Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 19 Juni 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(2)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

3) Calvinisme / Reformed mengatakan bahwa semua manusia begitu rusak, sehingga harus ada kasih karunia Allah yang diberikan kepada mereka sehingga mereka percaya. Kasih karunia Allah ini ‘tidak bisa ditolak’, dalam arti bahwa kasih karunia Allah itu secara efektif akan mempertobatkan mereka.

 

a)  Istilah ‘Irresistible’ (= tidak bisa ditolak) sering disalah-artikan sebagai ‘pemaksaan’.

 

Steven Liauw: “Bisa-bisa saja bahwa Kalvinis tidak memakai istilah ‘memaksakan.’ Tetapi saya sudah beri dalam tanda kurung penjelasan lebih lanjut: ‘Memberi tanpa dapat ditolak.’ Asali mengakui dipakainya istilah irresistible grace. Bagi saya, irresistible dan ‘tidak dapat ditolak’ sudah sama dengan memaksa. Kalvinis mengatakan bahwa manusia menerima Kristus dengan senang hati karena dilahirbarukan dulu oleh Tuhan. Tetapi kelahiran kembali itu kan juga kasih karunia. Jadi sebelum manusia itu lahir baru, dia berdosa, mati dalam dosa. Dalam kondisinya yang mati dalam dosa itu, apakah dia mau lahir baru? Kalvinis akan menjawab bahwa manusia yang mati dalam dosa, tidak mau lahir baru. Jadi, dalam Kalvinisme, manusia (yang selamat) dilahirbarukan tanpa pilihan, tanpa dapat menolak, dan bertentangan dengan keinginan dia (dia tidak mau lahir baru sebelum dilahirbarukan). Pembacalah yang dapat menilai, apakah ini tidak mirip dengan pemaksaan? Percuma untuk mengatakan bahwa setelah lahir baru dia akan menerima Kristus dengan rela hati, karena: 1. Dia tidak punya pilihan untuk mau lahir baru atau tidak (jadi kelahiran baru dipaksakan padanya). 2. kerelaan hatinya adalah sesuatu yang telah Tuhan tetapkan dan toh tidak mungkin dia lawan. Permasalahannya bukanlah apakah Kalvinis mau mengakui ini ‘memaksa’ atau tidak. Kalvinis boleh jadi tidak mau mengakui, tetapi saya menyimpulkan. Silakan publik yang menilai”. (graphe - Liauw4.doc).

 

Kalau kelahiran baru mau dianggap sebagai paksaan, maka bagaimana Arminianisme menjelaskan tentang pemberian ‘prevenient grace’ (= kasih karunia yang mendahului) kepada semua orang sejak lahir? Apakah Allah minta ijin dari manusia untuk memberikannya? Juga dalam kelahiran jasmani, apakah Allah minta ijin kepada siapapun untuk menciptakan dia? Dan menciptakan sebagai apa (malaikat, manusia, atau binatang?). Dan kalau sebagai manusia, manusia yang bagaimana? Itu juga adalah ‘pemaksaan’? Allah berdaulat, dan berhak melakukan semua hal-hal ini, tanpa minta ijin / persetujuan dari siapapun!

 

Dan tentang istilah ‘irresistible’ (= yang tidak bisa ditolak), saya kira Steven Liauw tidak memperhitungkan bahwa kata ‘irresistible’  (= tidak bisa ditolak) diambil dari acrostic / acronym TULIP. Untuk bisa mendapatkan acrostic / acronym yang bagus, yaitu kata TULIP, yang merupakan nama bunga, maka boleh dikatakan kata ‘Irresistible’ itu dipaksakan. Kata yang lebih tepat sebetulnya adalah ‘effectual’ / ‘effective’ (= berhasil), tetapi kalau digunakan kata yang tepat ini, maka acrostic / acronym yang didapat adalah TULEP! Karena itu, maka dipaksakan penggunaan kata ‘irresistible’ (= tak bisa ditolak). Tetapi yang penting bukan istilah / kata itu sendiri, tetapi bagaimana para Calvinist menjelaskan / menjabarkan doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) itu!

 

Illustrasi: peanut butter (= selei kacang), kalau diterjemahkan secara hurufiah adalah ‘mentega kacang’, tetapi ternyata tidak mengandung butter / mentega. Seorang penulis di internet mengatakan bahwa ‘peanut butter’ tidak mengandung butter / mentega sama seperti ‘butterfly’ (= kupu-kupu) juga tidak mengandung butter / mentega! Lalu mengapa dinamakan ‘peanut butter’? Karena bisa dioleskan dengan mudah pada roti, sama seperti mengoleskan butter / mentega pada roti! Jadi, untuk mengartikan suatu kata, kadang-kadang kita perlu menelusuri dari mana / mengapa kata itu digunakan.

Catatan: penulis lain di internet mengatakan bahwa memang ada ‘peanut butter’ yang ditambahi dengan butter / mentega dan gula dll, tetapi sebetulnya tidak demikian.

 

Illustrasi lain: istilah ‘Bunda Allah’ (THEOTOKOS) untuk Maria, disetujui oleh Sidang Gereja Efesus pada tahun 431 M. Ini menyebabkan istilah itu lalu disalah-artikan dalam Gereja Roma Katolik, dan menyebabkan Maria ditinggikan dan dihormati lebih dari seharusnya (dan bahkan menurut pandangan kita, ia disembah oleh orang-orang Katolik). Padahal istilah ini disahkan dalam Sidang Gereja itu karena pada saat itu ada ajaran sesat yang disebut Nestorianisme, yang mengatakan bahwa Maria hanyalah mengandung dan melahirkan Kristus (manusia Yesus), dan lalu Allah masuk ke dalamNya, sehingga Yesus adalah 2 pribadi. Karena itu, mereka mengusulkan istilah KHRISTOTOKOS (Bunda Kristus) untuk Maria. Sidang Gereja Efesus secara benar mempertahankan istilah ‘Bunda Allah’ (THEOTOKOS) untuk Maria, karena yang dilahirkan oleh Maria adalah satu pribadi, yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Lagi-lagi dari contoh ini kita bisa melihat bahwa suatu istilah kadang-kadang perlu ditelusuri asal usulnya untuk bisa dimengerti dengan benar.

 

b) Banyak orang Arminian / non Reformed yang menganggap (atau ‘memfitnah’) bahwa Irresistible Grace (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) berarti bahwa Allah memaksa orang-orang tertentu untuk masuk surga sekalipun mereka tidak menginginkannya, dan tidak mengijinkan orang-orang lain untuk masuk surga padahal mereka ingin percaya Kristus dan masuk surga.

 

Suhento Liauw: “Sama seperti Limited Atonement, Irresistible Grace adalah poin nalar lanjutan dari serangkaian nalar Calvin. Karena nalar mereka menyimpulkan bahwa Kristus hanya memilih sebagian orang sehingga Ia tidak mungkin menebus semua orang, maka penebusan Kristus sewajarnya bersifat terbatas dari situ terciptalah konsep Limited Atonement. Nalar lanjutannya, jika Kristus hanya memilihi sebagian kecil orang untuk masuk Sorga, dan hanya menebus mereka saja, maka orang yang terpilih serta yang tertebus tidak mungkin dapat menolak anugerah itu. Inilah dasar dari konsep Irresistible Grace. Bisakah disimpulkan bahwa sesungguhnya ada orang yang pada dasarnya tidak ada keinginan masuk Sorga namun apa boleh buat karena telah terpilih maka tidak dapat menolak sehingga terpaksa masuk Sorga? Sebaliknya ada orang yang sangat ingin masuk Sorga namun saying (sayang) sekali ia tidak terpilih dan akhirnya masuk neraka? Sebagian Calvinis mengiyakan dan sebagian membantah.”.

 

Catatan: ini dari tulisan Suhento Liauw tentang ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak). Kalimat terakhir yang saya garis-bawahi itu jelas merupakan fitnahan! Mengapa? Saya tidak percaya ada ahli theologia Calvinist atau Calvinist sejati manapun yang mengiyakan omong kosong ini. Kalau memang ada, mengapa Suhento Liauw tidak memberikan kutipan dari kata-kata orang Calvinist itu? Doktor murahan ini hanya bicara (memfitnah) tanpa bukti apapun! Omong kosong yang mengatakan bahwa Allah membawa orang-orang dengan paksaan ke surga itu, merupakan suatu karikatur (gambaran yang sengaja disalahkan) tentang ajaran / doktrin ‘Irresistible Grace’ (= Kasih karunia yang tidak bisa ditolak) ini!

 

R. C. Sproul: “Much confusion exists on this point. I remember the first lecture I ever heard from John Gerstner. It was on the subject of predestination. Shortly into his lecture Dr. Gerstner was interrupted by a student who was waving his hand in the air. Gerstner stopped and acknowledged the student. The student asked, ‘Dr. Gerstner, is it safe to assume that you are a Calvinist?’ Gerstner answered, ‘Yes,’ and resumed his lecture. A few moments later a gleam of recognition appeared in Gerstner’s eyes and he stopped speaking in mid-sentence and asked the student, ‘What is your definition of a Calvinist?’ The student replied, ‘A Calvinist is someone who believes that God forces some people to choose Christ and prevents other people from choosing Christ.’ Gerstner was horrified. He said, ‘If that is what a Calvinist is, then you can be sure that I am not a Calvinist.’ The student’s misconception of irresistible grace is widespread. I once heard the president of a Presbyterian seminary declare, ‘I am not a Calvinist because I do not believe that God brings some people, kicking and screaming against their wills, into the kingdom, while he excludes others from his kingdom who desperately want to be there.’ I was astonished when I heard these words. I did not think it possible that the president of a Presbyterian seminary could have such a gross misconception of his own church’s theology. He was reciting a caricature which was as far away from Calvinism as one could get. Calvinism does not teach and never has taught that God brings people kicking and screaming into the kingdom or has ever excluded anyone who wanted to be there. Remember that the cardinal point of the Reformed doctrine of predestination rests on the biblical teaching of man’s spiritual death. Natural man does not want Christ. He will only want Christ if God plants a desire for Christ in his heart. Once that desire is planted, those who come to Christ do not come kicking and screaming against their wills. They come because they want to come. They now desire Jesus. They rush to the Savior. The whole point of irresistible grace is that rebirth quickens someone to spiritual life in such a way that Jesus is now seen in his irresistible sweetness. Jesus is irresistible to those who have been made alive to the things of God. Every soul whose heart beats with the life of God within it longs for the living Christ. All whom the Father gives to Christ come to Christ (John 6:37).” [= Ada banyak kebingungan tentang pokok ini. Saya teringat pelajaran pertama yang pernah saya dengar dari John Gerstner. Itu adalah tentang pokok predestinasi. Begitu masuk ke dalam pelajarannya, Dr. Gerstner diinterupsi oleh seorang mahasiswa yang melambaikan tangannya di udara. Gerstner berhenti dan mengenali / menjawab mahasiswa itu. Mahasiswa itu bertanya, ‘Dr. Gerstner, apakah tepat untuk menganggap bahwa engkau adalah seorang Calvinist?’ Gerstner menjawab, ‘Ya’, dan melanjutkan pelajarannya. Beberapa saat kemudian sekilas perhatian tampak / muncul di mata Gerstner dan ia berhenti berbicara di tengah-tengah kalimat dan bertanya kepada mahasiswa itu, ‘Apa definisimu tentang seorang Calvinist?’ Mahasiswa itu menjawab, ‘Seorang Calvinist adalah seseorang yang percaya bahwa Allah memaksa sebagian orang untuk memilih Kristus dan mencegah orang-orang lain dari memilih Kristus’. Gerstner terkejut. Ia berkata, ‘Jika itu adalah seorang Calvinist, maka engkau bisa yakin / pasti bahwa saya bukanlah seorang Calvinist’. Kesalah-mengertian mahasiswa itu tentang ‘kasih karunia yang tidak bisa ditolak’ tersebar luas. Saya pernah mendengar seorang presiden dari suatu seminari Presbyterian menyatakan, ‘Saya bukanlah seorang Calvinist karena saya tidak percaya bahwa Allah membawa sebagian orang, sambil menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka, ke dalam kerajaan, sementara / sedangkan Ia mengeluarkan orang-orang lain dari kerajaanNya, yang benar-benar ingin untuk berada di sana’. Saya heran pada waktu saya mendengar kata-kata ini. Saya menganggap mustahil bahwa presiden dari suatu seminari Presbyterian bisa mempunyai suatu kesalah-mengertian yang begitu besar tentang theologia gerejanya sendiri. Ia sedang mengutip suatu karikatur / penggambaran yang sengaja disalahkan, yang adalah sejauh mungkin dari Calvinisme yang bisa didapatkan seseorang. Calvinisme tidak mengajar dan tidak pernah mengajar bahwa Allah membawa orang-orang, yang sambil menendang-nendang dan menjerit-jerit, ke dalam kerajaan, atau pernah mengeluarkan siapapun yang ingin berada di sana. Ingat bahwa pokok utama dari doktrin Reformed tentang predestinasi bersandar / terletak pada ajaran Alkitabiah tentang kematian rohani manusia. Manusia alamiah tidak menghendaki Kristus. Ia hanya akan menghendaki Kristus jika Allah menanamkan suatu keinginan untuk Kristus dalam hatinya. Satu kali keinginan itu ditanamkan, mereka yang datang kepada Kristus tidak datang dengan menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka. Mereka datang karena mereka ingin / mau datang. Sekarang mereka menginginkan Yesus. Mereka lari dengan tergesa-gesa kepada sang Juruselamat. Seluruh pokok tentang kasih karunia yang tidak bisa ditolak adalah bahwa kelahiran kembali menghidupkan seseorang pada kehidupan rohani dengan cara sedemikian rupa sehingga sekarang Yesus terlihat dalam kemanisanNya yang tidak bisa ditolak. Yesus tidak bisa ditolak bagi mereka yang telah dibuat hidup bagi hal-hal dari Allah. Setiap jiwa yang hatinya berdenyut dengan kehidupan dari Allah di dalamnya rindu akan Kristus yang hidup. Semua yang Bapa berikan kepada Kristus datang kepada Kristus (Yoh 6:37).] - ‘Chosen By God’, hal 121-123.

Yoh 6:37 - Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.”.

 

R. C. Sproul: “The position of Augustine, Martin Luther, John Calvin, and others is so often caricatured to mean that in God’s gracious election he brings people kicking and screaming against their wills into his kingdom. The Augustinian view is that God changes the recalcitrant and enslaved sinner’s will by the Spirit’s changing his internal bent, disposition, or inclination. Augustinians have spelled out this view so often and so clearly, it is amazing that the caricature is so often repeated.” [= Posisi dari Agustinus, Martin Luther, John Calvin, dan yang lain-lain, begitu sering dengan sengaja digambarkan secara salah sehingga berarti bahwa dalam pemilihan yang bersifat kasih karunia dari Allah, Ia membawa orang-orang yang menendang-nendang dan menjerit-jerit bertentangan dengan kehendak mereka ke dalam kerajaanNya. Pandangan Agustinian adalah bahwa Allah mengubah kehendak yang keras kepala dan diperbudak dari orang berdosa oleh Roh yang mengubah kecenderungan atau kecondongan batinnya. Orang-orang Agustinian telah menunjukkan pandangan ini begitu sering dan dengan begitu jelas, dan adalah mengherankan bahwa karikatur / gambaran yang sengaja disalahkan ini begitu sering diulang.] - ‘Willing to Believe’, hal 94 (Libronix).

 

Bdk. Kis 16:14-15 - “(14) Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. (15) Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: ‘Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya.”.

 

Saya akan memberi komentar dari 2 penafsir Arminian tentang text ini, yaitu dari Adam Clarke dan Lenski.

 

Adam Clarke (tentang Kis 16:14): “‘Whose heart the Lord opened,’ As she was a sincere worshipper of God, she was prepared to receive the heavenly truths spoken by Paul and his companions; and, as she was faithful to the grace she had received, so God gave her more grace, and gave her now a divine conviction that what was spoken by Paul was true; and therefore she attended unto the things - she believed them and received them as the doctrines of God; and in this faith she was joined by her whole family, and in it they were all baptized.” (= ‘Yang hatinya Tuhan bukakan’, Karena ia adalah seorang penyembah Allah yang tulus / sungguh-sungguh, ia siap / disiapkan untuk menerima kebenaran-kebenaran surgawi yang dikatakan oleh Paulus dan teman-temannya; dan, karena ia setia pada kasih karunia yang telah ia terima, maka Allah memberi dia kasih karunia lebih banyak lagi, dan sekarang memberinya suatu keyakinan ilahi bahwa apa yang dikatakan oleh Paulus adalah benar; dan karena itu ia memperhatikan hal-hal itu - ia mempercayainya dan menerimanya sebagai doktrin / ajaran dari Allah; dan dalam iman ini ia digabungkan dengan seluruh keluarganya, dan di dalamnya mereka semua dibaptis.).

 

Tanggapan saya: perhatikan bagaimana Adam Clarke menafsirkan ayat ini, sehingga menjadi sesuai dengan pandangan Arminian, yang telah saya bahas di atas. Perlu ditanyakan kepada Adam Clarke: karena apa Lidia menjadi penyembah Allah yang sungguh-sungguh? Karena dia sendiri, atau karena pekerjaan Tuhan?

 

Lenski (tentang Kis 16:14): The Lord opens the heart, but the hand with which he lifts the latch and draws the door is the Word which he makes us hear, and the door opens as we heed, προσέχειν, keep holding our mind to what we hear. No man can open the door of his heart (καρδία is the center of thought and will) himself, nor can he help the Lord to open it by himself lifting the latch and moving the door. The one thing he can do is to bolt the door, i. e., refuse to hear and to heed; and thus he can keep the door closed and bar it even more effectually than it was at first. This prevents conversion. [= Tuhan membuka hati, tetapi tangan dengan mana Ia mengangkat palang pintu dan menarik pintu adalah Firman yang Ia buat kita mendengar, dan pintu terbuka pada saat kita memperhatikan, προσέχειν / PROSEKHEIN, tetap mempertahankan pikiran kita pada apa yang kita dengar. Tak seorangpun bisa membuka pintu hatinya (καρδία / KARDIA adalah pusat dari pikiran dan kehendak) sendiri, juga ia tidak bisa menolong Tuhan untuk membukanya dengan dirinya sendiri mengangkat palang pintu dan menggerakkan pintu. Satu hal yang bisa ia lakukan adalah memalang / menggrendel pintu, yaitu, menolak untuk mendengar dan memperhatikan; dan dengan demikian ia bisa menjaga pintu sehingga tetap tertutup dan memalangnya bahkan dengan lebih efektif dari pada pada awalnya. Ini menghalangi pertobatan.].

 

Tanggapan saya: lagi-lagi suatu pembengkokan ayat, supaya menjadi sesuai dengan pandangan Arminian. Bagaimana mungkin Kis 16:14 yang berbunyi ‘Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus’ bisa diartikan bahwa Lidia bisa menutup hatinya dengan tidak mendengar / memperhatikan?

 

Bdk. Wah 3:7-8 - “(7) ‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Filadelfia: Inilah firman dari Yang Kudus, Yang Benar, yang memegang kunci Daud; apabila Ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. (8) Aku tahu segala pekerjaanmu: lihatlah, Aku telah membuka pintu bagimu, yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu.”.

 

Sekalipun ada yang menafsirkan bahwa pintu di sini adalah pintu pada pelayanan, tetapi saya yakin bahwa kata-kata ini juga berlaku bagi ‘pintu hati’. Kalau Tuhan membuka pintu hati kita, kita pasti mau mendengar dan memperhatikan firman. Perhatikan kata ‘sehingga’ yang saya garis-bawahi dalam Kis 16:14 di atas.

 

Bandingkan dengan:

Luk 24:45 - “Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci.”.

Kis 26:17-18 - “(17) Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, (18) untuk membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepadaKu memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.”.

 

Tetapi bagaimana dengan Wah 3:20 - “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”?

 

Memang kalau dilihat Wah 3:20 ini, seakan-akan manusia bisa ‘tidak membuka pintu hatinya’. Tetapi yang perlu diperhatikan tentang ayat ini adalah bahwa di sini tidak dikatakan bahwa Tuhan membuka pintu hati. Hanya dikatakan Yesus mengetok pintu. Ini menunjuk pada pemberitaan Injil secara lahiriah, yang memang bisa ditolak oleh orang yang mendengarnya.

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org