Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 26 Juni 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(3)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

Sekarang mari kita bandingkan dengan tafsiran dari Calvin tentang Kis 16:14-15.

 

Calvin (tentang Kis 16:14): “it may be that Lydia had some companions, whereof there is no mention made, because she did far excel them all. And Luke doth not assign that for the cause why this one woman did show herself apt to be taught, because she was more witty than the rest, or because she had some preparation of herself; but he saith that the Lord opened her heart that she might give ear and take heed to the speech of Paul. He had of late commended her godliness; and yet he showeth that she could not comprehend the doctrine of the gospel, save only through the illumination of the Spirit. Wherefore, we see that not faith alone, but all understanding and knowledge of spiritual things, is the peculiar gift of God, and that the ministers do no good by teaching and speaking unless the inward calling of God be thereunto added. By the word ‘heart,’ the Scripture meaneth sometimes the mind, as when Moses saith, ‘God hath not given thee hitherto a heart to understand.’ So likewise in this place, Luke doth not only signify unto us that Lydia was brought by the inspiration of the Spirit, with affection of heart to embrace the gospel, but that her mind was lightened, that she might understand it. By this let us learn that such is the blockishness, such is the blindness of men, that in seeing they see not, in hearing they hear not, until such time as God doth give them new eyes and new ears.” (= mungkin Lidia mempunyai beberapa teman, tentang siapa tak ada penyebutan dibuat, karena ia melakukan apa yang jauh melebihi mereka semua. Dan Lukas memberikan sebagai alasan mengapa perempuan yang satu ini menunjukkan dirinya sendiri cocok untuk diajar, bukan karena ia lebih pandai dari pada sisanya / yang lain, atau karena ia telah menyiapkan dirinya sendiri; tetapi ia mengatakan bahwa Tuhan membuka hatinya sehingga ia bisa mendengar dan memperhatikan ucapan Paulus. Ia baru saja memuji kesalehannya; tetapi ia menunjukkan bahwa ia tidak bisa mengerti doktrin / ajaran dari injil, kecuali melalui pencerahan dari Roh. Karena itu, kita melihat bahwa bukan iman saja, tetapi semua pengertian dan pengetahuan tentang hal-hal rohani, adalah karunia khusus dari Allah, dan bahwa pendeta-pendeta / pelayan-pelayan tidak melakukan kebaikan dengan pengajaran dan pembicaraan kecuali panggilan di dalam dari Allah ditambahkan padanya. Dengan kata ‘hati’, Kitab Suci kadang-kadang memaksudkan ‘pikiran’, seperti pada waktu Musa berkata, ‘Allah tidak / belum memberi kamu sampai saat ini suatu hati untuk mengerti’. Demikian juga di tempat ini, Lukas tidak hanya memberitahu kita bahwa Lidia dibawa oleh ilham dari Roh, dengan perasaan / kasih dari hati untuk mempercayai injil, tetapi bahwa pikirannya diterangi, supaya ia bisa mengertinya. Dengan ini hendaklah kita belajar bahwa demikianlah kebodohan / ketumpulan, demikianlah kebutaan, dari manusia, sehingga dalam melihat mereka tidak melihat, dalam mendengar mereka tidak mendengar, sampai waktu dimana Allah memberi mereka mata yang baru dan telinga yang baru.).

Ul 29:4 - “Tetapi sampai sekarang ini TUHAN tidak memberi kamu akal budi untuk mengerti atau mata untuk melihat atau telinga untuk mendengar.”.

 

Jadi, istilah ‘irresistible’ (= tidak bisa ditolak) tidak berarti bahwa orang itu terpaksa / dipaksa menerima keselamatan. Tetapi melalui kelahiran baru ia diubahkan sedemikian rupa sehingga ia sendiri mau menerima keselamatan dalam Yesus Kristus itu.

 

Calvin memberi komentar tentang Yoh 6:44 - “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.”.

 

Calvin (tentang Yoh 6:44): “True, indeed, as to the kind of drawing, it is not violent, so as to compel men by external force; but still it is a powerful impulse of the Holy Spirit, which makes men willing who formerly were unwilling and reluctant (= Memang, tentang jenis tarikan, itu bukan sesuatu tarikan yang keras / kasar, seakan-akan memaksa manusia dengan kekuatan luar; tetapi itu tetap merupakan dorongan yang kuat dari Roh Kudus, yang membuat manusia yang tadinya tidak mau dan segan menjadi mau) - hal 257.

 

Jadi, Alkitab sendiri menggunakan kata ‘ditarik’ yang seolah-olah menunjukkan suatu pemaksaan, tetapi dalam menafsirkan ayat itu, Calvin mengatakan bahwa itu bukan menggunakan kekuatan luar untuk memaksa seseorang untuk percaya, tetapi dengan mengubah orang tersebut sehingga ia yang tadinya tidak mau, menjadi mau.

 

Arthur W. Pink: the Holy Spirit does something more in each of God’s elect than He does in the non-elect: He works in them ‘both to will and to do of God’s good pleasure’ (Philippians 2:13).” [= Roh Kudus memang melakukan sesuatu yang lebih dalam setiap orang-orang pilihan dari pada yang Ia lakukan dalam orang-orang non pilihan: Ia bekerja dalam mereka ‘baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari perkenan yang baik dari Allah’ (Fil 2:13).] - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 118.

Fil 2:13 - “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya”.

Terjemahan Kitab Suci Indonesia kurang jelas. Perhatikan dan bandingkan dengan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa Inggris di bawah ini:

KJV: ‘For it is God which worketh in you both to will and to do of his good pleasure’ (= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari kesenanganNya yang baik).

RSV: ‘for God is at work in you, both to will and to work for his good pleasure’ (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).

NIV: ‘for it is God who works in you to will and to act according to his good purpose’ (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).

NASB: ‘for it is God who is at work in you, both to will and to work for His good pleasure’ (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu, baik untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kesenanganNya yang baik).

 

Fil 2:13 ini jelas menunjukkan bahwa baik kemauan, maupun kemampuan, diberikan oleh Allah. Tanpa itu, kita tidak akan mau ataupun mampu, melakukan apapun yang baik. Tetapi dengan pekerjaan Allah itu, kita akan mau (jadi, bukan terpaksa / dipaksa), dan mampu, untuk melakukan apa yang baik (termasuk percaya kepada Yesus).

 

II) Dasar dari Doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak).

 

1) Doktrin ini merupakan akibat dari doktrin-doktrin lain, yaitu:

 

a)      Total Depravity (= Kebejatan total).

Ajaran Reformed dalam persoalan ini mengatakan bahwa manusia sudah sangat rusak karena pengaruh negatif dari dosa, dan karena itu kalau manusia dibiarkan dalam keadaannya, maka semua manusia akan menolak Injil.

1Kor 2:14 - “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani”.

 

Kalau manusia memang bejat total, sesuai dengan 1Kor 2:14 ini, mereka tidak akan mau dan tidak akan bisa datang kepada Kristus. Jadi, kalau hanya diberikan penebusan Kristus saja, tidak akan ada yang datang kepada Kristus. Harus diberikan kasih karunia Allah kepada mereka sehingga mereka mau dan bisa datang kepada Kristus.

 

Calvin (tentang 1Kor 2:14): “While, however, Paul here tacitly imputes it to the pride of the flesh, that mankind dare to condemn as foolish what they do not comprehend, he at the same time shows how great is the weakness or rather bluntness of the human understanding, when he declares it to be incapable of spiritual apprehension. For he teaches, that it is not owing simply to the obstinacy of the human will, but to the impotency, also, of the understanding, that man does not attain to the things of the Spirit. Had he said that men are not willing to be wise, that indeed would have been true, but he states farther that they are not able. Hence we infer, that faith is not in one’s own power, but is divinely conferred.” (= Tetapi sementara Paulus di sini secara implicit memperhitungkannya pada kesombongan dari daging, bahwa umat manusia berani mengecam sebagai bodoh apa yang tidak mereka mengerti, ia pada saat yang sama menunjukkan betapa besar kelemahan, atau lebih tepat ketumpulan, dari pengertian manusia, pada waktu ia menyatakannya sebagai ‘tidak dapat’ berkenaan dengan pengertian rohani. Karena ia mengajar, bahwa itu bukan sekedar berhutang / disebabkan oleh ketegaran dari kehendak manusia, tetapi juga pada ketidak-mampuan dari pengertian, sehingga manusia tidak mencapai hal-hal dari Roh. Seandainya ia mengatakan bahwa manusia ‘tidak mau’ menjadi bijaksana, maka hal itu memang benar, tetapi ia menyatakan lebih jauh bahwa mereka ‘tidak dapat’. Maka kami menyimpulkan, bahwa iman bukanlah berada dalam kuasa / kekuatan seseorang, tetapi dianugerahkan secara ilahi.).

 

R. L. Dabney: “The great necessity for the effectual calling of men is in his original sin. Were he not by nature depraved, and his disposition wholly inclined to ungodliness, the mere mention of a plan, by which deliverance from guilt and unholiness was assured, would be enough; all would flock to embrace it. But such is man’s depravity, that a redemption must not only be provided, but he must be effectually persuaded to embrace it” (= Kebutuhan yang besar dari manusia untuk panggilan yang efektif ada dalam dosa asalnya. Seandainya ia secara alamiah tidak bejat, dan kecondongannya sepenuhnya condong pada kejahatan, semata-mata suatu penyebutan tentang suatu rencana, dengan mana pembebasan dari kesalahan dan ketidak-kudusan dipastikan, akan mencukupi; semua orang akan berkumpul untuk memeluknya / mempercayainya. Tetapi demikianlah kebejatan manusia, sehingga suatu penebusan bukan saja harus disediakan, tetapi ia harus dibujuk / diyakinkan secara efektif untuk memeluk / mempercayainya) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 554.

 

R. C. Sproul: “Most non-Reformed views of predestination fail to take seriously the fact that fallen man is spiritually dead. Other evangelical positions acknowledge that man is fallen and that his fallenness is a serious matter. They even grant that sin is a radical problem. They are quick to grant that man is not merely ill, but mortally ill, sick unto death. But he has not quite died yet. He still has one tiny breath of spiritual life left in his body. He still has a tiny island of righteousness left in his heart, a tiny and feeble moral ability that abides in his fallenness. I have heard two illustrations from evangelists who plead for the repentance and conversion of their hearers. The first is an analogy of a person suffering from a terminal illness. The sinner is said to be gravely ill, on the very brink of death. He does not have it within his own power to cure himself of the disease. He is lying on his deathbed almost totally paralyzed. He cannot recover unless God provides the healing medicine. The man is so bad off that he cannot even stretch forth his arm to receive the medicine. He is almost comatose. God must not only offer the medicine but God must put it on a spoon and place it by the dying man’s lips. Unless God does all that, the man will surely perish. But though God does 99 percent of what is necessary, the man is still left with 1 percent. He must open his mouth to receive the medicine. This is the necessary exercise of free will that makes the difference between heaven and hell. The man who opens his mouth to receive the gracious gift of the medicine will be saved. The man who keeps his lips tightly clenched will perish. This analogy almost does justice to the Bible and to Paul’s teaching of the grace of regeneration. But not quite. The Bible does not speak of mortally ill sinners. According to Paul they are dead. There is not an ounce of spiritual life left in them. If they are to be made alive, God must do more than offer them medicine. Dead men will not open their mouths to receive anything. Their jaws are locked in death. Rigor mortis has set in. They must be raised from the dead. They must be new creations, crafted by Christ and reborn by his Spirit. A second illustration is equally popular with those committed to evangelism. In this view fallen man is seen as a drowning man who is unable to swim. He has gone under twice and bobbed to the surface for the last time. If he goes under again he will die. His only hope is for God to throw him a life preserver. God throws the lifeline and tosses it precisely to the edge of the man’s outstretched fingers. All the man has to do to be saved is to grab hold. If he will only grab hold of the life preserver, God will tow him in. If he refuses the life preserver, he will certainly perish. Again, in this illustration the utter helplessness of sinful man without God’s assistance is emphasized. The drowning man is in a serious condition. He cannot save himself. However, he is still alive; he can still stretch forth his fingers. His fingers are the crucial link to salvation. His eternal destiny depends upon what he does with his fingers. Paul says the man is dead. He is not merely drowning, he has already sunk to the bottom of the sea. It is futile to throw a life preserver to a man who has already drowned. If I understand Paul, I hear him saying that God dives into the water and pulls a dead man from the bottom of the sea and then performs a divine act of mouth-to-mouth resuscitation. He breathes into the dead man new life. It is important to remember that regeneration has to do with new life. It is called the new birth or being born again.” (= Kebanyakan pandangan non-Reformed tentang predestinasi gagal untuk menerima secara serius fakta bahwa manusia yang telah jatuh itu adalah mati secara rohani. Pandangan-pandangan injili yang lain mengakui bahwa manusia itu jatuh, dan bahwa kejatuhannya itu merupakan persoalan yang serius. Mereka bahkan mengakui bahwa dosa adalah suatu problem yang radikal. Mereka dengan cepat mengakui bahwa manusia bukan sekedar sakit, tetapi sakit yang mematikan, sakit menuju pada kematian. Tetapi ia belum sungguh-sungguh mati. Ia masih tetap mempunyai satu nafas yang sangat kecil dari kehidupan rohani yang tersisa dalam tubuhnya. Ia tetap mempunyai suatu pulau yang sangat kecil dari kebenaran yang tersisa dalam hatinya, suatu kemampuan moral yang sangat kecil dan lemah yang tertinggal dalam kejatuhannya. Saya telah mendengar dua ilustrasi dari penginjil-penginjil yang memohon untuk pertobatan dari para pendengar mereka. Yang pertama adalah suatu analogi tentang seseorang yang menderita karena suatu penyakit yang mengakhiri hidupnya. Orang berdosa itu dikatakan sebagai sangat sakit, di tepi kematian. Ia tidak mempunyai dalam kekuatannya sendiri untuk menyembuhkan dirinya sendiri dari penyakit itu. Ia berbaring di ranjang kematiannya dan hampir lumpuh secara total. Ia tidak bisa pulih kecuali Allah menyediakan obat yang menyembuhkan. Orang itu begitu buruk keadaannya sehingga ia bahkan tidak bisa mengulurkan lengan / tangannya untuk menerima obat. Ia hampir-hampir seperti dalam keadaan koma. Allah bukan hanya harus menawarkan obat tetapi Allah harus meletakkannya pada sebuah sendok dan menempatkannya di bibir dari orang yang sekarat itu. Kecuali Allah melakukan semua itu, orang itu pasti akan binasa. Tetapi sekalipun Allah melakukan 99 % dari apa yang perlu, orang itu masih tersisa dengan 1 %. Ia harus membuka mulutnya untuk menerima obat itu. Ini adalah penggunaan yang perlu dari kehendak bebas yang membuat perbedaan antara surga dan neraka. Orang yang membuka mulutnya untuk menerima pemberian obat yang murah hati / bersifat kasih karunia akan diselamatkan. Orang yang tetap mengatupkan bibirnya dengan keras akan binasa. Analogi ini hampir bersikap adil kepada Alkitab dan ajaran Paulus tentang kasih karunia dari kelahiran baru. Tetapi tidak betul-betul demikian. Alkitab tidak berbicara tentang orang-orang berdosa yang sakit secara mematikan. Menurut Paulus mereka adalah mati. Tidak ada sedikitpun kehidupan rohani tersisa di dalam mereka. Jika mereka mau dibuat hidup, Allah harus melakukan lebih dari menawarkan obat kepada mereka. Orang mati tidak akan membuka mulut mereka untuk menerima apapun. Rahang-rahang mereka dikunci dalam kematian. Kekakuan mayat telah tiba. Mereka harus dibangkitkan dari kematian. Mereka harus menjadi ciptaan-ciptaan baru, dicangkokkan oleh Kristus dan dilahirbarukan oleh RohNya. Ilustrasi kedua yang sama populernya bagi mereka yang membaktikan diri pada penginjilan. Dalam pandangan ini manusia yang terjatuh dilihat sebagai seorang manusia yang tenggelam dan tidak bisa berenang. Ia telah tenggelam di bawah permukaan air 2 x dan muncul ke permukaan untuk kali yang terakhir. Jika ia tenggelam lagi ia akan mati. Satu-satunya harapan adalah bagi Allah untuk melemparkan kepadanya suatu pelindung kehidupan / nyawa. Allah melemparkan tali kehidupan dan melemparkannya persis di sisi dari jari-jari yang diulurkan dari orang itu. Semua yang harus dilakukan oleh orang itu untuk diselamatkan adalah menggenggam. Jika saja ia mau menggenggam pelindung kehidupan / nyawa itu, Allah akan menariknya ke dalam. Jika ia menolak penjaga kehidupan / nyawa itu, ia pasti akan binasa. Lagi-lagi, dalam ilustrasi ini ketidak-berdayaan sama sekali dari orang berdosa tanpa pertolongan Allah ditekankan. Orang yang tenggelam itu ada dalam keadaan yang serius. Ia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tetapi, ia masih tetap hidup; ia tetap bisa mengulurkan jari-jarinya. Jari-jarinya adalah penghubung yang sangat penting kepada keselamatan. Nasib / tujuan kekalnya tergantung pada apa yang ia lakukan dengan jari-jarinya. Paulus mengatakan manusia itu mati. Ia bukan sekedar mau / sedang tenggelam, ia sudah tenggelam ke dasar laut. Adalah sia-sia untuk melemparkan suatu penjaga kehidupan / nyawa kepada seorang manusia yang sudah tenggelam. Jika saya mengerti Paulus, saya mendengarnya mengatakan bahwa Allah menyelam ke dalam air dan menarik seorang yang mati dari dasar laut dan lalu melakukan suatu tindakan ilahi dari penghidupan kembali dari mulut ke mulut. Ia menghembuskan ke dalam orang mati itu kehidupan yang baru. Merupakan sesuatu yang penting untuk diingat bahwa kelahiran baru berurusan dengan kehidupan yang baru. Itu disebut kelahiran baru atau dilahirkan lagi.) - ‘Chosen By God’, hal 114-116.

 

Loraine Boettner: Dr. Warfield says, ‘Sinful man stands in need, not of inducements or assistance to save himself, but precisely of saving; and Jesus Christ has come not to advise, or urge, or woo, or help him to save himself, but to save him.’ (= Dr. Warfield mengatakan, ‘Orang berdosa ada dalam kebutuhan, bukan terhadap bujukan atau bantuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi secara tepat terhadap penyelamatan; dan Yesus Kristus telah datang bukan untuk menasehati, atau mendesak, atau membujuk, atau menolong dia untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkannya’.) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 164 (Libronix).

 

b) Unconditional Election (= Pemilihan yang tidak bersyarat) atau Predestinasi.

Kis 13:48 - “Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.

 

Calvin (tentang Kis 13:48): “‘And they believed.’ ... For Luke showeth what manner [of] glory they gave to the word of God. And here we must note the restraint, [reservation,] when he saith that they believed, (but) not all in general, but those who were ordained unto life. And we need not doubt but that Luke calleth those tetagmenouv, who were chosen by the free adoption of God. For it is a ridiculous cavil to refer this unto the affection of those which believed, as if those received the gospel whose minds were well-disposed. For this ordaining must be understood of the eternal counsel of God alone. Neither doth Luke say that they were ordained unto faith, but unto life; because the Lord doth predestinate his unto the inheritance of eternal life. And this place teacheth that faith dependeth upon God’s election. And assuredly, seeing that the whole race of mankind is blind and stubborn, those diseases stick fast in our nature until they be redressed by the grace of the Spirit, and that redressing floweth from the fountain of election alone. For in that of two which hear the same doctrine together, the one showeth himself apt to be taught, the other continueth in his obstinacy. It is not, therefore, because they differ by nature, but because God doth lighten [illumine] the former, and doth not vouchsafe the other the like grace. We are, indeed, made the children of God by faith; as faith, as touching us, is the gate and the first beginning of salvation; but there is a higher respect of God. For he doth not begin to choose us after that we believe; but he sealeth his adoption, which was hidden in our hearts, by the gift of faith, that it may be manifest and sure. For if this be proper to the children of God alone to be his disciples, it followeth that it doth not appertain unto all the children of Adam in general. No marvel, therefore, if all do not receive the gospel; because, though our heavenly Father inviteth all men unto the faith by the external voice of man, yet doth he not call effectually by his Spirit any save those whom he hath determined to save. Now, if God’s election, whereby he ordaineth us unto life, be the cause of faith and salvation, there remaineth nothing for worthiness or merits. Therefore, let us hold and mark that which Luke saith, that those were ordained before unto life, who, being ingrafted into the body of Christ by faith, do receive the earnest and pledge of their adoption in Christ. Whence we do also gather what force the preaching of the gospel hath of itself. For it doth not find faith in men, save only because God doth call those inwardly whom he hath chosen, and because he draweth those who were his own before unto Christ, (John 6:37.) [= ‘Dan mereka percaya’. ... Karena Lukas menunjukkan cara kemuliaan apa yang mereka berikan kepada firman Allah. Dan di sini kita harus memperhatikan kekangan (pembatasan,) pada waktu ia mengatakan bahwa mereka percaya, (tetapi) tidak semua secara umum, tetapi mereka yang ditentukan kepada hidup. Dan kita tidak perlu meragukan bahwa Lukas menyebut mereka TETAGMENOUS, yang telah dipilih oleh adopsi yang bebas / cuma-cuma dari Allah. Karena merupakan suatu pertengkaran yang menggelikan untuk menunjukkan hal ini kepada perasaan dari mereka yang percaya, seakan-akan mereka menerima injil yang pikirannya telah dicondongkan dengan baik. Karena penentuan ini harus dimengerti tentang rencana kekal dari Allah saja. Juga Lukas tidak mengatakan bahwa mereka telah ditentukan kepada iman, tetapi kepada hidup; karena Tuhan memang mempredestinasikan milikNya kepada warisan hidup yang kekal. Dan tempat ini mengajarkan bahwa iman tergantung pada pemilihan Allah. Dan pasti, melihat bahwa seluruh umat manusia adalah buta dan keras kepala, penyakit-penyakit itu melekat kuat dalam sifat dasar kita sampai mereka diperbaiki oleh kasih karunia dari Roh, dan perbaikan itu mengalir dari sumber pemilihan saja. Karena dalam hal dimana dua orang mendengar doktrin / ajaran yang sama bersama-sama, yang satu menunjukkan dirinya sendiri cocok / mudah untuk diajar, sedangkan yang lain terus ada dalam kekeras-kepalaannya. Karena itu, bukanlah karena mereka berbeda dalam sifat dasar mereka, tetapi karena Allah memang menerangi (mencerahi) yang pertama, dan tidak bersedia memberikan yang lain kasih karunia yang serupa / sama. Kita memang dibuat menjadi anak-anak Allah oleh iman; karena iman, berkenaan dengan kita, adalah pintu gerbang dan awal pertama dari keselamatan; tetapi di sana ada suatu pertimbangan yang lebih tinggi tentang Allah. Karena Ia tidak mulai memilih kita setelah kita percaya; tetapi Ia memeteraikan adopsiNya, yang disembunyikan dalam hati kita, oleh karunia iman, supaya itu menjadi nyata / jelas dan pasti. Karena jika adalah benar bagi anak-anak Allah saja untuk menjadi murid-muridNya, akibatnya adalah bahwa itu tidak berhubungan dengan semua anak-anak / keturunan Adam secara umum. Karena itu, tak mengherankan jika tidak semua orang menerima injil; karena, sekalipun Bapa surgawi kita mengundang semua orang kepada iman oleh suara luar / lahiriah dari manusia, tetapi Ia tidak memanggil secara efektif oleh RohNya siapapun kecuali mereka yang telah Ia tentukan untuk selamatkan. Sekarang, jika pemilihan Allah, dengan mana Ia menentukan kita kepada hidup, adalah penyebab dari iman dan keselamatan, di sana tidak tertinggal apapun bagi kelayakan dan jasa. Karena itu, hendaklah kita memegang dan memperhatikan apa yang Lukas katakan, bahwa mereka ditentukan sebelumnya kepada hidup, yang, setelah dicangkokkan ke dalam tubuh Kristus oleh iman, menerima jaminan / uang muka dari pengadopsian mereka dalam Kristus. Dari mana kita juga mendapatkan kekuatan apa yang dimiliki oleh pemberitaan injil dari dirinya sendiri. Karena pemberitaan injil itu tidak mendapati iman dalam manusia, kecuali kalau Allah memanggil mereka secara batin / dari dalam orang-orang yang sebelumnya telah Ia pilih, dan karena Ia menarik mereka yang adalah milikNya kepada Kristus (Yoh 6:37).].

 

Allah mempunyai rencana tentang keselamatan setiap orang. Orang-orang yang Ia tetapkan / rencanakan / predestinasikan untuk selamat, pasti akan percaya kepada Kristus dan selamat. Karena itu, pada saat tertentu, sesuai dengan rencana Allah, Allah bekerja dalam diri orang-orang itu sehingga mereka mau dan bisa percaya kepada Kristus!

 

Seandainya Allah bekerja dalam diri orang-orang itu sehingga mereka bisa / mungkin (tetapi tidak pasti) percaya, maka predestinasi bisa gagal. Dan ini tidak mungkin, karena semua rencana Allah pasti berhasil.

Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.

 

John Walvoord: “The doctrine of efficacious grace is vital to predestination. It is essential to the plan of God that all the elect be saved. It is therefore necessary that more than common grace be given to the elect. Grace must be effectual in bringing the elect to salvation. Predestination and effectual calling are definitely linked in Scripture. God calls according to His purpose (Rom. 8:28), and it is further revealed: ‘Whom he foreordained, them he also called: and whom he called, them he also justified: and whom he justified, them he also glorified’ (Rom. 8:30). It is manifest that the calling herein mentioned is the efficacious call. All who are foreordained are called, and all who are called are justified and glorified.” [= Doktrin dari kasih karunia yang efektif adalah sangat penting untuk predestinasi. Merupakan sesuatu yang hakiki bagi rencana Allah bahwa semua orang-orang pilihan diselamatkan. Karena itu adalah perlu bahwa lebih dari kasih karunia yang bersifat umum diberikan kepada orang-orang pilihan. Kasih karunia haruslah efektif dalam membawa orang-orang pilihan kepada keselamatan. Predestinasi dan panggilan yang efektif jelas dihubungkan dalam Kitab Suci. Allah memanggil sesuai dengan rencanaNya (Ro 8:28), dan selanjutnya dinyatakan: ‘Yang Ia tentukan lebih dulu, mereka juga Ia panggil: dan yang Ia panggil, mereka juga Ia benarkan: dan yang Ia benarkan, mereka juga Ia muliakan’ (Ro 8:30). Adalah jelas bahwa panggilan yang disebutkan di sini adalah panggilan efektif. Semua yang ditentukan lebih dulu dipanggil, dan semua yang dipanggil dibenarkan dan dimuliakan.] - ‘The Holy Spirit’, hal 124.

Ro 8:28-30 - “(28) Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (29) Sebab semua orang yang dipilihNya dari semula, mereka juga ditentukanNya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, supaya Ia, AnakNya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. (30) Dan mereka yang ditentukanNya dari semula, mereka itu juga dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggilNya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.”.

 

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org