Golgotha School of Ministry

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Rabu, tgl 12 Juni 2013, pk 19.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

[HP: (031) 70641331 / (031) 60501331 / 081945588855]

Email: buas22@yahoo.com

http://www.golgothaministry.org

 

Irresistible Grace(1)

 

(kasih karunia yang tidak bisa ditolak)

 

I) Perbandingan 3 pandangan: Pelagianisme, Arminianisme, dan Calvinisme.

 

Kita akan memulai pelajaran ini dengan membandingkan 3 ajaran berkenaan dengan kebutuhan kasih karunia untuk keselamatan / percaya kepada Yesus, yaitu Pelagianisme, Calvinisme / Reformed, dan Arminianisme.

 

1) Pelagius / Pelagianisme percaya bahwa manusia tak membutuhkan kasih karunia Allah / pekerjaan Roh Kudus untuk berbuat baik ataupun untuk percaya kepada Yesus.

 

R. C. Sproul: “According to Harnack, Pelagius ‘preached that God commanded nothing impossible, that man possessed the power of doing the good if only he willed, and that the weakness of the flesh was merely a pretext.’ The controlling principle of Pelagius’s thought was the conviction (noted by Harnack) that God never commands what is impossible for man to perform. ... Pelagius raised this question: Is the assistance of grace necessary for a human being to obey God’s commands? Or can those commands be obeyed without such assistance? For Pelagius the command to obey implies the ability to obey. This would be true, not only of the moral law of God, but also of the commands inherent in the gospel. If God commands people to believe in Christ, then they must have the power to believe in Christ without the aid of grace. If God commands sinners to repent, they must have the ability to incline themselves to obey that command. Obedience does not in any way need to be ‘granted.’ ... For Pelagius, nature does not require grace in order to fulfill its obligations. Free will, properly exercised, produces virtue, which is the supreme good and is justly followed by reward. By his own effort man can achieve whatever is required of him in morality and religion.” [= Menurut Harnack, Pelagius ‘mengkhotbahkan / memberitakan bahwa Allah tidak memerintahkan sesuatu yang mustahil / tidak mungkin, bahwa manusia mempunyai kuasa untuk melakukan yang baik jika saja ia mau, dan bahwa kelemahan daging semata-mata merupakan dalih’. Prinsip yang mengendalikan / mengarahkan dari pemikiran Pelagius adalah keyakinan (diperhatikan / dilihat oleh Harnack) bahwa Allah tidak pernah memerintahkan apa yang mustahil / tidak mungkin untuk dilakukan manusia. ... Pelagius mengemukakan pertanyaan ini: Apakah bantuan dari kasih karunia perlu bagi seorang manusia untuk mentaati perintah-perintah Allah? Atau bisakah perintah-perintah itu ditaati tanpa bantuan seperti itu? Bagi Pelagius perintah untuk taat secara implicit menunjukkan kemampuan untuk taat. Ini adalah benar, bukan hanya tentang hukum moral dari Allah, tetapi juga tentang perintah-perintah yang terdapat dalam injil. Jika Allah memerintahkan orang-orang untuk percaya kepada Kristus, maka mereka harus mempunyai kuasa / kekuatan untuk percaya kepada Kristus tanpa pertolongan kasih karunia. Jika Allah memerintahkan orang-orang berdosa untuk bertobat, mereka pasti / harus mempunyai kemampuan untuk mencondongkan diri mereka sendiri untuk mentaati perintah itu. Ketaatan tidak dengan jalan apapun membutuhkan untuk ‘dianugerahkan’. ... Bagi Pelagius, alam tidak memerlukan kasih karunia untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya. Kehendak bebas, yang digunakan secara benar, menghasilkan kebaikan / perbuatan baik, yang adalah kebaikan yang tertinggi dan secara adil diikuti dengan pahala. Oleh usahanya sendiri manusia bisa mencapai apapun yang diharuskan / diwajibkan bagi dia dalam moral dan agama.] - ‘Willing to Believe’, hal 33-34,35 (Libronix).

Catatan: Harnack adalah seorang ahli theologia dan sejarawan Jerman yang hidup pada tahun 1851-1930 (Encyclopedia Britannica 2010).

 

2) Arminianisme mengatakan bahwa sejak lahir, semua manusia sudah menerima pengaruh istimewa dari Roh Kudus (biasanya disebut dengan istilah ‘Prevenient Grace’ atau ‘kasih karunia yang mendahului’). Tanpa pengaruh istimewa ini manusia tidak bisa percaya kepada Yesus. Tetapi dengan adanya pengaruh istimewa dari Roh Kudus ini menyebabkan manusia bisa percaya kepada Yesus, atau memungkinkan manusia untuk percaya kepada Yesus. Sekarang hanya tergantung apakah ia mau atau tidak mau melakukan hal itu. Jadi, manusia bisa menolak kasih karunia Allah itu.

 

Jadi, berbeda dengan Pelagius, Arminius percaya pada Total Depravity (= Kebejatan Total) seandainya tidak ada ‘prevenient grace’ (= kasih karunia yang mendahului). Tetapi dalam faktanya Allah telah memberikan ‘prevenient grace’ (= kasih karunia yang mendahului) ini kepada semua orang sejak lahir, sehingga semua orang bisa / mampu memilih Kristus jika mereka mau.

Bahwa ini memang merupakan ajaran Arminian, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini.

 

R. C. Sproul: “James Arminius was emphatic in his rejection of Pelagianism, particularly with respect to the fall of Adam. The fall leaves man in a ruined state, under the dominion of sin. Arminius declares: ‘In this state, the Free Will of man towards the True Good is not only wounded, maimed, infirm, bent, and weakened (attenuatem); but it is also imprisoned (captivatum), destroyed, and lost. And its powers are not only debilitated and useless unless they be assisted by grace, but it has no powers whatever except such as are excited by Divine grace.…’” [= Yakobus Arminius bersikap tegas dalam penolakannya tentang Pelagianisme, khususnya berkenaan dengan kejatuhan Adam. Kejatuhan itu meninggalkan manusia dalam keadaan hancur, di bawah kuasa dosa. Arminius menyatakan: ‘Dalam keadaan ini, Kehendak Bebas manusia terhadap Kebaikan yang Benar bukan hanya terluka, buntung, lemah, bengkok, dan dilemahkan (attenuatem); tetapi itu juga dipenjarakan (captivatum), hancur dan hilang. Dan kuasa / kekuatannya bukan hanya dilemahkan dan tak berguna kecuali mereka ditolong oleh kasih karunia, tetapi itu tidak mempunyai kuasa-kuasa / kekuatan-kekuatan apapun kecuali yang dibangkitkan oleh kasih karunia Ilahi ...’] - ‘Willing to Believe’, hal 125 (Libronix).

 

R. C. Sproul: “The beginning of the work of grace is called ‘preventing grace’ or more popularly ‘prevenient grace’, referring to the grace that comes before conversion and on which conversion depends. ... The term ‘preventing grace’ is open to misunderstanding. ‘To prevent’ in modern usage usually means ‘to keep something from happening.’ This is not how Arminius uses the term. The word ‘prevent’ derives from the Latin venio, which means simply ‘to come.’ The prefix ‘pre’ means ‘before.’ Therefore, ‘preventing grace’ does not keep salvation from happening but necessarily ‘comes before’ salvation.” [= Permulaan dari pekerjaan kasih karunia disebut ‘preventing grace’ atau secara lebih populer ‘prevenient grace’ / ‘kasih karunia yang mendahului’, yang menunjuk pada kasih karunia yang datang sebelum pertobatan dan pada mana pertobatan tergantung. ... Istilah ‘preventing grace’ terbuka terhadap kesalah-mengertian. ‘To prevent’ dalam penggunaan modern biasanya berarti ‘menjaga sesuatu supaya tidak terjadi’ / ‘mencegah’. Ini bukanlah cara Arminius menggunakan istilah itu. Kata ‘prevent’ diturunkan dari kata bahasa Latin VENIO, yang sekedar berarti ‘datang’. Awalan ‘pre’ berarti ‘sebelum’. Karena itu, ‘preventing grace’ tidak menjaga supaya keselamatan tidak terjadi, tetapi secara perlu ‘datang sebelum’ keselamatan.] - ‘Willing to Believe’, hal 129 (Libronix).

 

R. C. Sproul: PREVENIENT GRACE. As the name suggests, prevenient grace is grace that ‘comes before’ something. It is normally defined as a work that God does for everybody. He gives all people enough grace to respond to Jesus. That is, it is enough grace to make it possible for people to choose Christ. Those who cooperate with and assent to this grace are ‘elect.’ Those who refuse to cooperate with this grace are lost.” (= KASIH KARUNIA YANG mendahului. Seperti ditunjukkan oleh namanya, kasih karunia yang mendahului adalah kasih karunia yang ‘datang sebelum’ sesuatu. Itu biasanya didefinisikan sebagai suatu pekerjaan yang Allah lakukan bagi setiap orang. Ia memberi semua orang kasih karunia yang cukup untuk memberi tanggapan kepada Yesus. Artinya, itu adalah kasih karunia yang cukup untuk membuatnya mungkin bagi orang-orang untuk memilih Kristus. Mereka yang bekerja sama dengan dan memberi persetujuan kepada kasih karunia ini adalah ‘orang-orang pilihan’. Mereka yang menolak untuk bekerja sama dengan kasih karunia ini terhilang.) - ‘Chosen By God’, hal 123.

 

R. C. Sproul: The Point of Departure. Arminius declares that ‘internal vocation is granted (contingit) even to those who do not comply with the call.’ Here, at last, we see the critical point of departure from the view of Luther and Calvin. For the Reformers, the internal call is effectual. That is, all whom God calls internally comply with his call. This sets the stage for the debate over the resistible or irresistible grace of regeneration. Arminius declares: ‘All unregenerate persons have freedom of will, and a capability of resisting the Holy Spirit, of rejecting the proffered grace of God, of despising the counsel of God against themselves, of refusing to accept the Gospel of grace, and of not opening to Him who knocks at the door of the heart; and these things they can actually do, without any difference of the Elect and of the Reprobate.’ Arminius makes it clear that prevenient grace is resistible. This grace is necessary for salvation, but does not insure that salvation will ensue. Grace is a necessary condition for salvation, but not a sufficient condition for salvation. Arminius distinguishes between sufficient and efficient grace: ‘Sufficient grace must necessarily be laid down; yet this sufficient grace, through the fault of him to whom it is granted (contingit), does not (always) obtain its effect. Were the fact otherwise, the justice of God could not be defended in his condemning those who do not believe.’ Prevenient grace is ‘sufficient’ in that it provides everything the sinner needs in order to be saved. The sinner is unable to do the good without it. We can see here that Arminius’s chief concern is to defend the justice of God. If only irresistible grace is given, then in the final analysis God determines who will and who will not be saved. The unspoken question is this: If the sinner cannot respond to the gospel without irresistible grace and if this grace is not given to all, then how can God justly condemn those to whom he has not given it? Arminius goes on to say: ‘The efficacy of saving grace is not consistent with that omnipotent act of God, by which He so inwardly acts in the heart and mind of man, that he on whom that act is impressed cannot do any other than consent to God who calls him. Or, which is the same thing, grace is not an irresistible force.’” [= Titik penyimpangan. Arminius menyatakan bahwa ‘pekerjaan internal / di dalam diberikan (contingit) bahkan kepada mereka yang tidak memenuhi / mentaati panggilan itu’. Di sini, akhirnya, kita melihat titik penyimpangan yang kritis dari pandangan Luther dan Calvin. Bagi para tokoh Reformasi, panggilan internal / di dalam adalah efektif / pasti berhasil. Artinya, semua orang yang Allah panggil dalam panggilan internal / dalam memenuhi / mentaati panggilanNya. Ini mengatur panggung untuk perdebatan berkenaan dengan kasih karunia dari kelahiran baru yang bisa ditolak atau tidak bisa ditolak. Arminius menyatakan: ‘Semua orang yang belum lahir baru mempunyai kebebasan kehendak, dan suatu kemampuan untuk menolak Roh Kudus, untuk menolak kasih karunia Allah yang ditawarkan, untuk meremehkan rencana Allah terhadap diri mereka sendiri, untuk menolak untuk menerima Injil kasih karunia, dan untuk tidak membuka bagiNya yang mengetok pada pintu hati; dan hal-hal ini mereka sungguh-sungguh bisa lakukan, tanpa perbedaan apapun antara orang-orang pilihan dan orang-orang non pilihan / reprobate’. Arminius membuatnya jelas bahwa kasih karunia yang mendahului bisa ditolak. Kasih karunia ini perlu untuk keselamatan, tetapi tidak menjamin bahwa keselamatan akan terjadi. Kasih karunia adalah suatu syarat yang perlu untuk keselamatan, tetapi bukan syarat yang cukup untuk keselamatan. Arminius membedakan antara kasih karunia yang cukup dan kasih karunia yang efisien / pasti berhasil: ‘Kasih karunia yang cukup secara perlu harus diletakkan; tetapi kasih karunia yang cukup ini, melalui kesalahan dari dia kepada siapa itu diberikan (contingit), tidak (selalu) mendapatkan hasilnya. Seandainya faktanya adalah sebaliknya, keadilan Allah tidak bisa dipertahankan dalam penghukumanNya terhadap orang-orang yang tidak percaya’. Kasih karunia yang mendahului adalah ‘cukup’ dalam arti itu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan orang berdosa untuk diselamatkan. Orang berdosa tidak mampu melakukan yang baik tanpa kasih karunia itu. Kita bisa melihat di sini bahwa perhatian utama Arminius adalah untuk mempertahankan keadilan Allah. Jika saja kasih karunia yang tidak bisa ditolak diberikan, maka dalam analisa terakhir Allah menentukan siapa yang akan dan siapa yang tidak akan diselamatkan. Pertanyaan yang tidak diucapkan adalah ini: Jika orang berdosa tidak bisa menanggapi injil tanpa kasih karunia yang tidak bisa ditolak dan jika kasih karunia ini tidak diberikan kepada semua orang, maka bagaimana Allah bisa dengan adil menghukum mereka kepada siapa Ia tidak memberikannya? Arminius melanjutkan dengan berkata: ‘Kemujaraban / keberhasilan dari kasih karunia yang menyelamatkan tidak konsisten dengan tindakan maha kuasa dari Allah, dengan mana Ia bertindak di dalam sedemikian rupa dalam hati dan pikiran manusia, sehingga ia kepada siapa tindakan itu ditanamkan tidak bisa melakukan yang lain dari pada menyetujui Allah yang memanggilnya. Atau, yang adalah hal yang sama dengan, kasih karunia bukanlah kekuatan yang tidak bisa ditolak’.] - ‘Willing to Believe’, hal 130-131 (Libronix).

 

R. C. Sproul: “A bit earlier Arminius said that prevenient grace is sufficient but not efficient. It does not always obtain its effect. At this point he laid the fault with men rather than with God. The failure to acquiesce in this sufficient grace is a fault. Arminius does not say that the assent to prevenient grace is a virtue, but he strongly implies it. If failure to assent is a fault, then to assent is a virtue. If it is not virtue, it is at the very least decisive to the outcome. In the final analysis the good outcome is contingent or dependent on what the person does or does not do” (= Sedikit lebih awal, Arminius berkata bahwa ‘kasih karunia yang mendahului’ adalah cukup tetapi tidak efisien / pasti berhasil. Itu tidak selalu mendapatkan hasilnya. Pada titik ini ia meletakkan kesalahan pada manusia dan bukannya pada Allah. Kegagalan untuk menyetujui tanpa membantah kepada kasih karunia yang cukup ini adalah suatu kesalahan. Arminius tidak mengatakan bahwa persetujuan kepada ‘kasih karunia yang mendahului’ adalah suatu kebaikan, tetapi ia secara implicit menunjukkannya dengan kuat. Jika kegagalan untuk menyetujui adalah suatu kesalahan, maka menyetujui adalah suatu kebaikan. Jika itu bukan kebaikan, itu sedikitnya menentukan hasilnya. Dalam analisa terakhir hasil yang baik tergantung pada apa yang orang itu lakukan atau tidak lakukan) - ‘Willing to Believe’, hal 131 (Libronix).

 

R. C. Sproul: “Is Arminius’s view of regeneration monergistic or synergistic? To answer this question we must first understand what is meant by regeneration. Is regeneration the same as prevenient grace? If prevenient grace always enables the sinner to assent to grace, then Arminius’s view is monergistic in this regard. For Arminius prevenient grace seems to be irresistible to the degree that it effectively liberates the sinner from his moral bondage or impotency. Prior to receiving prevenient grace, man is dead and utterly unable to choose the good. After receiving this grace, the sinner is able to do what he was previously unable to do. In this sense, prevenient grace is monergistic and irresistible. ... Arminius makes it clear that, at the commencement of the work of salvation, man is passive. The exciting of grace on the soul is monergistic.” [= Apakah pandangan Arminius tentang kelahiran baru monergistik atau synergistik? Untuk menjawab pertanyaan ini pertama-tama kita harus mengerti apa yang dimaksudkan dengan kelahiran baru. Apakah kelahiran baru sama dengan ‘prevenient grace’ (= kasih karunia yang mendahului)? Jika ‘kasih karunia yang mendahului’ selalu memampukan orang berdosa untuk menyetujui kasih karunia, maka pandangan Arminius adalah monergistik dalam hal ini. Bagi Arminius ‘kasih karunia yang mendahului’ kelihatannya tak bisa ditolak sampai pada tingkat dimana itu secara efektif membebaskan orang berdosa dari perbudakan atau ketidak-mampuan moral. Sebelum penerimaan ‘kasih karunia yang mendahului’, manusia itu mati dan sama sekali tidak bisa memilih yang baik. Setelah menerima kasih karunia ini, orang berdosa itu bisa melakukan apa yang sebelumnya ia tidak bisa lakukan. Dalam arti ini, ‘kasih karunia yang mendahului’ adalah monergistik dan tidak bisa ditolak. ... Arminius membuat jelas bahwa pada permulaan dari pekerjaan keselamatan, manusia itu pasif. Pembangkitan kasih karunia pada jiwa adalah monergistik.] - ‘Willing to Believe’, hal 131,132 (Libronix).

Catatan: monergistik = hanya satu pihak yang bekerja, yaitu Allah. Sedangkan sinergistik = kedua pihak, yaitu Allah dan manusia bekerja bersama-sama.

 

R. C. Sproul: “Arminius says: ‘In the very commencement of his conversion, man conducts himself in a purely passive manner; that is, though, by a vital act, that is, by feeling (sensu), he has a perception of the grace which calls him, yet he can do no other than receive it and feel it. But, when he feels grace affecting or inclining his mind and heart, he freely assents to it, so that he is able at the same time to with-hold his assent.’” [= Arminius berkata: ‘Pada permulaan yang paling awal dari pertobatannya, manusia bertingkah laku dengan cara yang sepenuhnya pasif; artinya, sekalipun oleh suatu tindakan vital / sangat penting, yaitu, dengan merasakan (sensu), ia mempunyai suatu pengertian / kesadaran tentang kasih karunia yang memanggilnya, tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain menerimanya dan merasakannya. Tetapi, pada waktu ia merasakan kasih karunia mempengaruhi atau mencondongkan pikiran dan hatinya, ia dengan bebas menyetujuinya, sehingga pada saat yang sama ia bisa menahan persetujuannya’.] - ‘Willing to Believe’, hal 132 (Libronix).

 

R. C. Sproul: “Francis Turretin notes this distinction in Arminius: The question is not whether grace is resistible in respect of the intellect or affections; for the Arminians confess that the intellect of man is irresistibly enlightened and his affections irresistibly excited and affected with the sense of grace. But it is treated of the will alone, which they maintain is always moved resistibly, so that its assent remains always free. There is granted indeed irresistibly the power to believe and convert itself, but the very act of believing and converting itself can be put forth or hindered by the human will because they hold that there is in it an essential indifference (adiaphorian) as to admitting or rejecting grace.… Thus we strenuously deny that efficacious grace is resistible in this sense.” [= Francis Turretin memperhatikan perbedaan ini dalam Arminius: Pertanyaannya bukanlah apakah kasih karunia itu bisa ditolak berkenaan dengan intelek atau perasaan; karena orang-orang Arminian mengakui bahwa intelek manusia diterangi secara tak bisa ditolak dan perasaannya dibangkitkan dan dipengaruhi secara tak bisa ditolak dengan perasaan / pengertian tentang kasih karunia. Tetapi itu dibicarakan tentang kehendak saja, yang mereka pertahankan selalu bergerak secara bisa menolak, sehingga persetujuannya selalu tetap bebas. Di sana memang diberikan secara tidak bisa ditolak kuasa / kekuatan untuk percaya dan bertobat itu sendiri, tetapi tindakan percaya dan bertobat itu sendiri bisa diusahakan atau dihalangi oleh kehendak manusia karena mereka percaya bahwa di sana ada di dalamnya suatu sikap netral / tak memihak (adiaphorian) yang hakiki / sangat penting berkenaan dengan penerimaan atau penolakan kasih karunia. ... Jadi kami secara kuat menyangkal bahwa kasih karunia yang mujarab bisa ditolak dalam arti ini.] - ‘Willing to Believe’, hal 132 (Libronix).

Catatan: Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan bahwa Francis Turretin adalah gembala kepala di Geneva / Jenewa pada abad 17. Jelas ia adalah seorang Calvinist. Karyanya merupakan textbook di Princeton Theological Seminary di New Jersey (suatu sekolah theologia Calvinist) sampai pertengahan abad 19.

Saya kira kalimat terakhir dalam kutipan di atas, adalah pandangan Francis Turretin sendiri.

 

Encyclopedia Britannica 2010 dengan entry ‘Calvinism’: “The major Calvinist theological statement of the 17th century was the Institutio Theologiae Elencticae (1688; Institutes of Elenctic Theology) of François Turretin, chief pastor of Geneva. Although the title of his work recalled Calvin’s masterpiece, the work itself bore little resemblance to the Institutes of the Christian Religion (1536); it was not published in the vernacular, and its dialectical structure followed the model of the great Summae of Thomas Aquinas and suggested Thomas’s confidence in the value of human reason. The lasting significance of this shift is suggested by the fact that Turretin’s work was the basic textbook in theology at the Princeton Theological Seminary in New Jersey, the most distinguished intellectual centre of American Calvinism, until the middle of the 19th century.”.

 

R. C. Sproul: “In answering a list of theological articles written against his views, Arminius complains at several points that he has been misunderstood or misrepresented. He was accused of teaching that faith is not the pure gift of God but depends partly on grace and partly on free will. He answered that he never said faith was not the pure gift of God, and he offered in response what he calls a simile: A rich man bestows, on a poor and famishing beggar, alms by which he may be able to maintain himself and his family. Does it cease to be a pure gift, because the beggar extends his hand to receive it? Can it be said with propriety, that ‘the alms depended partly on the liberality of the Donor, and partly on the liberty of the Receiver,’ though the latter would not have possessed the alms unless he had received it by stretching out his hand? Can it be correctly said, because the beggar is always prepared to receive, that ‘he can have the alms, or not have it, just as he pleases?’ If these assertions cannot be truly made about a beggar who receives alms, how much less can they be made about the gift of faith, for the receiving of which far more acts of Divine Grace are required! In Arminius’s simile it is hard to imagine a destitute beggar not assenting to such a gracious gift. But the fact remains that, to receive the alms, the beggar, while still destitute, must stretch out his hand. At the same time, he stretches out his hand because he wants to do so. To receive the gift of faith, according to Calvinism, the sinner also must stretch out his hand. But he does so only because God has so changed the disposition of his heart that he will most certainly stretch out his hand. By the irresistible work of grace, he will do nothing else except stretch out his hand. Not that he cannot not stretch out his hand even if he does not want to, but that he cannot not want to stretch out his hand. In Arminius’s simile, the beggar could conceivably be so obstreperous as to refuse the alms offered. In Augustinianism, this very obstinacy is effectively conquered by irresistible grace. For Calvin, the grace of God extends not only to the alms, but also to the very stretching out of the hand. For Arminius, the beggar possesses the natural power to stretch out his hand.” [= Dalam menjawab suatu daftar artikel theologia yang ditulis menentang pandangannya, Arminius mengeluh pada beberapa point bahwa ia telah disalah-mengerti atau disalah-gambarkan. Ia dituduh mengajarkan bahwa iman bukanlah karunia murni dari Allah tetapi tergantung sebagian pada kasih karunia dan sebagian pada kehendak bebas. Ia menjawab bahwa ia tidak pernah mengatakan bahwa iman bukanlah karunia murni dari Allah, dan ia menawarkan sebagai jawaban apa yang ia sebut sebagai suatu kiasan: Seorang kaya memberi, kepada seorang pengemis yang miskin dan sangat lapar, sedekah dengan mana ia bisa memelihara dirinya sendiri dan keluarganya. Apakah itu berhenti menjadi suatu karunia / pemberian yang murni, karena sang pengemis mengulurkan tangannya untuk menerimanya? Bisakah dikatakan dengan benar, bahwa ‘sedekah itu tergantung sebagian pada kedermawanan dari Sang Pemberi, dan sebagian pada kebebasan dari Sang Penerima’, sekalipun yang belakangan tidak akan memiliki sedekah itu kecuali ia telah menerimanya dengan mengulurkan tangannya? Bisakah dengan benar dikatakan, karena sang pengemis itu selalu siap untuk menerima, bahwa ‘ia bisa mempunyai sedekah, atau tidak mempunyainya, seperti yang ia senangi?’ Jika pernyataan-pernyataan ini tidak bisa dibuat dengan benar tentang seorang pengemis yang menerima sedekah, betapa pernyataan-pernyataan itu lebih lagi tidak bisa dibuat tentang karunia iman, untuk penerimaan mana jauh lebih dibutuhkan tindakan dari Kasih Karunia Ilahi! Dalam kiasan Arminius adalah sukar untuk membayangkan seorang pengemis yang miskin tidak menyetujui karunia yang murah hati / bersifat kasih karunia seperti itu. Tetapi faktanya tetap bahwa untuk menerima sedekah, sang pengemis, sementara tetap miskin, harus mengulurkan tangannya. Pada saat yang sama, ia mengulurkan tangannya karena ia mau berbuat demikian. Untuk menerima karunia iman, menurut Calvinisme, orang berdosa juga harus mengulurkan tangannya. Tetapi ia berbuat demikian, hanya karena Allah telah mengubah kecondongan hatinya sedemikian rupa sehingga ia pasti akan mengulurkan tangannya. Oleh pekerjaan yang tak bisa ditolak dari kasih karunia, ia tidak akan melakukan apapun yang lain kecuali mengulurkan tangannya. Bukan bahwa ia tidak bisa mengulurkan tangannya bahkan jika ia mau / ingin melakukannya, tetapi bahwa ia tidak bisa mau / ingin untuk mengulurkan tangannya. Dalam kiasan Arminius, sang pengemis bisa dibayangkan sebagai begitu tegar sehingga menolak sedekah yang ditawarkan. Dalam Augustinianisme, sikap tegar tengkuk inilah yang secara efektif ditundukkan oleh kasih karunia yang tidak bisa ditolak. Bagi Calvin, kasih karunia Allah meluas bukan hanya pada sedekah itu, tetapi juga pada penguluran dari tangan itu. Bagi Arminius, sang pengemis memiliki kuasa alamiah untuk mengulurkan tanyannya.] - ‘Willing to Believe’, hal 133-134 (Libronix).

 

Arthur W. Pink: “the Holy Spirit does something more in each of God’s elect than He does in the non-elect: He works in them ‘both to will and to do of God’s good pleasure’ (Philippians 2:13). In reply to what we have said above, Arminians would answer, No; the Spirit’s work of conviction is the same both in the converted and in the unconverted, that which distinguishes the one class from the other is that the former yielded to His strivings, whereas the latter resist them.” [= Roh Kudus memang melakukan sesuatu yang lebih di dalam setiap orang-orang pilihan dari pada yang Ia lakukan di dalam orang-orang non pilihan: Ia bekerja dalam mereka ‘baik untuk menghendaki maupun untuk melakukan dari perkenan yang baik dari Allah’ (Fil 2:13). Untuk menjawab terhadap apa yang kami telah katakan di atas, orang-orang Arminian menjawab, Tidak; pekerjaan untuk meyakinkan dari Roh adalah sama, baik dalam orang yang bertobat maupun dalam orang yang tidak bertobat, apa yang membedakan satu golongan dari yang lain adalah bahwa yang pertama menyerah pada pekerjaanNya, sedangkan yang terakhir menolaknya.] - ‘The Sovereignty of God’ (AGES), hal 118.

 

Louis Berkhof: The Arminians departed from the doctrine of the Reformation on this point. According to them God gives sufficient (common) grace to all men, and thereby enables them to repent and believe. If the human will concurs or co-operates with the Holy Spirit and man actually repents and believes, God confers on man the further grace of evangelical obedience and the grace of perseverance. Thus the work of the grace of God is made to depend on the consent of the will of man. There is no such thing as irresistible grace. Says Smeaton in the work already quoted: ‘It was held that every one could obey or resist; that the cause of conversion was not the Holy Spirit so much as the human will concurring or co-operating; and that this was the immediate cause of conversion.’ [= Orang-orang Arminian menyimpang dari doktrin dari Reformasi pada titik / hal ini. Menurut mereka, Allah memberikan kasih karunia yang cukup (umum) bagi semua orang, dan dengan itu memampukan mereka untuk bertobat dan percaya. Jika kehendak manusia setuju dan bekerja sama dengan Roh Kudus dan manusia sungguh-sungguh bertobat dan percaya, Allah memberikan kepada manusia kasih karunia lebih lanjut tentang ketaatan injili dan kasih karunia tentang ketekunan. Jadi, pekerjaan kasih karunia Allah dibuat tergantung pada persetujuan kehendak manusia. Tidak ada hal yang disebut kasih karunia yang tidak bisa ditolak. Kata Smeaton dalam karyanya yang telah dikutip: ‘Dipercaya bahwa setiap orang bisa taat atau menolak; bahwa penyebab dari pertobatan bukanlah Roh Kudus tetapi kehendak manusia yang menyetujui atau bekerja sama; dan bahwa ini adalah penyebab langsung dari pertobatan.’] - ‘Systematic Theology’ (Libronix), hal 430.

 

Louis Berkhof: The distinction between external and internal calling is already found in Augustine, was borrowed from him by Calvin, and thus made prominent in Reformed theology. According to Calvin the gospel call is not in itself effective, but is made efficacious by the operation of the Holy Spirit, when He savingly applies the Word to the heart of man; and it is so applied only in the hearts and lives of the elect. Thus the salvation of man remains the work of God from the very beginning. God by His saving grace, not only enables, but causes man to heed the gospel call unto salvation. The Arminians were not satisfied with this position, but virtually turned back to the Semi-Pelagianism of the Roman Catholic Church. According to them the universal proclamation of the gospel is accompanied by a universal sufficient grace, - ‘gracious assistance actually and universally bestowed, sufficient to enable all men, if they choose, to attain to the full possession of spiritual blessings, and ultimately to salvation.’ The work of salvation is once more made dependent on man. This marked the beginning of a rationalistic return to the Pelagian position, which entirely denies the necessity of an internal operation of the Holy Spirit unto salvation. (= Perbedaan antara panggilan luar dan dalam sudah ditemukan dalam Agustinus, dipinjam dari dia oleh Calvin, dan lalu dibuat menonjol dalam theologia Reformed. Menurut Calvin panggilan injil dalam dirinya sendiri tidaklah efektif, tetapi dibuat menjadi efektif / berhasil oleh pekerjaan Roh Kudus, pada waktu Ia menerapkan Firman secara menyelamatkan pada hati manusia; dan itu diterapkan seperti itu hanya dalam hati dan kehidupan dari orang-orang pilihan. Maka keselamatan manusia tetap merupakan pekerjaan Allah dari permulaan. Allah dengan kasih karuniaNya yang menyelamatkan, bukan hanya memampukan, tetapi menyebabkan manusia untuk memperhatikan panggilan injil kepada keselamatan. Orang-orang Arminian tidak puas dengan posisi / pandangan ini, tetapi sebenarnya kembali / berbalik pada Semi-Pelagianisme dari Gereja Roma Katolik. Menurut mereka, proklamasi / pemberitaan injil yang bersifat universal disertai dengan kasih karunia yang cukup yang bersifat universal, - ‘bantuan universal yang sungguh-sungguh dan diberikan secara universal, cukup untuk memampukan semua manusia, jika mereka memilihnya, untuk mencapai kepemilikan penuh dari berkat-berkat rohani, dan akhirnya keselamatan’. Pekerjaan keselamatan sekali lagi dibuat tergantung pada manusia. Ini menandakan permulaan dari suatu pengembalian rasionalistik pada posisi / pandangan Pelagian, yang sepenuhnya menolak perlunya suatu operasi / pekerjaan di dalam dari Roh Kudus kepada keselamatan) - ‘Systematic Theology’ (Libronix), hal 459.

 

Loraine Boettner: “Arminianism in its radical and more fully developed forms is essentially a recrudescence of Pelagianism, a type of self-salvation. ... Arminianism at its best is a somewhat vague and indefinite attempt at reconciliation, hovering midway between the sharply marked systems of Pelagius and Augustine, taking off the edges of each, and inclining now to the one, now to the other. Dr. A.A. Hodge refers to it as a ‘manifold and elastic system of compromise’” (= Arminianisme dalam bentuknya yang radikal dan berkembang penuh pada dasarnya adalah bangkit kembalinya Pelagianisme, suatu type keselamatan oleh diri sendiri. ... Arminianisme dalam keadaan paling baik adalah usaha memperdamaikan yang agak samar-samar dan tidak pasti, melayang di tengah-tengah antara sistim yang ditandai dengan jelas dari Pelagius dan Agustinus, mengurangi kekuatan / ketajaman dari masing-masing pihak, dan kadang-kadang condong kepada yang satu, kadang-kadang kepada yang lain. Dr. A. A. Hodge menunjuk kepadanya sebagai suatu ‘sistim kompromi yang bermacam-macam dan bersifat elastis’) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 48.

 

Charles Hodge: According to one view the same influence at one time, or exerted on one person, produces a saving effect; and at other times, or upon other persons, fails of such effect. In the one case it is called efficacious, and in the other not. This is not what Augustinians mean by the term. By the Semi-Pelagians, the Romanists, and the Arminians, that influence of the Spirit which is exerted on the minds of all men is called ‘sufficient grace.’ By the two former it is held to be sufficient to enable the sinner to do that which will either merit or secure larger degrees of grace which, if duly improved, will issue in salvation. The Arminians admit that the fall of our race has rendered all men utterly unable, of themselves, to do anything truly acceptable in the sight of God. But they hold that this inability, arising out of the present state of human nature, is removed by the influence of the Spirit given to all. This is called ‘gracious ability’; that is, an ability due to the grace, or the supernatural influence of the Spirit granted to all men. On both these points the language of the Remonstrant Declaration or Confession is explicit. It is there said, ‘Man has not saving faith from himself, neither is he regenerated or converted by the force of his own free will; since, in the state of sin, he is not able of and by himself to think, will, or do any good thing, - any good thing that is saving in its nature, particularly conversion and saving faith. But it is necessary that he be regenerated, and wholly renewed by God in Christ, through the truth of the gospel and the added energy of the Holy Spirit, - in intellect, affections, will, and all his faculties, - so that he may be able rightly to perceive, meditate upon, will, and accomplish that which is a saving good.’ On the point of sufficient grace the Declaration says: ‘Although there is the greatest diversity in the degrees in which grace is bestowed in accordance with the divine will, yet the Holy Ghost confers, or at least is ready to confer, upon all and each to whom the word of faith is ordinarily preached, as much grace as is sufficient for generating faith and carrying forward their conversion in its successive stages. Thus sufficient grace for faith and conversion is allotted not only to those who actually believe and are converted, but also to those who do not actually believe and are not in fact converted.’ In the Apology for the Remonstrance, it is said, ‘The Remonstrants asserted that the servitude to sin, to which men (per naturœ conditionem) in their natural state, are subject, has no place in a state of grace. For they hold that God gives sufficient grace to all who are called, so that they can be freed from that servitude, and at the same time they have liberty of will to remain in it if they choose.’ [= Menurut satu pandangan, pengaruh yang sama pada satu saat, atau digunakan kepada satu orang, menghasilkan hasil / akibat yang menyelamatkan; dan pada saat-saat lain, atau kepada orang-orang lain, gagal menghasilkan hasil / akibat seperti itu. Dalam kasus yang satu itu disebut mujarab, dan dalam kasus yang lain tidak. Ini bukanlah apa yang orang-orang Augustinian artikan dengan istilah itu. Oleh orang-orang Semi-Pelagian, orang-orang Roma (Katolik), dan orang-orang Arminian, pengaruh dari Roh Kudus itu, yang digunakan pada pikiran-pikiran dari semua orang, disebut ‘kasih karunia yang cukup’. Oleh dua kelompok yang terdahulu, itu dipercaya sebagai cukup untuk memampukan orang berdosa untuk melakukan apa yang berjasa atau memastikan kasih karunia dalam tingkat yang lebih besar, yang jika ditingkatkan dengan seharusnya / sepatutnya, akan menghasilkan keselamatan. Orang-orang Arminian mengakui bahwa kejatuhan dari umat manusia telah membuat semua manusia sama sekali tidak mampu, dari diri mereka sendiri, untuk melakukan apapun yang betul-betul bisa diterima dalam pandangan Allah. Tetapi mereka menganggap bahwa ketidak-mampuan, muncul dari keadaan sekarang ini dari manusia, disingkirkan oleh pengaruh dari Roh Kudus yang diberikan kepada semua orang. Ini disebut ‘kemampuan yang bersifat kasih karunia’; artinya, suatu kemampuan yang disebabkan oleh kasih karunia, atau pengaruh supranatural dari Roh yang diberikan kepada semua orang. Tentang kedua pokok ini bahasa / kata-kata dari Pernyataan atau Pengakuan Remonstrant adalah explicit. Dikatakan di sana, ‘Manusia tidak mempunyai iman yang menyelamatkan dari dirinya sendiri, juga ia tidak dilahirbarukan atau dipertobatkan oleh kekuatan dari kehendak bebasnya sendiri; karena, dalam keadaan berdosa, ia tidak mampu dari dan oleh dirinya sendiri untuk berpikir, menghendaki, atau melakukan hal baik apapun, - hal baik apapun yang menyelamatkan dalam sifat dasarnya sendiri, khususnya pertobatan dan iman yang menyelamatkan. Tetapi adalah perlu bahwa ia dilahir-barukan, dan sepenuhnya diperbaharui oleh Allah dalam Kristus, melalui kebenaran dari injil dan kekuatan tambahan dari Roh Kudus, - dalam intelek, perasaan, kehendak, dan semua kekuatan yang membentuk pikirannya, - sehingga ia bisa mampu untuk dengan benar mengerti, merenungkan, menghendaki, dan mencapai apa yang adalah kebaikan yang menyelamatkan’. Tentang pokok tentang kasih karunia yang cukup Pernyataan ini mengatakan: ‘Sekalipun di sana ada perbedaan yang terbesar dalam tingkat-tingkat dalam mana kasih karunia diberikan sesuai dengan kehendak ilahi, tetapi Roh Kudus memberi, atau setidaknya siap untuk memberi, kepada semua orang dan setiap orang kepada siapa firman dari iman dikhotbahkan secara biasa, kasih karunia sebanyak yang mencukupi untuk menimbulkan / melahirkan iman dan melancarkan pertobatan mereka dalam tahap-tahap yang berturut-turut. Demikianlah kasih karunia yang cukup untuk iman dan pertobatan diberikan / dibagikan bukan hanya kepada mereka yang sungguh-sungguh percaya dan dipertobatkan, tetapi juga kepada mereka yang tidak sungguh-sungguh percaya dan dalam faktanya tidak dipertobatkan.’ Dalam Apology untuk Remonstrance, dikatakan, ‘Orang-orang Remonstrant menegaskan bahwa perhambaan kepada dosa, kepada mana orang-orang tunduk dalam keadaan alamiah mereka (per naturœ conditionem), tidak mempunyai tempat dalam keadaan dari kasih karunia. Karena mereka memandang bahwa Allah memberikan kasih karunia yang cukup kepada semua orang yang dipanggil, sehingga mereka bisa dibebaskan dari perhambaan itu, dan pada saat yang sama mereka mempunyai kebebasan dari kehendak untuk tetap di dalamnya jika mereka memilih’.] - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 675-676.

 

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry0@yahoo.com

http://golgothaministry.org