita menjalankan iman, kecondongan untuk melakukannya harus ditelusuri jejaknya pada tindakan / kegiatan Allah pada hati.).

 

A. T. Robertson (tentang Ef 2:8): “‘And that’ ‎kai ‎‎touto‎. Neuter, not feminine ‎tautee‎, and so refers not to ‎pistis ‎(feminine) or to ‎charis ‎(feminine also), but to the act of being saved by grace conditioned on faith on our part. [= ‘Dan itu’ KAI TOUTO. Netral, bukan feminin / perempuan TAUTEE, dan dengan demikian tidak menunjuk pada PISTIS (feminin / perempuan) atau pada KHARIS (juga feminin / perempuan), tetapi pada tindakan diselamatkan oleh kasih karunia yang disyaratkan pada iman pada pihak kita.].

 

Ef 2:8 - “Sebab karena kasih karunia (KHARIS - feminine)  kamu diselamatkan oleh iman (PISTIS - feminine) - ; itu (TOUTO - netral) bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,”.

 

Lenski (tentang Ef 2:8): The neuter τοῦτο does not refer to πίστις or to χάρις, both of which are feminine, but to the divine act of saving us (= Kata TOUTO yang berjenis kelamin netral tidak menunjuk pada PISTIS atau pada KHARIS, yang keduanya ada dalam jenis kelamin feminin / perempuan, tetapi pada tindakan ilahi menyelamatkan kita).

 

William Hendriksen (tentang Ef 2:8-9): “Three explanations deserve consideration: (1) That offered by A. T. Robertson. Commenting on this passage in his Word Pictures in the New Testament, Vol. IV, p. 525, he states, ‘Grace is God’s part, faith ours.’ He adds that since in the original the demonstrative ‘this’ (and ‘this’ not of yourselves) is neuter and does not correspond with the gender of the word ‘faith,’ which is feminine, it does not refer to the latter ‘but to the act of being saved by grace conditioned on faith on our part.’ Even more clearly in Gram.N.T., p. 704, he states categorically, ‘In Eph. 2:8 … there is no reference to διὰ πίστεως (through faith) in τοῦτο (this), but rather to the idea of salvation in the clause before.’ Without any hesitancy I answer, Robertson, to whom the entire world of New Testament scholarship is heavily indebted, does not express himself felicitously in this instance. This is true first because in a context in which the apostle places such tremendous stress on the fact that from start to finish man owes his salvation to God, to him alone, it would have been very strange, indeed, for him to say, ‘Grace is God’s part, faith ours.’ True though it be that both the responsibility of believing and also its activity are ours, for God does not believe for us, nevertheless, in the present context (verses 5–10) one rather expects emphasis on the fact that both in its initiation and in its continuation faith is entirely dependent on God, and so is our complete salvation. Also, Robertson, a grammarian famous in his field, knew that in the original the demonstrative (this), though neuter, by no means always corresponds in gender with its antecedent. That he knew this is shown by the fact that on the indicated page of his Grammar (p. 704) he points out that ‘in general’ the demonstrative ‘agrees with its substantive in gender and number.’ When he says ‘in general,’ he must mean, ‘not always but most of the time.’ Hence, he should have considered more seriously the possibility that, in view of the context, the exception to the rule, an exception by no means rare, applies here. He should have made allowance for it. Finally, he should have justified the departure from the rule that unless there is a compelling reason to do otherwise the antecedent should be looked for in the immediate vicinity of the pronoun or adjective that refers to it. (2) That presented, among others, by F. W. Grosheide. As he sees it, the words ‘and this not of yourselves’ mean ‘and this being saved by grace through faith is not of yourselves’ but is the gift of God. Since, according to this theory - also endorsed, it would seem, by John Calvin in his Commentary - faith is included in the gift, none of the objections against theory (1) apply with respect to theory (2). Does this mean then that (2) is entirely satisfactory? Not necessarily. This brings us to (3) That defended by A. Kuyper, Sr. in his book Het Werk van den Heiligen Geest (Kampen, 1927), pp. 506–514. Dr. Kuyper is, however, not this theory’s sole defender, but his defence is, perhaps, the most detailed and vigorous. The theory amounts, in brief, to the following: Paul’s words may be paraphrased thus, “I had the right to speak about ‘the surpassing riches of his grace’ for it is, indeed, by grace that you are saved, through faith; and lest you should now begin to say, ‘But then we deserve credit, at least, for believing,’ I will immediately add that even this faith (or: even this exercise of faith) is not of yourselves but is God’s gift.” With variations as to detail this explanation was the one favored by much of the patristic tradition. Supporting it were also Beza, Zanchius, Erasmus, Huigh de Groot (Hugo Grotius), Bengel, Michaelis, etc. It is shared, too, by Simpson (op. cit., p. 55) and by Van Leeuwen and Greijdanus in their commentaries. H. C. G. Moule (Ephesian Studies, New York, 1900, pp. 77, 78) endorses it, with the qualification, ‘We must explain τοῦτο (this) to refer not to the feminine noun πίστις (faith) precisely, but to the fact of our exercising faith.’ Moreover, it is perhaps no exaggeration to say that the explanation offered is also shared by the average man who reads 2:8 in his A.V. or A.R.V. Salmond, after presenting several grounds in its favor, particularly also this that ‘the formula καὶ τοῦτο might rather favor it, as it often adds to the idea to which it is attached,’ finally shies away from it because ‘salvation is the main idea in the preceding statement,’ which fact, of course, the advocates of (3) would not deny but do, indeed, vigorously affirm, but which is not a valid argument against the idea that faith, as well as everything else in salvation, is God’s gift. It is not a valid argument against (3), therefore. I have become convinced that theory (3) is the most logical explanation of the passage in question. Probably the best argument in its favor is this one: If Paul meant to say, ‘For by grace you have been saved through faith, and this being saved is not of yourselves,’ he would have been guilty of needless repetition - for what else is grace but that which proceeds from God and not from ourselves? - a repetition rendered even more prolix when he now (supposedly) adds, ‘it, that is, salvation, is the gift of God,’ followed by a fourth and fifth repetition, namely, ‘not of works, for we are his handiwork.’ No wonder that Dr. A. Kuyper states, “If the text read, ‘For by grace you have been saved, not of yourselves, it is the work of God,’ it would make some sense. But first to say, ‘By grace you have been saved,’ and then, as if it were something new, to add, ‘and this having been saved is not of yourselves,’ this does not run smoothly but jerks and jolts.… And while with that interpretation everything proceeds by fits and starts and becomes lame and redundant, all is excellent and meaningful when you follow the ancient interpreters of Jesus’ church.” This, it would seem to me also, is the refutation of theory (1) and, to a certain extent, of theory (2). Basically, however, theories (2) and (3) both stress the same truth, namely, that the credit for the entire process of salvation must be given to God, so that man is deprived of every reason for boasting, which is exactly what Paul says in the words which now follow, namely, 9, 10. not of works, lest anyone should boast.” (= ).

 

Catatan:

·        Dalam buku dari Abraham Kuyper, ‘The Work of the Holy Spirit’, ini dibahas dalam hal 407-dan seterusnya.

·        Saya tidak menterjemahkan kutipan kata-kata William Hendriksen tetapi saya memberikan ringkasan dan analisa saya di bawah ini.

 

William Hendriksen memberikan beberapa bantahan terhadap pandangan yang mengatakan bahwa kata ‘itu’ (TOUTO) tidak menunjuk kepada ‘iman’ tetapi pada ‘keselamatan melalui iman’ atau pada ‘keselamatan oleh kasih karunia melalui iman’. Argumentasi-argumentasi yang diberikan oleh William Hendriksen adalah sebagai berikut:

 

a.  Kontext dari Ef 2:8 (mulai ay 5) menekankan bahwa iman dari permulaannya dan juga kelanjutannya tergantung kepada Allah dan karena itu seluruh keselamatan juga demikian.

Tanggapan saya: terus terang saya tak bisa melihat bahwa kontext menekankan seperti yang William Hendriksen katakan. Baca Ef 2 itu untuk memastikan hal itu!

 

b.  William Hendriksen mengatakan bahwa A. T. Robertson dalam buku gramatikanya mengatakan bahwa kata penunjuk (‘itu’ / TOUTO) biasanya sesuai dengan kata yang ditunjuknya dalam jumlah (tunggal / jamak) dan jenis kelamin. Kata ‘biasanya’ menunjukkan bahwa ada perkecualian. Dan Ef 2:8 harus dianggap sebagai perkecualian. William Hendriksen mengatakan bahwa A. T. Robertson harus membenarkan penyimpangan dari hukum / peraturan gramatika itu kecuali di sana ada alasan yang memaksa pemberlakuan hukum / peraturan gramatika itu.

 

Tanggapan saya: Kata-kata bagian akhir ini saya anggap sangat tidak masuk akal. Yang benar adalah sebaliknya. Kalau dalam gramatika ada suatu hukum / peraturan, maka kita harus menuruti hukum / peraturan itu, kecuali kita mempunyai alasan yang kuat untuk menyimpang dari hukum itu (membuat perkecualian).

 

c.  William Hendriksen memberikan daftar banyak orang / tokoh-tokoh yang mempercayai penafsiran seperti yang ia percayai.

Tanggapan saya: banyak dan nama besar tidak berarti benar. Lagi pula, yang mempercayai pandangan sebaliknya lebih banyak lagi, dan juga tokoh-tokoh bernama besar termasuk Calvin sendiri.

 

d.  William Hendriksen memberikan pandangan dari Abraham Kuyper dan H. G. C. Moule yang mengatakan bahwa kata ‘itu’ (TOUTO) tidak menunjuk pada ‘iman’ itu sendiri tetapi pada ‘tindakan kita menjalankan iman’.

Tanggapan saya: ini memungkinkan.

 

e.  William Hendriksen mengatakan bahwa kalau Paulus memaksudkan ‘Karena oleh kasih karunia kamu telah diselamatkan melalui iman, dan penyelamatan ini bukan dari dirimu sendiri’, maka Paulus melakukan pengulangan yang tidak perlu.

 

Tanggapan saya:

Seluruh text ini (Ef 2:8-9) penuh dengan pengulangan, yang tujuannya adalah melakukan penekanan / membuang jauh-jauh jasa kita dalam urusan keselamatan. Apakah kata-kata ‘itu bukan hasil usahamu’ (ay 8) dan ‘bukan hasil pekerjaanmu’ (ay 9), bukan merupakan pengulangan?

Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.

 

Kesimpulan / pandangan saya tentang Ef 2:8: sekalipun masih memungkinkan untuk menggunakan Ef 2:8 sebagai dasar untuk mengatakan bahwa iman adalah anugerah / pemberian Allah, tetapi mengingat perdebatan yang begitu hebat dalam persoalan itu, dan juga kuatnya argumentasi dari pihak lawan, maka saya berpendapat lebih baik kita tidak menggunakan ayat ini dalam menekankan bahwa iman adalah anugerah / pemberian Allah. Ada ayat-ayat lain yang jauh lebih kuat untuk menekankan hal itu, dan tanpa ada kemungkinan untuk diperdebatkan dalam artinya.

 

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org