Khotbah Eksposisi

1 PETRUS 4:7-11(3)

 Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Ay 10: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”.

 

1)         “Layanilah seorang akan yang lain”.

 

a)   Dekatnya akhir jaman (lihat ay 7), tidak berarti kita harus menjadi pertapa.

Barclay: “Peter’s mind is dominated in this section by the conviction that the end of all things is near. ... he does not use that conviction to urge men to withdraw from the world and to enter on a kind of private campaign to save their own souls; he uses it to urge them to go into the world and serve their fellow-men. As Peter sees it, a man will be happy if the end finds him, not living as a hermit, but out in the world serving his fellow-men” (= Pikiran Petrus didominasi dalam bagian ini oleh keyakinan bahwa akhir dari segala sesuatu sudah dekat. ... ia tidak menggunakan keyakinan itu untuk mendesak manusia untuk menarik diri dari dunia dan untuk memasuki suatu jenis kampanye pribadi untuk menyelamatkan jiwa mereka sendiri; ia menggunakannya untuk mendesak mereka untuk pergi ke dalam dunia dan melayani sesama manusia mereka. Sebagaimana Petrus melihatnya, seseorang akan bahagia jika akhir jaman menjumpai dia, bukan sedang hidup sebagai seorang pertapa, tetapi sedang di dunia luar melayani sesama manusianya) - hal 254.

 

Pulpit Commentary: “For ‘the end of all things is at hand,’ and the Christian must school himself into thoughtful preparation for that solemn hour. His mind should be filled, not with castles in the air, not with visions of earthly prosperity (a mischievous and enervating habit), but with thoughts of death, judgment, eternity” [= Karena ‘kesudahan dari segala sesuatu sudah dekat’ (ay 7), dan orang Kristen harus melatih dirinya sendiri ke dalam persiapan yang penuh pemikiran untuk saat yang khidmat itu. Pikirannya harus diisi / dipenuhi, bukan dengan khayalan kosong, bukan dengan impian tentang kemakmuran duniawi (suatu kebiasaan yang jahat dan melemahkan), tetapi dengan pemikiran tentang kematian, penghakiman, kekekalan] - hal 178.

 

b)   Petrus tidak menekankan satu pelayanan tertentu secara exklusif.

Barnes’ Notes: “The word ‘minister’ here (diakonountes) would refer to any kind of ministering, whether by counsel, by advice, by the supply of the needs of the poor, or by preaching. It has here no reference to any one of these exclusively; but means, that in whatever God has favored us more than others, we should be ready to minister to their needs” [= Kata ‘layanilah’ di sini (diakonountes) menunjuk pada jenis pelayanan apapun, apakah dengan nasehat, dengan menyuplai kebutuhan orang-orang miskin, atau dengan berkhotbah. Di sini itu tak mempunyai referensi pada yang manapun secara exklusif; tetapi berarti bahwa dalam hal apapun Allah memberi kita kebaikan yang lebih dari pada orang-orang lain, kita harus siap untuk melayani kebutuhan-kebutuhan mereka].

 

2)   “sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”.

 

a)   Orang Kristen adalah pengurus dari kasih karunia Allah.

Barnes’ Notes: “‘As good stewards.’ Regarding yourselves as the mere stewards of God; that is, as appointed by him to do this work for him, and entrusted by him with what is needful to benefit others. He intends to do them good, but he means to do it through your instrumentality, and has entrusted to you as a steward what he designed to confer on them. This is the true idea, in respect to any special endowments of talent, property, or grace, which we may have received from God” (= ‘sebagai pengurus yang baik’. Anggaplah dirimu sendiri sebagai semata-mata pengurus dari Allah; yaitu, sebagai ditentukan olehNya untuk melakukan pekerjaan ini untuk Dia, dan dipercayai oleh Dia dengan apa yang perlu untuk manfaat orang-orang lain. Ia bermaksud untuk melakukan yang baik kepada mereka, tetapi Ia bermaksud untuk melakukannya melalui kamu sebagai alat, dan telah mempercayakan kepada kamu sebagai seorang pengurus apa yang Ia rencanakan untuk berikan kepada mereka. Ini adalah pandangan yang benar, berkenaan dengan pemberian khusus apapun tentang talenta, milik, atau kasih karunia, yang bisa kita terima dari Allah).

 

Barclay: “The Christian has to regard himself as a steward of God. In the ancient world the steward was very important. He might be a slave but his master’s goods were in his hands. ... The steward knew well that none of the things over which he had control belonged to him; they all belonged to his master. In everything he did he was answerable to his master and always it was his interests he must serve. The Christian must always under the conviction that nothing he possesses of material goods or personal qualities is his own; it belongs to God and he must ever use what he has in the interests of God to whom he is always answerable” (= Orang Kristen harus menganggap dirinya sendiri sebagai seorang pengurus dari Allah. Dalam dunia kuno ‘pengurus’ sangat penting. Ia bisa adalah seorang budak tetapi harta benda tuannya ada dalam tangannya. ... Si pengurus tahu dengan baik bahwa tidak ada dari hal-hal yang ada di bawah kontrolnya itu yang adalah miliknya sendiri. Dalam segala sesuatu yang ia lakukan ia bertanggung jawab kepada tuannya dan kepentingan tuannya itulah yang harus selalu ia layani. Orang Kristen harus selalu ada di bawah keyakinan bahwa tidak ada apapun dari harta benda materi atau kwalitet pribadi yang ia miliki, adalah miliknya sendiri; itu adalah milik Allah dan ia harus selalu menggunakan apa yang ia miliki bagi kepentingan Allah kepada siapa Ia selalu bertanggung jawab) - hal 255,256.

 

b)   Orang Kristen harus melayani sesuai dengan karunia-karunia yang Allah berikan kepadanya.

 

Barnes’ Notes: “The word rendered ‘the gift’ (charisma), in the Greek, without the article, means ‘endowment’ of any kind, but especially that conferred by the Holy Spirit. Here it seems to refer to every kind of endowment by which we can do good to others” [= Kata yang diterjemahkan ‘karunia’ (KHARISMA), dalam bahasa Yunani, tanpa kata sandang, berarti suatu ‘pemberian / anugerah’ dari jenis apapun, tetapi khususnya yang diberikan oleh Roh Kudus. Di sini itu kelihatannya menunjuk pada setiap jenis pemberian dengan mana kita bisa berbuat baik kepada orang-orang lain].

 

Pulpit Commentary: “Do not minister anything else, but that very thing which you have received. God shows you what he intends you to do by what he gives you. Do not copy other people; do not try to be anybody else. Be true to yourself. If your gifts impel you to a special mode of service, follow them. Find out what you are fit for, and do it in your own fashion. Take your directions at first hand from God, and don’t spoil your own little gift by trying to bend it into the shape of somebody else’s. Flutes cannot be made to sound like drums. Be content to give out your own note, and leave the care of the harmony to God” (= Jangan melayani sesuatu apapun yang lain, kecuali hal yang telah engkau terima. Allah menunjukkan kepadamu apa yang Ia maksudkan untuk kaulakukan dengan apa yang Ia berikan kepadamu. Jangan meniru orang lain; jangan mencoba untuk menjadi orang lain. Bersikaplah benar terhadap dirimu sendiri. Jika karunia-karuniamu mendorong / mendesakmu kepada suatu cara pelayanan khusus, ikutilah mereka. Carilah untuk apa engkau cocok, dan lakukanlah dengan caramu. Terimalah pengarahanmu langsung dari Allah, dan janganlah membuang-buang karunia kecilmu dengan mencoba untuk membengkokkannya ke dalam bentuk karunia orang lain. Seruling tidak bisa dibuat berbunyi seperti drums. Puaslah untuk memberikan nadamu sendiri, dan serahkanlah pemeliharaan dari keharmonisan kepada Allah) - hal 184.

 

1Kor 12:7-11 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.

 

Ro 12:6-8 - “(6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita”.

 

1Kor 12:18 - “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya”.

 

Illustrasi: dalam permainan puzzle, hanya ada 1 potongan puzzle yang cocok persis untuk mengisi suatu kekosongan. Dalam gereja, saudarapun mempunyai tempat yang unik yang tidak bisa digantkan oleh orang lain. Karena itu, carilah tempat / posisi yang cocok itu, dan layanilah dengan tekun.

 

Bdk. Mark 14:8 - Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. TubuhKu telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburanKu”.

Maria bukan seorang rasul, pendeta, atau pengkhotbah, tetapi ia melakukan pelayanan yang bisa dilakukannya, dan ia dihargai untuk hal itu.

 

c)   Berilah orang Kristen lain kebebasan dalam melayani.

Pulpit Commentary: “on the other hand, beware of interfering with your brother’s equal liberty. Do not hastily condemn modes of action because they are not yours” (= pada sisi yang lain, waspadalah dalam mencampuri kebebasan yang sama dari saudaramu. Jangan dengan tergesa-gesa mengecam cara-cara dari tindakan hanya karena cara-cara itu bukanlah cara-caramu) - hal 184.

 

Tentu saja kalau cara itu memang bertentangan dengan Kitab Suci, maka kita boleh menyalahkannya. Tetapi kalau cara itu sekedar tak sesuai dengan cara / selera kita, kita tidak boleh menyalahkannya.

Tetapi dalam kenyataannya, banyak sekali orang Kristen (biasanya yang dirinya sendiri tidak melayani), yang senang mengurusi cara orang Kristen lain dalam melayani, dan mengecamnya, sekalipun cara itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci.

 

3)   Seluruh ayat ini menunjukkan bahwa setiap orang Kristen pasti menerima karunia dari Tuhan untuk bisa melayani saudara-saudara seimannya. Secara tak langsung ini menunjukkan bahwa:

 

Alan M. Stibbs (Tyndale): “the members of the Christian community are thereby made by God interdependent. No one Christian believers can fully enjoy the benefits of the grace of God in Christ, or fully express the new activities it makes possible, in isolation” (= anggota-anggota dari masyarakat Kristen dengan ini dibuat oleh Allah saling tergantung satu dengan yang lain. Tak ada orang percaya Kristen yang bisa menikmati secara penuh manfaat dari kasih karunia Allah dalam Kristus, atau menyatakan secara penuh aktivitas-aktivitas baru yang dimungkinkan olehnya, dalam suatu pengasingan) - hal 156.

 

Pulpit Commentary: “Every man has some gift; no man has all. Therefore they are bound together by reciprocal wants and supplies, and convexities here and concavities there fit in to one another and make a solid whole. ... This variety constitutes an imperative call to service. Each man has something which some of his brethren want” (= Setiap orang mempunyai beberapa karunia; tidak ada orang yang mempunyai semua karunia. Karena itu mereka diikat menjadi satu oleh kebutuhan dan suplai timbal balik, dan kecembungan di sini dan kecekungan di sana cocok satu dengan yang lain dan membuat suatu keseluruhan yang penuh. ... Keaneka-ragaman ini membentuk suatu panggilan pelayanan yang penting sekali / diharuskan) - hal 184.

 

Pulpit Commentary: “In the Church of Christ no one is wholly and only a giver, or wholly and only a receiver. Every one has some gift, and every one has some need. It is by mutual ministration that the general welfare is secured” (= Dalam Gereja Kristus tak seorangpun adalah sepenuhnya dan hanya seorang pemberi, atau sepenuhnya dan hanya seorang penerima. Setiap orang mempunyai karunia, dan setiap orang mempunyai kebutuhan. Adalah dengan saling melayani maka kesejahteraan umum dipastikan) - hal 189.

 

Bdk. 1Kor 12:21-25 - “(21) Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: ‘Aku tidak membutuhkan engkau.’ (22) Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. (23) Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. (24) Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, (25) supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan”.

 

4)         Hubungannya dengan karunia bahasa Roh.

Karunia harus membangun orang lain, sedangkan karunia bahasa Roh tanpa penterjemahan, tak berguna untuk itu.

1Kor 14:3-5,13-17 - “(3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. ... (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya”.

Karunia selalu bertujuan untuk membangun orang-orang lain. Karena itu beberapa penafsir menafsirkan bahwa ay 4a cuma merupakan bahasa sindiran dan arti sebenarnya adalah bahwa karunia bahasa Roh tidak membangun siapapun.

 

Ay 11: “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin”.

 

1)   “Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah”.

a)   Dalam KJV kata ‘firman’ adalah ‘oracles’, dan kata ‘oracle’ sebetulnya berarti ‘sabda dewa’.

KJV: ‘If any man speak, let him speak as the oracles of God’ (= Jika ada orang yang berbicara, hendaklah ia berbicara seperti sabda Allah).

Pulpit Commentary: “The language of the apostle here need not be taken as referring to the heathen oracles. The New Testament makes use of the expression ‘oracles’ to designate divinely authorized utterances intended to instruct and benefit men. Thus Moses is said by Stephen to have received ‘living oracles’ to give unto the Jews; and the author of the epistle of the Hebrews describes the elements of Christian doctrine as ‘first principles of the oracles of God.’” (= Bahasa dari sang rasul di sini tidak perlu dianggap sebagai menunjuk kepada sabda dewa kafir. Perjanjian Baru menggunakan ungkapan ‘sabda dewa’ ini untuk menunjuk pada ucapan-ucapan yang diberi otoritas secara ilahi, yang dimaksudkan untuk mengajar dan memberi manfaat kepada manusia. Karena itu Musa dikatakan oleh Stefanus telah menerima ‘sabda dewa yang hidup’ untuk memberikannya kepada orang-orang Yahudi; dan penulis dari surat Ibrani menggambarkan elemen-elemen dari ajaran Kristen sebagai ‘prinsip-prinsip pertama dari sabda Allah’) - hal 189.

 

Kis 7:38 - “Musa inilah yang menjadi pengantara dalam sidang jemaah di padang gurun di antara malaikat yang berfirman kepadanya di gunung Sinai dan nenek moyang kita; dan dialah yang menerima firman-firman yang hidup untuk menyampaikannya kepada kamu”.

KJV: the lively oracles (= sabda-sabda dewa yang hidup).

 

Ibr 5:12 - “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras”.

KJV: ‘the first principles of the oracles of God’ (= prinsip-prinsip pertama dari sabda Allah).

 

b)   Calvin mengatakan (hal 131-132) bahwa ini menunjukkan bahwa seorang pengkhotbah harus memberitakan Firman Allah dan bukannya ajaran yang merupakan penemuan manusia, ataupun tradisi-tradisi seperti dalam kalangan Gereja Roma Katolik.

 

c)   Orang yang memberitakan Firman Tuhan pertama-tama harus menerima / mendengarnya dari Tuhan, dan baru setelah itu memberitakannya.

Barclay: “First he listened to God, and then he spoke to men” (= Pertama-tama / mula-mula ia mendengarkan Allah, dan lalu ia berbicara kepada manusia) - hal 256.

 

2)  “jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah”.

 

Pulpit Commentary: “We are weak, but his strength is made perfect in weakness; ... He supplies the strength which we need for the work which he has given us to do; he has appointed to every man his work, and will enable every man to do the work appointed him, if he seeks for that strength in faith and prayer” (= Kita lemah, tetapi kekuatanNya disempurnakan dalam kelemahan; ... Ia menyuplai kekuatan yang kita butuhkan untuk pekerjaan yang telah Ia berikan kepada kita untuk kita lakukan; Ia telah menetapkan setiap orang pekerjaannya, dan akan memampukan setiap orang untuk melakukan pekerjaan yang ditetapkanNya, jika ia mencari kekuatan itu dalam iman dan doa) - hal 180.

 

Fil 4:13 - “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”.

KJV: ‘I can do all things through Christ which strengtheneth me’ (= Aku bisa melakukan segala sesuatu melalui Kristus yang menguatkan aku).

2Kor 3:5 - “Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

 

3)  “supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus”.

Kemuliaan Allah bukan hanya harus merupakan tujuan dari pelayanan, tetapi bahkan tujuan hidup dan tujuan dari setiap tindakan orang Kristen.

1Kor 10:31 - “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.

 

Calvin: “it is therefore a sacrilegious profanation of God’s gifts when men propose to themselves any other object than to glorify God. ... men wickedly take away from him what is his own, when they obscure in anything, or in any part, his glory” (= karena itu merupakan suatu pencemaran yang bersifat melanggar kesucian karunia-karunia Allah pada waktu manusia mengemukakan kepada diri mereka sendiri suatu obyek apapun selain dari memuliakan Allah. ... manusia secara jahat mengambil dari Dia apa yang adalah milikNya, pada waktu mereka mengaburkan dalam hal apapun, atau dalam bagian apapun, kemuliaanNya) - hal 132,133.

 

4)  “Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin”.

Dalam Kitab Suci Indonesia, RSV, dan NIV, bagian ini dipisahkan sebagai kalimat baru. Tetapi dalam KJV dan NASB bagian ini merupakan sambungan dari bagian sebelumnya.

KJV: ‘If any man speak, let him speak as the oracles of God; if any man minister, let him do it as of the ability which God giveth: that God in all things may be glorified through Jesus Christ, to whom be praise and dominion for ever and ever. Amen’ (= Jika ada orang berbicara, hendaklah ia berbicara sebagai sabda Allah; jika ada orang yang melayani, hendaklah ia melakukannya dengan kemampuan yang Allah berikan, supaya Allah dalam segala sesuatu bisa dimuliakan melalui Yesus Kristus, bagi siapa pujian dan kekuasaan untuk selama-lamanya! Amin).

NASB: Whoever speaks, let him speak, as it were, the utterances of God; whoever serves, let him do so as by the strength which God supplies; so that in all things God may be glorified through Jesus Christ, to whom belongs the glory and dominion forever and ever. Amen (= Siapapun berbicara, hendaklah ia berbicara sebagai ucapan-ucapan Allah; siapapun melayani, hendaklah ia melakukannya dengan kekuatan yang disuplai oleh Allah; sehingga dalam segala sesuatu Allah bisa dimuliakan melalui Yesus Kristus, yang adalah empunya kemuliaan dan kekuasaan selama-lamanya! Amin).

 

Dengan demikian terlihat bahwa doxology (= kata-kata kemuliaan) ini menunjuk kepada Yesus.

 

Matthew Henry: “The apostle’s adoration of Jesus Christ, and ascribing unlimited and everlasting praise and dominion to him, prove that Jesus Christ is the most high God, over all blessed for evermore. Amen” (= Pemujaan sang rasul tentang Yesus Kristus, dan penganggapan bahwa pujian dan kekuasaan yang tak terbatas dan kekal sebagai milikNya, membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang tertinggi / maha tinggi, yang terpuji di atas semua untuk selama-lamanya. Amin).

  

-o0o-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com