Khotbah Eksposisi

1 Petrus 4:1-6(3)

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

 

Ay 6: “Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.

 

KJV: ‘For for this cause was the gospel preached also to them that are dead, that they might be judged according to men in the flesh, but live according to God in the spirit’ (= Karena, untuk alasan ini, injil diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia dalam daging, tetapi hidup menurut Allah dalam roh).

 

Menurut saya terjemahan yang terbaik, bahkan dari antara Kitab Suci Kitab Suci bahasa Inggris, adalah terjemahan KJV.

 

Ada beberapa penafsiran tentang 1Pet 4:6 ini:

 

1)   Orang mati itu ditafsirkan sebagai orang yang mati rohani, atau mati dalam dosa, tetapi masih hidup secara jasmani (Agustinus, Luther).

 

Matthew Henry: “Others take the expression, that they might be judged according to men in the flesh, in a spiritual sense, thus: The gospel was preached to them, to judge them, condemn them, and reprove them, for the corruption of their natures, and the viciousness of their lives, while they lived after the manner of the heathen or the mere natural man; and that, having thus mortified their sins, they might live according to God, a new and spiritual life” (= Orang-orang lain mengartikan ungkapan, ‘supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia dalam daging’, dalam arti rohani, demikian: Injil telah diberitakan kepada mereka, untuk menghakimi mereka, mengecam mereka, dan memarahi mereka, karena kejahatan mereka dan ketidak-bermoralan kehidupan mereka, sementara mereka hidup menurut cara-cara orang kafir atau manusia daging; dan supaya, setelah dimatikan dosa-dosanya, mereka bisa hidup menurut Allah, suatu kehidupan yang baru dan rohani).

 

Matthew Henry: “The mortifying of our sins and living to God are the expected effects of the gospel preached to us” (= Pematian dari dosa-dosa kita dan kehidupan untuk Allah adalah hasil-hasil yang diharapkan dari pemberitaan injil kepada kita).

 

Catatan: di sini Matthew Henry hanya memberikan pandangan orang lain, bukan pandangannya sendiri.

 

Keberatan terhadap pandangan pertama ini: Ay 5 dan ay 6 berhubungan dekat, sehingga tak mungkin kata ‘mati’ dalam kedua ayat itu diartikan secara berbeda, yang satu dalam arti jasmani, yang lain dalam arti rohani.

Bdk. 1Pet 4:5-6 - “(5) Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati. (6) Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah”.

KJV: ‘(5) Who shall give account to him that is ready to judge the quick and the dead. (6) For for this cause was the gospel preached also to them that are dead, that they might be judged according to men in the flesh, but live according to God in the spirit’ [= (5) Yang akan memberi pertanggung-jawaban kepada Dia, yang siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. (6) Karena, untuk alasan ini injil diberitakan juga kepada mereka yang mati, supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia dalam daging, tetapi hidup menurut Allah dalam roh].

 

Kata ‘For’ (= Karena) di awal ay 6 ini kelihatannya menghubungkan secara dekat ay 6 dengan ay 5. Dalam ay 5 kata ‘mati’ jelas berarti ‘mati secara jasmani’, dan karena itu merupakan sesuatu yang aneh kalau dalam ay 6, yang berhubungan dekat dengannya, kata ‘mati’ diartikan ‘mati secara rohani’ atau ‘mati dalam dosa’.

 

Pulpit Commentary: “The conjunction ‘for’ seems to link this verse closely to ver. 5, ... Some have thought that the word ‘dead’ is used metaphorically for the dead in trespasses and sins. But it seems scarcely possible to give the word a literal sense in ver. 5 and a metaphorical sense in ver. 6” [= Kata perangkai ‘karena’ / ‘itulah sebabnya’ kelihatannya menghubungkan ayat ini secara dekat dengan ay 5, ... Sebagian orang beranggapan bahwa kata ‘mati’ digunakan secara kiasan untuk orang yang mati dalam pelanggaran dan dosa. Tetapi kelihatannya tidak mungkin memberikan kata itu arti hurufiah dalam ay 5 dan arti kiasan dalam ay 6] - hal 171.

 

2)         Ini betul-betul menunjuk pada penginjilan kepada orang yang sudah mati.

William Barclay: “It has been taken to mean quite simply ‘all the dead’. There can be little doubt that this third meaning is correct; Peter has just been talking about the descent of Christ to the place of the dead, and here he comes back to the idea of Christ preaching to the dead. No fully satisfactory meaning has ever been found for this verse, but we think that the best explanation is as follows. For mortal man, death is the penalty of sin. As Paul wrote: ‘Sin came into the world through one man and death through sin, and so death spread to all men because all men sinned’ (Romans 5:12). Had there been no sin, there would have been no death; and, therefore, death in itself is a judgment. So Peter says, all men have already been judged when they die; in spite of that Christ descended to the world of the dead and preached the gospel there, giving them another chance to live in the Spirit of God. In some ways this is one of the most wonderful verses in the Bible, for, if our explanation is anywhere near the truth, it gives a breath-taking glimpse of a gospel of a second chance [= Ini diartikan ‘semua orang mati’. Tidak ada keraguan bahwa arti ketiga inilah yang benar; Petrus baru berbicara tentang turunnya Kristus ke tempat orang mati, dan di sini ia kembali kepada gagasan tentang Kristus yang berkhotbah kepada orang mati. Tidak ada arti yang memuaskan secara penuh yang pernah ditemukan untuk ayat ini, tetapi kami menganggap bahwa penjelasan yang terbaik adalah sebagai berikut. Untuk manusia yang fana, kematian adalah hukuman dosa. Seperti Paulus menuliskan: ‘Dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa’ (Roma 5:12). Seandainya tidak ada dosa, maka tidak akan ada kematian; dan karena itu kematian itu sendiri adalah suatu penghakiman / hukuman. Jadi Petrus berkata, semua orang telah dihakimi ketika mereka mati; sekalipun demikian Kristus turun ke dunia orang mati dan memberitakan Injil di sana, memberikan mereka kesempatan yang lain untuk hidup dalam Roh Allah. Dalam beberapa hal ini adalah salah satu ayat yang paling indah dalam Alkitab, karena, jika penjelasan kami dekat dengan kebenaran, itu memberikan suatu pandangan sekilas tentang suatu Injil dari kesempatan yang kedua] - hal 248-249.

 

A. T. Robertson: “Bigg takes it to mean that all men who did not hear the gospel message in this life will hear it in the next before the final judgment” (= Bigg menganggap bahwa ini berarti bahwa semua orang yang tidak pernah mendengar berita Injil dalam hidup ini akan mendengarnya dalam hidup yang akan datang sebelum penghakiman terakhir) - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol 6, hal 124.

 

Pulpit Commentary: “The aorist euhggelisqh directs our thoughts to some definite occasion. The absence of the article (kai nekroiV) should also be noticed; the words assert that the gospel was preached to dead persons - to some that were dead. These considerations lead us to connect the passage with ch. 3:19,20. There St. Peter tells us that Christ himself went and preached in the spirit ‘to the spirits in prison;’ then the gospel was preached, the good news of salvation was announced, to some that were dead. The article is absent both here and in ver. 5 (zwntaV kai nekrouV). All men, quick and dead alike, must appear before the judgment-seat of Christ; so St. Peter may not have intended to limit the area of the Lord’s preaching in Hades here, as he had done in ch. 3. There he mentioned one section only of the departed; partly because the Deluge furnished a conspicuous example of men who suffered for evil doing, partly because he regarded it as a striking type of Christian baptism. Here, perhaps, he asserts the general fact - the gospel was preached to the dead; perhaps (we may not presume to dogmatize in a matter so mysterious, about which so little is revealed) to all the vast population of the underworld, who had passed away before the gospel times. Like the men of Tyre and Sidon, of Sodom and Gomorrah, they had not seen the works or heard the words of Christ during their life on the earth; now they heard from the Lord himself what he had done for the salvation of mankind. Therefore God was ready to judge the quick and the dead, for to both was the gospel preached” [= Bentuk lampau euhggelisqh (= diberitakan injil) mengarahkan pikiran kita kepada saat / peristiwa tertentu. Tidak adanya kata sandang (kai nekroiV = juga / bahkan orang mati) juga harus diperhatikan; kata-kata itu menegaskan bahwa injil diberitakan kepada orang-orang mati - kepada beberapa orang yang mati. Pertimbangan-pertimbangan ini memimpin kita untuk menghubungkan text ini dengan pasal 3:19,20. Di sana Santo Petrus memberitahu kita bahwa Kristus sendiri pergi dan berkhotbah dalam roh ‘kepada roh-roh yang di dalam penjara’; saat itu injil diberitakan, kabar baik tentang keselamatan diumumkan, kepada sebagian orang yang sudah mati. Kata sandang tidak ada baik di sini maupun dalam ay 5 (zwntaV kai nekrouV = orang hidup dan orang mati). Semua orang, hidup atau mati, harus muncul di hadapan takhta penghakiman Kristus; jadi di sini Santo Petrus tidak bermaksud untuk membatasi daerah pemberitaan Tuhan di Hades, seperti yang telah ia lakukan dalam pasal 3. Di sana ia menyebutkan hanya satu bagian dari orang-orang yang sudah mati; karena Air Bah memberi contoh yang menyolok tentang orang-orang yang menderita karena berbuat jahat, dan juga karena ia menganggap Air Bah itu sebagai type yang menyolok untuk baptisan Kristen. Di sini, mungkin ia menekankan fakta itu secara umum - injil diberitakan kepada orang mati; mungkin (kami tidak mau bersikap dogmatik dalam persoalan yang begitu misterius, tentang mana dinyatakan begitu sedikit) kepada semua penduduk dari dunia orang mati, yang telah mati sebelum jaman injil. Seperti orang-orang Tirus dan Sidon, Sodom dan Gomora, mereka belum melihat pekerjaan-pekerjaan atau mendengar kata-kata dari Kristus selama hidup mereka di bumi; sekarang mereka mendengar dari Tuhan sendiri apa yang telah Ia lakukan untuk keselamatan umat manusia. Karena itu Allah siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, karena injil telah diberitakan kepada mereka] - hal 171.

 

Mungkin penafsir ini menyebutkan Tirus, Sidon, Sodom, dan Gomora, karena adanya ayat-ayat yang berbunyi:

·         Mat 10:15 - “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu”.

·         Mat 11:20-24 - “(20) Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizatNya: (21) ‘Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. (23) Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. (24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.’”.

 

Terhadap penafsiran ini perlu dingat bahwa:

¨       dalam sepanjang Kitab Suci orang-orang Sodom dan Gomora dijadikan simbol / contoh kejahatan, dan hukuman atas mereka juga dijadikan peringatan terhadap orang-orang jahat (Yes 1:9-10  3:9  13:19  Yer 23:14  49:18  Ro 9:29  2Pet 2:6).

¨       Tirus, Sidon, Sodom dan Gomora dikatakan punya ‘tanggungan’ (yang jelas menunjuk pada ‘hukuman’) pada hari penghakiman, sekalipun tanggungan itu lebih ringan dari kota-kota yang mendengar pemberitaan Kristus.

Mat 10:15 - Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu”.

Mat 11:22,24 - “(22) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. ... (24) Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan dari pada tanggunganmu.’”.

¨       Untuk Sodom dan Gomora bahkan dikatakan telah menanggung siksaan api kekal.

Yudas 7 - “sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang”.

Ayat ini seharusnya membuang dari pikiran kita bahwa orang-orang Sodom dan Gomora mungkin bertobat di Hades dan diselamatkan! Perhatikan kata-kata telah menanggung siksaan api kekal.

 

Pulpit Commentary: “‘That they might be judged according to men in the flesh, but live according to God in the spirit.’ The gospel was preached to the dead for this end (eiV touto), that they might be judged indeed (ina kriqwsi men), but nevertheless live (zwsi de). ... The meaning seems to be - the gospel was preached to the dead, that though they were judged, yet they might live” [= ‘Supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia dalam daging, tetapi hidup menurut Allah dalam roh’. Injil diberitakan kepada orang mati untuk tujuan ini (eiV touto) supaya mereka dihakimi (ina kriqwsi men), tetapi hidup (zwsi de). ... Kelihatannya artinya adalah: injil diberitakan kepada orang mati, sehingga sekalipun mereka dihakimi, tetapi mereka bisa hidup] - hal 171-172.

Ia lalu membandingkan dengan 1Kor 5:5 - “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan”.

Pulpit Commentary menambahkan lagi: “The verb kriqwsi, ‘might be judged,’ is aorist, as describing a single fact; the verb zwsi, ‘might live,’ is present, as describing a continual state” (= Kata kerja kriqwsi, ‘supaya bisa dihakimi’, ada dalam bentuk aorist / lampau, karena menggambarkan fakta yang terjadi satu kali; kata kerja zwsi, ‘bisa hidup’, ada dalam bentuk present, karena menggambarkan keadaan yang terus menerus) - hal 172.

 

Pulpit Commentary: “But if all are to be judged, all must have the gospel preached to them; or the judgment would be partial, unjust, unrighteous. ... Hence the good tidings had been preached ‘to the dead.’ ‘Spirits in prison’ were visited by the Redeemer; to the dead Christ goes with his boundless gospel of righteousness and mercy. The myriads in the Roman empire in Peter’s day who died without a single note of the evangel falling on their ears - died in gross corruption and bewildering superstitions of heathenism, are yet to be met with the offers of mercy, with the provisions of the gospel, and with the love of Jesus Christ” (= Tetapi jika semua akan dihakimi, semua harus diinjili; atau penghakiman akan menjadi berat sebelah, tidak adil, tidak benar. ... Karena itu kabar gembira telah diberitakan ‘kepada orang mati’. ‘Roh-roh dalam penjara’ dikunjungi oleh sang Juruselamat; Kristus pergi kepada orang mati dengan injil kebenaran dan belas kasihanNya yang tak terbatas. Banyak sekali orang dalam kekaisaran Romawi pada jaman Petrus yang mati tanpa mendengar injil sedikitpun - mati dalam kejahatan yang besar dan tahyul-tahyul kafir yang membingungkan, akan ditemui dengan penawaran belas kasihan, dengan penyediaan injil, dan dengan kasih Yesus Kristus) - hal 196.

 

Pulpit Commentary: “For all will have heard the gospel. Quick and dead alike will have heard it. It was preached in Hades by the Lord himself to the dead who in life had not heard the glad tidings. It is a sweet and comforting thought that they were not left to perish uncared for. We know not the result of the Saviour’s preaching; it is hidden from us; conjecture is vain; perhaps irreverent. But we have the fact - the gospel was preached to them, and the object was that they might live according to God in the spirit. Is it now preached to the dead who in life have had scanty opportunities and scanty knowledge? We are not told; but we know that God is ‘not willing that any should perish, but that all should come to repentance;’ we know that the Lord Jesus Christ ‘tasted death for every man;’ we know that the true Light ‘lighteth every man;’ and we feel sure that none can be left to perish without the means of grace; we feel sure that, in some way, and at some time, the gracious offer of salvation comes to every man in life or in death, in ways known or unknown” (= Karena semua akan mendengar injil. Orang hidup dan orang mati akan mendengarnya. Itu diberitakan di Hades oleh Tuhan sendiri kepada orang mati yang dalam hidupnya tidak pernah mendengar kabar gembira itu. Merupakan suatu pemikiran yang manis dan menghibur bahwa mereka tidak dibiarkan binasa tanpa diperhatikan. Kami tidak mengetahui hasil dari pemberitaan sang Juruselamat; itu disembunyikan dari kami; menebak-nebak tidak ada gunanya, mungkin bahkan tidak sopan. Tetapi kami mempunyai fakta - injil diberitakan kepada mereka, dan tujuannya adalah supaya mereka bisa hidup menurut Allah dalam roh. Apakah itu sekarang diberitakan kepada orang mati yang dalam hidupnya hanya mempunyai sedikit kesempatan dan sedikit pengetahuan? Kami tidak diberi tahu; tetapi kami tahu bahwa Allah ‘tidak menghendaki bahwa ada siapapun yang binasa, tetapi supaya semua bertobat’ (2Pet 3:9); kami tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus ‘merasakan / mengalami maut bagi setiap orang’ (Ibr 2:9); kami tahu bahwa Terang yang sesungguhnya ‘menerangi setiap orang’ (Yoh 1:9); dan kami merasa yakin bahwa tidak seorangpun bisa dibiarkan binasa tanpa jalan kasih karunia; kami yakin bahwa, dengan cara tertentu, dan pada saat tertentu, tawaran keselamatan yang bersifat kasih karunia datang kepada setiap orang dalam kehidupan atau dalam kematian, dengan cara-cara yang diketahui atau tak diketahui] - hal 178.

 

Tetapi ada yang mempunyai penafsiran yang berbeda tentang siapa orang yang diinjili di Hades itu.

Pulpit Commentary: “‘Dead’ is general; but we are not to think of all the dead. The word is properly limited by the connected language. The time is to be observed - the gospel was preached to the dead. And we are only to think of the dead with whom the language can be associated, that they had been ‘judged according to men in the flesh.’ The reference seems to be simply to the antediluvians. They had been overtaken, not by death in the ordinary way; but, in the interests of humanity, it had been considered necessary that they should be swept from the face of the earth. This ‘judgment according to man’ was not one with the final judgment on them. To them, after they had been judged thus on earth, in Hades the gospel was preached. .... The expression of the aim as ‘life in the spirit’ is very startling. This is far from being plain to us; and we have not the links that would enable us to connect it with judgment. We can only apply to Peter’s own writings the words he applies to Paul’s, ‘In which are some things hard to be understood.’” [= Kata ‘mati’ bersifat umum; tetapi kita tidak boleh berpikir tentang semua orang mati. Kata itu dibatasi oleh kalimat yang berhubungan. Waktunya harus diperhatikan - injil diberitakan (bentuk lampau) kepada orang mati. Dan kita harus berpikir hanya tentang orang mati dengan siapa kalimat ini bisa dihubungkan, bahwa telah ‘dihakimi menurut manusia dalam daging’. Ini menunjuk pada orang-orang sebelum Air Bah. Mereka telah mati bukan dengan cara biasa; tetapi demi kepentingan umat manusia, dianggap perlu bahwa mereka disapu dari muka bumi. ‘Penghakiman menurut manusia’ ini tidak sama dengan penghakiman akhir kepada mereka. Setelah mereka dihakimi seperti itu di bumi, di Hades injil diberitakan kepada mereka. ... Ungkapan dari tujuan sebagai ‘hidup dalam roh’ sangat mengejutkan. Ini tidak jelas bagi kami; dan kami tidak mempunyai mata rantai yang memampukan kami untuk menghubungkannya dengan penghakiman. Kami hanya bisa menerapkan terhadap tulisan Petrus sendiri kata-kata yang ia terapkan pada tulisan Paulus: ‘Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami’] - hal 201.

 

Keberatan terhadap penafsiran ini sama dengan keberatan terhadap pandangan ke 7 tentang 1Pet 3:18-20, yaitu:

 

a)   Hal sepenting itu (adanya penginjilan dalam dunia orang mati, adanya second chance / kesempatan kedua) tidak mungkin diajarkan dengan cara yang begitu sedikit (hanya dalam 1Pet 3:18-20 dan 1Pet 4:6) dan dengan cara yang begitu kabur.

 

b)   Pertobatan hanya bisa terjadi kalau orang-orang itu didoakan. Kalau demikian, apakah kita juga harus mendoakan orang-orang mati?

Bandingkan dengan 1Yoh 5:16 - “Kalau ada seorang melihat saudaranya berbuat dosa, yaitu dosa yang tidak mendatangkan maut, hendaklah ia berdoa kepada Allah dan Dia akan memberikan hidup kepadanya, yaitu mereka, yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan maut. Ada dosa yang mendatangkan maut: tentang itu tidak kukatakan, bahwa ia harus berdoa.

Ayat ini mengatakan bahwa kalau ada seorang yang melakukan dosa yang membawa maut (mungkin yang dimaksud adalah dosa menghujat Roh Kudus yang tidak bisa diampuni - bdk. Mat 12:31-32), maka kita tidak perlu berdoa untuk orang itu. Kalau orang yang melakukan dosa yang membawa maut saja tidak boleh didoakan, bagaimana mungkin sekarang kita harus berdoa untuk orang yang sudah ada di dalam maut?

 

c)   Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan binasa / masuk neraka.

1.   Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu”.

Yeh 3:18 ini menunjukkan bahwa orang yang tidak mendengar peringatan itu tetap akan mati dalam kesalahannya.

2.   Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.

Kalau orang yang tidak mempunyai hukum Taurat dikatakan ‘akan binasa tanpa hukum Taurat’ (artinya ia tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, tetapi dihakimi berdasarkan suara hati / hati nurani mereka - bdk. Ro 2:14-15. Tetapi mereka tetap akan binasa), maka bisalah disimpulkan bahwa orang yang tidak mempunyai Injil atau tidak pernah mendengar Injil akan binasa tanpa Injil (artinya mereka tidak akan dihakimi berdasarkan Injil, tetapi mereka tetap akan binasa).

3.   Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.

Text ini memberikan suatu rangkaian: orang yang berseru kepada Tuhan akan selamat, tetapi bagaimana bisa berseru kalau tidak percaya, dan bagaimana percaya kalau tidak pernah mendengar, dan bagaimana mendengar kalau tidak ada yang memberitakan? Kalau rangkaian ini dibalik, maka akan didapatkan: kalau tidak ada yang memberitakan, maka orangnya tidak bisa mendengar. Kalau tidak mendengar, ia tidak bisa percaya. Kalau ia tidak percaya, ia tidak bisa berseru. Dan kalau ia tidak bisa berseru maka ia tidak bisa selamat. Jadi kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadanya, ia tidak bisa selamat!

Jadi, semua ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil akan mati dalam dosanya.

 

d)   Penghakiman Kristus nanti tergantung hanya pada apa yang dilakukan seseorang dalam hidupnya, bukan pada apa yang ia lakukan setelah mati.

2Kor 5:10 - “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

 

Perhatikan juga Luk 16:25-26 - “(25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (26) Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang”.

Seluruh cerita tentang Lazarus dan orang kaya ini jelas bertentangan dengan ajaran yang mengatakan adanya kemungkinan pertobatan setelah kematian. Orang kaya itu tidak pernah diinjili di Hades, dan sekalipun ia jelas sekali menyesal, tetapi tidak ada pengampunan baginya.

 

Louis Berkhof: “It (Scripture) also invariably represents the coming final judgment as determined by the things that were done in the flesh, and never speaks of this as dependent in any way on what occurred in the intermediate state” [= Itu (Kitab Suci) juga selalu menunjukkan / menggambarkan bahwa penghakiman akhir yang mendatang itu ditentukan oleh hal-hal yang dilakukan dalam daging, dan tidak pernah berbicara tentang hal ini sebagai tergantung dengan cara apapun pada apa yang terjadi dalam intermediate state (keadaan antara kematian dan kebangkitan)] - ‘Systematic Theology’, hal 693.

 

Calvin: “it is an indubitable doctrine of Scripture, that we obtain not salvation in Christ except by faith; then there is no hope left for those who continue to death unbelieving” (= merupakan suatu doktrin / ajaran yang sudah pasti dari Kitab Suci, bahwa kita tidak mendapat keselamatan dalam Kristus kecuali oleh iman; maka tidak ada pengharapan yang tersisa untuk mereka yang terus tidak percaya sampai mati) - hal 113.

 

Pandangan ini merupakan pandangan sesat yang berbahaya. Pandangan ini menyebabkan orang beranggapan bahwa pertobatan maupun penginjilan bukanlah sesuatu yang bersifat urgent / mendesak. Kitab Suci jelas mengajarkan bahwa setelah kematian tidak ada kesempatan untuk mendengar Injil ataupun bertobat. Karena itu kalau saudara belum sungguh-sungguh percaya / diselamatkan, cepatlah percaya kepada Yesus sebelum terlambat. Dan kalau saudara mau memberitakan Injil kepada seseorang lakukanlah secepatnya sebelum terlambat.

 

3)   Orang mati itu masih hidup pada waktu injil diberitakan kepada mereka, tetapi sudah mati waktu Petrus menulis surat ini.

 

Matthew Henry: “Some understand this difficult place thus: For this cause was the gospel preached to all the faithful of old, who are now dead in Christ, that thereby they might be taught and encouraged to bear the unrighteous judgments and persecutions which the rage of men put upon them in the flesh, but might live in the Spirit unto God” (= Sebagian menafsirkan tempat yang sukar ini demikian: Untuk alasan ini injil diberitakan kepada semua orang-orang setia pada jaman dahulu, yang sekarang telah mati dalam Kristus, supaya dengan itu mereka bisa diajar dan dikuatkan untuk menahan penghakiman yang tidak benar dan penganiayaan yang diberikan kepada mereka dalam daging oleh kemarahan orang-orang, tetapi bisa hidup dalam Roh bagi Allah).

 

Allan M. Stibbs (Tyndale): “Some think it is possible to find here, and in 3:19, an indication that an opportunity to hear the gospel is given to men after death. This interpretation is not clearly demanded by the actual statements; still less is it supported by their contexts. Nor does an idea of such far-reaching consequence find support elsewhere in the Bible. So we think it right to reject it. ... A point against the first view is that the preaching was done with a view to something happening to them while they were still ‘in the flesh’, or alive on earth; it cannot, therefore, have taken place after death” (= Sebagian orang menganggapnya mungkin untuk mendapatkan di sini, dan dalam 3:19, suatu petunjuk bahwa suatu kesempatan untuk mendengar injil diberikan kepada manusia setelah kematian. Penafsiran ini tidak secara jelas dituntut oleh pernyataan yang sesungguhnya; lebih-lebih tidak didukung oleh kontext. Juga gagasan yang mempunyai konsekwensi yang begitu jauh ini tidak mempunyai dukungan di tempat lain dalam Alkitab. Jadi kami menganggap benar untuk menolaknya. ... Satu hal yang menentang pandangan pertama ini adalah bahwa pemberitaan itu dilakukan dengan maksud supaya sesuatu terjadi kepada mereka pada saat mereka tetap ada ‘dalam daging’, atau hidup di bumi; karena itu itu tidak mungkin terjadi setelah kematian) - hal 151.

 

Allan M. Stibbs (Tyndale): “Not a few, including Augustine, Bede, Erasmus and Luther, have interpreted the statement as referring to the spiritually dead, to whom the gospel is preached in this world (cf. Jn. 5:25; Eph. 2:1,5, 5:14) that they may enter into spiritual life. Points against this second view are that the word ‘dead’ has just been used in verse 5 of the physically dead; and the verb ‘was preached’ is in the past tense” [= Tidak sedikit, termasuk Agustinus, Bede, Erasmus dan Luther, telah menafsirkan bahwa pernyataan ini menunjuk kepada orang yang mati secara rohani, kepada siapa injil diberitakan dalam dunia ini (bdk. Yoh 5:25; Ef 2:1,5,  5:14) supaya mereka bisa masuk ke dalam kehidupan rohani. Hal-hal yang menentang pandangan kedua ini adalah bahwa kata ‘mati’ baru digunakan dalam ay 5 tentang orang yang mati secara fisik; dan kata kerja ‘diberitakan’ ada dalam bentuk lampau] - hal 151.

 

Allan M. Stibbs (Tyndale): “We definitely prefer, therefore, the third view given above that during their earthly lives the gospel was preached even to those who have since died, in order that the judgment due to them as human sinners might be decisively accomplished here and now in the flesh, and that they might eternally enjoy a spiritual life like God’s, as partakers of the divine nature. (In the Greek there is a significant contrast between the aorist tense of ‘judged’ and the present continuous ‘live’.)” [= Karena itu, kami lebih memilih pandangan ketiga yang diberikan di atas yaitu bahwa selama hidup duniawi mereka injil diberitakan bahkan kepada mereka yang setelah itu telah mati, supaya penghakiman terhadap mereka sebagai orang-orang berdosa bisa secara meyakinkan diselesaikan di sini dan sekarang dalam daging, dan supaya mereka bisa secara kekal menikmati kehidupan rohani seperti milik Allah, sebagai pengambil bagian dari sifat ilahi. (Dalam bahasa Yunani ada suatu kontras yang penting / berarti antara bentuk lampau dari ‘dihakimi’ dan bentuk present continuous dari kata ‘hidup’.)] - hal 152.

 

Louis Berkhof: “In this connection the apostle warns the reader that they should not live the rest of their life in the flesh to the lusts of men, but to the will of God, even if they should give offense to their former companions and be slandered by them, since they shall have to give an account of their doing to God, who is ready to judge the living and the dead. The ‘dead’ to whom the gospel was preached were evidently not yet dead when it was preached unto them, since the purpose of this preaching was in part ‘that they might be judged according to men in the flesh.’ This could only take place during their life on earth. In all probability the writer refers to the same spirits in prison of which he spoke in the preceding chapter.” (= Sehubungan dengan ini sang rasul memperingati pembaca bahwa dalam sisa hidup mereka, mereka tidak boleh hidup dalam daging sesuai nafsu manusia, tetapi sesuai kehendak Allah, bahkan jika mereka harus menyinggung / menyakiti hati teman-teman mereka yang lama dan difitnah oleh mereka, karena mereka akan harus memberikan pertanggungan jawab terhadap apa yang mereka lakukan kepada Allah, yang siap untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati. ‘Orang mati’ kepada siapa injil diberitakan jelas belum mati pada waktu injil itu diberitakan kepada mereka, karena tujuan dari pemberitaan ini adalah ‘supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia di dalam daging’. Ini hanya bisa terjadi dalam sepanjang kehidupan mereka di bumi. Mungkin penulis menunjuk kepada roh-roh yang sama yang ada dalam penjara yang ia bicarakan dalam pasal yang terdahulu) - ‘Systematic Theology’, hal 341.

 

Jadi Berkhof menganggap bahwa ini tetap menunjuk pada pemberitaan injil kepada orang-orang jaman Nuh. Tetapi Albert Barnes mempunyai pandangan yang berbeda, seperti yang terlihat dari kutipan di bawah ini.

 

Barnes’ Notes: “It seems to me that the most natural and obvious interpretation is to refer it to those who were then dead, to whom the gospel had been preached when living, and who had become true Christians” (= Bagi saya kelihatannya penafsiran yang paling wajar / alamiah dan jelas adalah mengarahkan ini kepada mereka yang pada saat itu sudah mati, kepada siapa injil telah diberitakan pada saat mereka hidup, dan yang telah menjadi orang-orang Kristen yang sejati) - hal 1429.

 

Barnes’ Notes: “In support of this it may be said, (1) that this is the natural and obvious meaning of the word ‘dead,’ which should be understood literally, unless there is some good reason in the connexion for departing from the common meaning of the word. (2) The apostle had just used the word in that sense in the previous verse. (3) This will suit the connexion, and accord with the design of the apostle. He was addressing those who were suffering persecution. It was natural, in such a connexion, to refer to those who had died in the faith, and to show, for their encouragement, that though they had been put to death, yet they still lived to God. He therefore says, that the design in publishing the gospel to them was, that though they might be judged by men in the usual manner, and put to death, yet that in respect to their higher and nobler nature, ‘the spirit,’ they might live unto God” [= Untuk mendukung ini bisa dikatakan, (1) bahwa ini adalah arti yang wajar dan jelas dari kata ‘mati’, yang harus dimengerti secara hurufiah, kecuali ada alasan yang kuat untuk menyimpang dari arti yang umum dari kata itu. (2) Sang rasul baru menggunakan kata itu dalam arti seperti itu dalam ayat sebelumnya. (3) Ini cocok dengan kontex dan sesuai dengan tujuan dari sang rasul. Ia sedang berbicara kepada mereka yang sedang menderita karena penganiayaan. Dalam hubungan seperti itu adalah wajar untuk menunjuk kepada mereka yang telah mati dalam iman, dan menunjukkan - untuk menghibur mereka - bahwa sekalipun mereka telah dibunuh, tetapi mereka tetap hidup untuk Allah. Karena itu ia berkata bahwa tujuan pemberitaan injil kepada mereka adalah bahwa sekalipun mereka dihakimi oleh manusia dengan cara biasa, dan dibunuh, tetapi berkenaan dengan kerohanian, yang lebih tinggi dan mulia, mereka bisa hidup untuk Allah] - hal 1429.

 

Barnes’ Notes: “‘That they might be judged according to men in the flesh.’ That is, so far as men are concerned, (kata anqrwpouV,) or in respect to the treatment which they received from men in the flesh, they were judged and condemned; in respect to God, and the treatment which they received from him, (kata qeon,) they would live in spirit. Men judged them severely, and put them to death for their religion; God gave them life, and saved them. By the one they were condemned in the flesh - so far as pain, and sorrow, and death could be inflicted on the body; by the other they were made to live in the spirit - to be his, to live with him. The word ‘judged’ here, I suppose, therefore, to refer to a sentence passed on them for their religion, consigning them to death for it” [= ‘Supaya mereka bisa dihakimi menurut manusia dalam daging’. Yaitu, sejauh manusia yang dipersoalkan, (kata anqrwpouV), atau berkenaan dengan perlakuan yang mereka terima dari manusia dalam daging, mereka dihakimi dan dihukum; berkenaan dengan Allah, dan perlakuan yang mereka terima dari Dia, (kata qeon), mereka hidup dalam roh. Manusia menghakimi mereka dengan keras, dan membunuh mereka karena agama mereka; Allah memberi mereka hidup, dan menyelamatkan mereka. Oleh yang satu mereka dihukum dalam daging - sejauh rasa sakit, dan kesedihan, dan kematian bisa diberikan pada tubuh; oleh yang lain mereka dibuat hidup dalam roh - untuk menjadi milikNya, untuk hidup dengan Dia. Karena itu saya menduga bahwa kata ‘dihakimi’ di sini menunjuk kepada suatu hukuman yang diberikan kepada mereka karena agama mereka, membunuh mereka karena itu] - hal 1429.

 

Barnes’ Notes: “There is a particle in the original - men, indeed - which has not been retained in the common translation, but which is quite important to the sense: ‘that they might indeed be judged in the flesh, but live,’ etc. The direct object or design of preaching the gospel to them was not that they might be condemned and put to death by man, but this was indeed or in fact one of the results in the way to a higher object” (= Ada suatu kata dalam bahasa aslinya, yaitu kata men yang berarti ‘memang’, yang dihapuskan dalam terjemahan umum, tetapi yang sebetulnya cukup penting bagi artinya: ‘supaya mereka memang dihakimi dalam daging, tetapi hidup’, dst. Tujuan langsung dari pemberitaan injil kepada mereka bukanlah supaya mereka dihakimi dan dibunuh oleh manusia, tetapi ini memang atau dalam faktanya merupakan salah satu hasil / akibat yang terjadi dalam jalan menuju tujuan yang lebih tinggi) - hal 1429.

 

Barnes’ Notes: “The argument, then, in this verse is that in the trials which we endure on account of religion, we should remember the example of those who have suffered for it, and should remember why the gospel was preached to them. ... Animated by their example, we should be willing to suffer in the flesh, if we may for ever live with God” (= Maka, argumentasi dalam ayat ini adalah bahwa dalam pencobaan yang kita tanggung karena agama, kita harus mengingat teladan dari mereka yang telah menderita untuk agama itu, dan harus mengingat mengapa injil diberitakan kepada mereka. ... Dihidupkan / digerakkan oleh teladan mereka, kita harus mau menderita dalam daging, jika kita boleh untuk selamanya hidup dengan Allah) - hal 1429.

 

Saya sendiri memilih pandangan ke 3 ini.

 

Dengan demikian, penafsiran dari 1Pet 4:6 ini mirip dengan penafsiran yang saya terima tentang 1Pet 3:18-20. Hanya saja dalam kasus 1Pet 3:18-20, yang dibicarakan adalah orang-orang yang tidak bertobat karena penginjilan tersebut, sedangkan dalam kasus 1Pet 4:6, yang dibicarakan adalah orang-orang yang bertobat karena penginjilan tersebut. Tetapi kedua text sama-sama membicarakan orang-orang yang diinjili waktu masih hidup, tetapi diceritakan oleh Petrus pada saat mereka sudah mati.

 

  -o0o-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com