Khotbah Eksposisi

1 PETRUS 4:7-11(1)

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Ay 7: “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa”.

 

1) “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat”.

 

Ada orang-orang yang mengatakan bahwa kata-kata ‘kesudahan segala sesuatu sudah dekat’ menunjuk pada kematian masing-masing orang Kristen. Ada juga orang-orang yang berpendapat bahwa kata-kata ini menunjuk pada kehancuran Yerusalem pada tahun 70 M.

Calvin berpendapat bahwa kata-kata ini menunjuk pada akhir jaman / kedatangan Kristus yang keduakalinya. Dan Editor dari Calvin’s Commentary (hal 128 - footnote) juga menentang keras kalau kata-kata ini diartikan menunjuk pada kehancuran Yerusalem. Ini harus menunjuk kepada kedatangan Yesus yang keduakalinya mengingat bahwa dalam surat 2Petrus, Petrus membahas tentang topik ini (2Pet 3).

Tetapi lalu mengapa akhir jamannya tak datang-datang? Calvin menjawab: bagi kita terlihat lama, tetapi dibandingkan dengan kekekalan, waktu yang berlalu sampai saat ini singkat.

Tentang ayat-ayat yang mengatakan bahwa akhir jaman sudah dekat, Barclay mengatakan ada 4 cara untuk melihat ayat-ayat itu, dan yang pertama adalah ini:

Barclay: “We may hold that the New Testament writers were in fact mistaken” (= Kita bisa  menganggap bahwa penulis-penulis Perjanjian Baru dalam faktanya salah) - hal 249.

Sekalipun Barclay sendiri pada kesimpulan akhir tidak mengambil penafsiran ini untuk 1Pet 4:7 ini, tetapi kata-kata ini tetap menunjukkan kesesatannya, yang menunjukkan bahwa ia tidak mempercayai inerrancy of the Bible (= ketidak-bersalahan Alkitab).

 

2)  “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa”.

KJV: ‘be ye therefore sober, and watch unto prayer’ (= karena itu hendaklah kamu waras, dan berjaga-jaga dalam doa).

RSV: ‘therefore keep sane and sober for your prayers’ (= karena itu tetaplah sehat dalam pikiran dan waras untuk doa-doamu).

NIV: Therefore be clear minded and self-controlled so that you can pray (= Karena itu hendaklah engkau berpikir jernih / bersih dan menguasai diri sehingga kamu dapat berdoa).

NASB: therefore, be of sound judgment and sober spirit for the purpose of prayer (= karena itu, punyailah penilaian yang sehat dan roh yang waras untuk tujuan doa).

 

a)   Arti yang bervariasi dari kata ‘sober’ (= waras).

 1.         Ada arti ‘penguasaan diri’ terkandung dalam kata ini.

Pulpit Commentary: “The etymology of the Greek word points to the safeguard of the mind; the mind, with all its thoughts, must be kept safe, restrained within due limits. The fancies, aspirations, desires, must not be allowed to wander unrestrained” (= Asal kata dari kata Yunaninya menunjuk kepada usaha penjagaan terhadap pikiran; pikiran, dengan semua pemikirannya, harus dijaga aman, dikekang dalam batasan-batasan yang seharusnya. Khayalan-khayalan, keinginan-keinginan, tidak boleh diijinkan untuk mengembara tanpa dikekang) - hal 178.

Penerapan: pikiran dan khayalan tentang sex, uang, kesenangan-kesenangan duniawi, dan sebagainya.

Jamieson, Fausset & Brown: “‘Sober,’ the opposite of ‘lasciviousness’.” (= ‘Sober’ lawan dari ‘nafsu berahi’).

 

2.  Ada arti ‘tidak sembarangan / ceroboh’ terkandung dalam kata ini.

Barnes’ Notes: “‘Be ye therefore sober.’ Serious; thoughtful; considerate. Let a fact of so much importance make a solemn impression on your mind, and preserve you from frivolity, levity, and vanity” (= ‘Karena itu jadilah kamu waras’. Serius, bijaksana, penuh pertimbangan. Hendaklah suatu fakta yang begitu penting memberikan kesan yang khidmat / sungguh-sungguh pada pikiranmu, dan menjaga kamu dari kelakuan yang sembrono, sikap yang sembrono, dan kesia-siaan).

Bdk. Amsal 19:2 - “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah.

Penerapan: berkata, bertindak / melakukan sesuatu tanpa pikir panjang.

 

3.  Ada arti ‘tenang’ dan ‘kemampuan melihat segala sesuatu sebagaimana adanya’.

Tentu saja kita tidak mungkin bisa ‘melihat segala sesuatu sebagaimana adanya’ kalau kita tidak mengerti Kitab Suci, dan tidak mau banyak belajar Kitab Suci (tidak datang Pemahaman Alkitab, tidak Saat Teduh / Bible Reading, dsb).

Barnes’ Notes: “There are advantages in seriousness of mind. It enables us to take better views of things, ... A calm, sober, sedate mind is the best for a contemplation of truth, and for looking at things as they are” (= Ada keuntungan / manfaat dalam keseriusan dari pikiran. Itu memampukan kita untuk mempunyai pandangan yang lebih baik tentang hal-hal, ... Pikiran yang tenang, waras, tenang / sabar / tidak ribut adalah yang terbaik untuk perenungan suatu kebenaran, dan untuk melihat hal-hal sebagaimana adanya mereka).

Barclay: “The great characteristic of sanity is that it sees things in their proper proportions; it sees what things are important and what are not; it is not swept away by sudden and transitory enthusiasm; it is prone neither to unbalanced fanatism nor to unrealizing indifference. It is only when we see the affairs of earth in the light of eternity that we see them in their proper proportions; it is when God is given his proper place that everything takes its proper place” (= Ciri yang besar dari kewarasan adalah bahwa itu melihat hal-hal dalam proporsi / ukuran yang benar; itu melihat hal-hal apa yang penting dan apa yang tidak; itu tidak dihanyutkan oleh semangat yang mendadak dan sementara; itu tidak condong pada fanatisme yang tak seimbang ataupun sikap acuh tak acuh yang tak disadari. Hanya pada waktu kita melihat urusan-urusan bumi dalam terang dari kekekalan maka kita melihat mereka dalam proporsi / ukuran yang benar; pada saat Allah diberi tempat yang benar maka segala sesuatu mendapatkan tempatnya yang benar) - hal 251.

 

Barclay: “it ... mean that his approach to life must not be frivolous and irresponsible. To take things seriously is to be aware of their real importance and to be ever mindful of their consequences in time and in eternity. It is to approach life, not as a jest, but as a serious matter for which we are answerable” (= itu ... berarti bahwa pendekatannya pada kehidupan tidak boleh sembrono dan tak bertanggung jawab. Menangani / menganggap hal-hal secara serius artinya sadar tentang kepentingan mereka yang sejati dan selalu mengingat konsekwensi mereka dalam waktu dan dalam kekekalan. Itu adalah mendekati kehidupan, bukan sebagai suatu lelucon, tetapi sebagai suatu persoalan serius untuk mana kita bertanggung jawab) - hal 252.

 

Penerapan: memang setan ingin kita melihat hal-hal bukan sebagaimana adanya, apalagi dari sudut Kitab Suci / kekekalan / rohani. Misalnya melihat uang / keuntungan, ia menggoda kita untuk berpikir bahwa dengan hal-hal itu kita bisa senang / berbahagia. Tetapi Kitab Suci:

a.   Mengatakan bahwa segala sesuatu adalah sia-sia.

Pkh 2:8-11 - “(8) Aku mengumpulkan bagiku juga perak dan emas, harta benda raja-raja dan daerah-daerah. Aku mencari bagiku biduan-biduan dan biduanita-biduanita, dan yang menyenangkan anak-anak manusia, yakni banyak gundik. (9) Dengan demikian aku menjadi besar, bahkan lebih besar dari pada siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum aku; dalam pada itu hikmatku tinggal tetap padaku. (10) Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya, dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun, sebab hatiku bersukacita karena segala jerih payahku. Itulah buah segala jerih payahku. (11) Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.

b.   Menyebut uang sebagai Mammon.

Mat 6:24 - “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.

c.   Memperingatkan kita akan bahaya dari uang / keinginan untuk menjadi kaya.

1Tim 6:9-10 - “(9) Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. (10) Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

d.   Mengatakan bahwa uang tak bisa memberikan kepuasan.

Pkh 5:9 - “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia”.

 

Bdk. 1Tim 4:8 - “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”.

KJV: ‘For bodily exercise profiteth little: but godliness is profitable unto all things, having promise of the life that now is, and of that which is to come’ (= Karena latihan tubuh / jasmani berguna sedikit: tetapi kesalehan berguna untuk segala sesuatu, karena mempunyai janji tentang hidup sekarang ini, dan hidup yang akan datang).

NIV: For physical training is of some value, but godliness has value for all things, holding promise for both the present life and the life to come (= Karena latihan fisik mempunyai nilai tertentu, tetapi kesalehan mempunyai nilai untuk segala sesuatu, memegang janji untuk kehidupan yang sekarang ini dan kehidupan yang akan datang).

Orang Kristen boleh, dan bahkan seharusnya memelihara tubuh mereka dengan olah raga. Tetapi pada saat yang sama orang Kristen harus sadar bahwa manfaat kesehatan tubuh ini hanya sementara, dan tak bisa dibandingkan dengan manfaat dari kesalehan / kerohanian. Karena itu yang terakhir ini harus lebih ditekankan.

 

4.   Pulpit Commentary (hal 172) menafsirkan kata ‘sober’ ini sebagai ‘self-restrained, calm, thoughtful’ (= pengekangan diri sendiri, tenang, bijaksana).

 

5.   Kata ini digunakan untuk menggambarkan orang yang sudah disembuhkan dari kerasukan setan. Kata ini juga dikontraskan dengan ‘gila’, dan ‘berpikiran terlalu tinggi tentang diri sendiri’.

Alan M. Stibbs (Tyndale): “‘Be ye therefore sober,’ or ‘of sound mind’ (RV). The verb SOPHRONEIN, ‘to be in one’s right mind’, ‘in control of oneself’, is used to describe the restored demoniac at Gadara (Mk. 5:15). It is also used in contrast both to being ‘beside oneself’ or ‘mad’ (2Cor. 5:13), and to ‘thinking too highly of oneself’ (Rom. 12:3). There are dangers to spiritual well-being in intemperance, uncontrolled excitement or frenzy, and conceit. This sinful and self-indulgent world is not the place to lose one’s mental or moral balance. Those who would be ready for Christ’s appearing must keep their head and conscience clear” [= ‘Hendaklah engkau waras’, atau ‘berpikiran sehat’ (RV). Kata kerja SOPHRONEIN, ‘ada dalam pikiran yang benar’, ‘menguasai diri sendiri’, digunakan untuk menggambarkan orang kerasukan setan yang telah dipulihkan di Gadara (Mark 5:15). Itu juga digunakan untuk mengkontraskan dengan ‘gila’ (2Kor 5:13), dan ‘memikirkan terlalu tinggi tentang dirinya sendiri’ (Ro 12:3). Ada bahaya-bahaya bagi kesejahteraan rohani dalam minum berlebihan / tak ada penguasaan diri, kegembiraan yang tidak terkontrol atau kegilaan, dan pandangan berlebihan tentang diri sendiri. Dunia yang berdosa dan memuaskan diri sendiri ini bukanlah tempat untuk kehilangan keseimbangan mental dan moral seseorang. Mereka yang mau siap untuk kedatangan Kristus harus menjaga kepala dan hati nurani mereka bersih] - hal 153.

 

Mark 5:15 - “Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka”.

 

2Kor 5:13 - “Sebab jika kami tidak menguasai diri, hal itu adalah dalam pelayanan Allah, dan jika kami menguasai diri, hal itu adalah untuk kepentingan kamu”.

KJV: ‘For whether we be beside ourselves, it is to God: or whether we be sober, it is for your cause’ (= Karena apakah kami gila, itu adalah untuk Allah: atau apakah kami waras, itu adalah untuk perkaramu).

 

Ro 12:3 - “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.

Bdk. Ro 12:16 - “Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!”.

 

b)   Karena kesudahan segala sesuatu sudah dekat, kita diperintahkan untuk waras, supaya kita dapat berdoa.

Bdk. Luk 21:34-36 - “(34) ‘Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. (35) Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. (36) Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.’”.

 

Alan M. Stibbs (Tyndale): “such sobriety is indispensable to full prayerfulness” (= kewarasan seperti itu sangat diperlukan bagi dedikasi yang penuh kepada doa) - hal 153.

 

Pulpit Commentary: “He who lives in expectation of the end of all things, must live in prayer; for only by constant and faithful prayer can he prepare himself for that awful day; and he cannot pray aright unless he lives a godly, righteous, and sober life” (= Ia yang hidup dalam pengharapan tentang akhir dari segala sesuatu, harus hidup dalam doa; karena hanya dengan doa yang konstan / terus menerus dan setia ia bisa menyiapkan dirinya untuk hari yang mengerikan / dahsyat itu; dan ia tidak bisa berdoa dengan benar kecuali ia menjalani kehidupan yang saleh, benar dan waras) - hal 179.

 

Pulpit Commentary: “Much prayer is needful for preparation against the hour of death; the self-indulgent cannot pray aright” (= Banyak doa diperlukan untuk persiapan terhadap saat kematian; orang-orang yang memuaskan diri sendiri tidak bisa berdoa dengan benar) - hal 180.

 

Matthew Henry: “The consideration of our approaching end is a powerful argument to make us sober in all worldly matters, and earnest in religious affairs” (= Pertimbangan tentang akhir yang mendekat ini merupakan suatu argumentasi yang kuat untuk membuat kita waras dalam semua hal-hal duniawi, dan bersungguh-sungguh dalam urusan-urusan agama).

 

Tentu saja kita tidak boleh membuang secara total semua urusan duniawi, seperti pekerjaan, keluarga, study, dan sebagainya, sekalipun hal-hal ini hanya bernilai sementara. Tetapi kita harus memberi penekanan yang lebih banyak pada hal-hal rohani, yang bernilai kekal. Dan kalau kita diharuskan memilih 2 hal itu, kita harus memilih yang terakhir. Contoh:

·   Abraham meninggalkan negerinya, sanak saudaranya, pekerjaannya demi mentaati panggilan Tuhan (Kej 12:1-4).

·  Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus meninggalkan pekerjaan dan keluarganya untuk memenuhi panggilan Yesus (Mat 4:18-22).

·   Matius meninggalkan pekerjaan dan teman-temannya untuk memenuhi panggilan Yesus (Mat 9:9).

·    Petrus dan murid-murid yang lain meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus.

Mat 19:27-29 - “(27) Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: ‘Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?’ (28) Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaanNya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. (29) Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”.

 

Bdk. Luk 14:26,33 - “(26) ‘Jikalau seorang datang kepadaKu dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi muridKu. ... (33) Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu”.

  

-bersambung-

 

e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com