Khotbah Eksposisi

1 PETRUS 2:1-3

Pdt. Budi Asali, M.Div.

 

Ay 1: “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

 

1)   Setelah mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali oleh Firman Tuhan (1:23-25), sekarang Petrus melanjutkan dengan mengatakan bahwa kita harus hidup sesuai dengan kelahiran baru tersebut, yaitu dengan membuang dosa-dosa dari kehidupan kita.

Orang yang sudah lahir baru, dan bahkan sudah mengalami pengudusan, tetap mempunyai banyak dosa, dan ia harus berjuang terus menerus untuk membuang dosa-dosa itu.

 

Alexander Nisbet mengatakan (hal 58) bahwa anak-anak Tuhan sekalipun, ada yang memegang erat-erat dosa-dosa mereka, dan melupakan keharusan bahwa mereka harus berjuang untuk mencapai tingkat pengudusan yang lebih tinggi dari pada yang telah mereka capai, dan mereka bahkan memanjakan dosa-dosa itu seakan-akan dosa-dosa itu merupakan sesuatu yang mereka butuhkan. Nisbet menambahkan bahwa kita harus meninggalkan dosa-dosa itu dengan suatu perasaan jijik, dan dengan suatu keputusan untuk tidak melakukannya lagi, karena dalam ay 1 ini ada suatu kiasan yang menggambarkan seseorang menanggalkan pakaian yang lama yang penuh kekotoran dan kutu yang kalau dipakai lagi akan merugikan dan memalukan.

Catatan: kata ‘buanglah’ merupakan kata yang biasanya digunakan untuk penanggalan pakaian.

 

2)   Ay 1 ini memberikan beberapa dosa sebagai contoh, yaitu kejahatan, tipu muslihat, kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Mengapa dosa-dosa ini yang dijadikan sebagai contoh? Ada macam-macam pandangan tentang hal ini:

 

a)   Ada yang mengatakan bahwa dosa-dosa ini diberikan sebagai contoh karena dosa-dosa ini adalah dosa-dosa yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa, tidak oleh anak kecil. Tetapi bagaimana dengan kedengkian / iri hati? Bukankah anak kecil juga condong pada dosa ini?

 

b)   Clarke mengatakan (hal 850) bahwa dosa-dosa ini merupakan dosa-dosa yang banyak terdapat dalam kalangan Yahudi. Tetapi dalam gereja tidak boleh ada dosa-dosa seperti itu.

 

c)   Ada juga yang mengatakan bahwa dosa-dosa di sini merupakan dosa-dosa yang paling merusak persekutuan kristen / kasih persaudaraan (Barclay, hal 190). Poole setuju dengan penafsiran terakhir ini dan ia menambahkan bahwa dalam pasal 1 sudah dibicarakan tentang kelahiran baru (ay 23) dan juga tentang kasih persaudaraan (ay 22).

 

3)         Sekarang mari kita membahas kelima dosa yang digunakan sebagai contoh:

 

a)   ‘Kejahatan’ - segala macam kejahatan, keinginan menyakiti orang lain.

 

b)   ‘Tipu muslihat’ - tipu daya, dusta.

 

c)   ‘Kemunafikan’ - kepura-puraan, sandiwara, mengumpak / menjilat, persahabatan / kasih yang palsu, dan sebagainya.

 

Bandingkan dengan Mat 22:15-18 - “(15) Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. (16) Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepadaNya: ‘Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. (17) Katakanlah kepada kami pendapatMu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?’ (18) Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: ‘Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?”.

 

William Barclay mengatakan (hal 190) bahwa kata HUPOKRITES yang diterjemahkan ‘hypocrite’ (= orang munafik) ini mempunyai sejarah yang aneh. Ini merupakan kata benda dari kata kerja HUPOKRINESTHAI, yang berarti ‘to answer’ (= menjawab). Jadi arti HUPOKRITES mula-mula adalah ‘seorang penjawab’. Lalu artinya berubah menjadi ‘seorang aktor’ yaitu orang yang ambil bagian dalam tanya jawab di atas panggung. Akhirnya kata itu mempunyai arti ‘seorang munafik’, yaitu seseorang yang selalu bersandiwara dan menyembunyikan motivasi aslinya.

 

Sandiwara ini bisa juga terjadi pada saat seorang kristen KTP bersandiwara seakan-akan ia adalah orang kristen. Ada penafsir yang menyebutkan Ananias dan Safira sebagai contoh orang yang bersandiwara / munafik.

 

d)   ‘Kedengkian’.

Kata Yunani yang dipakai sama dengan dalam Mat 28:18 - “Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Kedengkian / iri hati mewujudkan diri dalam ketidak-senangan melihat orang lain diberkati. Dalam 1Kor 13:4 dikatakan bahwa ‘kasih itu ... tidak cembu­ru (iri hati)’. Jadi jelas bahwa iri hati merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kasih. Kalau ada kasih, kita tidak akan iri hati, dan sebaliknya kalau ada iri hati maka di sana tidak ada kasih!

 

Dalam gereja, seharusnya sikap yang benar adalah seperti yang dikatakan Paulus dalam 1Kor 12:26, yaitu kalau seorang menderita, maka semua ikut menderita, tetapi kalau seorang dihormati / diberkati, semua bersukacita (bukannya iri hati / tidak senang!).

Paulus menggambarkan orang kristen sebagai anggota-anggota tubuh Kristus. Sekarang bayangkan, kalau mulut saudara menerima makanan, mungkinkah anggota tubuh yang lain, seperti tangan dan kaki, lalu menjadi iri hati / tidak senang? Ini betul-betul sesuatu yang tidak masuk akal, bukan? Tetapi anehnya, hal seperti itu sering terjadi dalam gereja! Orang kristen sering iri hati melihat saudara seimannya mendapat rumah baru, mobil, pekerjaan yang tinggi gajinya, pacar yang cantik, dan sebagainya.

 

Bahwa iri hati adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan / dibiarkan, terlihat dari pembunuhan yang dilakukan oleh Kain terhadap Habel, yang asal mulanya adalah iri hati!

 

Thomas Manton: “The whole world, though otherwise empty of men, could not contain two brothers when one was envied” (= Seluruh dunia, sekalipun sebetulnya kosong, tidak bisa menampung 2 bersau­dara, dimana yang satu iri hati kepada yang lain).

 

Renungkan: kalau seluruh dunia tak bisa menampung 2 orang dimana yang seorang iri hati kepada yang lain, bisakah 1 gereja menampung 50 atau 100 orang dimana satu sama lain saling iri hati?

Karena itu, kalau saudara sering iri hati, bertobatlah! Mintalah Tuhan mengampuni dosa itu dan bahkan menyucikan diri saudara dari dosa itu.

 

e)   ‘Fitnah’ - berbicara buruk tentang orang lain, khususnya di belakang mereka.

KJV: ‘evil speakings’ (= pembicaraan buruk).

 

Barclay: “It means ‘evil-speaking’; it is almost always the fruit of envy in the heart; and it usually takes place when its victim is not there to defend himself. Few things are so attractive as hearing or repeating spicy gossip. Disparaging gossip is something which everyone admits to be wrong and which at the same time almost everyone enjoys; and yet there is nothing more productive of heartbreak and nothing is so destructive of brotherly love and Christian unity” (= Ini berarti ‘pembicaraan buruk’; ini hampir selalu merupakan buah dari iri hati dalam hati; dan ini biasanya terjadi pada waktu korbannya tidak ada di sana untuk membela dirinya sendiri. Hanya sedikit hal-hal yang begitu menarik seperti mendengar dan mengulang gossip yang pedas. ‘Gossip yang merendahkan’ diakui oleh setiap orang sebagai sesuatu yang salah tetapi pada saat yang sama dinikmati oleh hampir setiap orang; padahal tidak ada yang lebih menghasilkan sakit hati dan tidak ada yang lebih menghancurkan kasih persaudaraan dan kesatuan Kristen) - hal 190-191.

 

4)   Dosa mempunyai bermacam-macam perwujudan, dan kita tidak boleh merasa puas kalau sudah membuang satu perwujudan. Kita harus berjuang untuk membuang semuanya.

Ay 1: Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

Ada 3 x kata ‘segala’ tetapi kata ‘segala’ yang ketiga salah penempatannya. Sebetulnya kata ‘segala’ itu ada di depan kata-kata ‘kejahatan’, ‘tipu muslihat’, dan ‘fitnah’. Sedangkan 2 kata yang lain, yaitu ‘kemunafikan’ dan ‘kedengkian’ tidak didahului oleh kata ‘segala’ tetapi untuk kedua kata itu digunakan kata bentuk jamak.

Ini semua menunjukkan bahwa suatu dosa mempunyai bermacam-macam perwujudan. Jangan puas dengan membuang salah satu perwujudan; saudara harus membuang semua perwujudan dari dosa.

Alexander Nisbet menggambarkan (hal 60) bahwa dosa itu mempunyai beberapa cabang, dan kalau kita sudah memotong satu cabangnya, maka kita harus mencari dan memotong cabang-cabang yang lain.

 

Misalnya:

a)   Ketamakan bisa mempunyai perwujudan sebagai berikut:

·         kikir.

·         berusaha mati-matian untuk mencari uang.

·         menghalalkan segala cara dalam mendapatkan uang.

·         menindas pegawai dalam persoalan upah mereka.

·         tidak memberikan persembahan kepada Tuhan, baik persembahan persepuluhan maupun persembahan biasa.

·         tidak membayar hutang.

 

b)   Kurangnya penguasaan diri bisa mempunyai perwujudan dalam hal:

·         sex.

·         makan.

·         marah.

·         kedisiplinan dalam bekerja / belajar.

·         tidur.

·         nonton TV.

 

Ay 2: “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”.

 

1)   ‘Membuang dosa’ berhubungan erat dengan ‘belajar Firman Tuhan’.

Kalau ay 1 di atas berbicara tentang pembuangan dosa, maka ay 2nya berbicara tentang kerinduan terhadap Firman Tuhan. Kedua hal ini berhubungan sangat erat. Orang yang tidak membuang dosa akan kehilangan kerinduannya terhadap Firman Tuhan, sedangkan orang yang tidak mencari Firman Tuhan tidak akan bisa membuang dosa.

 

Pulpit Commentary: “They who cherish malice and envy in their hearts have no appetite for the heavenly food. They who have not holy love within themselves cannot desire the Word of him who is Love” (= Mereka yang memelihara kebencian dan iri hati dalam hati mereka tidak mempunyai nafsu makan terhadap makanan surgawi. Mereka yang tidak mempunyai kasih yang kudus dalam diri mereka tidak bisa menginginkan Firman dari Dia yang adalah Kasih) - hal 77.

 

Calvin membandingkan ay 1-2 ini dengan 1Kor 14:20 - “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”.

 

Memang ada kemiripan, karena ‘menjadi anak-anak dalam kejahatan’ berarti harus membuang dosa, sedangkan ‘menjadi orang dewasa dalam pemikiran’ berarti harus belajar Firman Tuhan.

 

2)         ‘Air susu yang murni dan yang rohani.

 

a)   ‘yang rohani’. Ini diterjemahkan macam-macam.

RSV: ‘the pure spiritual milk’ (= susu rohani yang murni).

NIV: ‘pure spiritual milk’ (= susu rohani yang murni).

KJV: ‘the sincere milk of the word’ (= susu firman yang murni).

NASB: ‘the pure milk of the word’ (= susu firman yang murni).

Bahkan ada yang menterjemahkan ‘rational’ (= rasionil / berkenaan dengan akal).

 

Barclay mengatakan bahwa kata LOGIKOS (atau LOGIKON) merupakan kata sifat dari kata LOGOS, dan yang menyebabkan terjadinya problem adalah bahwa kata LOGOS bisa diartikan ‘akal’ / ‘pikiran’ dan bisa juga diartikan sebagai ‘kata’ / ‘firman’.

 

Kata LOGIKON menurut Pulpit Commentary seharusnya artinya adalah ‘spiritual’ (= rohani) atau ‘reasonable’ / ‘rational’ (= rasionil / berkenaan dengan akal). Ia menganggap terjemahan KJV yang menterjemahkannya sebagai ‘word’ merupakan suatu paraphrase / pengucapan dengan kata-kata sendiri (ini anggapan yang ngawur!). Ia berkata bahwa kata itu muncul hanya 1 x di tempat lain dari Kitab Suci yaitu dalam Ro 12:1 - “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

KJV: ‘reasonable’ (= berkenaan dengan akal).

RSV/NIV/NASB: ‘spiritual’ (= rohani).

 

Bagi yang menerima terjemahan ‘rational’, maka penekanan dari 1Pet 2:2 ini adalah bahwa firman merupakan makanan untuk pikiran, bukan untuk perut.

 

Saya lebih memilih terjemahan ‘firman’, seperti terjemahan KJV dan NASB. Jadi ‘susu’ itu menunjuk pada ‘firman’.

 

b)   ‘Murni’.

1.   Kata ‘murni’ ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan tidak bercampur dengan kesalahan. Ini menunjukkan bahwa Kitab Suci itu (autographnya) infallible dan inerrant (= tidak ada salahnya).

2.   Pengkhotbah tidak boleh mencampuri Firman Tuhan dengan hal-hal lain.

Firman Allahnya murni, tetapi kalau pengkhotbahnya tidak, sama saja. Karena itu, pengkhotbah harus hati-hati dalam menangani Firman Tuhan, supaya mereka tidak mencampurnya dengan penemuan mereka sendiri, filsafat dan sebagainya. Juga pengkhotbah bisa mengubah / mencampur Firman Tuhan, pada waktu keuntungan diri sendiri / gereja yang dipentingkan. Misalnya melarang jemaatnya berbakti / melayani / memberi persembahan di gereja lain.

 

Bandingkan dengan cara Paulus dalam memberitakan Firman Tuhan.

·         2Kor 2:17 - “Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapanNya”.

·         2Kor 4:2 - “Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah”.

 

3)   Istilah ‘bayi’ dan ‘susu’ di sini berbeda artinya dengan 1Kor 3:1-3 dan Ibr 5:11-14.

1Kor 3:1-3 - “(1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. (2) Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya. (3) Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”.

 

Ibr 5:11-14 - “(11) Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. (12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat”.

 

Dalam 1Kor 3:1-3 Paulus memarahi orang Korintus karena mereka seperti bayi, dan belum bisa menerima makanan keras, dan hanya bisa menerima susu. Hal yang sama terjadi dalam Ibr 5:11-14. Jadi, dalam kedua text itu ‘bayi’ merupakan simbol dari orang kristen yang masih baru, yang hanya bisa menerima ‘susu’, yang merupakan simbol dari ajaran dasar dan ajaran yang mudah.

 

Tetapi dalam 1Pet 2:2 ini penggambarannya berbeda. ‘Susu’ di sini harus diartikan sebagai ‘Firman Tuhan’, bukan ‘Firman Tuhan yang mudah’. Juga ‘bayi’ di sini tidak dikontraskan dengan orang yang dewasa secara rohani, tetapi dikontraskan dengan manusia dan kehidupan lama.

 

4)         ‘Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin ...’.

Sebetulnya yang merupakan kata perintah adalah kata ‘ingin’, bukan kata ‘jadi’; sedangkan kata ‘jadilah’ seharusnya dibuang.

KJV: ‘As newborn babes, desire ...’ (= Seperti bayi yang baru lahir, inginkanlah ....).

 

Kata dasar dari kata ‘ingin’ ini juga digunakan dalam Fil 2:26 dimana kata itu diterjemahkan ‘sangat rindu’ dalam Kitab Suci Indonesia.

 

Pulpit Commentary: “A true appetite is at once a sign of health and a means to health” (= Nafsu makan yang benar sekaligus merupakan tanda dari kesehatan dan cara untuk menuju pada kesehatan) - hal 113.

 

Pulpit Commentary (hal 86-87) mengatakan bahwa orang kristen harus merindukan Firman Tuhan sama seperti bayi ingin minum susu. Tetapi berbeda dengan bayi yang tidak perlu disuruh untuk menginginkan susu, maka banyak orang kristen mempunyai sikap acuh tak acuh atau bahkan tidak senang terhadap Firman Tuhan. Jadi kerinduan ini harus ditumbuhkan. Dan supaya kerinduan ini bisa ditumbuhkan, maka ada keinginan-keinginan lain yang harus dikekang dan dimatikan. Kita seperti anak-anak yang ingin permen / junk food, dan kalau dituruti, lalu tidak ingin makan. Jika kita mengenyangkan diri kita dengan hal-hal duniawi dan dosa, maka kita tidak akan menginginkan Firman Tuhan. Karena itu, penyangkalan diri terhadap hal-hal ini harus dilakukan, supaya kita mempunyai rasa lapar yang sehat terhadap Firman Tuhan!

 

Kerinduan terhadap Firman Tuhan ini juga harus dibedakan dengan kerinduan terhadap hal-hal yang membangkitkan emosi, seperti dalam kalangan Kharismatik.

 

Pulpit Commentary juga mengatakan (hal 87) bahwa kalau kerinduan terhadap Firman Tuhan ini ada, maka itu pasti akan dipuaskan. Semua rasa lapar dan kerinduan yang lain bisa tidak dipuaskan, tetapi kerinduan dan rasa lapar terhadap Firman Tuhan, kalau itu ada, pasti akan mendapatkan pemuasan. Bandingkan dengan Mat 5:6 - “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”.

 

5)  ‘supaya olehnya kamu bertumbuh’.

 

a)   Kerinduan terhadap Firman Tuhan ini yang menyebabkan pertumbuhan.

Tetapi tidak boleh dilupakan bahwa ay 1 berbicara tentang pembuangan dosa. Jadi, sekedar ada kerinduan terhadap Firman Tuhan, tidak menjamin adanya pertumbuhan, kalau tidak ada ketaatan / pembuangan dosa.

 

b)   Pertumbuhan harus merupakan tujuan orang belajar Firman Tuhan.

Jadi, pada waktu kita belajar Firman Tuhan, kita tidak boleh melakukannya sekedar karena kita senang belajar, atau sekedar demi mendapatkan pengetahuan, atau sekedar untuk mendapatkan bahan mengajar / berkhotbah, atau supaya bisa menang dalam berdebat, tetapi harus dengan tujuan supaya kita bertumbuh.

 

Pulpit Commentary: “The Christian will desire the Word, that he may grow thereby; not simply for present pleasure and excitement, not simply for knowledge, or for facility in preaching and theological controversy; but above all things, that he may grow thereby” (= Orang Kristen akan menginginkan Firman, supaya ia bisa bertumbuh olehnya; bukan sekedar untuk kesenangan atau kegembiraan saat ini, bukan sekedar untuk pengetahuan, atau untuk fasilitas dalam berkhotbah atau perdebatan theologia; tetapi di atas segala-galanya, supaya ia bisa bertumbuh olehnya) - hal 78.

 

c)   Semua orang Kristen harus berusaha untuk bertumbuh.

Alexander Nisbet (hal 63) mengatakan bahwa dari 1:22-23 terlihat bahwa penerima surat ini adalah orang-orang Kristen yang sudah bagus kerohaniannya. Tetapi mereka tetap disuruh belajar Firman Tuhan supaya bertumbuh. Jadi, tidak ada tingkat kerohanian yang bagaimanapun tingginya, yang membebaskan kita dari tanggung jawab untuk bertumbuh.

Renungkan: apakah saudara ingin bertumbuh dalam kerohanian?

 

6)         ‘dan beroleh keselamatan’.

KJV tidak mempunyai bagian ini.

NIV: ‘in your salvation’ (= dalam keselamatanmu).

NASB: ‘in respect to salvation’ (= berkenaan dengan keselamatan).

RSV/Lit: ‘to salvation’ (= pada keselamatan).

 

Keselamatan di sini menunjuk pada ‘masuk surga’. Jadi, ini menunjukkan bahwa kita harus terus bertumbuh sampai kita masuk surga.

 

Ay 3: “jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

 

1)   ‘Jika kamu benar-benar’.

Ini menunjukkan bahwa pembuangan dosa dan kerinduan terhadap Firman Tuhan dalam ay 1-2 merupakan bukti bahwa kita telah mengecap kebaikan Tuhan. Sekalipun orang non kristenpun juga mendapatkan kebaikan Tuhan (Mat 5:45), tetapi yang dimaksudkan di sini adalah kebaikan yang hanya dinikmati oleh orang yang percaya, seperti penebusan, pengampunan dosa, perdamaian dengan Allah, dan sebagainya.

Yakinkah saudara bahwa dosa-dosa saudara sudah ditebus / diampuni, dan bahwa saudara sudah didamaikan dengan Allah?

 

2)   ‘Mengecap’.

Kata ‘mengecap’ (= mencicipi) ini menunjukkan bahwa kebaikan yang kita rasakan itu hanyalah sebagian kecil saja, sedangkan sisanya atau keseluruhannya akan kita rasakan di dunia / kehidupan yang akan datang.

 

3)         ‘Kebaikan Tuhan’.

Kata ‘kebaikan’ seharusnya merupakan kata sifat. Jadi seharusnya ‘Tuhan itu baik’. Dan kata Yunaninya adalah crhstoV (CHRESTOS). Ada yang menganggap ini sebagai permainan kata karena kemiripan kata ini dengan cristoV [CHRISTOS (= Kristus)]. Dan Tertulian mengatakan bahwa CHRISTOS itu CHRESTOS (= Kristus itu baik).

Clarke bahkan mengatakan (hal 850) bahwa ada manuscript yang bukannya menuliskan CHRESTOS HO KURIOS (‘Tuhan itu baik’), tetapi menuliskan CHRISTOS HO KURIOS (‘Tuhan itu Kristus’ atau ‘Kristus itu Tuhan’).

 

4)   Kebaikan Allah bukanlah alasan untuk menjadi malas dan hidup semau gue, tetapi seharusnya menjadi pendorong supaya kita berusaha makin keras.

 

Barclay: “The fact that God is gracious is not an excuse for us to do as we like, depending on him to overlook it; it lays on us an obligation to toil towards deserving his graciousness and love. The kindness of God is not an excuse for laziness in the Christian life; it is the greatest of all incentives to effort” (= Fakta bahwa Allah itu baik bukanlah alasan untuk berbuat sekehendak kita, dan berharap bahwa Ia akan mengabaikan hal itu; fakta itu memberi kita kewajiban untuk berjuang sehingga kita layak mendapatkan kebaikan dan kasihNya. Kebaikan Allah bukanlah suatu alasan untuk malas dalam kehidupan Kristen; itu merupakan pendorong yang terbesar untuk berusaha) - hal 193.

 

Catatan: saya tidak setuju dengan bagian yang saya garis bawahi, karena kita tidak akan pernah layak untuk mendapatkan kebaikan / kasih Allah.

 

 -o0o-


e-mail us at golgotha_ministry@yahoo.com